Slice of Life
By
Hikari Azayaka
Ooc, Typos, EYD
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Chapter 5
Merah dan Indigo
" Ya, aku adalah pemuda yang kau tabrak dua hari yang lalu, Sakura. Perkenalkan namaku Akasuna Sasori, kau bisa memanggilku Sasori. " Sakura memang tidak salah ingat, pemuda bernama Sasori itu memang pemuda yang tidak sengaja ditabraknya, tapi apa yang dilakukannya di sini?
" Maaf untuk hal itu. Tapi aku ada di mana sekarang? Kau tahu namaku dari siapa, seingatku aku belum memperkenalkan diriku padamu, kan? " Tanyanya bingung.
" Kau sedang berada di rumah sakit. " Terangnya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi samping ranjang Sakura. " Aku menemukanmu pingsan di sekitar taman kemarin malam, dokter bilang kau hanya terkena demam, tetapi diperparah dengan kondisi tubuhmu yang kelelahan, dan juga dehidrasi ringan yang kau alami, serta kau juga sedang banyak pikiran. Oh, dan juga- " Tangan Sasori membuka laci bawah nakas dan mengambil baju seragam yang telah dilipat rapi dan meletakannya di atas ranjang Sakura. " Aku tahu namamu dari name tag di seragammu. "
" Jadi, begitu. Terima kasih banyak atas bantuanmu Akasuna-kun. " Katanya sopan sembari mengulas senyum pada si pemuda. Namun, setelahnya wajahnya kembali muram kala ingatan malam sebelumnya memenuhi memorinya. " Rumah sakit, ya. " Gumamnya pelan.
" Hei, ada apa? Kenapa wajahmu muram begitu? Cemberut itu tidak baik untuk kesehatan, loh. " Canda Sasori mencoba untuk menghapus wajah muram Sakura yang benar-benar mengganggunya. " Lagi pula kalau kau ada masalah, lebih baik ceritakan dan bagi pada seseorang. "
" Aku tidak punya siapa-siapa. "
Menyedihkan. Gadis di depannya benar-benar tampak menyedihkan, dan ia membencinya. " Ayolah, kau punya aku, kan. Walau pun secara teknis kita baru berkenalan sebatas nama, tapi aku ini pendengar yang baik, loh. " Mengedipkan matanya genit pada Sakura, entah apa yang ada di pikirannya ketika melakukan hal itu. Namun, yang penting gadis di depannya bisa kembali tersenyum seperti tadi, entah sejak kapan hal itu menjadi sangat penting baginya. Dan, dia berhasil, lihat saja senyum Sakura sekarang, sangat manis sangat cocok di wajahnya, dan Sasori suka itu. Karenanya ia membalasnya.
" Oh, ya, jangan panggil aku ' Akasuna-kun', kau seperti memanggil ayahku saja. Aku kan sudah bilang untuk memanggilku Sasori. " Rajuknya yang sukses membuat Sakura menertawakan wajah baby face- nya yang terkesan lucu jika sedang cemberut.
*AkaiBara*
" Aniki, Karin-nee... Dia... Dia sudah meninggal... Di bunuh oleh Sakura... " Mata Itachi membulat, tubuhnya lemas bagai tak bertenaga. Kata kata Sasuke menggema berulang kali di telinganya. ' Karin... Sudah meninggal... Dia sudah pergi... Tidak... Tidak! Tidak mungkin! ' Batinnya berteriak pilu, sungguh ia tak menyangka firasat buruknya benar-benar terjadi.
" Jangan bercanda, Sasuke. " Geramnya marah. Dia mengirim adiknya untuk mencari tahu kabar kekasihnya, Karin, yang hilang kontak selama empat bulan ia di sini, bukan untuk candaan yang konyol seperti ini.
" Aku tidak sedang bercanda. Aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Karin-nee meninggal di bunuh oleh Sakura. " Tegas Sasuke yang sama marahnya dengan sang kakak.
