LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 5

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )

RATED M

.

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

Mesin mobil mengaum seakan bernyawa, bergetar ketika pepohonan terlihat kabur menjadi tembok gelap. Mereka melesat dan semakin melesat namun Kai tetap terlihat dapat mengendalikan mobil ketika mereka menikung, bergerak masuk dan keluar dari jalur mereka. Saat Kai mulai mengurangi kecepatan, Sehun meletakkan tangannya di paha pria itu. " Jangan berhenti. " Ucapnya.

Keraguan Kai hanya berlangsung beberapa saat. Kemudian ia meraih ke depan dan menyalakan stereo. Dream Weaver, lagu wajib tahun 70- an, membanjiri seisi mobil dengan suara yang memekakkan telinga. Kai menginjak pedal gas dan mobil itu pun melejit, membawa mereka dengan kecepatan yang berbahaya dijalan sepi tak berujung itu.

Sehun menurunkan kaca jendela, membiarkan udara masuk. Embusan angin yang kuat menerpa rambutnya dan mendinginkan pipinya, membangunkannya dari rasa kebas yang menguasai dirinya sejak ia meninggalkan klinik dokter. Ia mulai tertawa dan meskipun ia dapat mendengar sedikit histeria didalam suaranya, ia tak peduli. Ia menjulurkan kepalanya ke angin dingin yang menderu dan membiarkan Kai dan mobilnya membawanya pergi.

.

HAPPY READING

.

Kai masuk ke halaman parkir Excel dan melewati petugas valet. Bukannya ia tidak mau menyerahkan mobilnya ini tapi ia tidak bisa menyerahkan sembarangan mobilnya karena didalam bagasinya terisi senjata dan amunisi yang banyak. Ia memilih tempat kosong di belakang, dekat pintu samping. Ketika mematikan mesin, ia meraih sabuk pengamannya dan... Tak melakukan apa apa dengan benda itu. Ia hanya duduk disana, tangannya memegang klip.

" Jongin? "

Kai memejamkan mata. Astaga, ia rela memberikan apapun untuk mendengar Sehun menyebut nama aslinya sekali saja. Dan ia ingin... Brengsek, ia menginginkan Sehun telanjang di ranjangnya, dengan kepala Sehun dibantalnya dan tubuh Sehun berada di atas seprainya. Ia menginginkan Sehun untuk dirinya sendiri, hanya mereka berdua. Ia menginginkan kuku kuku Sehun dipunggungnya dan lidah wanita itu dimulutnya, merasakan pinggul Sehun bergerak seirama hunjamannya hingga ia mencapai puncak dan terbutakan oleh hasrat. Kemudian ia ingin tidur sambil memeluk tubuh Sehun. Terbangun, kemudian makan dan bercinta kembali. Mengobrol dalam kegelapan tentang sesuatu yang konyol sekaligus serius _

Oh Tuhan. Ia tengah menjalin ikatan dengan Sehun. Jalinan itu sedang terjadi.

Kai mendengar jalinan ini biasa terjadi pada pria. Cepat. Kuta. Tak logis. Hanya kekuatan, insting primitif yang mengambil alih dan yang terkuat adalah desakan untuk memiliki Sehun secara fisik dan menandainya dalam proses itu sehingga pria lain akan tahu kalau Sehun sudah memiliki pasangan.

Kai melirik tubuh Sehun dan menyadari ia akan membunuh laki laki manapun yang mencoba menyentuh Sehun. Kai mengusap matanya. Ya, dorongan untuk menandai Sehun jelas sedang bekerja. Dan itu bukanlah satu satunya masalah. Dengungan aneh itu kembali muncul ditubuhnya, terpicu oleh bayangan Sehun dibenaknya - wangi tubuh dan suara lembut Sehun.

Dan aliran darah Sehun.

Kai ingin merasakan Sehun... Minum darinya.

Sehun berbalik menghadap Kai. " Jongin, apakah kau _ "

Suara Kai terdengar kasar saat menyela. " Aku harus memberitahumu sesuatu, Sehun. " Aku adalah seorang vampir. Aku prajurit. Aku makhluk buas berbahaya. Di penghujung malam ini, kau takkan ingat pernah bertemu denganku. Dan gagasan diriku tidak berada dalam ingatanmu membuatku merasa seperti ditikam di dada. Kai benar benar ingin mengucapkan hal itu.

" Jongin? Ada apa? " Tanya Sehun khawatir.

Kata kata Kyungsoo terngiang dalam benak Kai. Lebih aman bagi wanita manusia itu. " Tidak apa apa, " Akhirnya ia berkata sambil melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.

Kai mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Sehun, ia mengulurkan tangan untuk membantu Sehun turun dari mobil. Ketika telapak tangan Sehun diletakkan di atas telapaj tangannya, Kai menurunkan kelopak matanya. Ia melihat tangan dan kaki Sehun membuat otot ototnya berkedut dan geraman pelan muncul ditenggorokannya.

Dan sialannya, bukannya menjauh Kai malah membiarkan Sehun mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan. Gelenyar dibawah kulitnya terasa semakin kencang dan kuat bersamaan dengan gelora hasratnya terhadap Sehun. Kai tahu seharusnya ia memalingkan wajah karena selaput irisnya agak bercahaya. Tapi ia tidak bisa memalingkan wajahnya dari Sehun.

" Jongin? " Panggil Sehun lirih. " Matamu... "

Kai memejamkan mata. " Maaf. Ayo kita masuk _ "

Sehun menarik tangannya dari genggaman Kai. " Kurasa aku tidak ingin makan malam. "

Reaksi pertama Kai adalah mendebat, tapi ia tak ingin memaksa Sehun. Lagipula, semakin sedikit waktu yang mereka habiskan bersama, semakin sedikit ingatan yang harus ia hapus. Sialan, umpat Kai dalam hati. Harusnya ia menghapus ingatan Sehun ketika ia tiba dirumah wanita itu tadi.

" Aku akan mengantarkanmu pulang. " ucap Kai.

