LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 4
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )
RATED M
.
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
CERITA SEBELUMNYA
.
Sapuan bibir Kai terasa lembut, perlahan. Sama sekali tak terduga bila melihat perangai pria ini. Dan tepat saat sengatan panas melesat di payudara Sehun dan pusat hasratnya bergetar, ia mendengar desisan.
Kai mundur dan menatap Sehun dengan pandangan aneh. Lalu dengan gerakan menyentak, tangannya yang berat tersilang didepan dada, seperti sedang menahan diri.
" Jongin? "
Kai tidak menjawab, hanya berdiri disana, menatap Sehun. Bila Sehun tidak tahu apa apa, dia pasti mengira pria itu terguncang.
" Jongin, kau baik baik saja? "
Kai menggeleng sekali. Kemudian pria itu beranjak pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam, jauh meninggalkan Sehun seorang diri.
.
HAPPY READING
.
Kai menghentikan larinya setelah sampai di mansion. Ia tidak bisa menjelaskan persisnya sensasi dibalik kulitnya, hanya terasa seperti dengungan di otot ototnya dan tulang tulangnya. Yang ia tahu pasti hanyalah, ia belum pernah merasa seperti ini. Hal ini terjadi ketika bibirnya menyentuh bibir Sehun.
Sekarang setelah menjauh dari Sehun, sensasi di tubuhnya hilang dan masalah yang ia hadapi sekarang adalah kebutuhan tubuhnya akan pelampiasan membuatnya kejang kejang.
Kai melirik arlojinya. Ia ingin memburu lesser untuk sedikit mengurangi ketegangannya. Ia masuk ke garasi mansion lalu meraih serenceng kunci dari mantelnya, berjalan menuju Range Rover nya yang sudah dimodifikasi. Mesin mobil itu meraung hidup dan satu setengah menit kemudian ia sudah berada di jalanan. Ia tak tahu kemana ia pergi. Tak peduli.
Sehun. Ciuman itu.
Ya, Tuhan. Bibir Sehun terasa luar biasa manis ketika bergetar di bawah bibirnya, begitu indah hingga Kai ingin membuka bibir Sehun dengan lidah dan perlahan meluncur kedalamnya. Meluncur dan mundur, kemudian kembali lagi untuk merasakannya. Dan ia akan melakukan hal yang sama pada tubuh Sehun.
Kai menggelengkan kepalanya. Ia coba mengalihkan perhatiannya, bukannya ia tidak ingin mengingat Sehun tapi dengungan itu akan selalu ada saat ia memikirkan Sehun. Reaksi sialan itu sama sekali tidak masuk akal. Sehun menenangkannya, memberinya kenyamanan.
Ponselnya berdering dan ia mengeluarkan benda itu dari kantong. Ketika melihat caller ID- nya, ia mengumpat, namun tetap menjawab. " Hei, Kyungsoo. Aku baru saja akan menelponmu. "
" Aku baru saja melihat mobilmu keluar dari mansion. Apa kau berencana menemui wanita manusia itu? "
" Emm, sebenarnya aku sudah menemuinya. " Sahut Kai.
" Cepat sekali. Dia pasti sudah memperlakukanmu dengan baik. "
Kai mengertakkan gigi. Kali ini ia tidak bisa membalas. " Aku berbicara padanya tentang pemuda itu. Kita tidak perlu khawatir tentang itu. Dia menyukai pemuda itu dan merasa kasihan pada pemuda itu, tapi bila pemuda itu menghilang, dia takkan menimbulkan masalah. Oh, ya, dia juga baru saja bertemu dengan pemuda itu. "
" Bagus, Kai. Jadi mau kemana kau sekarang? "
" Hanya jalan jalan. "
Suara Kyungsoo melembut. " Kau kesal karena tidak bisa bertempur, bukan? "
" Tidakkah kau merasakan hal yang sama? "
" Tentu saja, tapi kau tidak perlu risau, besok malam kau bisa kembali beraksi. Sementara itu, kau bisa sedikit latihan di One Eye. " Kyungsoo tertawa perlahan. " Baiklah, kalau begitu selamat bersenang senang, "
" Ya, " Lirih Kai.
Kai mematikan ponselnya dan menepi ke sisi jalan. Ketika melihat sekeliling, ia sadar ia berada ditempat asing entah dimana dan yang ada cuma hutan. Ia menyenderkan kepalanya ke setir mobil.
Bayangan Sehun menghampirinya. Dan ia sadar ia lupa menghapus ingatan Sehun.
Lupa? Ya, benar. Ia tidak melakukan itu karena ingin menemui Sehun lagi dan ia ingin Sehun mengingatnya.
Oh, Tuhan... Ini benar benar buruk. Semuanya.
.
.
.
Sehun membolak balikkan badan di ranjang dan mendorong bed cover dan selimut dengan kakinya. Masih setengah tertidur, ia melebarkan kedua kakinya agar tubuhnya terasa sejuk.
Karena merasa masih terlalu panas, ia kemudian bangun dan membuka jendela di belakang ranjangnya. Udara sejuk memasuki ruangan dan membuatnya bernapas lega. Ia mengenakan sweter wol di atas t- shirt dan celana pendeknya, lalu menuruni tangga. Setiap langkahnya berjalan ke dapur, ia menyalakan setiap tombol lampu yang ia lewati hingga seluruh sudut gelap rumahnya menjadi terang.