" Sakura? Cih, apa-apaan ini Sasuke?! Tidak mungkin Sakura melakukannya?! "
" Tapi itulah yang terjadi! Saksi matanya sendiri yang memberitahuku! Sakura ada di ruang rawat Karin-nee sendirian sesaat sebelum dokter menyatakan Karin-nee sudah meninggal! Apa kau masih belum percaya?! Aku bisa menyuruh saksinya untuk menghadapmu! "
Tubuh Itachi menegang, sekarang amarahnya sudah berada di ubun-ubun, rasanya ia bisa menghancurkan apa saja sekarang. ' Sakura membunuhnya? ' Tersirat rasa ketidakpercayaan dalam hatinya, tapi terlambat. Amarah telah mengontrol hati dan pikirannya. Peduli setan tentang status Sakura sebagai adik kekasihnya, siapa pun itu ia akan membalas kematian Karin, tidak peduli itu Sakura atau bukan.
" Aku akan pulang ke Konoha sekarang. Ceritakan semuanya padaku begitu sampai. Kuhancurkan siapa pun yang melakukan ini. "
•Merah dan Indigo•
" Yo, Sakura. " Sapa Sasori hangat pada Sakura yang telah tampak jauh lebih baik dari yang kemarin. Bahkan gadis itu juga sudah menukar pakaian rumah sakit dengan pakaiannya yang dulu.
" Ah, Sasori-kun kau sudah pulang. Bagaimana sekolah? "
" Baik, aku kan murid teladan. "
" Terlalu percaya diri. Kau tahu aku sudah bisa pulang sekarang! senangnya. " Pekiknya senang pada Sasori sambil tersenyum simpul. " Kau sudah makan siang belum? Ayo kutraktir. Hitung-hitung balasan karena sudah menolongku. "
" Hmm, beruntung bagimu, aku belum makan. Jadi ayo, kau tidak berniat untuk mengajakku makan makanan rumah sakit, kan? "
" Tentu saja tidak, Sasori-kun. Aku tidak sejahat itu, tahu. " Rajuknya sambil mengerucutkan bibirnya, yang membuat sang pemuda gemas sampai mengacak-acak rambutnya. " Hei! "
" Ahahaha... Iya, iya. Sekalian kuantar pulang seusai makan, ya. "
" Baik! "
~Hikari Azayaka~
" Ahahaha... Sasori-kun, kau lucu sekali. Tidak mungkin kau mau melakukannya. " Tawa gembira Sakura keluar tiap kali Sasori menceritakan pengalaman 'unik'-nya saat masih kecil. Sungguh, Sakura sudah lupa bagaimana rasanya tertawa sampai Sasori mengingatkannya sekarang.
" Aku serius, loh. " Melihat Sakura yang ceria seperti ini, membuat Sasori juga ikut senang. Selama satu hari menghabiskan waktu di rumah sakit dengan canda tawa, hubungan mereka naik drastis dalam waktu yang begitu singkat. Sakura juga mulai mau membuka dirinya pada Sasori dan, hei, dia bahkan memanggilnya dengan sufiks 'kun'. Bahagianya ia saat ini. " Apa kau sudah selesai makan? "
" Sudah. "
" Baiklah, cukup untuk hari ini, nona. Ingat kau baru sembuh, dan sekarang waktunya untuk pulang dan beristirahat. Nah, ayo, akan kuantar. "
" Iya, iya, tuan cerewet. Aku mengerti. " Katanya sembari berdiri dan keluar dari restoran sederhana tempat mereka menghabiskan waktu dari keluar rumah sakit sampai langit yang sudah mulai menguning.
" Aku tidak cerewet. Hanya perhatian. " Goda Sasori.
" Baiklah, tuan sangat ' perhatian ' " Tawa Sakura dan gerutuan Sasori yang kalah dari Sakuralah yang menjadi penutup di penghujung hari ini.
*Merah dan Indigo*
Seminggu terlewati dengan cepat. Hari-hari Sakura berubah total saat Sasori datang. Bagai bulan yang menerangi malam, Sasori merubah hidupnya menjadi lebih berwarna, menariknya dari keterpurukan yang dialaminya.
