LOVER ETERNAL

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )

RATED M

.

.

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

Minho mengangkat bahu dan membuat gerakan anggun dengan tangannya.

Sehun tersenyum. " Dia bilang oke. "

" Kau harus ikut juga, Sehun. Untuk menjadi penerjemahnya. "

Sehun kelihatan terkejut, namun kemudian menatap Minho. " Jam berapa? "

" Jam sembilan. " Sahut Suho.

" Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut. Jam sembilan aku harus bekerja. " Tolak Sehun.

" Malam. Jam sembilan malam kita akan pergi menemui mereka. "

.

.

HAPPY READING

.

Ponsel Tao berbunyi dan ia membukanya. Vampir itu mengucapkan dua kata, lalu menutupnya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan meraih jaket panjangnya.

Tao berbalik. " Hei, Chen, Kris meminta kita untuk kembali ke rumah dalam setengah jam. "

" Hahh, aku baru saja datang dan baru saja ingin bersenang senang. " Protes Chen.

" Aku akan mengambil mobil dan menunggu di depan. Bisakah kau memanggil Kai? Dia sedang bersama seseorang sekaran. " Pinta Tao.

Chen berdiri dan menuju pojokan yang gelap. Jaket panjang Kai melebar menutupi tubuh wanita berambut hitam. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di balik jaket itu.

" Hei, Kai, kita harus pergi. " Panggil Chen.

Kai mengangkat kepalanya, mulutnya terkatup dan matanya menyipit.

Chen mengangkat kedua tangannya. " Aku tidak bermaksud menganggu dan menghentikan kesenanganmu. Tapi markas besar memangil. "

Seraya mengumpat, Kai bergerak mundur. Pakaian si rambut hitam berantakan dan wanita itu tersengal., padahal mereka belum melakukan apa apa. Ketika Kai mundur, wanita itu mencengkeramnya seakan menyadari orgasme dalam hidupnya akan segera keluar pintu. Dengan gerakan mulus, Kai melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu, membuat wanita itu membeku. Kemudian wanita itu menunduk memandangi diri sendiri, seakan mencoba memahami bagaimana dia bisa begitu terangsang.

Kai membalikkan badan dengan tatapan kesal, namun ketika ia dan Chen berada diluar, ia menggeleng geleng penuh sesal.

" Chen, dengar, maafkan aku karena sudah menatapmu dengan keji tadi. Aku agak sedikit... Terfokus. "

Chen menepuk bahu Kai. " Tidak masalah, Teman. "

Mereka menghampiri Tao yang sudah siap di depan kemudi, mereka masuk dan menuju ke utara. Tao agak mengebut dan membawa mereka dengan cepat menuju pedesaan. Tiba tiba Tao menginjak rem karena melihat ada yang tergantung di pohon di lahan terbuka sekitar seratus meter dari jalanan.

Bukan, bukan ada yang tergantung tapi ada beberapa orang yang bergantung di pohon itu.

" Lesser, " Gumam Tao ia menepikan mobil di bahu jalan.

Sebelum mereka benar benar berhenti, Kai telah keluar dari mobil, berlari kencang menuju kelompok itu.

Tao mellihat ke kursi di sebelahnya. " Chen, mungkin sebaiknya kau tetap disini_ "

" Persetan, Tao. " Geram Chen.

Chen mengambil pistol Glock dari bawah kursi, mendorong pengaman semi otomatisnya saat ia dan Tao melompat turun.

Dilahan terbuka, para Lesser memasang kuda kuda dan merogoh jaket ketika Kai melesat secepat kilat. Kai menuju kelompok itu seperti ombak besar yang mematikan, tanpa mengacungkan senjata.

Astaga, apa Kai sudah gila? Dia sama sekali tidak mengeluarkan senjatanya. Batin Chen.

Kai menangani para Lesser sendirian dengan segala kekuatan dan refleks binatang. Dia mengeluarkan jurus jurus dari beragam ilmu beladiri yang mematikan, jaket panjangnya berkibar kibar saat dia menendang kepala dan meninju dada para Lesser. Dibawah cahaya bulan, dia sungguh indah.

Chen berputar karena mendengar teriakan dari arah kanannya. Tao merobohkan Lesser yang hendak melarikan diri. Membiarkan para vampir itu beraksi, Chen berjalan menuju Lesser yang tergantung mati di dahan. Ia mulai memeriksa saku sakunya. Ia tengah menarik dompet ketika terdengar letusan senjata dengan bunyi yang mengerikan. Ia menoleh dan melihat Kai roboh ke tanah.

