Slice of Life

by

Hikari Azayaka

Ooc, Typo(s), EYD

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Chapter 7

Roda kebenaran

" Hah... Hah... Hah... " Hembusan napas lelah berkali-kali keluar dari mulut pemuda berambut merah yang mati-matian berlari mendaki berpuluh-puluh tangga di hadapannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat tiap kali kakinya memijak anak-anak tangga, hingga rasanya jika ia tak berhenti sejenak tadi mungkin jantungnya sudah melompat keluar dari rongga dadanya.

Pikirannya kalut memikirkan nasib gadis merah mudanya yang tengah berada di tempat tujuannya saat ini. Rasanya kepalanya bisa pecah memikirkan kemungkinan yang ada begitu ia sampai di atas sana.

Langkahnya semakin cepat manaiki anak-anak tangga begitu melihat pintu yang menjadi tujuan akhirnya telah berada di depan mata.

BRAAAAK

Pintu menjeblak terbuka, disusul semilir angin yang menyapu wajahnya. Matanya membulat kaget melihat sesosok gadis berambut pink panjang tengah berdiri memunggunginya di tepian pembatas atap yang terbuat dari batu-batu kokoh.

" SAKURA! " Teriaknya frustrasi, ia tak menyangka gadis itu segitu nekatnya. Dia mengira setelah seminggu penuh mengasingkan diri dan menghabiskan waktu bersama dengannya sudah cukup untuk menghapus pemikiran Sakura tentang mengakhiri hidupnya.

Sakura berbalik, memperlihatkan wajah mulusnya yang ternoda oleh jejak air mata, iris hijau teduhnya menatap pemuda merah itu sendu. Walau senyum terukir di bibir, pilulah yang mendominasi raut wajahnya.

Masih sambil terengah, Pemuda itu berucap, " Hah... Sakura, hentikan... Turun dari pagar itu sekarang. Ayolah... " Bujuknya putus asa. Namun sang gadis hanya menatap kosong tangan yang diulurkannya bagai tak ada apa pun di sana. Sebagai balasannya ia malah tersenyum, senyum manis tanpa beban. Sebelum akhirnya kembali berbalik menghadap maut dan lautan manusia di bawahnya. " Ti-tidak, tunggu- "

Sepersekian detik terlewat, napas memburu paru-parunya, angin berhembus kencang menerbangkan anak rambut menutupi mata coklat madunya yang membelalak lebar. Di sana, di tempat Sakura sebelumnya berdiri, tengah menunduk pemuda emo yang berusaha keras tetap bertahan menggengam tangan gadis itu dan menariknya dari tepi jurang kematian. Mata jelaganya melirik Sasori, berbicara tanpa suara melalui sorot matanya.

Segera saja ia bangun, bergerak menggapai sisi pemuda itu, melihat ke bawah dan menemukan gadis merah mudanya tengah bergantungan di udara dan hanya tangan pemuda emo itu seoranglah yang menjadi batas antara dirinya dan maut. Meniru apa yang dilakukan adik kelasnya mencoba meraih sebelah tangan Sakura yang tidak digengam oleh pemuda sampingnya " Sakura, tanganmu!" Serunya, yang hanya ditanggapi dengan kebisuan oleh ia yang namanya dipanggil. " Demi Tuhan, ulurkan tanganmu, Sakura! "

Namun nihil. Gadis itu tetap bungkam dan memandang kedua pemuda di atasnya seperti tidak sedang melakukan sesuatu yang, sungguh, akan sangat membantunya sekarang. " Cepatlah. " Geram pemuda lain di samping Sasori yang mulai khawatir genggamannya di tangan Sakura sudah mulai merenggang.

" Aku juga tahu itu, Uchiha! " Bentaknya kasar. " Aku hanya butuh.. Sedikit lagi... " Sambil merenggangkan tangannya sepanjang yang ia bisa. " Sial, Sakura! Tanganmu, cepat! "

Mata Sakura membesar, teriakan Sasori menyadarkannya, melihat ke bawah dan bayang-bayang ketinggianlah yang menyergap pengelihatannya. Dialihkannya kembali pandangannya ke atas. Di sana ada Sasori dan... Uchiha Sasuke!

