LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 8

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya )

RATED M

.

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

" Dia merawatku. Melindungiku. Tapi aku tidak tahu kenapa. " Jawab Sehun.

Suho mendesah, ia tahu kenapa Kai bersikap seperti itu. Menilik bagaimana pejuang vampir itu begitu tergila gila pada Sehun, Kai mungkin sudah menjalin ikatan dengan Sehun.

" Tapi aku akan segera pulang. " Ucap Sehun. " Beberapa hari lagi. "

Suho tidak terlalu yakin tentang itu. Sehun sudah terlalu jauh memasuki dunia mereka daripada yang disadari Sehun.

.

HAPPY READING

.

Sehun melirik jam digital : 01 : 56. Fajar masih berjam jam lagi, dan ia tidak bisa tidur. Satu satunya yang terbayang olehnya saat memejamkan mata adalah senjata senjata yang menggantung ditubuh Kai.

Ia berguling telentang. Ide tentang tidak pernah bertemu dengan Kai lagi begitu mengganggunya, hingga ia menolak mencermati perasaan itu dengan seksama. Ia hanya menerima perasaan itu, memikulnya dengan berat hati dan berharap menemukan kelegaan.

Ya Tuhan, seandainya saja waktu bisa dikembalikan sebelum Kai pergi. Ia akan memeluk erat pria itu, dan menguliahinya dengan lembut tentang selalu berjaga jaga walaupun ia tidak tahu menahu tentang pertempuran dan Kai, ia berharap Kai hebat dalam bertarung. Ia hanya ingin Kai selamat _

Mendadak kunci dibuka. Saat pintu terpentang, terlihat Kai masuk dengan santai. Sehun langsung melompat dari tempat tidur, berlari melintasi ruangan, dan melemparkan diri pada Kai.

" Wow, apa... " Lengan Kai langsung melingkari tubuh Sehun dan mengangkat wanita itu, menahannya ditubuhnya sendiri saat ia melangkah masuk dan menutup pintu. Kai kemudian melepaskan tubuh Sehun, membuat tubuh Sehun meluncur turun. " Kau baik baik saja? "

Saat kakinya menyentuh lantai, Sehun kembali ke kenyataan.

" Sehun? "

" Ah, yah... Ya, aku baik baik saja. " Sehun melangkah ke samping. Mengedarkan pandangan. Wajahnya merah padm. " Aku cuma... Yah, aku cuma akan kembali tidur sekarang. "

" Tunggu, Sehun. " Kai melepaskan jaketnya, sabuk pistol didada, serta sabuk senjatanya. " Kembalilah kemari. Aku suka caramu menyambut kepulanganku. "

Kai merentangkan lengan dan Sehun masuk ke pelukannya, memeluk pria itu erat erat, merasakan napas pria itu. Tubuh Kai begitu hangat dan wangi, seperti udara segar dan keringat yang bersih.

" Aku tidak menduga kau sudah bangun, " Gumam Kai, mengusap usap punggung Sehun.

" Aku tidak bisa tidur. " Sahut Sehun.

" Sudah kubilang, kau aman disini, Sehun. " Jemari Kai menemukan pangkal leher Sehun dan memijat keras keras. " Sial, kau tegang sekali. Kau yakin kau tidak apa apa? "

" Aku baik baik saja. Sungguh. "

Kai berhenti mengusap Sehun. " Apakah kau pernah menjawab pertanyaan itu dengan jujur? "

" Barusan aku menjawab dengan jujur, well, kurang lebih. " Jawab Sehun.

Tangan Kai mulai mengusap Sehun lagi. " Maukah kau berjanji padaku? "

" Apa? "

" Maukah kau memberitahuku saat kau tidak merasa baik baik saja? " Suara Kai berubah menggoda. " Maksudku, aku tahu kau kuat, jadi aku takkan terlalu berharap kau melakukan itu. Kau tidak perlu cemas kau akan membuatku mati karenanya. "

Sehun tertawa. " Aku janji. "

Kai menengadahkan dagu Sehun dengan jemarinya, matanya muram. " Aku akan memegang janjimu. " Lalu ia mengecup pipi Sehun. " Dengar, aku akan kedapur dan mengambil makanan. Kau mau ikut? Rumah ini sepi. Penghuni yang lain masih tidur. "

" Tentu. Aku ganti baju sebentar. " Ucap Sehun.

" Pakai saja salah satu jubah wol ku. " Kai berjalan ke lemari baju dan mengeluarkan bahan halus dan hitam. " Aku menyukai gagasan kau memakai bajuku. "

Selagi membantu Sehun memakainya, senyum Kai begitu maskulin, puas dan posesif.

Dan senyum itu sangat cocok untuk wajahnya.

.

.

.

Ketika mereka sudah selesai makan dan kembali ke kamarnya diatas, Kai sulit berkonsentrasi. Dengungan itu bergaung dengan kekuatan penuh, lebih parah dibanding sebelumnya. Dan ia benar benar terangsang, tubuhnya begitu panas hingga ia merasa darah akan mengering dalam pembuluhnya.

Saat Sehun beranjak ke tempat tidur dan bersiap siap tidur, Kai mandi dengan cepat dan bertanya tanya apa yang harus dilakukannya dengan gairahnya. Ia begitu bergairah hingga tubuhnya terasa nyeri, dan air yang mengalir menuruni tubuhnya membuatnya memikirkan tangan Sehun dikulitnya. Ia mengingat rasa Sehun dibibirnya.

Kai berusaha mengalihkan perhatian dari Sehun, tapi tubuhnya seolah tahu bahwa hal yang sebenarnya ia inginkan adalah menekan Sehun diranjangnya dan tidak akan membiarkan Sehun bangun dari ranjangnya sampai mereka berdua puas.

Sambil mengumpat, Kai keluar dari shower, mengeringkan diri, lalu berjalan ke lemari pakaiannya. Sambil berdoa pada ketelitian Fritz pada detail, ia mengaduk aduk isi lemarinya hingga menemukan - terima kasih, Tuhan - piyama yang tidak pernah dipakainya dan mengenakan jubah tidur yang serasi diatasnya.

Kai meringis, merasa seperti memakai separo isi lemarinya.

" Apakah kamar ini terlalu hangat untukmu? " Tanya Kai seraya menyalakan lilin dan mematikan lampu.

" Hangat sempurna. " Sahut Sehun.

Kai sendiri sebenarnya merasa seperti berada di negara tropis, dan suhu tubuhnya melesat naik saat ia menghampiri tempat tidur dan duduk disisi yang berseberangan dengan Sehun.

" Dengar, Sehun, satu jam lagi, pada pukul 05 . 30, kau akan mendengar penutup diturunkan untuk menghalau siang. Mereka akan meluncurkan setiap penutup di jendela. Suaranya tidak terlalu keras, tapi aku tidak ingin kau terkejut. " Ucap Kai.