Chen mulai menembak dan membidik para Lesser.

" Chen ! Ayo masuk ke mobil !" Tao bergegas, kakinya bergerak cepat seolah dirinya tengah diburu.

" Bagaimana dengan Kai_ "

Chen tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tao mencengkeram dan menyeretnya hingga mereka berdua telah berada dalam mobil.

Chen berbalik memandang Tao. " Kita tidak mungkin meninggalkan Kai diluar sana !" Teriaknya.

Auman keras membelah malam membuat Chen perlahan lahan memutar kepalanya. Di lahan terbuka itu ia melihat sesosok makhluk, sekitar 2,4 meter dengan tubuh seperti naga namun bergigi seperti T. Rex dengan sepasang cakar depan yang tajam. Makhluk itu terlihat mengilat ngilat di bawah cahaya bulan, tubuhnya dan ekornya yang kuat ditutupi sisik berkilau berwarna ungu dan hijau limau.

" Apa itu? " Chen berbisik dengan canggung, ia berusaha memastikan pintu mobilnya benar benar terkunci.

" Kai sedang dalam suasana hati yang benar benar buruk. " Sahut Tao.

Monster itu melolong lagi dan mengejar para Lesser seperti mainan. Takkan ada yang tersisa dari para pemburu itu, tulang pun tidak.

" Sejak kapan dia... " Chen memandang makhluk yang tengah bersenang senang diluar sana.

" Kai membuat Scribe Virgin marah, jadi dia mengutuk Kai. Dia memberi Kai kutukan selama dua ratus tahun. Kapanpun Kai selalu tertekan, ia akan berubah menjadi monster. Kesakitan bisa juga menjadi pemicunya, kemarahan atau tekanan fisik.

" Apakah ini sering terjadi? Tanya Chen.

" Cukup sering. Itu sebabnya Kai menjadi petualang seks. Seks membuatnya tenang. Kuberitahu kau, jangan macam macam dengan makhluk buas itu. Dia tidak tahu siapa kawan dan siapa makan siang. Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai Kai kembali berubah lalu merawat luka lukannya.

Sesuatu membentur kap mobil. Tapi mereka mecoba mengabaikan hal itu.

" Merawatnya? Apa maksudnya? " Gumam Chen.

" Bagaimana rasanya kalau setiap tulang dalam tubuhmu patah? Kai mengalami perubahan ketika makhluk itu muncul dan saat makhluk itu pergi, Kai kembali kesakitan. " Jelas Tao.

Tak lama kemudian, lahan terbuka itu bebas dari para Lesser. Dengan raungan yang memekakkan, makhluk buas itu berputar seakan mencari lebih banyak makanan. Ketika dia tidak menemukan pemburu lagi, matanya terpusat pada mobil yang ditumpangi Tao dan Chen.

" Bisakah dia masuk ke mobil ini? " Tanya Chen.

" Hanya kalau dia mau. Untungnya, dia tidak selapar itu. " Sahut Tao.

" Bagaimana... Kalau dia masih punya tempat untuk makanan penutup? " Gumam Chen.

Makhluk itu menggeleng geleng, surai hitamnya melambai di bawah cahaya bulan. Kemudian ia melolong dan berlari ke arah Tao dan Chen. Langkahnya terdengar seperti gemuruh yang menggetarkan tanah.

Makhluk itu berhenti tepat di sebelah mobil dan membungkuk. Dia cukup dekat hingga napasnya membuat jendela Chen berkabut. Wajah makhluk itu terlihat sangat menyeramkan tapi Chen bisa melihat di kedalaman mata makhluk itu kalau Kai ada didalam sana. Chen meletakkan tangannya di jendela, seakan dapat menggapai Kai.

Makhluk itu memiringkan kepala, mata putihnya berkedip. Tiba tiba dia bernapas dengan kencang dan tubuh besarnya mulai bergetar. Lengkingan keras terlontar dari tenggorokannya, membelah malam. Cahaya putih menyilaukan mata. Lalu Kai tergeletak telanjang di tanah.

Chen bergegas membuka pintu dan berlutut disamping tubuh Kai. Tubuh Kai bergetar tak terkendali di antara tanah dan rumput, kulitnya lembab, matanya terpejam erat, bibirnya bergerak perlahan. Darah hitam membasahi sekujur tubuhnya.