Setelah sampai di dapur, ia mengambil teko kopi. Sehun memenuhi teko dengan air dan menuju lemari untuk mengambil kaleng kopi. Isinya hampir habis, jadi ia mengambil kaleng kopi persediaannya serta pembuka kaleng dan _
Sehun merasa ia tidak sendirian.
Sehun mencondongkan tubuh ke depan, melihat ke jendela di atas bak cuci piring. Tanpa cahaya dari luar, ia tak bisa melihat apapun, karena itu ia berjalan ke pintu geser dan menyalakan tombol dekat pintu.
" Ya, ampun ! " Kaget Sehun.
Sesosok gelap bertubuh tinggi ada disisi lain kaca jendelanya. Sehun bergegas meraih telepon, tapi tidak jadi saat melihat kilatan rambut pirang.
Kai mengangkat tangan memberi salam. " Hai. " Suaranya teredam kaca.
Sehun merangkul perut dengan kedua tangan. " Apa yang kau lakukan disini, Jongin? "
Kai mengangkat bahu dengan acuh. " Aku ingin bertemu denganmu. "
" Mengapa? Dan kenapa sekarang? "
Lagi lagi Kai mengangkat bahu. " Kelihatannya seperti ide bagus. "
" Apa kau sudah gila? " Tanya Sehun tidak percaya.
" Ya. "
" Bagaimana kau menemukanku? Apa Suho yang memberitahumu? " Tanya Sehun.
" Bolehkah aku masuk? Atau mungkin kau mau keluar, bila kau merasa nyaman begitu? " Tanya Kai.
" Jongin, ini jam setengah lima pagi. " Lirih Sehun.
" Aku tahu. Tapi kau sudah bangun, begitu juga aku jadi tidak ada salahnya kita bertemu dan mengobrol. " Sahut Kai.
Ya Tuhan, Jongin terlihat perkasa dengan setelan kulit hitamnya dan dengan wajah yang separo tertutup bayangan, Jongin terlihat lebih berbahaya tapi juga menggairahkan, pikir Sehun.
" Jongin, kurasa ini bukan ide bagus. "
Kai menatap Sehun lewat kaca. " Kalau begitu mungkin kita bisa bercakap cakap dengan cara ini? "
Sehun menatap Kai, terkesima. Pria ini bersedia berdiri disana, terkunci diluar rumah seperti penjahat, hanya supaya bisa bercakap cakap dengannya?
" Jongin, jangan tersinggung tapi ada sekitar seribu wanita di wilayah ini yang bukan hanya akan membiarkanmu masuk ke dalam rumah mereka tapi juga akan melayanimu. Mengapa kau tidak mencari salah satu dari mereka dan berhenti mengangguku? " Pinta Sehun.
" Mereka bukan kau. " Jawab Kai singkat. Kegelapan yang menimpa wajah Kai membuat matanya tidak bisa dibaca tapi nada suaranya terdengar sangat tulus.
Dalam jeda panjang setelahnya, Sehun mencoba meyakinkan diri untuk tidak membiarkan Kai masuk.
" Sehun, kalau aku mau menyakitimu, aku bisa langsung melakukannya. Kau bisa mengunci semua pintu dan jendela tapi aku pasti bisa tetap masuk. Yang aku inginkan hanyalah.. Mengobrol lebih banyak denganmu. " Pinta Kai.
Sehun menatap Kai. Pria itu tidak berbohong tentang kemampuannya memaksa masuk dan Sehun punya firasat bahwa jika ia berkata pada pria itu bahwa satu satunya yang bisa ia lakukan adalah membiarkan pintu tertutup di antara mereka, Jongin pasti akan menarik salah satu kursi taman dan duduk di teras.
Sehun menarik selot kumci, membuka pintu dan mundur selangkah. " Jelaskan satu hal padaku. "
Kai tersenyum ketika melangkah masuk. " Baik. "
" Mengapa kau tidak bersama dengan wanita yang menginginkanmu? " Kai berjengit. " Maksudku wanita wanita tadi malam di restoran, mereka jelas menawarkan diri padamu. Mengapa kau tidak _ " melakukan seks panas dan liar _ " eh... Bersenang senang dengan salah seorang dari mereka? "
" Aku lebih suka mengobrol denganmu ketimbang meniduri salah satu dari mereka. " Jawab Kai.
Sehun sedikit terperanjat dengan jawaban blakblakan Kai, sebelum menyadari Kai tidak bermaksud bersikap kasar hanya berterus terang.
Yah, setidaknya Sehun benar tentang satu hal : Ketika Kai pergi setelah ciuman lembut itu, ia beranggapan Kai pergi karena tidak merasakan apapun. Terbukti ia memang benar. Kai tidak berada disini, didalam rumahnya demi bercinta dengannya dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa Kai sama sekali tidak tertarik pada wanita jelek seperti dirinya.
" Aku baru akan membuat kopi. Kau mau? " Tanya Sehun.
Kai mengangguk dan berkeliling di ruang tamu, memperhatikan barang barang Sehun. Pakaiannya yang serba hitam membuatnya terlihat mengancam berada diantara kumpulan barang Sehun yang sederhana.
Sehun memperhatikan Kai dan ia melihat Kai tersenyum bahagia, sepertinya Kai senang berada didalam rumahnya.