Sasori yang ternyata kakak kelas tingkat akhir di sekolahnya itu, bahkan tidak segan-segan membentak Ino, Tayuya dan Shion saat mereka membully-nya. Dan, sekarang hampir tidak ada lagi yang mengganggunya terkecuali surat ancaman yang masih terus datang memenuhi lokernya. Sakura merahasiakan hal ini dari Sasori, ia sudah cukup merepotkan baginya.
Satu-satunya orang yang percaya dan mengacuhkan segala kabar buruk tentangnya hanya Sasori. Dan ia sangat menghargai hal itu.
Pagi ini Sakura mendapat surat ancaman lagi di lokernya, isinya kira-kira sama. Hanya harapan agar dirinya pergi dari dunia ini. Dengan segera ia membuang semua surat tersebut ke tempat sampah terdekat dan lanjut berjalan ke kelasnya karena tepat lima menit lagi bel akan berbunyi.
Deg... Deg...
Jantungnya mulai memompa darah dua kali lebih cepat dari biasanya kala melihat sosok tegap telah duduk di samping bangkunya, Sasuke. Seminggu berlalu semenjak pertengkaran mereka di taman, selama itu pula mereka saling mendiamkan, bahkan melirik pun tidak.
Mencoba menenangkan jantungnya yang ingin meledak, Sakura duduk diam sembari menunduk dalam tidak berani terlibat kontak mata dengan teman sebangkunya. Terus begitu sampai bel istirahat berbunyi.
" Sakura, makan siang denganku lagi, ya. " Suara Sasori yang menyusul begitu bel menyelamatkan Sakura dari situasi mencekamnya dengan Sasuke. Segera saja ia mengangguk, mengiyakan ajakan Sasori sembari dengan cepat beranjak dari kursi dan berjalan keluar kelas diikuti mata hitam Sasuke yang menatap tak suka pada dua sejoli itu sambil mendecih pelan. " Cih. "
•Merah dan Indigo•
" Nee, Hinata-chan, apa kau sudah dengar berita tentang hal 'itu'. Kau tahu, kan? " Kedipan mata gadis berambut coklat sebahu- Matsuri, malah menambah bingung dua temannya yang lain.
" Langsung saja, Matsuri. Kau terlalu ambigu, 'itu' apaan? " Ketus gadis bercepol dua- Tenten yang gemas dengan pertanyaan Matsuri yang menurutnya terlalu ambigu.
" Hee? Kalian tidak tahu gosip itu? Ya ampun! "
" Gosip apa Matsuri-chan? " Tanya gadis berambut Indigo- Hinata dengan nada lembut.
" Itu, loh, gosip kalau Sakura sedang dekat dengan Sasori-senpai. Dia bahkan memanggilnya dengan tambahan sufiks 'kun'. Berani sekali dia! Dasar tidak tahu diri! " Umpatnya kesal.
" Cih, mau-maunya Senpai dengannya. Aku saja muak melihat wajahnya. " Timpal Tenten dengan raut wajah jijik.
' Sasori-senpai, ya ' Batin Hinata yang tanpa sadar telah menunjukan seringai kejinya. ' Satu lagi cara baru untuk menghancurkannya! ' .
" Hinata-chan, kenapa diam saja? Kau sakit, ya? "
" Me-memangnya kenapa Matsuri-chan? "
" Habisnya kau diam saja dan tadi ada senyum aneh di bibirmu. "
" Ah, kau pasti salah lihat Matsuri-chan. Ayo kita jalan lagi aku sudah lapar. " Kilahnya mengubah topik seraya kembali berjalan beriringan bersama dua temannya. Namun, baru beberapa langkah, getaran ponsel di saku rok-nya mencegahnya kembali berjalan.
" Kalian duluan saja, aku akan menyusul setelah mengangkat telepon ini. Mungkin ini Neji-nii. " Ujarnya sambil pergi mencari tempat yang sepi untuk mengangkat teleponnya.
" Halo, ada apa nii-san? " tanyanya pada orang di seberang sana.
" Hn, Hinata hari ini kau akan pergi makan malam bersama Naruto. Persiapkan dirimu. "
Tuut... Tuut... Tuut...