Chen melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Kai. Ia mencondongkan tubuh, berusaha menangkap kata kata yang tengah digumamkan Kai. " Apa katamu? "

" Terluka... Kau... Tao? " Lirih Kai.

" Oh, Tidak. Kami baik baik saja. " Sahut Chen.

Kai terlihat sedikit tenang. " Bawa aku pulang... Kumohon, bawa aku pulang. "

" Jangan risaukan apapun. Kami akan mengurusmu. "

.

.

.

" Ah, Suho. Kurasa mobil tumpangan kita sudah datang. " Ucap Sehun.

Minho berjalan ke jendela. " Wow, lihat mercedes itu ! Kaca kaca gelap itu kelihatannya anti peluru. "

Ketiganya meninggalkan rumah Suho dan berjalan menuju mercedes itu. Pria bertubuh kecil, berpakaian seragam hitam, keluar dari pintu pengemudi dan berputar untuk menyambut mereka.

" Nama saya Fritz, " Ia berkata sambil membungkuk dalam. " Saya akan mengantar Anda semua. "

Fritz membuka pintu belakang dan Suho langsung memasukinya. Berikutnya Minho, kemudian setelah Sehun duduk, Fritz pun menutup pintu. Beberapa detik kemudian mobil mereka meluncur di jalanan.

Sehun mencoba melihat kemana mereka akan pergi tapi kaca jendelanya terlalu gelap. Ia merasa mereka menuju utara, tapi siapa yang tahu?

" Dimana tempat itu, Suho? " Sehun bertanya.

" Tempatnya tidak terlalu jauh, " Tapi ucapan Suho tidak terdengar terlalu yakin.

" Kau tahu kita akan dibawa kemana? " Tanya Sehun lagi.

" Tentu saja aku tahu. " Suho tersenyum lalu menatap Minho. " Kita akan bertemu dengan beberapa pria paling menakjubkan yang pernah kaulihat. "

Dua puluh menit kemudian, mercedes itu mengurangi kecepatan hingga berhenti., maju sedikit, lalu berhenti lagi kemudian Fritz menurunkan kaca jendelanya dan berbicara ke semacam interkom. Mobil jalan kembali beberapa saat dan akhirnya mereka sampai.

Fritz membukakan pintu untuk mereka. " Mari ikut saya. "

Saat keluar Sehun melihat ke sekelilingnya. Mereka berada di tempat semacam parkir bawah tanah tapi tidak ada mobil lain. Hanya ada dua bus kecil.

Mereka mengikuti Fritz berjalan melalui dua pintu besi tebal yang membuka ke labirin koridor yang diterangi cahaya lampu. Ada beberapa cabang memecah ke segala arah tanpa pengaturan jelas, seakan tempat itu dibuat agar orang orang tersesat selamanya.

Akhirnya mereka tiba di ruangan kecil dengan cermin dua sisi, meja dan lima kursi metal. Kamera kecil terpasang di pojok seberang pintu. Benar benar seperti ruang interogasi polisi.

" Tunggu sebentar disini, " Fritz berkata sambil sedikit membungkuk. Ketika ia keluar, pintu otomatis tertutup.

Sehun mendekat dan mencoba membuka gagangnya, ia terkejut mendapati pintu itu mudah dibuka. Siapapun yang berkuasa disini jelas tidak khawatir kehilangan jejak para tamunya.

Sehun lalu melihat ke arah Suho. " Bisakah kau memberitahuku tempat apa ini? "

" Ini fasilitas. " Sahut Suho. " _ tempat untuk latihan. "

" Ya, tapi ini tempat untuk latihan apa? Apakah orang orang ini bekerja pada Pemerintahan atau semacamnya? " Tanya Sehun lagi.

Minho memberi isyarat. " Tempat ini tidak terlihat seperti akademi beladiri. "

" Apa katanya? " Tanya Suho.

" Minho, bilang tempat ini tidak seperti akademi beladiri. "

Sehun kembali ke pintu, membuka dan menjulurkan kepalanya ke lorong. Ketika mendengar suara beraturan ia melangkah keluar tapi tidak kemana mana.

