Slice of Life
by Hikari Azayaka
Ooc, Typo(s), EYD
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Chapter 6
Daffodil
Pagi di kediaman Haruno hampir sama sepinya dengan pemakaman. Wajar saja, hanya ada seorang Haruno di dalamnya. Ya, hanya ada seorang Haruno Sakura di dalamnya.
Pagi ini, sebelum matahari sempat menunjukan sinarnya, Sakura terbangun karena suara pintu depan yang dibuka dan ditutup oleh seseorang. Dengan segera, Sakura berlari menuruni tangga, menuju lantai bawah rumahnya. Begitu ia sampai di lantai dasar, hanya kegelapanlah yang ditangkap mata hijau emerald-nya. Namun, begitu lampu dinyalakan dia menyadari sesuatu, sepasang sepatu ayahnya telah hilang dari tempatnya, menyisakan sepatunya sendiri yang tampak kesepian, seperti dirinya. Ayahnya sudah kembali pergi. Mungkin ia masih belum bisa menerima kembali Sakura sebagai putrinya. Apapun alasannya, semuanya sama saja. Pada akhirnya, Sakura akan selalu sendiri.
" Sepertinya aku akan sarapan sendirian lagi hari ini. "
•Daffodil•
Sasori berjalan dengan santai menyusuri lorong-lorong sekolah yang telah sepi dari para siswa. Bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Sebagian besar murid telah kembali ke rumahnya masing-masing, hanya sedikit yang masih betah untuk tetap tinggal. Termasuk Sasori, yang tinggal karena rapat klub yang mendadak diadakan.
Sakura sendiri sudah pulang, menolak tawarannya untuk mengantar Sakura sebelum rapat dimulai. Namun ditolak, dengan dalih ada hal penting yang harus dilakukannya sebelum kembali ke rumah.
Sedang santainya berjalan ke parkiran, Sasori sampai tidak menyadari ada seseorang yang tengah berlari ke arahnya saat ini. Dan detik berikutnya tabrakan pun terjadi, yang menyebabkan Sasori jatuh telentang ke lantai dengan pelaku penabrakan yang ternyata seorang gadis menindih tubuhnya.
" A-aduh... " Erang Sasori.
" U-uh... Sa-sasori-senpai! " Kejut sang gadis yang dengan segera beranjak dari posisinya yang sedang menindih sang senpai. " Ma-maaf, senpai. "
Berdiri sambil membersihkan seragamnya yang sedikit berdebu. " Tidak apa-apa, Hinata. "
" Ma-maaf. "
" Iya, lagi pula kenapa tadi kamu lari-lari di lorong? "
Seringai keji segera terbentuk di sudut-sudut bibir Hinata yang tengah menunduk mengatur kembali ekspresi wajahnya. ' Huft, mari kita mulai! '
•Daffodil•
Hening melingkupi apartemen Sasuke, dingin mulai menggerogoti tulang para penghuninya, kelamnya suasana makin memperparah keadaan. Semua beku, terpaku dalam tempatnya berpijak, terhenti dalam waktu yang terus mengalir.
" Jadi, itu benar, ya. " Itachilah yang pertama membuka suara dalam suramnya keadaan, suara yang sarat akan luka.
" Aniki. " Sahut Sasuke, mengepalkan tangannya kuat-kuat, kemudian mengalihkan pandangannya ke sekitar, tak suka melihat kakak yang biasanya selalu kuat menghadapi apapun, kini terdiam rapuh menerawang keluar jendela.
Menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, mencoba menahan panas yang menyengat pelupuk matanya. Tubuhnya terasa lemas dan bahunya sedikit bergetar, meskipun begitu tetap ia paksakan kakinya melangkah menghampiri pintu dan membukanya.
" Aniki, kau mau kemana? "
" Keluar. "
" Tapi- "
" Jangan khawatir, aku tidak akan bunuh diri di jalanan. Hanya mau mencari udara segar. " sela Itachi, meyakinkan Sasuke yang nampak cemas mengenai dirinya. " Aku baik-baik saja, percayalah. " Ujarnya sembari melirik Sasuke dari ujung matanya sambil tersenyum kecut.
Dan pintu pun tertutup, menyisakan Sasuke seorang, yang tengah menundukkan kepalanya penuh rasa penyesalan. " Itachi-nii... ".
•Daffodil•
Tring.. Suara lonceng di atas pintu toko, berbunyi ketika ia membukanya, memanggil sang pemilik untuk segera menghampirinya. " Permisi... "
" Ya nona, ada yang bisa saya bantu? " Sahut pelayan toko tersebut.
" Ah, ya. Bisakah anda ambilkan saya sebuket bunga daffodil? "
" Pasti untuk kekasihmu, ya! " Tebak pelayan tersebut sambil terkikik kecil.
" Ah, bukan. Ini untuk kakakku. "
•Daffodil•
" Nee, senpai... A-ano... I-itu- " Gagap Hinata saat dia dan Sasori tengah berjalan ke parkiran sekolah untuk mengambil kendaraan masing-masing agar mereka bisa pulang.
" Hmm, ada apa? Katakan saja, aku tidak akan marah, kok. " Ujar Sasori sembari tersenyum simpul pada juniornya.
