Slice of Life

by Hikari Azayaka

Ooc, Typos, EYD

NarutoMasashi Kishimoto

Chapter 4

Rasanya sakit

" Saki! Jangan lari-lari! Nanti jatuh! " Seru gadis kecil berambut merah dan berkacamata pada gadis lainnya yang lebih muda darinya yang asyik berlarian tak tentu arah di padang rumput yang luas itu.

" Hahaha! Kejar aku nee-san! " Kaki-kaki lincahnya berlari lebih cepat lagi, meninggalkan sang kakak jauh di belakang.

" Saki-chan, Karin-chan! Ayo makan! Makan siang sudah siap! " Panggil seorang wanita berambut pirang dari kejauhan yang sedang duduk di sebuah tikar yang digelar dibawah pohon yang rindang bersama dengan seorang pria berambut pink tua.

Sembari bergandengan tangan, kedua gadis kecil tersebut menghampiri wanita itu dengan senyuman manis terukir di wajah masing-masing. Namun, keanehan terjadi begitu mereka mendekat. Suasana asri padang rumput berganti menjadi suasana duka yang begitu kentara.

Gadis merah yang tadi menggandengnya menghilang. Menyisakan kehampaan pada tangan yang sebelumnya digenggam seseorang. Kebingungan kini melanda gadis kecil itu, hiruk pikuk isak tangis memenuhi ruang, mata setiap orang yang ada di sana menatapnya dengan tatapan aneh yang sarat akan luka.

" Hiks... Hiks... Kenapa Saki? Dia kakakmu, kan? Kenapa? " Isak wanita pirang yang tadi juga bersamanya, disampingnya berdiri pria yang juga sama dengan yang tadi mengelus-elus punggung wanita itu sembari menatapnya penuh kebencian.

Dalam sekejap keadaan sekitarnya berganti lagi, kali ini dia serasa terjatuh ke dalam lubang besar yang dalam dan gelap yang bahkan dasarnya saja tak dapat dilihat. Tangan kecilnya berupaya menggapai dasar, suara teriakannya menggema dalam heningnya suasana. Berusaha sekeras tenaga untuk dapat keluar, namun entah kenapa ia merasa semua itu percuma, sia-sia saja jika dilakukan. Untuk sesaat rasanya ia mau mati saja.

~AkaiBara~

" Hah... Hah... Hah... " Dalam sekejap mata yang terpejam itu membuka memamerkan emerald indahnya, napasnya tersengal-sengal, keringat dingin meluncur deras dari dahinya. Mimpi itu lagi, batinnya frustrasi. Sejak kejadian itu tidurnya tak pernah tenang lagi. Mimpi yang sama selalu menghantuinya, alasan yang sama kenapa ia selalu terbangun di pagi buta.

Tangannya kemudian terulur, meraih pigura pada nakas di sebelah tempat tidurnya. Matanya sendu menatapi wajah bahagia tiap orang di dalamnya. Tapi, itu dulu. Sekarang hanya ia yang tersisa, dan suramnya keadaan yang bagai menawannya. Semua itu karenanya, karena permintaan egoisnya. Ini salahnya.

~Slice of Life~

Hari sudah gelap saat ia melangkah keluar dari toko kue milik nona Tsunade, tempatnya bekerja paruh waktu. Kelap-kelip lampu kota memenuhi pengelihatannya, namun sedikit, demi sedikit, intensitasnya makin berkurang, seiring dengan langkahnya meninggalkan kota. Menyusuri jalan yang sudah dihapalnya betul. Jalan menuju taman.

Dia sudah memutuskannya daripada menyimpan rasa bingungnya sendiri, lebih baik meminta klarifikasi langsung oleh yang bersangkutan, Kei. Dan malam ini, ia akan melakukannya. Menyingkirkan sejenak kecemasan yang dirasakannya. Yang harus diketahuinya sekarang adalah, apakah Kei adalah Uchiha Sasuke atau bukan?