" Sakura! " Pekikan Sasori menyelamatkannya lagi, langsung saja tanpa aba-aba lagi ia raih tangan pemuda itu yang terulur padanya dan naik kembali ke atap. " Syukurlah... " Gumam Sasori sambil menghela napas lega. Pemuda Uchiha di sampingnya juga tampak lega walau ekspresi wajah datar andalannya dapat menutupinya dengan baik. Iris hazel-nya teralihkan pada gadis musim semi yang sedang menenggelamkan wajahnya dalam kedua lututnya yang ia tekuk sedemikian rupa tak lupa tangan kecilnya yang terlihat bergetar sama seperti bagian tubuhnya yang lain.

' apa yang baru saja kulakukan?! ' batinnya syok akan apa yang hampir dilakukannya tadi. Masih segar ia rasa, semilir angin bernada kematian yang mengalir lembut dalam nadi dan detak jantungnya. Kilas balik percakapannya dengan sang kakak berputar bagai kaset rusak di ingatannya, mendendangkan lagu konyol berisi kalimat yang sungguh sangat tabu baginya untuk sekarang. Napasnya menderu, suhu tubuhnya panas dingin, kepalanya serasa di pukul godam. Dia tahu keadannya buruk, tapi dia harus pergi. Menangis dan meraung pilu di hadapan orang yang membencimu dan kakak kelas terbaikmu sama sekali bukan pilihan baginya.

Maka, dengan kaki gemetar yang ia paksakan untuk tegak, dia mulai melangkah tertatih-tatih, namun tegas secara tidak langsung, pergi secepat yang ia bisa, mengacuhkan tatapan dua pemuda yang telah berjasa menyelamatkannya di belakang.

" Sakura, kau mau kemana? " Itu suara Sasori, dia mengenalinya di mana pun, kapan pun, selalu.

" Jangan bertingkah bodoh yang berakibat nyawamu hampir melayang lagi. " Yang ini suara dingin Uchiha Saauke, dia tahu, dengan pasti, tanpa ragu lagi. Selalu penuh kebencian dan amarah di dalamnya yang mampu membuat langkah Sakura terhenti.

Ia berbalik menghadap dua pemuda beda warna rambut di belakangnya. Senyumnya kembali berhasil di pasangnya, walau tiap orang tahu itu bukanlah senyum yang penuh kebahagiaan. " Terkadang tiap orang perlu bersikap bodoh dalam hidupnya, karena mungkin saja, ketika ia melakukannya sebuah cerita akan berakhir atau baru saja di mulai. Tepat ketika pemikiran bodoh itu muncul. " senyumnya makin lebar walau sarat kepedihan. Berbalik dan melirik dua pemuda tadi yang membeku, lupa bagaimana caranya bernapas. " Dalam tidakan bodohku tadi, " Ia mengutip. " Aku bertanya-tanya, apakah kisahku sudah berakhir ataukah baru dimulai? " Dan ia menghilang, masuk dalam ruang yang berbeda yang tak mungkin dapat di tembus lagi, meninggalkan mereka yang hanya dapat menatap kepergiannya dalam diam.

•Roda kebenaran•

Lautan manusia di bawah mulai surut, membawa gelombang kekecewaan yang mendera para penonton yang tak dapat menyaksikan aksi bunuh diri berdarah secara langsung dari salah rekan mereka yang mendapat peringkat pertama dalam daftar siswi terburuk di sekolah. Pekik kekesalan memenuhi udara, amarah tak luput menjadi pelengkap dalam keadaan yang kacau ini. Beberapa staf sekolah mencoba membubarkan kerumunan siswa yang mungkin tak lagi memiliki akal sehat ini.

Berada di tengah, tersembunyi dari pandangan mata. Hinata tengah menatap jengkel ke atap sekolah. Di mana sebelumnya digelar panggung drama di atasnya.

Tidak mengejutkan kalau Sasori yang menyelamatkan Sakura dari kebodohan gadis itu sendiri setelah akhir-akhir ini dikabarkan tengah dekat dengannya, tapi bagaimana dengan Uchiha Sasuke? Hinata yakin pemuda itu sama bencinya dengannya pada Sakura. Tapi, apa yang dilakukannya di atas sana?! Mencoba menyelamatkan Sakura, bahkan mendahului Sasori, apa yang dipikirkannya? Hinata kira dia juga ingin melihat gadis itu hancur, dan sekaranglah saatnya. Ia bahkan tidak perlu ikut campur tangan lagi, gadis malang itu sudah cukup bodoh untuk melakukannya.

