LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 3
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )
RATED M
.
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
CERITA SEBELUMNYA
.
Minho menatap Sehun dengan was was. " Jangan khawatir, Sehun. Aku bukan orang gila atau semacamnya. Aku merasa ngeri ketika mimpi itu mendatangiku untuk pertama kali dan aku tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan oleh otakku, kau tahu. "
" Ya, aku tahu, " Sahut Sehun, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Minho menyalurkan dukungannya.
" Apa yang dikatakannya? " Tanya Kyungsoo.
" Bagian terakhir tadi ditujukan padaku. " Sahut Sehun.
Sehun menghirup napas dalam dalam kemudian kembali melanjutkan menerjemahkan.
.
HAPPY READING
.
Suho memasuki ruang olahraga dan ia melihat seorang pria menakjubkan tengah meninju habis habisan sebuah samsak, memunggunginya. Kedua kaki pria itu bergerak lindah, seringan angin, pria itu meninju dan meninju, memukul, membuat samsak itu terayun maju dengan kekuatannya.
Pintu dibelakang Suho menutup dengan bunyi klik. Dengan ayunan lengan, pria itu mengambil belati bermata hitam dan menancapkannya ke samsak. Dia merobeknya, hingga pasir dan pengganjalnya mengalir keluar ke matras lalu pria itu berputar.
Suho terkejut saat melihat wajah pria itu. Di pipinya terdapat luka yang panjang. Mata pria itu menyipit, hitam dan segelap malam, memandangi Suho. Pria itu terlihat bingung dan agak linglung saat memerhatikan Suho.
Pria itu menginginkanku, aku bisa merasakannya. Batin Suho.
Setelah bisa mengendalikan diri, pria itu terlihat marah yang membuat Suho takut. Suho mundur ke pintu sambil mengawasi pria itu. Saat ia mulai menekan gagang pintu, ia tidak berhasil untuk membukanya. Ia punya firasat pria itu sengaja membuatnya terjebak di dalam ruangan ini.
Pria itu melihat Suho berkutat dengan gagang pintu sebentar sebelum menghampirinya. Ketika berjalan melalui matras, pria itu melempar belatinya ke atas dan menangkap kembali gagang belatinya. Lempar, tangkap kembali. Naik dan turun.
" Aku tak tahu apa yang kau lakukan disini, " Kata pria itu dengan suara rendah, " selain menganggu latihanku. "
Pria itu menelusuri wajah dan tubuh Suho, ketidaksukaannya tampak jelas tapi pria itu juga memancarkan aura panas seksual yang seharusnya tidak memikat Suho.
" Maafkan aku. Aku tidak tahu... "
" Tidak tahu apa, Perempuan? " Sela pria itu.
Tinju pria itu melayang ke besi di kedua sisi kepala Suho. Suho melihat belati yang dipegang pria itu, namun segera melupakannya ketika pria itu mendekat maju. Pria itu berhenti tepat sebelum tubuh mereka bersentuhan.
Suho menarik napas dalam dalam, menghirup aroma pria itu. Wangi tubuh pria itu lebih seperti api dihidungnya ketimbang sesuatu yang bisa dijelaskannya. Dan Suho merespons, hangat dan mendamba.
Pria itu memiringkan kepalanya dan mengalihkan perhatiannya ke leher Suho. Pria itu tersenyum dan memperlihatkan taringnya yang panjang dan sangat putih.
" Aku... Aku benar benar minta maaf karena telah menganggu latihanmu. " Lirih Suho.
" Kalau begitu buktikan. Buktikan permintaan maafmu. " Pria itu menjilat leher Suho.
" Bagaimana? " Tanya Suho parau.
" Berlutut dengan tangan dan kaki dibawah dan aku akan menerima permintaan maafmu. " Ucap pria itu.
Braaakkkk
Pintu diseberang ruang olahraga mendadak terbuka lebar.
" Oh, demi Tuhan, Chanyeol... Lepaskan dia ! " Pria lain lagi. " Lepaskan dia, Chanyeol. Sekarang juga ! "
Chanyeol bergerak maju, membawa mulutnya mendekati telinga Suho. Ujung jari Chanyeol menekan tulang dada Suho. " Kau baru saja diselamatkan, Perempuan. "
Chanyeol berjalan memutari Suho dan keluar dari pintu ketika pria lain itu sampai ke hadapan Suho.
" Kau baik baik saja? "
Suho memandang samsak yang robek itu. Ia merasa tidak bisa bernapas, entah karena takut atau terangsang, ia tidak yakin. Mungkin gabungan keduanya.
" Ya, kurasa aku baik baik saja. Siapa pria itu? " Tanya Suho.
Pria itu membuka pintu dan membawa Suho kembali ke ruang interogasi tanpa menjawab pertanyaannya.
" Bantu dirimu dan tetaplah disini, oke? " Pinta pria itu.
Nasihat yang bagus, pikir Suho, ketika ia ditinggal sendirian.
.
.
.
Kai tersentak bangun. Ketika melihat jam di nakas ia senang karena matanya bisa fokus kembali. Kemudian ia kesal sendiri ketika melihat jam berapa sekarang.
Dimana Kyungsoo? Ia berjanji akan meneleponnya segera setelah dia selesai dengan wanita manusia itu, dan ini sudah lebih dari enam jam tapi Kyungsoo tidak juga mengabarinya.
Kai mengambil telepon dan menekan nomor ponsel Kyungsoo. Ketika tersambung ke voice mail, ia mengumpat dan menutup telepon dengan kasar.
