Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia
Fanfiction by widzilla
WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.
You've been warned! Don't like, don't read!
Di balik pagar yang satunya, Boboiboy menjadi semakin penasaran karena Blaze terus mengendusi sesuatu. Gadis tersebut perlahan tiarap— meratakan tubuhnya di atas rerumputan. Tak peduli seragamnya akan kotor. Jemari lentik Boboiboy menyisir tanaman mawar dengan hati-hati karena durinya bisa melukai kulit.
Kini nampak jelas apa yang tersembunyi di balik rimbun bunga— membuat Boboiboy terbelalak penuh kejutan begitu melihat wajah Fang di ujung terowongan sana.
"Fa-Fang?"
Fang merasa jantungnya berhenti berdetak saat melihat wajah Boboiboy yang juga tiarap di sana bersama Halilintar dan Blaze.
"Bo-Boboiboy?"
.
.
.
Dinner Time
.
.
.
Keduanya hanya bisa bengong dan terdiam agak lama. Fang sadar dirinya memucat dan berkeringat dingin. Ia tak tahu harus mulai dari mana menceritakan keberadaan terowongan itu.
"Ini— ini lubang apa?"
Pertanyaan polos Boboiboy akhirnya harus dijawab oleh sang cowok yang telah pasrah pada nasibnya. Fang bercerita mulai ketika ia menyadari Lust menggali bagian bawah pagar tanaman hingga mereka bisa melewati terowongan itu ke rumah Boboiboy. Juga kejadian siang tadi di mana para kucing akhirnya berkunjung melalui terowongan.
"—Maafkan aku, Boboiboy! Aku sungguh bermaksud menutup terowongan ini! Hanya saja… Aku… Maafkan aku. Kumohon jangan marah. Aku akan ganti tanaman bungamu…"
Fang menunduk menyembunyikan wajahnya pasrah. Ia paham jika Boboiboy marah padanya kemudian.
Boboiboy hampir tak memercayai apa yang ia dengar melalui tuturan kisah penuh kejujuran dan penyesalan dari Fang.
Fang sendiri lebih tak memercayai gadis pujaannya kini tertawa riang hingga keluar air mata dan merona wajah manisnya setelah mendengar pengakuan memalukan diri sang pemuda. Kedua tangan Boboiboy yang terlipat di hadapannya kotor karena tanah, namun sama sekali tak dipedulikan gadis yang terus tertawa manis itu.
"Ahahahahahah! Ini— ini luar biasa ahahahah! Ada terowongan seperti dalam dongeng di halaman rumahku! Terowongan mungil yang tersembunyi di balik bunga-bunga! Lihat— Bahkan Blaze menyukainya!"
Si mungil bandel berguling-guling riang di dalam lorong dedaunan yang rimbun. Hali menggelengkan kepala dan menggigit leher Blaze, menariknya kembali ke dalam pelukan Boboiboy diiringi ngeongan rewel Blaze yang masih ingin bermain.
"Ka— kau tak marah, Boboiboy?"
"Ahahahah—! Kenapa aku harus marah? Lihatlah terowongan manis ini, bahkan untuk ukuran seekor Husky bisa begitu pas. Aku juga pasti bisa melewatinya. Ah, kita bisa menjadikan ini lorong rahasia kita! Seperti dalam dongeng-dongeng!"
Fang tersenyum lebar.
Ia lega luar biasa. Terlebih lagi— ia bahagia luar biasa.
Lorong yang digali Lust telah membuat gadis idamannya tertawa gembira. Namun tiba-tiba Boboiboy terdiam.
"Maaf, aku— kekanakan sekali, ya? Dari tadi aku mengumpamakan ini seperti dongeng, eheheh—"
Tawa canggung Boboiboy langsung dibalas Fang dengan gelengan. "Tidak! Tidak kekanakan sama sekali!"
Kedua remaja yang berbaring di atas rumput saling mengintip dari ujung lorong pagar tanaman melempar senyum tanpa bosan. Bahkan Lust dan Glu turut berebut ingin menatap wajah kucing-kucing kesayangan mereka di balik pagar sana.