Sedikit lagi, dendamnya pasti terbalas. Satu langkah lagi dan semua selesai. Tapi gagal akibat aksi heroik Sasuke Uchiha. Di saat kesabarannya menunggu dalam bayang hampir habis, ia tidak punya pilihan lain. Selain melakukan semuanya sendiri.

Seringai keji terpeta di wajah putih porselennya, matanya memicing tajam penuh kebencian. Satu ide muncul di kepalanya. ' Kali ini harus berhasil! ' Tekadnya sambil berbalik pergi kembali dalam cahaya, kembali menjadi sosok Hinata Hyuuga yang anggun tanpa cela.

•Roda kebenaran•

" Hah... " Sakura menghela napas panjang, menciptakan uap udara dalam dinginnya pagi di awal musim dingin. Syal hangat melingkar menutupi lehernya, tak lupa mantel panjang selutut yang melingkupi tubuhnya. Tangan berlapis sarung tangan tebal ia gosokkan berupaya mengusir dingin yang menusuk tajam kulitnya. Dibuat menggigil olehnya. Kakinya yang bersepatu bot berkali- kali terbenam dalam lapisan salju yang cukup dalam.

Pagi di hari natal ini tak begitu indah baginya. Yeah, siapa juga yang mau merayakan natal sendiri. Sekolah libur dan ia tak punya satu pun teman. Selama libur itu pula ia menghindari Sasori. Setelah kejadian di atap, rasanya ia tak mampu menatap mata pemuda itu lagi. Malu tak henti-hentinya menampar wajahnya. Ia melupakan prinsipnya sebagai gadis yang kuat dan mandiri, malah tenggelam dalam ketergantungan dengan bantuan orang lain. Tidak, ini masalahnya. Tidak baik membawa orang luar dalam urusan pribadinya. Walau bisa dibilang, pemuda itu adalah sahabat terdekatnya masa sekarang. Tapi, secara teknis mereka masih dalam tahap kenal nama saja.

Butiran salju jatuh menumpuk di topi rajut yang ia gunakan. Areal pertokoan cukup sepi pengunjung di hari libur keluarga ini. Etalase-etalase toko berhiaskan beragam ornamen khas natal. Pohon pinus dengan kaus kaki dan bintang di puncaknya. Kado-kado tergeletak di bawahnya. Pita berwarna-warni bergantunga di langit-langit toko makin meramaikan suasana. Mengingatkannya natal keluarga kecilnya dulu, ketika masih lengkap.

Mereka akan menghias pohon natal, menulis daftar keinginan, bertukar kado, menyanyi dan makan malam bersama. Sakura tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya dulu. Masih tersimpan dengan baik, rekaman nyanyian malam natal mereka. Tapi, itu dulu. Senyum Sakura memudar. Ingatan yang datang setelahnya, jauh lebih menyakitkan bagai ditusuk beribu jarum tak kasat mata. Tak terlihat, namun nyata adanya dan mustahil diobati.

Sepertinya rencana jalan-jalan pagi harinya sungguh merupakan suatu hal yang buruk, mengingatkannya akan kenangan yang sama sekali tak ingin diingat, namun tak mungkin dilupa.

Pada akhirnya ia hanya bisa berbalik pulang, kembali kepada rumah sepi penuh luka.

•Roda kebenaran•

Bangku di taman Konoha tertutupi salju yang turun dengan lebatnya kemarin malam. Walau begitu, masih saja ada orang yang duduk di atasnya mengabaikan rasa dingin yang menjalari tulang-tulangnya.

Uchiha Sasuke duduk dalam keheningan di tengah dingin yang mencekam. Melamunkan gadis yang beberapa minggu terakhir mengambil alih akal sehatnya.

