LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 7

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )

RATED M

.

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

" Sekelompok Beta tengah berburu semalam dan bertemu salah seorang anggota Brotherhood ditaman. Dari lima orang, tiga meninggal. Coba dengar, pejuang ini sedang bersama wanita manusia. Dan sepertinya keberuntungan ada dipihak kita, kita menemukan identitas wanita manusia itu. "

" Cihh, mereka bajingan beruntung. Kadang kadang mereka melakukan hubungan seks dengan wanita manusia, jadi apa gunanya kita mengetahui identitas wanita itu. "

" Sangat berguna karena wanita itu sangat dilindungi oleh pejuang itu. "

Mereka saling pandang dan saling bertukar senyum.

.

HAPPY READING

.

Sehun berdiri didepan kompor memikirkan cara Kai menatapnya barusan. Ia tidak mengerti mengapa menawarkan diri membuatkan sarapan untuk pria itu menjadi hal besar, tapi Kai bersikap seperti ia telah memberi pria itu hadiah yang luar biasa.

Sehun membalik omeletnya dan berjalan ke lemari es, mengeluarkan kotak plastik berisi potongan buah, ia menyendok semuanya ke mangkuk. Kelihatannya masih kurang banyak, jadi ia mengambil pisang dan memotong motongnya diatas potongan buah tersebut.

Ketika Sehun meletakkan pisau, ia menyentuh bibirnya. Tak ada kesan sensual dalam ciuman yang diberikan Kai dibelakang sofa, itu ciuman terima kasih. Aksi ciuman ditaman jauh lebih mendalam, tapi ia merasa Kai tetap menjaga jarak terhadap dirinya. Hasrat diantara mereka bersifat sepihak. Hanya darinya saja yang berhasrat pada Kai.

Apakah mungkin vampir tidak bernafsu untuk meniduri manusia? Mungkin karena itulah Kai tidak berhasrat pada dirinya. Tapi saat mereka makan malam pertama kalinya dulu, jelas sekali Kai memandang seorang wanita direstoran itu dengan kritis. Jadi jelas Kai tidak ada masalah dengan wanita lain. Yang tidak membuat Kai tertarik hanyalah Sehun. Kai hanya menganggap dirinya teman, tidak lebih dari itu.

Omelet yang dimasak Sehun sudah selesai. Ia meletakkan omelet dan roti panggang yang sudah diolesi mentega ke piring, lalu Sehun menggulung garpu dengan serbet, membawa piring itu ke ruang tamu. Ia buru buru menutup pintu dibelakangnya dan berbalik ke sofa.

Wow.

Kai telah menanggalkan kausnya dan tengah bersandar kedinding, memeriksa luka bakarnya. Dalam keremangan cahaya lilin, Sehun dapat melihat jelas bahu Kai yang kekar, tangannya yang kuat, dadanya, perutnya. Sambil mencoba menahan diri, Sehun meletakkan barang bawaannya ke lantai disebelah Kai dan duduk beberapa meter dari Kai. Untuk menghentikan diri memandangi tubuh Kai, Sehun menatap wajah Kai. Kai menunduk memperhatikan makanannya, tidak bergerak, tidak bicara.

" Aku tak tahu apa yang kausukai, jadi aku hanya memasakkan omelet dan roti panggang. " Ucap Sehun.

Tatapan Kai berpindah ke Sehun dan Kai menggeser tubuhnya menghadap Sehun. Pemandangan dari depan bahkan lebih mengagumkan daripada profil pria itu, menurut Sehun. Luka berbentuk bidang didada kiri Kai juga luar biasa seksi, kelihatan seperti semacam cap pada kulit pria itu.

Setelah beberapa saat membiarkan Kai hanya memandanginya, Sehun meraih piring. " Akan kubuatkan yang lain _ "

Tangan Kai terulur dan menggenggam pergelangan tangan Sehun. Ia mengusap kulit Sehun dengan ibu jarinya. " Tidak usah diganti. Aku menyukainya. "

" Kau belum mencicipinya _ "

" Kau yang membuatnya. Itu sudah cukup. " Kai mengambil garpu dari serbet, otot dan urat lengannya bergerak gerak. " Sehun? "

" Hmm? "

" Aku akan memberimu makan sekarang, " Sambil menyodorkan potongan omelet ke mulut Sehun, perut Kai mengeluarkan bunyi gemuruh.

" Tak apa. Aku akan membuat sesuatu untuk diriku sendiri... Eh, kenapa kau mengerutkan dahi seperti itu? " Tanya Sehun.

Kai mengusap alisnya, seakan berusaha menghapus ekspresinya. " Maaf. Kau tidak mungkin tahu. "

" Tahu apa? " Tanya Sehun penasaran.

" Di tempat asalku, ketika pria menawarkan untuk memberikan makanan pada wanita langsung dari tangannya, itu merupakan cara untuk menunjukkan rasa hormat. Rasa hormat dan... Perhatian. " Jelas Kai.

" Tapi kau kelaparan. " Ucap Sehun.

Kai mendekatkan piringnya dan merobek ujung roti panggang. Kemudian ia memotong omelet dengan bentuk kotak sempurna dan meletakkannya diatas roti.

" Sehun, makanlah dari tanganku. Ambillah dariku. " Pinta Kai.

Kai mencondongkan tubuh ke depan, mengulurkan tangannya yang panjang. Mata biru kehijauannya menghipnotis, memanggil Sehun, menarik Sehun kedepan, membuat Sehun membuka mulutnya. Ketika Sehun meletakkan bibirnya disekitar makanan yang ia masak untuk Kai, pria itu menggeram senang. Setelah Sehun menelan, Kai kembali menyuapinya lagi, menyuapinya sepotong roti panggang disela sela jemarinya.

" Bukankah seharusnya kau yang memakannya? " Ucap Sehun.

" Tidak sampai kau kenyang. " Sahut Kai.

" Bagaimana kalau aku malah menghabiskan semuanya? "

" Tak ada yang membuatku lebih senang selain mengetahui kau telah makan sampai kenyang. " Ucap Kai tersenyum.

Teman, Sehun mengingatkan diri. Kai hanya menganggapku sebagai teman.

" Sehun, makanlah untukku. " Permintaan Kai yang kuat membuat Sehun kembali membuka mulutnya. Mata Kai tetap terarah pada bibir Sehun, bahkan setelah Sehun menutupnya.

Astaga, ini tidak terasa seperti pertemanan biasa belaka. Batin Sehun.

Ketika Sehun mengunyah, Kai memilah milah buah dari dalam mangkuk dengan ujung jarinya. Akhirnya ia memilih melon dan menyodorkannya. Sehun memakan potongan melon itu sepenuhnya, sedikit sari buah meleleh kesisi mulutnya. Ia hendak menghapusnya dengan punggung tangan, namun Kai menghentikannya, Kai mengangkat serbet lalu mengusapkan serbet itu pada kulit Sehun.

" Aku sudah kenyang. " Ucap Sehun.

" Tidak. Belum. Aku dapat merasakan rasa laparmu. " Sahut Kai.

Kali ini setengah potongan stroberi disodorkan pada Sehun. " Bukalah mulutmu untukku, Sehun. "

Kai memberi Sehun potongan potongan pilihan, memandangi Sehun dengan kepuasan penuh yang tidak pernah dilihat Sehun dari pria manapun yang dikenalnya.

Ketika Sehun sudah tidak dapat menelan lagi karena kekenyangan, Kai menghabiskan sisanya dengan cepat dan segera setelah Kai selesai, Sehun mengangkat piringnya dan berjalan kedapur. Ia membuatkan Kai omelet lain, memenuhi mangkuk dengan sereal dan memberikan pisang terakhirnya.

Senyum Kai begitu cerah ketika Sehun menyajikan semuanya dihadapannya. " Semua ini merupakan kehormatan bagiku. "

Selagi Kai makan dengan teratur dan rapi menurut caranya sendiri. Sehun memejamkan mata dan membiarkan kepalanya bersandar ke dinding. Ia semakin cepat menjadi lelah dan merasakan tikaman ketakutan yang dingin karena sekarang ia tahu sebabnya. Ya Tuhan, ia merasa ngeri untuk mengetahui apa yang akan dilakukan dokter dokter padanya setelah hasil tesnya keluar.

Ketika Sehun membuka mata, wajah Kai berada tepat didepannya.

Sehun melonjak kebelakang, kepalanya menghantam dinding. " Aku, eh, aku tidak mendengarmu bergerak. "

Lengan Kai berada disamping kedua kaki Sehun, otot bahunya yang kokoh bertonjolan karena menahan berat dadanya. Dalam jarak sedekat ini, Kai tampak begitu besar, dan berbau amat menyenangkan seperti rempah misterius.

