Slice of life
by
Hikari Azayaka
Warnings :
Ooc, Typo(s), EYD, etc
Disclaimer :
Naruto belongs to Kishimoto-sensei
Chap 8
Biarkan Ia yang bicara
.
.
.
Malam kian larut membuat kantuk yang telah menggelantungi mata sedari tadi makin menjadi. Berkali-kali kelopak mata yang kini berlingkar hitam itu menutup sebelum kembali tersentak membuka. Rambut merah itu makin terlihat kusut tiap kali tangan pemiliknya meremasnya kuat. Tepat pada saat hasrat tidurnya memuncak, pintu ruangan serba putih itu membuka disusul suara bariton yang terdengar akrab.
" Kau terlihat kacau. Pulanglah, aku akan tetap di sini. " Ucapnya datar.
" Hari kelima dan masih tidak ada apa-apa. " Balasnya sambil mengelus wajah pucat yang sedang terbaring kaku di ranjang. " Aku serahkan padamu. " Katanya sambil menepuk pelan pundak juniornya dan melesat pergi.
Sekarang gantian, pemuda berambut emo yang duduk di kursi yang telah dikosongkan pemuda tadi. Mata jelaganya berkilat penuh emosi menatap gadis di depannya. Wajah ayunya sepucat perkamen, jari-jemarinya kurus bagai ranting pohon dengan kuku-kuku yang habis digigiti, rambut pink indahnya lepek tersebar di sekitar kepalanya membentuk pola acak, selang infus menancap di lengannya dengan perban di beberapa tempat yang bernoda gelap serta bekas luka horizontal melingkar di pergelangan tangannya. Satu-satunya yang menunjukan kehidupan adalah dadanya yang naik turun serta mesin pendeteksi detak jantung yang berbunyi dengan mengerikannya seakan mengingatkan mungkin akan berhenti nantinya.
Pemuda itu meraih tangan kecil itu, menggenggamnya erat merasakan dingin yang menusuk kulitnya hingga ke tulang. Debaran jantung bernada kematian bergemerisik di rongga dada gadis itu. Napas yang putus-putus menyapu pipi pemuda itu.
" Sadarlah, Sakura. "
•Slice of Life•
Bangun ketika fajar saat mata masih ingin memejam, gigil dan goncangan yang mengganggunya. Degup penuh harap yang bergema di dada, surut sudah ketika sepercik keinginan yang menyembul di dada ditantang oleh pahit kenyataan. Harapannya tidak terkabul, iris emerald itu masih saja menutup. Terlalu malas untuk membuka barang sejenak. Malah wajah penuh karisma dengan guratan yang dilihatnya.
" Sasuke, bangun. " Ah, ternyata cuma kakaknya. " Ada yang ingin kukatakan padamu. " Goncangan itu bertambah seiring kedutan kesal di dahi Itachi. Ia tak habis pikir bagaimana adiknya bisa tidur dalam keadaan genting begini.
" Hn. " Akhirnya, mata yang masih memerah itu terbuka juga.
Six days ago,
Sasuke yang pertama hadir di kafe tempat sebelumnya mereka- Ia, kakaknya, Ino, Tayuya, dan Shion serta Sakura berjanji untuk bertemu. Itachi menghilang sejak subuh, sedang keempat orang lainnya entah ada di mana.
Surat penuh misteri yang di tulis oleh seseorang yang sudah tenang di alam sana memicu pertemuan dadakan seperti ini. Dilihat dari segi mana pun, tak akan mungkin orang yang telah meninggal dapat mengirim surat. Yang masuk akal hanyalah jika Sakura menemukan kemudian mengirim surat yang di tulis Karin kepada orang yang dimaksudkan. Inilah inti perjumpaan darurat mereka. Klarifikasi kebenaran surat yang, sungguh, makin memperkeruh keadaan.
Dia sendiri juga mendapatkan surat laknat tersebut yang membuka kembali tabir masa lalu yang tabu baginya. Dia yang sudah sejak kecil sendiri ini, mana mungkin dapat melupakan kebaikan orang yang telah mengajarkan arti kasih sayang yang sebenarnya.