Tak disangka ia telah sampai, dan seperti perkiraannya dia sudah ada di sana. Duduk diam di sampingnya, entah kenapa kali ini suasananya terasa lebih berat.

" Kei, apakah kau adalah Uchiha Sasuke? " Tanya Sakura langsung pada intinya. Hening. Kei tidak menjawabnya, dia malah memilih untuk menunduk memandangi jalan yang tengah dipijaknya.

" Ya, ini aku. Memangnya kenapa? Kau tidak suka aku kembali? Atau-- " Akhirnya dia mengangkat kepalanya menatap Sakura, cahaya matanya redup, benar-benar membuat Sakura menciut apalagi ketika mendengar ucapannya. Kei, ah tidak, Sasuke sudah tahu. " Atau apa kau juga ingin membunuhku? Sama seperti apa yang kau lakukan pada Karin? "

" Ti-tidak Sasuke. Kau tidak mengerti. "

" Tidak mengerti apa?! Hah! Jawab kenapa kau membunuh Karin?! Jawab?! Kau dengar aku, kan?! Ayo jawab?! Dasar bisu?! " Sasuke dengan amarah yang menggebu-gebu, mencengkeram bahu mungil Sakura dan menguncangnya kuat sembari berteriak padanya. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Sasuke kemudian menghempaskan Sakura ke jalanan dengan kesal. " Jangan temui aku lagi, dasar sampah. " Umpatnya terakhir kalinya sebelum berbalik pergi meninggalkan Sakura yang masih bersimpuh di jalanan yang dingin.

~Rasanya Sakit~

" Sasu-kun, Karin-nee, ayo main petak umpat! " Seru gadis kecil itu riang sambil menarik sang kakak dan teman lelakinya agar mau bermain dengannya.

" I-iya Saki, jangan tarik-tarik. "

" Makanya, ayo cepat Karin-nee! Kamu juga Sasu-kun! Ayo main! "

" Hn, ayo kita main. " Ujar bocah lelaki kecil itu kalem sambil mengacak surai merah muda si gadis kecil sambil tersenyum tipis yang hanya di balas seruan gembira gadis itu.

" Yee...! "

~Hikari~

Kilas balik ingatan masa kecilnya memenuhi ingatannya. Langkahnya gontai, dan pandangan matanya kosong. Ia bahkan tidak tahu lagi ada di mana dia sekarang, dia hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah. Dia benar-benar kacau, dan rasanya akan hancur sebentar lagi.

Kepalanya serasa berputar, matanya berkunang-kunang dan entah kenapa tubuhnya terasa lemas tak berdaya, lalu gelap. Samar-samar dapat terdengar suara seseorang yang memanggilnya, tapi terlambat dia sudah tidak kuat lagi.

" Hei, Kau kenapa?! "

~Azayaka~

" Apa?! Leukimia, dokter?! " Pekik wanita berambut pirang panjang pada pria berjas putih di depannya.

" Ya, nyonya. Nona Karin menderita penyakit Leukemia* jenis Leukimia Limfositik Akut ( LLA )* yang memang sering terjadi pada anak-anak. " Jelas dokter muda bername tag Hatake Kakashi itu.

" Tapi bagaimana mungkin, dokter? Dalam silsilah keluarga kami tidak ada yang mengidap penyakit leukimia, seharusnya tidak mungkin anak saya menderita penyakit ini kan, dokter? " Sangkal wanita itu yang masih tidak percaya putri sulungnya mempunyai penyakit yang parah.

dokter Kakashi menghela napasnya lelah, mungkin dia sendiri sudah bosan menjelaskan kabar buruk ini pada tiap keluarga pasiennya. " Penyakit ini tidak hanya di sebabkan oleh faktor riwayat keluarga saja, tetapi juga dapat diakibatkan kelainan genetik, radiasi, virus bahkan orang-orang yang pernah menjalani pengobatan kemoterapi. Namun, dalam kasus nona Karin, sepertinya penyakit itu diakibatkan oleh virus. Karena nona Karin tidak mempunyai tanda-tanda kelainan genetik atau radiasi, dia juga tidak punya catatan pengobatan kemoterapi, jadi satu-satunya penyebabnya adalah virus. Kami masih belum tahu virus jenis apa, tapi setelah kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut, kami akan memberitahukan hasil pastinya pada kalian. "

" Hiks... Hiks... I-ini tidak mungkin kan, suamiku... " Isak wanita itu dalam pelukan suaminya yang tampak sama syoknya dengannya.