" Terima kasih. "

Kai berbaring di atas bed cover dan menyilangkan pergelangan kakinya. Segalanya membuatnya kesal, ruangan yang panas, piyama, jubahnya. Sekarang ia tahu seperti apa rasanya menjadi kado, yang dijejali kertas dan pita : gatal.

" Apakah kau biasanya memang selalu memakai semua pakaian itu untuk tidur? " Tanya Sehun.

" Tentu saja. " Sahut Kai terlalu cepat.

" Kalau begitu kenapa banderol dijubah itu masih ada? "

" Kalau kalau aku mau membeli ini lagi, aku akan tahu namanya. " Jawab Kai acuh.

Kai menyamping, menjauh dari Sehun. Berguling kembali sehingga ia menatap langit langit lagi. Menit berikutnya, ia mencoba menelungkup.

" Kai. " Suara Sehun terdengar merdu dalam keheningan dibawah cahaya redup.

" Apa? "

" Kau biasanya tidur telanjang, bukan. " Itu bukanlah sebuah pertanyaan tapi pernyataan.

" Eh, biasanya. " Sahut Kai salah tingkah.

" Dengar, kau bisa menanggalkan semua pakaian itu. Aku takkan terganggu. " Ucap Sehun lembut.

" Aku tidak ingin kau merasa... Tidak nyaman. " Lirih Kai.

" Yang membuatku tidak nyaman adalah kau yang tidak bisa diam. Aku tidak bisa tidur karena tubuhku terombang ambing diranjang ini karena gerakan tubuhmu. Aku merasa seperti salad yang diaduk aduk. " Sahut Sehun.

Kai ingin terkekeh mendengar nada datar Sehun, tapi bukti gairahnya menyedot semua rasa humor dalam dirinya.

Ah, persetan, kalau ia berpikir memakai semua ini bisa memadamkan hasratnya, ia sudah gila. Ia sangat menginginkan Sehun, sehingga apa yang dipakai atau pun tidak dipakainya takkan ada bedanya.

Sambil memunggungi Sehun, Kai berdiri dan mulai melepaskan semuanya. Dengan luwes, ia berhasil menyelinap ke balik selimut tanpa sedikitpun memperlihatkan bagian depan tubuhnya. Sehun jelas tidak perlu melihat bukti gairahnya yang begitu nyata.

Kai memunggungi Sehun, berbaring disisinya sendiri.

" Bolehkah aku menyentuhnya? " Tanya Sehun tiba tiba.

Bukti gairahnya langsung tersentak, seolah menawarkan diri untuk disentuh. " Menyentuh apa? " Tanya Kai bimbang.

" Tatomu. Aku ingin... Menyentuhnya. "

Ya ampun, Sehun begitu dekat dengannya, dan suara wanita itu - suara merdu dan manis itu - sungguh ajaib. Namun dengungan dalam tubuhnya membuatnya merasa perutnya diaduk aduk.

Melihat Kai diam saja, Sehun bergumam. " Lupakan. Aku tidak _ "

" Bukan begitu. Hanya saja... " Sial. Kai benci nada menjaga jarak dalam nada suara Sehun. " Sehun, tidak apa apa. Lakukan apapun yang kau sukai. "

Kai mendengar selimut bergesekan. Merasakan tempat tidur bergerak sedikit lalu ujung jemari Sehun menyapu. Ia berusaha tidak berjengit sebisa mungkin.

" Dimana kau membuat tato ini? " Bisik Sehun, jemarinya menelusuri tepian kutukan itu. " Gambar ini luar biasa. "

Sekujur tubuh Kai menegang ketika merasakan dimana jari Sehun menyentuh makhluk itu. Jari Sehun tengah melintasi kaki depan si makhluk buas, dan Kai tahu karena ia bisa merasakan gelenyar yang sama di kakinya sendiri.

Kai memejamkan mata, merasa terperangkap diantara kenikmatan merasakan tangan Sehun ditubuhnya dan kenyataan bahwa ia tengah menggoda malapetaka. Getaran itu, rasa terbakar itu - makhluk buas itu terjaga, mengemuka dari inti darinya yang paling gelap dan merusak.

Kai menghirup napas lewat sela sela giginya ketika Sehun mengusap sisi tubuh si makhluk buas, sedikit di atas pinggang.

" Kulitmu begitu mulus, " Komentar Sehun, menyapukan telapak tangannya disepanjang punggung Kai.

Kai membeku, tak mampu bernapas, berdoa agar bisa mengendalikan diri.

" Dan... Yah, " Sehun bergerak mundur. " _ menurutku tatomu indah. Sangat indah. "

Kai sudah berada diatas Sehun sebelum ia sadar ia bergerak. Dan ia tidak bersikap lembut. Ia menekan pahanya diantara tungkai Sehun, menahan lengan wanita itu diatas kepala, dan melumat bibirnya. Ketika Sehun melengkungkan tubuh ke arahnya, Kai mencengkeram gaun tidur Sehun dan merenggutnya dengan kasar. Ia akan bercinta dengan Sehun. Saat ini juga, ditempat tidur ini, persis seperti yang diinginkannya.

Dan Sehun akan sempurna.

Paha Sehun menyerah padanya, memberi jalan, dan Sehun terus mendorong Kai, mengucapkan nama Kai dalam erangan parau. " Kai... Euunghh... Kaaiiahh... " Suara itu membangkitkan getaran hebat dalam diri Kai, menanggalkan sisa sisa keberadaban dalam instingnya. Ia menjadi kasar, liar, dan...

Berada di tepi ledakan panas yang merupakan tanda tanda keluarnya si makhluk buas.

Kengerian memberi Kai kekuatan yang dibutuhkannya untuk melompat menjauh dari Sehun dan terhuyung huyung melintasi ruangan. ia menabrak sesuatu. Dinding.

" Kai !"

Merosot ke lantai, Kai membenamkan wajah di tangannya yang gemetaran, menyadari matanya berubah putih. Tubuhnya berguncang hebat hingga ia terbata bata. " Aku sudah gila... Ini... Sial, aku tidak bisa... Aku harus menjauh darimu. "

" Kenapa? Aku tidak ingin kau berhenti _ "

Kai langsung menyela ucapan Sehun. " Aku sangat menginginkanmu, Sehun. Sangat. Aku sangat... Lapar akan dirimu, tapi aku tidak bisa mendapatkanmu. Aku tidak akan bercinta... Denganmu. "

" Kai !" Bentak Sehun, seolah berusaha menjangkau Kai. " Kenapa tidak? "

" Kau tidak menginginkanku. Percayalah padaku, kau tidak benar benar menginginkan pria sepertiku. " Ucap Kai.

" Omong kosong. " Bantah Sehun.