Singkat, padat dan tepat begitulah onii-channya. Dia tidak mempermasalahkan itu, lebih tepatnya sudah biasa. Kabar yang diterimanyalah yang jadi masalah. ' Makan malam dengan Naruto, katanya? '
" Ck, dasar bajingan. "
~Merah dan Indigo~
Konoha International airport mulai dipadati baik oleh penumpang yang baru mendarat, keluarga yang menjemput atau bahkan calon penumpang sekali pun. Keramaian dan kebisingan ini sebenarnya mengganggu Sasuke, sangat malah. Tapi, atas perintah kakaknya dia berada di sini bermaksud untuk menjemputnya.
Tak perlu waktu lama untuk mencarinya, hanya satu orang di dunia ini yang mirip dengannya, dan orang itu bernama Uchiha Itachi.
" Jangan buang-buang waktu, ayo pulang dan ceritakan semua padaku. " Tegas dan dingin adalah sesuatu yang langka dari diri kakaknya yang seingatnya dulu adalah orang yang hangat dan ramah. Tapi, seperti yang ia ketahui dia sedang marah sekarang dan sebaiknya jangan membantah ucapannya.
" Hn. "
*Merah dan Indigo*
Restoran mewah dengan desain interior bergaya klasik dan cat warna kuning keemasan tampak dominan melapisi dinding-dindingnya yang sebelumnya putih polos. Pilar-pilar kokoh berukir menyangga atap restoran, dengan lampu gantung kristal berada di tengah ruangan yang dikosongkan bermaksud sebagai lantai dansa. Vas bunga berukuran besar menyatu dengan susunan perabot dan warna indah yang dilukiskan di dinding-dindingnya yang berhiaskan lukisan-lukisan terkenal buatan para pelukis handal dunia, dan emblem terbuat dari kayu yang merupakan simbol dari keluarga Hyuuga. Suara merdu orkestra yang dimainkan para pemusik profesional mengalun merdu di telinga para tamu restoran. Suasana tenang dan damai menambah poin restoran tersebut di mata para tamunya.
Restoran yang menyajikan pelayanan yang dapat memanjakan tiap indra yang dimiliki oleh manusia. Restoran yang berada di bawah kendali keluarganya. Sama sepertinya.
" -Ta. "
" -Nata. "
" Hinata. Hei, apa kau baik-baik saja? " Ucap pemuda berambut kuning jabrik dengan nada khawatir pada gadis di depannya. " Kita bisa pulang kalau kau memang sedang tidak sehat. "
Ah, Hinata terlalu terbuai oleh suasana dan pemandangan di hadapannya. Ia sampai lupa alasan utamanya datang ke mari. Pemuda ini, Namikaze Naruto, tunangannya. " Bukan apa- apa, Naruto-kun. Aku baik- baik saja. " Seluruh hidup Hinata adalah akting dan dia adalah tokoh yang sangat lihai dalam memainkan perannya.
" Kau yakin? "
" Iya, jangan terlalu khawatir. "
" oh, kalau begitu cepat makan makananmu. Nanti dingin. "
" I-iya. "
" Nee, Hinata apa kau sudah minum obatmu? " Tanya Naruto.
" Obat apa, Naruto-kun? "
" Obat yang kau beli kemarin, saat aku meneleponmu kau bilang sedang berada di apotek membeli obat flu. Kau tidak ingat? " Aneh Hinata yang dikenalnya bukan orang yang pelupa. ' Ada apa dengannya? '
" Aku tid- Arrrgghhh! " Rintih Hinata sambil memegangi kepalanya yang serasa di pukul dengan sangat keras.
" Hinata?! Kau tak apa? " Dengan segera Naruto menghampiri Hinata yang sedang menundukkan wajahnya menatap lantai. Dengan lembut ia meraih dagu Hinata dan mengangkatnya ke atas untuk melihat wajah ayu kekasihnya yang terlihat sedang kesakitan. " Apa ada yang sakit? "
" Sakit? Ahahaha... Apa yang kau bicarakan Naruto? Oh, ya, kita ada dimana sekarang? " Ajaib, dalam sekejap Hinata yang pemalu berganti menjadi Hinata yang asing, dengan karakter dan raut wajah yang sama sekali berbeda.
