LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 6

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )

RATED M

.

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

Semuanya begitu sunyi. Sunyi didalam rumah. Sunyi diluar pintu.

Mendadak Kai merasakan dorongan konyol untuk membangunkan Sehun dan memperbaiki posisi wanita itu agar ia dapat merasakan Sehun kembali bersantai dalam pelukannya.

Tapi Sebaliknya, Kai memusatkan perhatian pada napas Sehun, menyamakan tarikan napas dan dorongan paru parunya dengan paru paru Sehun.

Begitu... Damai.

Dan sunyi.

.

HAPPY READING

.

Tok... Tok... Tok...

Ketkan keras terdengar dipintu. Minho tersentak mundur, ia meraih pistol dibawah bantalnya. Ia melepaskan kokang pengaman dengan jentikan jari.

Tok... Tok... Tok...

Ketukan itu terdengar lagi.

Mengacungkan senjata tersebut ke arah pintu, ia menunggu.

" Minho. " Suara seorang lelaki terdengar dibalik pintu. " Aku tahu kau ada didalam sana. Namaku Kyungsoo. Kau bertemu denganku dua malam lalu. "

Minho mengerutkan dahi lalu meringis saat pelipisnya terasa nyeri. Ia samar samar ingat pergi kesuatu tempat bersama Sehun dan Suho. Begitu kenangan itu menghantamnya, sesuatu dalam dirinya bergolak hebat.

" Aku datang untuk berbicara denganmu. Maukah kau mengizinkanku masuk? "

Minho berusaha melihat dengan instingnya, tapi instingnya mengatakan pria ini tidak berbahaya walaupun ia yakin pria itu bersenjata lengkap tapi entah kenapa ia merasa mempercayai pria ini. Minho membuka pintu rantai dan mundur, menurunkan pistolnya.

" Kau masih ingat denganku, bukan. " Tanya Kyungsoo sambil berjalan masuk.

Minho mengangguk.

" Dan kau ingat apa yang kita bicarakan. Tentang pelatihan yang kami tawarkan? Jadi bagaimana menurutmu jika kau bergabung dan bekerja bersama kami? Dan sebelum kau bilang tubuhmu kurang besar, maka dari itulah aku mengajakmu untuk ikut pelatihan agar kau siap menghadapi suatu kemungkinan. " Jelas Kyungsoo.

Sambil menatap lekat pria asing itu, Minho menyelipkan pistol disaku belakang celananya dan berjalan ke arah tempat tidur. Ia meraih kertas dan bolpoin, lalu menulis : Aku tidak punya uang banyak.

Kyungsoo membaca tulisan dikertas itu. " Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. "

Minho kembali menulis : Ya, aku cemas.

" Aku menjalankan tempat itu dan butuh bantuan untuk urusan administrasinya. Kau bisa bekerja untuk membayar biayanya. Kau punya pengetahuan tentang komputer? "

Minho menggeleng.

" Yah, tidak apa apa. Kami memiliki Saudara yang sangat ahli menggunakan komputer. Dia akan mengajarimu. " Kyungsoo tersenyum simpul. " Kau akan bekerja dan berlatih. Semuanya bagus. Dan aku juga sudah bicara dengan Suamiku kalau kau akan tinggal bersama kami, dan dia dengan senang hati menerimamu. "

Minho menurunkan pandangannya, merasa tidak percaya ada seseorang yang mau menolongnya.

" Kau ingin tahu kenapa aku melakukan ini? "

Minho menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia melihat Kyungsoo melepaskan mantel panjangnya dan membuka sebagian kancing kancing kemejanya. Kyungsoo menarik kemejanya hingga terbuka, memamerkan dada kirinya.

Mata Minho terpaku pada parut melingkar yang ada di dada Kyungsoo. Ia menyentuh dadanya sendiri, dan menyentuh parut yang sama dari balik kaosnya. Butiran keringat muncul dikeningnya.

" Kau salah satu dari kami, Minho. Maka dari itu aku ingin kau ikut denganku. " Lirih Kyungsoo.

Ini tidak mungkin, batin Minho. Ini semua hanyalah mimpi.

