Slice Of Life

by Hikari Azayaka

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

.

.

Warnings : Ooc, Typo

.

.

If you don't like it

You can press 'back'

.

.

.

Chapter 2

Hidup Tak Seindah Mimpi

.

.

.

.

.

Matahari bahkan belum menunjukkan sinarnya, jam di atas nakas masih menunjuk ke angka tiga. Masih terlalu dini untuk bangun, namun tidak untuk gadis ini.

Gadis berhelaian merah muda itu tengah duduk di meja belajarnya, gorden jendela kamarnya terbuka lebar menampilkan bulan yang masih tinggi di sana.

Menumpu kepalanya dengan satu tangan, di telinganya terpasang headset kecil dari tape recorder. Wajahnya sendu menatapi bulan di luar sana.

Bibir mungilnya kemudian berucap kata yang pasti setiap orang tahu artinya.

" Ibu... Kakak... "

.

.

.

.

.

" Dasar pembunuh. "

" Tidak tahu malu. "

" Ugh, memuakkan. "

" Cepat pergi dari sini. "

Lorong yang sepi itu dipenuhi dengan bisik-bisik para siswa begitu Sakura lewat di depan mereka. Menunduk dan menutup mulutnya adalah yang Sakura lakukan mendengar itu semua. Tak ada keinginan untuk membalas perkataan mereka. Karena bagai manapun yang mereka kataka itu benar.

Dia adalah seorang pembunuh.

.

.

Berjalan menuju kelas X-A, seperti biasa sudah menunggu tiga orang gadis yang berdiri dengan angkuhnya di depan pintu kelas, menutup jalan untuk masuk ke dalam.

" Bisa tolong munggir sedikit, tidak? Aku mau masuk ke kelas. " Kata Sakura, masih tetap menundukkan kepala di hadapan ketiga gadis tadi.

" Enak aja nyuruh-nyuruh, memangnya kau siapa? " Balas gadis berambut pirang yang dikucir kuda tinggi di atas kepalanya-- Ino Yamanaka.

" Pergi sana, dasar sampah. " Sambil menarik rambut pink Sakura, gadis lainnya mengumpat kasar di depannya-- Yamada Shion.

Gadis terakhir mendorong bahu Sakura kuat sampai ia terjatuh ke lantai. " Kalau kami tidak mau apa yang akan kau lakukan? Apa kau juga akan membunuh kami? Dasar pembunuh! " -- Uehara Tayuya.

Sakura, yang masih terduduk di lantai, hanya menundukkan kepalanya semakin dalam seraya menggigit bibirnya kuat menahan isak tangisnya.

Sementara gadis-gadis kejam itu mulai tertawa sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kasar lainnya, Sakura hanya diam tak berniat untuk melawan. Karena menurutnya, ia pantas mendapatkannya.

Siswa-siswi yang sedang melintas pun sama dengannya, tak ada yang berniat untuk membantunya bangun atau setidaknya melaporkan ketiga gadis itu pada guru yang sedang bertugas tentang pembully-an yang sedang mereka lakukan. Namun, tidak. Tidak ada yang melakukannya. Mereka malah asyik menggunjingkan kejadian ini dan beralasan bahwa Sakura memang pantas menerima ini setelah apa yang dilakukannya. Mereka seakan buta dan tuli dengan sekitar sehingga tidak menyadari bahwa bahu kecil yang tengah terduduk di lantai itu mulai bergetar kecil menahan isak tangisnya agar tak terdengar oleh orang lain.

Sadar tentang keadaan dirinya Sakura segera bangkit dan membersihkan roknya yang sedikit kotor setelah terjatuh tadi, semua dilakukannya sambil tetap menunduk seakan malu menatap sekitar.

Ketiga gadis itu berhenti tertawa, matanya menatap Sakura remeh. " Sampai jumpa lagi, pembunuh kecil. " Ejek Ino sebagai salam perpisahan sementara dari mereka, karena pastinya mereka akan kembali untuk menggangunya lagi.

Melangkahkan kaki melewati pintu, wajahnya berubah datar bagai tak ada yang terjadi tadi. Terus berjalan tanpa memperdulikan tatapan teman-teman sekelasnya yang mempunyai beragam arti. Namun yang pasti tak ada satu pun yang bersahabat.

Mengahampiri bangkunya yang berada di pojok kelas jauh dari segalanya. Meletakkan tas dan mendudukkan dirinya dikursi paling pinggir dekat dengan jendela dan membiarkan kursi lainnya yang memang telah kosong semenjak dia duduk disini.

Matanya terus menatapi pohon di luar jendelanya bahkan setelah bel masuk berbunyi dan setelah guru jam pelajaran pertama hari ini masuk.

Karena terlalu fokus pada objek yang sedang dipandanginya, dia bahkan tidak menyadari bahwa bangku kosong di sampingnya sudah tak lagi kosong dengan pemuda bermata elang yang mungkin dikenalnya duduk diatasnya. Pemuda yang sama dengan yang sedari pagi di saat kejadian bully terjadi setia memperhatikannya tanpa cela sedikit pun, dan tanpa niat untuk mendekat.

.

.

.

.

.

Bel istirahat telah berbunyi sedari tadi, memanggil para siswa untuk berkunjung ke kantin sekolah untuk sekedar membeli makan siang.

Kantin sudah dipadati oleh para warga sekolah. Namun, tak tampak di antara meja-meja kantin gadis dengan rambut terbilang unik duduk di salah satu meja.

Justru sekarang, Sakura tengah berada di bawah pohon yang sedari tadi dipandanginya. Tak ingin mengganggu ketenangan di saat makan siswa lainnya dengan kehadirannya, juga tak ingin kelaparan di saat makan siang, satu-satunya pilihan adalah dengan membawa bekal. Dan itulah yang sedang dilakukannya sekarang, menyantap bekal makan siangnya yang sudah di persiapkan dari rumah di bawah naungan pohon favoritnya.

Setidaknya untuk sesaat kehidupan SMA Sakura bisa tenang barang beberapa menit. Tapi, satu yang tak Sakura kira adalah mata sehitam jelaga tengah menatapnya dari atas pohon sambil menggigit apel yang entah dari mana datangnya dengan santai.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

.

A/N :

Up tiap sabtu, jam 21.00 WIB.

Terima Kasih bagi yang bersedia membaca.

Tinggalkan jejak, apa pun juga boleh. Terserah andalah.

Sampai Jumpa di chap berikutnya.

salam

Akai Bara