" Kita ada di restoran milik keluargamu, Hinata. Dari tadi kita di sini, lho, bagaimana kau bisa lupa? "
" Oh. " Jawab Hinata pendek sambil menyantap kembali makan malamnya dengan tenang tak terlalu menggubris Penjelasan Naruto. Bahkan rasanya ia tidak mempedulikan keberadaan pemuda itu dan hanya fokus pada makanannya.
' Hinata? Ada apa denganmu ' Batin Naruto melihat perubahan sikap Hinata malam ini, namun ia memilih diam saja sambil tetap memperhatikan Hinata.
•Slice of Life•
Sakura merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, mengistirahatkan barang sejenak otot-ototnya. Malam ini adalah malam yang indah, dengan bulan dan bintang yang menyinari dengan terangnya, tetapi Sakura merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang sangat penting.
Ah, ya, ia lupa. Biasanya di jam-jam seperti ini Sakura akan berkeliaran seperti orang gila di taman dengan dalih ingin menemui seseorang yang berharga baginya. Namun faktanya, dia bahkan tidak tahu siapa orang itu sebenarnya sampai minggu lalu, yang menjadi akhir dari hobi buruknya, dan awal dari permusuhan antara ia dan pemuda bernama Sasuke. Rasanya sakit tiap kali membayangkan mereka akan tetap seperti ini sampai tua. Kadang ia rindu dengan masa kecilnya. Ketika ia masih berupa gadis lugu tanpa beban di pundaknya. Ia masih ingat hari-hari di mana dia, Sasuke, Karin dan Itachi bermain bersama, tak seperti sekarang yang saling bermusuhan, melupakan ikatan terdahulu yang penting adanya.
Menghela napas panjang sambil membalik tubuhnya menjadi tengkurap, tangannya meraih pigura pada nakas. Foto keluarga mereka ketika masih utuh, ketika Karin masih sehat, dan ketika ini semua belum terjadi. Foto ini diambil ketika Karin dan ia berumur tujuh dan lima tahun, tahun yang sama saat Karin divonis menderita kanker darah.
Bangkit berdiri menuju jendela kamar dan menyingkap tirainya, memampangkan bulan dan bintang di langit, sampai kapan pun malam adalah waktu favoritnya. Melirik meja belajarnya, tergeletak tape recorder beserta headset-nya, berisi rekaman nyanyian mereka saat malam natal sebelas tahun yang lalu. ' Natal, ya? '
" Hah... Sebaiknya aku mandi dan makan. " Gumamnya pada diri sendiri.
~Merah dan Indigo~
CKLEK...
Suara pintu depan yang terbuka mengalihkan perhatian Sakura dari kegiatan memasaknya, sedikit merasa takut ada pencuri yang masuk ke rumahnya. Dengan hati -hati ia melongokkan kepalanya ke ruang tamu yang terhubung lansung dengan pintu depan.
Seorang pria paruh baya berambut merah muda sepertinya berdiri di sana, ayahnya- Haruno Kizashi.
*Slice of Life*
" Jadi begitu. " Ucap Itachi sambil menghirup tehnya perlahan. " Apa kau yakin saksi matamu itu tidak berbohong? " Untuk kesekian kalinya ia bertanya.
" Tentu saja. Dia tidak mungkin berbohong. " Sejak pulang menjemput Itachi dari bandara, tak henti-hentinya pertanyaan itu ditanyakan, berkali-kali, berulang-ulang, sampai Sasuke bosan mendengarnya apa lagi menjawabnya. " Kau pasti juga mengenalnya, namanya Hinata Hyuuga. "
*Hikari Azayaka*
" A-ayah, kau sudah pulang, ya. " Ucap Sakura terbata akibat gugup. Dia tidak salah lihat, kan? Ayahnya sudah tidak pernah pulang lagi ke rumah semenjak bercerai dengan ibunya. Dan sekarang dia ada di sini, sungguh suatu kejutan.
" Hn. " Dingin, ayahnya berubah menjadi dingin sejak peristiwa buruk yang mendatanginya dengan beruntun merenggut sifat hangat ayahnya.