Jika kau bertanya apa yang sedang dilakukannya di sini, saat ini, di pagi natal yang seharusnya membahagiakan, seorang diri tanpa teman. Maka jawabannya adalah karena memang tidak ada natal dalam kamus keluarganya. Baik sekarang maupun dulu, hanya kerja dan kerja yang selalu terbersit dalam ingatan mereka. Kakaknya sendiri pun sama. Di tengah hari libur ini, kakaknya memutuskan kembali ke Suna demi pekerjaan yang makin menumpuk setinggi gunung. Berkencan sampai larut malam dengan berkas perusahaan bodohnya, meninggalkannya seorang diri di sini, setengah gila berdebat dengan pikirannya sendiri. Namun, tak apa, dia Uchiha egonya melarangnya untuk mengeluh.

Dan, yah, di sinilah ia. Berpusing ria memikirkan gadis yang bahkan dia sendiri tak tahu mengapa harus dipikirkan. Tapi, Haruno Sakura terlalu menarik untuk tidak dipikirkan.

Dia mengenalnya, gadis itu, lama sekali. Ketika ia masih bocah dan menetap di Konoha bersama keluarganya dulu sekali. Begitu kembali pun dia hampir tak mengenalinya sama sekali, kakak bodohnya mengutusnya kemari dengan tujuan 'bawa pulang si tuan putri', putri yang di maksud tentu saja selalu Karin.

Mereka tidak sengaja bertemu, di sini, di taman ini, ketika bahkan kelelawar pun enggan untuk keluar. Gadis itu menangis, rambutnya lengket oleh semacam adonan, seragamnya kotor. Dia kacau, wajar saja Sasuke tidak mengenalinya. Meski pun matanya menangkap warna yang familier dalam dirinya.

Tatkala gadis itu sudah tenang, dia bercerita bahwa ia dibully oleh kakak kelasnya. Gadis bodoh begitu mudahnya bercerita pada orang asing di sekitarnya. Tak disangka mereka menjadi dekat, Sasuke memperkenalkan diri dengan nama Kei sedangkan ia tetap menjunjung kejujuran dan memperkenalkan diri sebagai yang sebenarnya. Haruno Sakura, Sasuke tersentak mendengar nama itu. Terkejut menyadari ialah orang yang sedang dicarinya, namun Sasuke tetap diam, menanti dengan sabar dan tak mau berspekulasi yang tidak-tidak. Mungkin ia orang lain yang kebetulan bernama Sakura dan menyandang marga Haruno, begitu pikirnya. Malam itu dia memberinya kertas berisi sebaris kalimat yang ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa tangannya menulis deretan kata-kata yang 'luar biasa' begini. Hanya sebagai penyemangat dan tanda semua akan baik-baik saja, mulai sekarang, tapi ia salah.

Setelah itu semua di luar kendalinya. Pertengkaran, musuh, Itachi, Karin, bunuh diri, Sasori dan uuh... Dia tidak tahu lagi. Sasuke hanya bisa menghela napas lelah, kenapa pula kami-sama mengatur takdir sedemikian rumitnya. ' Buang-buang waktu. ' Batinnya kesal.

Ini semua berawal dari gadis itu. Ah, ya, karena apa yang dikatakan gadis itu semua ini terjadi. Dia tidak mungkin bertengkar dengan Sakura malam itu jika ia tidak tahu, dia tidak mungkin memberi tahu Itachi jika ia tidak benar-benar tahu. Semua karena informasi gadis itu. Semua tidak akan terjadi jika saja ia tidak tahu, mungkin hubungannya Sakura tidak akan pernah benar-benar hancur, Kakaknya mungkin bisa lebih muda menerima kematian Karin. Sialnya ia bertemu gadis itu dulu. Gadis dengan nama Hanata Yuga atau Hamata Huga atau terserah siapa namanya. Lebih mudah menyangkal, memang, dari pada menerima. Sial, kepalanya sakit!

•Roda Kebenaran•

Sakura memasuki rumahnya dengan letih, menggantung jaket, topi dan syalnya, tak lupa melepas bot dan sarung tangannya, ia melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Tidak, bukan ke kamarnya, namun kamar kakaknya.