" I-itu... "
" Hm? "
" Anoo... Senpai jangan merasa tersinggung, ya. I-ini hanya pendapat orang lain yang pernah kudengar saja. Senpai jangan marah, ya! " Pinta Hinata, yang merasa kata-katanya nanti dapat melukai perasaan Sasori.
" Iya, sudahlah katakan saja. " Sahut Sasori cepat, ia sudah sangat penasaran akan apa yang akan dikatakan Hinata nantinya.
" I-itu, senpai tidak takut bergaul dengan Sakura? Senpai kan juga tahu reputasinya buruk di mata murid lain. Apalagi gosip tentang ia yang membunuh ka- "
" Aku tidak peduli. " Sela Sasori ketus. " Aku tidak peduli akan reputasinya. Aku tidak peduli tentang semua gosip sampah itu. Aku tidak peduli apakah dia adalah seorang pembunuh atau bukan. Bahkan jika itu benar, aku sudah tidak peduli. "
" Sa-sasori-senpai... "
" Karena aku menyukainya. Yang lainnya tidak penting. Terserah dia itu siapa dulu, apa pun yang diperbuatnya dulu, aku tidak peduli. Tidak akan mempengaruhi rasa sukaku padanya. Karena dia adalah dia, masa lalu adalah masa lalu, dan aku adalah aku. Tidak ada hubungannya denganmu atau mereka. Jadi pergi dan jangan ganggu kami, atau aku tidak akan pernah memaafkan kalian lagi! " Tegas Sasori, tepat pada manik mutiara Hinata, lalu melengos pergi meninggalkan Hinata sendirian terpaku mendengar pernyataan dan ancaman yang dilancarkan Sasori.
" Se-senpai... " Gumam Hinata yang sepertinya masih sedikit syok karena ucapan Sasori. " Cih, gagal. " Namun dalam sekejap, topeng wajah polos yang dipakainya terlepas, menampilkan wajah serta seringai kejinya yang nampak kesal akibat kegagalan yang dialaminya. " Ck, tidak ada pilihan lain. Hanya dengan cara itu dia bisa- "
" -merasakan sakitnya. "
•Daffodil•
Tempat tujuan Sakura sudah di depan mata, namun entah kenapa rasanya berat sekali untuk melangkahkan kakinya barang beberapa langkah saja. Menghela napas beberapa kali, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk maju. Buku-buku jarinya yang memutih memegang erat pagar yang mengelilingi makam, kemudian membukanya. Makam dengan nisan bertuliskan nama Haruno Karin langsung memenuhi pengelihatannya.
" Kakak... " Gumamnya sambil meletakkan buket bunga yang dibelinya tadi di depan batu nisan itu. " Aku datang mengunjungimu, lagi. "
•Daffodil•
Itachi melangkahkan kakinya menuju kompleks pemakaman umum Konoha. Tujuannya adalah untuk menemui kekasihnya, Karin. Semua hal yang baru diketahuinya sekarang sungguh membuatnya kalut. Mulai dari berita kematian Karin yang meninggal akibat ulah Sakura, seakan menambah kabar buruk, detektif yang mereka sewa juga membenarkan hal tersebut. Kilas balik percakapan mereka memenuhi memorinya, terus diulang bagai kaset rusak.
Flashback
" Bagaimana hasilnya, Asuma? " Tanya Itachi pada orang di seberang sana.
" Hasilnya sudah pasti, Itachi-sama. Di dalam aliran darah nona Karin terkandung senyawa kimia Tetrodotoxin ( TTX ) yang dapat menyebabkan kematian. Waktu kematiannya 14 agustus 20XX, pukul 20.17 malam, dipastikan oleh dokter yang memang menangani nona Karin selama ini, dr. Hatake Kakashi. Dan pada waktu kematian nona Karin, nona Sakura seoranglah yang berada di ruangan nona. Sebelumnya, nona Sakura sempat menolak mendonorkan sunsum tulang belakangnya pada nona Karin dengan alasan yang tidak jelas, namun walaupun begitu operasi pencangkokkan akan tetap dijalankan keesokan harinya jika saja kejadian ini tidak terjadi. Tetapi, meskipun motif dan MO-nya sudah diketahui, polisi masih kekurangan bukti untuk menindak lanjuti perbuatan nona Sakura ke meja hukum. Mereka hanya memberinya ganjaran ringan berupa terapi dan konsultasi kepada ahli psikologis yang telah dianjurkan selama satu bulan. " Jelas orang yang berada di seberang telepon bernama Asuma tadi panjang lebar demi kejelasan yang harus diterima kliennya. " Hanya itu yang dapat saya sampaikan, Itachi-sama. Untuk lebih jelasnya, akan saya kirimkan berkas lengkapnya penyelidikan saya pada anda. "
" Begitu, ya. Terima Kasih atas kerja kerasmu, Asuma. " Ucap Itachi sambil menutup sepihak sambungan teleponnya. Tangannya mencengkram erat telepon gengamnya hingga jari-jari tangannya memutih, giginya berkemelutuk geram, rasanya ia bisa meledak saat itu juga.