Kai turun dari tempat tidur, meregangkan tubuh dengan hati hati. Ia masih merasa tidak enak badan dan sakit perut, tapi sekarang ia mampu bergerak lebih baik. Setelah mandi dengan cepat ia mengenakan setelan berbahan kulit dan ia pun berjalan ke ruang kerja Kris. Sebentar lagi subuh dan bila Kyungsoo tidak menjawab teleponnya, Kyungsoo pasti sedang berada di ruang kerja Kris dan memberikan laporan penuh kepada Raja mereka.
Kai membuka pintu ganda ruangan Kris dan ia melihat Kyungsoo monda mandir di atas karpet sambil berbicara kepada Kris.
" Akhirnya, aku menemukanmu, " Ucap Kai dengan nada bosan.
Kyungsoo menoleh. " Aku berniat mendatangi kamarmu setelah aku selesai memberikan laporan pada Kris. "
" Benarkah? Kalau begitu sekarang kau tidak perlu kekamarku. Kau bisa memberitahukan semua yang ingin kau bicarakan disini. " Kai lalu menoleh ke arah Kris. " Bagaimana kabarmu, Kris? "
Kris tersenyum. " Senang melihatmu kembali ke kondisi petarungmu, Kai. "
" Oh, aku juga sangat senang, Kris. " Kai kembali menatap Kyungsoo. " Well, apa yang ingin kau beritahukan padaku? Dan beritahu padaku dimana wanita manusia itu tinggal? "
" Aku tidak yakin apakah kau perlu bertemu dengannya lagi, bagaimana menurutmu? " Kyungsoo bertanya balik.
Kris bersandar ke bagian punggung kursi lalu mengangkat kaki ke meja. " Apakah salah satu dari kalian mau memberitahuku apa yang sedang terjadi? "
" Ini urusan pribadi, " gumam Kai. " bukan hal istimewa. "
" Yang benar saja, Kai. " Kyungsoo berpaling pada Kris. " Dia ingin lebih mengenal manusia penerjemah itu. " tunjuknya pada Kai.
Kris menggeleng. " Oh, tidak, tidak, tidak, Kai. Tidurilah wanita lain. Tuhan tahu, ada cukup banyak wanita diluar sana untukmu. " Kris kembali memusatkan perhatiannya pada Kyungsoo. " Seperti yang kukatakan padamu tadi, aku tidak keberataan kalau pemuda bernama Minho itu mengikuti latihan dengan para pemula di kelas utama, tapi kau harus memeriksa latar belakangnya. Dan wanita penerjemah itu juga harus diperiksa latar belakangnya. Bila pemuda itu tiba tiba menghilang, aku tidak mau wanita manusia itu menyebabkan masalah. "
" Aku yang akan mengurusnya, " Ucap Kai. Saat Kris dan Kyungsoo menatapnya ragu, ia mengangkat bahu dengan acuh. " Kalau kalian tidak membiarkanku melakukannya, aku pasti akan membuntuti orang yang kalian perintahkan untuk mengurus wanita itu. Bagaimanapun juga, aku akan menemukan wanita itu. "
Alis Kyungsoo bertautan. " Bisakah kau hentikan itu, Brother? Seandainya pemuda bernama Minho itu bergabung dengan kita disini dan aku melihat hubungan Minho dengan wanita penerjemah itu cukup kuat jadi kurasa kau harus melupakannya. "
" Maaf, tapi aku menginginkan wanita itu. " Tegas Kai.
" Astaga, kau benar benar menyebalkan. Kau tahu, kau itu sama sekali tak punya kendali dan egois. Kombinasi yang sangat sempurna. " Ejek Kyungsoo.
" Dengar, entah bagaimana caranya, aku akan mendapatkan wanita itu. Sekarang kau mau aku memeriksa latar belakangnya, bukan? Jadi berikan tugas itu padaku, selagi aku menemuinya, aku akan memeriksanya. " Ucap Kai.
Ketika Kyungsoo mengusap matanya dan Kris mengumpat, Kai tahu ia menang.
" Baiklah, " Gumam Kyungsoo. " Cari tahu latar belakang wanita itu dan hubungannya dengan anak itu dan terserah kau ingin melakukan apa padanya. Tapi setelah selesai, hapus ingatan wanita itu dan jangan menemuinya lagi. Kau dengar aku ! Hapus ingatannya tentang dirimu ketika semua sudah selesai dan jangan menemuinya lagi !"
" Kita sepakat. " Seringai Kai.
Kyungsoo membuka ponselnya dan menekan beberapa tombol. " Aku mengirim nomor manusia itu lewat SMS. "
" Dan nomor temannya juga. " Pinta Kai.
" Kau juga menginginkan temannya? " Tanya Kyungsoo dengan bingung.
" Oh, berikan saja padaku, Kyungsoo. " Geram Kai.
.
.
.
Suho baru saja hendak tidur saat teleponnya berdering. Ia mengangkatnya, berharap itu bukanlah telepon dari saudara laki lakinya. Suho benci ketika saudaranya itu memeriksa untuk memastikan ia sudah berada di rumah ketika malam berakhir. Memangnya saudaranya kira, ia akan bersenang senang dengan para pria begitu.
" Halo? " Ucap Suho.
" Kau akan menelepon Sehun dan katakan padanya untuk menemuiku malam ini untuk makan malam. "
Suho terenyak. Suara ini, suara pria yang memojokkan Sehun saat mereka membawa Minho. Dan terlebih lagi pria ini salah seorang pejuang.
" Kau dengar apa yang kukatakan. "
" Ya.. Tapi apa yang akan kau lakukan padanya? " Tanya Suho dengan khawatir.
" Telepon dia sekarang. Katakan aku temanmu dan dia akan bersenang senang. Dengan cara itu pasti akan lebih baik. "
" Lebih baik dari apa? " Tanya Suho kembali.