" Kau butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya? "

Minho menggeleng, ia melangkah mundur, lalu menulis. Aku ingin tetap tinggal disini.

Kyungsoo mengerutkan dahi ketika membaca kata kata itu. " Dengar, kau berada dalam titik berbahaya dalam hidupmu. Sebentar lagi waktu tranformasimu dan tanpa kami kau mungkin akan... " Kyungsoo menghentikan perkataannya saat melihat Minho menggelengkan kepala. " hahh, baiklah. Kalau kau berubah pikiran kau bisa menghubungiku, ini nomorku. Bersiullah ke telepon maka aku tahu itu kau. " Ia menyerahkan kartu kecil. " Aku akan memberimu waktu dua hari, kalau kau tidak berubah pikiran juga. Kau tidak perlu menelponku dan kau tidak perlu cemas karena kau akan melupakan semuanya.

Minho sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Kyungsoo, jadi ia hanya memandangi nomor yang ditulis dengan tinta hitam, tenggelam dalam semua kemungkinan dan ketidakmungkinan. Ketika ia menengadah lagi, Kyungsoo sudah pergi.

.

.

Sehun tersentak bangun dari tidurnya.

Teriakan kuat menggelegar dari ruang duduknya, memecah keheningan. Ia terduduk tegak, namun kembali didorong hingga jatuh menyamping lagi. Kemudian mendadak sofa dilempar menjauh dari dinding. Dalam cahaya kelabu, ia melihat tas Kai, mantel setelan pria itu. Dan menyadari Kai telah melompat ke balik sofa.

" Tirainya!" Teriak Kai. " Tutup tirainya! "

Kesakitan dalam suara Kai menghalau kebingungan Sehun dan membuatnya buru buru berlari ke sekeliling ruangan. Ia menutup semua jendela dan tirainya hingga satu satunya cahaya yang masuk hanyalah dari ambang pintu dapur.

" Dan pintu itu juga... " Suara Kai serak. " ... Yang menuju ruangan lain. "

Sehun langsung menutupnya. Sekarang ruangan benar benar gelap kecuali cahaya dari televisi.

" Apa kamar mandimu berjendela? " Tanya Kai kasar.

" Tidak, tidak ada jendelanya. Kai, ada apa? " Sehun mulai melongok dari ujung sofa.

" Jangan dekat dekat. " Kata kata Kai terdengar seperti tercekik, dan diikuti rentetan makian.

" Kau baik baik saja? " Tanya Sehun cemas.

" Tolong biarkan aku... Mengambil napas sebentar. Aku perlu sendirian sekarang. " Lirih Kai.

Sehun tetap mengelilingi sofa. Dalam keremangan, samar samar ia melihat sosok Kai yang meringkuk.

" Ada apa Kai? "

" Tak ada apa apa, Sehun. Kumohon pergilah. " Pinta Kai.

" Ya, sangat terlihat jelas kau baik baik saja. " Ejek Sehun, ia benci omongan ala pria tangguh macam itu. " Apa ini gara gara cahaya matahari, bukan? Kau alergi. "

Kai tertawa kasar. " Bisa dibilang begitu. Sehun, hentikan. Jangan mendekat kemari. "

" Mengapa tidak? "

" Aku tidak ingin kau melihatku. " Gumam Kai.

Sehun mengulurkan tangan dan menyalakan lampu terdekat. Suara desisan terdengar di ruangan itu. Saat mata Sehun mulai beradaptasi dengan cahaya, ia melihat Kai tengah berbaring telentang, satu tangan terletak didepan dada, yang lain menutupi mata. Terlihat luka bakar parah dikulitnya yang terpapar dibalik lengan baju yang ia gulung. Kai meringis kesakitan, bibirnya terbuka _

Darah Sehun seketika membeku.

Taring.

Dua taring panjang mencuat dari deretan gigi atas Kai.

Sehun pasti terkesiap lantang karena Kai menggumam. " Aku sudah menyuruhmu untuk tidak melihat. "

" Ya Tuhan, " Sehun berbisik. " Katakan padaku itu hanya taring palsu. "

" Ini bukan taring palsu. " Sahut Kai.