Dari sudut jalan dapat dilihatnya Sakura yang tengah menoleh ke kiri dan kanan, memperhatikan kendaraan demi kendaraan yang lewat. Di rasa sudah aman, gadis itu mulai melangkah menyebrangi jalan bercat hitam putih itu.
Meja tempatnya duduk ini tepat berada di depan kafe. Tempat yang strategis untuk bersantai, jika saja kau tidak melihat mobil berkecepatan tinggi yang melaju mendekati gadis gulali yang tengah menyebrang sambil bersenandung kecil itu. Serentak seluruh tubuh Sasuke begerak, melesat ke pintu kafe, sambil meneriakan perintah untuk menjauh. " Sakura, awas! "
CKIIT... BRAAAAAK...
Lantunan rem yang bergema di pendengarannya, mata yang hanya menangkap satu wajah yang terlempar ke pinggir jalan dengan tubuh penuh luka yang terus mengucurkan darah. Matanya melebar, mulutnya meracau tak jelas, kakinya melangkah lebar-lebar melintasi jalan menghampiri gadis yang tengah dikerumuni orang.
Teriakan panik disekelilingnya tak dihiraukan. Telinganya berdenging menyakitkan dan matanya membelalak tak percaya. " Sa-kura... " Bisiknya terbata sebelum matanya menangkap sosok merah di tengah kerumunan yang berseru kaget.
" Sasuke?! "
•Slice of Life•
Menunggu adalah hal yang paling dibenci Sasori, terutama jika berkaitan dengan nyawa seseorang yang penting buatnya. Lampu di ruang ICU rumah sakit internasional Konoha menyala merah tanda operasi masih berlangsung. Pergumulan dengan maut baru saja dimulai oleh para dokter di rumah sakit ini semenjak sejam yang lalu.Di ruang tunggu depan ruang ICU ini bukan hanya terdapat dirinya seorang saja. Tiga serangkai gadis seangkatannya duduk di seberangnya. Sementara Itachi Uchiha masih belum kembali dari kantor polisi untuk menyerahkan berkas kasus tabrak lari yang menimpa Sakura. Sedangkan Uchiha bungsu menyandar di dinding terdekat dengan pintu ruang operasi.
Tidak ada yang berniat membuka percakapan sedari tadi. Semua sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sasori sendiri sebenarnya bingung dengan situasinya sekarang, kenapa pula harus melibatkan Tayuya, Ino, juga Shion di sini? Tapi dia enggan bertanya, antara tidak mau dan tidak peduli saja. Yang terpenting baginya adalah keselamatan Sakura sekarang ini. Akankah Tuhan masih mau membantunya melewati jurang bernama kematian itu sekali lagi? Ataukah ia sudah muak dan memutuskan inilah akhirnya?
•Slice of Life•
Jam demi jam berlalu, tak dirasa langit telah menyapa malam. Shion, gadis berambut pirang pucat itu tengah berada di kantin rumah sakit tempat Sakura dirawat. Sambil menyesap teh hitam kesukaannya, pikirannya lari menyusuri bulan-bulan terakhir ini. Berat rasanya memang menerima kematian Karin, tapi sepertinya ditinggal adiknya jauh lebih berat.
'kutitipkan adik kecilku pada kalian, ya! ' Ah, permintaan sialan yang selalu membuatnya merasa sangat bersalah kembali teringat. Setelah semua yang ia lakukan pada Sakura, masihkah Karin ingin menitipkan adiknya padanya- pada mereka? Kurasa tidak, batinnya berbicara. Hah, mungkin perkataan orang memang benar, membagi masalah dengan orang lain memang sedikit meringankan beban, namun apakah melimpahkan seluruh masalahmu pada orang lain termasuk berbagi?
Sekarang Shion sadar, memberikan seluruh masalahnya pada Sakura, membiarkan gadis itu mengatasinya sendiri hanya memperburuk situasi. Padahal jika dia menghadapinya, rasa bebaslah yang akan melingkupi. Masalah mereka hanya satu tidak dapat mengatasi rasa kehilangan.