" Tidak, aku tidak ingin pulang. Maksudku, maukah kau berjalan jalan denganku sebentar? Ditaman disebelah sana? Aku hanya tak ingin berdiam dimeja. Aku terlalu... Gelisah. "

Kai memasukkan kunci mobil ke sakunya. " Aku akan senang sekali jalan jalan denganmu. "

Mereka berjalan dirumput dinaungi dedaunan aneka warna, Kai mengawasi sekitar mereka. Tak ada yang berbahaya, tak ada ancaman yang bisa ia rasakan. Ia melihat ke atas. Bulan sabit menggantung dilangit.

Sehun tertawa kecil. " Aku biasanya tidak mau melakukan hal ini. Kau tahu, pergi ke taman saat malam. Tapi bersamamu? Aku merasa aman, aku tidak merasa takut apapun. "

" Bagus, kau tidak perlu takut. " Ucap Kai. Tentu saja Sehun tidak perlu takut karena ia akan mencincang siapapun yang mencoba menyakiti wanitanya, baik itu manusia, vampir ataupun hantu.

" Rasanya salah. " Gumam Sehun. " Berada diluar dalam kegelapan, maksudku. Membuatku merasa agak nakal dan takut. Ibuku selalu memperingatkanku tentang bepergian pada malam hari.

Sehun berhenti, memiringkan kepala ke belakang dan menatap ke atas. Perlahan ia mengulurkan tangan kelangit dengan telapak tangan terbuka. Ia memejamkan sebelah matanya.

" Apa yang kau lakukan? " Tanya Kai.

" Memegang bulan dengan tanganku. " Lirih Sehun.

Kai membungkuk dan mengikuti garis lengan Sehun dengan tatapannya. " Ya, kau sedang melakukannya. "

Sambil menegakkan tubuh, Kai menyelipkan tangan di pinggang Sehun dan menarik wanita itu mendekat. Setelah sesaat merasa kaku, Sehun kembali santai dan menjatuhkan tangannya.

Astaga, betapa Kai menyukai wangi tubuh Sehun. Begitu bersih dan segar.

" Kau sedang berada ditempay praktik Dokter saat aku menelpon hari ini. " Ucap Kai.

" Ya. " Jawab Sehun.

" Apa yang akan mereka lakukan padamu? "

Sehun melepaskan diri dan kembali berjalan. Kai mengikuti langkahnya, membiarkan Sehun yang menentukan kecepatan.

" Apa yang mereka katakan padamu, Sehun? " Tanya Kai lagi.

" Kita tidak perlu membicarakan semua itu. " Sahut Sehun lirih.

" Mengapa tidak? "

" Apa gunanya kalau kau tahu? " Tanya Sehun enteng. " Playboy sepertimu tak seharusnya mengurusi bagian bagian tak menarik dalam kehidupan wanita sepertiku. "

" Aku terbiasa dengan sesuatu yang tak menarik, percayalah. " Ucap Kai.

Sehun berhenti lagi, menggeleng gelengkan kepalanya. " Kau tahu, rasanya ada yang salah tentang semua ini. "

" Betul. Aku seharusnya memegang tanganmu sambil berjalan. " Sahut Kai.

Kai mengulurkan tangan hanya untuk mendapati Sehun menarik diri. " Aku serius, Jongin. Mengapa kau melakukan hal ini? Ada disini bersamaku? "

" Kau membuatku pusing, Sehun. Apa salahnya menghabiskan sedikit waktu denganmu? " Tanya Kai.

" Kau ingin aku menjelaskan, kenapa kau tidak seharusnya bersama wanita sepertiku? Aku wanita berpenampilan biasa yang punya masa hidup dibawah rata rata. Kau tampan. Sehat. Kuat _ "

Kai melangkah ke depan Sehun dan meletakkan tangan dipangkal leher wanita itu. Ia akan mencium Sehun lagi, meskipun seharusnya tidak. Dan ini takkan seperti ciuman yang ia berikan didepan rumah wanita itu.

Kai menunduk, getaran aneh ditubuhnya meningkat, tapi hal itu tidak membuatnya untuk berhenti. Ia takkan membiarkan tubuhnya mengaturnya malam ini. Ia menekan kuat dengungan itu, Kai menahankan perasaannya dengan kekuatan tekad. Ketika ia berhasil menekannya sedikit, ia pun merasa lega. Ia bertekad mencecap Sehun, meskipun hanya lidahnya didalam mulut Sehun.

.

.

.

Sehun menengadah ke mata biru Kai. Ia berani bersumpah kedua mata itu berkilat kilat dalam kegelapan, cahaya biru hijau itu sungguh sungguh datang dari mata Kai. Hal itu membuat bulu kuduknya meremang.

" Jangan pedulikan cahayanya, " Ucap Kai lembut, seakan membaca pikiran Sehun. " Itu bukan apa apa. "

" Aku tidak memahamimu. " Sehun berbisik.

" Tak usah mencoba memahamiku. " Sahut Kai.

Kai menghapus jarak diantara mereka, semakin menunduk. Bibirnya bergerak lembut dibibir Sehun, berlama lama disana. Lidahnya keluar dan membelai bibir Sehun.

" Buka bibirmu, Sehun. Biarkan aku masuk. "

Kai terus menjilat hingga bibir Sehun terbuka. Lidah Kai meluncur kedalam mulut Sehun, membuat hasrat Sehun meningkat dan iapun merapatkan diri ke tubuh Kai, sergapan rasa panas terasa menusuk ketika payudaranya bertemu dengan dada Kai. Sehun berpegangan pada bahu pria itu, berusaha untuk lebih dekat lagi ke semua otot dan kehangatan tubuh Kai.

Sehun hanya merasakan keberhasilan sesaat. Mendadak, Kai menciptakan jarak diantara rubuh mereka, meskipun pria itu tetap membuat kontak dengan bibirnya. Sehun bertanya tanya apakah pria ini terus menciumnya untuk menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya Jongin tidak menginginkannya. Atau mungkin Jongin mencoba menenangkan diri sedikit karena Sehun terlalu agresif atau semacamnya?

