Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


The Tunnel

.

.

.

"Aku berangkat!"

Elly melambaikan tangan dari pintu depan memandangi kepergian Fang yang mengayuh sepeda menuju calon sekolah barunya. Smartphone tertempel pada phone-holder di handle sepeda, menunjukkan peta elektronik yang akan membantu Fang menemukan jalan menuju sekolah Boboiboy.

Para Husky menggongong kecil mengantar kepergian majikan mereka. Beberapa dari mereka memeking sedih. Namun Pride kembali membujuk adik-adiknya untuk tetap bersikap tegar dengan menjaga rumah dan Elizabeth yang tinggal bersama mereka.

Begitu Fang tak nampak lagi di belokan jalan, Elly mengelus kepala Envy yang berada di sampingnya.

"Nah— Wrath dan Envy, kalian mau menemaniku nonton film?"

Dengusan lembut menjawab dengan goyangan ekor. Mereka mematuhi sang bunda sambil mengikuti menuju ruang televisi. Greed berlari lebih dulu memilih film kesukaannya. Sebuah DVD ia ambil dari rak menggunakan kaki depannya yang berbulu dan menggigitnya, memberikan pada Elly. Gluttony tak memedulikan film apa yang akan ditonton— ia hanya peduli pada pop corn yang telah siap di dekat sofa.

Pride berkeliling di area teras depan rumah berjaga— namun sesekali masuk dan bersantai di dalam rumah.

Sloth? Tak perlu ditanya— Ia sudah tertidur pulas dengan selimut barunya.

Dan Lust?

Anjing genit tersebut mengendusi terowongan hasil karyanya semalam. Tanpa harus menggeser pot besar yang digunakan Fang untuk menutupi lubang di pagar tanaman, ia menerobos sela-sela dan dengan sukses memasuki halaman rumah yang dipenuhi bunga serta mawar putih yang harum.

Beruntung halaman rumah Boboiboy begitu penuh dengan bunga-bunga berwarna lembut, sehingga lubang di pagar tanaman tak terlihat jelas.

"Wuf!"

.

Gonggongan di luar jendela membuat telinga lancip Halilintar menegak. Ia kenal betul suara itu.

Kucing hitam anggun yang tadinya sedang santai menjilati tubuhnya kini melompat ke tepi jendela dan mendapati Lust mengibaskan ekornya di halaman sana.

"Lust? Bagaimana ia bisa masuk ke halaman? Bukankah pintu gerbang masih dikunci jika Boboiboy baru pergi ke sekolah?"

Taufan ikut melompat ke sisi Hali. "Humm— mungkin ada maid yang lupa menguncinya kembali saat pergi belanja tadi."

Gempa ikut penasaran, tapi ia tak bisa meninggalkan Thorn dan Ice yang terlelap di sisinya di keranjang tidur bersama Blaze dan Solar.

"Tak mungkin. Para maid sungguh hati-hati. Hali, hampirilah Lust. Sebelum Blaze terbangun dan mengikutimu. Nanti ia malah mengganggu kalian berdua."

Kekeh tawa Gempa membuat Halilintar sedikit merona. Ia mengikuti apa yang Gempa sarankan sebelum Blaze sadar dirinya tak ada di kamar Boboiboy.

Kaki-kaki lembut berbulu si kucing hitam dengan lincah menuruni tangga dan menuju pintu dapur belakang tanpa suara. Ada pintu mungil khusus kucing di bagian bawah pintu. Dengan cepat Halilintar melewatinya hingga para maid yang berada di dapur tak menyadari kepergian Halilintar.

Lust telah menunggu-nunggu kehadiran kucing anggun tersebut. Ia melompat-lompat girang dan mengibaskan ekornya begitu sosok yang ditunggu hadir.

"Hali—! Ayo kita jalan-jalan! Kau senggang' kan? Kita keliling komplek ini saja dulu!"

"Se-sebentar. Lust, bagaimana kau bisa masuk kemari?"

Husky sulung yang tadinya melompat-lompat girang langsung diam dan memasang wajah kikuk.

"Ah— Emm— itu… Umm, tolong janji kau tak akan marah… Aku tak bermaksud merusak halaman Boboiboy. Tapi semalam aku penasaran sekali karena tak mendengar suara apa-apa dari kamar Boboiboy dan— ng— Aku…"

Halilintar tak sabar mendengar tuturan Lust yang terbata-bata. Ia mulai memicingkan matanya tajam.