Pintu dengan gantungan berbentuk hati berwarna bertuliskan Karin menganyun membuka, mempersilakan gadis merah muda tersebut masuk ke dalam. Kamar dengan kertas dinding motif polkadot merah dengan latar berwarna putih menyatu dengan perabotan berdasar kayu yang juga berwarna merah, warna favorit kakaknya. Di tempat tidur bersprai bunga-bunga kecil berjejer boneka-boneka beragam ukuran. Buku-buku terpajang dengan rapi di rak yang tak terhitung jumlahnya. Kamar ini masih sama, tidak berubah walau telah lama tak tersentuh tangan sang pemilik.

Sakura bergerak menghampiri tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana. Bergelung dalam selimut sang kakak, mencoba menggapai mimpi yang bagai tak sudi menghampiri.

Entah berapa lama ia tertidur namun yang pasti sekarang sudah gelap dan ia lapar mengingat tidak ada sesedikit makanan pun yang memasuki perutnya. Sakura berdiri, kakinya mulai melangkah dan secara tak sengaja menginjak karpet dan terpeleset jatuh menghantam lemari yang berada tepat di belakangnya.

" A-aduuuh... " Rintihnya sambil sesekali mengelus kepalanya berharap dapat mengurangi sakitnya. Mendapat serangan tiba-tiba lemari itu pun bergoyang perlahan, menjatuhkan kotak kayu tua yang sontak menarik perhatian si gadis muda. " Apa ini? " Gumamnya bingung. Dia sama sekali belum pernah melihat kotak ini.

Berdasar keingintahuan, coba-coba ia meraih pengait tutup kotak agar membuka menampilkan isinya. Kertas-kertas usam bertebaran di dasar kotak. Penasaran, Sakura mengambil sebuah surat yang entah kebetulan atau tidak tertera namanya di sana. " Kepada adikku tersayang, Haruno Sakura " Bacanya sebelum akhirnya jemari lentiknya membuka amplop yang menyembunyikan isinya.

Hening merajalela di kamar, nyanyian jangkrik naik kepermukaan, napas-napas tertahan Sakura terhembus dalam sekali helaan sementara tangan mungilnya yang gemetaran memeluk erat surat itu bagai itu adalah kepingan hatinya yang rusak sembari terisak tak karuan.

Mungkin sesungguhnya Kami-sama tidak mengaturnya terlalu rumit. Hanya waktu yang belum datang untuk mengungkap rencana sebenarnya. Well, kesabaran adalah kuncinya.

•Roda kebenaran•

" Brrr... " Ino menggigil kedinginan ketika angin musim dingin datang mengganggunya. Baru saja mobil bagian cabang surat-menyurat singgah di depan rumahnya, mengisi kotak posnya dengan paket dan suratnya. Sambil berjalan kembali ke rumah, tangannya memilah-milah surat demi surat, mencari tahu apakah ada yang mengatas namakan dirinya. Dan, ya ada! Surat yang nampak kusam di tulis tangan yang nampak akrab dengannya. " Dear, temanku Yamanaka Ino " Selebihnya hanya iris mata biru muda gadis berambut pirang itu yang menatap tak percaya baris demi baris kalimat di hadapannya, sebelum tanpa sadar menjatuhkan seluruh barang bawaannya, disusul genangan air di pelupuk matanya.

•Roda kebenaran•

Gedung-gedung tinggi bagai membelah langit Suna. Berlapis kaca yang berkilau di timpa sinar mentari. Di salah satunya, berdiri seorang Uchiha Itachi yang tengah memandangi jalan raya di bawahnya yang sedang ramai-ramainya. Bunyi klakson mobil bahkan dapat sampai ke telinganya yang saat ini berada di lantai tujuh belas, dalam ruangan direktur miliknya.

Natal telah berlalu, begitu pula kebahagiannya. Bibirnya sedari tadi hanya menyunggingkan garis datar tanpa ekspresi. Sifat ramahnya yang di puji-puji menguap entah kemana.

TOK.. TOK.. TOK

Ketukan di pintu ruangannya membuyarkan lamunannya seketika. " Masuk. " Sekertarisnya memasuki ruangan begitu diizinkan dengan selembar surat ditangan.