Sehun memalingkan kepala memutus ciuman mereka. Benang saliva terbentang diantara mereka.

" Ada apa? Kenapa melepas diri? " Tanya Kai. " Kau menyukainya? "

" Ya, aku menyukainya tapi ternyata tidak cukup menyukainya untuk kita berdua. " Sahut Sehun lirih.

KAi menghentikan Sehun yang melangkah pergi dengan menolak melepaskan pegangannya dileher wanita itu.

" Aku tidak ingin berhenti, Sehun. " Ibu jari Kai membelai kulit tenggorokan Sehun, menekan rahang wanita itu dan kembali mengarahkan kepala Sehun kehadapannya. " Aku ingin membuatmu bergairah. Cukup bergairah hingga kau tidak merasakan apapun selain aku. Jadi jangan pikirkan apapun kecuali apa yang aku lakukan padamu. Aku ingin kau meleleh. "

Kai menunduk dan mencium bibir Sehun, menyelinapkan lidahnya kedalam mulut Sehun dan mulai menguasai mulut panas itu. Ia mencari seluruh sudut sudut mulut Sehun hingga tak ada tempat yang belum dijelajahinya. Kemudian ia mengubah ciumannya, maju mundur, ritme yang melelahkan Sehun dan semakin siap untuknya.

" Emmhh.. Jonginhh.. "

" Benar begitu, Sehun. " Ucap Kai didepan bibir Sehun. : Bebaskan dirimu. Astaga, aku bsia mencium hasratmu... Kau luar biasa indah. "

Tangan Kai turun, menuju ke kerah jaket Sehun, ketulang selangkanya. Ya ampun, Sehun sungguh tersesat dalam diri pria ini. Bila Jongin menyuruhnya menanggalkan pakaian, Sheun pasti akan melakukannya. Bila Jongin menyuruhnya merebahkan diri, ia pasti akan melakukannya juga. Apapun. Apapun yang diminta pria itu, selama dia jangan berhenti menciumnya.

" Aku akan menyentuhmu, Sehun. " Ucap Kai. " Tak cukup hanya dengan ciuman saja, hampir tidak cukup. Tapi sedikit... " Jemari Kai bergerak ke turtleneck kasmir Sehun, semakin kebawah dan kebawah, lalu _

Tubuh Sehun tersentak merasakan tangan Jongin menyentuh putingnya yang mengencang dan menegang.

" Oh, begitu siap untukku, " Gumam Kai, ia mencubit perlahan. " Aku berharap bisa mengulumnya. Aku ingin merasakannya, Sehun. Maukah kau membiarkanku melakukannya? "

Telapak tangan Kai membuka dan merangkum payudara Sehun.

" Maukah kau, Sehun, bila kita berduaan saja? Bila kita ada ditempat tidur yang hangat? Bila kau telanjang untukku? Apakah kau akan membiarkanku mengecap putingmu? " Ketika Sehun mengangguk, Kai tersenyum senang. " Ya, tentu saja. Dimana lagi kau menginginkan mulutku berada? "

Kai mencium Sehun dengan kuat saat Sehun tidak menjawab. " Beritahu aku, sayang. "

Napas Sehun memburu. Ia tak bisa berpikir. Tak bisa bicara.

Kai meraih tangan Sehun dan melingkarkannya di salah satu tangannya sendiri. " Kalau kau tidak bisa mengatakannya, tunjukkan padaku, Sehun. " Bisik Kai ditelinga Sehun. " Tunjukkan padaku kemana kau ingin tanganku pergi. Tuntun aku. Ayo. Lakukanlah. "

Sehun meraih telapak tangan Kai dan meletakkannya dilehernya. Dalam sapuan perlahan, Sehun membawa tangan Kai kembali ke payudaranya. Kai menggumamkan persetujuan dan mencium sisi rahang Sehun.

" Ya, disana. Kita berdua tahu kau ingin aku kesana. Kemana lagi? " Tanya Kai dengan napas terengah.

Kehilangan kesadaran maupun kendali, Sehun menarik tangan Kai turun keperutnya. Kemudian ke pinggulnya.

" Bagus. Itu bagus. " Ucap Kai memberi semangat. Ketika Sehun tampak ragu, Kai berbisik. " Jangan berhenti, Sehun. Teruskan. Tunjukkan kemana kau ingin tanganku pergi. "

Sebelum kehilangan keberaniannya, Sehun meletakkan tangan Kai diantara kedua kakinya, tepat didepan lipatan vaginanya. Roknya yang longgar membuka jalan, membiarkan jemari Kai masuk.

" Eeunngghhh... " Sehun mengerang saat merasakan telapak tangan Kai menyentil klitorisnya.

" Oh, ya, Sehun. Benar. " Kai mengusap dan Sehun mencengkeram otot otot lengan Kai, kepala Sehun terdorong ke belakang. " Kau begitu bergairah. Apakah kau siap untukku, Sehun? Kurasa ya... "

Karena ingin sekali menyentuh kehangatan kulit Kai, Sehun menyelipkan tangannya ke balik jaket Kai kemudian pinggang pria itu. Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, Kai menarik tangannya keluar dan memegang pergelangan tangan Sehun dengan satu tangan. Jelas Kai tidak berhenti sampai disitu. Ia mendorong Sehun kebelakang dengan dadanya, hingga Sehun merasakan pohon ditulang belikatnya.

" Sehun, biarkan aku membuatmu merasakan kenikmatan. " Bisik Kai. Melalui rok Sehun, jarinya meraba dan menekan klitoris Sehun. " Aku ingin membuatmu mencapai puncak kenikmatan. Disini, saat ini juga. "

" Aaaahhhhhh... Jonginhhh... " Sehun menjerit, ia sadar dirinya berada di ambang jurang kenikmatan dan ia merasa Jongin menjaga jarak dengannya, pria itu sendiri hanya menjadi pengendali hasrat yang tidak merasakan apapun napas Jongin datar, suaranya tenang, tubuhnya tidak terpengaruh.