"Tapi— Kalau dari halamanku lubang ini sangat mencolok. Mungkin harus kututupi agar tak ketahuan orang tuaku. Mereka bisa marah."
"Bagaimana kalau aku bantu berbicara dengan Paman Hao dan Bibi Elly? Aku tak keberatan dengan keberadaan lorong ini."
Fang menggeleng menjawab tawaran Boboiboy. Tak lama, matanya mengedip mendapatkan ide.
"Ah, aku ada ide! A— aku akan segera kembali!"
Sebelum Fang berdiri dari posisi tiarapnya, suara maid dari rumah Boboiboy terdengar memanggil nona mereka.
"Ah, aku harus ke rumah dulu, Fang. Nanti aku akan kembali lagi."
"Oke! Kalau begitu aku akan melakukan sesuatu terhadap lubang ini!"
Senyuman di wajah Boboiboy menghilang, "Kau akan menutupnya—?"
"Tidak, tidak. Aku ada ide yang lebih bagus!"
"Umm, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Oke!"
Boboiboy bergegas menuju ke rumah sebelum ia ditemukan para maid sedang menyembunyikan keberadaan terowongan rahasianya dengan Fang. Sayang sekali, baju seragam Boboiboy yang penuh dengan tanah mendapat perhatian para maid tentu saja.
"Ah, i-ini! Anu, tadi Blaze berlari di halaman aku mengejarnya sampai jatuh!"
Para maid tertawa dan memeluk nona kecil mereka penuh sayang. "Rasanya belum pernah nona datang dengan pakaian kotor sejak kau berusia lima tahun. Ini menyenangkan sekali! Rasanya begitu nostalgia!"
Beberapa maid tertawa sambil membersihkan rok Boboiboy yang tersipu.
"Nah, mandilah dahulu. Sebentar lagi akan kami siapkan cemilan sore."
"Ah, anu. Fang mengundangku makan malam di rumahnya. Apa boleh aku ke sana?"
Para maid membelalakkan mata, "Tentu! Tentu saja! Akan kami kabari Tuan dan Nyonya kalau mereka menelepon!"
Boboiboy tersenyum lega tanpa tahu para maid yang begitu menyayanginya itu mendukung seratus persen akan kedekatan nona mereka dengan pemuda tetangga baru.
Seorang maid membantu membawa seragam kotor Boboiboy untuk segera dicuci agar bisa dipakai lagi esok sementara sang nona mandi. Beberapa kucing terus mengekori majikan mereka.
Blaze terpaksa dibawa Hali agar tak mengganggu Boboiboy mandi. Si mungil mengeong-ngeong riuh. Thorn akhirnya menurut pada Gempa yang membawanya menuju ruang tengah.
Sementara itu, Fang membuka pintu gudang di mana perkakas dan segala alat kebun ada di situ. Ia juga menemukan apa yang ia butuhkan. Ada sisa-sisa bahan bangunan saat rumah mereka masih direnovasi sebelum ditinggali. Ada beberapa bahan sisa dari taman halaman rumah.
Elizabeth masih berada di lantai dua sibuk dengan kardus-kardus yang harus ia buka dengan barang-barang pindahan. Fang meyakinkan dirinya agar bekerja cepat sebelum ayah dan abangnya tiba.
Ia merapikan tanaman yang membentuk terowongan agar lebih rapi dan ranting-rantingnya tak melukai para kucing atau anjing yang melewati. Dengan bebatuan pipih sisa bahan taman ia melapisi tanah agar tak mengotori para kucing yang lewat di situ. Saat memasangnya, Fang baru sadar bahkan tubuhnya bisa keluar masuk dengan mudah.
"Wow. Ini sih bisa jadi terowonganku kalau mau main ke rumah Boboiboy."
Dan terakhir. Dedaunan yang tak rapi pada bibir lubang terowongan pagar tanaman, Fang manfaatkan sebagai 'tirai' untuk menutupi sedikit terowongan tersebut sebelum dibantu dengan pot bunga yang ia geser.