Sehun memutar tubuh seraya mundur hingga menabrak dinding. Astaga... Demi Tuhan.

" Apa... Kau sebenarnya? " Tanya Sehun tercekat.

" Tak bisa kena cahaya matahari. Sepasang taring keren. " Kai menarik napas dengan gemetar. " Tebak saja. "

" Tidak... Itu tidak... "

Kai mengerang, lalu Sehun mendengar suara gerakan, seakan Kai bergerak gerak. " Bisakah kau matikan lampu itu? Retinaku terbakar, dan butuh beberapa waktu untuk pulih. "

Sehun meraih kedepan dan menekan tombol lampu, kemudian dengan cepat menarik tangannya kembali. Sambil memeluk diri, Sehun mendengarkan suara parau yang dibuat Kai ketika bernapas.

Waktu berlalu. Kai tidak mengatakan apa apa lagi. Tidak duduk dan tertawa lalu mengeluarkan satu set gigi palsu. Tidak memberitahu Sehun bahwa dia teman baik Napoleon atau Elvis, seperti orang gila pada umumnya. Pria itu juga tidak melayang dan mencoba menggigitnya. Tidak berubah menjadi kelelawar juga.

Oh Tuhan, aku tidak mungkin beranggapan perkataan Kai serius, bukan? Pikir Sehun. Hanya saja Kai memang berbeda. Secara mendasar, tidak seperti pria manapun yang pernah ia jumpai. Bagaimana jika...

Kai mengerang perlahan. Dari pendar cahaya televisi, Sehun melihat sepatu bot Kai menjulur dari balik sofa.

Sehun tidak mengerti apa anggapan Kai tentang diri pria itu sendiri, namun ia tahu bahwa Kai tengah menderita saat ini. Dan ia takkan begitu saja meninggalkan Kai dilantai dalam kesakitan bila ada yang dapat ia lakukan untuk pria itu.

" Apa ada yang bisa kubantu? " Tanya Sehun.

Hening. Seolah Sehun membuat Kai terkejut.

" Bisakah kau membawakanku ice cream? Tanpa kacang atau biskuit kalau ada, dan handuk. " Akhirnya Kai berkata.

Ketika Sehun kembali membawa semangkuk ice cream, ia bisa mendengar Kai mencoba duduk.

" Biarkan aku menghampirimu, " Ucap Sehun.

Kai terdiam. " Apa kau tidak takut padaku sekarang? "

Mengingat Kai entah menderita halusinasi atau memang Vampir, seharusnya Sehun merasa takut. Tapi anehnya, ia malah merasa aman.

" Apakah cahaya lilin akan menyakitkan? " Sehun bertanya, mengalihkan pertanyaan Kai. " Karena aku takkan bisa melihat apapun dibelakang sana. "

" Mungkin tidak. Sehun, aku takkan menyakitimu. Aku janji. "

Sehun meletakkan ice creamnya, menyalakan salah satu tempat lilin yang besar dan menaruhnya di meja sebelah sofa. Dalam keremangan cahaya lilin, ia melihat tubuh Kai. Lengan yang masih menyilang dimata pria itu. Luka bakarnya. Kai sudah tidak meringis lagi, namun mulutnya masih sedikit terbuka. Sehingga Sehun dapat melihat ujung taring taringnya.

" Aku tahu kau takkan menyakitiku, " Gumam Sehun seraya mengambil mangkuknya. " Kalau kau ingin menyakitiku, aku yakin sudah dari awal akan kau lakukan karena kau punya cukup banyak kesempatan untuk melakukan itu. "

Menyandarkan diri ke sofa, Sehun menyendokkan sedikit ice cream dan menunduk ke arah Kai. " Ini buka lebar lebar mulutmu. Hagen Dazs rasa vanilla. "

" Bukan untuk dimakan. Protein dalam susu dan dinginnya es bisa membantu menyembuhkan luka bakar. " Sahut Kai.