" Tidak, " Sehun mengerang.

Tangan Kai berhenti mengusap vagina Sehun. " Apa? "

" Tidak, " Sehun menggelengkan kepalanya.

" Kau yakin? " Tanya Kai.

" Ya. " Lirih Sehun.

Kai mundur seketika. Sehun memandang Kai yang berdiri dengan tenang dihadapannya sedangkan ia mencoba mengatur napasnya kembali.

Persetujuan Jongin yang begitu cepat membuat Sehun terluka, tapi ia penasaran mengapa pria itu melakukan apa yang barusan dilakukannya. Mungkin tiba tiba Jongin kehilangan kendali. Oh, pasti, ia benar benar merasa bodoh sekarang. Jongin memilihnya karena ia tidak begitu menarik dan ia akan lebih mudah disingkarkan daripada wanita cantik dan seksi. Rasa malu membuat dada Sehun terasa tercekat.

" Aku ingin pulang. " Ucap Sehun, rasanya ia ingin menangis. " Aku ingin pulang. "

Kai menarik napas dalam dalam. " Sehun _ "

" Kalau kau berpikir untuk minta maaf, aku akan muntah _ "

Tiba tiba Kai mengerutkan dahi dan Sehun mulai bersin.

Ada apa dengan udara disekitar, kenapa hidungku tiba tiba saja gatal. Ada sesuatu di udara, manis, seperti bau bedak bayi? Pikir Sehun.

Kai mencengkeram erat lengan atas Sehun. " Tiarap. Sekarang juga. "

" Mengapa? Apa _ "

" Tiarap ! " Kai menekan Sehun hingga berlutut. " Tutupi kepalamu. "

Seraya berputar, Kai menempatkan diri di depan Sehun, kaki terbuka lebar, tangan didepan dada. Dari antara kaki pria itu, Sehun melihat dua pria keluar dari balik pohon. Mereka berpakaian serba hitam, kulit mereka pucat dan rambut mereka berkilauan dibawah cahaya bulan. Kekejaman yang terpancar dari mereka membuat Sehun menyadari betapa jauh mereka berjalan dalam taman.

Sehun merogoh tasnya untuk mencari ponsel dan mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanyalah sebuah mimpi.

Sehun melihat kedua pria itu berpencar dan menyerang Jongin dari dua sisi, datang dengan cepat dan membungkuk rendah. Sehun berteriak memperingatkan, tapi Jongin... Ya Tuhan, Jongin tahu apa yang harus dia lakukan. Jongin menerjang ke sebelah kiri dan menyambar lengan pria yang satu, menjatuhkan pria itu ke tanah. Sebelum pria itu sempat bangun, Jongin menginjak dadanya, menahannya di tanah. Penyerang yang lain merasakan cekikan Jongin, menendang nendang dan meronta ronta, kehabisan napas dan tidak bakal bisa kemana mana.

Serius, mematikan. Jongin tampak dapat mengendalikan diri, seperti terbiasa dengan kekerasan. Dan ekspresinya yang tenang dan dingin amat menganggu Sehun, meskipun ia lega karena Jongin menyelamatkan mereka berdua.

Akhirnya Sehun menemukan ponselnya dan mulai menekan 911, ia berpikir Jongin dapat menahan kedua pria itu hingga polisi datang membantu. Kemudian Sehun mendnegar suara kertakan yang mengerikan. Ia mendongak. Pria yang dicekik oleh Jongin tadi roboh ke tanah, kepalanya terjuntai aneh dari lehernya. Pria itu tidak bergerak.

Sehun buru buru berdiri. " Apa yang kaulakukan, Jongin? "

Jongin mengambil belati hitam entah darimana dan berjalan menghampiri pria yang diinjaknya dengan sepatu bot. Pria itu merayap ditanah, mencoba melarikan diri.

" Tidak! " Sehun melompat kehadapan Jongin.

" Mundur! " Suara Jongin membuat merinding. Datar. Sangat tidak peduli.

Sehun memegang lengan Jongin. " Hentikan! "

" Aku harus menyelesaikan _ "

" Aku takkan membiarkanmu membunuh la _ "

Seseorang menjambak rambut Sehun dengan kasar dan melemparnya. Lagi, seorang berpakaian hitam lainnya menyerang Jongin. Rasa nyeri melesat ke kepala dan leher Sehun karena ia terhempas keras ke tanah. Benturan itu membuatnya kehabisan napas dan matanya berkunang kunang. Ia tengah berjuang menghisap udara keparu parunya ketika lengannya dicengkeram kuat kuat dan ia diseret pergi dengan cepat.

Tubuhnya berdebam ke tanah, giginya terkatup rapat. Sehun mengangkat kepalanya meskipun itu membuat tulang punggungnya nyeri. Apa yang dilihatnya adalah kelegaan yang mengerikan. Jongin kembali melempar tubuh yang tak bernyawa ke rumput dan mengejarnya dengan kecepatan penuh. Kaki panjang pria itu memperkecil jarak, jaketnya berkibar kibar dibelakangnya, ia memegang belati ditangannya. Matanya menyala terang dalam kegelapan malam.

Syukurlah, Jongin baik baik saja, batin Sehun.

Tapi kemudian ada pria lain yang menghantam punggung Jongin. Jongin kembali memberikan perlawanan. Sehun merasa cengkeraman pria yang berada dibelakangnya mulai melonggar dan Sehun mulai melepaskan diri sekeras mungkin. Pria itu berbalik dan kembali menangkapnya tapi pegangannya tidak sekuat tadi. Sehun menarik lagi, memaksa penyerangnya berhenti dan berputar.

Sehun berjengit siap dipukul, namun berharap setidaknya ia membuat Jongin mendapat waktu untuk mengejar. Akan tetapi tak ada pukulan yang mengenainya. Malah, lolongan kesakitan terdengar dari pria penyerangnya tadi yang kemudian jatuh menimpanya, tubuhnya yang berat menindih tubuh Sehun. Rasa panik dan ketakutan memberi Sehun kekuatan untuk menyingkirkan tubuh itu darinya. Tubuh pria itu berguling lunglai. Belati Jongin menancap di mata kanannya.