" Sehun, aku ingin berterima kasih padamu, kalau kau memperbolehkanku? " Tanya Kai.

" Bagaimana? " Tanya Sehun parau.

Kai memiringkan kepala ke satu sisi dan menempelkan bibirnya di bibir Sehun. Ketika Sehun terkesiap, Kai memasukkan lidah kedalam mulut Sehun dan membelai lidah wanita itu. Saat Kai mundur untuk melihat reaksi Sehun, mata Kai berpendar dengan janji akan kenikmatan - kenikmatan yang akan membuat sumsum tulang belakang Sehun mendidih.

Sehun berdeham. " Terima kasih... Kembali. "

" Aku akan melakukannya lagi, Sehun. Apakah kau akan memperbolehkanku lagi? " Tanya Kai.

" Ucapan terima kasih singkat rasanya cukup. Sungguh, aku _ "

Ciuman Kai menghentikan ucapan Sehun dan lagi lagi lidah Kai mengambil alih, menyerang, menguasai, membelai. Panas menggelora dalam tubuh Sehun, membuatnya menyerah dan menikmati gairah liar itu, entakan didadanya, rasa mendamba dipayudaranya dan vaginanya.

Kai mengeluarkan suara mendengkur yang halus, seakan dapat merasakan hasrat Sehun yang terbangkitkan. Sehun merasakan lidah Kai mundur untuk kemudian menggigiti bibir bawahnya diantara kedua _

Taringnya. Yang tengah menggigiti perlahan bibirnya adalah taring Kai.

Kengerian menjalar kedalam hasratnya dan membekukan tubuh Sehun, bahaya yang mengancam membuat Sehun semakin terbuka. Ia meletakkan tangannya dilengan Kai. Astaga, Kai begitu kekar, begitu kuat. Batin Sehun.

" Maukah kau mengijinkanku berbaring bersamamu? " Kai bertanya lembut.

Sehun memejamkan mata, membayangkan mereka lebih dari sekedar berciuman ke situasi menjadi telanjang bersama. Sehun tidak pernah bercinta jauh sebelum ia sakit. Dan tubuhnya telah berubah banyak sejak saat itu. Ia juga tidak tahu darimana asal gairah Kai terhadap dirinya. Teman tidak melakukan seks. Setidaknya, menurut pengertiannya.

Sehun menggeleng. " Aku tidak yakin _ "

Sekali lagi bibir Kai melumat bibir Sehun. " Aku hanya ingin berbaring disampingmu, oke? "

Sehun menghela napas lelah. Baiklah, pikirnya. Akan tetapi saat Sehun menatap Kai, ia tidak dapat menyangkal perbedaan diantara mereka. Ia sulit bernapas, Kai tampak tenang. Ia merasa pening, Kai tampak berpikiran jernih.

Sehun merasakan gairah. Kai... Tidak.

Tiba tiba Kai bersandar ke dinding dan menarik selimut sofa kepangkuannya. Sehun bertanya tanya apakah Kai tengah menyembunyikan bukti gairahnya? Haha yang benar saja. Lebih mungkin pria itu kedinginan karena setengah telanjang daripada menegang karena habis menciumnya.

" Apakah kau tiba tiba ingat siapa aku sebenarnya? " Tanya Kai.

" Apa? "

" Apakah itu yang mematikan hasratmu? " Tanya Kai lagi.

Sehun teringat pada taring yang tadi menyentuh bibirnya. Kenyataan bahwa Kai seorang vampir justru membuatnya terangsang. " Tidak. "

" Lantas kenapa kau menutup diri? Sehun? " Tatapan Kai menembus Sehun. " Sehun, maukah kau menceritakan padaku apa yang terjadi? "

Kebingungan yang melanda Kai ketika memandanginya membuat Sehun terkejut. Apakah Kai sungguh sungguh berpikir ia tidak keberatan dicumbu hanya karena belas kasihan?

" Kai, aku menghargai tindakan yang akan kaulakukan atas nama persahabatan, tapi tak perlu bersikap baik padaku, oke? " ucap Sehun tegas.

" Kau menikmati apa yang kulakukan padamu. Aku dapat merasakannya. Aku dapat menciumnya. " ucap Kai.

" Demi Tuhan, apa kau senang membuatku malu terhadap diriku sendiri? Kuberitahu ya, mendapati pria yang membuatku bergairah sementara ia setenang orang yang sedang membaca koran sama sekali tidak menyenangkan bagiku. Eughh... Kau benar benar membuatku gila, Kai. " Frustasi Sehun.

Tatapan menyala nyala Kai berubah menjadi menyipit karena tersinggung. " Kau mengira aku tidak menginginkanmu? "

" Oh, maafkan aku. Kurasa aku melewatkan hasrat yang kau tunjukkan. Ya, kau benar benar benar bergairah padaku. " Sinis Sehun.

Sehun tak dapat memercayai betapa cepat Kai bergerak. Sedetik pria itu tengah duduk bersandar ke dinding, menatapnya. Detik berikutnya Kai membuat dirinya telentang di lantai. Pahanya berada diantara kedua kaki Sehun dan Sehun bisa merasakan bukti gairah Kai.

Jemari Kai terbenam dirambut Sehun dan menarik, membuat tubuh Sehun terangkat padanya. Kai menempelkan mulutnya ditelinga Sehun.

" Apakah kau merasakan itu, Sehun? " Kai mengusapkan penisnya yang menegang dalam lingkaran lingkaran kecil, membelai Sehun, membuat Sehun merasakannya. " Kau merasakan itu? Apa artinya ini? "

Napas Sehun tersengal. Ia bisa merasakan tubuhnya siap untuk Kai.

" Beritahu aku apa itu artinya, Sehun? " Ketika Sehun tidak menjawab, Kai mengisap leher Sehun hingga rasanya menyengat kemudian meraih cuping telinga Sehun diantara giginya. Memberikan sedikit hukuman. " Aku ingin kau mengatakannya. Supaya aku tahu kau mengerti perasaanku. "

Tangan Kai yang bebas merapatkan tubuh Sehun pada tubuhnya. Bahkan dari balik celana Kai dan celana piamanya, Sehun dapat merasakan gairah Kai berdenyut untuknya.

" Katakan Sehun. " Bisik Kai.

Kai semakin maju dan Sehun pun mengerang. " Eeeuunngghhh... Kau menginginkanku, Kai. "

" Pastikan dirimu untuk mengingat hal itu, oke? " Kai melepaskan rambut Sehun dan melumat bibir Sehun dengan liar. Kai melingkupi Sehun sepenuhnya, didalam mulutnya, diatas tubuhnya, gairah panas dan aroma maskulin serta penis Kai yang tegang luar biasa menjanjikan Sehun akan percintaan liar dan erotis.

Tapi kemudian Kai berguling menjauh dan kembali keposisinya semula, bersandar ke dinding. Dalam sekejap pria itu kembali terkendali. Napasnya tenang. Tubuhnya bergeming.

Sehun mencoba duduk, berusaha mengingat cara menggunakan kaki dan tangannya.

" Aku bukan pria biasa, Sehun, meskipun aku terlihat seperti itu. Apa yang kaualami tadi sama sekali bukan apa apa dibanding dengan apa yang ingin kulakukan padamu. Aku ingin melakukan hal hal liar hingga membuatmu meneriakkan namaku. Kemudian aku ingin bercinta denganmu seperti binatang dan menatap kedalam matamu ketika aku berada didalam dirimu. Dan setelah itu? Aku ingin bercinta denganmu dengan setiap cara atau posisi yang ada. Aku ingin melakukannya dari belakang. Aku ingin melakukannya padamu sambil berdiri, bersandar ke dinding. Aku ingin kau berada dipangkuanku dan bercinta denganku hingga aku tidak bisa bernapas. " Tatapan Kai kuat, dengan kejujuran yang tidak ditutup tutupi.

" Akan tetapi semua itu tidak akan terjadi. Bila aku tidak terlalu merasakanmu, segalanya akan berbeda. Jauh lebih mudah. Kau melakukan sesuatu yang aneh pada tubuhku, jadi satu satunya cara agar aku bisa bersamamu adalah dengan terkendali sepenuhnya. Kalau tidak, aku akan kehilangan kendali dan hal terakhir yang kuinginkan adalah membuatmu takut. Atau lebih buruk, menyakitimu. " Lanjut Kai.