" Lebih baik daripada aku menerobos rumahnya untuk menemuinya. Hal yang pasti akan kulakukan bila perlu. "
Suho memejamkan matanya dan membayangkan Sehun ditekan ke dinding. Pria itu mengejar Sehun hanya untuk satu alasan, yaitu melampiaskan kebutuhan tubuhnya, ia ingin melampiaskannya pada Sehun.
" Oh, Tuhan... Tolong jangan sakiti dia. Dia bukan bangsa kita dan dia... Dia sakit. " Pinta Suho.
" Aku tahu dia sakit. Dan yakinlah, aku tidak akan menyakitinya. "
Suho menutup wajahnya dengan satu tangannya, bertanya tanya apa pria ini berkata jujur bahwa ia tidak akan menyakiti Sehun.
" Pejuang... Dia tidak tahu apa apa tentang bangsa kita. Dia - kumohon, jangan _ "
" Dia takkan mengingat apapun setelah selesai. "
Kata kata itu seharusnya membuat Suho merasa sedikit lebih baik. Tapi sepertinya ia malah merasa ia akan menyajikan Sehun di atas piring untuk dinikmati pejuang itu.
" Kau tidak bisa menghentikanku. Tapi kau bisa mempermudahnya untuk temanmu. Pikirkan itu. Dia akan merasa lebih aman bertemu denganku di tempat umum. Dia tidak akan tahu siapa diriku sebenarnya. Hal ini akan berjalan senormal mungkin baginya. "
Kalau ia menuruti permintaan pejuang ini, sama saja ia mengkhianati persahabatannya dengan Sehun. Suho benar benar dilema sekarang. " Aku menyesal membawa Sehun saat itu. "
" Aku tidak. " Muncul jeda. " dia punya... Sesuatu yang tak biasa dalam dirinya. "
" Bagaimana kalau dia menolakmu? " Suho berharap Sehun akan menolak.
" Tidak. Dia tidak akan menolak. "
" Bagaimana kalau iya? "
" Itu pilhannya. Dia takkan dipaksa. Aku bersumpah padamu. "
Suho menurunkan tangannya ke leher, memuntir muntir rantai kalung yang selalu dikenakannya.
" Dimana? " tanya Suho dengan berat hati. " Dimana Sehun harus menemuimu? "
" Dimana biasanya manusia bertemu untuk kencan yang normal? "
Mana aku tahu. Batin Suho. Kemudian ia ingat Sehun mengatakan sesuatu tentang rekan kerjanya yang menemui pria.. Apa nama tempat itu?
" TGI Friday, " Ucap Suho. " Ada di Lucas Square. "
" Baiklah, kalau begitu. Beritahu dia untuk datang jam delapan malam ini. "
" Aku harus memberi nama apa padanya? "
" Katakan padanya namaku... Jongin. Kim Jongin. "
" Pejuang? " Panggil Suho.
" Ya? "
" Kumohon... "
Suara Kai benar benar lembut saat menjawab. " Jangan khawatir, Suho. Aku akan memperlakukannya dengan baik. "
Setelahnya telepon terputus.
.
.
.
Sehun memarkir mobilnya ditempat parkir TGI Friday. Ia melihat ke sekeliling sambil berpikir kenapa ia mau menemui pria ini untuk makan malam. Yang bisa ia ingat hanyalah Suho menelpon dan membujuknya pagi tadi.
Dipikir pikir lagi, ia memang tidak terlalu pintar menahan diri. Besok pagi ia akan pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan dengan masalah kesehatannya ia menjadi sedikit linglung. Contohnya semalam, ia bersumpah ia pergi ke suatu tempat bersama Minho dan Suho, hanya saja kejadian malam itu tak lebih dari sekedar lubang gelap. Ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian malam itu.
Sehun menghela napas, merasa kasihan pada pria yang mengajaknya makan malam. Ia tidak kelihatan menarik. Rambutnya yang panjang membosankan ia ikat ke belakang dan diikat dengan karet seadanya. Sweter rajut warna krem yang ia kenakan membuatnya hangat tapi juga membuatnya terlihat membosankan, ia juga hanya memakai celana longgar dan sepatu tanpa haknya berwarna cokelat dan sudah lecet dibagian jari kakinya. Ia hanya menghargai Suho, dengan menerima ajakan makan malam ini.
Saat Sehun masuk ke restoran, ia disambut penerima tamu yang mengantarnya ke meja di pojok. Setelah meletakkan tasnya, ia melihat ke sekeliling dan memperhatikan keadaan restoran yang sangat ramai. Ia tersenyum kecil saat melihat seorang pelayan tergopoh gopoh mendatangi mejanya. Pelayan itu meletakkan gelas plastik berisi air dengan tergesa gesa membuat air sedikit tumpah.
" Apa Anda sedang menunggu seseorang? " Tanya pelayan itu.
" Ya, aku sedang menunggu seseorang. " Jawab Sehun.
" Anda ingin memesan minuman? "
" Tidak, nanti saja. Aku menunggu temanku datang, dulu. Air putih ini cukup untuk sementara " Sahut Sehun.
Pelayan itu membungkuk hormat lalu pergi menjauh. Sehun kembali mengedarkan pandangan matanya dan ia menangkap gerakan di pintu masuk. Seorang pria melangkah masuk. Pria yang amat sangat luar biasa.
Pria itu berambut pirang. Setampan bintang film. Terlihat menjulang dengan jaket panjang hitam berbahan kulit. Sehun lalu mengerutkan dahi, ia merasa pernah melihat pria itu di suatu tempat.