Satu mengatasinya dengan menyakiti diri sendiri, yang lain membantu menyakitinya. Manusia memang bodoh, ya. Saling menyakiti tanpa peduli yang lain. Siapa kau, siapa aku!
" Dasar bodoh. " Cemoohnya pada diri sendiri.
•Slice of Life•
" Bagaimana keadaannya? " Tanya Itachi sambil menghempaskan diri pada kursi berlengan di ruangan VVIP tempat Sakura di tempatkan segera setelah operasinya selesai.
" Operasinya berhasil, serpihan kaca yang menembus kulit kepalanya berhasil diangkat. Tiga tulang rusuknya patah, kaki kanannya juga bernasib sama. " Jelas wanita berjas putih yang memperkenalkan dirinya dengan nama Tsunade. " Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah hantaman pada kepalanya saat terlempar ke trotoar jalan membuatnya langsung hilang kesadaran akibat syok. Ajaib dia masih dapat bertahan, tapi kami juga tidak tahu sampai kapan. " Dokter Tsunade menghela napas berat. " Saat ini kita hanya bisa menunggu sampai nona Sakura yang memutuskannya sendiri. "
" Begitu, terima kasih dokter Tsunade. Kau memang dapat diandalkan. " Dan dengan anggukan sekilas, dokter cantik itu keluar ruangan memberikan privasi pada kerabat pasiennya.
Itachi bergerak mendekat ke ranjang tempat Sakura berbaring. Tangan kekarnya mengelus wajah gadis itu. " Maafkan aku, Sakura. " Bisiknya penuh sesal.
•Slice of Life•
" Aku membawa bunga. " Ucap Tayuya sambil meletakan bunga bakung yang dibawanya ke dalam vas berisi air di meja samping Sakura. Ruangan berbau obat itu dipenuhi orang. Kakak adik Uchiha berdiri di sekitar Sakura, sedang Sasori duduk di kursi samping gadis itu. Ino dan Shion minum teh di meja dekat jendela. " Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan? "
Hening.
Dan, hening lagi.
' Ya ampun, adik kecil kesayangan Karin tengah terbaring antara mati dan hidup di ranjang dan mereka bahkan tidak tahu harus melakulan apa?! ' Batin Tayuya kesal. " Oh, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan. "
" Seperti apa? "
" Ayolah Sasori, setidaknya kita harus menemukan orang yang melakukan ini. "
" Kasusnya sedang diusut polisi, kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja dari mereka. " Sahut Itachi.
" Jadi, maksudmu yang bisa kita lakukan kini hanyalah duduk manis? " Tantangnya dengan nada meremehkan. " Menurutmu, apa tujuan kita berkumpul di kafe ketika kecelakaan ini terjadi? "
" Kita menunggu Sakura untuk menjelaskan surat atas nama Karin yang kita terima. Memangnya kenapa? " Ino mengerutkan keningnya dalam, bingung ke arah mana percakapan mereka akan menuju.
" Masih belum mengerti? " Seringai meremehkan terkembang di sudut bibir Tayuya. " Sakura menjadi korban tabrak lari ketika dia akan menjelaskan perihal surat misterius yang kita terima. Apa ini masih belum jelas? "
" Ah, maksudmu ini bukan sekedar tabrak lari? " Sasori menengahi, hampir sama bingungnya dengan Ino.
" Menurutku tidak. Pasti ada hal lain di balik semua ini. Tidak ada bukti memang, tapi entah kenapa aku sangat yakin. "
•Slice of Life•
" Mobil yang menabrak Sakura berwarna putih dengan pelat bernomor 2A4C khas daerah Konoha, artinya pelaku mungkin saja masih berada di sekitar sini. Setidaknya inilah yang polisi dapat, sebelum akhirnya mendapat kebuntuan dikarenakan mobil itu merupakan mobil curian yang pemiliknya sendiri tidak jelas siapa. Walau sudah ditemukan, mobil ini tidak dapat membantu banyak. Dan sepertinya, kita juga tidak mendapat apa-apa. " Jelas Itachi panjang lebar dengan muka masam. Di tangannya, kertas putih hasil penyelidikan polisi bertumpuk rapi. Sekarang ini mereka tengah berada di kantin Konoha International Hospital pada tengah malam hari berikutnya. Lingkar hitam jelas tercetak di wajah tiap orang yang duduk melingkar di meja kantin dengan secangkir teh, kopi atau apa pun itu yang berhasil mereka paksa penjaga kantin buatkan.