End of Flashback
" Cih! " Mengingat kenangan itu membuat amarahnya kembali. Kakinya ternyata sudah membawanya sejauh ini, dia bahkan tidak menyadari lokasi makam Karin yang ia dapat dari hasil penyelidikan Asuma telah berada di depan mata. Dia dapat melihatnya dengan jelas sekarang, makam kekasihnya beserta gadis berhelaian merah muda yang sama sekali tak ingin dilihatnya sekarang, Haruno Sakura. Bukannya malah mundur untuk memberikan Sakura sedikit privasi, Itachi malah semakin berjalan mendekatinya. Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi, ia berkata dengan penuh kebencian pada gadis di hadapannya yang masih belum menyadari kedatangannya. " Apa yang kau lakukan di sini, Sakura? "
Sakura menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara tadi, dan dia melihatnya orang yang paling ingin dihindarinya sekarang, Uchiha Itachi. " I-itachi-nii! " Pekiknya kaget seraya berdiri dari keadaan berjongkoknya tadi. Matanya membulat dan sebelah tangannya menutupi mulutnya yang menganga sedangkan sebelah lagi mencengkram erat pagar. " Ka-kau disini. " Gagapnya.
" Memangnya kenapa kalau aku di sini? " Tanya Itachi sembari berjongkok di samping pusara kekasihnya. " Kau keberatan? "
" Ti-tidak. Hanya saja- "
" Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini padaku? " Potong Itachi.
" I-itu karena Kari- "
" Jangan bawa-bawa Karin! " sela Itachi lagi kali ini dengan suara yang lebih keras. " Katakan kenapa kau lakukan ini?! "
" A-aku tidak mengerti apa yang kau mak- " Kejadiannya hanya sepersekian detik, sampai Itachi telah berada tepat di depannya, mencengkram erat bahunya sambil menggoncang-goncangkan tubuh ringkihnya. " I-Itachi-nii, tolong hentikan. Kau menyakitiku. " Rintihnya.
" Kenapa? Kenapa kau lakukan ini, Sakura?! " Katanya sambil menatap mata Sakura dalam tersirat kesedihan yang amat sangat di sana. " Karin... Dia... Dia menyayangimu, Sakura. Kenapa? Kenapa kau lakukan itu padanya? Ayo jawab aku kenapa?! " Teriaknya seraya menghempaskan tubuh Sakura kuat-kuat ke pagar pembatas dan menyebabkan Sakura merosot jatuh terduduk di atas tanah. " kenapa kau lakukan ini?! Karin itu kakakmu! Kenapa kau lakukan ini pada kami?! Kenapa?! " Pekik Itachi putus asa. " Kau... Kau memang selalu mengganggu kami, seharusnya... Seharusnya kau tidak pernab muncul dalam kehidupan kami! Seharusnya... Seharusnya kau tidak pernah lahir ke dunia ini! Orang sepertimu... Orang sepertimu Seharusnya MATI saja! " Teriaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum berbalik dan pergi dari sana, meninggalkan Sakura dalam keadaan kacau sendirian.
' Apa aku... Sebaiknya... Mati saja, ya? '
•Daffodil•
' Orang sepertimu seharusnya mati saja! ' Kata-kata Itachi terus bergaung dalam ingatannya. Membuatnya kembali berpikir untuk apa dia terus hidup di dunia ini jika tidak ada yang menginginkannya? Sakura sekarang tengah berjalan terhuyung-huyung di pinggir jalan menuju rumahnya, kepalanya terasa berat mengingat kecaman-kecaman orang yang diarahkan padanya.
' Mati saja, sana! '
' Kau tidak pantas hidup! '
' Tempatmu bukan disini! '
' Haruno Sakura pantas MATI! '
Ya, Haruno Sakura pantas mati. Ah, tidak, Haruno Sakura memang ingin mati dan akan segera terjadi. " Apa aku lebih baik mati saja, ya? " Ujarnya sambil mendongak menatap langit dalam semburat oranyenya, dalam genggaman tangannya terdapat telepon gengamnya yang layarnya bertuliskan : Sent. " Baik, akan kulakukan. " Putusnya cepat sembari kembali melangkah pulang ke rumahnya.
•Daffodil•
Sasori memarkirkan sepeda motornya sembarangan di halaman depan rumah Sakura, setelah tadi kebut-kebutan melajunya lantaran cemas pada Sakura yang tiba-tiba saja mengirimkan pesan aneh padanya sore tadi, sayang saat ia sampai bintang telah keluar menyinari kelamnya langit malam. Pesan bertuliskan : Sasori-kun, terima kasih untuk segala perhatian dan kesabaranmu menghadapiku dalam waktu yang singkat ini, ya! Sayang aku tak mungkin membalasnya, karena mungkin saat kau membaca pesan ini aku telah pergi. Kuharap kita dapat berjumpa lagi, Sasori-kun! Salam, Sakura. Sukses membuatnya ketar-ketir tentang keadaan gadis merah jambu tersebut, yang akhir-akhir ini selalu mengisi kepalanya.