Kai tidak ingin memberitahu Sehun bahwa ia sewaktu waktu bisa berubah menjadi monster. Jadi , ia memilih untuk membuat Sehun jijik alih alih membuat wanita itu takut. " Minggu ini saja aku berhubungan seks dengan delapan wanita berbeda. "

Jeda panjang. " Oh... "

" Aku tidak ingin berbohong padamu. Sampai kapanpun. Jadi biar kujelaskan, aku sering melakukan hubungan seks secara acak. Aku sering melakukannya dengan begitu banyak wanita, tak satupun yang kupedulikan. Dan aku tidak ingin kau berpikir aku memanfaatkanmu seperti itu. " Jelas Kai.

Sekarang setelah pupilnya terasa sudah kembali hitam, Kai menatap Sehun di seberang ruangan.

" Katakan padaku kau melakukan hubungan seks aman. " Gumam Sehun.

" Ketika para wanita itu memintanya, ya. "

Sehun terbelalak marah. " Dan ketika mereka tidak memintanya? "

" Aku tidak bisa tertulari flu, apalagi HIV, hepatitis C, ataupun penyakit seksual menular dari mereka. Dan aku juga bukan pembawa penyakit tersebut. Virus manusia sama sekali tidak mempengaruhi kami. "

Sehun menarik selimut hingga sebatas bahu. " Darimana kau tahu kau tidak membuat mereka hamil? Atau apakah manusia dan vampir... "

" Darah campuran jarang terjadi, tapi itu mungkin. Dan aku tahu apakah wanita itu berada dalam masa subur. Aku bisa menciumnya. Kalau mereka berada dalam masa subur, aku tidak berhubungan seks dengan mereka, bahkan dengan pelindung sekalipun. Anak anakku, saat aku memiliki mereka, akan terlahir aman dalam keamanan duniaku. Dan aku akan mencintai ibu mereka. " Jelas Kai.

Sehun mengalihkan tatapannya, matanya terpaku, tampak ketakutan. Kai menengadah untuk melihat apa yang tengah diamati Sehun. Lukisan Madonna and Child diatas lemari.

" Aku senang kau memberitahuku, " Sehun akhirnya berkata. " Tapi kenapa harus dengan orang asing? Kenapa kau tidak bersama dengan seseorang yang kau... Lupakan, jangan jawab itu. Itu bukan urusanku. "

" Aku lebih ingin bersamamu, Sehun. Tidak berada bersamamu merupakan... Siksaan. Aku begitu menginginkanmu, hingga aku tak tahan. " Kai menghembuskan napas. " Tapi bisakah kau sejujurnya memberitahuku bahwa kau menginginkanku sekarang? Walaupun... Persetan, bahkan seandainya kau memang menginginkanku pun, masih ada hal lain. Cara kau masuk ke kepalaku, seperti yang pernah kuberitahukan kepadamu. Aku takut akan kehilangan kendali. Kau mempengaruhiku secara berbeda dibanding wanita lain. "

Jeda panjang lain.

" Katakan padaku bahwa kau merasa sengsara ketika kita tidak tidur bersama. " Ucap Sehun datar.

" Aku sangat sengsara. Nyeri. Teralihkan dan gusar sepanjang waktu. " Sahut Kai.

" Bagus. " Sehun tertawa kecil. " Astaga, aku benar benar menyebalkan, ya? "

" Sama sekali tidak. "

Ruangan itu senyap. Akhirnya Kai berbaring dan meringkuk menyamping, membaringkan kepalanya dilengan.

Sehun mendesah. " Aku tidak berharap kau akan tidur dilantai sekarang. "

" Lebih baik begini. " Ucap Kai.

" Demi Tuhan, Kai. Naiklah, kemari. "

Suara Kai merendah menjadi geraman. " Kalau aku kembali ke tempat tidur itu, aku pasti akan menginginkanmu lagi. Dan kali ini bukan hanya tangan dan lidahku yang menyentuhmu dipusat hasratmu. Aku akan menyatukan tubuh kita sepenuhnya dan seutuhnya. "

Kai menghirup aroma hasrat Sehun, udara disekitar mereka dipenuhi aura sensual yang kental. Dan gairah dalam tubuhnya sendiri mulai menggelora.

" Sehun, sebaiknya aku pergi. Aku akan kembali setelah kau tidur. " Ucap Kai.

Kai pergi sebelum Sehun sempat mengucapkan apapun. Saat pintu tertutup dibelakangnya, ia bersandar lemah di dinding lorong. Berada diluar kamar membantu. Dengan begini lebih sulit untuk mencium aroma Sehun.

Kai mendengar suara tawa dan menoleh untuk melihat Tao berjalan menyusuri lorong.

" Kau kelihatan lelah, Kai. Dan telanjang? "

Kai menutupi diri dengan tangan. " Aku tidak tahu bagaimana kau bisa melakukannya. "

Tao berhenti, memutar mutar gelas berisi cuka apel hangat yang dibawanya. " Melakukan apa? "

" Berselibat. "

" Jangan bilang wanitamu menolak bercinta denganmu? " Tanya Tao heran.

" Bukan itu masalahnya. " Bantah Kai.

" Jadi, kenapa kau berdiri diluar sini dalam keadaan... Telanjang? "

" Aku, eh, tidak ingin melukainya. "

Tao tampak terkejut. " Kau memang besar, tapi kau tidak pernah melukai wanita. Setidaknya, tidak setahuku. "

" Bukan begitu, hanya saja... Aku sangat menginginkannya. Aku... Aku sangat kacau, Tao. " Desah Kai lelah.

Mata Tao menyipit. " Kau membicarakan soal monstermu? "

Kai membuang pandang. " Ya. "

Siulan Tao terdengar suram. " Yah... Persetan, sebaiknya kau menjaga diri. Kau ingin menghormatinya, silakan. Tapi tahan dirimu pada tingkat itu atau kau benar benar akan melukainya, kau mengerti? Cari pertarungan, hampiri wanita lain kalau perlu, tapi pastikan kau tetap tenang. Dan kalau kau butuh narkoba, datanglah padaku. Aku akan memberimu persediaan yang kupunyai, tak jadi masalah. "

Kai menarik napas dalam dalam. " Aku tidak menginginkan narkoba sekarang. Tapi bisakah aku meminjam baju dan sepatu olahraga? Aku akan lari sampai kelelahan. "

Tao menepuk punggung Kai. " Ayo, teman. Dengan senang hati aku akan meminjamkannya. "

.

.

.

" Apakah kau sudah keluar dari bak? "

Sehun tertawa, ia meletakkan telepon ke telinganya yang lain, dan membenamkan diri makin dalam dibantal bantal. Saat itu beberapa menit setelah jam empat.

" Ya, Kai. "

Ia tidak ingat kapan mengalami hari yang lebih mewah dari saat ini. Tidur sampai siang. Makanan diantar bersama setumpuk buku dan majalah. Tapi resikonya ia mendapati telepon kamar selalu berdering. Ia tidak bisa menghitung berapa kali Kai menelponnya.

" Apakah Fritz membawakanmu barang barang yang kuminta? "

" Darimana dia menemukan stroberi segar pada bulan oktober? " Tanya Sehun heran.