Fang terampil menyusun dan menata tanaman berkat kebiasaannya memerhatikan para tukang kebun merapikan rumah yang hendak ia tinggali setiap pindah rumah sejak kecil.
"Ada untungnya juga keterampilan begini." Gumam Fang.
Tak lama setelah Fang menyelesaikannya, Boboiboy mengendap bersama para kucing keluar rumah dan memanggil Fang dari halaman bunga.
"Pssst— Fang. Apa kau masih di situ?"
Fang langsung sumringah mendengarnya. Ia langsung menggeser pot yang menutupi dan melakukan uji coba dengan merangkak melalui terowongan itu.
"Hei, Boboiboy!"
Boboiboy terkejut namun ia berusaha menahan tawanya melihat Fang yang muncul di antara bunga yang menutupi terowongan.
"Hihihi— ini mengasyikkan sekali! Boleh aku coba ke rumahmu?"
"Tentu! Ayo, sudah kurapikan jadi kau tak perlu khawatir akan kotor."
Saat merangkak melewati terowongan, Boboiboy takjub pada hasil kreatifitas Fang yang telah memasang bebatuan pipih pada tanah menjadi seperti lantai jalan setapak. Sehingga mereka yang melalui terowongan itu tidak merasa sakit karena kerikil dan tak kotor karena tanah.
Fang mengulurkan tangannya dan membantu sang gadis berdiri setelah keluar dari terowongan.
"Ini luar biasa! Ah, kau menutupi terowongan ini dengan tirai daun dan pot. Ide yang cemerlang!"
Fang tersipu saat dipuji.
Suara Boboiboy ternyata mengundang Pride yang sedang berjaga menjadi penasaran. Ia mengikuti arah suara dan menemukan majikannya tengah bersama gadis tetangga dan ketujuh kucingnya.
"Oh, hai, Pride." Sapa Boboiboy.
.
Gempa mengeong memberi salam dengan senyum ramah.
"Selamat sore, Pride. Maaf mengganggu sore-sore begini."
"Hai, Papa Pride."
Thorn melangkah mendekati Pride. Ngeongan kecilnya membuat Pride tersenyum.
"Selamat sore. Apa yang kalian lakukan di sini?"
Thorn mengeong-ngeong mengajak Pride untuk melihat terowongan yang telah dirapikan Fang.
"Lihat, Papa Pride! Tadi kami masuk lewat sini. Ini keren sekali."
Husky nomor tiga tersebut terheran ketika menyadari ada yang berbeda dari terowongan tersebut. "Sepertinya terowongan itu menjadi lebih rapi."
"Ya, Fang yang merapikannya."
Pride terdiam canggung, "Apa Boboiboy tak apa-apa dengan ini?"
"Ahahah, Dia justru menyukainya."
"Ini seru sekali!" Ujar Taufan yang disetujui oleh adik-adik kecilnya yang lain.
Pride mengakui memang terowongan itu menjadi lebih rapi dan indah. Namun ia terheran, apakah Boboiboy dan Fang tak keberatan dengan keberadaan terowongan hasil karya Lust. Ia mengendusi bagian dalam terowongan hingga ke halaman bunga Boboiboy dan kembali lagi ke halaman rumah Fang.
"Ini menyenangkan sekali, Papa Pride. Aku bisa bolak-balik tanpa harus keluar halaman." Thorn begitu girang menunjukkan dirinya yang bisa keluar masuk terowongan pada sang Husky.
.
Fang menyadari Huskynya memiringkan kepala padanya, ragu pada keberadaan terowongan tersebut.
"Uuuk—"
Fang berlutut dan menepuk-nepuk kepala Pride. "Terowongan ini jadi rahasia kita, ya. Jangan sampai ayah, ibu, dan Kaizo tahu."
Dengan demikian Pride yakin bahwa Boboiboy tak keberatan dengan terowongan yang menjadi rahasia di antara dua remaja dan para anjing serta kucing.
Suara Elizabeth memanggil dari rumah membuat Fang panik dan terburu menggeser pot menutupi terowongan.
Tepat saat sang bunda melongokkan kepalanya dari pintu teras, Fang dan Boboiboy berdiri berjejer sambil tersenyum seakan tak ada apa-apa.