"Luuust—?"

"Eh— Anu— Ng, aku… aku buat terowongan…"

Halilintar menaikkan sebelah alisnya— tak paham akan penjelasan Lust yang diakhiri dengan nada yang semakin pelan.

Dengan sedikit gontai, Lust menunjukkan sebuah terowongan hasil galiannya yang tertutupi bunga-bunga pada Halilintar. Tentu saja Lust sudah bisa menebak reaksi dari si kucing.

"A-apa!? Lust! Apa yang kau—!? Astaga! Oooh— Bagaimana kalau Boboiboy tahu taman mawar putihnya rusak! Aduuuh— Apa yang kau lakukaaan—!?"

Halilintar mondar-mandir panik. Sementara Lust menunduk lesu. Kedua telinganya menekuk loyo penuh sesal.

"Ada apa, Hali?"

Taufan si kucing belang hitam-putih berlari kecil menuju halaman mendekati saudari sulungnya. Ia mengikuti karena penasaran pada apa yang dibincangkan Halilintar bersama Lust.

"Taufaaan—! Lihat iniii—!"

Mata biru cobalt Taufan membulat begitu menyadari ada lubang di antara pagar tanaman. Dedaunan di pagar membentuk sebuah terowongan, akar-akar yang tadinya menempel di tanah tercabut meninggalkan sebuah jalan kecil tersembunyi di balik bunga-bunga.

"Ahahahahahah—! Astaga! Ini keren! Sebuah lorong rahasia!"

Kucing jenaka tersebut justru tertawa hingga terguling-guling di rerumputan, membuat Halilintar semakin protes. "Taufan! Ini serius!"

"Ahahahah, Hali— Tak apa-apa. Lihatlah, bunga-bunga mawar putih kesayangan Boboiboy tak ada yang rusak. Mereka justru menutupi terowongan itu— Ahahah! Ini keren sekali!"

Suara tawa Taufan terhenti perlahan begitu sebuah teriakan mungil terdengar dari kejauhan. Ternyata Blaze dan para saudarinya sudah bangun dan bergegas menuju halaman setelah mengetahui Halilintar tengah bersama Lust.

"Hei! Lust! Mau apa kau pada Mama Hali—! Jangan dekat-dekat! Fffsssht!"

Blaze langsung menaikkan semua bulunya di hadapan Lust melindungi kakak pengasuhnya. Lust kecewa rencananya mengajak Halilintar untuk jalan-jalan gagal.

"Blaze. A-aku hanya ingin mengajak Hali jalan-jalan—"

"Tidak boleh! Kata Mama Hali di luar sana banyak monster jahat! Nanti kita bisa celaka!"

Kata-kata Blaze membuat Halilintar membisu seketika. Sementara Lust heran apa yang Blaze maksud.

"Hah? Monster?"

Namun begitu melihat wajah Halilintar, barulah Lust sadar apa yang dimaksud oleh kucing kecil tersebut setelah mengingat bahwa Halilintar memiliki pengalaman buruk di luar sana saat masih kecil.

Halilintar sadar telah melakukan kesalahan.

Ia terlalu takut menghadapi apa yang ada di luar pagar sana karena trauma masa lalunya. Ia telah menularkan dan menanamkan rasa takut itu pada para adik kecil asuhannya yang belum pernah mengalami apapun di luar rumah Boboiboy.

Kini ia menyesal.

Dirinya yang telah menjadikan rumah itu penjara bagi para kucing mungil karena ketakutannya sendiri.

Gempa tergopoh-gopoh mengikuti dari belakang, kebingungan melihat Taufan yang tertawa-tawa lepas.

"Maaf, mereka tadi terbangun— Ng, ada apa ini?"

Suara ngeongan nyaring Solar mengalihkan perhatian Gempa pada pokok permasalahan. "Mama Gempa— Lihat ini! Ini keren!"

Thorn, Solar, Ice bahkan Blaze menelusuri bunga-bunga mawar putih dan menemukan terowongan yang rimbun hasil karya Lust. Gempa terkejut dengan adanya terowongan yang ditertawakan Taufan.

"Ini keren sekali, Gempa! Ahahah! Lihat—! Kita bisa bolak-balik ke rumah Greed dengan ini!"