" Kami punya cara tersendiri. "

" Dan bunganya cantik sekali. " Sehun menatap buket bunga mawar, dan tulip. " Terima kasih. "

" Aku senang kau menyukainya. Aku berharap aku bisa keluar dan memilihnya sendiri. Aku akan senang menemukan bunga bunga paling sempurna. Aku ingin bunga bunga itu kelihatan cerah dan wangi untukmu. " Ucap Kai.

" Misi tercapai. "

Suara pria terdengar dilatar belakang. Suara Kai teredam. " Hei, Chen, keberatan kalau aku memakai kamarmu? Aku butuh sedikit privasi. "

Jawabannya hanya berupa gumaman tak jelas lalu Sehun mendengar pintu ditutup.

" Hai, " Panggil Kai lagi dengan suara mendayu. " Apakah kau ada di tempat tidur? "

Tubuh Sehun bergolak panas. " Ya. "

" Aku merindukanmu. " Lirih Kai.

Sehun membuka mulut, tapi tak ada kata yang terucap.

" Kau masih ada disana, Sehun? "

Jeda sejenak.

" Sehun? "

" Tolong... Jangan ucapkan hal hal semacam itu padaku. " Lirih Sehun. Ia tidak ingin jatuh cinta pada Kai. Ia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh cinta.

" Itulah yang kurasakan. "

Sehun tidak menjawab. Apa yang bisa dikatakannya? Bahwa ia merasakan hal yang sama? Bahwa ia merindukan Kai meskipun ia berbicara dengan pria itu setiap jam seharian ini? Itu benar, tapi ia tidak terlalu senang karenanya. Kai terlalu indah... Jadi, sekalipun Sehun sehat walafiat, Kai merupakan ajaln menuju malapetaka. Dan ditambah situasi kesehatannya saat ini? Menjadi terikat secara emosional pada Kai itu benar benar absurd.

Saat keheningan panjang terentang di antara mereka. Kai menyumpah. " Ada banyak urusan yang harus kami tangani malam ini. Aku tidak tahu kapan aku pulang, tapi kau tahu dimana bisa menghubungiku kalau kau membutuhkanku. "

Saat sambungan telepon terputus, Sehun merasa buruk.

.

.

.

Kai menendangkan sepatu botnya ketanah dan mengedarkan pandangan ke sekeliling hutan. Tidak ada apa apa. Tak ada suara ataupun lesser. " Apa sebenarnya yang kita lakukan disini? " Gumamnya.

Kai berjalan menyusuri hutan, berharap beberapa bayangan yang ia lihat adalah lesser. Ia mulai membenci dahan dahan pohon. Benar benar mengelabui saat tertiup angin.

" Dimana semua bajingan itu? " Teriak Kai.

" Tenang, Kai. " Ucap Tao sambil menarik topinya. " Man, kau benar benar teler malam ini. "

Teler sama sekali tidak menggambarkan keadaannya. Ia luar biasa resah. Kai berharap menjauh dari Sehun saat siang dapat membantu, dan ia mengandalkan menemukan perkelahian malam ini. Ia juga berharap banyak dari kelelahan akibat kurang tidur.

Tapi harapan tinggal harapan. Ia sama sekali tidak menemukan pertarungan dan rasa mendambanya terhadap Sehun meningkat. Dan terjaga selama empat puluh delapan jam tanpa tidur sedikitpun membuatnya semakin agresif.

Lebih parah lagi, sekarang sudah jam tiga pagi. Ia sudah kehabisan waktu untuk pertarungan pelepasan yang sangat dibutuhkannya. Sialan _

" Kai. " Tao melambaikan tangannya yang bersarung tangan di depan wajah Kai. " Hei, kau masih berada disini bersamaku, bukan? "

" Maaf apa? " Kai mengucek matanya. Menggosok wajahnya. Otot bisepsnya. Kulitnya luar biasa gatal hingga rasanya ia tengan memakai baju dari semut.

" Kau terlihat benar benar nyaris gila, sobat. " ucap Tao.

" Tidak, aku baik baik saja _ "

" Kalau begitu kenapa kau menggosok lenganmu seperti itu? " Tanya Tao heran.

Kai menjatuhkan tangannya. Hanya untuk mulai memijat pahanya.

" Kita harus membawamu ke club, " Ucap Tao pelan. " Kau sudah diambang batas. Kau butuh seks. "

" Persetan. "

" Kalau kau tidak mau bercinta dengan wanitamu, dan kau tidak bisa menemukan pertempuran, apa alternatif lainnya? "

" Seharusnya tidak seperti ini. " Kai memutar mutar kepalanya, berusaha meredakan ketegangan dibahu dan lehernya. " Bukan begini caranya. Aku baru saja berubah. Seharusnya makhluk itu belum waktunya untuk keluar lagi _ "

" Mengira ngira disatu sisi, kenyataan terburuk disisi lain, dan lihat mana yang paling memengaruhimu. Kau berada dalam situasi buruk, Kai. Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk mengeluarkannya, bukan? "

.

.

.

Sehun mendengar pintu terbuka, ia terjaga dengan perasaan limbung. Sial, ia mengalami demam lagi.

" Kai. " Gumam Sehun.

" Ya, ini aku. "

Suaranya terdengar kacau, pikir Sehun. Dan Kai membiarkan pintu kamar terbuka, jadi mungkin dia tidak akan tinggal lama. Mungkin Kai masih marah padanya setelah percakapan terakhir mereka ditelepon.

Dari dalam lemari baju, Sehun seolah mendengar bunyi gerakan besi dan kain, seolah KAi tengah mengenakan kemeja baru. Ketika pria itu keluar, Kai langsung menuju lorong lagi, jaket panjangnya melambai lambai dibelakangnya. Gagasan bahwa Kai akan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal terasa mengejutkan bagi Sehun.

Saat memegan kenop pintu, Kai terdiam. Cahaya dari lampu lorong jatuh ke atas rambut terangnya dan bahu lebarnya. Wajahnya tampak dalam siluet.

" Kau mau kemana? " Tanya Sehun seraya bangkit untuk duduk.

Keheningan yang panjang, sebelum terdengar suara Kai. " Keluar. "

Kenapa Kai terdengar begitu menyesal? Sehun bertanya tanya.

Oh.. Ya. Perempuan. Kai keluar untuk mencari perempuan.

Rongga dalam dada Sehun terasa bagaikan lubang dingin dan lembab, terutama ketika ia menatap buket bunga yang dikirim Kai untuknya. Ya Tuhan, membayangkan Kai menyentuh orang lain seperti yang ia tahu bisa dilakukan pria itu membuat Sehun ingin muntah.

" Sehun... Maafkan aku. "

Sehun berdeham. " Tidak usah minta maaf. Kita tidak memiliki hubungan serius, jadi aku tidak berharap kau akan mengubah kebiasaanmu demi aku. "

" Ini bukan kebiasaan. " Bantah Kai.