" Kalau begitu apa yang bisa kami perbuat untuk mengobatinya, dokter? "

" Ada banyak cara yang dapat kita coba, tuan. Tapi saya anjurkan untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Namun, untuk mencari pendonor yang cocok akan dibutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi untuk sementara sampai kita dapat melakukan pencangkokan kita bisa mencoba cara lainnya. Kita dapat melakukan terapi terfokus* atau terapi biologis, kita juga dapat melakukan kemoterapi* atau radioterapi*. " Terang sang dokter panjang lebar pada tuan dan nyonya Haruno di hadapannya. " Untuk lebih jelasnya silahkan ambil brosur ini. Saya sarankan untuk tuan dan nyonya Haruno pulang dan memikir-- " Di sepanjang pembicaraan mereka, tak satu pun yang menyadari ada mata lain yang mengintip dari celah pintu yang terbuka dan dengan tidak sengaja menguping pembicaraan para orang dewasa di depannya.

Takut akan di marahi, dengan segera sang penguping itu segera berlari pergi mengabaikan larangan agar jangan berlari di lorong rumah sakit dan masuk ke dalam salah satu ruang inap di lorong itu.

" Nee-chan, kenapa nee-chan terus berbaring di tempat tidur saja? Ayo bangun dan main bersamaku. " pinta gadis kecil itu sambil memasang wajah memelas yang nampak imut di mata sang kakak.

" Maaf, Saki. Nee-chan sedang tidak enak badan. Saki main sama Sasu saja, ya. "

" Tidak, Saki mau di sini saja. Nee, nee-chan apa itu leukimia? " tanyanya dengan wajah polosnya yang tak tahu apa-apa.

" Saki dengar itu dari mana? "

" Kaa-chan dan tou-chan mengatakannya tadi saat berbicara dengan dokter. "

" Hoo... Saki menguping, ya? " Goda sang kakak yang hanya dibalas senyum jahil sang adik. " Nanti Saki juga akan tahu. "

" Kapan? "

" Saat Saki sudah besar. "

" Apa nee-chan jadi begini karena leukimia? " Tanyanya lagi, yang membuat tubuh sang kakak menegang mendengarnya. " Kalau iya, Saki juga mau. Nee-chan kan enak-- "

" Tidak boleh! Sakura tidak boleh mendapatkannya! " Tegas sang kakak yang tanpa sadar telah membentak Sakura. Tak tahan melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Sakura, Karin melembutkan suaranya untuk menenangkannya. " Bukan begitu Saki-chan, maksud nee-chan Saki masih terlalu kecil untuk mendapatkannya. Dan lagi itu hanya untuk orang-orang yang spesial seperti nee-chan. Sedangkan Saki adalah orang yang istimewa jadi Saki tidak bisa mendapatkannya, oke? "

" Jadi, begitu ya nee-chan. Baik, Saki tidak mau punya Leukimia. Tapi, Saki mau nee-chan cepat bangun dari tempat tidur, ya, agar kita bisa main lagi. " Pekik Sakura girang bermaksud memberi semangat pada Karin agar cepat sembuh.

" Iya, iya. "

~AkaiBara~

Bau obat-obatan memenuhi penciuman Sakura, matanya terpejam rapat dan kepalanya terasa agak berat. Dengan susah payah ia membuka matanya, dan langsung di sambut silau sinar mentari yang masuk dari sela-sela jendela kamar.

" Aku ada di mana? " Tanyanya heran dengan suara serak seraya mencoba duduk dari posisi awalnya yang berbaring.