" Kau mau melepas mantelmu? " Tanya Sehun.
Kai membuka mantel kulitnya dan melemparnya ke sofa. Mantel itu mendarat dengan bunyi keras, menekan bantal bantal sofa.
Apa yang ada didalam saku saku mantel itu? Pikir Sehun.
Namun ketika melihat ke tubuh Kai, Sehun melupakan mantel itu dan ia mulai memperhatikan tubuh atletis Kai.
" Apa kau menyukai apa yang kau lihat? " Kai bertanya dengan suara rendah dan tenang.
Sehun memutar matanya, tidak mungkin ia menjawab pertanyaan itu. Ia lalu berjalan ke dapur. " Kau ingin kopimu sepekat apa? "
Sehun mengambil pembuka kaleng, menusuk tutup kaleng dan mulai membuka kaleng secepat kilat. Bagian tutup kalengnya jatuh ke dalam dan jari Sehun terjulur untuk meraihnya.
" Aku tadi bertanya padamu, " Ucap Kai, tepat disamping telinga Sehun.
Sehun terkejut hingga ibu jarinya tergores kaleng. Sambil mengaduh, ia mengangkat tangan dan memeriksa lukanya. Goresannya cukup dalam dan mengeluarkan darah.
Kai mengumpat. " Aku tidak bermaksud mengagetkanmu. "
" Aku baik baik saja. " Sahut Sehun.
Sehun membuka keran tapi sebelum tangannya berada di bawah kucuran air, Kai membungkuk ke arah jari Sehun.
" Ini cukup parah. " Ucap Kai. Ia memasukkan ibu jari Sehun ke mulutnya dan mengisap perlahan.
Sehun terperangah. Rasa hangat, basah, sensasi isapan membuatnya kaku. Kemudian ia merasakan sapuan lidah Kai. Ketika Kai akhirnya melepaskan ibu jarinya, ia hanya bisa menatap pria itu.
" Oh... Maaf, aku lancang. " Ucap Kai.
Sehun terlalu terkejut tapi ia berusaha untuk mengucapkan sesuatu. " Seharusnya kau... Tidak melakukan itu. "
" Kenapa? " Tanya Kai.
Karena itu terasa nikmat, batin Sehun. " Bagaimana kau tahu aku tidak mengidap HIV atau semacamnya? "
Kai mengangkat bahu. " Tak ada pengaruhnya sekalipun kau mengidap HIV. "
Sehun berubah pucat, berpikir Kai pengidap HIV psoitif dan ia baru saja membiarkan luka terbuka masuk ke mulut pria itu.
" Tidak, Sehun. Aku tidak mengidap penyakit itu. " Ucap Kai.
" Lalu kenapa tak ada pengaruh _ "
" Aku hanya ingin menyembuhkan lukamu. Kau lihat? Lukamu tidak mengeluarkan darah lagi. " Sela Kai.
Sehun melihat ibu jarinya. Luka goresan itu kini tertutup bahkan hampir sembuh. Bagaimana mungkin _
" Sekarang apa kau akan menjawab pertanyaanku? " Tanya Kai, seakan sengaja memotong banyak pertanyaan yang akan diajukan Sehun.
Sehun menengadah, ia melihat mata Kai kembali bependar, mata biru kehijauan itu tengan bersinar secara tak wajar.
" Apa tadi pertanyaanmu? " Gumam Sehun.
" Apakah tubuhku membuatmu senang? "
Sehun mengatupkan mulut. " Dan apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak menyukainya? " Balasnya.
" Aku akan menutupi diriku. " Sahut Kai. Ia memiringkan kepala, seakan berpikir ia salah mengerti Sehun. Kemudian ia berjalan ke ruang duduk tempat mantelnya berada.
Demi Tuhan, ternyata Jongin tidak main main, pikir Sehun. " Jongin, kembalilah. Kau tidak perlu... Aku, eh, aku menyukai tubuhmu. "
Kai tersenyum dan ia kembali menghampiri Sehun. " Aku lega. Aku benar benar ingin memuaskanmu. "
Sehun tidak membalas perkataan Kai, ia berbalik dan melanjutkan membuat kopi. Ia dapat merasakan Kai mengawasinya. Ia mendengar Kai menarik napas dalam dalam, seakan Kai tengah membauinya. Ia juga merasakan Kai mulai mendekatinya sedikit demi sedikit.
Rasa panik melanda Sehun. Kai terlalu dekat. Panas dan hasrat yang dipancarkan Kai memanggilnya begitu kuat. Ketika teko sudah berada di atas kompor yang menyala, ia mundur dari Kai.
" Kenapa kau tak mau aku memuaskanmu? " Tanya Kai.
" Berhentilah mengucapkan hal itu. " Gumam Sehun.
" Sehun. " Suara Kai dalam, menggema dan merasuk. " Aku ingin _ "
Sehun menutupi kedua telinganya. Tiba tiba saja rasanya Kai terlalu menguasai rumahnya. Menguasai isi kepalanya.
" Ini ide buruk. Kurasa lebih baik kau pergi. "
Sehun merasakan tangan yang besar mendarat perlahan dibahunya. Ia menjauh dari jangkauan Kai, napasnya terasa sesak. Kai begitu sehat, penuh vitalitas dan daya tarik sensual dan ratusan hal yang tidak bisa dimilikinya. Begitu hidup, sedangkan ia sendiri... Kemungkinan akan sakit lagi.