Terlalu shock untuk menjerit, Sehun buru buru berdiri dan berlari secepat yang ia bisa. Ia yakin dirinya akan tertangkap lagi, yakin dirinya bakal mati. Cahaya lampu restoran muncul dalam jarak pandangnya. Ketika ia merasakan aspal tempat parkir, ia ingin menangis penuh syukur. Hingga ia melihat Jongin berdiri di hadapannya. Sehun berhenti mendadak, terengah, pusing, tak mengerti kenapa Jongin bisa kembali kesini lebih dulu daripadanya. Lututnya melemas dan Sehun menyandarkan tubuhnya ke salah satu mobil.

" Ayo kita pergi, " Jongin berkata dengan kasar.

Dalam sergapan rasa dingin, Sehun teringat bunyi leher yang patah dan belati hitam yang menembus mata penyerangnya. Dan kendali Jongin yang dingin dan kejam.

Jongin adalah... Kematian. Kematian dalam kemasan indah.

" Menjauhlah dariku, " Sehun tersandung kakinya sendiri dan tangan Jongin terulur untuk meraihnya. " Tidak ! Jangan sentuh aku. "

" Sehun _ "

" Menjauhlah dariku !" Sehun mundur ke arah restoran, tangannya terangkat untuk menghalau Jongin. Meskipun ia tahu itu takkan berguna untuk melawan pria itu.

Jongin mengikuti Sehun, bergerak dengan tangkas. " Dengarkan aku _ "

" Aku harus... " Sehun berdeham. " Aku harus menelepon polisi. "

" Tidak, kau tak perlu melakukan itu. " Tolak Jongin.

" Kita baru saja diserang ! Dan kau... Membunuh seseorang. Orang orang. Kau membunuh orang orang. Aku akan menelepon _ "

" Ini urusan pribadi. Polisi takkan bisa melindungimu. Aku bisa. " Sela Jongin.

Sehun tercekat, kebenaran yang mengerikan menyingkap siapa sebenarnya Jongin. Semuanya masuk akal. Kekejaman yang disembunyikan pria itu dibalik pesonanya. Tak ada rasa takut ketika mereka diserang. Kebulatan tekad pria itu untuk tidak berurusan dengan Polisi.

Jongin tidak ingin ia menghubungi Polisi karena pria itu melawan hukum. Jongin tidak lebih baik daripada para pria yang menyerang mereka tadi. Sehun meraih ke bawah tangannya untuk memegang tas, berniat lari lagi. Tapi ia menyadari tasnya tidak ada.

Jongin mengumpat dengan kasar. " Kau kehilangan tasmu, bukan? " Ia melihat ke sekelilingnya. " Dengar, Sehun, kau harus ikut bersamaku. "

" Tidak mau. " Tolak Sehun. Ia mencoba lari ke restoran, namun Jongin melompat ke hadapannya, menghalanginya dan menarik tangannya. " Aku akan menjerit !" Ia melihat petugas parkir. Petugas itu mungkin sekitar tiga meter darinya. " Aku akan berteriak sekencang kencangnya. "

" Hidupmu dalam bahaya, tapi aku dapat nelindungimu. Percayalah padaku, Hun. " Bujuk Jongin.

" Aku tidak mengenalmu. "

" Ya, kau mengenalku. " Ucap Jongin.

" Benarkah, aku mengenalmu? Apa karena kau berwajah tampan, jadi aku bisa mempercayaimu? " Tanya Sehun sinis.

Jongin menunjuk ke arah taman. " Aku menyelamatkanmu disana. Kau takkan hidup saat ini bila bukan karena aku !"

" Baiklah. Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkanku. Sekarang tinggalkan aku !" Seru Sehun.

" Aku tak ingin melakukan hal ini, " Gumam Jongin. " Aku sungguh tak ingin. "

" Melakukan apa? "

Jongin mengibaskan tangan di depan wajah Sehun. Dan mendadak Sehun tak ingat lagi apa yang membuatnya begitu marah.

.

.

.

Berdiri dihadapan Sehun yang ingatannya berada dalam kekuasaannya, Kai menghela napas lelah. Menghapus ingatan akan dirinya saat bertarung di taman dari Sehun seperti menghapus noda. Begitu mudah.

Ia meninggalkan setidaknya satu, mungkin dua lesser hidup hidup di taman ketika ia mengejar Sehun tadi. Bila para lesser itu mengambil tas Sehun - dan Kai harus berasumsi mereka telah mengambilnya, maka Sehun akan menjadi incaran mereka.

Tapi apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak bisa meninggalkan Sehun sendirian di rumah karena alamatnya tercantum di tanda pengenal, dan rumah Sehun pasti akan menjadi tempat pertama yang didatangi oleh lesser.

Membawa Sehun ke hotel juga bukan pilihan, karena tak ada jaminan wanita itu akan tetap disana Sehun takkan memahami mengapa ia harus meninggalkan rumahnya karena takkan ingat serangan tadi.

Sebenarnya yang ingin Kai lakukan adalah membawa Sehun pulang ke Mansionnya setidaknya sampai ia bisa berpikir bagaimana cara membereskan semua ini. Masalahnya, kalau ia membawa Sehun ke Mansionnya walaupun secara diam diam, cepat atau lambat salah satu dari Saudaranya pasti akan mengetahui Sehun ada dikamarnya dan itu akan jadi kabar buruk bagi semuanya. Karena manusia tidak boleh masuk ke dunia mereka. Terlalu berbahaya.

Tapi bagaimanapun ia bertanggung jawab atas hidup Sehun. Dan peraturan itu ada memang untuk dilanggar.

Mungkin ia bisa membuat Kris mengijinkan Sehun tinggal karena Kris adalah Raja mereka. lagipula sikap dan sifat Kris lebih lunak daripada Kyungsoo. Dan Kyungsoo pasti tidak bisa menolak keputusan Suaminya sendiri, bukan.