Tak ingin membuang waktu, Sasori segera mengetuk pintu rumah Sakura seraya sedikit menggedornya saat tidak ada jawaban dari dalam. " Sakura! Sakura ini Sasori! Bisa kau buka pintunya?! " Namun, tidak ada jawaban. Dengan sedikit harapan, Sasori memutar kenop pintu dan berhasil, pintunya terbuka.
Segera saja Sasori masuk dengan sedikit tergesa karena khawatir. Dia sudah memeriksa semua ruangan yang ada di lantai bawah dan sebagian kamar di lantai atas, namun, nihil. Tak ada tanda-tanda Sakura sedikit pun. Hanya satu kamar yang belum diperiksanya, kamar yang berada di pojok lorong, dengan takut-takut ia membuka pintunya setelah meminta izin pada siapa pun yang ada di dalam. " Sakura, aku masuk, ya. " Tidak ada juga. Sakura tidak ada dimana-mana. Hampir saja dia melangkahkan kakinya keluar kamar jika saja suara percikan air tidak masuk dalam pendengarannya. Dengan cepat ia meraih gagang pintu dan memutarnya. Begitu terbuka menampilkan ruangan kamar mandi lengkap dengan alat-alatnya. Sasori mengedarkan pandangannya ke sekitar dan terpaku pada bak mandi di dalamnya.
Di sana terendam seorang gadis dalam kubangan air berwarna merah. Seorang gadis berhelaian merah muda yang sedang tak sadarkan diri. Seorang gadis bernama Haruno Sakura.
" SAKURA! "
•Daffodil•
' Nee-chan, ibu bilang kau menolak melakukan kemo lagi, kenapa nee-chan melakukannya? "Tanya Sakura pada Karin yang masih terbaring lemas pada ranjangnya matanya menatap Sakura sayu.
" Sakura kemarilah. " Pintanya pada Sakura sambil menepuk-nepuk ranjangnya, begitu Sakura duduk di sampingnya ia berkata, " Nee-chan melakukannya karena nee-chan sudah tidak tahan lagi. Tubuh nee-chan makin hari semakin lemah adanya, rambut nee-chan juga makin tipis, serta nee-chan juga tidak bebas lagi bergerak seperti dulu, sekolah nee-chan terbengkalai karena urusan rumah sakit. Nee-chan tidak mau merasakan hal itu lagi. "
" Tapi, nee-chan- "
" Nee-chan sudah muak, Saki. Tidak ada yang mempedulikan pendapat nee-chan, baik itu ayah, ibu Itachi maupun teman-temanku. Sungguh nee-chan tidak mau dan tidak butuh lagi. " Selanya. " Nee-chan tahu waktu nee-chan tidak lama lagi akan datang. "
" Nee-chan tidak boleh bilang begitu. Nee-chan akan sembuh. Pasti! " Tegas Sakura, walau air mata telah menggenang di pelupuk matanya. Dia tahu arah pembicaraan ini kemana. " Nee-chan tidak boleh... Nee-chan... Hiks... Hiks... " Isaknya sambil menubrukkan tubuhnya ke tubuh Karin, memeluknya erat seakan takut jika lepas dia tidak akan bisa melihat kakaknya lagi.
" Kau juga tahu itu benar, Saki. " Ucapnya lembut sembari mengelus rambut merah muda Sakura. " Jangan nangis, Sakura sayang. " Katanya sambil mengangkat wajah Sakura agar mau menatapnya. " Nee-chan mau di saat-saat terakhir nee-chan ingin melakukan apa pun yang nee-chan inginkan. Nee-chan ingin kembali ke sekolah, nee-chan ingin belajar dan bermain bersama seluruh teman-teman nee-chan, bertemu dengan Itachi dan menghabiskan waktu bersamanya. Nee-chan mau berlari dan makan es krim seperti saat kita masih anak-anak dulu, Saki. Nee-chan ingin pergi ke taman bermain, Saki, nee-chan ingin bebas dari semua kepenatan ini barang sejenak saja. Nee-chan ingin melakukan itu semua sebelum... Sebelum... Hiks... Sebelum nee-chan pergi, Saki... "
" I-ya, nee-chan. Aku mengerti, tetapi tidak semua orang bisa mengerti sepertiku, nee-chan. Bayangkan kalau kau melakukan ini, apa yang akan dirasakan oleh ayah, ibu, Itachi-nii dan semua temanmu saat kau pergi? Bertahanlah nee-chan, hanya perlu beberapa perawatan lagi sampai kau sembuh. Bertahanlah... " Mohon Sakura.
" Nee-chan tahu itu, nee-chan tahu kalau nee-chan melakukan ini semua akan terluka. Tapi... Kemungkinannya untuk sembuh juga sangat kecil, Saki. Biarkan nee-chan lakukan ini... "
" Tidak nee-chan, aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku untukmu. Sumsum tulang kita cocok, pasti berhasil! Percayalah! " Seru Sakura menggebu-gebu karena merasa masih ada harapan yang ada.Karin tersenyum, sebelah tangannya menepuk kepala Sakura sayang.