Sehun mendengar suara langkah kaki. Bukan, langkah diseret. Apa yang_

Seorang pria tinggi,berambut pirang ( bayangin Kai waktu era overdose yaa ), berkaus hitam dan bercelana kulit sedang bergerak canggung disekitar pojokan. Tubuhnya limbung dengan sebelah tangan di dinding dan mata terpaku ke bawah. Ia tampak menekuri lantai dengan seksama, seakan bergantung pada ketajaman penglihatannya untuk dapat menyeimbangkan tubuh.

Pria itu terlihat mabuk atau mungkin sakit, tapi... ya, ampun, dia indah sekali. Bahkan wajahnya begitu menawan hingga Sehun harus mengerjap beberapa kali. Rahang persegi yang sempurna. Bibir penuh. Tulang pipi yang tinggi. Dan tubuhnya sehebat wajahnya, warna kulitnya yang kecokelatan menambah nilai kejantanan pria itu.

Tiba tiba pria itu melihat ke arahnya. Mata pria itu menatap tajam dirinya.

Sehun terenyak dan berpikir ketiadaan respon pria itu bukanlah hal aneh. Pria setampan dan segagah pria itu tidak merespon dirinya bukanlah hal aneh lagi. Sebaiknya ia kembali saja ke ruangan tadi. Tak ada gunanya melihat pria itu melintas tanpa meliriknya.

.

.

.

Kai merasa tidak karuan ketika ia menyusuri koridor. Setiap kali makhluk buas keluar darinya dan kemampuan penglihatannya pergi entah kemana, matanya butuh cukup banyak waktu untuk kembali bekerja seperti biasa. Tubuhnya pun tidak mau diajak bekerja sama, kedua lengan dan kakinya menggantung seperti beban berat di dadanya, bukannya sama sekali tak berguna namun nyaris tidak berguna. Dan perutnya masih tidak enak. Baru memikirkan makanan saja sudah membuatnya mual.

Tapi ia muak berada di dalam kamar terus. Dua belas jam tidur sudah cukup membuang waktu. Ia bertekad menuju tempat kebugaran pusat pelatihan ini, melompat disepeda stasioner dan mengendurkan otot sedikit_

Ia berhenti, menegang. Tak banyak yang bisa dilihatnya, tapi ia tahu ia tidak sendirian di lorong. Siapapun itu tengah berdiri didekatnya, disebelah kanan. Dan ia tahu itu orang asing.

Kai berputar dan menarik sosok dipintu itu, mencengkeram lehernya, mendorong orang itu ke dinding berlawanan. Ia terlambat menyadari sosok itu ternyata wanita dan suara terkesiap bernada tinggi itu membuatnya malu. Kai dengan cepat melonggarkan cengkeramannya namun tidak melepaskannya.

Leher langsing yang berada dibawah telapak tangannya terasa hangat, lembut. Denyut nadi wanita itu berdenyut kencang, darah mengalir deras ke pembuluh darah yang berasal dari jantungnya. Kai maju dan menarik napas dengan hidung. Hanya untuk tersentak mundur kembali.

Astaga, wanita itu manusia. Dan wanita itu sakit, mungkin sekarat. Batin Kai.

" Siapa kau? " Tuntut Kai. " Bagaimana kau bisa masuk kesini? "

Tak ada jawaban, hanya bunyi napas tersengal. Wanita itu ketakutan setengah mati padanya, bau rasa takut itu seperti bau asap kayu terbakar dihidungnya.

Kai memelankan suaranya. " Aku takkan menyakitimu. Tapi kau tidak seharusnya berada disini dan aku ingin tahu siapa kau? "

Tenggorokan wanita itu bergerak gerak dibalik tangan Kai, seperti sedang menelan ludah. " Namaku... namaku Sehun. Aku disini bersama temanku. "

Kai berhenti bernapas. Detak jantungnya melonjak untuk kemudian melambat.

" Katakan lagi, " Bisik Kai.

" Eh, namaku Oh Sehun. Aku teman Suho.. kami kesini membawa anak laki laki, Minho. Kami diundang. "

Kai bergidik, perasaan tenang dan menyenangkan menguar di sekujur kulitnya. Suara wanita itu melantun indah, irama kalimatnya, bunyi kata katanya, terasa menenangkan. Membelenggunya dengan manis.

Kai memejamkan matanya. " Ucapkan hal lain. "

" Apa? " Tanya Sehun bingung.