" Permisi tuan, saya membawakan sebuah surat yang baru saja di antara oleh pos kilat tadi. Saya pikir isinya penting, jadi saya- "

" Letakan di meja. " Selanya pada penjelasan sekertarianya sedikit melonjak kaget mendapat nada dingin dari atasannya, sungguh tidak biasa. Walau begitu tanpa banyak kata ia langsung melakukan permintaan Itachi dan segera izin keluar.

Surat telah berada di genggaman, matanya kini tengah menelisik ingin tahu dan membaca sekilas kalimat yang ditulis di luar amplopnya. " Kepada Yang Terkasih, Uchiha Itachi-kun. " Merobek segel yang mengunci isi surat dengan tergesa, tangannya gemetar memegangi surat sementara iris jelaganya tengah menyelami kata demi kata yang berbaris rapi di atas kertas lusuh tersebut. Tak terasa tiap kali kata merasuki pikirannya, remasannya semakin bertambah kuat, hingga di akhir kalimat kertas itu tak lebih dari segumpal sampah siap buang, sementara sang pelaku tengah terduduk tak berdaya menerima kenyataan yang masih terasa pahit di ingatannya.

•Roda Kebenaran•

Jalanan di benua Amerika ini tergolong dalam keadaan yang langgeng walau kapasitas kendaraan bagai tak berkurang. Well, beginilah Amerika. Matahari tengah bersinar terik membakar kulit. Wanita berambut pirang panjang itu melangkahkan kakinya dengan santai mengacuhkan panas dan suara klakson mobil yang memenuhi ruang. Rumahnya telah tampak di ujung jalan ini. Penanda kotak posnya yang berdiri menandakan ada sesuatu di dalamnya menarik perhatiannya. Begitu di buka isinya hanya berupa selembar kertas dalam yang mulai menguning.

Seraya berjalan masuk, manik hijau dedaunannya melirik kata yang tertera di depan amplop. " Untuk Mamaku tercinta. " Seketika menghentikan kegiatannya, bagai mengambang di udara. Surat dengan segel bunga Sakura nampak familiar di matanya, seperti dia memang sudah pernah melihatnya.

Lanjut membaca, mulutnya menganga tak percaya, matanya berair dan membulat kaget, sementara kata acak memenuhi bibirnya. " Tidak mungkin... Apa yang... Karin! Sakura! Oh Tuhan... "

•Roda Kebenaran•

Sakura berjalan santai melintasi jalan demi jalan, hari ini udara sedang lumayan hangat hingga ia tidak perlu lagi memakai syal dan sarung tangan walau jaket tebal setia melingkupi tubuhnya. Siang ini ia punya janji dengan beberapa orang di kafe sekitar jalan Senju ini. Hal yang aneh melihat ia tidak punya teman selain Sasori dan sekarang mereka tengah dalam masa renggang.

Tapi, dia cukup senang dengan tawaran ini. Meskipun ia yakin hawanya pasti akan sangat canggung nanti mengingat mereka sudah lama tidak berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Mungkin saja dengan pertemuan ini benang permasalahan yang membelit mereka semua sedikit demi sedikit dapat terurai dengan sendirinya, seiring kenyataan yang akan segera terkuak.

Sakura tersenyum lebar. Rasanya beban berton-ton di pundaknya telah diangkat, membuat napasnya rasanya jauh lebih ringan. Tinggal menyebrangi jalan ini dan ia sampai di kafe yang dijanjikan. Sebelumnya ia melihat tanda penyebrangan yang masih berwarna hijau dan segera berjalan dengan riang menuju ke seberang.

To be continued

A/N :

Met Natal and tahun baru semua! Walo terlambat pake banget lagi mohon terima, ya!

Akhir" ini author sibuk pake amat lagi. Biasa rencana liburan memenuhi agenda, emang reader nggak? Kasihan...

Ini aja curi" sama waktu buat siapin masuk sekolah, istirahat and lain lain. Pokoknya banyak banget urusan yang belum kelar. Mohon dimaklumi jika upnya terlambat. Janji deh kali berikutnya akan lebih cepat lagi, semoga reader masih sabar menunggu dan jika fic ini mengecewakan dimohon kesediannya unruk memaafkan.

Gomennasai... Gomennasai... {nunduk"}

Salam

Aza-chan

See you next chapter, I hope...

RnR, please...