Gempa sempat membelalakkan mata keemasannya. Tapi ia tak bisa berkomentar apa-apa. Setidaknya ia lega bunga-bunga kesayangan Boboiboy tak ada yang rusak.

"Waaaw—Apa ini? Ini keren sekali! Seperti terowongan peri yang ada di buku cerita punya Boboiboy."

Lust nyengir sambil tersipu. Pujian Thorn menghibur hati Lust yang sempat sedikit kecewa. Tapi diamnya Hali membuat Lust merubah nyengirnya menjadi senyuman kecil. Ia mendekati kucing hitam yang hanya diam menunduk penuh sesal.

"Hali—bagaimana kalau lain kali kita jalan-jalan bersama Fang dan Boboiboy? Jadi kau bisa mengajak adikmu kalau kau sudah yakin bahwa di luar sana aman. Hari ini sepertinya lebih baik kita urungkan saja dulu."

Kalimat yang diucapkan lembut oleh Lust meredam kegalauan si kucing hitam. Ia mengangguk pelan.

Mata coklat kemerahan si kucing memandangi para adik-adik kecilnya yang bermain-main di bawah terowongan. Mereka begitu riang gembira menemukan hal baru. Menemukan bahwa mereka bisa merasakan hal-hal baru selain di dalam area rumah Boboiboy.

"Mama Hali! Lihat! Aku di bawah terowongan!"

"Tempat ini sejuk sekali, aku bisa tidur di sini seharian."

"Mama Gempa, ayo melewati terowongan ini bersamaku."

"Waaa— Ini kereeen! Aku bisa mengunjungi Envy setiap hari!"

Gempa terkekeh manis. Ia menjaga adik-adiknya yang berguling-guling di rerumputan dan tanah. Membiarkan para kucing mungil menikmati tubuh berbulu mereka menyentuh alam luar.

"Hei— nanti mereka kotor."

"Tak apa, Hali. Yang penting mereka menikmati pengalaman baru." Hibur Gempa. Ia tahu Halilintar begitu menyesal meski penyesalan itu ada alasannya.

Lust tersenyum lega. "Baiklah— Kalau begitu aku pamit dulu. Nanti aku kunjungi kalian lagi."

Para kucing kecil takjub melihat Lust yang dengan mudahnya menerobos melalui terowongan tersebut. Tubuh besar Husky sulung itu pas sekali di dalam terowongan—karena memang lubang itu hasil karya Lust.

"Waaah! Lust bisa lewat! Mama Hali, lihat! Lust bisa lewat! Kalau begitu Mama Hali juga bisa!"

Lust tersenyum melihat Halilintar sangat canggung melewati terowongan yang kemudian menyambung pada halaman rumah Fang. Blaze justru berlarian bolak-balik dari halaman rumah Boboiboy ke halaman rumah Fang dan kembali ke rumah Boboiboy, begitu seterusnya hingga ia puas.

"Fang juga bisa memasuki terowongan ini, loh!" Ujar Lust bangga dan membuat para kucing kecil terkagum. Mereka selalu melihat Fang dari bawah hingga sang cowok begitu nampak tinggi besar. Kenyataan bahwa Fang bisa memasuki terowongan itu membuat mereka takjub.


Sementara itu— Fang telah sampai menapakkan kakinya di depan sebuah gedung sekolah yang besar. Bisa Fang tebak bahwa begitu lengkap fasilitas di sekolah tersebut. Seorang penjaga gerbang sekolah mendekati Fang yang kemudian menjelaskan maksud kedatangannya.

"Selamat pagi. Saya sudah ada janji dengan kepala sekolah dan Pak Guru Papa Zola."

Dengan demikian Fang mendapat ijin masuk dengan mengenakan tag di lehernya yang menggantung sebagai tamu dari luar. Ia memarkir sepedanya di area parkir khusus sepeda. Banyak sepeda yang berjejer di situ milik para siswa-siswi. Di sampingnya ada parkir motor—kemungkinan untuk para siswa kelas atas yang telah memiliki surat ijin mengemudi kendaraan bermotor.

Segala tebakan Fang berdasarkan dari informasi yang Fang baca di internet dan buku panduan yang dibawakan Boboiboy. Semua terlihat rapi dan teratur. Yang membuat Fang tertarik lebih jauh adalah lapangan basket yang berada di area lapangan olahraga di belakang gedung sana. Ring basket yang menjulang terlihat dari tempat Fang berdiri.