Bermacam macam bayangan berenang didalam pikiran Sehun, bayangan akan segala yang digambarkan Kai dan tubuhnya kembali berhasrat pada Kai dengan cara yang sama sekali berbeda. Kai menarik napas dalam dalam dan menggeram perlahan, seoalh menangkap aroma hasrat Sehun dan menikmatinya.

" Oh, Sehun... Apakah kau memperbolehkanku memberimu kenikmatan? Apakah kau memperbolehkanku membawa hasrat indahmu itu kemanapun dia ingin pergi? " Tanya Kai.

Sehun ingin mengatakan, ya, tapi semua hal yang diberitahukan Kai padanya menghantamnya : telanjang, dihadapan Kai dalam keremangan cahaya lilin. Tak seorangpun selain para dokter dan perawat yang mengetahui apa yang tersisa dari tubuhnya setelah penyakitnya menghilang. Dan Sehun tak dapat berhenti memikirkan wanita wanita seksi yang dilihatnya pernah menghampiri Kai.

" Aku bukan wanita yang biasa kaudapatkan, " Sehun berkata pelan. " Aku tidak... Cantik. "

Kai mengerutkan dahi, namun Sehun menggeleng. " Percayalah padaku soal itu, Kai. Aku memang tidak cantik. "

Kai merangkak kearah Sehun, " Biar kutunjukkan betapa cantiknya dirimu. Dengan baik. Perlahan. Tanpa kekerasan. Aku akan menjadi pria sejati, aku berjanji. "

Bibir Sehun membuka dan Sehun menangkap sekilas bayangan ujung taring pria itu. Kemudian bibir Kai sudah melekat padanya. Astaga, Kai sungguh fantastis, sapuan bibir dan lidahnya sungguh memabukkan.

" Nyahhh... " Sambil mengerang, Sehun mengaitkan tangannya dileher Kai, menekankan jemarinya dikepala pria itu.

Kai membaringkan tubuh Sehun dilantai, membuat Sehun mempersiapkan diri untuk menahan berat tubuh Kai. Akan tetapi Kai malah berbaring disebelahnya dan merapikan rambut Sehun.

" Perlahan, " Gumam Kai. " Dengan lembut. "

Kai kembali mencium Sehun dan lama setelahnya barulah jari jarinya yang panjang meraih bagian bawah baju Sehun. Ketika Kai mendorong kaos itu ke atas, Sehun mencoba konsentrasi pada apa yang sedang dilakukan Kai pada bibirnya, memaksa diri untuk tidak memikirkan apa yang akan diliat Kai dibalik kaosnya. Ketika Kai menarik kaos itu melewati kepalanya, udara dingin mengenai payudaranya dan memejamkan mata, berharap ruangan cukup gelap sehingga Kai tidak bisa melihat payudaranya yang jelek dengan jelas.

Ujung salah satu jari Kai menyapu pangkal leher Sehun, tempat luka tenggorokannya berada. Kemudian jari itu berlama lama menyentuh kerutan kerutan kecil didadanya, tempat kateter pernah dimasukkan. Kai menarik karet pinggang celana Sehun hingga semua bekas luka tempat slang makanan pernah ditancapkan terlihat. Kemudian Kai menemukan tempat masuknya transplantasi sumsum tulang belakang di pinggulnya.

Sehun sudah tidak tahan lagi. Ia duduk dan meraih kaosnya untuk menutupi diri.

" Oh, tidak, Sehun. Jangan hentikan ini. " Kai menangkap tangan Sehun dan menciumnya. Kemudian ia menarik kembali kaos digenggaman tangan Sehun. " Kenapa menutupi tubuhmu? Apa kau tidak ingin aku melihat tubuhmu? "

Sehun memalingkan wajah saat Kai melepas kaos yang menutupi dirinya. Payudaranya yang telanjang naik turun saat merasakan Kai memandanginya. Kemudian Kai mengecup setiap parut luka yang ia miliki.

Sehun gemetar, sekuat apapun ia mencoba untuk tetap diam. Tubuhnya memiliki banyak lubang kecil, parut, dan kulit kasar. Dan terlebih ia mandul karena efek dari obat yang ia konsumsi. Dan disinilah pria tampan ini, memujanya seakan semua yang ia miliki layak dihormati dan dipuja.

Saat Kai melihat ke atas dan tersenyum manis pada Sehun, tangis Sehun pun meledak. Isakannya keluar dengan keras, tarikan napasnya yang kencang seakan menekan rusuk rusuknya. Sehun menutupi wajah dengan kedua tangan berharap ia punya cukup kekuatan untuk pergi ke ruangan lain.

Kai mendekap tubuh Sehun yang gemetar dengan tangis didadanya, mengayun tubuh Sehun maju mundur, Sehun tak tahu berapa lama ia menangis, tapi pada akhirnya isakannya berhenti dan Sehun baru sadar Kai tengah berbicara padanya. Suku kata dan irama bicara Kai terdengar asing di telinga Sehun, dan kata katanya tak dapat dipahami. Tapi nadanya... Nadanya sungguh indah.

Sehun mundur, ia tidak bisa tergantung pada Kai, bahkan tidak pada saat ini. Hidupnya bergantung pada caranya untuk tetap waras, dan bukannya meratapi diri. Bila ia mulai menangis sekarang, ia pasti takkan berhenti dalam meratapi nasibnya beberapa minggu kedepan.

Sehun mengusap air matanya. Takkan pernah lagi, batin Sehun. Ia takkan hilang kendali lagi dihadapan Kai,

Sambil berdeham, Sehun mencoba tersenyum. " Nah, barusan benar benar merusak suasana, bukan? "

Kai mengatakan sesuatu dalam bahasa lain, menggeleng, dan kembali berganti ke bahasa yang dimengerti oleh manusia. " Kau boleh menangis semaumu. "

" Aku tidak ingin menangis, " Sehun menatap dada telanjang Kai. Tidak, yang ia inginkan saat ini adalah bercinta dengan Kai. Setelah rasa sedihnya hilang, tubuhnya kembali bereaksi pada pria itu. Dan karena Kai telah melihat luka lukanya dan tidak terlihat kehilangan minta, ia merasa lebih nyaman.

" Eemm.. Apakah kau masih ingin menciumku setelah melihat semua ini? " Tanya Sehun sambil tangannya menunjuk luka luka ditubuhnya.

" Ya. "

Tanpa membiarkan dirinya berpikir, Sehun meraih bahu Kai dan menarik pria itu turun kebibirnya. Kai menahan diri sejenak seakan terkejut akan kekuatan Sehun, tapi kemudian ia mencium Sehun dengan dalam dan lama, seakan mengerti apa yang dibutuhkan Sehun darinya. Dalam sekejap Kai telah menanggalkan seluruh pakaian Sehun, celana piama, kaus kaki, dan pakaian dalam dilempar kesamping.

Kai membelai Sehun dari kepala hingga kepaha dengan tangannya, dan Sehun bergerak bersamanya, naik, melenting, merasakan kulit telanjang Kai menggesek payudara dan perutnya sementara bahan licin celana mahal Kai menggosok tubuhnya dengan menggoda. Sehun amat menginginkan Kai dan kepalanya terasa ringan ketika Kai mengusapkan hidung ke lehernya dan menggigit lembut tulang selangkanya. Sehun mengangkat kepala dan melihat lidah Kai menjilat melingkari sebelum sepenuhnya mengulum nipple nya. Seiring isapan mulut Kai, tangan Kai meluncur kebagian dalam paha Sehun.

Kai menyentuh lipatan vagina Sehun. " Aaahhh.. " Sehun tersengal, napasnya terasa sesak.

" Sehun manis, kau persis seperti yang kubayangkan. Lembut... Lembab. " Suara Kai kasar, keras, membuat Sehun paham betapa besar upaya Kai untuk mengendalikan diri. " Bukalah dirimu lebih lebar untukku. Sedikit lagi. Ya, begitu, Sehun. Itu sungguh... Oh, ya. "

Kai menyelipkan satu, kemudian dua jari di vagina Sehun dan mulai menggerakkan secara perlahan agar Sehun bisa menyesuaikan diri. Kai mengeluarmasukkan jarinya sambil menggaruk dinding dinding vagina Sehun, membuat Sehun mengetatkan dinding vaginanya menjepit jari Kai.

" Aahhh... Kai.. Aaahhh... " Desah Sehun. Sudah lama sekali ia tidak merasakan hal ini, namun tubuh Sehun tahu kemana ia harus menuju. Sambil terengah, ia berpegangan pada bahu Kai dan menancapkan kukunya di bahu Kai.