"Boboiboy! Aku tak tahu kau sudah di sini, sayang! Ayo, masuklah. Sebentar lagi aku akan menyiapkan makan malam."
Segala makan malam yang telah dipesan mulai ditata rapi di atas piring. Tak disangka Boboiboy, keluarga Fang bahkan membeli makanan kucing untuk menyambut ketujuh kucing yang mulai mengeong-ngeong lapar.
Tepat saat Elizabeth membuka makanan kucing dari kaleng, suara deru mobil mendekat memasuki garasi disambut gonggongan lantang para Husky.
Fang amat sangat menikmati saat gadis yang ia sukai berlutut di sampingnya membantu memberi makan para Husky dan kucing.
Dan Boboiboy senang sekali melihat para anjing besar makan dengan lahap. Bahkan Blaze ikut penasaran pada makanan Glu.
Sloth dan Ice justru tertidur pulas menyisakan makanan mereka. Ice mendengkur nyaman di antara bulu lebat Sloth.
Hao tersenyum melihat istri dan anaknya serta seorang gadis menyambut kedatangan di rumah. Bahkan Kaizo tak pernah absen menggoda adiknya. Fang bersemu merah setiap sang abang terus menggoda dirinya karena keberadaan Boboiboy di situ.
Makan malam begitu meriah dan hangat.
Baru kali itu Boboiboy merasakan makan malam penuh canda dan tawa. Sudah lama sejak kedua orang tuanya sibuk.
Bukan berarti sang gadis membenci kedua orang tuanya ataupun keadaan rumahnya.
Hanya saja terkadang ada hal yang dirindukan manusia sebagai makhluk sosial.
Para kucing dan anjing turut meramaikan suasana dengan ulah mereka. Terutama Gluttony dan Blaze tentu saja. Duo penuh energi. Sampai-sampai Halilintar kewalahan menghadapi adiknya. Lust tertawa-tawa melihat si bandel Blaze yang selalu saja berhasil meluluhkan hati si kucing hitam tegas.
Fang dan Boboiboy berceloteh banyak mengenai pagi hari tadi saat Fang mengunjungi sekolah. Sampai-sampai Kaizo melihat kedua remaja itu seperti anak anjing dan kucing yang tak berhenti menyalak dan mengeong lucu.
Sementara makan malam di rumah Fang begitu meriah, di rumah Boboiboy ada para maid yang juga tengah menikmati santap malam mereka sambil berdiskusi penuh rahasia.
"Kalian lihat sendiri' kan? Kalau tuan muda tetangga itu tersenyum, nona pasti merona!"
"Bagaimana kalau lain kali kita coba susun rencana kencan untuk mereka?"
"Oh, ide bagus!"
"Tapi… Nona' kan pemalu sekali."
"Maka itu kita harus sabar dan tak boleh gegabah membujuknya!"
Di rumah Fang, Elizabeth tak bosannya mengobrol bersama Boboiboy sambil memeluk Gempa yang sangat kalem di pangkuannya.
Kaizo tak habisnya gemas pada Taufan dan Solar yang begitu lincah berusaha menangkap mainan yang diikat dengan benang dan digerak-gerakkan oleh Kaizo. Fang sendiri tertawa-tawa melihat abangnya seperti demikian.
Halilintar berbaring dengan nyaman di beranda teras. Lust menyusul dengan membawa bantal yang ia gigit di moncong dan diletakkan di samping sang kucing hitam.
"Malam yang dingin, milady~ Berbaringlah di bantal ini agar hangat~"
Hali tersenyum sembari menggeleng kecil mendapat perlakuan gombal tak habisnya dari si Husky sulung.
Tiba-tiba Blaze yang tadinya asyik bermain dengan Gluttony, langsung melompat ke hadapan Lust.
"Heeei! Jangan ganggu Mama Hali! Ffshht!"
Desisan kesal imut tersebut membuat Halilintar akhirnya menggigit tengkuk dan menarik Blaze ke dalam pelukannya.
"Blaze— Lust hanya menemaniku. Tak apa-apa."