Hanya saja selagi ia membujuk Kris, Sehun harus terjaga aman. Kai memikirkan rumah Sehun. Letaknya terpencil, jadi bila terpaksa bertarung ia dapat melakukannya tanpa mengkhawatirkan Polisi manusia ikut campur. Ia bisa membuat Sehun aman.

Kai melepaskan ingatan Sehun, menghapus ingatan wanita itu sampai setelah mereka turun dari mobil. Kai mendesah kecewa karena Sehun tidak akan ingat dengan ciuman mereka.

Yang, mengingat situasinya, merupakan hal yang bagus. Brengsek. Ia mendesak Sehun terlalu jauh, terlalu cepat. Sementara bibir dan tangannya menyentuh bibir dan tangan Sehun, dengungan ditubuhnya meningkat menjadi jeritan. Terutama ketika Sehun meraih telapak tangannya dan meletakkan tangannya di antara paha wanita itu.

" Jongin? " Sehun menatap Jongin bingung. " Apa yang terjadi? "

Kai merasa sangat tidak enak ketika melihat mata Sehun melebar dan menyelesaikan mengubur ingatan wanita itu. Kai menyapu bersih ingatan banyak wanita manusia sebelumnya dan tak pernah berpikir dua kali tentang itu. Tapi dengan Sehun, rasanya seperti mengambil sesuatu dari wanita itu. Seperti melanggar privasinya. Mengkhianatinya.

Kai menyisir rambut dengan tangan, meraih sejumput dan ingin mencabutnya dari kepala. " Jadi kau ingin melewatkan makan malam dan kembali ke tempatmu? Aku tidak keberatan. Aku bisa menggunakan waktu itu untuk menenangkan diri. "

" Baik, tapi... Aku merasa seperti ada hal lain yang harus kita lakukan. " Sehun menunduk mengamati dirinya sendiri dan mulai menepis rumput dari tubuhnya. " Walaupun mengingat apa yang telah kulakukan dengan rokku ini ketika kita meninggalkan rumah, mungkin aku memang sebaiknya tidak keluar rumah, mungkin aku memang sebaiknya tidak keluar ke muka umum. Kau tahu, kukira aku sudah membersihkan sisa sisa rumput dari - Tunggu sebentar, dimana tasku? "

" Mungkin kau meninggalkannya di mobil? " Jawab Kai.

" Tidak, aku - ya ampun. " Sehun mulai gemetar tak terkendali, napasnya pendek pendek, membur. Matanya tampak panih. " Jongin, maafkan aku, aku... Aku butuh... Oh, sialan. " Adrenalin menaglir deras dalam tubuhnya. Pikirannya mungkin tenang tapi tubuhnya entah kenapa diliputi rasa takut.

" Kemarilah, " Ucap Kai, ia meraih tubuh Sehun. " Biarkan aku memelukmu hingga semuanya berlalu. " Sambil bergumam perlahan pada Sehun, ia menahan tangan Sehun didepan agar tidak menemukan ujung belati di bawah lengan atau pistol Beretta 9mm dipunggungnya. Matanya melihat ke sekeliling, melihat bayangan taman dikiri dan restoran dikanan. Ia setengah mati ingin segera membawa Sehun masuk ke mobil.

" Aku merasa begitu malu, " Ucap Sehun, suaranya teredam di dada Kai. " Sudah lama aku tak pernah mengalami serangan panik. "

" Jangan risaukan hal itu, " Ucap Kai menenangkan. Setelah Sehun berhenti gemetar, ia menarik Sehun. " Ayo pergi. "

Kai mendesak Sehun masuk ke mobil dan merasa lebih baik ketika ia memasukkan gigi dan keluar dari tempat parkir.

Sehun melihat ke sekeliling mobil. " Astaga. Tasku tak ada disini ! Aku pasti meninggalkannya di rumah. Aku pelupa sekali hari ini. " Ia bersandar ke kursi dan meraba raba sakunya. " Aha ! Setidaknya aku masih memiliki kunci rumahku. "

Perjalanan kerumah Sehun berlangsung cepat dan lancar. Sehun menguap setelah melihat halaman depan rumahnya. Kai berhenti dan Sehun hendak membuk pintu tapi Kai mencegah Sehun dengan menyentuh lengannya.

" Biarkan aku menjadi gentleman dan membukakannya untukmu. " Pinta Kai.

Sehun tersenyum dan menurunkan tatapannya seakan tidak terbiasa ada pria yang mengurusinya.

Kai keluar sambil mengendus udara, ia menggunakan mata dan telinganya untuk menembus kegelapan. Tidak ada apa apa. Sunyi. Tenang.

Sambil melangkah mengitari mobil, Kai membuka bagasi, mengeluarkan tas besar dan berhenti lagi. Semuanya tenang, termasuk indranya yang mudah terusik.

Saat ia membukakan pintu untuk Sehun, Sehun mengerutkan dahi melihat apa yang tersampir dibahu Kai.

Kai menggeleng. " Tidak, aku tidak akan menginap. Kunci bagasiku rusak dan aku tak ingin barang ini tak terjaga. Itu saja. " Sialan, ia benci harus berbohong pada Sehun. Hal itu sungguh membuatnya mual.

Sehun mengangkat bahu dan berjalan ke pintu depan rumahnya. " Isinya pasti penting sekali. "

Ya, sangat penting sekali. Isinya hanya beberapa senjata yang bisa menghancurkan gedung kantor sepuluh lantai. Tapi rasanya senjata ini tetap saja tidak cukup untuk melindungimu, Sehun. Batin Kai.

Sehun terlihat canggung ketika membuka kunci pintu depannya dan melangkah masuk. Kai membiarkan Sehun masuk dari satu ruangan ke ruangan lain, meyalakan semua lampu dan menghilangkan kegugupannya, namun ia tetap mendampingi Sehun. Sambil mengikuti, ia memeriksa pintu dan jendela dengan sekilas pandang. Semua terkunci. Tempat itu aman, setidaknya dilantai dasar.