Jantungnya berdegup kencang seiring kaki sang remaja yang melangkah memasuki teras gedung.

"Ah— Nyaris saja aku lupa mengabari Boboiboy!"


Smartphone Boboiboy bergetar tanpa suara di laci meja belajarnya di kelas. Dengan tenang gadis itu memeriksa sebuah pesan masuk.

'Fang! Dia sudah di sini!'

Menunggu kesempatan tanpa ingin mengganggu guru yang sedang menjelaskan di kelas, Boboiboy kemudian mengangkat tangannya. Sang guru langsung mendapati salah satu muridnya meminta atensi.

"Ya, Boboiboy?"

"Maaf, bu. Saya mau ijin keluar sebentar."

"Baiklah."

Boboiboy menggeser perlahan bangkunya agar tak berderit mengganggu ketenangan kelas. Ia melangkah cepat agar tak memakan waktu pelajaran terlalu lama serta berusaha setenang mungkin membuka dan menutup pintu kelas.

Barulah di lorong, gadis itu berlari kecil. Ia berharap Fang tak menunggu terlalu lama di depan pintu gedung.

Karena terburu menuruni tangga, napas Boboiboy mulai terengah-engah. Ia terhenti begitu melihat sosok Fang di depan pintu yang terbuka lebar.

Sosok tampan sang remaja yang jangkung, ramping namun tubuhnya atletis berisi. Kaos putih di balik dan kemeja biru tua gelap dengan lengan tergulung hingga siku yang ia kenakan membuat orang menilai Fang memiliki pribadi yang hangat dan terbuka namun tegas dan rapi. Celana panjang putih dan sepatu sneakers di kakinya sangat pas menunjukkan cowok tersebut menyukai olahraga. Terutama basket.

Boboiboy tersipu sambil berusaha merapikan rambutnya yang sedikit tertiup angin ketika berlari tadi. Baju dan rok seragamnya ia rapikan seadanya sebelum Fang melihat.

"Fang!"

Suara Boboiboy sedikit menggema di lorong depan― membuat Fang menolehkan kepalanya.

"Hei!"

Keduanya tersenyum dan saling menyapa. Betapa lega hati Fang menemukan wajah yang begitu familiar di sebuah tempat yang masih asing baginya.

"Maaf, apa kau menunggu lama?"

"Tidak— Hei, kau habis berlari?"

"Ah— Umm, sedikit. Tapi aku tak apa. Ayo, kuantar kau ke ruang KepSek."

Gadis berambut pendek penyayang kucing itu seraya menggandeng Fang berjalan menuju ruang kepala sekolah.

Tanpa Boboiboy sadari, Fang berjuang menahan detakan jantungnya yang begitu keras. Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam berharap perjalanan menuju ruang Kepala Sekolah cukup lama sampai ia merasa puas mendapat sentuhan tangan lembut Boboiboy.

Suara langkah kaki terdengar lebih keras menggema dibandingkan dengan suara guru yang menjelaskan atau suara riuh para siswa di dalam ruang kelas yang berjejer di tiap lorong.

Obrolan kecil menemani selama perjalanan. Bemar-benar suasana yang paling Fang impikan selama ini.

Sekolah, lorong dengan ruang kelas yang berjejer, gadis yang ia sukai. Inilah kehidupan masa remaja yang didambakan.

"Ngomong-ngomong, kau tak apa-apa keluar pelajaran seperti ini?"

"Tak apa. Karena secara tak langsung aku yang mengenalkan sekolah ini padamu, maka aku memiliki kewajiban menemanimu. Kepala Sekolah juga sudah mengijinkan. Ah—"

Boboiboy baru menyadari, ia belum melepaskan tangan Fang sama sekali. Pipi tembamnya merona.

"Ah! Ma— maafkan aku! Aku tak sadar!"

Gadis itu bergegas melepaskan genggaman tangannya. Betapa malu ketika ia menyadari kesalahannya.

Fang jadi tak enak hati melihat Boboiboy menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah hingga telinga. Tapi cowok tersebut tak bisa menyembunyikan rasa gemas saat sosok gadis di hadapannya terlihat panik.

'Astaga—manisnya~!'

"Tak apa-apa, kok. Aku— sama sekali tak keberatan kau gandeng. Aku justru senang."