"Uuuh, tapi Mama Haliii…!"
Lust nyengir, tak keberatan akan interupsi si adik kecil galak yang sangat protektif pada kakak pengasuhnya itu.
.
Sementara, Fang meminta ijin kedua orang tuanya untuk mengajak Boboiboy mengobrol di kamarnya. Kaizo berjuang keras menahan diri untuk tidak menggoda adiknya. Fang memasang wajah galak pada sang abang yang usil bukan main sebelum Kaizo melakukan niat jahilnya meledek Fang.
Di kamar Fang, ternyata sudah ada Sloth dan Ice yang terbaring santai di ranjang Fang. Wrath dan Thorn mengikuti majikan mereka diiringi Pride dan Gempa.
"Wahahah, kamarku rasanya ramai sekali malam ini!"
Para kucing penasaran mengendus-endus tiap sudut. Thorn nampak tertarik dengan tali sepatu basket Fang. Ia menggigit-gigit sampai terguling-guling.
"Aduh, Thorn. Jangan gigiti sepatu Fang." Buru-buru Boboiboy mengangkat si kucing kecil.
Rasanya Fang seperti tengah bermimpi sedang bersama gadis yang ia sukai di kamarnya. Tak habisnya ia tersenyum dan mencubiti tangannya diam-diam.
Boboiboy takjub dengan segala majalah basket yang berjejer, perangkat komputer, dan segala mainan yang menghias rapi. Sebuah foto berpigura di rak buku menjadi pusat perhatiannya.
Fang bersama anak-anak anjing Husky saat mereka masih kecil.
"Wah, mereka manis sekali! Astaga, tak bisa kupercaya mereka pernah sekecil itu!"
"Hahahah! Benar! Rasanya baru kemarin mereka datang ke rumah. Sekarang sudah sebesar ini."
Fang memeluk leher empuk Pride dan Wrath.
Obrolan seru membuat waktu berjalan begitu cepat. Akhirnya Boboiboy pamit sebelum jam malam semakin larut. Ia mengajak para kucingnya pulang setelah berpamitan pada keluarga Fang.
Fang dan Pride mengantar Boboiboy hingga ke pintu depan rumah gadis itu.
Keduanya menyempatkan diri mengobrol sedikit sebelum mengucapkan perpisahan sementara.
"Jadi, kau akan ujian lusa' kan?"
"Yap! Doakan aku, ya!"
"Tentu saja! Terima kasih atas makan malam yang menyenangkan, Fang! Selamat malam."
"Selamat malam, Boboiboy."
Pride turut melepas kepergian para kucing. Blaze sudah terus-terusan menguap hingga harus dituntun Halilintar agar tak tersandung. Taufan membawa Solar yang telah lelah dengan menggigit tengkuknya. Ice sudah terlelap dalam pelukan Boboiboy.
.
Thorn menguap lebar sambil bersandar pada Gempa. "Thornie, ucapkan salam dulu."
"Uung— Selamat malam, Papa Pride…"
"Selamat malam, Thornie. Selamat bermimpi indah. Kau juga, Gempa."
"Terima kasih. Selamat malam, Pride."
Gempa mengeluskan wajahnya pada moncong Pride. Kemudian membawa si kecil Thornie dengan gigitan lembut di tengkuk.
Jam tidur telah tiba. Semua piring telah dicuci bersih dan tertata rapi di rak pengering. Suasana sepi dapur membuat suara air yang dituang ke gelas menggema. Kaizo membawa segelas air untuk dirinya sendiri melewati kamar sang adik.
Akhirnya ia memutuskan untuk menengok Fang sebelum kembali ke kamarnya sendiri.
Pride dan Greed berjaga di luar rumah, Gluttony memiliki tempat yang paling nyaman untuk dirinya di sofa ruang tengah bersama Lust yang berbaring di karpet. Sloth tak pernah meninggalkan bantalnya yang nyaman di lorong lantai dua.
Sementara Wrath dan Envy setia menemani Fang yang kini tertidur pulas di ranjangnya.
Kaizo terkekeh melihat Fang sama sekali belum mengganti baju seusai mengantar Boboiboy ke rumahnya. Remaja tersebut tertidur dengan senyuman di wajah.