" Kau memang adik yang baik. Aku menghargai keputusanmu. Tapi, percuma saja jika kau mendonorkan sumsum tulang belakangmu. " Karin menatapnya lembut mencoba memberi pengertian lebih padanya. " Kanker darahku memang besar kemungkinannya akan sembuh, tetapi sia-sia saja, sel-sel kanker sudah berkembang pesat dalam tubuhku dan telah menjangkiti organ-organ penting milikku. Mereka semua tahu. Kau juga tahu itu. "
" Iya, aku tahu. Kami tahu. " Sakura tertunduk. Sungguh ia dan seluruh keluarganya belum siap untuk ditinggal Karin. " Tapi, kita masih bisa mengusahakan yang lainnya, kan? "
" Sakura, jika kau seandainya mendonorkan sumsum tulangmu padaku dan berhasil, apa yang kau rasakan? "
" Aku pasti senang, nee-chan. "
" Kalau begitu, jika selanjutnya mereka memintamu mendonorkan ginjalmu padaku, apa yang akan kau lakukan? "
" A-aku... Aku... "
" Jika berikutnya dan berikutnya lagi mereka memintamu mendonorkan hal yang lain untukku, apa yang akan kau jawab? " Tanya Karin kembali dan kali ini Sakura diam. Perlahan Karin bangun dari posisi berbaringnya dan menatap Sakura dalam seraya memegang kedua pipi Sakura. " Jika mereka terus-terusan memintamu dan kau menyetujuinya, maka kau nanti akan menjadi tak lebih dari sekedar penopang hidupku, Sakura, mereka hanya akan melihatmu sebagai itu saja. Mereka akan terus mengabaikanmu dan selalu memperhatikanku. Kau akan merasa sakit dan kesepian, Sakura. Aku tidak mau kau mengalaminya. "
" Tapi, aku mau, Karin-nee. Tak apa asal kau hidup. " Mata Sakura terbakar semangat, dia akan melakukan apapun untuk kakaknya.
" Tapi aku tidak mau kau lakukan itu. Kau adalah kau Sakura. Kau adalah adikku yang manis dan cerewet. Kau bukan alat untuk menopang kehidupanku. Kau adalah kau. Karena itu aku melakukan ini, demi kebaikan kita berdua, demi aku dan kamu. Bantulah aku melakukannya, adikku. "
" Bantu apa, nee-chan? "
" Jangan pernah setujui permintaan mereka apapun yang menyangkut diriku. Baik itu tentang pencangkokkan atau hal lainnya. Kau harus menolaknya. " Tegasnya sambil menatap Sakura serius. " Lakukan ini untukku, Sakura. Sebagai permintaan terakhirku, Sakura. Kumohon... "
Tidak tahan melihat kakaknya berulang kali memohon, akhirnya Sakura mengangguk. " Baiklah, nee-chan. Tapi, aku tidak bisa apa-apa jika mereka menolaknya dan tetap melakukan operasi. "
Mendengar persetujuan Sakura, Karin langsung memeluk Sakura erat. " Jangan khawatir, jika itu memang terjadi aku sendiri yang akan menghalangi mereka. "
" Tapi, bagaimana caranya? " Tanya Sakura saat ia melonggarkan pelukan mereka.
" Serahkan saja padaku. Sekarang biarkan aku memeluk adik kecilku yang baru masuk SMA ini. " Ucapnya sambil mempererat kembali pelukannya. Kata-katanya tadi berhasil mencairkan suasana tegang yang sebelumnya terjadi, buktinya suara tawa Sakura yang menggema di ruang rawat itu.
•Daffodil•
Sakura mencoba membuka matanya dengan susah payah. Matanya seakan dijatuhi segalon lem sehingga susah untuk sekedar di buka. Tapi, perlahan-lahan ia berhasil melakukannya. Hal pertama yang menyambutnya adalah terangnya sinar matahari yang melesak masuk ke dalam matanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan matanya pada cahaya yang masuk. Setelah terbiasa akhirnya dia dapat melihat dengan normal kembali, matanya langsung mengenali atap yang berada di atasnya karena ini bukanlah yang pertama kalinya ia datang kemari. Hidungnya pun mulai mampu mendeteksi bau obat-obatan yang sama seperti yang dahulu bahkan lebih menyengat. Ia lalu mencoba menggerakan tangannya namun hanya jari-jemarinya yang bergerak. Dia kemudian melenguh, kepalanya serasa di pukul godam, ingatannya membalik pada kenangan yang lalu. Penyebab awal semua ini terjadi, empat bulan lalu ketika kakaknya memintanya melakukan permintaan yang paling egois. Untuk sejenak ia hanya diam, meratapi takdir yang seakan tak jenuh menyakitinya. Saat ia akan melakukan apa yang ditunggu semua orang, takdir malah menghentikannya. Entah keberuntungan atau malah kesialan baginya.
Ketika ia sudah dapat bergerak lebih leluasa, kepalanya ditolehkannya ke samping ranjang, di mana ada seorang pemuda berambut merah yang nampak akrab di matanya. Napas pemuda itu terdengar teratur, sepertinya dia sedang tertidur terlihat dari kelopak matanya yang tertutup. Untuk beberapa saat, Sakura tetap pada posisinya yang memandanginya sang pemuda. Sampai rasa perih pada pergelangan tangannya memaksanya mengeluarkan rintihan yang sepertinya berhasil membangunkan sang pemuda merah.