" Bicara. Bicaralah padaku. Aku ingin mendengar suaramu lagi. "

Sehun terdiam dan Kai hendak memintanya berbicara kembali ketika Sehun bertanya. " Kau kelihatan tidak sehat. Apa kau butuh dokter? "

Kai mendapati dirinya terbuai. Kata katanya tidak penting. Yang penting suaranya : rendah, lembut, mengandung ketenangan yang menyapu pendengarannya. Kai merasa bagian dalam kulitnya seperti disentuh.

" Lagi, " Pinta Kai, ia memutar telapak tangannya ke bagian depan leher Sehun hingga ia dapat merasakan getaran ditenggorokan wanita itu lebih baik.

" Bisakah.. bisakah kau melepaskanku? "

" Tidak, " Kai mengangkat sebelah tangannya yang lain. Sehun mengenakan semacam baju wol dan Kai menarik kerahnya ke samping, meletakkan tangannya di bahu Sehun agar wanita itu tak bisa melepaskan diri darinya. " Bicaralah. "

Sehun mulai melawan. " Kau memaksaku. "

" Memang. Jadi bicaralah sekarang. " Tuntut Kai.

" Oh, demi Tuhan, kau ingin aku mengatakan apa? " Frustasi Sehun.

Bahkan dalam keadaan kesal pun suara wanita itu tetap indah." Apa saja. "

" Baiklah. Singkirkan tanganmu dari leherku dan lepaskan aku atau aku akan menendangmu dengan lututku ditempat yang menyakitkan. " Sahut Sehun.

Kai tertawa. Kemudian memajukan bagian bawah tubuhnya kearah Sehun, memerangkap wanita itu dengan pinggul dan pahanya. Sehun berubah kaku namun Kai dapat merasakan lebih. Wanita itu bertubuh kurus dengan lekuk lekuk khas wanita. Payudara Sehun mengenai dadanya, pinggul wanita itu menahan pinggulnya, perut Sehun terasa lembut.

" Bicaralah terus, " Bisik Kai ditelinga Sehun. Astaga, wanita ini wangi, besih, segar, seperti lemon.

Ketika Sehun mendorongnya, Kai melesakkan seluruh bobot tubuhnya ke wanita itu. Membuat Sehun tersengal.

" Kumohon, " Pinta Kai.

Dada Sehun bergerak di dada Kai seakan sedang menarik napas. " Aku.. eh, aku tidak tahu harus mengatakan apa kecuali lepaskan aku. "

Kai tersenyum, berhati hati untuk tetap membuat mulutnya terkatup rapat. Ia tidak perlu menunjukkan taringnya terutama bila wanita itu tak tahu apa dia sebenarnya. " Kalau begitu katakana itu. "

" Apa? " Tanya Sehun.

" Tak tahu. Katakan tak tahu. Terus dan terus dan terus. Lakukanlah. " Gumam Kai.

Sehun tersentak, bau rasa takutnya digantikan bau rempah tajam, seperti bau daun mint yang baru dipetik.

" Katakanlah, " Kai memerintah, ingin merasakan lebih daripada yang dilakukan Sehun padanya.

" Baiklah, aku akan mengucapkannya. Tak tahu. Tak tahu. " Tiba tiba Sehun tertawa dan suaranya langsung melesat di sepanjang tulang punggung Kai, membakarnya. " Tak tahu, tak tahu, tak tahuu, tak tahuuuu. Nah, apa kau puas? Apa kau akan melepaskanku sekarang? "

" Tidak. " Jawab Kai dengan singkat.

Sehun melawan sekali lagi, menimbulkan gesekan gesekan nikmat di antara tubuh mereka. Dan Kai tahu persis ketika kegugupan dan kekesalan Sehun berubah menjadi sesuatu yang panas. Kai mencium hasrat Sehun, sesuatu yang manis menguar di udara dan tubuhnya membalas panggilan Sehun.

" Bicaralah padaku, Sehun. " Kai menggerakkan pinggulnya dalam putaran kecil, menggesekkan kejantanannya yang menegang ke perut Sehun, menaikkan hasrat dan emosi Sehun.

Sesaat kemudian ketegangan Sehun mengendur, membuatnya membuka diri pada tekanan otot otot dan rangsangan Kai. Kedua tangannya memegang pinggang Kai. Lalu perlahan lahan merayapi punggung Kai, seolah tak yakin mengapa ia merespon pria ini.

Kai melentingkan tubuh, menunjukkan ia tak keberatan dan mendorong agar Sehun lebih berani menyentuhnya.