"Hei, jagoan. Ayo ganti baju dulu."
Usapan di rambut Fang akhirnya membangunkan sang remaja. "Uuung—"
Dengan gontai dan mata setengah tertutup, Fang berjalan menuju lemari pakaian. Kaizo terkekeh karena adiknya nyaris tersandung salah satu Husky yang berbaring nyenyak di lantai.
Setelah meletakkan gelas di atas meja belajar adiknya, Kaizo membantu Fang berganti baju karena ia tahu adiknya terlalu lelah untuk memasukkan lengannya ke lubang pada kaos.
Wrath yang tadinya berbaring di lantai kini berpindah tidur bersama di ranjang setelah Fang kembali menempatkan kepalanya di atas bantal.
Sebenarnya dua Husky berbulu lebat sudah cukup sebagai selimut, tapi Kaizo tetap menyelimuti tubuh adiknya hingga ke dagu. Juga memberi ciuman sayang di kening dan pipi Fang.
Kaizo tak bergerak dari pinggir ranjang Fang. Ia duduk sambil memandangi adiknya yang sudah lelap bersama kedua Husky bongsor di sisinya.
"Hhh— Akhirnya kau mengejar mimpimu yang biasa-biasa saja itu, yah. Padahal kau sudah memiliki peringkat terbaik di akademi militer. Aku sangat menyayangkan hal itu." Gumaman Kaizo sama sekali tak didengar Fang sejak remaja itu sudah kembali ke alam mimpi saat kepalanya menyentuh bantal kembali.
Senyuman kecil menyungging di wajah tampan sang Kapten muda. "Tapi mau bagaimana lagi. Itu mimpimu. Dan yang penting untukku— kau menjalaninya dengan senyum di wajah lugu milikmu itu, adik kecilku yang bandel."
Ciuman kecil kembali mampir di kening Fang dari abangnya, "Aku hanya ingin kau bahagia."
Dengan penuh hati-hati, Kaizo melangkahkan kakinya menuju pintu. Envy yang masih terbangun memeking lembut. "Uuuk—"
"Selamat malam, Vy. Jaga majikanmu itu."
Pintu kamar Fang tertutup lembut, meninggalkan dengkuran damai sang pemilik kamar bersama kedua Husky-nya yang siap menjaga sang majikan dengan siaga.
Malam sunyi mengiringi lelapnya para penghuni rumah. Bahkan para kucing di rumah Boboiboy yang biasanya berkeliaran di sekitar rumah saat malam kini terlelap karena lelah puas bermain dengan para Husky sahabat mereka.
Gempa dengan sabar menjilati kepala Ice dan Thorn yang menyusu padanya. Blaze mendengkur dengan posisi tidur yang lucu hingga Halilintar terkekeh melihatnya. Taufan menjaga Solar agar si mungil itu tak menggelinding dari bantal tempat tidurnya hingga ke lantai.
Boboiboy telah dalam balutan daster— menari di dunia mimpi dengan senyuman di wajah.
.
.
.
tbc
.
.
.
Udah lama banget aku ninggalin ff net ;_; Maaf untuk para pembaca setia ;_; Ada kemungkinan aku nggak bisa aktif lagi nulis ff ;
Sebenernya udah lama mulai mikir pingin berhenti nulis ff lagi. Karena beberapa kali dapat message dari haters yang akhirnya nurunin semangat nulis, belum lagi fandom Boboiboy memang lagi sepi. So, jadi kesepian gini ;_;
Ga ada asupan yang bikin semangat sama sekali ;_; Tapi... masih ragu juga untuk berhenti.
Mohon maaf dan terima kasih sekali sudah nungguin dan masih ngikutin cerita ini.
Untuk temen-temen yang hari Minggu tanggal 4 Maret nanti ke COMIFURO X, sampai jumpa di sana ^^
Aku bakal buka booth bareng temen-temen di L-02 hanya di hari Minggu ^^
Untuk para cosplayer fandom Boboiboy, nanti dapet sesuatu dariku di sana xD