Sehun menuju pintu dan membukanya. " Pergilah, Jongin. Kumohon, pergilah. "
" Aku tidak mau. " Tolak Kai.
" Keluar. Kumohon. " Pinta Sehun tapi Kai hanya diam menatapnya. " Ya ampun, kau seperti anjing liar yang tak bisa kusingkirkan. Kenapa kau tidak menganggu orang lain saja? "
Tubuh Kai yang kuat langsung kaku. Selama beberapa saat ia kelihatan seperti hendak mengatakan sesuatu yang kejam, tapi ia hanya berjalan lalu memungut mantelnya. Ia menyampirkan mantel kulit itu ke bahu dan menuju pintu, ia sama sekali tidak melihat ke arah Sehun.
Oh, bagus sekali. Sekarang aku merasa bersalah, pikir Sehun. " Jongin, Jongin, tunggu. " Ia memegang lengan pria itu. " Aku minta maaf. Jongin, aku _ "
" Jangan panggil aku seperti itu !" Bentak Kai.
Kai melepaskan diri dari genggaman Sehun, tapi Sehun melangkah dengan cepat ke depannya. Saat berada di depan Kai, Sehun menyesali semua perkataannya tadi. Sinar kedua mata Kai dingin tanpa ekspresi.
" Aku minta maaf kalau aku membuatmu tersinggung. Aku bisa membayangkan pasti luar biasa berat bagimu untuk memiliki seseorang yang ingin mengenalmu. " Kalimat yang diucapkan Kai terasa tajam menusuk.
" Jongin _ "
Kai mendorong Sehun ke samping dengan mudah. " Kalau kau menyebut nama itu sekali lagi, aku akan meninju menembus dinding. "
Kai mengambil langkah langkah panjang keluar, berjalan menuju hutan yang berakhir hingga ujung properti Sehun. Tanpa pikir panjang, Sehun menjejalkan kaki ke sepatu olah raganya, menyambar jaket dan keluar melalui pintu geser. Ia berlari melintasi halaman, memanggil Jongin. Ketika sampai di pinggir hutan, iapun berhenti. Tak ada patahan dahan, bekas injakan ranting dan tak ada terdengar suara langkah kaki. Padahal Kai pergi ke arah sini.
" Jongin? " Panggil Sehun sekali lagi.
Lama setelahnya, barulah Sehun membalikkan tubuh dan kembali ke dalam rumah.
.
.
.
Kai mengangkat barbel dari atas dada, mengertakkan gigi, tubuh bergetar, keringat mengucur deras dari tubuhnya.
" Sepuluh, " Seru Chen.
Kai kembali menaruh barbel ke penyangga di atasnya, ia mendengar benda itu berderit ketika diguncang bebannya sebelum akhirnya terdiam.
" Tambah dua puluh lima kilogram lagi. " Pinta Kai.
Chen menunduk di atas penyangga. " Kau sudah punya lima beban dua belas koma lima kilogram disitu, Kawan. "
" Dan aku butuh dua puluh lima lagi. "
Mata Chen menyipit memandang Kai. " Tenang, Kawan. Kalau kau mau membuat ototmu robek, itu urusanmu tapi jangan dihadapanku. "
Kai duduk dan mengendurkan lengannya yang terasa terbakar. Sekarang pukul sembilan pagi, ia dan Chen sudah berada di ruang angkat beban sejak jam tujuh. Tak ada bagian tubuhnya yang tidak terasa panas, tapi ia masih belum mau berhenti. Ia mencari kelelahan fisik yang bisa terasa hingga ke tulang.
Kai kembali berbaring, mengangkat barbel dari penyangganya, membiarkannya berada di atas dadanya. Ia mengatur napas sebelum mulai mengangkat beban.
Anjing liar.
Anjing liar.
Anjing liar.
Kai menggeram lalu melemparkan barbel dari tangannya. Chen yang melihat hal itu benar benar terkejut.
" Wuaaa, kawan. Apa yang terjadi padamu? Apa ini tentang wanita manusia itu? " TAnya Chen sambil mengangkat sebelah alisnya.
Kai menghela napas. " Wanita itu mengusirku dari rumahnya pagi ini setelah melukai harga diriku. "
" Senjata apa yang dia gunakan? " Tanya Chen.
" Persamaan yang sama sekali tidak menyanjung antara aku dan anjing liar. " Jawab Kai.
" Wah, " Takjub Chen. " dan tentu saja, itu membuatmu ingin sekali bertemu dengannya lagi. "
" Kurang lebih. " Ucap Kai sambil mengangkat bahu acuh.
" Kau menyedihkan, Kawan. "
" Aku tahu. " Lirih Kai.
Brakkk...
Suara pintu yang terbuka mendadak mengalihkan perhatian Kai dan Chen.
" Demi Tuhan, Kai ! " Kyungsoo menyerbu ke dalam ruang angkat beban dengan brutal. Padahal diantara mereka semua Kyungsoo lah yang paling tenang. Tapi kalau sampai Kyungsoo masuk dengan cara kasar seperti itu jelas ada hal gawat.
" Ada apa, Kyung? " Tanya Kai.
" Ada pesan buatmu di mailbox. Dari wanita manusia itu. Sehun. " Kyungsoo berkacak pinggang. " Kenapa dia bisa mengingatmu? Dan bagaimana dia bisa memiliki nomor kita? "
" Aku tidak pernah memberitahukan padanya nomor telepon kita. " Sahut Kai.
" Dan kau juga tidak menghapus ingatannya. Apa yang sebetulnya kau pikirkan? " Geram Kyungsoo.
" Dia takkan jadi masalah. " Ucap Kai.
" Dia sudah jadi masalah. Dia tahu nomor telepon kita. " Marah Kyungsoo.
" Tenang, Kyung... "
Jari Kyungsoo menunjuk ke arah Kai. " Hapus ingatannya sebelum aku yang melakukannya, kau mengerti? "
Kai bangkit dari bangku dan dalam sekejap sudah berhadapan dengan Kyungsoo. " Tak ada yang boleh coba coba mendekatinya, kecuali mereka mau berurusan denganku. Dan itu termasuk kau. "
Mata biru Kyungsoo menyipit. Mereka berdua tahu siapa yang akan menang bila mereka benar benar mencoba. Tak ada yang bisa mengalahkan Kai bila berhadapan secara langsung itu fakta yang telah terbukti.
Kyungsoo bicara dengan nada serius. " Aku ingin kau menarik napas panjang dan menjauh dariku, Kai. "
Ketika Kai bergeming, terdengar langkah di matras dan lengan Chen melingkari bahu Kai. " Bagaimana kalau kau menenangkan diri, Kai. " Bujuknya. " mari kita akhiri pembicaraan ini, oke? "
Kai membiarkan dirinya di tarik ke belakang oleh Chen, namun pandangannya tetap tertuju pada Kyungsoo. Ketegangan menguar di antara mereka.
" Apa yang terjadi? Ada apa denganmu, Kai? " Tanya Kyungsoo.
Kai melepaskan diri dari Chen dan mondar mandir di ruang angkat beban itu, mengatur kembali barbel yang tergeletak di lantai dan bangku bangku yang ada. " Tak ada. Tak ada yang terjadi. Dia tidak tahu kalau aku adalah Vampir dan aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan nomor kita. Mungkin Vampir wanita yang bernama Suho itu yang memberitahunya. "
" Tatap aku, Kai. Kai ! Berhenti bergerak dan tatap aku !"
Kai berhenti dan mengalihkan pandang.
" Kenapa kau tidak menghapus ingatannya? Kau tahu kalau ingatan mereka berubah menjadi ingatan jangka panjang, kau takkan bisa benar benar menghapusnya. Kenapa kau tidak melakukannya selagi kau punya kesempatan? " Keheningan terentang di antara mereka, Kyungsoo lalu menggelengkan kepalanya. " Jangan katakan padaku kau punya perasaan terhadapnya? "
" Terserah apa katamu, Kyung. " Ucap Kai.
" Kuanggap itu sebagai ya. Astaga, Kai... Apa yang kau pikirkan? Kau tahu tidak seharusnya terlibat dengan manusia dan terutama dengan wanita itu. " Tatapan Kyungsoo semakin tajam. " Aku memberimu perintah. Lagi. Aku ingin kau menghapus dirimu dari ingatan wanita itu dan aku tidak mau kau menemuinya lagi. "
" Aku sudah bilang, dia tidak tahu siapa aku _ "
" Apa kau mencoba bernegosiasi denganku dalam hal ini? Kau tak mungkin sebodoh itu. " Sela Kyungsoo.
Kai menatap tajam Kyungsoo. " Dan kau tak mungkin ingin membuatku menentangmu lagi. Kali ini, aku takkan membiarkan Chen menghentikanku. "
" Apa kau sudah mencium wanita itu dengan mulutmu? Apa yang akan kau katakan padanya tentang taring taringmu, Kai? " Ketika mata Kai terpejam dan ia mengumpat, nada suara Kyungsoo menurun. " Hadapilah kenyataan. Dia kerumitan yang tidak kita butuhkan dan dia masalah untukmu akrena kau lebih memilihnya ketimbang menuruti perintahku. Aku tidak melakukan ini untuk menyakiti harga dirimu, Kai. Begini lebih aman bagi semuanya, lebih aman bagi wanita itu. Kau akan melakukannya, kan Kai? "
Lebih aman untuk Sehun, batin Kai. Kai membungkuk dan meraih pergelangan kakinya, ia memeluk tubuhnya dengan kuat. Lebih aman untuk Sehun, batinnya lagi. " Aku akan mengurus masalah itu. " Kata Kai akhirnya.
.
.
.
" Miss Oh? Silakan ikut dengan saya. "
Sehun menengadah dan tidak mengenali perawat itu. Wanita itu terlihat begitu muda, sepertinya baru lulus.
" Miss Oh? " Si perawat memindahkan arsip tebal ditangannya.
Sehun menyampirkan tali tas dibahunya, ia berdiri lalu mengikuti perawat itu keluar dari ruang tunggu. Mereka berjalan melalui lorong dan berhenti di depan tempat check in.
" Saya akan menimbang Anda terlebih dahulu, kemudian mengukur suhu tubuh Anda. " Perawat itu tersenyum kembali.
" Berat badan Anda turun lumayan banyak, Miss Oh, " Kata si perawat sambil mencatat di arsipnya. Bagaimana pola makan Anda? "
" Tidak berubah. " Sahut Sehun.
" Baiklah, kalau begitu kita ke ruang periksa. Silakan, ruangannya ada disebelah kiri. "
Setelah sampai di ruang periksa, Sehun mengedarkan pandangannya dan mengamati ruangan. Ternyata ruangan di rumah sakit dimanapun mempunyai interior yang sama.
" Dokter Zhang bilang kalau beliau ingin memeriksa tanda vital Anda. " Si perawat memberi Sehun kain yang terlipat rapi. " Silakan kenakan ini, beliau akan segera datang. "
Baju rumah sakit juga sama semua. Tipis, berbahan katun lembut, berwarna biru dengan pola kecil warna pink. Ada dua pasang tali pengikat. Sehun tak pernah yakin cara yang benar mengenakan baju itu, dimana belahannya seharusnya terletak, didepan atau dibelakang. Hari ini ia pilih di depan.
Setelah selesai berganti pakaian, Sehun naik ke meja periksa. Rasanya dingin tanpa pakaiannya, kemudian ia memandangi seluruh pakaiannya yang terlipat rapi di kursi samping meja. Ia rela membayar berapapun untuk dapat mengenakan pakaiannya lagi saat ini.
Kringggg...
Ponsel didalam tas Sehun berbunyi. Sehun kembali turun dan berjalan untuk mengambil ponselnya. Ia tidak mengenali nomor di caller ID- nya dan tiba tiba saja perasaannya membuncah berharap yang menelponnya adalah Jongin. Ia menjawab dengan penuh harap. " Halo? "
" Sehun. "
Suara ini membuat Sehun lega. Tadinya ia yakin Jongin tidak akan membalas teleponnya.
" Hai, Jongin. Terima kasih sudah menelponku. " Sehun melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk selain meja periksa. Sambil memindahkan pakaiannya ke pangkuan, ia duduk di kursi. " Hei, aku benar benar minta maaf atas kejadian semalam. Aku hanya _ "
Tok... Tok...
Terdengar bunyi ketukan kemudian si perawat menjulurkan kepala. " Maaf, apakah Anda telah mengirim hasil pindaian tulang bulan Juli lalu kepada kami? "
" Tunggu sebentar, Jongin. " Setelah mengucapkan hal itu, Sehun memalingkan wajah ke arah si perawat. " Ya, aku sudah mengirimnya. Hasilnya seharusnya ada dalam catatan medisku. "
Si perawat mengangguk kemudian menutup pintu kembali.
" Kau ada dimana? "
" Aku, eh... " Sehun berdeham. " Tidak penting aku berada dimana. Aku hanya ingin kau tahu betapa aku merasa sangat tidak enak atas apa yang kuucapkan padamu. "
Jeda cukup panjang.
" Kenapa? "
" Kau membuatku.. Entahlah, kau... " Sehun memainkan ujung baju rumah sakitnya. Kata katanya pun mengalir begitu saja. " Aku mengidap kanker, Jongin. Maksudku, aku pernah mengidapnya dan mungkin penyakit itu kambuh lagi. "
" Aku tahu. "
" Jadi Suho memberitahumu. " Sehun menunggu pria itu untuk mengiyakan ketika Jongin tidak melakukannya, Sehun menarik napas dalam dalam. " AKu tidak menggunakan penyakit leukimiaku sebagai alasan atas sikap burukku. Hanya saja... Aku galau. Emosiku naik turun dan dengan adanya kau dirumahku... Memicu sesuatu dan akupun meledak. "
" Aku mengerti . "
Entah mengapa Sehun merasa Jongin benar benar mengerti. Tapi demi Tuhan , sikap diam pria itu benar benar membunuhnya. Sehun mulai merasa seperti orang bodoh karena tidak menutup telepon.
" Yah, hanya itu yang ingin kukatakan. " Ucap Sehun memecah keheningan.
" Akan kujemput kau malam ini pukul delapan dirumahmu. "
Sehun mencengkeram ponselnya. Ya Tuhan, ia sungguh sungguh ingin bertemu Jongin. " Aku akan menunggumu. "
Dari luar pintu ruang periksa,suara Dokter Zhang terdengar bersahut sahutan dengan perawat.
" Em, Sehun? "
" Ya. " Sahut Sehun.
" Geraikan rambutmu untukku. "
Tok... Tok.. Tok,,.
Terdengar ketukan dipintu dan Dokter pun masuk.
" Baiklah, akan kulakukan, " Sahut Sehun sebelum memutus sambungan. " Hai, Yixing. "
" Hai, Sehun. " Sapa Dokter Zhang. Ia melintasi ruangan sempit itu lalu duduk di belakang meja kerja dan menyilangkan kakinya. Ketika dia mempersiapkan diri untuk bicara, Sehun menggeleng geleng.
" Aku benci ketika aku benar. " Gumam Sehun.
" Tentang apa? " Tanya Yixing.
" Penyakit itu kembali, bukan? "
Hening sejenak. " Aku turut menyesal, Sehun. "
.
.
.