" Sakura! Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa tanganmu sakit? " Serobot Sasori begitu ia melihat Sakura bangun.
' Tanganku? ' batin Sakura sambil perlahan mengangkat tangannya sehingga ia dapat melihat apa yang terjadi. Pergelangan tangannya di perban, dan ada selang infus di sana. Kilas balik peristiwa kemarin malam terulang kembali di pikirannya, bagaimana ia mencoba mengakhiri hidupnya terlintas di ingatannya, mengingat itu dia menjadi sedih sekaligus marah. Sedih karena membiarkan dirinya melakukannya dan marah karena dia gagal melakukannya. Intinya dia masih hidup sekarang, namun entah kenapa ia malah merasa muak karenanya. Dia sudah putuskan, apapun yang terjadi, dia akan tetap melakukannya. ' Aku mau mati saja. ' Dia sudah lelah dengan semua ini sudah waktunya ia menyelesaikannya. Dan berpikir mati adalah satu-satunya jalan.
Maka, dengan segenap kekuatannya, ia bangkit dan duduk di ranjangnya, mengacuhkan Sasori yang menatapnya keheranan. Begitu berhasil duduk, kini ia meraih selang infus yang ada di tangannya dan mencabutnya paksa, membuat beberapa tetes darah menjatuhi seprei putih di bawahnya. " Sakura apa yang kau- " Masih tetap mengabaikan Sasori, kali ini Sakura mencoba berdiri yang digagalkan oleh lengan-lengan kokoh Sasori yang menahannya tetap duduk. " Apa yang kau lakukan, Sakura. Kau masih terlalu lemas. Jangan berdiri dulu. "
" Aku tidak peduli. " Gumam Sakura pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
" Apa? "
" Aku sudah tidak peduli! " Seru Sakura sambil menatap Sasori nyalang. " Aku sudah tidak bisa melakukannya lagi! Aku sudah lelah! " Pekiknya mengeluarkan segala unek-uneknya. " Seharusnya kau jangan menghentikanku! Biarkan aku mati! Aku mau mati! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Biarkan aku mati! "
Sasori membeku mendengarnya, tak dapat ia sangka ternyata Sakura sudah seputus asa ini sampai ia nekat untuk bunuh diri. Banyak hal yang ingin ia ucapkan untuk menenangkan Sakura, tetapi tak ada satu pun yang dapat keluar, malah sepertinya tubuhnya jauh lebih mengerti apa yang harus ia lakukan dari pada sekedar ucapan saja. Tiba-tiba saja dia sudah mendekap Sakura erat dan membisikan kata-kata yang dia saja tidak tahu dapat ia katakan. " Tenanglah, aku disini. "
Sakura terdiam, dia berhenti berteriak pilu, kata-kata Sasori di telinganya bagaikan mantra yang dapat menenangkannya dalam sekejap. Kalimat itu sungguh telah menyentuh hatinya di bagian yang paling dalam, tempat ia menyimpan rapat-rapat seluruh kesedihannya. Matanya berair, bibirnya mulai mengeluarkan isakan kecil, tangannya menggenggam erat kemeja Sasori dan menangis di dadanya. Untuk kali ini saja biarkan dia mengeluarkan semuanya, membiarkan segala yang ia rasa mengalir dalam tiap tetes air matanya. Untuk kali ini saja dia menangis.
•Daffodil•
" Masuk. " Sahut seseorang dari dalam ruangan, setelah Hinata mengetuk pintunya beberapa kali dari luar.
" Apa nii-san memanggilku? " Suara lembut Hinata menyembul begitu pintu dibuka dan menampakkan sosoknya.
" Ya, duduklah. " Perintah pemuda di balik meja besar terbuat dari kayu pohon jati berkualitas tinggi berwarna gelap. " Ada yang harus kubicarakan denganmu. "
" Apa ini tentang Naruto-kun? "
" Bukan. Ini tentangmu. "
Kening Hinata berkerut dalam, ' Tentangku? ' batinnya bingung. Tidak biasanya kakaknya memanggil seseorang hanya karena alasan yang sepele, pasti ada sesuatu sampai ia dipanggil begini, tapi jika ini ada hubungan dengan dirinya, maka ini aneh. Dia tidak merasa ada yang salah pada dirinya, sekolahnya juga baik-baik saja, hubungan dia dan teman-temannya juga baik, apa lagi dengan Naruto. Tidak ada yang salah, jadi kenapa ia dipanggil. " Memangnya ada apa denganku, Neji-nii. "
Pemuda yang dipanggil Hinata Neji itu, meremas tangannya, kemudian meletakan tangannya di atas meja. Topik tentang keluarganya memang adalah hal yang paling sensitif buatnya, terutama sejak meninggalnya sang ibu sekitar empat bulan yang lalu. Hubungan mereka, dia, adiknya dan ayahnya, makin memburuk semenjak itu. Sejak awal mereka memang tidak pernah dekat, ibunyalah yang menyatukan mereka. Sekarang setelah perekatnya hilang, lepas sudahlah ikatannya. Neji menghela napasnya, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka dia harus melakukan ini, bagaimana pun gadis di depannya masih merupakan adiknya dan ia masih punya tanggung jawab terhadapnya dan swmua masalahnya, selama ayahnya masih tetap mengurung dirinya dalam kamar. Dengan waktu yang tidak ditentukan batasnya. " Ritsuko bilang, kau berbicara sendiri di dalam kamar, tanpa ada seseorang yang bisa kau ajak bicara. Dengan siapa kau berbicara? "
" Berbicara sendiri? Aku tidak mengerti apa yang neji-nii bicarakan. Waktu itu, aku sedang melatih dialogku untuk kegiatan drama di sekolah. Ritsuko-san pasti hanya salah paham. " Kilah Hinata lihai.