Kai tak mungkin bisa meraih luka Kai, jadi ia menarik sofanya lebih jauh dan duduk dilantai di sebelah Kai. Ia mengaduk ice cream hingga menjadi sup kental, lalu meratakan es itu dilengan Kai yang terbakar dan lecet dengan jarinya. Kai mengernyit, memperlihatkan taring taringnya, dan sesaat Sehun pun terdiam.

Kai bukan seorang Vampir. Tidak mungkin. Pikir Sehun.

" Ya, aku memang Vampir, " Ucap Kai.

Sehun tercekat. " Apa kau bisa membaca pikiran? "

" Tidak, tapi aku tahu kau memandangiku, dan aku bisa membayangkan bagaimana perasaanku jika aku jadi kau. Kita cuma spesies yang berbeda, itu saja. Tidak menakutkan, hanya... Berbeda. "

Oke, Ucap Sehun dalam hati, ia kembali mengoleskan ice cream pada luka bakar Kai.

Kai mengerang lega. " Manjur. Untunglah. Rasanya jauh lebih baik. Terima kasih. " Ucapnya.

Sehun mengerjap saat melihat luka bakar yang mulai berangsur hilang dilengan Kai.

Kai memindahkan tangan dari dahinya. Setengah wajah dan lehernya merah terbakar.

" Kau mau aku mengoleskan ice cream ke bagian itu juga? " Sehun menunjuk daerah yang terbakar itu.

Mata biru kehijauan Kai nterbuka, tampak waswas ketika menatap Sehun. " Boleh, jika kau tidak keberatan. "

Dibawah pengamatan Kai, Sehun mencelupkan jarinya kemangkuk lalu meraih pria itu. Tangan Sehun sedikit gemetar ketika mengoles pipi Kai.

Astaga, kulit Kai begitu lembut, batin Sehun. Dan bibirnya begitu sempurna. Sehun kembali mengambil ice cream dan melumuri rahang Kai. Lalu bergerak menuruni leher, melewati jalinan kuat otot yang dimulai dari bahu hingga kebawah kepala Kai. Ketika Sehun merasakan sesuatu menyapu bahunya, ia menoleh. Jemari Kai tengah membelai ujung rambutnya.

Rasa panik menyergap, Sehun tersentak mundur.

Kai menjauhkan tangannya, tidak terkejut mendapati Sehun menolaknya. " Maaf, " Gumamnya sambil memejamkan mata.

Tanpa ada yang dilihat, Kai sangat menyadari jari jari lentik Sehun bergerak dikulitnya. Sehun juga begitu dekat dengannya, cukup dekat hingga satu satunya yang bisa ia hirup hanyalah wangi Sehun. Ketika rasa nyeri luka bakarnya berangsur hilang, tubuhnya mulai terbakar dalam cara yang berbeda.

Kai membuka matanya, tetap membiarkan kelopaknya menggantung rendah. Mengawasi. Menginginkan.

Ketika Sehun selesai, ia menaruh mangkuk disamping dan menatap Kai langsung. " Anggaplah aku percaya kau... Kau berbeda. Mengapa kau tidak menggigitku ketika kau punya kesempatan? Maksudku, taring itu bukan hiasan belaka, bukan? "

Tubuh Sehun tegang, seakan dia siap berlari sewaktu waktu, namun tidak menyerah pada ketakutannya. Dan dia menolong Kai ketika Kai membutuhkannya, meskipun gadis itu ketakutan.

Ya Tuhan, keberanian Sehun sungguh menggairahkan, batin Kai. " Aku minum darah dari wanita spesiesku. Bukan manusia. " Jawab Kai.

Mata Sehun menyala nyala. " Apakah jumlah kalian banyak? "

" Cukup banyak, tapi tidak sebanyak dulu. Kami diburu. " Lirih Kai. Hal itu membuat Kai teringat, ia terpisah cukup jauh dari senjatanya. Ia mencoba bangun, namun tubuhnya masih terasa lemah.

" Apa yang kau perlukan? " Tanya Sehun saat melihat Kai berusaha bangun.

" Tasku. Tolong bawakan kemari agar dekat dengan kakiku. " Lirih Kai.

Sehun berdiri dan menghilang kebalik sofa. Kai mendengar bunyi dentuman diikuti suara tas diseret dilantai.