" Kau sudah bangun. " Pintu ruangan terbuka menampakkan pemuda yang tak asing lagi baginya.

" Ka-kau-- "

" Ya, ini aku Sakura. "

~Slice of Life~

Sasuke melepas jaketnya kemudian menyampirkannya di sembarang tempat, menghempaskan tubuhnya di sofa besar di tengah apartemennya sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.

Ingatannya beralih ke saat dia membentak dan berlaku kasar pada Sakura dan entah kenapa jantungnya serasa di remas-remas tiap kali mengingatnya.

Hari ini gadis itu tidak masuk sekolah, sudah dapat ditebak tak akan ada yang peduli, bahkan guru yang mengabsen pun nampak acuh tak acuh. Sungguh gadis malang dan dia malah membentaknya. Tapi itu sepadan. Entah apa yang akan di katakannya pada Itachi nanti.

Getar telepon genggamnya mengalihkan sedikit pemikirannya dari gadis merah muda itu. Nama kakaknya tertera sebagai pemanggil di layar handphone-nya, tubuhnya seketika kaku, rasa takut memenuhi rongga dadanya. Dia sangat mengenal kakaknya, dan dia tahu begitu marah dia tak akan segan-segan menghancurkan penyebabnya. Tapi, berbohong pun bukan solusi jika sudah berhadapan dengannya. Setelah pergumulan panjang Sasuke akhirnya memilih mengangkat teleponnya dan mengatakan yang sebenarnya tentang Karin. Konsekuensinya akan di tanggungnya nanti.

" Halo. "

" Yo otouto, bagaimana misimu? " Skak mat baginya.

" Aniki, ada yang harus kuberitahukan kepadamu. Berjanjilah kau tidak akan bertindak gegabah setelah mendengarnya. "

" Memangnya ada apa, Sasuke? Kenapa aku menangkap firasat buruk darimu? Kenapa pula aku harus berja- "

" Lakukan saja! " potong Sasuke cepat. " Atau jangan harap kau akan tahu. "

" Baiklah, aku berjanji. Puas, kau ini aneh sekali. Ada apa, sih? "

" Aniki, Karin-nee... Dia... Dia sudah meninggal. Dibunuh oleh Sakura... "

To be continued

A/N :

Leukimia ( Kanker darah ) : Adalah jenis penyakit yang mengerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang.

Leukimia Limfositik Akut ( LLA ) : Merupakan tipe leukimia yang paling sering terjadi pada anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi pada orang dewasa.

Terapi terfokus : Terapi untuk menyerang bagian -bagian rentan dalam sel-sel kanker.

Terapi biologis : terapi untuk membantu sistem kekebalan tubuh agar dapat mengenali dan menyerang sel kanker.

Kemoterapi : pengobatan dengan cara menggunakan bahan-bahan kimia untuk membunuh sel kanker darah.

Radioterapi : Teknik pengobatan yang menggunakan sinar X untuk menghancurkan dan menghambat pertumbuhan sel kanker.

Mohon maaf untuk yang tadi, ya. Habisnya tanda bacanya kacau semua. Author sendiri sampai pusing tujuh keliling di buatnya. Mohon di maafkan. Ini, deh hadiahnya. Eh, udah berapa minggu terlewat ya? Ada tiga nggak ya? Maaf kalo kelamaan nunggunya.

Ada yang rindu dengan fict ini?

Ahaha... Nggak ada ya?XD

Gimana nambah kacau kan? Ya iyalah orang authornya gaje gini. Udah jelasan sekarang? Belum ya? Nanti juga tahu. Makanya follow dong~ ( promosi ).

Terima kasih bagi yang sudah berniat membaca cerita saya... Maaf, jika ada kesalahan. Wajar namanya juga manusia. Silahkan bertanya di kolom review~ Author usahain bakal di jawab sejelas mungkin ( promosi [ lagi ] )

Maaf, up-nya telat, habis ujian sudah di mulai sih! Doakan berhasil ya! Keep reading guys~ o

Mind to RnR? _o

Salam

Akai Bara