" Apa memang seperti itu? "
" Iya, nii-san. "
" Apa tidak ada orang lain di kamarmu selain kamu? "
" Tidak ada, percayalah. "
" Baiklah. " Putus Neji cepat walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. " Keluarlah. " Dan segera setelah Hinata keluar, tangan Neji langsung meraih gagang telepon yang memang sudah tersedia di atas meja. " Selidiki kegiatan Hinata di sekolah. Laporkan padaku, secepatnya. " Ucapnya begitu telepon tersambung dan langsung diputus begitu ia selesai memerintahkan bawahannya tersebut. Neji menghela napas, kemuadian ia berdiri dan berbalik mendekati jendela tinggi yang ada di ruangannya, matanya menerawang ke arah taman yang terpampang di depannya, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Sedangkan di luar, sedang menyenderkan tubuhnya ke pintu, Hinata tengah berwajah masam. Hampir saja ia ketahuan. Kakaknya sudah mulai curiga, dia harus lebih berhati-hati. " Fuh, si brengsek itu sudah mulai curiga, ya. Hihihi, tapi aku tidak peduli. Apa pun yang terjadi, dia harus merasakan apa yang telah kurasakan. Akan kubuat kau menderita, Sakura. " Seringai keji muncul di wajahnya yang tidak lagi nampak polos seperti biasanya malah tampak mengerikan. Sepertinya ada serigala berbulu domba di sini.
•Daffodil•
Sasori hanya pergi sebentar meninggalkan meja tempat mereka makan siang di kantin sekolah demi beberapa menit untuk menyelesaikan 'urusan'-nya di toliet yang bahkan jaraknya tidak terlalu jauh. Namun, sepertinya nasib baik tak mau mendatangi Sakura. Baru kemarin ia mengantar Sakura pulang ke rumahnya setelah dua hari gadis itu dirawat di sana karena aksi beraninya. Baru kemarin Sasori dapat kembali melihat senyum gadis gulali itu yang sebelum sempat hilang dari wajah ayunya. Tetapi sekarang, kejadian itu terulang lagi, kejadian di mana bunga favoritnya itu disakiti kembali. Sasori tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri, karena keteledorannyalah semua ini terjadi.
Di sana di meja paling pojok dari semua, nampak gadis merah muda yang sedang terduduk di lantai. Di dekatnya menjulang tinggi tiga gadis lainnya yang menatapnya risih.
" Ahahaha... Sudah berani makan di kanti, ya! Hei, jangan sok karena kau punya Sasori di sampingmu! Sadar diri di mana tempatmu berada! " Kata Ino sambil menarik rambut Sakura ke bawah agar ia dapat melihat wajah gadis yang sebelumnya tertunduk itu kesakitan, tapi tak ada, wajahnya tetap datar, tidak ada lagi air mata di pipinya, sekeras apa pun ia menarik rambutnya. Sedikit membuatnya heran memang, tapi, yah, dia tidak peduli dan malah terus tertawa mengejek.
" Iya, benar Ino! Tempatmu seharusnya ada dilantai seperti ini! " Timpal Shion mengiyakan cemooh Ino, mata melirik ke piring-piring berisi makanan di meja Sakura. Sebuah ide terlintas di pikirannya. Tangannya kemudian menarik salah satu piring dan menuangkannya ke lantai tempat Sakura berada. " Nah, ayo makan! Hahaha, ayo dimakan dasar sampah! "
" Ayo cepat, makananmu sudah tersedia, nona Sakura! " Tambah Tayuya pedas. " Sampah sepertimu sebaiknya mati saja sana! " Ucapnya sambil kemudian berjongkok menyamai Sakura, lalu berbisik di telinganya. " Pembunuh sepertimu pasti mudah untuk melakukannya. " Diakhiri dengan tawa mengejek yang diikuti oleh Ino dan Shion yang masih saja menjatuhi makanan Sakura ke lantai.
Sasori mengepalkan tangannya kuat, matanya berkilat marah. ' Berani-beraninya mereka melakukan hal itu pada, Sakura! ' Batinnya marah, tangannya sudah siap menghajar siapa pun sekarang, terserah dia itu perempuan atau tidak, dia akan membunuhnya! Segera saja ia melangkahkan kakinya mendekati mereka, namun baru selangkah berjalan ia kembali berhenti. Suara tawa menggema di ruangan kantin yang sepi senyap, suara yang amat dikenalnya. Suara Sakura.