" Ya ampun, apa yang ada didalamnya? " Sehun muncul kembali sambil menyeret tas itu dekat kaki Kai.

" Dengar, Sehun... Kita punya masalah. " Kai memaksa tubuh atasnya bangkit, menyangganya dengan tangan. Kai benar benar ingin membawa pergi Sehun tapi sayang, Kris belum memberinya kabar.

Sehun menatap Kai, ekspresinya muram. " Kau butuh berada dibawah tanah? aku bisa membawamu pergi ke tempat penyimpanan biji bijian lama. Pintunya ada didapur, Kau mungkin akan lebih aman disana. "

Kai menengadah sampai yang bisa ia lihat tinggal langit langit. Ia takjub akan cara Sehun menanggapi sebuah situasi. Padahal Sehun seorang wanita yang sedang sakit tapi wanita itu malah mengkhawatirkan dirinya yang seorang vampir.

" Kai? " Sehun menghampiri dan berlutut disamping Kai. " Aku bisa membantumu masuk ke... "

Sebelum Kai sempat berpikir, ia meraih tangan Sehun, menempelkan bibirnya ke telapak tangan Sehun dan meletakkannya didada. Ketakutan Sehun menguar di udara, bau asap tajam itu bercampur dengan wangi alami tubuh Sehun yang menyenangkan. Namun Sehun tidak mundur kali ini, dan keraguan untuk pergi atau tidakpun tidak berlangsung lama.

" Kau tidak perlu khawatir, " Ujar Sehun lembut. " Aku takkan membiarkan siapapun mendekatimu hari ini. Kau aman. "

Ah sial. Sehun kau benar benar membuatku meleleh. Batin Kai.

Kai berdeham. " Terima kasih. Tapi yang kukhawatirkan justru kau. Sehun, kemarin malam kita diserang ditaman. Kau kehilangan tasmu, dan aku harus beranggapan musuh musuhku telah mengambil tasmu. "

Sehun menggeleng. " Aku tidak ingat ada serangan apapun? "

" Aku menyembunyikan ingatanmu. " Sahut Kai.

" Apa maksudmu menyembunyikan? " Tanya Sehun.

Kai meraih alam pikiran Sehun dan melepaskan kejadian kejadian pada malam sebelumnya.

Sehun terkesiap dan meletakkan tangan dikepala, mengerjap ngerjap dengan cepat. Kai tahu ia harus segera memberi penjelasan.

" Sehun, para pria yang menyerang kita, mereka bukanlah manusia dan mereka amat hebat dengan apa yang mereka kerjakan. " Jelas Kai.

Sehun merosot kelantai tanpa keanggunan, seakan lututnya kehilangan kekuatan. Matanya melebar dan hampa seraya menggeleng geleng. " Kau membunuh dua pria itu, " katanya pelan. " Kau mematahkan leher salah seorang dari mereka. Dan yang lain... "

Kai mengumpat. " Aku minta maaf karena melibatkanmu dalam situasi ini. Aku minta maaf karena kau sekarang berada dalam bahaya. Dan aku minta maaf telah menghilangkan ingatanmu _ "

Sehun menatap Kai tajam. " Jangan lakukan hal itu lagi. "

Kai berharap ia bisa menjanjikan itu pada Sehun. " Tidak akan, kecuali aku terpaksa melakukannya demi menyelamatkanmu. Kau tahu banyak tentang diriku, dan itu membuatmu terancam bahaya. "

" Apakah kau mengambil ingatan lain dariku? " Tanya Sehun.

Kai mengangguk. " Sebenarnya kita pertama kali bertemu di pusat pelatihan. Kau datang bersama Suho dan Minho. "

" Kapan? " Tanya Sehun lagi.