Giliran Fang yang malu karena merasa kurang tepat memilih kata-kata. Keduanya menyadari rona di wajah masing-masing dan berjuang menyembunyikannya.

"A, ng… Anu— I— Itu ruang Kepala Sekolah!"

"Oh, o— oke!"

Keduanya berdiri di depan sebuah pintu kayu yang besar dan nampak berbeda dari pintu ruang lain. Kayu coklat gelap yang mengkilat dengan handle pintu logam.

Boboiboy mengetuk hingga mendapat jawaban sayup-sayup dari dalam. "Masuk."

Begitu pintu dibuka dengan lembut, Fang mendapati beberapa sofa di tengah ruangan mengelilingi meja kecil dengan bunga di vas yang menghias. Piagam dan piala berjejer di lemari dan dinding bersama dengan buku-buku dan berkas lain dengan rapi.

"Oh, inikah pemuda yang kau ceritakan itu, Boboiboy?"

Suara tua yang lembut sedikit menggema dari arah meja dengan kursi di baliknya― membelakangi jendela besar dengan tirai terbuka membiarkan cahaya matahari menerangi ruangan.

Kepala sekolah Boboiboy adalah seorang wanita paruh baya bertubuh kecil. Wajahnya ramah bagai seorang nenek yang menyambut kedua cucunya dengan hangat ketika mereka menjenguk. Rambutnya telah memutih namun berikal-ikal manis memperlihatkan sisi feminine dan rapi dari diri wanita tua tersebut. *

"Masuklah, sayangku."

Sang wanita tua mengulurkan tangan menyambut kedua remaja yang berjalan masuk penuh sopan. Ia menggenggam tangan Boboiboy dan memandangi remaja lelaki yang mendampingi sang gadis.

"Ia tetangga barumu? Sungguh pemuda yang gagah. Tak heran kau membincangkan pemuda ini dengan mata berbinar." Kekeh tawa menggoda Boboiboy, membuat gadis itu merona.

Fang ikut tersipu mendengarnya. Tentu saja dalam hati ia sangat senang dan berdebar. Berharap bahwa gadis yang ia sukai itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan ia mulai yakin bahwa Boboiboy membalas perasaannya.

Kepala sekolah berganti menggenggam tangan Fang― membuat pemuda jangkung itu sedikit membungkuk.

"Pertama-tama kuucapkan selamat datang, Fang. Boboiboy bercerita banyak tentang dirimu ketika ia meminta ijin untuk mengambil formulir serta buku panduan sekolah. Ini pertama kalinya aku mendengar kicauan riang dari gadis ini."

Boboiboy tak hentinya merona dan salah tingkah tiap kali kepala sekolah menggodanya. Fang ikut tertawa dengan pipi merah muda yang ia tak bisa sembunyikan.

"Duduklah kalian berdua."

Boboiboy membantu Kepala Sekolah duduk dengan memberi bantal di belakang punggung agar nyaman― membuat Fang melihat gadis itu seperti cucu kandung sang kepala sekolah itu sendiri.

"Terima kasih, sayangku."

Kini Boboiboy duduk mendampingi Fang yang berhadapan dengan Kepala Sekolah.

"Nah, mungkin kau telah membaca bahwa ada ujian masuk untuk siswa baru. Untungnya ini masih baru mulai semester baru, jadi kau tak akan ketinggalan banyak dalam hal mata pelajaran. Dan dari administrasi akademis, aku sudah melihat semua hasil transfer nilai dari akademi-mu yang lama. Tapi kami hanya bisa mengambil mata pelajaran yang berkaitan. Karena tentu saja kondisi dan mata pelajaran di akademi militer dengan sekolah biasa berbeda."

Fang mengangguk.

Kepala sekolah membuka map yang berada di atas meja. "Nilai-nilai mata pelajaranmu sangat bagus, Fang. Kami akan sangat bangga bisa menerimamu di sini."

Perbincangan di antara ketiganya begitu santai dan akrab. Kepala Sekolah kemudian membuatkan surat dispensasi untuk Boboiboy yang akan diberikan pada guru yang sedang mengajar di kelas, agar muridnya itu diijinkan untuk menemani calon murid baru mengenal lingkungan sekolah.

Sang gadis berlari kecil dengan riang menuju kelasnya untuk memberi surat ijin dari Kepala Sekolah. Fang menunggunya di ruang KepSek. Ia tak menduga akan mendapat sebuah pertanyaan.