Sehun menggelengkan kepala karena tidak bisa mengingat dimana ia bertemu dengan pria itu. Setelah beberapa saat, ia mengangkat bahu karena tidak ingin membuat otaknya berpikir terlalu keras dan ia kembali memperhatikan pria itu.
Pria itu menghampiri penerima tamu dan matanya menelusuri wanita itu seakan menilainya. Wanita itu mengayunkan pinggulnya agar diperhatikan oleh pria itu. Ketika keduanya mulai berjalan di restoran, pria itu memandang setiap meja dan Sehun bertanya tanya dengan siapa dia akan makan.
Aha. Dua meja darinya ada wanita pirang duduk sendirian. Sweter tipis biru ketat, begitu ketat hingga menunjukkan setiap aset yang dia punya. Dan wanita pirang itu menguarkan antisipasi ketika melihat pria itu melintasi restoran.
Sehun memperhatikan pria itu. Sesuatu dalam diri pria itu bukan hanya sekedar tampan. Ada sesuatu yang... Liar. Pembawaannya tidak seperti orang lain pada umumnya. Malah, pria itu bergerak seperti seorang pemangsa. Sehun punya firasat tidak enak bahwa kalau pria itu mau, dia bisa memusnahkan semua orang disini hanya dengan kedua tangannya.
Menguatkan diri, Sehun memaksa dirinya menatap gelas airnya. Ia tidak mau seperti para wanita bodoh yang melongo itu.
Oh, astaga. Ia tidak bisa menahan dirinya. Ia ingin melihat pria itu lagi. Sehun mendongak dan melihat pria itu berdiri dihadapan wanita pirang itu.
" Hei, " Sapa pria itu pada wanita pirang.
Oh, suaranya benar benar luar biasa. Terdengar seksi dan berat. Batin Sehun.
" Hei juga. " Sapa wanita pirang.
Tiba tiba suara pria itu berubah tajam. " Kau bukan Sehun. "
Sehun berubah kaku. Pria itu mencariku, pikirnya.
" Aku bisa menjadi siapapun yang kau mau, Tampan. " Rayu wanita pirang itu.
Sehun berdeham, berharap dirinya berada di tempat lain atau menjadi orang lain. " Aku... Ah, aku Sehun. "
Pria itu berputar, menghadap Sehun dan berubah kaku.
Sehun dengan cepat menunduk. Aku, bukan gadis yang kau harapkan, bukan? Pikir Sehun.
Kesunyian tetap menyelimuti, jelas pria itu sedang mencari alasan sopan untuk pamit dan segera pergi. Demi Tuhan, bagaimana Suho membuatnya malu setengah mati seperti ini?
.
.
.
Kai berhenti bernapas dan menyerap penampilan Sehun. Oh, dia sungguh cantik. Pikir Kai.
Kulitnya pucat dan mulus seperti hiasan gading yang indah. Sehun tidak memakai make up dan Kai juga tidak dapat mencium wangi parfum, satu satunya hiasan yang dia kenakan hanyalah sepasang anting anting mutiara kecil. Swtwernya yang nyaris tampak tebal dan longgar. Tak ada satu halpun dari Sehun yang tampak mencari perhatian. Dia tidak seperti wanita lain yang pernah dijumpainya. Tapi hanya Sehun lah wanita yang bisa menyita seluruh perhatiannya.
" Halo, Sehun, " Sapa Kai dengan lembut.
Kai berharap Sehun akan balas menatapnya dan ia tidak sabar mendengar suara wanita itu lagi. Dua kata yang diucapkan Sehun tadi tidak terlalu keras dan itu tidak cukup baginya.
Kai mengulurkan tangan. Ingin sekali ia menyentuh Sehun. " Aku Jongin. "
Sehun membiarkan tangan Kai menggantung di antara mereka dan mulai beranjak dari kursinya.
Kai menutupi jalan Sehun. " Kau mau kemana? "
" Dengar, tidak apa apa kalau kau ingin pergi. Aku tidak akan bilang apa apa pada Suho. Kita cukup berpura pura kalau kita sudah makan malam bersama. " Ucap Sehun.
Kai memejamkan mata dan menghilangkan suara suara lain agar ia dapat menyerap suara Sehun. Tubuhnya terasa bergetar dan tenang saat mendengar suara lembut Sehun. Setelah tersadar barulah ia memahami apa yang dikatakan Sehun. " Kenapa harus berpura pura? Kita memang akan makan malam bersama. "
Bibir Sehun terkatup rapat, tapi setidaknya ia berhenti mencoba melarikan diri. Ketika Kai yakin Sehun takkan pergi, ia duduk. Saat bersuara kembali, suara Kai agak sedikit bergetar. " Aku jelas akan... Makan malam denganmu. "
Kedua mata Sehun menyala kemudian menyipit. " Apa kau sering melakukan amal? "
" Maaf, apa maksudmu? " Tanya Kai.
Pelayan wanita datang dan dengan perlahan menaruh segelas air dihadapan Kai. Kai dapat mencium hasrat wanita itu terhadap tubuh dan wajahnya dan itu membuatnya terganggu.
" Halo, namaku Leina, " Ucap si pelayan. " Anda ingin memesan minuman lain? "
" Air saja sudah cukup. Sehun, apakah kau ingin sesuatu yang lain? " Tanya Kai dengan lembut.
" Tidak, terima kasih. " Tolak Sehun.
Leina sedikit mendekatkan tubuhnya pada Kai. " Bisakah aku memberitahu Anda tentang menu spesial kami? "
" Silahkan. " Jawab Kai sedikit risih.
Ketika menu demi menu terus dibacakan, Kai tidak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya dari Sehun.