" Aahhh.. " Ketika telapak tangan Sehun bergerak ke atas tulang punggungnya, Kai mengerang dan menundukkan kepalanya agar telinganya lebih dekat ke bibir Sehun. Ia ingin mendengarkan kata kata yang diucapkan Sehun, kata kata Sehun terasa manis.

Efek Sehun terhadap diri Kai bagaikan obat bius, kombinasi yang menggoda antara keinginan seksual dan ketenangan mendalam . Kai seakan merasakan orgasme sekaligus tertidur nyenyak nan damai. Hal yang belum pernah ia rasakan semenjak ia dikutuk.

Tiba tiba perasaan beku melesat dalam diri Kai, menyedot kehangatan dari tubuhnya. Ia menyentakkan kepalanya ke belakang ketika teringat akan apa yang dikatakan Tao padanya. " Apa kau masih perawan? " Tanyanya.

Tubuh Sehun kembali kaku. Ia mendorong Kai sekuat tenaga, namun tak membuat pria itu bergeser sedikitpun. " Apa kau bilang? Pertanyaan macam apa itu? "

Ketegangan membuat tangan Kai yang memegang bahu Sehun mengencang. " Apakah ada pria lain yang pernah menundukkanmu? Memilikimu? Jawab pertanyaanku. "

Suara indah Sehun berubah meninggi, ketakutan. " Ya. Ya, aku pernah punya.. kekasih. "

Kekecewaan mengendurkan cengkeraman Kai. Namun kelegaan menghampirinya. Bagaimanapun juga, Kai tidak yakin dirinya akan bertemu dengan takdirnya secepat ini. Lagipula seandainya Sehun bukan takdirnya, wanita manusia ini luar biasa… sangat special.

Dan ia harus memilikinya.

.

.

.

Sehun menarik napas dalam dalam ketika cengkeraman di lehernya mengendur.

" Beritahu aku dimana kau tinggal? " Tanya Kai.

Ketika Sehun tidak menjawab, Kai menggerakkan pinggulnya, Kejantanannya yang luar biasa menegang itu bergerak menekan perut Sehun.

Sehun memejamkan mata. Berusaha untuk tidak membayangkan apa rasanya bila pria didepannya ini berada di dalam dirinya. Memenuhinya.

Kai menunduk dan bibirnya menyapu sisi leher Sehun. Mencumbunya disana. " Dimana kau tinggal? "

Sehun merasakan sentuhan lembut, lembab. Astaga lidah pria itu, menjilati tenggorokannya.

" Pada akhirnya kau pasti akan memberitahukan padaku dimana kau tinggal, " Kai bergumam. " Tapi santai saja. Aku sendiri tidak terburu buru. "

Pinggul Kai meninggalkan tubuh Sehun sejenak, lalu kembali lagi dengan menyelipkan pahanya di antara kedua kaki Sehun hingga menyentuh vagina Sehun yang tertutup celana. Tangan Kai yang berada di bagian bawah leher Sehun turun ke tulang rusuk, nyaris menyentuh payudara Sehun.

" Jantungmu berdebar kencang, Sehun. " Ucap Kai dengan suara menggoda.

" I – itu karena aku ketakutan. " Sahut Sehun.

" Takut bukanlah satu satunya hal yang kaurasakan. Coba kaulihat apa yang dilakukan tanganmu saat ini? "

Sial, batin Sehun. Kedua tangannya berada di lengan berotot di hadapannya, mencoba menarik pria itu lebih dekat. Kuku kukunya menusuk kulit pria itu.

Ketika Sehun melepaskan cengkeramannya, Kai mengernyit. " Aku menyukainya, jangan berhenti. "

Braaakkk…

Pintu dibelakang mereka terbuka.

" Sehun? Apa kau baik ba – Oh.. ya, Tuhan. " Kata kata Suho menguap.

Sehun menguatkan diri ketika pria itu memutar tubuh dan melihat Suho. Mata pria itu disipitkan, memperhatikan Suho dari atas ke bawah, kemudian kembali menatap Sehun.

" Temanmu mengkhawatirkanmu, " Ucap Kai perlahan. " Kau bisa meyakinkan temanku untuk tidak mengkhawatirkanmu. "

Sehun berusaha melepaskan diri dan sama sekali tak terkejut ketika pria itu mengendalikan sentakan tubuhnya dengan mudah.