Kai menjilat payudara Sehun dan jarinya terus ia keluar masukkan pada vagina Sehun, ibu jarinya mengusap klitoris Sehun, membuat tubuh Sehun menggelinjang.

Sehun menggerakkan pinggulnya seirama dengan gerakan jemari Kai. Tangannya mencengkeram rambut lembut Kai. Sehun benar benar sudah merasa diujung kenikmatan. Kai yang terus mengisap nipplenya, dan jemarinya yang semakin cepat keluar masuk di vaginanya membuat Sehun meledak, kekuatan klimaks yang menghempaskan dirinya dengan cepat ke tempat dimana hanya ada denyutan dan kabut putih.

" Aaaahhhh... Kaaiiihhh... " Desah Sehun.

Sehun mencoba mengatur napasnya setelah mengalami klimaks yang mengejutkan. Ketika ia kembali sadar, mata Kai yang setengah terpejam terlihat suram, wajahnya kaku dan kelam. Kai seperti orang asing, sama sekali terpisah dengan Sehun.

Sehun meraih selimut sofa untuk menutupi diri. Gerakan itu membuatnya sadar bahwa jemari Kai masih berada didalamnya.

" Kau sungguh cantik, " Ucap Kai kasar.

Kata itu membuat Sehun merasa lebih tidak nyaman. " Biarkan aku bangun, Kai. "

" Sehun _ "

" Ini terasa canggung sekali. " Sela Sehun. Ia bergerak gerak, yang malah membuatnya lebih merasakan Kai.

" Sehun, tatap aku. "

Sehun menatap marah pada Kai, merasa frustasi.

" Kau luar biasa cantik. " Puji Kai lagi.

Napas Sehun membeku. Untuk kemudian terengah dua kali lipat ketika Kai mengeluarkan jarinya dan mulai bergerak menuruni tubuhnya.

" Jangan hentikan aku, Sehun. " Kai mencium pusar Sehun, kemudian pinggulnya. " Aku membutuhkan lebih banyak dirimu dimulutku, didalam kerongkonganku. "

" Kai, aku... Oohhh... "

Lidah Kai membelai hangat tepat di pusat gairah Sehun. Sambil menjilat, Kai mengangkat kepala dan menatap Sehun. Kemudian dia menunduk dan mengarahkan lidahnya ke klitoris Sehun.

" Kau membuatku tak tahan, Sehun. " Ucap Kai, napasnya tepat mengenai tempat Sehun menginginkannya. Bakal janggutnya yang baru tumbuh terasa seperti gesekan lembut ketika ia bermandikan gairah Sehun.

Sehun memejamkan mata, merasa dirinya akan melayang. Ketika tubuhnya melenting dari lantai, tangan Kai menahan tubuh Sehun ditempatnya, menjaga tubuh Sehun agar tidak melepaskan diri dari serangan mulutnya.

" Tatap aku, Sehun. Lihat apa yang ku lakukan. " Perintah Kai.

Ketika Sehun menatap Kai, ia menangkap bayangan lidah merah muda Kai dengan bebas menjilatnya dan hanya itu yang sempat dilihatnya. Sehun terombang ambing di tepi kenikmatan, namun Kai terus melakukannya, Kai terus menggoda vaginanya. Seakan tak ada akhir dari kenikmatan yang diberikan oleh Kai.

Sehun mengulurkan tangan untuk menyentuh kejantanan Kai dari balik celana pria itu tapi dengan mudah Kai menghalau tangan Sehun, kemudian ia melakukan sesuatu yang tak terduga dengan taringnya. Kai menusukkan taringnya di vagina Sehun dan mengeluarkan cairan dari taringnya, Sehun menggelinjang. Kai mengawasi Sehun yang menggelinjang jatuh kedalam jurang kenikmatan, mata biru kehijauannya menyala nyala.

Setelah semuanya berakhir, nama Kai terucap parau dari bibir Sehun. " Ka.. Kai.. Apa itu tadihh? "

Tanpa menjawab pertanyaan Sehun, dengan sigap Kai berdiri dan menjauh dari Sehun. Saat Kai membalikkan tubuh, napas Sehun keluar dalam desisan. Sebuah tato luar biasa dengan banyak warna menutupi seluruh punggung Kai. Gambar naga, makhluk menakutkan dengan kaki bercakar lima dan tubuh melingkar yang kuat. Dipunggung Kai, makhluk buas itu menatap Sehun, seakan benar benar bisa melihatnya dengan mata putih itu. Dan sementara Kai mondar mandir, tato itu bergerak mengikuti gerakan otot dan kulit, bergeser gelisah seperti ingin keluar.

Merasakan embusan angin, Sehun menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya. Saat ia menengadah, Kai sudah berada jauh diseberang ruangan.

Tapi tetap saja, tato itu masih terus menatapnya.

.

.

.

Kai berjalan mengelilingi ruang duduk, mencoba menghilangkan rasa terbakar itu. Sudah cukup sukar baginya mengendalikan tubuhnya sebelum mulutnya merasakan Sehun. Dan kini setelah lidahnya turut merasakan Sehun, tulang punggungnya terasa terbakar, menyebar keseluruh otot yang ia miliki. Kulitnya menggelenyar terasa begitu gatal hingga ia ingin menggosoknya dengan benda tajam.

Astaga, ia harus menjauh dari wangi Sehun. " Sehun, aku harus sendirian dulu. " Kai melirik pintu kamar mandi. " Aku akan masuk kesana. Bila ada yang datang kemari atau kau mendengar sesuatu yang tidak biasa, aku mau kau segera memanggilku. " ia tidak melihat kearah Sehun ketika menutup pintu kamar mandi.

Di cermin di atas wastafel, pupilnya bercahaya putih dalam kegelapan. Oh Tuhan, ia tidak boleh membiarkan dirinya berubah wujud. Bila si makhluk buas keluar...

Kekhawatiran akan keselamatan Sehun membuat jantungnya berdegup kencang yang membuat segalanya lebih parah.

Hentikan. Berhentilah berpikir. Berhentilah panik. Batin Kai.

Kai menurunkan penutup toilet dan mendudukinya, meletakkan tangan dilutut. Ia memaksa otot ototnya untuk rileks lalu memfokuskan diri. Menarik napas panjang melalui hidungnya dan mengeluarkannya lewat mulut, ia berkonsentrasi untuk menjaga pernapasannya tetap tenang dan teratur.

Ambil napas, keluarkan. Ambil napas, keluarkan.

Kai berhasil menenangkan diri, ia lalu membuka mata dan mengangkat tangan. Getarannya sudah hilang, dan sekilas pandang di cermin menunjukkan pupilnya sudah hitam kembali. Ia menumpangkan tangannya di wastafel dan merosot.

Sejak dikutuk, seks hanya menjadi alat yang membantunya berurusan dengan si makhluk buas. Ketika ia meniduri wanita, ia cukup terstimulasi untuk melampiaskan kebutuhannya, namun rangsangan tak pernah naik hingga ketingkat si makhluk buas terpicu untuk keluar. Tidak pernah sejauh itu.

Tapi ketika bersama Sehun, semua melenceng dari perkiraan. Kai tidak yakin kalau ia mampu mengendalikan diri bila ia memasuki Sehun, apalagi mencapai orgasme. Getaran yang terpancar dari Sehun saat meneriakkan namanya membuat gairahnya langsung mencuat ke daerah yang berbahaya.

Kai kembali menarik napas panjang. Satu satunya yang bisa menyelamatkannya adalah ia harus bisa mengendalikan sistem sarafnya. Untung saja ia tadi masih bisa mengendalikan diri sebelum berbuat terlalu jauh pada Sehun.

Ia mencuci wajah dan mengeringkannya dengan handuk. Saat membuka pintu, ia mempersiapkan diri. Ia punya firasat saat melihat Sehun lagi, perasaan itu akan kembali sedikit.

Dan memang itulah yang terjadi.

Sehun tengah duduk di sofa, mengenakan celana longgar dab atasan wol halus. Cahaya lilin mempertegas kekhawatiran diwajahnya.

" Hei, " Sapa Kai.

" Apakah kau baik baik saja? " Tanya Sehun khawatir.

" Ya. " Kai mengusap rahangnya. " Maafkan aku tadi. Kadang kadang aku perlu waktu sebentar. "

Sehun membelalak.

" Ada apa? " Tanya Kai.

" Ini hampir jam enam. Kau berada didalam sana selama hampir delapan jam. " Sahut Sehun.

Kai mengumpat. Padahal ia berniat cepat. " Aku tidak sadar aku berdiam diri terlalu lama. "

" Aku, eh, aku memeriksa sekali dua kali. Aku khawatir... Omong omong, ada yang meneleponmu. Kalau tidak salah lihat namanya, Kris. " Ucap Sehun. " Teleponmu terus berdering. Akhirnya aku menjawabnya. " Ia menekuri kedua tangannya. " Kau yakin kau baik baik saja? "

Kai mengangguk. " Sekarang aku baik baik saja. "

Sehun menarik napas panjang dan mengeluarkannya. Tapi hal itu tidak membuatnya lebih santai.

" Sehun, aku... " Sialan. Umpat Kai. Apa tepatnya yang bisa ia katakan pada Sehun tanpa membuat semua ini lebih berat.

" Tidak apa apa. Apapun yang terjadi, tidak apa apa. " Ucap Sehun, terlebih pada diri sendiri.

Kai menghampiri sofa dan duduk disebelah Sehun. " Dengar, Sehun, aku mau kau ikut bersamaku malam ini. Aku ingin membawamu ke tempat aku tahu kau akan aman. Para lesser, makhluk makhluk yang ada ditaman waktu itu, mungkin tengah memburumu, dan tempat pertama yang akan mereka datangi adalah tempat ini. Kau kini menjadi target karena bersamaku. "

" Kemana kita akan pergi? "

" Aku ingin kau tetap bersamaku. " Kai berharap Kris mengijinkan Sehun untuk tinggal ditempat mereka. " Terlalu berbahaya bagimu berada disini sendirian. Ikutlah bersamaku selama beberapa hari sampai kita tahu apa yang harus kita lakukan. "

Kai sama sekali tidak menemukan solusi jangka panjang saat ini, namun ia akan menemukannya. Sehun menjadi tanggung jawabnya ketika ia membawa wanita itu kedalam dunianya, dan Kai takkan membiarkan Sehun tak terlindungi.

" Percayalah padaku. Hanya beberapa hari. "

.

.

.

Sehun mengemasi tas, sambil berpikir bahwa dirinya sudah gila karena menyetujui permintaan Kai. Ia akan pergi entah kemana bersama seorang vampir. Vampir.

Tapi, Sehun memercayai Kai. Pria itu terlalu jujur untuk berbohong dan terlalu pintar untuk menganggap remen ancaman. Lagipula, janji temunya dengan dokter spesialis baru akan dimulai rabu sore. Dan ia sudah mengambil cuti dari kerja. Tak akan ada yang terlewatkan.

Setelah selesai, Sehun kembali ke ruang duduk, Kai berbalik kearahnya, mengayunkan tasnya ke bahu. Sehun memandangi jaket hitam Kai.

" Apakah kau bersenjata? " Tanya Sehun.

Kai mengangguk.

" Ayo kita pergi. " Ajak Sehun.

Mereka berkendara tanpa bicara di sepanjang jalan hingga menuju zona tak dikenal diantara pinggiran kota. Tempat ini berbukit, daerah berhutan yang hanya terdiri atas deretan panjang hutan yang diselingi pohon. Tak ada lampu jalan, sedikit sekali mobil dan banyak rusa.

Dua puluh menit setelah mereka meninggalkan rumah, Kai berbelok ke jalan searah yang membawa mereka menanjak. Sehun hanya dapat melihat apa yang diterangi lampu depan.

Mendadak pagar besi hitam muncul dalam jarak pandang. Membuat Sehun terlonjak dari kursinya. Kai menekan pembuka pintu garasi dan gerbang itu terbuka hanya cukup ruang untuk mobil masuk. Tak lama mereka pun kembali menghadapi gerbang serupa. Kai membuka jendela mobil dan menekan serangkaian kode di interkom. Suara yang menyenangkan menyambutnya dan Kai melihat keatas dan kesebelah kiri, mengangguk ke kamera pengawas.

Gerbang kedua kembali terbuka dan Kai menekan pedal gas menuju jalan yang semakin menanjak. Mereka memutari tikungan, dan akhirnya Sehun bisa melihat mansion setinggi lima ratus meter. Setelah masuk ke jalur beratap lengkung dan melewati rangkaian barikade, mereka pun tiba dihalaman dengan air mancur ditengahnya.

Kai memarkirkan mobilnya diantara mobil Escalade dan Mercedes. Sehun keluar dan menjulurkan lehernya melihat ke puncak mansion. Dari atap, patung gargoyle menatap kearahnya, begitu juga kamera pengawas. Kai menghampiri Sehun seraya menenteng tas Sehun. Mulutnya terkatup, matanya menatap tajam.

" Aku akan menjagamu. Kau tahu itu, kan? " Tanya Kai. Saat melihat Sehun mengangguk, Kai tersenyum sedikit. " Semua akan baik baik saja, tapi aku minta kau tetap berada didekatku. Aku tak ingin kita terpisah. Jelas? Kau tetap bersamaku, apapun yang terjadi. "

Sehun hanya mengangguk.

Mereka berjalan menuju sepasang pintu perunggu yang telah dimakan cuaca dan Kai membuka salah satunya. Setelah mereka masuk ke ruang tamu tak berjendela, panel besar itu menutup dengan getaran keras. Kai menekan kode dan terdengar bunyi kunci bergeser. Kai menggenggam tangan Sehun dan membuka pintu kedua, membawa Sehun ke ruangan luas.

Sehun terkesiap. Betapa... Ajaib!

Lobinya merupakan pelangi penuh warna, tak terduga seperti taman bunga didalam gua. Dindingnya berwarna kuning terang dan digantungi cermin berpigura emas dan lampu kristal. Langit langitnya, jauh setinggi tiga lantai. Dan didepan sana, ditengah tengah semua kemegahan ini, terdapat tangga lebar yang mengarah ke balkon di lantai dua.

Ruangan ini begitu indah tapi suara suara yang datang dari tempat itu tidak sesuai dengan keindahan tempat ini. Dari ruangan di sebelah kiri, musik rap hard core berdegup kencang dan membawa suara suara pria. Bola billiard menabrak satu sama lain. Lalu terdengar seseorang berteriak. " Ayo, lempar yang jauh. "

Bola futbol melayang ke ruangan itu, dan seorang pria datang untuk menangkapnya. Ia melompat dan tangannya baru saja meraih bola ketika pria yang lebih besar lagi menabraknya. Keduanya jatuh bergulingan kelantai dengan lengan dan kaki bertautan.

" Aku mengalahkanmu, Chen. "

" Tapi kau belum mendapatkan bolanya, vampir. "

Gerutuan, tawa, dan umpatan umpatan mengalir ketika para pria itu berebut bola, saling menjatuhkan. Lalu masuk lagi dua pria dalam pakaian kulit hitam untuk menonton aksi itu dan sang kepala pelayan ikut menyaksikan pergulatan itu dengan senyum maklum.

Lalu mendadak semuanya sunyi ketika mereka menyadari kehadiran Sehun.

Kai menggeser Sehun ke belakang tubuhnya.

" Brengsek, " Umpat seseorang.

Salah satu dari pria itu maju seperti tank. Walaupun berbadan lebih kecil tapi aura dari pria itu terkesan menyeramkan.

" Apa apaan kau? "

Kai memperlebar sikap defensifnya, menjatuhkan tas Sehun, dan mengangkat tangannya ke dada. " Dimana Kris? "

" Aku bertanya padamu, " Bentak pria itu. " Apa yang kaulakukan dengan membawanya kemari? "

" Aku perlu bertemu, Kris. " Tegas Kai.

" Aku menyuruhmu menyingkirkannya. Atau kau berharap salah satu dari kami yang melakukan pekerjaan itu? "

Kai menghadapi pria itu. " Hati hati, Kyungsoo. Walaupun kau pasangan Rajaku, tapi kalau kau mencelakakan Sehun, aku pasti akan tetap melukaimu. "

Sehun melirik kebelakang. Pintu masih terbuka. Dan saat ini menunggu di mobil sementara Kai membereskan masalahnya rasanya ide yang bagus. Ia tidak pedul dengan aturan tetaplah- bersamaku- apa- pun- yang- terjadi.

Sambil mundur, tatapan Sehun tidak meninggalkan Kai. Sampai ia menabrak sesuatu yang keras. Ia berputar, melihat ke atas, dan kehilangan suaranya.

Yang menghalangi jalan keluarnya memiliki luka besar dipipi, mata berwarna hitam, dengan aura kemarahan dingin. Sebelum Sehun sempat lari ketakutan, pria itu meraih tangan Sehun dan memutarnya menjauhi pintu.

" Jangan berpikir untuk melarikan diri. " Pria itu memperlihatkan taringnya yang panjang, ia mengamati tubuh Sehun. " Aneh, kau bukan tipenya yang biasa. Tapi kau hidup dan ketakutan setengah mati. Jadi kau sudah cukup bagiku. "

Sehun menjerit.

Semua kepala diruangan itu menoleh. Kai langsung berlari menghampiri Sehun, menariknya dan membawa tubuh Sehun menempel padanya. Kai berbicara dengan kasar dalam bahasa yang tidak dimengerti Sehun.

Pria berwajah luka itu menyipitkan mata." Tenanglah, Kai. Aku hanya berusaha menahan mainan kecilmu tetap disini. Kau akan membaginya atau bersikap egois seperti biasa? "

Kai memandang pria itu seakan hendak memukulnya ketika suara wanita menghentikannya.

" Oh, demi Tuhan! Kalian membuatnya takut! "

Sehun melongo dari balik dada Kai dan melihat wanita itu menuruni tangga. Dia terlihat " normal ".

" Kai, kami lega karena kau pulang dengan selamat. Dan Kris akan segera turun. " Ia menunjuk ke ruangan tempat para pria itu tadi keluar. " Kalian semua kembalilah kesana. Ayo, sekarang juga. Kalau kalian mau adu kekuatan, lakukan di meja billiard. Makan malam akan dimulai setengah jam lagi. Dan Kyungie, apa itu sifat pendamping seorang Raja? Kakak pasti tidak akan senang melihatnya. "

Wanita itu mengusir para pria dengan santai. Mereka pergi keruangan yang ditunjuk wanita tadi. Satu satunya pria yang tetap tinggal adalah pria yang dipanggil Kyungie tadi.

Dia tampak lebih tenang sekarang ketika menatap Kai. " Ini akan menimbulkan dampak berkepanjangan, Kai. "

Wajah Kai mengeras dan mereka kembali berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal Sehun.

Wanita berambut hitam itu menghampiri Sehun. " Jangan khawatir. Semua akan baik baik saja. Namaku Tiffany. "

Sehun menarik napas panjang, secara naluriah memercayai satu satunya wanita dalam belantara hormon testeron ini.

" Sehun. Oh Sehun. "

Tiffany mengulurkan tangannya dan tersenyum.

Taring.

Sehun merasakan lantai yang dipijaknya goyah.

" Kurasa dia akan pingsan, " Tiffany berteriak seraya meraih kedepan. " Kai !"

Sepasang lengan yang kuat melingkari pinggang Sehun ketika lututnya lunglai.

Hal terakhir yang diingat Sehun sebelum semuanya gelap hanyalah suara Kai. " Aku akan membawanya kekamarku.

.

.

.

Sambil membaringkan Sehun ditempat tidurnya, Kai menyalakan lampu yang berpendar dengan cahaya samar.

Sehun sadar dan membuka matanya. Kai yang melihat Sehun terbangun lalu berucap. " Kau aman disini. "

" Ya benar. "

" Aku akan membuatnya aman bagimu. Bagaimana menurutmu? " Tanya Kai.

" Sekarang aku memercayaimu. " Sehun tersenyum simpul. " Maafkan aku karena pingsan seperti tadi. Biasanya aku tidak mudah pingsan. "

" Cukup bisa dimaklumi. Dengar, aku harus menghadiri pertemuan bersama saudara saudaraku. Kau lihat kunci besi dipintu itu? Hanya aku yang memiliki kuncinya, jadi kau akan aman disini. " Ucap Kai.

" Para pria itu tidak senang melihatku. " Lirih Sehun.

" Itu masalah mereka. " Kai menyisir rambut Sehun ke belakang, menyelipkannya ke belakang telinga. Ia ingin mencium Sehun, namun akhirnya memilih untuk berdiri.

Sehun sungguh terlihat sangat pas berada ditempat tidurnya, terbaring diantara tumpukan bantal. Kai menginginkan Sehun berada disana besok, lusa, dan...

Ini bukan kesalahan, disinilah tempat Sehun yang sesungguhnya, batin Kai.

" Kai, kenapa kau melakukan semua ini untukku? Maksudku, kau tidak berutang apapun padaku, dan kau nyaris tidak mengenalku. " Ucap Sehun lembut.

Karena kau milikku, jawab Kai dalam hati. Menyimpan rahasia kecil itu untuk dirinya sendiri, Kai membungkuk dan mengelus pipi Sehun dengan telunjuknya. " Aku takkan lama. "

" Kai _ "

" Biarkan aku menjagamu, dan jangan risaukan apapun. " Tegas Kai.

Kai menutup pintu dibelakangnya dan memutar kuncinya sebelum pergi ke lorong, Kris berada di paling depan. Sang Raja terlihat muram, alis hitamnya terkubur dibelakang kacamata hitamnya.

" Dimana kau ingin melakukan ini? " Kai bertanya.

" Di ruang kerjaku. "

Setelah mereka semua berbaris masuk ke ruang formal itu, Kris menuju ke belakang meja kerjanya dan duduk. Kyungsoo mengikuti Kris dan berdiri dibelakangnya. Tao dan Chanyeol berdiri didekat dinding berlapis sutra.

Kris menggeleng. " Kai, kita punya masalah serius saat ini. Kau melanggar perintah langsung. Dua kali. Kemudian kau membawa manusia kedalam rumah ini, yang kau tahu terlarang _ "

" Dia berada dalam bahaya_ "

Kris memukulkan tinjunya ke meja, membuat semua barang berlompatan ke lantai. " Sebaiknya kau tidak memotong pembicaraanku saat ini. "

Kai mengertakkan gerahamnya, menekan dan menggigit. Ia memaksakan kata kata penghormatan yang biasanya keluar dengan bebas. " Aku tidak bermaksud menyinggungmu, My Lord. "

" Seperti yang kukatakan, kau tidak mematuhi Kyungsoo dan memperberat kesalahan dengan muncul bersama manusia. Apa yang kau pikirkan? Maksudku, brengsek, kau bukan orang idiot, terlepas kelakuanmu. Dia berasal dari dunia yang berbeda, jadi dia berpeluang membeberkan keadaan kita. Dan kau juga tahu ingatannya telah menjadi ingatan jangka panjang dan traumatis. Dia sudah rusak secara permanen. " Lanjut Kris.

Kai merasakan geraman dari dalam dadanya dan dia tidak dapat mengisapnya kembali. Suara itu menguar keluar. " Dia terancam. "

" Ya, aku tahu dia terancam. Tapi kau tidak harus membawanya kemari. Karena kau membawanya kemari masalah ini menjadi keputusanku. "

Kai memperlihatkan taringnya. " Kalau begitu aku akan pergi. Aku akan pergi bersamanya. "

Alis Kris muncul dari balik kacamata hitamnya. " Sekarang bukanlah waktunya untuk mengeluarkan ancaman, Kai. "

" Ancaman? Aku serius! " Teriak Kai. Ia lalu menenangkan diri dengan mengusap wajah dan mencoba bernapas. " Dengar, semalam kami berdua diserang beberapa lesser. Dia sempat tertangkap dan aku setidaknya telah membiarkan satu lesser itu pergi ketika mencoba menolongnya. Dia kehilangan tasnya, dan aku yakin lesser yang selamat itu telah memungut tasnya. Sekalipun aku menghapus ingatan Sehun, rumahnya sudah tak lagi aman dan aku takkan membiarkannya diculik oleh para lesser. Bila dia dan aku tak bisa tinggal disini, dan satu satunya cara untukku melindunginya adalah dengan pergi bersamanya, itulah yang akan kulakukan. "

Kris mengerutkan dahi. " Kau sadar kau lebih memilih wanita itu ketimbang kami, saudaramu. "

Kai menghembuskan napas. Astaga, ia sama sekali tidak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini. Tapi sepertinya itulah yang terjadi.

Tak tahan diam ditempat, Kai berjalan ke salah satu jendela. Sambil melihat keluar, ia melihat taman yang luas, kolam renang dan halaman luas yang menghampar. Namun ia sama sekali tidak memusatkan perhatian pada lahan yang terpelihara itu. Apa yang ia lihat adalah perlindungan yang ditawarkan tempat ini.

Lampu keamanan menerangi kediaman yang indah ini. Kamera pengawas bertengger disetiap pohon, merekam setiap waktu yang berlalu. Sensor gerak memonitor seluruh tempat. Dan bila seseorang mencoba memanjat tembok itu, akan disambut ucapan selamat malam berkekuatan 240 volt.

Ini lingkungan teraman bagi Sehun. Paling aman.

" Dia bukan sekedar wanita lain bagiku, " Kai bergumam. Aku ingin menjadikannya shellan ku ( shellan = pasangan vampir ), jika aku bisa. "

Seseorang mengumpat sementara yang lainnya menarik napas tajam.

" Kau bahkan tidak mengenalnya, " Sergah Kyungsoo. " Terlebih dia seorang manusia. "

" Apa salahnya dia seorang manusia? " Geram Kai.

Suara Kris rendah, memaksa. " Kai, jangan mengundurkan diri dari Brotherhood karena hal ini. Kami membutuhkanmu. Rasmu membutuhkanmu. "

" Kalau begitu kelihatannya Sehun akan tetap tinggal disini. " Tegas Kai.

Kris bangkit dari kursinya dan berjalan mengelilingi meja dengan mantap. Ia berhenti ketika berhadapan dengan Kai. " Hubungan dengan manusia dibatasi dan hanya boleh dilakukan didalam wilayah mereka, kau tahu itu. Tak ada yang boleh tinggal dirumah ini kecuali anggota Brotherhood dan para shellan, bila mereka memilikinya. "

" Tapi Sehun tidak akan tinggal lama disini. " Ucap Kai.

" Darimana kau tahu itu? Kaukira para lesser akan menyerah? Kau kira manusia tiba tiba akan menjadi toleran terhadap ras kita? Yang benar saja. " Bantah Kris.

Kai menurunkan nada suaranya, tapi tidak tatapannya. " Dia sedang sakit, Kris. Dia mengidap kanker. Aku ingin menjaganya. "

Terdapat keheningan yang cukup panjang.

" Sial, kau telah mengikatkan diri padanya. " Kris menyisir rambutnya dengan tangan. " Demi Tuhan, kau baru saja bertemu dengannya, Kai. "

" Saat kau tahu itu pasanganmu, kau tidak memerlukan waktu yang lama. " Ucap Kai. " Dengar, My Lord. Sehun sungguh... Berbeda untukku. Aku takkan berpura pura mengerti mengapa. Yang aku tahu hanyalah dia merupakan debaran dijantungku yang tak bisa kuabaikan... Sial, yang tak mau kuabaikan. Jadi gagasan untuk meninggalkannya dalam belas kasihan lesser bukanlah pilihan. Sejauh menyangkut diri Sehun, seluruh insting protektif yang kumiliki langsung bekerja keras dan aku tak bisa menyingkirkannya begitu saja. Sekalipun demi Brotherhood. "

Kai terdiam dan semenit berlalu. Berjam jam atau mungkin hanya beberapa detakan jantung.

" Bila aku membiarkannya tinggal disini, " Kris memandang Kai. " itu hanya karena kau memandangnya sebagai pasanganmu dan hanya bila dia bisa menutup mulut. Dan kita masih harus menangani fakta bahwa kau melanggar perintah dari Kyungsoo. Aku tak bisa membiarkan hal itu. Aku harus membawa masalah ini pada Scribe Virgin. "

Bahu Kai terkulai lega. " Aku bersedia menerima segala akibat tindakanku. "

" Baiklah. " Kris kembali ke mejanya dan duduk. " Ada hal lain yang perlu kita bicarakan, Kai. Kyungsoo giliranmu. "

Kyungsoo melangkah maju. " Aku mendengar desas desus mengenai makhluk malam yang berkeliaran dan menakuti warga sipil. Jadi, aku punya tugas untuk kalian memastikan makhluk apa itu. " Ia lalu menatap Kai. " Dan sekarang, ceritakan pada kami apa yang terjadi semalam di taman. "

.

.

.

Setelah Kai pergi, dan ia merasa cukup kuat untuk berdiri, Sehun turun dari tempat tidur dan memeriksa pintu. Pintunya terkunci dan tampak kokoh, sehingga ia merasa cukup aman. Ia melihat tombol lampu disebelah kiri, lalu menekannya, menyirami ruangan dengan cahaya.

Astaga, ruangan ini seperti istana, batin Sehun.

Gorden sutra merah dan emas tergantung dijendela dan kain beledu menghiasi ranjang antik dan besar, tiang ranjangnya terbuat dari kayu ek utuh. Tapi bukan hanya perabot antik saja yang ada tapi LED TV, perlengkapan stereo canggih, komputer sekelas milik NASA, dan Xbox ada.

Sehun berjalan menuju rak buku, buku buku yang ada disana bersampul kulit mewah. Dan juga ada deretan film film action. Setelah puas melihat koleksi buku dan kaset dvd milik Kai, Sehun masuk kekamar mandi dan menyalakan lampu. Jacuzzi seukuran ruang duduknya dipasang dilantai marmer.

" Nah inilah keindahan sesungguhnya, " Gumam Sehun mengagumi kamar mandi Kai.

Sehun mendengar pintu dibuka dan merasa lega ketika mendengar Kai memanggil namanya.

" Aku didalam sini, memeriksa bak mandimu. " Sahut Sehun. Ia berjalan kembali kekamar. " Apa yang terjadi? "

" Semuanya baik baik saja. " Ucap Kai.

Kau yakin? Sehun ingin bertanya seperti itu tapi ia merasa takut. Ia tidak yakin semua baik baik saja, karena ia melihat Kai berjalan dengan tegang menuju lemari bajunya.

" Jangan khawatir, kau bisa tinggal disini. " Ucap Kai.

" Tapi... "

" Tidak ada tapi tapian. " Sela Kai.

" Kai, apa yang terjadi? " Tanya Sehun lembut.

" Aku harus pergi bersama saudara saudaraku malam ini. " Kai kembali tanpa mantelnya dan menuntun Sehun ke tempat tidur, menariknya agar duduk disampingnya. " Pelayan pelayan kami tahu kau ada disini. Mereka sangat setia dan ramah, tak ada yang perlu ditakutkan. Fritz, yang mengelola rumah ini, akan membawakanmu makanan sebentar lagi. Bila kau membutuhkan apapun, mintalah padanya. Aku akan kembali waktu subuh. "

" Apa aku akan terkunci disini sampai kau datang? "

Kai menggeleng lalu berdiri. " Kau bebas berkeliaran didalam rumah ini. Takkan ada yang menganggumu. " Kai mengambil secarik kertas dari kotak kulit dan menulisinya. " Ini nomor ponselku. Telepon aku bila kau membutuhkanku, dan aku akan segera berada disini dalam sekejap. "

" Kau punya alat transporter tersembunyi disini? "

Kai menatap Sehun lalu menghilang.

Bukan menghilang dengan meninggalkan ruangan secepat kilat. Tapi wus! Menghilang begitu saja. Sehun melompat dari ranjang, menahan teriakan kaget dengan tangannya.

Lengan Kai melingkari Sehun dari belakang. " Dalam sekejap. "

Sehun memegang pergelangan tangan Kai, menekan tulangnya untuk memastikan ia tidak sedang berhalusinasi. " Benar benar trik yang hebat. " Suaranya bergetar. " Apalagi yang kau punya dibali topi sulapmu? "

" Aku bisa menyalakan dan mematikan lampu. " Ruangan pun seketika gelap. " Aku bisa menyalakan lilin. " Sepasang lilin dimeja rias menyala. " Dan aku cukup ahli dengan kunci dan semacamnya. "

Sehun mendengar bunyi kunci terbuka dan tertutup, diikuti pintu lemari baju yang terbuka dan tertutup.

" Oh, dan aku bisa melakukan sesuatu yang hebat dengan lidahku dan tangkai buah ceri. " Kai mengecup sisi leher Sehun, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup dan Sehun mendengar shower dinyalakan.

Sehun membeku ditempat, sambil memandangi koleksi kaset dvd Kai, ia memutuskan untuk mengalihkan perhatian. Ia perlu melakukan itu terutama ketika seseorang yang baru ia kenal memiliki terlalu banyak keanehan, terlalu banyak melenceng dari kenyataan, terlalu... Segalanya.

Ketika Kai keluar dari kamar mandi, sudah bercukur, wangi sabun mandi, dengan duduk handuk melilit dipinggulnya, Sehun tengah duduk diranjang, film Austin Powers Goldmember diputar di TV.

" Hei, ini klasik. " Kai tersenyum dan memandang layar TV.

Sehun langsung melupakan film ketika melihat bahu yang lebar itu, otot otot lengannya, handuk yang mengikuti bentuk bokong Kai. Dan tato itu. Makhluk menakutkan yang melingkar dengan mata berwarna putih.

Kai lalu melangkah menuju lemari bajunya. Bertentangan dengan nalurinya, Sehun mengikuti Kai dan bersandar disalah satu daun pintu, mencoba terlihat biasa biasa saja. Kai tengah memunggunginya ketika pria itu menarik celana kulit warna hitam. Tatonya bergerak ketika Kai menarik ritsletingnya.

Desahan lembut mengalir dari bibir Sehun. Sungguh pria yang luar biasa. Vampir. Apapun dia. Batin Sehun.

Kai menoleh. " Kau baik baik saja? "

Sesungguhnya, Sehun merasakan gairah disekujur tubuhnya.

" Sehun? "

" Aku baik baik saja. " Sehun menundukkan pandangannya dan memperhatikan koleksi sepatu yang berjajar dilantai. " Sebetulnya aku akan mengobati diri dengan koleksi filmmu sampai aku mengalami koma kebudayaan. "

Saat Kai membungkuk untuk mengenakan kaus kakinya, pandangan Sehun kembali terpaku pada kulit pria itu. Kulit yang begitu mulus, keemasan _

" Soal pengaturan tidur, " Ucap Kai membuyarkan lamunan Sehun. " Aku akan tidur dilantai. "

Tapi aku benar benar ingin berada diranjang besar itu bersamamu, batin Sehun. " Jangan konyol, Kai. Kita berdua sama sama dewasa. Dan ranjang itu cukup besar untuk ditiduri enam orang. "

Kai tampak ragu. " Baiklah. Aku janji takkan mendnegkur. "

Kai mengenakan kemeja hitam berlengan pendek dan memasukkan kakinya kesepatu bot. Kemudian ia berhenti sejenak, memandangi lemari besi yang menjulang dari lantai ke langit langit yang dipasang didinding lemari pakaian.

" Sehun, bisakah kau keluar dulu? Aku butuh waktu sebentar, oke? "

Pipi Sehun memerah dan ia membuang muka. " Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu privasimu_ "

Kai menggenggam tangan Sehun. " Bukan itu. Kau mungkin takkan menyukai apa yang akan kau lihat. "

Seakan masih ada lagi yang dapat mengejutkanku setelah hari ini? Batin Sehun.

" Lakukanlah, " Gumam Sehun. " Lakukan... Apapun. "

Kai mengusap pergelangan tangan Sehun dengan ibu jarinya, kemudian membuka lemari besi itu. Ia mengambil sarung senjata dari kulit berwarna hitam dan menyampirkannya didepan dada, mengikatnya tepat di bawah otot dadanya. Berikutnya sabuk lebar, seperti yang dikenakan polisi, tapi sama dengan sarung senjata tadi, tak ada apa apa disitu.

Kai memandang Sehun. Kemudian mengeluarkan persenjataannya.

Dua belati panjang berwarna hitam, yang ia sarungkan didada dengan gagang menghadap kebawah. Senjata mengkilap yang ia periksa isinya dengan gerakan gerakan cepat dan pasti sebelum mendaratkannya dipinggul. Beberapa pisau lempar yang berkilau dan sebuah klip amunisi hitam dalam sabuk. Lalu, pisau lebih kecil yang ia sembunyikan disuatu tempat.

Kai mengambil jaket hitam panjangnya dari gantungan dan mengenakannya. Ia menepuk nepuk kantongnya. Ia mengeluarkan senjata lain lagi dari lemari dan memeriksanya secepat kilat sebelum memasukkannya ke kantong kantong rahasia jaketnya. Ia mengambil beberapa senjata rahasia ala ninja berbentuk bintang di kantong jaketnya. Menambah sebuah belati lagi.

Setelah selesai Kai menghadap Sehun tiba tiba, dan Sehun mundur dengan cepat.

" Sehun, jangan melihatku seolah aku orang asing. Ini tetap aku, dibalik semua ini. " Lirih Kai.

Sehun tidak berhenti mundur sampai ia menabrak tempat tidur. " Kau memang orang asing. " Bisiknya.

" Aku akan kembali sebelum subuh. " Kai mengeraskan rahangnya lalu pergi tanpa keraguan.

Sehun tak tahu berapa lama ia duduk dan menekuri karpet. Tapi ketika ia menengadah, ia berjalan dan meraih telepon.

.

.

.

Suho membuka oven, mengintip makan malamnya dan menyerah.

Berantakan sekali.

Ia mengangkat loyang dan tengah berjalan menuju pintu halaman belakang ketika telepon berdering.

" Halo? "

Jeda sesaat. " Suho? "

" Sehun! Aku menelponmu tadi. Tunggu sebentar, aku perlu memberi makan peliharaanku dulu. " Suho meletakkan telepon dimeja, berlari ke halaman belakang, membuang masakannya, lalu berlari masuk kembali dan meraih gagang telepon setelah melempar loyang kotor ke bak cuci. " Bagaimana keadaanmu? "

" Suho, aku perlu tahu sesuatu. " Suara Sehun terdengar resah.

" Apapun, Sehun. Ada apa? " Tanya Suho lembut.

" Apakah kau... Salah satu dari mereka? "

Suho merosot kesalah satu kursi meja dapurnya. " maksudmu, apakah aku berbeda darimu? "

" Iya. "

Suho menghela napas. " Ya, Sehun. Ya, aku berbeda. "

Terdengar embusan napas diujung sana. " Oh, syukurlah. "

" Entah kenapa, menurutku mengetahui hal itu bukanlah hal melegakan. " Bingung Suho.

" Sebaliknya. Aku... Aku benar benar butuh berbicara dengan seseorang. Aku sangat bingung. " Lirih Sehun.

" Bingung tentang? Eh.. Tunggu sebentar bagaimana kau bisa tahu tentang kami? " Tanya Suho.

" Kai memberitahuku. Yah, dia juga menunjukkan padaku. " Sahut Sehun.

" Maksudmu dia tidak menghapus... Kau ingat dia? "

" Aku tinggal bersamanya. " Ucap Sehun.

" Kau apa? " Teriak Suho.

" Aku tinggal bersamanya. Dirumahnya. Bersama sekelompok pria vampir, ya Tuhan. " Sehun berdeham.

Suho menutup mulut dengan tangan. Tak ada yang tinggal bersama Brotherhood. Tak ada yang bahkan tahu dimana mereka tinggal. Dan wanita ini manusia, bisa tinggal bersama mereka.

" Sehun, bagaimana kau... Bagaimana semua ini terjadi? "

Ketika semuanya sudah Sehun ceritakan, Suho terkesima.

" Halo? Suho? " Panggil Sehun.

" Maaf, aku... Apakah kau baik baik saja? " Tanya Suho setelah sadar dari rasa terkejutnya.

" Kurasa begitu. Setidaknya saat ini aku baik baik saja. Dengar, aku harus tahu. Kenapa kau mempertemukan kami? Kai dan aku? " Tanya Sehun.

" Dia melihatmu dan dia... Menyukaimu. Dia berjanji padaku dia takkan melukaimu, dan itulah satu satunya alasan aku setuju untuk mempertemukan kalian dalam kencan itu. " Jelas Suho.

" Kapan dia melihatku? " Tanya Sehun.

" Pada malam kita membawa Minho ketempat pelatihan. Apa kau tidak ingat itu? "

" Tidak, aku tidak ingat, tapi Kai memberitahuku aku pergi kesana. Apakah Minho... Vampir? "

" Ya, dia vampir. Masa transisinya sebentar lagi tiba, itulah sebabnya kau terlibat. Dia akan mati kecuali salah satu dari ras kami mendampinginya saat masa transisi itu tiba. Dia butuh minum darah dari wanita vampir. " Jelas Suho.

" Jadi malam itu, ketika kau bertemu dengan Minho, kau sudah tahu? " Tanya Sehun lagi.

" Ya. " Suho memilih kata katanya dengan cermat. " Sehun, apakah pejuang vampir itu memperlakukanmu dengan baik? Apakah dia... Lembut padamu? "

" Dia merawatrku. Melindungiku. Tapi aku tidak tahu kenapa. " Jawab Sehun.

Suho mendesah, ia tahu kenapa Kai bersikap seperti itu. Menilik bagaimana pejuang vampir itu begitu tergila gila pada Sehun, Kai mungkin sudah menjalin ikatan dengan Sehun.

" Tapi aku akan segera pulang. " Ucap Sehun. " Beberapa hari lagi. "

Suho tidak terlalu yakin tentang itu. Sehun sudah terlalu jauh memasuki dunia mereka daripada yang disadari Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Masih ada yang minat?