Leina berdeham beberapa kali untuk menarik perhatian Kai. " Anda yakin tidak ingin Bir? Atau sesuatu yang lebih keras? Bagaimana dengan segelas _ "
" Kami baik baik saja dan kau dapat kembali lagi nanti untuk mencatat pesanan. Terima kasih. " Sela Kai.
Leina mengangguk pasrah dan mulai menjauh. Ketika mereka tinggal berdua, Sehun berkata. " Ayolah, kita akhiri saja _ "
" Apakah aku memberimu tanda tanda bahwa aku tidak ingin makan malam denganmu? " Tanya Kai.
Sehun meletakkan tangan di atas buku menu dihadapannya, menelusuri gambar sepiring iga. Tiba tiba ia mendorong buku menu itu. " Kau terus terusan menatapku. " lirihnya.
" Pria melakukan itu. " Kalau mereka menemukan wanita yang mereka inginkan, tambah Kai pada dirinya sendiri.
" Ya, semua pria memang selalu menatap wanita tapi mereka tidak menatapku. Aku juga tahu bahwa kau sama sekali tidak terkesan pada diriku, jadi demi kebaikanmu dan kebaikanku lebih baik kita sudahi saja makan malam ini. " Ucap Sehun.
Suara itu. Sehun melakukan lagi padanya. Kulit Kai terasa terbakar oleh getaran, kemudian menjadi tenang kembali, ketegangannya mengendur. Kai menarik napas panjang, mencoba menangkap aroma lemon alami Sehun.
Ketika keheningan menguasai mereka, Kai mendorong buku menu kembali ke arah Sehun. " Pilih apa yang mau kau pesan, atau kau mau duduk saja sambil memperhatikan aku makan. Itu terserah padamu. "
" Aku bisa pergi kapan saja aku mau. " ancam Sehun.
" Betul, tapi kau takkan melakukannya. " Ucap Kai dengan yakin.
" Oh, mengapa begitu? " Mata Sehun berkilat dan tubuhnya bergetar antusias.
" Kau takkan pergi karena kau tidak mau membuat Suho malu. Aku tidak sepertimu, aku akan memberitahunya kalau kau mencampakkanku. " Sahut Kai.
Sehun mengerutkan dahi. " Apa ini pemerasan? "
" Aku tidak memeras atau memaksamu. "
Sehun menghela napas kalah, ia membuka buku menu kembali. " Kau masih tetap memandangiku. "
" Ya, Aku akan selalu memandangimu. "
" Bisakah kau melihat ke arah lain? Ke buku menu, ke sirambut cokelat di seberang lorong. Ada si pirang dua kursi di belakang, kalau kalau kau tidak memperhatikan. " Ucap Sehun.
" Kau tidak pernah memakai parfum, bukan? " Tanya Kai.
Sehun mendongak dan balas menatap mata Kai. " Tidak, aku tidak pernah memakai parfum. "
" Bolehkah aku_ ? " Kai mengangguk ke salah satu tangan Sehun.
" Apa? " Tanya Sehun bingung.
Tentunya Kai tidak dapat mengatakan pada Sehun ia ingin menghirup wangi kulit wanita itu dari dekat. " Berhubung kita sedang makan malam, tentunya akan masuk akal kalau kita bersalaman untuk saling mengenalkan diri, bukankah begitu? Dan meskipun kau menolakku pada awalnya, aku masih berusaha tetap sopan dan mau mencobanya lagi. "
Saat Sehun tidak menjawab, Kai meraih ke seberang meja dan menggenggam tangan Sehun. Sebelum Sehun sempat bereaksi, Kai menarik lengan Sehun, ia membungkuk dan menempelkan bibirnya ke buku buku jari Sehun dan menghirup aroma kulit Sehun dalam dalam.
Reaksi tubuh Kai terhadap wangi tubuh Sehun berlangsung seketika. Ia bergeser untuk membuat sedikit ruang di celananya yang mengetat. Oh, ia benar benar tidak sabar untuk berduaan dengan Sehun di rumah.
.
.
.
Sehun berhenti bernapas ketika Kai melepaskan tangannya. Apa ia bermimpi? Ya, pasti ia sedang bermimpi. Tidak mungkin pria setampan ini mau mencium tangannya.
Pelayan bernama Leina datang kembali ke meja mereka dan ia kembali mendekatkan tubuhnya pada Kai. Sehun hanya menggeleng gelengkan kepala saat melihat hal itu.
" Apa sudah ada yang ingin Anda pesan? " Leina bertanya pada Kai.
Kai melirik ke seberang meja dan mengangkat sebelah alis. Sehun menggeleng dan mulai membolak balik lembaran buku menu.
" Oke, kita lihat apa yang ada disini, " Ucap Kai sambil membuka buku menu. " Aku pesan Chicken Alfredo, Chicken Steik, dan Cheeseburger. Kentang gorengnya doubel dan nachos. Ya, aku mau semuanya diberi nachos. Double juga. "
Sehun hanya bisa menatap takjub saat Kai menutup menu dan menunggu.
Leina terlihat salah tingkah. " Itu saja pesanan untuk Anda dan Adik Anda? "
Kai mendongak. " Pesanan tadi untukku saja. Dan dia teman kencanku, bukan Adikku. Sehun, kau mau pesan apa? "
" Ah.. Aku, aku pesan Caesar Salad saja. " Sahut Sehun.
Leina mengambil buku menu lalu pergi.
" Jadi, Sehun, ceritakan sedikit tentang dirimu? " Tanya Kai.
" Bagaimana kalau kita membicarakanmu saja? "
" Bisa saja aku menceritakan tentang diriku, tapi aku jadi tidak bisa mendengar suaramu. Aku ingin mendengar suaramu lagi dan lagi. " Sahut Kai.