" Apa ayah sudah makan? Aku sedang mema- "
" Aku tidak lapar. " Potong Kizashi cepat sembari terus melangkah tidak menghiraukan keberadaan Sakura.
" Ayah. " Ucap Sakura sendu sambil menatapi punggung tegap ayahnya yang kian menjauh.
•Merah dan Indigo•
" Khikikiki... Sedikit lagi sampai rencana kita berhasil. " ucap seseorang yang sedang berbalik memunggungi seseorang yang diam-diam sedang mengintipnya.
" A-apa yang kau rencanakan, Ha-hana-chan. Ja-jangan lakukan hal yang bu-buruk. " Gagap suara lainnya, kali ini dengan cara pengucapan yang berbeda dari suara yang pertama.
" Aku melakukannya untukmu, Hinata. demi kebaikanmu dan pembalasan kita. Jadi diam dan lihatlah. " Ini aneh di ruangan itu pencahayaannya memang remang-remang hanya cahaya bulan yang menjadi penerang alami ruangan itu, namun meskipun begitu ia hanya dapat melihat satu siluet orang saja di dalam sana, namun kenapa suaranya ada dua dan cara pelafalannya berbeda-beda?
" Ja-jangan, sudah cu-cukup Hana-chan. Jangan lagi. "
' Oke, ini semakin aneh. Aku harus menghentikannya. ' Batin pengintip tadi, dengan segera ia membuka lebar pintu dan masuk ke dalamnya dengan perlahan-lahan, mencoba untuk tidak menimbulkan suara. Satu tangannya terjulur menggapai bahu orang itu yang di tutupi helaian rambut yang tergerai panjang. " Hinata-sama, anda sedang berbicara dengan siapa? "
Sosok itu berbalik, menampilkan wajah cantik seorang Hinata Hyuuga di bawah terpaan sinar bulan. " A-apa yang anda maksud, Ritsuko-san? "
" Maaf, tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan anda dengan seseorang, jadi saya sedikit mengintip. Mohon dimaafkan, nona. " Bungkuk pelayan bernama Ritsuko tadi dengan sopan. " Apa anda sedang menelepon seseorang tadi? Tolong maafkan saya. "
" Bukan apa-apa. "
" Kenapa anda berada dalam kegelapan, mari biar saya nyalakan lampunya. " Begitu saklar di tekan dan ruangan terang-benderang, Ritsuko dapat melihat dengan jelas sekarang tak ada siapa pun di kamar itu, dan nonanya tak mungkin sedang menelepon seseorang karena teleponnya saja berada di meja hiasnya sedangkan ia tengah berdiri di depan jendela tinggi kamarnya sambil memandangi bulan. Apa ia salah dengar?
" Kalau begitu saya permisi, Hinata-sama. " Begitu pintu di tutup dengan terburu-buru ia melangkah menuju ruang kerja tuan mudanya untuk melaporkan hal aneh yang menimpa nonanya. Karena dia yakin, seratus persen nonanya itu sedang berbicara dengan orang lain di kamar itu. Dia yakin!
•Merah dan Indigo•
" Kalau memang begitu, mari kita selidiki ulang, Sasuke. Aku masih belum puas kalau tidak tahu kebenarannya yang sebenarnya. " Tegas Itachi.
" Terserah, aku punya beberapa nama detektif swasta yang perlu kau pertimbangkan. " Usul Sasuke.
" Hei, Sasuke? "
" Hn? "
" Tanggal berapa sekarang? "
" Empat belas desember, kenapa bertanya? "
" Ah, tidak. Hanya saja sebentar lagi natal, ya. Hari libur Favorit Karin. "
To
Be
Continued
A/N :
Halo, semua! Author gaje di sini! Udah agak jelasan ya!
Maaf kalo ffn ini abal abis, ya.
Namanya juga author baru datang keaambet setan. Mohon maklumi tiap salahnya.
Maaf juga kalo kependekan habisnya lagi sibuk, sih.
Rencana ffn ini cuma sampai kurang lebih sepeluh chap aja, makin bingung kalo kebanyakan. Segitu aja ya! Jaa ne!
Salam
AkaiBara