" Jadi, sampai di sini saja? " Terdengar nada putus asa dalam suara Sasori. Dia sama lelah dan bingungnya dengan semua, tentu setelah Itachi berbaik hati menjelaskan keadaan mereka saat ini.
Sasuke mengerutkan kening dalam, tanda ia sedang berpikir keras. Menyatukan tiap fakta yang ditemukan dalam realita. Karin, Sakura, mati, tabrak lari, bunuh diri dan... Surat! Ya, surat yang dianggapnya laknat itu. " Apa cuma aku yang berpikir surat yang mungkin memang ditulis oleh Karin-nee sendiri agak aneh? " Tanyanya kemudian. Matanya menjelajah tiap ekspresi wajah teman-temannya.
" Aneh? Apanya yang aneh, Sasuke? " Shion buka suara.
" Dari rumor yang beredar, Karin-nee dibunuh oleh seseorang 'kan? " Tanyanya yang hanya dihadiahi anggukkan oleh yang lain. " Dan, mereka menuduh Sakura adalah pelakunya, apa aku benar? " Sekali lagi anggukan lima orang temannya yang menjawab perkataannya.
" Apa hubungannya, Sasuke? " sahut Ino ketus, benci mendengar kematian sahabatnya diungkit kembali. " Jangan bicara melantur. " Desisnya.
" Maksudku, jika memang Karin-nee dibunuh, untuk apa dia repot-repot menulis surat itu. Seakan-akan dia sudah tahu akan dibunuh, lain halnya jika ia bunuh diri. " Jelas Sasuke tak kalah ketus.
" Jadi, menurutmu Karin tidak dibunuh? " Ucap Itachi sambil bertopang dagu. " Lalu, kenapa dia bisa meninggal? "
Sasuke menghela napas, lelaki tampan itu kelihatan kacau dengan rambut yang sedia acak-acakan dan kantong mata yang menggelap. " Kalau yang itu aku tidak tahu. Mungkin Karin-nee berencana bunuh diri atau memang dia sudah mengira akan di bunuh, siapa yang tahu. " Balasnya cuek.
" Jalan buntu, " Desah Tayuya lelah. " tubuhku pegal, bagaimana kalau kita istirahat saja dulu. "
"Setuju, " Sambil menenggak sisa kopi di cangkirnya, Sasori bangkit sambil Meregangkan tubuhnya. " aku mau kembali ke ruangan Sakura. "
" Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Mungkin setelah otak kita lebih segar, kita bisa mencari jalan lainnya. " Keluh Shion, sambil menepuk pelan bahu Sasuke yang berada di sampingnya. " Pulanglah sasuke, kau terlihat kacau. " Sarannya bijak.
" Shion benar, pulang dan beristirahatlah. Sasori sudah menawarkan diri untuk menjaga Sakura, aku akan menemaninya di sini. Kalian pergilah. " Sebelum Itachi maupun Sasuke sempat protes, Ino lanjut berbicara. " Kau juga Itachi-nii, kau sama kacaunya dengan adikmu. " Dengusnya geli melihat wajah-wajah mereka yang terlihat sama, kusut!
" Hn, " Diakhiri dengan dua huruf favorit Sasuke, satu persatu dari mereka melangkah pulang dengan tangan kosong, hasil dari rapat dadakan ini.
•Slice of Life•
Sasuke menguap lebar di sepanjang lorong rumah sakit yang menghubungkan ruangan Sakura dengan yang lain. Ternyata, tidur semalam tidak membantu banyak. Dia masih saja lelah dan tubuhnya masih terasa kaku.