Sehun berubah kaku, ia seperti mengingat seseorang pernah mengatakan hal yang persis sama.
Bicaralah. Aku ingin mendengar suaramu.
Katakan tidak tahu. Lagi dan lagi dan lagi. Lakukanlah.
Sehun bersumpah laki laki dihadapanya ini pernah mengatakan semua itu padanya, tapi ia belum pernah bertemu dengan pria ini. Kalau mereka pernah bertemu dia pasti ingat.
" Apa pekerjaanmu? " Tanya Kai.
" Eh... Aku asisten eksekutif. "
" Dimana? "
" Disalah satu biro hukum dikota ini. " Sahut Sehun. " Apa kita harus melakukan ini? "
" Melakukan apa? " Tanya Kai bingung.
" Melakukan semua sandiwara aku - ingin - mengenalmu - lebih - dekat - ini. " Ucap Sehun.
Kai mengerutkan dahi, bersandar ke belakang saat pelayan meletakkan sepiring besar nachos di meja.
Pelayan bernama Leina itu membungkuk dan membisik di telinga Kai. " Ssstt, jangan beritahu siapapun. Aku mengambil ini dari pesanan orang lain. Mereka bisa menunggu dan kau terlihat kelaparan. "
Kai mengangguk, tersenyum namun tak terlihat tertarik.
Harus kuakui pria bernama Jongin ini lumayan santun, pikir Sehun.
" Aku tidak heran basa basi membuatmu terganggu. " Komentar Kai.
" Kenapa kau berpikir seperti itu? "
" Karena kau telah melalui banyak hal. " Ucap Kai.
Sehun mengerutkan dahi. " Apa yang sudah dikatakan Suho padamu tentang diriku? "
" Tidak banyak yang dia beritahukan. " Jawab Kai.
" Jadi darimana kau tahu aku telah melalui apapun? " Tanya Sehun kembali.
" Hal itu terlihat dari matamu. " Sahut Kai.
Sehun menunduk malu, pipinya terasa memanas.
" Kau tahu, kau sangat cantik bila tersenyum. " Ucap Kai.
Sehun membuang muka.
" Ada apa? " Tanya Kai.
" Tolong berhentilah menebar pesona. Aku lebih suka meladeni basa basimu. " Lirih Sehun.
" Jujur, aku tidak menebar pesona. Aku berkata jujur saat bilang kau sangat cantik bila tersenyum. Sebenarnya aku adalah orang yang blak blakan bahkan cenderung kasar, kalau kau tidak percaya kau bisa bertanya pada saudara saudaraku. " Ucap Kai.
Jongin mempunyai saudara? Astaga, aku yakin saudaranya pasti sama tampannya dengan dia. Batin Sehun. " Berapa banyak saudara yang kau punyai? "
" Empat, sebenarnya lima tapi kami kehilangan salah satu saudara kami. " Kai meneguk air, seakan tak ingin Sehun melihat matanya.
" Aku turut menyesal, " Ucap Sehun pelan.
" Terima kasih, Aku sangat merindukannya. " Ucap Kai.
Pelayan wanita itu kembali lagi membawa baki yang penuh. Ketika piring piring dijajarkan di hadapan Kai dan salad Sehun pun sudah dihidangkan, wanita itu tak kunjung pergi sampai Kai mengucapkan terima kasih.
Kai menyantap hidangan yang dipesannya tadi dengan lahap. Sehun memandanginya dan merasa ia memakan dengan indah.
Tiba tiba Kai mendongak. " Kenapa? "
" Maaf, aku.. Ahhh.. " Sehun menyendok saladnya kemudian kembali memandangi Kai yang sedang makan.
" Kalau kau terus menatapku, aku akan tersipu malu. " Ucap Kai dengan nada bercanda.
" Maaf. " Lirih Sehun.
" Tidak perlu minta maaf. Sebenarnya aku suka saat kau memandangku. " Ucap Kai.
Tubuh Sehun terasa menggelenyar saat mendengar ucapan Kai tadi.
" Jadi apa yang kau lihat dari diriku? " Kai bertanya.
Sehun berdeham sebelum menjawab. " Etika makanmu benar benar bagus. "
" Well, benarkah? Padahal aku tidak terlalu memikirkan etika, yang kupikirkan hanyalah menikmati makanan ini. " Sahut Kai.
Sehun bertanya tanya apalagi yang bisa membuat Kai merasa nikmat selain makanan. Ya Tuhan, ia membayangkan bagaimana nikmatnya Kai saat berada di atasnya, jarinya yang panjang memasuki...
Tenggorokan Sehun menjadi kering dan ia buru buru menyambar gelasnya. " Tapi apa kau selalu... makan sebanyak itu? " Tunjuknya pada makanan yang memenuhi meja mereka.
" Sebetulnya ini masih tidak terlalu banyak. Aku mengurangi makanku karena perutku sedang tidak terlalu sehat. " Kai menaburkan sedikit garam pada kentang gorengnya. " Apa kau punya hobi? Atau minat? "
" Aku senang memasak. " Jawab Sehun.
" Benarkah? Aku suka makan. "
Sehun mengerutkan dahi, mencoba tidak membayangkan Kai duduk di meja dapurnya sedangkan ia memasak.
" Kau kesal lagi. " Ucap Kai.
Sehun mengibaskan tangan. " Tidak, aku sedang tidak kesal. "
" Ya, kau kesal. Kau tidak suka membayangkan memasak untukku, ya? " Tanya Kai.
Kejujuran Kai yang tanpa tedeng aling aling membuat Sehun berpikir ia dapat menceritakan apapun pada Kai dan pria itu pasti akan menjawab persis seperti yang dia pikirkan dan rasakan. Baik atau buruk.
" Jongin, apa kau tidak memiliki semacam penyaring di antara otak dan mulutmu? " Tanya Sehun sedikit sinis.
" Tidak juga, " Kai menghabiskan kentang gorengnya dan memindahkan piring kemudian ia mengambil piring berisi steik. " Bagaimana dengan orang tuamu? "
Sehun menarik napas panjang. " Ibuku meninggal sekitar empat tahun lalu. Ayahku tewas dalam situasi.. well, dia saat itu berada ditempat yang salah dan ia meninggal saat aku berumur dua tahun. "
Kai terdiam sejenak. " Pasti berat kehilangan mereka berdua. "
" Ya, memang. "
" Kedua orang tuaku juga sudah tiada. Tapi setidaknya mereka sempat menginjak usia tua. Kau punya saudara perempuan? Saudara laki laki? " Tanya Kai.
" Tidak, aku anak tunggal. "
" Kupikir Minho adalah saudara laki lakimu. Jadi bagaimana kau bisa mengenal Minho? " Tanya Kai kembali.
" Minho? Oh, Choi Minho. Bagaimana kau mengenalnya? Apa Suho menceritakan pemuda itu padamu? " Sehun bertanya balik.
" Ya, tapi Suho Cuma menceritakan sedikit. " Sahut Kai.
" well, sebenarnya aku juga tidak mengenalnya dengan baik. Dia hanya tiba tiba hadir dalam hidupku baru baru ini. Aku merasa dia pemuda yang istimewa, baik hati, meskipun aku punya firasat hidupnya tidaklah mudah. " Jelas Sehun.
" Kau kenal orang tuanya? "
Sehun menggeleng. " Dia bilang dia juga tidak mengenal orang tuanya. "
" Kau tahu dimana dia tinggal? " Tanya Kai kembali.
" Aku tahu dimana daerah dia tinggal. Itu bukan lingkungan yang bagus. " Ucap Sehun sedih.
" Apa kau menyelamatkannya, Sehun? "
Pertanyaan yang aneh, pikir Sehun.
" Kurasa Minho tidak perlu diselamatkan, tapi aku ingin menjadi temannya. Sesungguhnya, aku tidak begitu mengenalnya. Dia tahu tahu muncul di halaman belakang rumahku suatu malam. " Jelas Sehun.
Kai mengangguk, seakan Sehun telah memberi jawaban yang ia inginkan.
" Lalu bagaimana kau bisa mengenal Suho? " Tanya Sehun.
" Apa kau tak suka saladmu? " Tanya Kai tanpa menjawab pertanyaan Sehun.
Sehun melihat piringnya. " Aku tidak lapar. "
" Kau yakin? "
" Ya. " Sahut Sehun.
Setelah Kai menghabiskan burger dan nachosnya, ia mengambil buku menu kembali. " Apa kau mau makanan penutup, Sehun? " Tanyanya.
" Tidak, " Jawab Sehun singkat.
" Kau harus makan lebih banyak. " Pinta Kai.
" Saat makan siang tadi aku makan banyak. " Sahut Sehun.
Kai menggeleng. " Tidak, kau tidak makan banyak saat makan siang tadi. "
Sehun menyilangkan tangan di depan dada. " Darimana kau tahu? "
" Aku bisa mencium rasa laparmu. " Jawab Kai.
Sehun tercekat. Ya Tuhan, mata itu bercahaya kembali. Begitu biru, begitu terang, warna yang seakan tak kenal akhir, seperti lautan.
" Bagaimana kau bisa tahu aku... lapar? " Tanya Sehun bingung dan aneh.
Suara Kai berubah rendah hingga hampir menyerupai dengkuran. " Aku benar, bukan? Lalu, apakah bagaimana aku bisa tahu itu masih penting? "
Untunglah saat itu Leina datang mengambil piring kotor mereka dan mengubah suasana canggung diantara mereka. Begitu Kai memesan Apple Crisp dan kopiu, barulah Sehun merasa seperti menjejak ke bumi kembali.
" Apa pekerjaanmu, Jongin? " Tanya Sehun.
" Ini dan itu. " Jawab Kai sambil lalu.
" Akting? Modelling? " Tanya Sehun kembali.
Kai tertawa. " Bukan. Aku mungkin terlihat seperti model tapi aku lebih memilih jadi berguna. "
" Dan bagaimana caranya kau berguna? " Tanya Sehun bingung.
" Kurasa bisa dibilang aku semacam tentara. " Sahut Kai.
" Kau bergerak dalam bidang militer? " Tanya Sehun lagi.
" Well, bisa dibilang begitu. "
Yah, itu bisa menjelaskan aura mematikan yang dimiliki Kai. Kepercayaan diri. Tatapan tajamnya.
" Cabang apa? " Marinir, pikir Sehun. Atau mungkin SEAL. Dia terlihat setangguh itu.
Wajah Kai berubah kaku. " Aku hanya tentara biasa. "
Tiba tiba ada seorang wanita mendekati meja mereka dan wanita itu menyelipkan tissue yang berisikan nama dan nomor telepon ke tangan Kai. Ketika wanita itu mengedip ngedipkan mata dan melenggangkan pinggulnya, Sehun menekuri kedua tangannya. Dari sudut matanya ia melirik tasnya.
Waktunya pergi, pikir Sehun. Entah mengapa ia tak ingin melihat Kai menyelipkan tissue itu ke kantongnya meskipun pria itu berhak melakukannya.
" Yah, makan malam ini cukup... menyenangkan, " Ucap Sehun. Ia meraih tasnya dan bergeser dari kursi.
" Mengapa kau mau pergi? Kita belum selesai. " kerutan di dahi Kai membuatnya tampak seperti anggota militer sejati, jauh dari tipe pria seksi ala fotomodel.
Perasaan tak nyaman merebak di dada Sehun. " Aku lelah. Tapi terima kasih untuk makan malamnya. "
Sehun berdiri dan ketika berusaha melewati Kai, Kai meraih tangan Sehun, ia mengelus pergelangan tangan Sehun dengan ibu jarinya. " Tetaplah disini sementara aku makan makanan penutup. "
Sehun membuang muka dari wajah sempurna dan dada bidang Kai. Kembali ada seorang wanita yang mau mendekati meja mereka sambil membawa kartu nama ditangannya.
Sehun membungkuk. " Aku yakin kau bisa menemukan banyak wanita lain yang mau menemanimu. Bahkan, sekarang ada yang tengah menuju kesini. Aku akan mengatakan semoga beruntung dengannya, wanita itu kelihatan serius. "
Sehun langsung berjalan menuju pintu keluar. Udara dingin dan suasan yang relatif sunyi terasa melegakan baginya setelah hingar bingar suasana di dalam, namun ketika ia menuju mobil, ia mendapat firasat aneh dirinya tidak sendirian. Ia lalu menengok ke belakang.
Kai berada tepat dibelakangnya, meskipun Sehun telah meninggalkan pria itu di restoran. Sehun berputar, jantungnya berdegup kencang seperti hendak meloncat keluar dari rusuknya.
" Astaga ! Apa yang kau lakukan disini? " Tanya Sehun.
" Aku ingin mengantarmu sampai mobil. " Lirih Kai.
"Aku… ah. Tidak perlu. " Tolak Sehun.
" Terlambat, Sehun. Civic ini milikmu, bukan? "
" Bagaimana kau… "
" Lampu mobil ini menyala. Aku yakin kau sudah membuka kuncinya. " Sela Kai.
Sehun menjauh, tapi ketika melangkah mundur, Kai langsung maju. Saat punggungnya menabrak mobilnya sendiri, Sehun mengulurkan kedua tangannya ke depan. " Berhenti, Jongin. "
" Jangan takut padaku. " Pinta Kai.
" Kalau begitu jangan terlalu dekat denganku. " Mohon Sehun.
Sehun membuang muka dan mencoba memegang pegangan pintu mobilnya. Tangan Kai terulur ke depan, bertumpu pada celah diantara kaca dan atap mobil.
" Sehun? " Suara Kai yang dalam terdengar disisi kepala Sehun, membuat Sehun terperanjat.
Sehun merasakan godaan liar dari pria itu dan membayangkan tubuh Kai seperti sangkar yang mengurungnya. Ketakutannya tiba tiba berubah menjadi sesuatu yang nakal dan mendamba.
" Lepaskan aku, " Bisik Sehun.
" Belum. "
Sehun mendengar Kai menghirup napas dalam dalam seakan membauinya, lalu telinganya dibanjiri suara dentuman teratur, seolah Kai mendengkur. Tubuh Sehun terasa lunglai, memanas, kedua kakinya membuka seperti bersiap siap menerima Kai dalam dirinya.
Ya Tuhan, aku harus segera menyingkir dari pria ini, batin Sehun. Sehun memegang lengan atas Kai dan mendorong pria itu, tapi sia sia.
" Sehun? "
" Apa? " Bentak Sehun, ia benci karena terangsang ketika ia seharusnya takut. Demi Tuhan, Jongin adalah pria asing baginya, apalagi ia adalah seorang wanita yang hidup sendirian tanpa siapapun yang merindukannya kalau ia tidak pulang.
" Terima kasih karena tidak meninggalkanku makan malam sendirian. " Lirih Kai.
" Terima kasih kembali. Nah, bagaimana kalau kau lepaskan aku sekarang? " Pinta Sehun.
" Segera setelah kau membiarkanku memberimu ciuman selamat malam. " Bisik Kai.
Sehun harus membuka mulut untuk mendapatkan cukup udara bagi paru parunya. " Kenapa? " Tanyanya serak. " Kenapa kau mau melakukan itu. Kenapa kau mau menciumku? "
Tangan Kai jatuh ke bahu Sehun, ia memutar tubuh Sehun. Kai menaungi tubuh Sehun, menutupi pancaran cahaya dari restoran, lampu lampu di tempat parker.
" Biarkan aku menciummu, Sehun. " Tangan Kai meluncur ke leher Sehun dan ke wajahnya. " Sekali saja, oke? "
" Tidak, tidak. " Bisik Sehun.
Tiba tiba Kai menengadahkan kepala Sehun. Bibir Kai turun dan bibir Sehun bergetar. Sudah terlalu lama sejak ia terakhir kali dicium dan ia tidak pernah dicium oleh pria seperti Kai.
Sapuan bibir Kai terasa lembut, perlahan. Sama sekali tak terduga bila melihat perangai pria ini. Dan tepat saat sengatan panas melesat di payudara Sehun dan pusat hasratnya bergetar, ia mendengar desisan.
Kai mundur dan menatap Sehun dengan pandangan aneh. Lalu dengan gerakan menyentak, tangannya yang berat tersilang didepan dada, seperti sedang menahan diri.
" Jongin? "
Kai tidak menjawab, hanya berdiri disana, menatap Sehun. Bila Sehun tidak tahu apa apa, dia pasti mengira pria itu terguncang.
" Jongin, kau baik baik saja? "
Kai menggeleng sekali. Kemudian pria itu beranjak pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam, jauh meninggalkan Sehun seorang diri.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Masih ada yang berminat?
Review diatas 20 aku lanjut yaaaa ( Pwease jangan protes aku bikin target review, kalau gak suka aku bikin target review silahkan menjauh )