"Apa boleh aku tahu― kalau mungkin kau ada permintaan dariku?"

"E― eh? Permintaan?"

"Ya. Aku akan senang sekali jika para siswa di sekolah ini bahagia dan nyaman melakukan segala kegiatan di sini. Segala kritik dan saran dari siswa selalu kukumpulkan secara pribadi, dan kemudian kupertimbangkan kembali mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak. Mungkin kau ada permintaan pribadi saat ini? Aku bisa pertimbangkan nantinya."

Fang terdiam menunduk. Ia menggigit bibirnya. Rona di wajah tampan sang pemuda berkacamata sudah cukup memberi jawaban.

"Ohohoh― Anak muda memang selalu menarik. Kau ingin sekelas dengan gadis yang kau sukai itu?"

Fang terkejut luar biasa. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya membuka-tutup mulutnya dengan panik. Wajahnya sudah merah bagai bunga yang menghias dalam vas di tengah meja.

"Akan kupertimbangkan nanti, Fang. Nah, itu suara langkah gadis yang kau dambakan. Kelilingilah sekolah ini bersamanya. Kau akan lebih menikmati dibanding jika aku menyuruh seorang guru mendampingimu."

Senyuman hangat KepSek mengundang senyuman lebar di wajah Fang. Ia mengangguk antusias dan berpamitan pada sang wanita terhormat.

KepSek terus tersenyum melihat punggung kedua remaja yang meninggalkan ruangan. Sebuah komentar ia ucapkan untuk dirinya sendiri, "Ohohoh, bukankah kisah asmara di sekolah adalah hal indah yang akan paling diingat nantinya."

.

.

.

tbc


.

.

.

*) Desain Kepala Sekolah Boboiboy aku ambil dari desain kepala sekolah yang pernah Monsta publish di fanpage Facebook Boboiboy. Kalau kalian cari di postingan lama mereka pasti ketemu kok.

.

.

.

Sampai juga akhirnya pada setting di sekolah Boboiboy ^^ Dan sayang sekali kencan Lust dan Hali harus ditunda karena dedek Blaze ngelarang xD

Semoga kalian nggak bosen mengikuti cerita ringan ini ^^


Waktunya berbalas review! xD

.

kurohimeNoir

Waaa makasih banyak udah mau review ^^ Aku kalau lihat anak kucing terlantar juga sering kasihan ;_; Tapi nggak bisa melihara juga karena nggak ada yang suka kucing di rumah ;_; Jadi serba salah—

.

Guest

Terima kasih banyak yah ^^ Aku jadi terharu ;w; InsyaAllah aku coba terusin sampai tamat sebisaku ^^ Terima kasih banyak atas doa dan dukungannya ^^

.

ChocoMint24

Sebagai rajanya dooong heheheh xD

Aduh, sayang sekali ;_; Semoga dirawat baik-baik sama yang nemuin ;_;

Wahahahahah! Kucingnya jadi kaya Gluttony dong xD

Eh? Menggila? Aku ga pernah liat 0_o Ada yang begitu kah? Astaga xD Kebanyakan ketemunya sama kucing yang suka bengong liati sesuatu tapi nggak tau apaan. Kata temen itu lagi liat sesuatu yang nggak bisa kita liat. Aduuuh merindiiiing—!

Aku gak ikut Comifuro dulu ;w; Nggak sempet bikin apa2 untuk jualan ;_;

.

Kalshara Antlia Gaunt

Kalau rate M sebenernya aku ga keberatan, tapi buat asupan pribadi aja hehehe xD Aku ga punya wattpad, maaf yah ^^; Aku nggak ngikutin Inu Yasha ^^; Terakhir ngikutin waktu duluuuu banget masih disiarin di Indosiar hari Minggu taun 2002-2003an xD

.

RadenKalyaputri

Iya nih. Maaf ya updatenya udah nggak bisa stabil lagi, soalnya jadwal udah nggak luang kaya dulu lagi L

Mungkin dateng tapi hari Minggu aja. Tapi itu juga kayanya ga bisa lama soalnya udah janjian sama temen ^^;

.

Razen Bekantan Hijau

Aduuuuuh~ Kayanya babies kittennya lucu lucuuuu xD Semoga sehat2 smua yaaah ^^ Namanya cakep2 banget! xD

Guguk2 militer semuanya cuma nurut sama Fang ajah wkwk xD