Sambil merenggangkan tubuhnya, pemuda tampan ini lanjut berjalan. Sebelum suara perempuan yang familier di telinganya menyusup dalam pendengarannya. Sontak saja Sasuke bergegas lari menuju dinding terdekat dan bersembunyi sambil mengintip di sana. Aneh memang, apa kata orang kalau seorang Uchiha Sasuke ketahuan sedang menguping? Sungguh luar biasa.
" Haha, iya. Baiklah, Itachi-nii, aku pulang sekarang. Nanti bisa-bisa aku terlambat. " Kata suara wanita itu yang tidak dapat Sasuke lihat dengan jelas wajahnya dikarenakan posisi wanita itu yang membelakangi dirinya, hanya surai indigo panjang yang dapat dilihatnya.
" Terima Kasih sudah berkunjung, Hinata. " Kali ini suara kakaknyalah yang menyahut.
" Iya, tidak perlu dipikirkan. Sebagai teman, tentu aku khawatir akan keadaan Sakura. Kuharap dia segera sadar, sudah hampir seminggu dia absen. " Balas suara wanita yang dipanggil 'Hinata' oleh Itachi tadi, nama yang sebenarnya agak akrab diingatannya, tapi siapa? " Kalau begitu aku pamit, Itachi-nii. Sampai nanti! " Sasuke mati-matian merapatkan tubuhnya ke dinding, sampai menahan napasnya sangking tidak ingin ketahuannya. Beruntung, gadis itu tetap berjalan sambil memandang lurus ke depan. Helaan napas lega keluar dari bibir pemuda itu setelah tadi sempat ditahannya.
Dengan langkah tegap Sasuke bergegas berjalan menghampiri sang kakak yang masih berada di depan pintu setelah mengantar kepergian gadis tadi. Pandangan Itachi nampak menerawang, ia bahkan tidak menyadari keberadaan Sasuke sampai pemuda itu berdehem tak sabaran. " Jadi, kenapa gadis itu datang kemari? Dan lagi, siapa dia? "
Itachi masih saja diam, menatap lurus-lurus mata hitam adiknya yang sama persis dengan miliknya. " Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu, Sasuke. Gadis itu informan yang kau sebut-sebut dulu, 'kan? "
Sasuke mengerutkan dahinya, " Informan? "
Itachi menghela napas, terkadang adiknya bisa bodoh juga. Bukannya dia yang mengenalkan gadis itu padanya? Kenapa malah dia yang lupa? " Dasar, dia Hyuuga Hinata. Yang menyampaikan informasi tentang Sakura padamu, Sasuke. Dari dia juga kau tahu tentang rumor yang melekat pada Sakura. " Ingin rasanya Itachi memukul kepala adiknya ini yang malah bengong dan mengacuhkan penjelasannya. Padahal seharusnya ia yang lebih tahu tentang gadis itu karena lebih dahulu mengenalnya. Sedangkan ia, hanya sebatas kolega dengan keluarganya. Itupun dia hanya mengenal seorang Hyuuga yang menjabat sebagai presdir, yaitu Neji Hyuuga. " Hei, Sasuke- "
" Itachi-nii, apa kau memikirkan hal yang sama denganku? " Sela Sasuke.
" Memangnya apa yang kau pikirkan? " Balas Itachi malas, adiknya makin ngawur saja.
" Dari mana- "
Tiiit...!
Suara alat pendeteksi jantung yang memekakkan telinga menyela ucapan Sasuke, membuat dua orang itu yang masih terpaku di ambang pintu sontak menoleh ke dalam ruangan. Alat itu tidak lagi menunjukkan garis yang naik turun sesuai detak jantung Sakura, melainkan hanya segaris merah datar yang bagai menarik dua pemuda itu kembali dalam realita.
" Sakura?! " Teriak mereka panik. Itachi dengan segera lari menghambur ke sebalah ranjang Sakura dan menekan tombol merah memanggil sepasukan orang berjas putih masuk. Sedang Sasuke memilih mundur keluar ruangan, memberikan ruang bagi para dokter tersebut agar dapat memeriksa Sakura lebih leluasa.