" Beberapa hari yang lalu. Aku juga bisa mengembalikan itu. "

" Tunggu sebentar. " Sehun mengerutkan dahi. " mengapa kau tidak membuatku melupakan segalanya tentang dirimu sebelum ini? Kau tahu, menghilangkan semuanya. "

Kai menghela napas. " Aku berniat melakukannya semalam. Setelah makan malam. "

Sehun membuang muka. " Tapi kau tidak jadi melakukannya karena kejadian di taman itu? "

" Dan karena... " Kai terdiam sesaat. " ... Karena itu merupakan pelanggaran terhadap privasimu. "

Dalam kesunyian yang mengikuti, Kai bisa melihat Sehun tengah memikirkan kejadian kejadian itu kembali. Kemudian tubuh Sehun menguarkan wangi manis gairah. Sehun tengah mengingat bagaimana Kai menciumnya.

Mendadak, Sehun meringis dan mengerutkan dahi. Wangi itu hilang.

" Eh, Sehun, ditaman, ketika aku menjauhimu ketika kita _ "

Sehun mengangkat tangan, menghentikan perkataan Kai. " Satu satunya yang ingin kubicarakan hanyalah apa yang harus kita lakukan sekarang. "

Mata caramel Sehun menatap mata Kai dengan tajam. Kai menyadari Sehun telah siap untuk berita apapun yang akan ia sampaikan.

" Astaga... Kau luar biasa. Benar benar luar biasa, Sehun. " Kagum Kai.

Kedua alis Sehun terangkat. " Kenapa kau mengatakan itu? "

" Kau menghadapi semua kekacauan ini dengan baik. Terutama bagian tentang siapa diriku sebenarnya. " Sahut Kai.

Sehun menyelipkan rambut dibelakang telinganya dan mengamati wajah Kai. " Kau tahu? Itu bukan kejutan besar. Yah, jati dirimu memang mengejutkan... Tapi, aku tahu kau berbeda sejak pertama kali melihatmu. Aku hanya tidak menyangka saja kalau kecurigaanku selama ini benar. Apa kalian menyebut diri sebagai Vampir? "

Kai mengangguk.

" Vampir. " Lirih Sehun, seolah tengah membiasakan diri mengucapkan kata itu. " Kau tidak menyakitiku atau membuatku takut. Emm, well, kau memang sedikit membuatku takut tapi dalam hal yang berbeda. Dan... Kau tahu, aku pernah mati suri setidaknya dua kali. Pertama ketika aku terkena serangan jantung sewaktu mereka mengoperasiku untuk transplantasi sumsum tulang belakang. Kemudian sewaktu aku terkena pneumonia dan paru paruku dipenuhi cairan. Aku, ah, aku tidak yakin kemana aku pergi atau kenapa aku kembali, tapi ada sesuatu diujung sana. Bukan Surga dengan awan dan malaikat dan semua yang indah indah itu. Hanya dengan cahaya putih. Aku tidak tahu apa itu waktu pertama kali. Kali kedua, aku langsung menuju cahaya itu. Aku tidak tahu mengapa aku kembali _ " Wajah Sehun merah padam dan ia berhenti bicara, seolah malu dengan apa yang telah diungkapkannya.

" Kau telah pergi ke Fade, " Gumam Kai terpukau.

" Fade? " Tanya Sehun bingung.

Kai mengangguk. " Setidaknya, begitulah kami menyebutnya. "

Keheningan melanda mereka selama beberapa saat, Sehun melirik Kai dan mendapati Kai memandanginya dengan tajam. " Kenapa kau memandangiku seperti itu? "

" Kau wahlker, " Kata Kai, ia berdiri dan membungkuk pada Sehun sesuai tradisi.

" Wahlker? " Sehun mengerutkan alisnya.

" Orang yang pernah menyeberang ke dunia lain dan kembali lagi. Diduniaku, sebutan itu sangat bergengsi. " jawab Kai.

Kring... Kring...

Bunyi ponsel membuat mereka sama sama menoleh. Suara itu berasal dari tas Kai.

" Bisakah kau mengambilkan tas itu? " Pinta Kai.

Sehun mencondongkan badan dan mencoba mengangkat tas itu. Tidak bisa. " Bagaimana kalau kuambilkan saja ponsel itu untukmu? "

" Tidak, " Kai berusaha berdiri. " Biar aku _ "

" Kai, akan kuambilkan _ "

" Sehun berhenti, " Perintah Kai. " Aku tidak mau kau membuka tasku. "

Sehun menjauh spontan seolah tas itu berisi ular berbisa.