" Oh, ya. Maaf kecanduan. " Sinis Sehun.

Jeda panjang lagi. " Sehun, aku... Seandainya ada cara lain _ "

" Untuk melakukan apa? " Tangan Sehun teracung maju mundur. " Jangan jawab itu. "

" Sehun _ "

" Jangan, Kai. Itu bukan urusanku. Pergilah. "

" Ponselku akan tetap aktif kalau aku _ "

" Ya, aku pasti akan menelpon. " Sela Sehun.

Kai menatap Sehun sekejap. Lalu bayangan gelapnya menghilang melewati pintu.

.

.

.

Pikiran Minho benar benar kacau sekarang. Ia berharap ia bisa menemukan Sehun. Ia pergi kerumah Sehun kemarin malam, hanya untuk mendapati rumah Sehun terkunci dan gelap. Wanita itu seolah menghilang, dan mencemaskan Sehun semakin membuatnya gugup.

Saat ia hampir mencapai gedung tempat tinggalnya, ia melihat ada truk diparkir didepannya. Halaman dipenuhi kardus, seolah ada yang akan pindah ke gedungnya.

Waktu yang tak lazim untuk pindah, pikir Minho sambil memperhatikan barang barang itu.

Ketika ia melihat tak ada yang menjaga barang barang tersebut, ia berharap sipemilik segera kembali. Kalau tidak, barang barang mereka akan segera dicuri.

Minho berjalan kedalam gedungnya, menaiki tangga, mengabaikan puntung puntung rokok, kaleng kaleng bir kosong dan bungkusan bungkusan keripik kentang. Ketika ia sampai di lantai dua, ia menyipitkan mata. Ada yang berceceran disepanjang koridor. Merah gelap...

Darah.

Mundur kearah tangga, ia menatap pintunya. Tapi ia lalu melihat botol hijau gelap yang pecah. Anggur merah. Itu cuma anggur merah. Mungkin itu ulah pasangan pemabuk yang tinggal disebelahnya.

Bahunya berubah rileks.

" Permisi, " Seseorang berkata dari atasnya.

Minho menepi memberi jalan dan menengadah.

Tiba tiba tubuhnya membeku.

Pria besar yang berdiri menjulang dihadapannya itu mengenakan kamuflase hitam dan jaket kulit. Rambut dan kulitnya putih semua, dan mata pucatnya bercahaya menakutkan.

Keji, immortal.

Musuh.

Musuhnya.

" Lantai ini benar benar berantakan, " Kata pria itu sebelum menyipitkan mata ke arah Minho. " Ada yang salah? "

Minho langsung lari, melesat menuruni tangga, dan keluar ke jalan. Ia berlari ke pojok, berbelok ke kiri, dan tidak berhenti. Ia berlari dan berlari, sampai ia tidak bisa berlari lagi karena kehabisan napas. Ia menyelinap ke celah diantara gedung bata dan tempat pembuangan sampah, terengah engah.

Dalam mimpinya, ia melawan pria pucat. Pria pucat berpakaian baju hitam dengan mata tak berjiwa.

Musuhku.

Ia gemetaran begitu hebat hingga nyaris tak bisa memasukkan tangannya ke saku. Ia mengeluarkan koin 25 sen, mencengkeramnya begitu kuat hingga telapak tangannya sakit. Ketika ia bernapas lagi, ia mencondongkan tubuh ke depan dan mengawasi sepanjang gang. Tak ada orang disana, tak ada suara derap kaki dijalanan aspal itu.

Minho meninggalkan tempat pembuangan sampah yang aman itu dan berjalan cepat ke pojok terjauh.

Telepon umum itu sudah penyok dan dipenuhi grafiti, tapi ia tahu telepon itu masih berfungsi karena ia sering memakai benda itu untuk menelpon Sehun. Ia memasukkan koinnya dan menekan nomor yang diberikan Kyungsoo padanya.

Setelah dering pertama, terdengar voice mail dengan suara mesin yang mengulang nomor yang ditekannya.

Minho menunggu suara bip. Lalu bersiul.

.

.

.

Tepat sebelum fajar menyingsing, Sehun mendengar suara suara pria di lorong. Ketika pintu terbuka, jantungnya mencelos. Kai memenuhi ambang pintu saat pria lain berbicara.

" Woww, pertarungan yang kita tinggalkan di bar tadi benar benar luar biasa. Kau seperti setan diluar sana. "

" Aku tahu. " Gumam Kai.

" Kau luar biasa, Kai, dan bukan dalam pertarungan. Wanita yang kau _ "

" Sampai nanti, Chen. "

Pintu tertutup dan lampu lemari baju menyala. Dari suara klik dan pergerakan metalnya, Kai tengah menaruh persenjataannya. Ketika muncul kembali, ia mengambil napas dengan gemetar.

Sehun pura pura tidur ketika langkah kaki Sehun meragu dikaki tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi. Ketika mendengar shower menyala, ia membayangkan segala yang dibersihkan Kai dari tubuh pria itu sendiri : Seks, pertarungan.

Terutama seks.

Sehun membenamkan wajah ke tangannya. Hari ini ia akan pulang. Ia akan mengemasi barang barangnya dan berjalan keluar pintu. Kai takkan bisa menahannya ia bukan tanggung jawab Kai hanya karena Kai mengatakan hal itu.

Air dimatikan.

Keheningan menyedot seluruh udara di ruangan itu, dan Sehun mulai kehabisan napas selagi bertahan ditempatnya. Dengan tersengal, tercekik... Ia menyingkap selimut dan melesat ke pintu. Tangannya meraih kenop pintu dan berjuang melepas kuncinya, menyentak, menarik, hingga rambutnya bergerak gerak.

" Sehun, " Panggil Sehun tepat dibelakangnya.

Sehun tersentak dan berusaha lebih keras untuk membuka pintu.

" Biarkan aku keluar. Aku harus keluar... Aku tidak tahan tinggal didalam kamar ini bersamamu. Aku tidak tahan berada disini... Bersamamu." Sehun merasakan tangan pria itu turun ke bahunya. " Jangan sentuh aku. "

Sehun menghindar, bergerak ke sekeliling kamar hingga ia membentur sudut terjauh dan menyadari tak ada tempat lain untuk dituju dan tak ada jalan keluar. Kai berada di depan pintu, dan Sehun merasa Kai memastikan pintu masih terkunci.

Terjebak, Sehun mengaitkan tangan didepan dada dan bersandar ke dinding agar bisa tetap berdiri. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika pria itu menyentuhnya lagi.

Kai berjalan menjauh dari tempat duduk lalu duduk di tempat tidur, handuk melilit dipinggang, rambutnya lembab. Dia menyapukan tangan ke wajahnya, ke sepanjang rahangnya, dengan berat. Pria itu kelihatan menyedihkan, tapi tubuhnya merupakan hal terindah yang pernah dilihat Sehun. Ia membayangkan tangan wanita wanita lain mencengkeram bahu kokoh itu, seperti yang dilakukannya. Ia melihat Kai memuaskan tubuh wanita lain sebagaimana Kai memuaskan tubuhnya.