Tak lama, pintu yang sebelumnya tertutup, kembali membuka menunjukkan perawat yang menarik ranjang Sakura keluar ruangan dan berjalan melewatinya dengan cepat disusul dokter dibelakangnya dan Itachi yang keluar berikutnya dengan keringat dingin bercucuran di dahinya. " Apa yang terjadi?! "
" E-entahlah, " jelas Itachi terbata. " Aku hanya mendengar mereka mengatakan sesuatu tentang cairan infus Sakura dan semacam- " Itachi menarik napas dalam. " -racun. "
•Slice of Life•
" -Ta, "
" -Nata, "
" Hinata, " Panggil Naruto kesal sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hinata yang sedang melamun. " kau mengabaikanku lagi. " Rajuknya.
Hinata terkekah, " Ahaha, maaf Naruto-kun. Aku hanya sedang sangat senang. " ucapnya.
" Memangnya apa yang bisa membuatmu sesenang ini, Hime? "
Senyum Hinata makin lebar, lalu tanpa segan ia berkata, " Aku hanya senang karena sebentar lagi parasit yang mengganggu hidupku akan pergi jauh, terlalu jauh sampai dia lupa jalan untuk kembali pulang. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari pada berita ini, Naruto-kun? " Tanyanya pada Naruto yang hanya dapat memandang ngeri akan perubahan wajah tunangannya itu yang semakin mengerikan, tidak ada lagi kata anggun untuk raut wajah itu, tidak ada lagi Hinata dalam jiwa itu.
•Slice of Life
Keadaan di bandara siang ini terlihat kacau. Para penumpang baik yang akan berangkat maupun yang baru tiba berdesak-desakkan dalam kerumunan orang. Supir ataupun anggota keluarga mengangkat kertas besar bertuliskan nama seseorang sambil berteriak nyaring, semakin menambah runyam keadaan.
Di tengah-tengah keadaan yang ramai, seorang wanita malah dengan santainya berjalan menjauhi kerumunan orang sabil menyeret koper besar dengan sebelah tangan sedang tangan lainnya memegang selembar foto yang di dalamnya terdapat seorang gadis muda yang tengah tersenyum manis dalam gambar.
Wanita itu menyeringai, masih memperhatikan dengan teliti foto itu. " Hmm, putrimu manis sekali, Mebuki. " Gumamnya. " Tapi, menurutku foto ini lebih cocok diletakkan di altar pemakaman- "
" -Dan aku sudah tidak sabar untuk mengantarkannya ke sana. "
•Slice of Life•
" Kizashi-sama! " Teriak seorang pemuda berambut coklat dengan tato segitiga di pipinya sembari menghampiri lelaki paruh baya dengan tergesa.
" Ada apa, Kiba? " Tanya Kizashi pada bawahannya tersebut.
" Kami sudah menemukannya, Kizashi-sama. Dan, hal ini masih ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpa sahabat anda dan istrinya, tuan dan nyonya Uchiha beberapa tahun silam. " Jelas pemuda bernama Kiba itu.
Kizashi mengerutkan dahinya dalam, matanya menyipit mendengar bawahannya membawa-bawa tragedi yang menimpa almarhum sahabatnya dulu. " Apa lagi yang kau temukan? " Tanyanya dengan nada datar.
Pemuda itu menghela napas berat. " Kami menemukan hubungan antara kasus yang menimpa putri anda dan tragedi yang dialami keluarga Uchiha. Wanita itu. Wanita itu adalah kuncinya, Kizashi-sama. " Terangnya.
" Wanita itu? "
" Iya, dan sepertinya sekarang dia mengincar nona Sakura, tuan. "
-TBC-
A/N :
YOOOO! Ada yang kangen nggak?!
Udah berapa bulan, ya? Haha, author lupa! Maaf upnya kelewat lama.
Habisnya, utang Author nggak cuma disini aja, dimana mana ada. Hehe, canda!
Tapi mohon diterima, reader xantik dan ganxteng.
Haha, konfliknya kebanyakan ya. Hehe, kalo konfliknya nggak kelar juga jangan marah ya, der.
Oke cekian bacot author,
See you next chap!
Salam
Aza-chan