" Kau mau makan sesuatu? " Tanya Sehun.

" Tidak, aku tidak lapar. " Sahut Kai.

" Aku juga tidak. "

" Ada apa dilantai atas? " Tanya Kai dengan santai.

" Eh.. Kamar tidurku. "

" Maukah kau menunjukkannya padaku? " Kai harus memeriksa tingkat dua.

" Mungkin nanti. Maksudku, apakah kau benar benar perlu melihatnya? " Sehun berhenti mondar mandir dan menatap Kai sambil berkacak pinggang. " Aku akan langsung saja. Tak pernah ada pria yang masuk ke rumah ini dan aku tidak pandai beramah tamah. "

Kai menjatuhkan tasnya. Meskipun siap bertarung, ia masih punya cukup sisa energi mental untuk mencerna kata kata Sehun. Fakta bahwa pria lain tak pernah berada ditempat pribadi Sehun membuatnya begitu senang hingga hatinya membuncah.

" Kurasa kau cukup lumayan, " Gumam Kai. Ia mengulurkan tangan dan mengelus pipi Sehun dengan ibu jari, berpikir tentang apa yang ingin ia lakukan bersama Sehun di kamar tidur. Mendadak tubuhnya mulai bereaksi, panas dalam tubuhnya yang aneh mulai menebal di tulang belakangnya. Ia memaksa tangannya ke sisi tubuhnya. " Aku harus menelepon sebentar. Boleh kugunakan lantai atas untuk sedikit privasi? "

" Tentu saja. Aku akan... Menunggu disini. "

" Aku takkan lama. " Sambil berlari kecil ke kamar tidur Sehun, Kai mengambil ponselnya dari saku. Benda itu retak, mungkin karena tendangan salah satu lesser, tapi masih bisa bekerja. Ketika ia masuk ke voice mail Kris, ia meninggalkan pesan singkat dan berdoa Kris meneleponnya secepat mungkin.

Setelah melakukan pemeriksaan cepat dilantai atas, Kai kembali turun. Sehun berada di sofa, kedua kaki terlipat di bawah tubuhnya.

" Jadi, apa yang kita tonton? " Kai bertanya, melihat ke pintu dan jendela mencari wajah wajah pucat.

" Kenapa kau melihat kesana kemari seoalh tempat ini tidak aman? " Tanya Sehun.

" Maaf, kebiasaan lama. " Sahut Kai.

" Kau pasti tergabung dalam unit militer yang luar biasa. " Gumam Sehun.

" Apa yang mau kau tonton? " Kai menuju rak tempat koleksi DVD Sehun.

' Kau yang pilih. Aku akan berganti pakaian ke... " Sehun tersipu. " ... Ke pakaian yang lebih nyaman tanpa rumput yang menempel. "

Untuk memastikan Sehun aman, Kai menunggu di bawah tangga ketika wanita itu bergerak di kamar tidur. Begitu Sehun hendak turun lagi, Kai buru buru menghampiri rak DVD lagi.

Sekilas pandang ke koleksi film Sehun, Kai tahu ia berada dalam masalah. Banyak sekali judul asing, beberapa judul yang sangat Amerika. Beberapa film klasik seperti An Affair to Remember. Casa - norak - blanca.

Sama sekali tidak ada film action ataupun horor. Tunggu, masih ada harapan. Kai menarik salah satu wadah. Nosferatu, Eine Symphonie des Grauens, film vampir klasik dari Jerman buatan tahun 1922.

" Apakah kau menemukan sesuatu yang kausukai? " Sehun bertanya.

" Ya. " Kai menoleh ke belakang.

Oh... Man. Pakaian Sehun cocok untuk menonton film cinta, sejauh yang diketahui Kai : celana piyama flanel dengan motif bulan dan bintang. Kaus putih kecil, selop tidur berbulu.

Sehun menarik bagian bawah kausnya, mencoba menariknya lebih ke bawah lagi. " Aku berpikir untuk mengenakan jeans, tapi aku lelah, dan inilah yang kupakai untuk tidur... Eh, untuk bersantai. Kau tahu, tidak terlalu berlebihan. "

" Aku suka melihatmu mengenakannya. " Ucap Kai dengan suara rendah. " Kau terlihat nyaman. " Persetan dengan itu. Sehun terlihat enak untuk dimakan.

Setelah filmnya mulai diputar, Kai mengambil tasnya, membawanya ke dekat sofa dan duduk di ujung sofa yang berseberangan dengan Sehun. Ia meregangkan otot otot dalam tubuhnya agar telihat rileks, padahal sebenarnya ia sangat tegang. Di antara menunggu lesser mencoba menerobos masuk, berdoa Kris akan segera mehubunginya dan ingin mencium Sehun hingga ketempat yang sangat pribadi, ia merasa benar benar setegang kabel baja.

" Kau bisa meletakkan kakimu dimeja, kalau mua. " Ucap Sehun.

" Terima kasih, Hun. " Kai mematikan lampu disebelah kirinya, berharap Sehun akan tertidur. Setidaknya dengan begitu ia dapat berkeliaran dan memeriksa bagian luar rumah tanpa membuat Sehun kesal.

Lima belas menit setelahnya, Sehun berkata. " Maaf, tapi aku mulai mengantuk. "

Kai melirik Sehun. Rambut Sehun tergerai ke belakang bahu dan dia meringkuk. Kulitnya berkilauan dan sedikit merona dalam cahaya dari televisi, matanya mulai sayu. Seperti inilah Sehun akan terlihat ketika bangun pagi, pikir Kai.

" Tidurlah, Sehun. Aku akan tinggal sedikit lebih lama lagi, oke? "

Sehun menarik selimut krem lembut ke tubuhnya. " Silahkan kau tinggal. Tapi, eh, Jongin _ "

" Tunggu. Maukah kau memanggilku dengan... Namaku yang lain? " Tanya Kai.

" Oke, apa? " Sehun tersenyum.