Sehun terbelah antara ingin bersyukur karena tidak tidur dengan pria itu, dan kesal karena setelah semua wanita lain yang pernah Kai tiduri, pria itu menolak bercinta dengannya.

" Berapa banyak? " Tanya Sehun, suaranya sangat serak hingga kata kata itu nyaris tak bisa didengar. " Dan katakan padaku, apakah kau menyukainya? Aku tidak perlu bertanya apakah mereka menyukainya. Aku tahu betapa hebatnya dirimu. "

" Sehun... Manisku, " bisik Kai. " andai kau mengijinkanku memelukmu, aku akan melakukannya. Aku bersedia membunuh demi bisa memelukmu saat ini. "

" Kau tidak akan pernah mendekatiku lagi. Sekarang berapa banyak? Dua? Empat? Enam? " Tanya Sehun sinis.

" Apakah kau benar benar menginginkan detailnya? " Suara Kai lirih, terdengar sedih hingga nyaris pecah. Ia buru buru menunduk. Ia terlihat begitu kalah. " Aku tidak bisa... Aku tidak akan melampiaskannya seperti itu lagi. Aku akan menemukan cara lain. "

" Cara lain untuk melampiaskannya? " Bentak Sehun. " Yang jelas kau tidak akan tidur denganku, jadi apakah kau sedang mempertimbangkan untuk menggunakan tanganmu, mungkin? "

Kai menarik napas dalam dalam. " Tato itu. Yang dipunggungku? Itu bagian diriku. "

" Terserah, aku tidak peduli. Aku akan pergi dari sini hari ini. " Marah Sehun.

Kai menelengkan kepala ke arah Sehun. " Tidak. "

" Ya. "

" Aku akan memberikan kamar ini untukmu. Kau tidak perlu melihatku. Tapi kau tidak akan pergi kemana mana. " Tegas Kai.

" Bagaimana kau akan mencegahku untuk pergi? Mengurungku disini? "

" Kalau perlu, ya. " Sahut Kai.

Sehun terperanjat. " Kau tidak mungkin serius. "

" Kapan janji temu berikutnya dengan doktermu? "

" Bukan urusanmu. " Bantah Sehun.

" Kapan? " Bentak Kai. Kemarahan dalam suaranya sedikit menurunkan amarah Sehun.

" Eh... Rabu. " Ucap Sehun.

" Akan kupastikan kau menepatinya. "

Sehun memandang Kai. " Kenapa kau melakukan ini padaku? "

Bahu Kai naik, lalu turun. " Karena aku mencintaimu. "

" Maaf? " Bingung Sehun.

" Aku mencintaimu. " Ulang Kai.

Kendali diri Sehun menguap dalam ledakan amarah yang begitu besar hingga ia tak mampu berkata kata. Pria ini mencintaiku? Dia tidak kenal aku. Dan dia tidur dengan... Amarahnya mendidih saat membayangkan Kai berhubungan dengan orang lain.

Mendadak Kai melompat dari tempat tidur dan mendatangi Sehun, seolah pria itu merasakan emosinya dan menjadi berenergi karenanya.

" Aku tahu kau marah, takut, terluka. Keluarkan itu semua padaku, Sehun. " Kai menahan pinggang Sehun, mencegahnya lari, tapi itu tidak menghentikan Sehun untuk berusaha mengusir Kai. " Gunakan aku untuk menanggung rasa sakitmu. Ijinkan aku merasakannya dikulitku. Pukul aku kalau perlu, Sehun. "

Sialan, Sehun tergoda untuk melakukannya. Memukuli pria itu satu satunya jalan untuk menyalurkan kekuatan yang memenuhi sekujur tubuhnya. Tapi ia bukan binatang. " Tidak, lepaskan aku. "

Kai meraih pergelangan tangan Sehun dan Sehun melawan sekuat tenaga, menghantamkan sekujur tubuhnya hingga bahunya terasa seperti akan meledak. Kai menahannya dengan mudah dan membalik tangan Sehun hingga tangan yang terkepal itu terarah pada Kai.

" Gunakan aku Sehun. Biarkan aku menanggung ini untukmu. " Dengan gerakan cepat, Kai menggaruk dadanya dengan kuku Sehun lalu merangkum wajah Sehun dengan kedua tangannya. " Buat aku berdarah untukmu... " Bibirnya menyapu bibir Sehun . " Keluarkan amarahmu. "

Sehun menggigit bibir Kai. Tepat di bibir bawah pria itu. Ia membenamkan gigi di daging pria itu. Saat sesuatu senikmat dosa menyentuh lidahnya, Kai mengerang setuju dan menekankan tubuh ke tubuh Sehun.

Tiba tiba Sehun menjerit.

Merasa ngeri pada apa yang telah dilakukannya, takut pada apa yang mungkin dilakukannya setelah ini, Sehun bergulat melepaskan diri, tapi Kai menahannya, menciumnya, mengucapkan cinta padanya, berulang ulang. Kai menggesekkan tubuh ke tubuh Sehun, mengingatkan pada Sehun apa yang tidak diinginkannya namun mulai mendambakannya.

Sehun menginginkan Kai... Walaupun ia tahu pria itu meniduri wanita lain. Malam ini.

" Oh, tidak... " Sehun memalingkan wajah, tapi Kai menangkap dagunya, mengembalikannya untuk menghadap wajah pria itu.

" Ya, Sehun... " Kai mencium Sehun secara membabi buta, lidahnya memasuki mulut Sehun. " Aku mencintaimu. "

Sesuatu dalam diri Sehun tersentak dan ia mendorong Kai, menghindar dari pegangan pria itu. Tapi alih alih berlari ke pintu, ia menatap Kai tanpa ampun.

Empat bekas cakaran menggurat di dada Kai. Bibir bawah pria itu berdarah. Kai tersengal, merah padam.

Sehun mengulurkan tangan dan merenggut handuk dari tubuh Kai.

Dan menyaksikan bukti gairah pria itu.

Dan dalam momen menegankan di antara mereka, Sehun membenci kulit mulus dan sempurna Kai, ototnya yang kekar, keindahannya yang begitu memabukkan. Tapi yang paling dibencinya, adalah tubuh pria itu, alat seksual yang terlalu sering digunakan pria itu. Namun tetap saja ia menginginkan pria itu.

Jika ia bisa berpikir jernih, ia akan menjauh dari Kai. Ia akan mengunci diri dikamar mandi. Namun ia marah dan tak terkendali. Ia mencengkeram kejantanan Kai yang menegang.

Suara Kai bergetar, memenuhi ruangan. " Lakukan apa yang perlu kau lakukan. Aku mencintaimu. "

Sehun membawa Kai ke tempat tidur, kemudian mendorong Kai dengan kasar ke matras. Kai jatuh di atas selimut yang berantakan, lengan dan kakinya terentang seolah tengah menyerahkan diri pada Sehun sepenuhnya.