Sehun tidak kembali ke tempat kerja setelah pergi dari rumah sakit tadi. Sebaliknya, ia mengemudi kembali ke rumah, menanggalkan pakaian dan tidur. Hanya dengan telepon singkat ke kantor, ia mendapat libur hari ini dan sepanjang minggu berikutnya. Ia bakal membutuhkan waktu yang diberikan kepadanya ini. Tidak lama lagi, ia akan menjalani serangkaian tes, mendengarkan pendapat pendapat lain, lalu ia dan Dokter Zhang akan bertemu dan membicarakan pilihan pilihan terapinya.
Anehnya, ia sama sekali tidak terkejut. Dalam hati ia selalu tahu mereka hanya membuat penyakit itu mundur bukan menyerah. Atau mungkin ia tengah shock dan sakit menjadi hal biasa untuknya.
Sehun memejamkan mata, kelelahan telah menyedot habis kekuatannya. Ia tenggelam dalam kekosongan sementara yang ia dapatkan dan mensyukurinya. Ia tidur beberapa jam, keluar masuk alam sadar, bolak balik diranjang.
Sehun bangun pada pukul tujuh malam dan meraih telepon, ia menekan nomor yang diberikan Suho untuk menghubungi Jongin. Ia kemudian memutuskan telepon tanpa meninggalkan pesan. Mungkin lebih baik membatalkan rencana mereka karena ia takkan menjadi teman yang menyenangkan tapi entah mengapa ia sekarang ingin menjadi egois. Ia ingin melihat Jongin. Pria itu membuatnya merasa hidup dan saat ini Sehun sangat membutuhkan getaran itu.
Setelah mandi kilat, ia mengenakan rok dan turtleneck. Dalam cermin sepanjang badan yang terpasang di pintu kamar mandi, pakaiannya terlihat lebih longgar dibanding sebelumnya dan Sehun berpikir tentang berat badannya yang ditimbang Dokter pagi ini. Mungkin ia seharusnya makan seperti Jongin malam ini, karena toh tidak ada alasan baginya untuk berdiet. Bila ia akan menghadapi serangkaian kemoterapi, ia perlu menyimpan beberapa kilogram.
Pikiran itu membuatnya terpaku.
Tangannya terangkat kerambut, menariknya dari kulit kepala, membiarkannya melewati sela sela jarinya hingga jatuh ke bahunya. Gagasan akan kehilangan rambutnya membuatnya ingin menangis. Dengan ekspresi muram, Sehun lalu mengikat rambutnya, menyimpul lalu menjepitnya.
Sehun sudah keluar dari pintu depan dan menunggu di halaman depan beberapa menit kemudian. Udara dingin yang ia rasakan membuatnya terkejut dan membuatnya sadar bahwa ia lupa mengenakan mantel. Setelahnya ia kembali menunggu di halaman depan.
Geraikan rambutmu untukku, Sehun mengingat permintaan Jongin pagi tadi. Ia melepaskan jepit dan menyisir rambutnya dengan jemari sebaik yang ia bisa. Kemudian ia kembali terdiam.
Sehun terkejut karena tiba tiba Mobil sedan memasuki jalanan ke arah rumahnya. Mobil itu berhenti di depannya.
Kai keluar dari pintu pengemudi dan berjalan melewati bagian depan mobil. Dia mengenakan setelan berwarna gelap dengan kemeja berkerah warna hitam dibaliknya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, tebal berwarna keemasan dibagian leher belakang lehernya. Dia terlihat bak fantasi, seksi, kuat dan misterius. Hanya saja ekspresi di wajahnya jelas bukan mimpi. Matanya menyipit, bibir dan rahangnya kaku. Meskipun begitu, pria itu tersenyum simpul ketika menghampiri Sehun.
" Kau menggerai rambutmu. " Ucap Kai.
" Aku sudah bilang akan melakukannya, bukan. " Sahut Sehun.
Kai mengangkat tangan seakan hendak menyentuh Sehun tapi kemudian ia menurunkan tangannya kembali. " Kau siap pergi? "
Sehun mengangguk. " Kemana kita akan pergi? "
" Aku sudah memesan tempat di Excel. " Kai melihat ke arah lain, tiba tiba terdiam dan kaku.
Sehun yang melihat hal itu, menghela napas lelah. " Jongin, apa kau yakin mau melakukannya? Kelihatannya kau enggan malam ini. Terus terang aku juga. "
Kai melangkah mundur dan menatap ke bawah, sambil mengertakkan gigi.
" Kita bisa melakukannya lain kali. " Ucap Sehun, ia menganggap Jongin pria yang terlalu baik untuk membatalkan kencan tanpa menjanjikan lain kali. " Bukan masalah be _ "
Kai bergerak dengan cepat hingga Sehun tak dapat mengikuti gerakannya. Sesaat pria itu berada beberapa langkah darinya, detik berikutnya pria itu persis berada dihadapannya. Kai menangkup wajah Sehun dan menempelkan bibirnya ke bibir Sehun. Saat bibir mereka bersentuhan , Kai menatap mata Sehun. Tak ada gairah didalamnya, hanya tekad kuat yang mengubah ciuman itu menjadi semacam ikrar. Kai melepaskan ciuman mereka dengan terburu buru mengakibatkan Sehun jatuh terjengkang dan mendarat tepat di bokongnya.
" Ah, Sehun, maafkan aku. " Kai berlutut. " Kau tidak apa apa? "
Sehun mengangguk meskipun ia tidak merasa seperti itu. Ia merasa kikuk dan bodoh tergeletak di rumputnya seperti ini.