" Ahahaha...! " Suara tawa itu sukses membuat bukan hanya Sasori, tetapi semua orang yabg ada di sana. Semua mata terpusat padanya, termasuk Sasuke yang selama ini sedang menyender di tembok dekat mereka. Tapi, sama seperti yang lain, tak ada niatan baginya untuk menghentikan kegiatan mereka. Entah dia memang menikmatinya atau hanya tidak mau tahu. Tapi, yang pasti tersirat rasa tak suka di matanya melihat mereka melakukannya pada Sakura.
" Pembunuh, katamu? " Ucap Sakura tenang sambil menatap mereka datar. " Kau menyebut orang yang tak bersalah sebagai seorang pembunuh. Lalu, kau menyebut dirimu sendiri apa? " Bibirnya menyeringai keji, selama ini ia selalu diam dan menerima apa pun yang mereka lakukan. Tapi tidak lagi, dia sudah merasa cukup dan waktunya pembalasan! " Apa kau mau kusebut malaikat karena telah menyiksa orang yang tidak bersalah? " Tanyanya dengan wajah polos sembari bangkit berdiri. " Atau kau mau kusebut iblis karena melakukan hal yang benar? "
" Kau! " Geram Tayuya marah, tapi Sakura mengacuhkannya dan tetap lanjut berbicara. Dia sudah banyak diam dan mereka sudah terlalu sering bicara, sekarang gilirannya.
" Ah iya, apa kau mau kupanggil orang suci karena melakukan penindasan? " Pancing Sakura.
" Diam kau! " Kali ini Shion yang terpancing amarahnya. Sakura tetap tenang dan siap melanjutkan ancamannya.
" Kau mau pembalasan dendam, kan? Baik, aku akan mati dengan senang hati untuk memenuhi keinginanmu. Lagi pula kau adalah seorang dewi yang haus akan darah, kan? " Ujarnya kalem sambil berbalik pergi. " Pergilah keluar dan lihat pembunuh ini mati, itu yang kau mau, kan? "
" Kau tidak akan berani! " Tantang Ino yang berhasil menyulut amarahnya kembali.
" Aku sudah berkali-kali melakukannya, tapi tidak pernah berhasil. Mungkin kali ini akan berhasil. Kematianku nantinya kan disaksikan orang suci, malaikat dan dewi, aku pasti akan masuk neraka. Kau senang? " Mereka diam, tapi tidak dengan Sakura. " Aku yakin kau senang. Karena kau adalah penyebab kematianku, berbahagialah karena kau adalah orang yang sangat baik sekarang. " Ucapnya yang terakhir kalinya sebelum berbalik pergi menuju tangga darurat yang mengarah langsung ke atap.
Di perjalanan, dia sama sekali tak berhenti mengacuhkan lelah yang menghampiri kakinya, mengabaikan sakit yang membekas di hatinya, mengacuhkan panas yang menyengat kelopak matanya. Dia tetap berjalan bagai orang kesetanan. Tak ada yang menghentikannya karena memang tak ada yang mau. Mereka mau dia mati dan ia akan memberinya sekarang.
Begitu sampai di atap, segera ia berdiri di pinggir atap, melihat ke bawah seakan itu sudah biasa baginya. Rambut merah muda panjangnya berkibar ditiup angin, matanya sedikit mengabur, tapi ia masih dapat melihat dengan jelas, orang-orang di kantin yang berhambur keluar demi melihatnya jatuh. Beberapa berteriak mengatainya gila dan memintanya turun. Sayang hati Sakura sudah beku dan telinganya seakan tuli. Dia acuhkan semua itu. Ino, Shion dan Tayuya juga ada di antara kerumunan orang di bawah, menatapnya dengan mulut menganga tak percaya. Dia menyeringai senang, terbalas sudah lukanya. Sekarang hanya tinggal langkah terakhir sebelum semua berakhir.
Diedarkannya pandangannya ke sekitar. Sungguh pemandangannya cukup indah di sini, tak sia-sia ia memilih tempat ini. Menutup matanya dan merentangkan tangannya, merasakan angin yang berhembus dalam damai, menghembuskan dan menghirup napas-napas terakhirnya. Di bukanya matanya dan dilangkahkannya kakinya ke ujung atap. Tubuhnya seringan kertas dan ia merasa dapat terbang, maka-
" SAKURA! "
To
Be
Continued
A/N :
Yohoho... Semua... Ada yang kangen?
Nggak terasa sebentar lagi natal, dan hari Ibu tinggal beberapa hati lagi. Hayo, ada yang ingat hari ibu nggak?
Apa?! Nggak ada?! Dasar anak baek! Hari ibu aja kagak ingat! Cemana yang lain?! Memanglah, ya anak baek zaman Now itu keren abiz dah!
Nggak janji ada persembahan untuk hari ibu, ya! Nggak ada ide soalnya.
Fict ini jelek, ya? Nggak usah bilang-bilang udah tahu kok! Jelek kayak authornya! Eaaa... ! Ngaku guanya!
Ahahahahahaha... {panjang amat, gan? } (ini mah kurang, ini panjang! ) hahahahahahahahahahahahahahahahahahaha...
Salam
AkaiBara
See you next chapter, guys!