" Kenapa sekarang? " Tanya Sehun pahit. " Kenapa kau bersedia bercinta denganku, sekarang? Ataukah ini sama sekali bukan tentang bercinta, tapi lebih karena kau ingin aku menumpahkan banyak darah? "

" Aku ingin bercinta denganmu setengah mati, dan aku bisa berada denganmu saat ini karena pikiranku jernih. Aku... Kehabisan energi. Kau menginginkanku jadi renggutlah kenikmatan itu. Jangan berpikir. "

Terbutakan hasrat, amarah, dan rasa frustasi, Sehun menyingkap gaun tidurnya dan menaiki tubuh Kai. Namun saat ia menunduk ke wajah Kai, ia merasa ragu. Apakah ia benar benar ingin melakukan ini? Bercinta dengan pria ini? Memanfaatkan Kai hanya demi membalas sesuatu yang sepenuhnya merupakan hak pria ini?

Sehun mengangkat tubuhnya, dan mulai beranjak pergi. Dalam sentakan kuat, kaki Kai terangkat dan mendorong Sehun ke dadanya. Saat Sehun jatuh di atas dadanya, lengan Kai mengurung tubuh Sehun.

" Kau tahu apa yang ingin kulakukan, Sehun, " Bisik Kai ditelinga Sehun. " jangan berhenti. Ambillah apa yang kau butuhkan dariku. Gunakan aku. "

Sehun memejamkan matanya, mematikan pikirannya, dan membiarkan tubuhnya lepas. Ia kembali menurunkan wajahnya, menjilat dada Kai lalu menghisap nipplenya. Lidahnya ia susurkan naik ke kulit leher Kai sambil menggesekkan payudaranya ke dada Kai.

Sehun terus menjilat, menghisap kulit leher Kai, meninggalkan bekas kemerahan di kulit leher pria itu. Sehun menurunkan tangannya dan menangkup kejantanan Kai, ia mengangkat tubuhnya sedikit lalu menyatukan tubuh mereka.

Mereka berdua berteriak ketika tubuh mereka bersatu sepenuhnya.

Tubuh Kai begitu kuat hingga Sehun takut terluka. Ia menarik napas dalam dalam dan tidak bergerak, tubuhnya berusaha beradaptasi dengan tubuh Kai.

Kai mengerang. Bibirnya terbuka lebar memamerkan kilasan taringnya. " Oh... Sehun, aku bisa merasakanmu disekujur tubuhku. Sehun. "

Dada Kai naik dan perutnya berkontraksi hingga ototnya bertonjolan. Saat tangannya meremas lutut Sehun, bola matanya berputar hingga nyaris tak ada warna biru yang tersisa disana lalu pupilnya berubah putih.

Wajah Kai berkerut panik. Ia menggeleng gelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya dan ekspresinya berubah penuh konsentrasi. Perlahan lahan pupilnya kembali berubah hitam, seolah ia memerintahkan hal itu.

Sehun berhenti berkonsentrasi pada Kai dan mulai berpikir tentang dirinya sendiri. Tidak mempedulikan hal lain selain penyatuan tubuh mereka, ia menumpukkan tangan ke bahu Kai, menggerakkan pinggulnya naik turun, dan mulai menciptakan iramanya sendiri.

" Aaahhhh... Nyaaahh... " Perlahan lahan Sehun mengangkat tubuhnya ke atas dan menyisakan kepala kejantanan Kai didalam vaginanya, kemudian kembali turun, memasukkan kejantanan Kai sepenuhnya di vaginanya. Tiap kali ia melakukan itu, memberinya kekuasaan atas tubuh Kai, mengambil apa yang diinginkannya. Tubuh kuat Kai menimbulkan simpul kuat energi liar dalam inti dirinya. Ia membuka mata dan menunduk menatap Kai.

Kai merupakan gambaran pria yang dilanda kenikmatan. Selimut keringat tipis memenuhi dada dan bahunya yang bidang. Kai menyentakkan kepalanya ke belakang, dagunya terangkat tinggi, rambutnya tersebar di atas bantal, bibirnya terbuka. Kai mengawasi Sehun dari balik mata yang setengah terpejam, ia memandang dari wajah nikmat Sehun, ke payudara Sehun yang bergoyang naik turun hingga ke penyatuan mereka. Dengan penuh hasrat Kai memandang kejantanannya yang hilang ditelan vagina Sehun. Kai seperti tersihir oleh Sehun.

Sehun memejamkan mata rapat rapat dan mengenyahkan pemujaan Kai dari benaknya. Pilihannya adalah itu atau kehilangan momentum puncak kenikmatan yang nyaris dicapainya karena melihat pria itu membuatnya ingin menangis.

" Kaiaahh... Aahhh... " Sehun terus menggerakkan pinggulnya naik turun, tangannya mencengkeram, menancapkan kuku kukunya dibahu Kai. Tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk meledak dalam gairah. Kekuatan klimaksnya telah meluluhlantakkan, menyapu indera penglihatan dan pendengarannya hingga menutup, napas dan detak jantungnya terhenti, hingga satu satunya yang bisa ia lakukan hanyalah roboh diatas tubuh Kai.

Saat napasnya kembali mereda, Sehun menyadari Kai tengah membelai punggungnya dengan lembut dan membisikkan kata kata manis ditelinganya.

Lalu rasa malu melanda Sehun dan air matanya merebak.

Tak peduli dengan siapapun Kai menghabiskan malam, pria itu tidak layak untuk dimanfaatkan seperti ini, dan Sehun telah memanfaatkan Kai. Ia memulai semua ini dalam keadaan marah, setelah itu ia tidak memedulikan kebutuhan Kai. Ia lebih dulu mencapai klimaks, meninggalkan Kai. Ia memperlakukan pria itu seperti mainan.

" Maafkan aku, Kai. Maafkan... Aku... " Sehun bergerak dan menyadari tubuh mereka masih bersatu. Kai bahkan belum selesai.

Sehun ingin menggerakkan pinggulnya, tapi tangan Kai menahannya dengan kuat. " Jangan pernah menyesali kebersamaan kita. " Ucap Kai lembut.

Sehun menatap mata Kai lekat lekat. " Aku merasa telah menyakitimu. "

" Aku melakukannya dengan sukarela, Sehun. Tidak apa apa. Kemarilah, biarkan aku menciummu. " Pinta Kai.

" Bagaimana mungkin kau tahan berada didekatku? " Tanya Sehun.

" Satu satunya yang membuatku tidak tahan adalah kalau kau pergi. " Sahut Kai.

Kai meraih pergelangan tangan Sehun dan menariknya turun. Saat bibir mereka bertemu, lengan Kai mengelilingi tubuh Sehun, mendekapnya erat. Perubahan posisi tersebut membuat Sehun sangat menyadari keberadaan kejantanan Kai yang masih keras di vaginanya.