" Kau yakin kau baik baik saja? "
" Ya. " Sehun mengabaikan tangan Kai yang terulur, ia berdiri sendiri lalu mengibas ngibaskan pakaiannya. Untunglah roknya berwarna cokelat dan tanahnya kering.
" Ayo kita pergi makan malam, Sehun, ayo. " Ajak Kai.
Tangan yang besar itu meluncur ke tengkuk Sehun dan Jongin membimbingnya ke mobil tanpa memberikan Sehun pilihan kecuali mengikutinya. Meskipun memang tak terpikir oleh Sehun untuk melawan. Segalanya membuatnya kewalahan, terutama Jongin. Lagipula, sesuatu terjadi di antara mereka segera setelah bibir mereka bersentuhan. Ia tak tahu apa itu atau apa artinya namun ikatan itu terasa.
Kai membuka pintu penumpang dan membantu Sehun masuk ke mobil. Ketika pria itu duduk di kursi pengemudi, Sehun melihat ke sekeliling interior mobil yang tanpa cela itu.
Kai menyalakan mesin mobil dan dengan perlahan membawa mobil keluar menyusuri jalanan kecil di depan rumah Sehun hingga tanda berhenti di Route 22. Kai melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian membelok ke kanan, suara mesin terdengar naik turun seperti napas ketika ia memindahkan gigi lagi dan lagi sampai akhirnya mereka rasanya meluncur.
" Ini mobil yang luar biasa. " Kagum Sehun.
" Terima kasih. Saudaraku yang memodifikasinya untukku. Kyungsoo dan Chen suka mobil. "
" Berapa usia Saudara Saudaramu? " Tanya Sehun.
Kai tersenyum kaku. " Cukup tua. "
" Lebih tua darimu? " Tanya Sehun lagi.
" Ya. " Jawab Kai singkat.
" Apa kau yang termuda? "
" Bukan, tapi ini tidak seperti itu. Kami bukan Saudara kandung karena dilahirkan oleh wanita yang sama. " Jelas Kai.
" Apa kalian diadopsi kedalam keluarga yang sama? "
Kai menggeleng. " Apa kau kedinginan? "
" Eh, tidak. " Sehun menekuri tangannya sendiri yang ditekan kuat ke pangkuannya. Begitu kuat hingga bahunya tertekuk ke depan. Yang menjelaskan kenapa Jongin berpikir ia kedinginan. Ia lalu mencoba merilekskan tubuhnya. " Aku baik baik saja. "
Sehun melihat lewat kaca depan. " Seberapa cepat mobil ini dapat melaju? " ia bergumam.
" Sangat cepat. " Sahut Kai bangga.
" Tunjukkan padaku. " Pinta Sehun.
Sehun dapat merasakan tatapan Jongin di sampingnya kemudian pria itu memindahkan gigi mobil ke yang lebih tinggi, menekan pedal gas dan membawa mereka melesat.
Mesin mobil mengaum seakan bernyawa, bergetar ketika pepohonan terlihat kabur menjadi tembok gelap. Mereka melesat dan semakin melesat namun Kai tetap terlihat dapat mengendalikan mobil ketika mereka menikung, bergerak masuk dan keluar dari jalur mereka. Saat Kai mulai mengurangi kecepatan, Sehun meletakkan tangannya di paha pria itu. " Jangan berhenti. " Ucapnya.
Keraguan Kai hanya berlangsung beberapa saat. Kemudian ia meraih ke depan dan menyalakan stereo. Dream Weaver, lagu wajib tahun 70- an, membanjiri seisi mobil dengan suara yang memekakkan telinga. Kai menginjak pedal gas dan mobil itu pun melejit, membawa mereka dengan kecepatan yang berbahaya dijalan sepi tak berujung itu.
Sehun menurunkan kaca jendela, membiarkan udara masuk. Embusan angin yang kuat menerpa rambutnya dan mendinginkan pipinya, membangunkannya dari rasa kebas yang menguasai dirinya sejak ia meninggalkan klinik dokter. Ia mulai tertawa dan meskipun ia dapat mendengar sedikit histeria didalam suaranya, ia tak peduli. Ia menjulurkan kepalanya ke angin dingin yang menderu dan membiarkan Kai dan mobilnya membawanya pergi.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Kemarin ada yang nanya kok namanya ada Kai ama Jongin. Gini, aku bukan typo untuk nama itu. Kai disini kan seorang vampir dan dia nyembunyiin identitasnya makanya dia memperkenalkan diri ke Sehun pake nama Jongin. Emm, kalian gak meresapi ceritanya ya hehehe kan ada di chapter 2 atau 3 yang Kai memperkenalkan diri sebagai Jongin. Makanya terkadang ada nama Kai ato Jongin. Sekarang udah paham? Kalau belum paham bisa PM aku kok.
Dan ada juga yang nanya tentang masalah Pejuang. Jadi ceritanya Kai dan saudara2nya yg akan bermunculan di FF ini berperan sebagai Pejuang dari Klan vampir yang melindungi spesies vampir dari para Lesser ( kalo lesser udah aku kasih note di chapter 2 kalo gak salah ) .
Hehehe segitu aza deh note aku. Kalo masih berminat ama FF nya review yang banyak yaaaaa...
Aku masih kasih target di atas 20 review aku pasti lanjutin.