Dengan susah payah Kai menundukkan badannya dan merogoh tasnya. Segera setelah menemukan ponselnya, ia mengangkat telpon dan menempelkannya ke telinga.

" Ya, " Geram Kai, sambil setengah menutup tasnya kembali.

" Kau baik baik saja? " Tanya Chen. " Dan dimana kau sialan? "

" Aku baik baik saja. Hanya sedang tidak ada dirumah. " Jawab Kai.

" Kau perlu dijemput? "

" Tidak, aku tidak keberatan berada ditempatku sekarang. " Lirih Kai sambil memandang wajah Sehun.

" Dan dimana itu? " Tanya Chen penasaran.

" Aku menelepon Kris semalam dan dia tidak menelponku balik. Apa dia ada? " Tanya Kai tanpa menjawab pertanyaan Chen.

" Kris dan Kyungsoo sedang pergi bersama untuk menikmati waktu mereka berdua. Jadi, ada dimana kau? " Ketika Kai tak kunjung menjawab, suara Chen langsung melembut. " Kai, apa yang terjadi? "

" Beritahu saja pada Kris bahwa aku mencarinya. "

Chen menyumpah. " Apa kau yakin tak butuh dijemput? "

" Tidak perlu, aku baik baik saja. " Bagaimanapun Kai tidak akan pergi kemanapun tanpa Sehun. " Sampai nanti, teman. "

" Kai _ "

Kai menutup ponselnya, yang langsung berdering kembali. Setelah melihat Caller ID, ia membiarkan panggilan Chen masuk ke voicemail. Ia tengah meletakkan ponsel disebelah tubuhnya ketika perutnya mengeluarkan suara gemuruh.

" Kau mau kuambilkan makanan? " Tanya Sehun.

Kai menatap Sehun sesaat, terkesima. Kemudian mengingatkan diri bahwa Sehun sama sekali tidak tahu menahu tentang keintiman yang tengah ditawarkan wanita itu. Namun, membayangkan Sehun akan memberinya kehormatan dengan menyiapkan sendiri makanan untuknya membuat Kai nyaris tak mampu bernapas.

" Pejamkan matamu, " Pinta Kai.

Sehun menegang, tapi ia tetap menurunkan kelopak matanya. Kai mencondongkan tubuh kedepan dan dengan lembut menempelkan bibirnya di bibir Sehun.

Kedua mata caramel Sehun mendadak terbuka lebar, tapi Kai mundur sebelum Sehun melakukannya.

" Aku akan senang sekali kalau kau mau memberiku makanan. Terima kasih. " Lirih Kai.

.

.

.

Bip... Bip... Bip...

Terdengar bunyi pesan masuk, seorang pria lalu membuka pesan tersebut dan langsung mengumpat.

" Oh, sialan... "

Pria satunya menyipitkan mata karena bingung. " Apa isi pesan itu jadi sampai kau mengumpat seperti itu? "

" Ini email yang dikirimkan serentak pada para skuadron Beta. "

" Dan? "

" Sekelompok Beta tengah berburu semalam dan bertemu salah seorang anggota Brotherhood ditaman. Dari lima orang, tiga meninggal. Coba dengar, pejuang ini sedang bersama wanita manusia. Dan sepertinya keberuntungan ada dipihak kita, kita menemukan identitas wanita manusia itu. "

" Cihh, mereka bajingan beruntung. Kadang kadang mereka melakukan hubungan seks dengan wanita manusia, jadi apa gunanya kita mengetahui identitas wanita itu. "

" Sangat berguna karena wanita itu sangat dilindungi oleh pejuang itu. "

Mereka saling pandang dan saling bertukar senyum.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf ini pendek banget. Aku nyempet nyempetin translate novel ini disela sela kesibukanku. Aku gak enak karena lumayan lama mengabaikan FF ini.

Masih ada yang berminatkan?

Mohon review yang banyak yaaaa... Kalo banyak akan kuusahakan lebih cepat post chapter terbarunya.