Kai mengayun tubuh mereka dengan lembut, mengusap rambut Sehun menjauh dari wajahnya dengan telapak tangannya. " Aku takkan mampu bertahan lebih lama lagi. Kau membawaku begitu tinggi, aku merasa seperti bisa menggapai langit sekarang. Tapi sejauh yang aku bisa, sejauh aku bisa mengendalikan diri, aku ingin mencintai tubuhmu dengan tubuhku. Bagaimanapun awalnya. Bagaimanapun akhirnya. "

Kai mengayun pinggul naik turun, meluncur keluar masuk. Sehun merasakan dirinya meleleh. Kenikmatan itu terasa dalam, tak kenal akhir.

" Apakah... Eeemmhh... Apakah kau mencium mereka? " tanya Sehun kasar. " wanita wanita itu? "

" Tidak, aku tidak pernah mencium mereka, aku membenci hal itu. Aku tidak akan melakukannya lagi, Sehun. Aku tidak akan melakukan seks dengan wanita lain lagi. Aku akan mencari cara lain untuk mencegah diriku lepas kendali saat kau berada dalam hidupku. Aku tidak menginginkan orang lain selain dirimu. " Ucap Kai.

Sehun membiarkan Kai menggulingkannya, membiarkan tubuh hangat dan berat kai menekan tubuhnya. Kai mencium Sehun dengan lembut, menjilatinya, mencumbu Sehun dengan bibirnya. Kai begitu lembut.

" Aku takkan menyelesaikan ini kalau kau tidak menginginkanku melakukan itu, " bisik Kai di leher Sehun. Lalu ia menarik diri keluar.

Tangan Sehun terulur ke punggung Kai, merasakan gerakan otot disana dan bagaimana dada Kai kembang kempis saat pria itu bernapas dengan cepat. Sehun menghirup dalam dalam dan mencium aroma harum dan erotis itu. Gelap, berempah, kental. Ia merasakan tubuhnya sendiri merespon, seolah aroma itu merupakan sentuhan atau ciuman.

" Wangi harum apa ini.. Aahhh.. " Tanya Sehun.

" Aku, " gumam Kai dibibir Sehun. " Inilah yang terjadi saat pria dari kaum kami menjalin ikatan. Aku tidak bisa menahan diri. Kalau kau membiarkanku melanjutkan, aroma ini akan menyelubungi kulitmu, rambutmu, dan dalam dirimu. "

Setelah mengucapkan hal itu, Kai membenamkan diri kedalam tubuh Sehun. Sehun melengkungkan tubuh dengan nikmat, membiarkan rasa panas itu mengaliri sekujur tubuhnya.

" Aku tidak sanggup menjalani malam seperti ini lagi, " Erang Sehun, lebih kepada diri sendiri daripada kepada Kai.

Dengan tubuh membeku, Kai meraih tangan Sehun dan menaruhnya didadanya sendiri. " Takkan pernah lagi, Sehun. Aku bersumpah demi kehormatanku. Aku tidak akan membuatmu menderita seperti malam ini lagi. "

Mata Kai tampak serius, ikrar yang diucapkannya sepenting ikrar yang bisa didapatkan Sehun dari makhluk hidup manapun. Namun rasa lega yang dirasakannya pada ikrar kai merupakan masalah.

" Aku tidak akan jatuh cinta padamu, " Kata Sehun. " Aku tidak boleh. Aku tidak mau. "

" Tidak apa apa. Aku akan mencintaimu cukup besar untuk kita berdua. " Kai memasukkan lebih dalam kejantanannya. Dan menyemburkan spermanya didalam vagina Sehun.

" Kau tidak mengenalku. " Sehun menggigit bahu Kai lalu menghisap tulang belikatnya. Rasa kulit Kai membuat lidah Sehun tergelitik, aroma istimewa itu mengendap didalam mulutnya.

" Ya, aku mengenalmu. " Kai mundur, matanya mengamati Sehun dengan keyakinan dan kkejernihan layaknya binatang. " Aku tahu kau menjagaku tetap aman saat matahari terbit dan aku tak berdaya menentangnya. Aku tahu kau cukup peduli padaku meskipun kau takut. Aku tahu kau memberiku makan dari dapurmu. Aku tahu kau adalah seorang pejuang, wahlker ( seseorang yang pernah mati suri. Mereka sangat dihormati dan dipandang tinggi atas perjuangan mereka ). Dan aku tahu suaramu adalah suara paling indah yang pernah kudengar. " ia mencium Sehun dengan lembut. " Aku tahu segalanya tentang dirimu, dan semua yang kulihat tampak indah. Kau adalah milikku. "

" Aku bukan milikmu. " bisik Sehun.

Penolakan itu tidak mengusik Kai. " Baiklah. Kalau aku tidak bisa memilikimu, biar kau yang memilikiku. Miliki aku sepenuhnya, setengahnya, sedikit bagian dari diriku, apapun yang kau inginkan. Tapi tolong, ambillah sesuatu dari diriku. "

Tangan Sehun terulur untuk menyentuh wajah Kai, membelai tulang pipi dan garis rahang Kai. " Tidakkan kau takut merasa sakit? " Tanyanya.

" Tidak. Tapi kuberitahu kau apa yang sangat menakutkanku. Kehilangan dirimu. " Kai menatap bibir Sehun. " Sekarang apakah kau ingin aku pergi? Karena aku akan melakukan apapun keinginanmu. "

" Tidak. Tinggallah. " Sehun tetap membuka matanya dan membawa bibir Kai ke bibirnya, menyelipkan lidah kedalam mulut pria itu.

Kai bergetar dan mulai bergerak kembali dalam irama yang mantap. " Kau terasa begitu... Sempurna. " katanya, menekankan kata kata itu dengan hunjamannya. " Aku tercipta untuk... Bersatu denganmu. "

Aroma memabukkan yang berasal dari tubuh Kai menguat, sekuat gerakannya, sampai satu satunya yang bisa Sehun rasakan, cium, dan cecap hanyalah Kai.

" Nyyaahhh... Kaaaiihhh... " Sehun meneriakkan nama Kai ketika ia mencapai klimaks lagi, dan ia merasakan Kai ikut ke tepi jurang kenikmatan bersamanya, tubuh pria itu bergetar, pelepasannya sekuat hunjamannya, seluruh diri pria itu tertumpah dalam dirinya untuk kedua kalinya.

Ketika Kai berhenti, ia menggulingkan tubuh mereka hingga mereka berbaring menyamping. Ia mendekap Sehun erat, begitu dekat hingga Sehun dapat mendengar dentuman kuat jantung Kai didadanya.

Sehun memejamkan mata dan tertidur dengan kelelahan yang nikmat.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Gimana menurut kalian chapter ini?

Aku sih fangirling ama Kai.. Well, walopun awalnya ngeselin tapi dia gentle pake bangetttttt

Mohon reviewnya yaaaa yang banyak...