" Aku punya ide, " Gumam Sehun, " bagaimana kalau kau melepaskanku dengan begitu aku tidak perlu meyakinkannya. "

Suara datar pria menggema di lorong. " Kai, wanita itu dibawa kemari bukan untuk kesenanganmu. Dan satu lagi, dilarang melakukan hubungan seks di lorong. "

Sehun mencoba menoleh tapi tangan di antara payudaranya kembali meluncur ke lehernya dan memegang dagunya, menghentikan gerakan kepalanya.

" Aku akan mengabaikan mereka berdua. Kalau kau melakukan hal yang sama, kita bisa membuat mereka lenyap. " Gumam Kai.

" Kai, lepaskan dia. " Perintah singkat dan tajam diucapkan dalam bahasa yang tidak dimengerti Sehun.

Saat hardikan keras dilontarkan bertubi tubi oleh pria yang lebih pendek dari pria dihadapannya ini. Tatapan pria yang dipanggil Kai ini tetap tertuju pada Sehun, ibu jarinya perlahan lahan naik turun di rahang Sehun. Kai terlihat malas tapi penuh perhatian, namun ketika membalas pria yang lebih pendek, suaranya terdengar kerasa dan agresif, sekuat tubuhnya. Sekumpulan kata meluncur kembali, tapi kali ini tidak setajam tadi. Seakan temannya tengah mencoba memberikan alasan logis pada Kai.

Tiba tiba Kai melepaskan Sehun dan melangkah mundur. Hilangnya kehangatan dari tubuh indah itu menimbulkan shock yang tak terduga bagi Sehun.

" Sampai jumpa, Sehun. " Kai menyapu pipi Sehun dengan telunjuknya sebelum membalikkan tubuh dan berjalan pergi.

Dengan lutut lemas, Sehun merosot di dinding. Astaga, saat ia berada dalam kekuasaan pria itu, ia seakan lupa dengan segala galanya.

" Dimana anak itu? " Tanya suara pria bernada memerintah.

Sehun melihat kearah kanan. Pria itu bertubuh lebih kecil tapi seperti ada aura yang mengatakan agar tidak meremehkan tubuh kecilnya.

" Dimana anak itu? " Tanya pria itu lagi.

" Minho ada didalam sana. " Suho menjawab.

" kalau begitu ayo kita kesana. "

Pria itu membuka pintu dan bersandar disana hingga Sehun dan Suho melewatinya. Ia tidak menaruh perhatian ketika mereka lewat, namun malah menatap Minho. Minho membalas tatapan matanya, menyipit seperti mencoba mengingat ingat pria itu.

Ketika mereka semua duduk di meja, pria itu mengangguk pada Suho. " Kau yang menelpon. "

" Ya, dan ini Oh Sehun dan Minho. Choi Minho. "

" Namaku Kyungsoo. " Ia kembali focus pada Minho. " Apa kabar? "

Minho memberi isyarat dan Sehun harus berdeham beberapa kali sebelum bisa menerjemahkan. " Dia mengatakan baik. Bagaimana kabar Anda? "

" Aku baik baik saja. " Kyungsoo tersenyum simpul kemudian melirik Suho. " Bisakah kau menunggu di lorong. Aku akan berbicara padamu setelah aku berbicara dengan dia. " Tunjuknya pada Minho.

Suho tampak ragu.

" Ini bukan permintaan, " Lanjut Kyungsoo dengan suara datar.

Setelah Suho pergi, Kyungsoo memutar kursinya ke arah Minho. " Katakan padaku berapa umurmu sekarang dan dimana kau dibesarkan? "

Minho menggerakkan tangan, Sehun terkejut saat mengetahui umur Minho, ia kembali berdeham untuk menutupi keterkejutannya. " Dia kurang mengetahui berapa tepatnya umurnya sekarang, tapi ia mengira umurnya sekitar 20 tahun atau lebih. Dia dibesarkan di panti asuhan kemudian dengan beberapa orang tua asuh. "

" Apa yang kau tahu mengenai Ayah dan Ibumu? "

Minho menggeleng.

" Suho memberitahuku kau punya gelang dengan desain khusus. Maukah kau menunjukkannya padaku? " Pinta Kyungsoo.

Minho menarik lengan bajunya dan mengulurkan tangan.

" Bagus sekali, gelangnya. Kau yang membuatnya? "

Minho mengangguk.

" Darimana kau mendapat ide untuk membuat desain seperti ini? " Tanya Kyungsoo.

Minho kembali memberikan isyarat, Sehun berkata. " Dia memimpikan pola itu. "

" Benarkah? Apa kau keberatan bila kutanya seperti apa mimpimu itu? " Kyungsoo duduk dengan santai tapi matanya terfokus.

Pelatihan beladiri macam apa ini? Pikir Sehun. Ini bukan latihan karate, ini interogasi.

Saat Minho ragu, Sehun ingin menyambar lengan Minho dan berjalan keluar, namun ia punya firasat kalau Minho akan melawan. Minho terlihat terserap pada pria itu sepenuhnya, terfokus dan terlibat.

" Tidak apa apa. Kau bisa menceritakan semuanya padaku dengan santai dan tenang. " Bujuk Kyungsoo.

Minho mengangkat tangannya dan Sehun berbicara ketika Minho memberikan isyarat.

" Eh... Dia berada di tempat yang gelap. Berlutut di depan altar. Dibelakangnya, dia melihat tulisan di dinding, beratus ratus tulisan di bahu hitam - Minho tunggu jangan cepat cepat. Aku tidak bisa menerjemahkan kalau kau secepat itu. " Sehun berkonsentrasi pada tangan Minho. " Dia bilang dalam mimpinya cuplikan tulisan yang terlihat seperti ini. " Tunjuknya pada pola di gelang Minho.

Kyungsoo mengerutkan dahi.

Ketika Minho menunduk seakan malu, Kyungsoo berkata. " Jangan khawatir, kami mengerti. Apa ada hal lain yang bisa kau ceritakan tentang dirimu yang menurutmu aneh? Hal yang mungkin membuatmu berbeda dari orang lain? "

Sehun bergerak gerak dikursinya, merasa tak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Jelas Minho bersedia menjawab semua pertanyaan yang diajukan.

Sehun mengangkat tangan hendak mengisyaratkan peringatan pada Minho, ketiak pemuda itu mulai membuka kancing kemeja. Minho menyibak satu sisi kemejanya, memperlihatkan luka berbentuk lingkaran di atas otot dada kirinya.

Kyungsoo maju, mengamati tanda itu kemudian mundur. " Darimana kau mendapatkan tanda itu? "

Tangan Minho bergerak kesana sini dihadapan Kyungsoo.

" Dia bilang dia terlahir dengan tanda itu. " Ucap Sehun.

" Apa ada hal aneh lainnya? " Tanya Kyungsoo lagi.

Minho menatap Sehun. Ia menarik napas dalam dalam dan mengisyaratkan, " Aku bermimpi tentang darah. Tentang taring. Tentang... Menggigit. "

Sehun merasakan matanya terbelalak sebelum ia sempat menahan diri.

Minho menatap Sehun dengan was was. " Jangan khawatir, Sehun. Aku bukan orang gila atau semacamnya. Aku merasa ngeri ketika mimpi itu mendatangiku untuk pertama kali dan aku tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan oleh otakku, kau tahu. "

" Ya, aku tahu, " Sahut Sehun, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Minho menyalurkan dukungannya.

" Apa yang dikatakannya? " Tanya Kyungsoo.

" Bagian terakhir tadi ditujukan padaku. " Sahut Sehun.

Sehun menghirup napas dalam dalam kemudian kembali melanjutkan menerjemahkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf buat yang minta FF ini dibikin Yaoi, aku gak bisa kabulkan. Karena aku udah coba buat bikin jadi Yaoi ehh ceritanya malah aneh. Karena ada sesuatu hal yang gak bisa diubah makanya aku mempertahankan FF ini GS. Well, kalau gak suka ini GS, mending gak usah dibaca yaa daripada kalian gak enak hati bacanya.

Mohon Reviewnya yaaaa... Masih berminatkan...

Boleh minta review dua puluh lebihkan... ( Pwease jangan protes aku bikin target review, kalau gak suka aku bikin target review silahkan menjauh )

Catatan :

Lesser : Manusia yang jiwanya dicabut, yang menjadikan vampir sebagai target untuk dihancurkan. Harum mereka seperti bau bedak bayi.

Scribe Virgin : Penasehat Raja sekaligus penjaga arsip vampir dan pengatur hak hak istimewa kaum vampir. Hidup di alam baka dan mempunyai kemampuan yang luar biasa. Memiliki kemampuan untuk menciptakan vampir.