" Kai. "

Sehun mengerutkan dahi. " Kai? "

" Ya. "

" Ah, tentu saja, Kai. Apakah itu julukan atau semacamnya? "

Kai memejamkan mata. " Ya. "

" Yah, Kai... Terima kasih untuk malam ini. Karena bersedia bersikap baik padaku. " Ucap Sehun.

Kai mengumpat dalam hati, berpikir Sehun seharusnya menamparnya alih alih berterima kasih. Ia hampir saja membuat Sehun terbunuh. Sekarang Sehun menjadi target lesser. Dan bila Sehun tahu setengah saja dari yang ingin Kai lakukan terhadapnya, Sehun mungkin akan mengunci diri di kamar mandi.

" Tak apa. " Sehun bergumam.

" Apa? " Tanya Kai bingung.

" Aku tahu kau hanya ingin berteman. " Sahut Sehun.

Teman? Pikir Kai bingung.

Sehun tertawa kaku. " Maksudku, aku tak mau kau berpikir aku menyalahartikan ciumanmu saat menjemputku tadi. Aku tahu itu bukan... Kau tahu. Pokoknya, kau tak perlu risau aku akan salah paham. "

" Mengapa kau berpikir aku khawatir kau salah paham? " Tanya Kai.

" Kau duduk disisi lain sofa sekaku papan. Seolah takut aku akan menerjangmu. " Sahut Sehun.

Kai mendengar suara diluar, dan matanya langsung mengarah ke jendela kiri. Tapi itu hanya daun yang terkena kaca.

" Aku tidak bermaksud membuatmu canggung, " Gumam Sehun. " Aku hanya ingin... Kau tahu, memastikan itu padamu. "

" Sehun. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. " karena kebenaran akan membuat Sehun takut. Dan Kai sudah berbohong terlalu banyak pada Sehun.

" Jangan katakan apapun. Aku mungkin seharusnya tidak menyinggung hal itu. Yang kumaksud hanyalah, aku senang kau ada disini. Sebagai teman. Aku senang sekali bisa naik mobilmu. Aku tak butuh lebih darimu, sungguh. Kau sungguh teman yang baik. " Ucap Sehun.

Napas Kai tersentak. Sepanjang usia dewasanya, tak ada seorang wanitapun menyebutnya teman. Atau menghargai kehadirannya sebagai hal lain selain seks.

Kai berbicara dalam bahasa kuno, ia berbisik. " Aku hampa akan kata kata, Perempuanku. Karena tak ada suara dari mulutku yang layak untuk pendengaranmu. "

" Bahasa apa itu? " Tanya Sehun bingung.

" Bahasa yang kudapat ketika lahir. " Sahut Kai.

Sehun memiringkan kepala, berpikir. " Kedengarannya hampir seperti bahasa Prancis, tapi tidak juga. Ada sedikit Slavia disana. Apakah itu bahasa Hungaria atau semacamnya? "

Kai mengangguk. " Pada dasarnya, ya. "

" Apa yang kaukatakan dengan bahasa itu tadi? " Tanya Sehun lagi.

" Aku juga senang berada disini denganmu. Itu yang kuucapkan tadi. " Sahut Kai.

Sehun tersenyum dan membaringkan kepalanya.

Setelah tahu Sehun telah tertidur, Kai membuka ritsleting tasnya dan memeriksa ulang isi senjata senjata disana. Kemudian ia berjalan didalam rumah, mematikan setiap lampu. Ketika keadaan gelap gulita, matanya mulai beradaptasi dan indranya semakin kuat.

Kai memindai hutan dibelakang rumah. Padang rumput sebelah kiri. Rumah pertanian Suho yang berada cukup jauh dari rumah Sehun. Jalanan didepan.

Kai mendengarkan, mendeteksi bunyi jejak binatang yang melewati rumput dan menyadari desau angin yang mengenai papan rumah. Ketika temperatur diluar semakin turun, perlahan ia memeriksa setiak celan dalam rumah, menguji, mencari kemungkinan penerobosan. Ia berkeliaran dari satu ruang ke ruang lain, hinnga ia berpikir dirinya bakal meledak. Ia memeriksa ponselnya tapi tetap tidak ada balasan dari Kris, ia mengumpat lalu mulai berkeliaran lagi.

Film berakhir. Ia memutar ulang film itu kalau kalau Sehun terbangun dan ingin tahu mengapa ia masih disini. Kemudian kembali ke lantai atas. Ketika tiba di ruang tamu, Kai mengusap keringat di alisnya. Rumah Sehun lebih hangat daripada suhu yang biasanya ia tahan. Atau mungkin ini karena ia gelisah. Entah alasan yang mana, ai merasa gerah sehingga melepas jaket dan meletakkan senjata dan ponselnya didalam tas.

Seraya menggulung lengan bajunya, Kai berdiri dihadapan Sehun dan memperhatikan napas Sehun yang pelan dan datar. Sehun terlihat begitu mungil di sofa itu. Ia lalu duduk disamping Sehun, perlahan lahan menggeser tubh Sehun hingga wanita itu bisa beristirahat dilekuk lengannya.

Sehun terbangun, mengangkat kepalanya. " Kai? "

" Kembalilah tidur, " Kai berbisik, mendorong kepala Sehun kembali bersandar didadanya. " Biarkan aku memelukmu. Hanya itu yang akan kulakukan. "

Kai menyerap helaan napas Sehun dikulitnya dan memejamkan mata ketika lengan Sehun melingkari pinggangnya.

Sunyi.

Semuanya begitu sunyi. Sunyi didalam rumah. Sunyi diluar pintu.

Mendadak Kai merasakan dorongan konyol untuk membangunkan Sehun dan memperbaiki posisi wanita itu agar ia dapat merasakan Sehun kembali bersantai dalam pelukannya.

Tapi Sebaliknya, Kai memusatkan perhatian pada napas Sehun, menyamakan tarikan napas dan dorongan paru parunya dengan paru paru Sehun.

Begitu... Damai.

Dan sunyi.

.

.

.

.

.

.

TBC

Mohon reviewnya.. Seperti biasa review lebih dua puluh bakalan dilanjut.

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR