LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 9
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)
RATED M
.
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
CERITA SEBELUMNYA
.
Aroma memabukkan yang berasal dari tubuh Kai menguat, sekuat gerakannya, sampai satu satunya yang bisa Sehun rasakan, cium, dan cecap hanyalah Kai.
" Nyyaahhh... Kaaaiihhh... " Sehun meneriakkan nama Kai ketika ia mencapai klimaks lagi, dan ia merasakan Kai ikut ke tepi jurang kenikmatan bersamanya, tubuh pria itu bergetar, pelepasannya sekuat hunjamannya, seluruh diri pria itu tertumpah dalam dirinya untuk kedua kalinya.
Ketika Kai berhenti, ia menggulingkan tubuh mereka hingga mereka berbaring menyamping. Ia mendekap Sehun erat, begitu dekat hingga Sehun dapat mendengar dentuman kuat jantung Kai didadanya.
Sehun memejamkan mata dan tertidur dengan kelelahan yang nikmat.
.
HAPPY READING
.
Malam itu, ketika matahari terbenam dan semua kerai dinaikkan dari jendela, Sehun memutuskan ia bisa terbiasa dimanjakan oleh Kai. Apa yang tak bisa diterimanya lagi adalah makanan. Ia memegang pergelangan tangan Kai, menghentikan suapan kentang lumat digarpu yang mengarah padanya.
" Tidak, aku sudah kenyang, " Ucap Sehun seraya berbaring di atas bantal. Perutku bakal meledak. "
Sambil tersenyum, Kai mengambil nampan makanan dan meletakkannya diatas nakas, lalu kembali duduk disamping Sehun. Kai pergi hampir seharian, bekerja, duga Sehun, dan ia bersyukur karena ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan dari Kai. Semakin hari kelelahannya semakin parah, dan ia dapat merasakan kesehatannya mulai menurun. Tubuhnya terasa seoalh bergulat untuk mempertahankan proses biasanya, sedikit sakit dan nyeri mulai muncul disana sini. Dan memar memar kembali memenuhi tubuhnya.
Kai merasa ngeri sewaktu melihat memar memar itu, ia yakin dialah yang telah menyakiti Sehun saat mereka berhubungan intim. Setelah pembicaraan panjang lebar barulah Kai menyadari memar memar ditubuh Sehun bukanlah kesalahannya.
Sehun memusatkan perhatian pada Kai, tidak ingin berpikir tentang penyakitnya, ataupun janji temu dokter yang segera akan datang. Kai terlihat sangat bersemangat, tak kenal kata berhenti. Saat Kai duduk disampingnya, Kai mengusap usap pahanya dengan telapak tangan, dengan tampang seperti habis terkena racun. Sehun sudah hampir bertanya ada apa ketika Kai akhirnya berbicara.
" Sehun, maukah kau mengijinkanku melakukan sesuatu untukmu? "
Sehun mengamati otot biseps yang menyembul dibalik kemeja hitam Kai. " Apakah aku boleh memilih? " Tanyanya.
Geraman rendah terlontar dari bibir Kai. " Jangan menatapku seperti itu. "
" Kenapa aku tidak boleh menatapmu seperti ini? " Tanya Sehun.
" Karena aku ingin bercinta denganmu saat kau menatapku seperti itu. " Geram Kai.
" Jangan melawan perasaan seperti itu. " Ucap Sehun.
Seperti dua korek api yang digesekkan bersamaan, pupil Kai berkilat putih. Sungguh aneh. Sedetik pupilnya berwarna hitam, detik berikutnya pupilnya memucat dan bercahaya.
" Kenapa hal itu bisa terjadi? Kenapa matamu bisa berubah putih seperti itu? " Tanya Sehun.
Bahu Kai menegang saat dia menekuri kaki dan menguatkan diri. Tiba tiba dia berdiri dan mondar mandir. Sehun dapat merasakan energi Kai menguar dari pria itu.
" Kai? "
" Kau tidak perlu mencemaskan perubahan mataku. "
" Keseriusan dalam suaramu mengatakan mungkin aku perlu cemas. " Sahut Sehun.
Kai tersenyum pada Sehun dan menggeleng. " Tidak. Kau tidak perlu cemas. Oh, tentang sesuatu yang ingin kulakukan untukmu, itu tentang ras kami memiliki dokter. Maukah kau membiarkanku memberinya akses untuk melihat berkas medismu? Mungkin sains kami dapat membantumu. "
Sehun mengerutkan dahi. Dokter vampir. Terapi alternatif yang lain daripada yang lain. Tidak ada kerugian kalau ingin mencobanya. " Oke. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan salinan _ "
" Tiffany, adalah seorang dewi komputer. Dia bisa meretas apapun, dan sebagian besar berkasmu seharusnya ada dalam jaringannya. Satu satunya yang kubutuhkan hanyalah semua nama dan tempat. Tanggal juga, kalau kau ingat. " Jelas Kai.
Ketika Kai meraih kertas dan bolpoin, Sehun memberitahunya dimana ia pernah dirawat serta nama dokter dokternya. Setelah Kai menuliskan semuanya, ia mengamati kertas itu.
" Apa? " Tanya Sehun.
" Banyak sekali. " Mata Kai menengadah ke mata Sehun. " Seberapa parah penyakitmu, Sehun? "
Hal pertama yang dirasakan Sehun adalah memberitahu Kai kebenarannya : bahwa ia menjalani dua putaran kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang belakang, dan nyaris kehilangan nyawanya. Tapi ia kemudian memikirkan kejadian semalam, ketika emosinya sangat tak terkendali. Ia tidak ingin kehilangan kendali lagi. Kali pertama ia menangis habis habisan didepan Kai. Kali kedua... Yah, yang pasti ia tidak cuma menggigit bibir Kai.
Sambil mengangkat bahu, berbohong, membenci dirinya sendiri, Sehun bergumam. " Tidak apa apa. Itu dulu Kai. Aku senang semuanya sudah selesai. "
Mata Kai menyipit. Saat ia ingin membuka mulut membantah ucapan Sehun, tepat saat itu ada yang mengetuk pintu. Tatapan Kai bergeming, meskipun ketukan itu terdengar tidak sabaran. " Suatu hari kau akan berlajar memercayaiku, Sehun. "
" Aku percaya padamu, Kai. " Sahut Sehun.
" Omong kosong. Dan kuberitahu kau satu hal. Aku benci dibohongi. "
Ketukan keras itu mulai berbunyi lagi.
Kai berjalan dan membuka pintu, bersiap untuk memberitahu siapapun yang berada disitu agar enyah. Kai merasa ia dan Sehun akan bertengkar, dan ia ingin meluruskan semua ini secepatnya.
Kyungsoo lah yang ada didepan pintu. ekspresi wajahnya seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan.
" Apa yang terjadi padamu? " Tanya Kai sambil melangkah ke koridor. Ia menutup pintu, tapi tidak sepenuhnya.
Kyungsoo mengendus udara yang menguar dari dalam kamar. " Astaga. Kau sudah menandainya, ya? "
" Kau ada masalah dengan itu? " Tanya Kai sambil mengangkat satu alisnya.
" Tidak, itu malah memepermudah segala sesuatunya. Scribe virgin ( pengatur hak hak vampir. Memiliki kemampuan untuk menciptakan vampir ) sudah memberi ultimatum. " Ucap Kyungsoo.
" Beritahu aku. " ucap Kai.
" Sebaiknya kau berkumpul bersama yang lain untuk mendengar _ "
" Persetan ! Aku ingin tahu sekarang, Kyung. " Sela Kai.
Kyungsoo berbicara dalam bahasa kuno, membuat Kai menarik napas dalam dalam. " Beri aku waktu sepuluh menit. "
Kyungsoo mengangguk. " kami akan ada di ruang kerja Kris. "
Kai kembali masuk dan menutup pintu. " Dengar, Sehun, ada urusan yang harus kutangani dengan saudaraku yang lain. Aku mungkin tidak akan kembali malam ini. "
Sehun menegang dan matanya langsung menunduk, menghindari Kai.
" Sehun, ini bukan soal wanit, aku bersumpah. Berjanjilah padaku kau akan berada disini saat aku kembali. " Ketika Sehun meragu, Kai menghampiri Sehun dan mengusap pipi wanita itu. " Kau bilang janji temumu dengan dokter baru hari rabu. Apalah arti semalam lagi? Kau bisa menghabiskan lebih banyak waktu di jacuzzi. Kau bilang padaku kau sangat menyukainya. "
Sehun tersenyum simpul. " Kau tukang manipulasi. "
" emm, hanya memanipulasimu. "
" Kalau aku tinggal sehari lagi, kau hanya akan berusaha membujukku untuk tinggal sehari lagi dan sehari lagi... "
Kai menunduk dan melumat bibir Sehun, berharap ia punya waktu lebih berada bersama Sehun, bercinta dengannya, sebelum ia pergi. Tapi seandainya ia punya waktu lebih pun, ia tidak bisa melakukan hal itu. Gelitikan dan dengungan dalam dirinya nyaris membuat tubuhnya bergetar melayang.
" Aku mencintaimu, " Ucap Kai. Lalu ia menarik diri, melepaskan arlojinya, dan meletakkan Rolex itu ditangan Sehun. " Simpan ini untukku. "
Kai berjalan ke lemari baju dan menanggalkan bajunya. Ia lalu mengambil jubah hitam resminya. Ia mengenakan sutra berat itu ketubuh telanjangnya dan menahannya dipinggang dengan ikat pinggang kulit yang dijalin.
Melihat cara Kai berpakaian membuat Sehun berkomentar. " Kau kelihatan seperti hendak pergi ke biara. "
" Katakan padaku kau masih akan ada disini ketika aku kembali. " Pinta Kai.
Setelah diam beberapa saat, Sehun akhirnya mengangguk.
Kai mengenakan tudung jubahnya. " Bagus. "
" Kai, apa yang terjadi? " Tanya Sehun khawatir.
" Tunggu aku. Tolong, tunggu aku. " Saat Kai berjalan ke pintu, ia menoleh untuk memandang Sehun ditempat tidurnya untuk terakhir kalinya.
Ini adalah perpisahan pertama mereka yang berarti. Kai bisa merasakan jarak waktu dan pengalaman yang mengerikan. Ia tahu malam ini akan sulit untuk dijalani. Ia hanya berharap bahwa ketika ia melangkah ke sisi lain, efek hukuman ini tidak bertahan terlalu lama, dan Sehun masih akan bersamanya.
" Sampai nanti, Sehun. " Ucap Kai sembari menutup pintu dan meninggalkan Sehun didalam lindungan kamarnya.
.
.
Kai berjalan memasuki ruang kerja Kris, ia menutup pintu ganda dibelakangnya. Semua saudaranya sudah berada disana, dan tak ada yang bicara. Aroma keresahan memenuhi ruangan.
Kris maju dari balik mejanya, tampak sekaku Kyungsoo tadi. Tatapannya sangat tajam. " Kai. "
Kai membungkukkan kepalanya. " My Lord. "
Kris mengangguk sekali. " Baiklah, ini maklumat Scribe virgin. Scribe virgin menetapkan bahwa kau telah menyinggung Brotherhood dengan mengabaikan perintah Kyungsoo dan membawa manusia ke wilayah kita. Aku akan jujur padamu, Kai, dia ingin membatalkan keputusanku tentang Sehun. Dia ingin manusia itu pergi. "
" Kau tahu akibatnya kalau kau mengusir Sehun pergi. " Ucap Kai.
Kris mengangguk. " Aku memberitahunya kau siap untuk meninggalkan Brotherhood. "
" Itu mungkin membuatnya sangat senang. " Kai tersenyum sinis. " Scribe virgin sudah berusaha menyingkirkanku selama bertahun tahun. "
" Pilihanmu, kalau kau ingin tetap bersama kami, dan manusia itu dilindungi di dalam dinding dinding ini, Scribe virgin menuntut agar kau menawarkan rythe. "
Rythe adalah ritual untuk menebus pelanggaran dengan hukuman yang masuk akal. Ketika rythe diajukan dan diterima, pihak yang tersinggung diperbolehkan memilih senjata terhadap pihak yang menyinggung yang takkan membalas. Pihak yang tersinggung dapat memilih senjata apapun mulai dari pisau hingga sarung tangan besi atau senapan, asalkan luka yang diakibatkannya tidak menyebabkan kematian.
" Aku menawarkan rythe. " Ucap Kai.
" Masing masing dari kami akan melakukannya. " Sahut Kris.
Terdengar erangan dari semua yang hadir. Seseorang bergumam. " Sial. "
" Aku menawarkannya pada mereka. " Ucap Kai.
" Terjadilah sesuai keinginanmu, saudaraku. " Lirih Kris.
" Tapi _ " Kai mengeraskan suaranya. " _ aku menawarkan rythe kepada mereka hanya dengan pemahaman bahwa setelah ritual ini dijalankan, Sehun tetap tinggal disini selama apapun yang kuinginkan. "
" Itulah kesepakatanku dengan Scribe virgin, dan kau harus tahu dia baru tenang setelah aku memberitahunya kau berniat menjadikan manusia itu sebagai Shellanmu. Kurasa Scribe virgin terperanjat mendapati kau bahkan mempertimbangkan hubungan yang berkomitmen semacam itu. " Kris menoleh. " Kyungsoo akan memilih senjata yang akan kami semua gunakan. "
" Cambuk bermata tiga. " Jawab Kyungsoo dengan suara pelan.
Oh, brengsek. Ini bakal menyakitkan. Batin Kai.
" Baiklah, " Ucap Kris menghilangkan keheningan.
" Tapi bagaimana dengan si monster? " Tanya Kai. " Monster itu bisa muncul saat aku kesakitan. "
" Scribe virgin akan hadir disana. Dia bilang dia dapat menghalau monster itu. " Jawab Kris.
Tentu saja. Dialah yang menciptakan makhluk sialan itu pada awalnya. Sinis Kai. " Kita akan melakukannya malam ini juga, kan? " kai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. " maksudku, tak ada alasan untuk menundanya. "
" Kita akan pergi ke Tomb sekarang. "
" Bagus. Mari kita selesaikan ini. " Ucap Kai.
Chanyeol lah yang pertama tama pergi saat mereka berdiri.
" Semua saudaraku? " Panggil Kai.
Mereka berhenti bicara, berhenti bergerak. Kai menatap semua saudaranya satu persatu, menyadari kemuraman di wajah mereka. Mereka benci hal ini, dan Kai memahami hal itu sepenuhnya. Ia sendiri takkan tahan menyakiti salah satu dari mereka. Jauh lebih baik menjadi yang disakiti.
" Aku punya satu permintaan. Jangan bawa aku kembali kesini, oke? Saat rythe selesai dilakukan, bawa aku ketempat lain. Aku tidak ingin Sehun melihatku dalam keadaan seperti itu. " Pinta Kai.
Tao bicara. " Kau bisa tinggal dikamarku. Aku dan Chen akan merawatmu. "
Kai tersenyum. " Dua kali dalam waktu kurang dari seminggu kalian juga merawatku. Kalian berdua bisa melamar menjadi perawat setelah ini. "
Kyungsoo menepuk bahu Kai lalu pergi. Chen memeluk Kai saat melewatinya. Kris berhenti saat berjalan keluar.
Ketika Kris tidak mengatakan apa apa, Kai meremas otot biseps sang Raja. " Aku tahu, My Lord. Aku juga akan merasakan hal yang sama kalau aku jadi kau. Tapi aku tangguh. Aku bisa menerimanya. "
Kris meraih kedalam tudung dan merangkum wajah Kai dengan kedua tangan, menundukkan wajah Kai. Ia mencium kening Kai dan menahannya disana, ikrar penghargaan sang Raja terhadap anak buahnya, peneguhan kembali atas ikatan mereka.
" Aku senang kau tetap bersama kami, " Kata Kris pelan. " Aku tidak akan senang kehilangan dirimu. "
.
.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka berkumpul kembali di halaman. Mereka bertelanjang kaki dan mengenakan jubah hita,. Dengan tudung menutupi kepala, sulit membedakan satu sama lain. Tao membawa tas besar yang disampirkan dibahunya. Dia pasti membawa serta perban dan plester gulungan dalam tasnya disamping senjata.
Tak ada yang berbicara saat Chen menyetir ke belakang rumah dan menembus belantara pohon pinus dan cemara. Jalanannya jalanan tanah satu arah, dinaungi pepohonan hijau abadi.
" Oh, demi Tuhan. Kalian takkan membunuhku. Bisakah kita santai sedikit? " Ucap Kai.
Tak ada yang berani bersuara.
" Kyung, bagaimana kalau kau menyetel musik agar suasana tidak terlalu suram. Semua keheningan ini sangat membosankan. " Ucap Kai lagi.
Tawa Chen terdengar dari balik tudung disebelah kanan. " Hanya kau yang bisa mengubah ini menjadi semacam pesta. "
" Yah, kalian semua ingin menghajarku karena kekacauan yang kutimbulkan, bukan? Ini hari keberuntungan kalian. " Kai menepuk nepuk paha Chen. " Maksudku, ayolah, sudah bertahun tahun aku mengejek kalian. Kau ingat, Chen. Aku selalu menghina wajahmu yang seperti dinosaurus? "
Dan hal itu terus berlanjut. Cerita cerita Kai mulai dibahas hingga suara suara itu begitu lantang, tak ada yang bisa mendengar yang lainnya.
Ketika saudara saudaranya sudah melepaskan ketegangan mereka, Kai bersandar dikursinya dan menerawang ke kegelapan. Ia benar benar berharap Scribe virgin tahu apa yang dilakukannya, karena kalau monsternya sampai muncul, saudara saudaranya akan mengalami masalah besar. Dan pada akhirnya mereka mungkin terpaksa membunuhnya.
Kai mengerutkan dahi dan mengedarkan pandangan. Ia melihat Kris duduk dibelakangnya. Kai mencondongkan tubuh kebelakang dan berbisik. " My Lord, aku memohon bantuanmu. "
Kris membungkuk, suaranya dalam dan datar. " Apa yang kaubutuhkan? "
" Kalau aku... Tidak berhasil melewati ini, untuk alasan apapun, kumohon agar kau menjaga Sehun. "
Kris mengangguk. " Sebagaimana yang kauminta, itulah yang akan menjadi sumpahku. Aku akan menjaganya seperti aku menjaga saudara perempuan sedarahku dan merawatnya seperti aku menjaga perempuan dalam keluargaku. "
Kai menghembuskan napas. " Bagus. Itu... Bagus. "
Tak lama kemudian, Chen memarkir mobil dilahan terbuka yang sempit. Mereka semua keluar dan berdiri, mendengarkan, memperhatikan, merasakan.
Terlepas situasinya, ini malam yang indah, dan tempat ini sangat tenang. Angin sepoi sepoi meniup ranting dan dahan dihutan dan membawa aroma tanah dan pinus yang menyegarkan. Dilangit, bulan purnama bersinar terang disela sela selaput tipis awan.
Kris memberi isyarat agar mereka berjalan. Mereka lalu berjalan sejauh satu meter menuju gua yang berada didalam gunung. Tempat itu sama sekali tidak kelihatan istimewa. Salah seorang dari mereka menarik batu di tepian kecil di dinding gua. Lalu batu besar membuka.
Mereka berbaris memasuki bagian dalam gua, batu besar dibelakang mereka menutup nyaris tanpa suara. Obor obor yang dipasang di sepanjang dinding mengerdip keemasan.
Perjalanan memasuki perut bumi itu terasa lambat, tangga menurun yang landai dilantai batu terasa dingin dikaki mereka. Sesampainya dibawah mereka semua menanggalkan jubah, dan sepasang pintu besi tempa terbuka. Terlihat aula besar didalam gua tersebut.
Tempat keramat Brotherhood ini dipahat dari dinding batu dan dilapisi marmer hitam pada awal tahun 1700- an ketika orang orang Eropa pertama kali bermigrasi menyeberangi lautan. Ruangan tersebut sangat luas, dengan langit langit terbuat dari stalaktit putih yang menjuntai seperti belati.
Didepan terdapat panggung, yang bisa dicapai melalui sederet anak tangga pendek. Altar diatasnya dibuat dari batu gamping. Ditengah tengah altar tersebut terdapat tengkorak.
Dibelakang altar, dinding rata dipahat dengan nama nama setiap brother yang pernah hidup, mulai dari brother pertama yang tengkoraknya ditaruh di altar.
" Salam, Brotherhood. "
Mereka semua berbalik ke arah suara wanita itu.
Scribe virgin merupakan sosok mungil, jubah hitamnya melayang diatas lantai. Tak ada yang kelihatan darinya, bahkan wajahnya, tapi dari balik lipatan jubah hitam yang menjuntai itu, cahaya mengalir keluar seperti limpahan air.
Scribe virgin melayang layang ke arah mereka, berhenti didepan Kris. " Prajurit. "
Kris membungkuk rendah. " Scribe virgin. "
Scribe virgin menyapa anggota Brotherhood satu per satu, hingga akhirnya tiba dihadapan Kai. " Kai. "
" Scribe virgin. " Kai membungkukkan kepalanya. " Bagaimana keadaanmu? "
" Aku baik baik saja. Dan kau sibuk sekali akhir akhir ini, bukan? Terus menerus menciptakan masalah. " Scribe virgin tertawa sinis. " Entah bagaimana, tidaklah mengherankan bahwa kita berakhir disini bersamamu. Tentunya kau sadar, bukan, bahwa ini adalah rythe pertama yang dilakukan didalam Brotherhood? "
" Pejuang, apakah kau siap untuk menerima apa yang telah kautawarkan? " Kris memutuskan pembicaraan.
" Ya. " Kai memilih kata kata berikutnya dengan hati hati. Karena berbicara dengan Scribe virgin memerlukan kehati hatian. " Aku mohon padamu supaya aku tidak menyakiti saudara saudaraku. "
Suara Scribe virgin berubah tajam. " Kau menyerempet bahaya dengan mengatakan hal itu padaku. "
" Aku tidak bermaksud lancang. " Ucap Kai.
Gelak tawa rendah dan lembut Scribe virgin itu terdengar lagi. Kai berani bertaruh Scribe virgin sangat menikmati semua ini. Scribe virgin tidak pernah menyukainya, walaupun ia juga tidak bisa menyalahkan wanita itu. Ia menyediakan banyak alasan bagi wanita itu untuk tidak menyukainya.
" Kau tidak bermaksud lancang, pejuang? " Jubah itu bergerak seolah Scribe virgin menggeleng geleng. " Sebaliknya, kau tidak pernah ragu untuk bersikap lancang demi mendapatkan keinginanmu, dan itu selalu menjadi akar masalahmu. Itu juga alasan mengapa kita semua berkumpul disini malam ini. " Ia menoleh. " kau membawa senjatanya? "
Chanyeol meletakkan tasnya, membuka ritsletingnya, dan mengeluarkan cambuk bermata tiga. Pegangannya yang sepanjang enam puluh sentimeter terbuat dari kayu dan diselubungi kulit cokelat yang makin gelap gara gara keringat banyak tangan. Dari ujung pegangan itu, muncul tiga rantai baja hita, yang menjuntai di udara. Di ujung masing masing rantai terdapat gantungan bergigi tajam, seperti buah pinus dihias kawat berduri.
Cambuk bermata tiga merupakan senjata kuno yang berbahaya, tapi pilihan Kyungsoo ini sudah tepat. Supaya ritual dianggap sah, para brother tidak boleh bersikap lunak terhadap Kai, baik dalam pemilihan senjata maupun cara mereka menggunakan senjata tersebut terhadap Kai. Karena bersikap lunak akan menurunkan derajat tradisi rythe, penyesalan yang diajukan Kai, maupun kesempatan untuk penebusan sempurna.
" Bagus, " Ucap Scribe virgin. " Berjalanlah kedinding, Kai. "
Kai berjalan maju, menaiki anak tangga. Saat melewati altar, ia menatap tengkorak suci itu, memperhatikan lidah api menjilat lubang mata dan taring panjangnya. Menempatkan diri didepan marmer hitam, ia mencengkeram pegangan batu dan merasakan batu mulus dan dingin itu dipunggungnya.
Scribe virgin melayang ke arahnya dan mengangkat tangan. Lengan jubahnya tersingkap, dan cahaya terang terpapar, cahaya membutakan itu samar samar kelihatan seperti tangan. Dengungan listrik bertegangan rendah menyengat tubuh Kai, dan ia merasakan sesuatu bergerak didalam dadanya, seolah organ dalam tubuhnya tengah disusun ulang.
" Ritual sudah boleh dimulai. " Ucap Scribe virgin.
Para brother berbaris, tubuh tubuh telanjang mereka berkilat dengan kekuatan, wajah mereka berkerut dalam. Kris mengambil cambuk bermata tiga itu dari Chanyeol dan menjadi yang pertama maju. Saat ia bergerak, rantai rantai cambuk itu berdenting semerdu kicauan burung.
" Brother, " Ucap Kris lirih.
" My Lord. "
Kai menatap lurus lurus ke mata hitam Kris mulai memutar mutar cambuk dalam lingkaran besar untuk membangun momentum. Dengungan itu merendah dan meninggi sampai senjata tersebut dilecutkan ke depan, membelah udara. Rantai rantainya menghantam dada Kai lalu kawat berduri itu menusuknya, merenggut udara dari paru parunya. Seraya mencengkeram pegangannya semakin erat, Kai menahan kepalanya untuk tetap tegak sementara pandangannya buram lalu kembali jelas.
Kyungsoo yang berikutnya, cambukannya membuat Kai tak mampu bernapas hingga lututnya sempat lemas sebelum bisa menopang bobotnya lagi. Setelah itu giliran Tao dan Chen.
Tiap kali, Kai menatap tatapan terluka di mata para brother- nya dan berharap bisa meringankan penderitaan mereka, tapi ketika Chen berbalik. Kai tak mampu lagi menahan kepalanya. Kai membiarkan kepalanya terkulai ke bahu hingga membuatnya bisa melihat darah mengalir dari dadanya, meluncur disepanjang pahanya, hingga ke kakinya. Bertekad untuk tetap berdiri, Kai menekuk sikunya hingga sendi dan tulang tulangnyalah, bukan otot ototnya, yang menahannya di tempat.
Ketika terdapat jeda, samar samar ia menyadari adanya perdebatan. Kai mengerjap beberapa kali sebelum matanya cukup jernih untuk melihat.
Chen mengulurkan cambuk dan Chanyeol menghindari benda tersebut seperti ngeri. Tangan Chanyeol terkepal dan terangkat tinggi. Chen berbicara dengan lembut dan berusaha meraih lengan Chanyeol. Chanyeol memberontak dengan liar, namun Chen tetap mengejarnya.
Pendekatan itu tidak mempan, pikir Kai. Chanyeol sudah diambang panik setengah mati. Pasti ada cara lain untuk meraih Chanyeol.
Kai menarik napas dalam dalam dan membuka mulut. Tak ada yang keluar. Ia mencoba lagi. " Chanyeol... " Suaranya yang lirih membuat semua mata tertuju ke altar. " Selesaikan, Yeol... Aku... Tidak tahan lebih lama lagi. "
" Tidak _ "
Chen memotong perkataan Chanyeol. " Kau harus melakukannya _ "
" Tidak! Enyah dariku. " Teriak Chanyeol.
Chanyeol lari ke pintu, namun Scribe virgin tiba lebih dulu disana, memaksa Chanyeol untuk berhenti agar tidak menabraknya. Terperangkap dihadapan sosok mungil itu, kaki Chanyeol gemetar dan bahunya berguncang. Scribe virgin berbicara perlahan padanya, kata katanya tidak bisa didengar Kai dari balik kabut kesakitan.
Akhirnya Scribe virgin memberi isyarat kepada Chen, yang mengantarkan senjata tersebut kepadanya. Setelah mendapatkannya, Scribe virgin mengulurkan tangan, meraih tangan Chanyeol, dan meletakkan pegangan berlapis kulit itu ditelapak tangan Chanyeol. Chen menunjuk ke arah altar dan Chanyeol menunduk dalam. Beberapa saat kemudian ia maju dengan langkah gontai.
" Tidak apa apa, Chanyeol. " Gumam Kai. " Tapi kau perlu menyelesaikannya, sekarang. "
Chanyeol tersengal dan berayun, butiran keringat mengalir ke mata dan parut diwajahnya. " Kai, " Bisiknya sambil mengangkat cambuk melewati bahu.
Ujung ujung cambuk merobek perut Kai dalam ledakan yang menyakitkan. Lutut Kai lunglai dan ia berusaha menopang tubuh dengan lengan, hanya untuk mendapati lengannya juga menolak menopangnya. Ia jatuh berlutut, telapak tangannya mendarat di kubangan darahnya sendiri.
Tapi setidaknya ini sudah selesai. Ia menarik napas panjang panjang, bertekad jangan sampai pingsan.
Mendadak suara bergegas membelah tempat keramat tersebut, kedengarannya seperti besi beradu. Kai tidak terlalu memikirkannya. Ia terlalu sibuk membujuk perutnya, meyakinkannya bahwa muntah bukanlah ide bagus. Ketika ia merasa sudah siap, ia merangkak dengan tangan dan lututnya mengitari altar, berhenti sebentar untuk beristirahat sebelum menuruni tangga. Saat melihat ke depan, ia menyaksikan para saudaranya yang lain berbaris lagi. Kai menggosok gosok mata, membuat wajahnya berlumuran darah.
Ini bukan bagian ritual, pikir Kai.
Masing masing brothernya, memegang belati hitam di tangan kanan. Kris mulai bersenandung dan yang lain mengikuti sampai suara mereka menjadi teriakan nyaring yang menggema di seisi tempat keramat. Suara yang makin lama makin kencang itu tidak berhenti sampai mereka nyaris berteriak, lalu suara mereka mendadak berhenti.
Sebagai satu kesatuan, mereka menebaskan belati mereka ke dada atas mereka.
.
.
.
Sehun berada dibawah, di ruang billiar, mengobrol dengan Fritz tentang sejarah rumah itu, ketika telinga kepala pelayan itu menangkap suara.
" Sepertinya para Tuan sudah kembali. "
Sehun berjalan ke jendela tepat saat lampu depan mobil berbelok memasuki halaman.
Mobil itu berhenti, pintu pintunya terbuka, lalu para pria turun. Karena tudung mereka diturunkan, Sehun dapat melihat ekspresi muram mereka. Apa ada yang terluka?
Sehun mencari cari sosok Kai, berusaha tidak terlihat panik. Seseorang menahan pintu mobil agar tetap terbuka. Betapa terkejutnya Sehun saat melihat tubuh Kai yang digotong tak sadarkan diri.
Sehun melesat keluar mansion sebelum ia menyadari dirinya tengah berlari. " Kai ! Berhenti ! Tunggu! " udara dingin menyelinap ke paru parunya. Para pria itu berhenti. Beberapa di antaranya menyumpah.
" Kai !" Sehun berhenti mendadak, menendangi kerikil. " Apa... Oh.. Ya ampun. "
Ada darah di wajah Kai dan matanya tak terfokus karena kesakitan.
" Kai... "
Mulut Kai membuka. Bergerak gerak tanpa suara.
Tao berkata, " Sial. Sekalian saja kita bawa dia kekamarnya sekarang. "
" Tentu saja kalian akan membawanya ke sana ! Apakah dia terluka karena bertarung? " Marah Sehun.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Sehun. Mereka hanya berbelok arah dan menggotong Kai melewati aula depan mansion, melintasi selasar, dan menaiki tangga. Setelah mereka membaringkan Kai di tempat tidur.
" Kai, ada yang bisa kami bawakan untuk mengurangi rasa sakitmu? " Tanya Chanyeol.
Suara Kai tak jelas. " Tidak. Lebih baik begini. Kau tahu aturannya. Sehun... Dimana Sehun? "
Sehun bergegas ke sisi tempat tidur dan meraih tangan Kai yang lunglai. Saat ia menekankan bibirnya ke buku buku jari Kai, ia menyadari jubah Kai berada dalam kondisi sempurna, sama sekali tidak ada robekan. Yang berarti Kai tidak mengenakan jubahnya saat dilukai, dan ada yang memakaikan kembali jubah itu pada Kai.
Menyadari hal mengerikan tersebut, Sehun meraih ikat pinggang dari kulit di sekeliling pinggang Kai. Ia melonggarkan ikat pinggang tersebut dan menyingkap ujung jubah. Tubuh Kai dari tulang selangka hingga pinggangnya dipenuhi perban. Dan darah tetap merembes dalam warna merah yang terang dan mengejutkan. Takut untuk melihat namun butuh untuk tahu, dengan perlahan ia membuka salah satu sudut perban dan mengangkatnya.
" Astaga. " Sehun limbung dan Chen menangkap tubuhnya. " Bagaimana ini bisa terjadi? "
Ketika kelompok itu tetap diam, Sehun mendorong Chen yang tengah menopangnya dan menatap mereka semua. Mereka bergeming, memandangi Kai...
Sehun menatap ngeri mereka semua saat menyadari, mereka lah yang telah menyakiti Kai. " Kalian yang melakukan ini. " Desisnya. " Kalian melakukan ini padanya! "
" Ya, " Jawab Kris. " Dan itu bukan urusanmu. "
" Bajingan. " Umpat Sehun.
Kai bersuara lalu berdeham. " Tinggalkan kami. "
" Kami akan kembali untuk memeriksa keadaanmu, Kai. " Ucap Kyungsoo. " Kau butuh sesuatu? "
" Sesuatu selain transplantasi kulit? " Kai tersenyum simpul lalu meringis saat bergerak ditempat tidur.
Ketika para pria itu sudah keluar dari pintu, Sehun memelototi punggung kokoh mereka. Binatang binatang keparat itu, geram Sehun.
" Sehun? " Panggil Kai. " Sehun. "
Sehun berusaha menenangkan diri. Bersikap emosional terhadap para bajingan itu takkan membantu Kai saat ini. Ia menunduk ke arah Kai, menelan amarahnya, dan berkata, " Maukah kau mengijinkanku menelepon dokter yang kaubicarakan? Siapa namanya? "
" Tidak. " Tolak Kai.
Sehun ingin mengatakan pada Kai untuk berhenti bersikap sok tangguh. Tapi ia tahu Kai akan melawan, dan pria itu jelas tidak butuh berdebat saat ini. " Apakah kau mau jubahnya dipakai atau dilepas? " Tanyanya.
" Lepas. Kalau kau tahan melihatku. " ringis Kai.
" Tidak usah mencemaskan diriku. "
Sehun melepaskan ikat pinggang kulit dan menanggalkan jubah hitam sutra itu dari tubuh Kai, ingin berteriak saat Kai bolak balik berguling untuk membantunya seraya menggeram kesakitan. Setelah selesai melepaskan jubah itu dari bawah tubuh Kai, darah mengalir menuruni sisi tubuh pria itu.
" Kau kehilangan banyak darah. " Sehun menggulung jubah tebal itu.
" Aku tahu. " Kai memejamkan mata, kepala terbenam dibantal. Tubuh telanjangnya mengalami kejang kejang, paha, perut, dan dadanya yang gemetaran membuat tempat tidur bergoyang.
Sehun menjatuhkan jubah ke bak mandi lalu kembali. " Apakah mereka membersihkan tubuhmu sebelum merawat luka lukanya? "
" Aku tidak tahu. "
" Mungkin sebaiknya kuperiksa di beberapa bagian. " Ucap Sehun.
" Beri aku sejam. Saat itu pendarahannya akan berhenti. " Kai mengambil napas dalam dalam dan meringis. " Sehun... Jangan salahkan mereka. Mereka terpaksa. "
" Apa? " Sehun membungkukkan badan.
" Mereka terpaksa melakukannya. Aku tidak... " tarikan napas Kai berikutnya diikuti erangan. " Kumohon, jangan marah pada mereka. "
Peduli setan. Geram Sehun.
" Sehun, " Panggil Kai tegas, matanya yang kesakitan terfokus pada Sehun. " Aku tidak memberi mereka pilihan. "
" Apa yang kau lakukan sebenarnya, jadi sampai seperti ini? " Tanya Sehun.
" Sudah selesai, Sehun. Semua sudah selesai. Dan kau tidak boleh marah pada mereka. " Tatapan Kai mulai buram lagi.
Sehun memalingkan wajah, ia boleh merasakan apapun yang ingin dirasakannya terhadap bajingan bajingan itu. Ia tidak akan perduli dengan ucapan Kai.
" Sehun? "
" Tidak usah cemas. " Sehun mengusap pipi Kai, berharap ia bisa membersihkan darah di wajahnya. Ketika Kai berjengit pada sentuhan ringan itu, Sehun menarik tangannya. " Katakan saja padaku, apa yang bisa kulakukan untukmu? "
" Berbicaralah padaku. Bacakan aku buku... "
Sehun berjalan ke rak buku dan mengambil buku harry potter seri kedua, lalu menarik kursi ke sisi tempat tidur. Awalnya ia sulit berkonsentrasi karena terus memantau napas Kai, tapi akhirnya ia menemukan ritmenya, begitu pula Kai. Napas Kai mulai memelan dan kejang kejangnya berhenti.
Setelah Kai tertidur, Sehun menutup bukunya. Kening Kai berkerut, bibirnya pucat dan terkatup rapat. Sehun benci melihat rasa sakit itu tetap menyertai Kai bahkan saat pria itu beristirahat.
.
.
.
Kai membuka mata dan mendapati wajah Sehun melamun, menerawang keluar. Ia menggeliat lalu meringis saat merasakan luka ditubuhnya. Sehun berbalik dan saat melihat Kai yang terbangun langsung mencoba membantu Kai.
Sehun meraih tangan Kai. " Bagaimana keadaanmu? "
Kai tersenyum meringis sebelum berkata. " Kau menenangkanku, suaramu menenangkanku. " Ucapnya.
Sehun tersenyum. " Kau mau minum? "
" Tidak. " Tolak Kai. " Sehun, kau sedang memikirkan apa tadi? "
" Aku tidak memikirkan apa apa. " Bantah Sehun.
Kai memejamkan matanya.
" Kau mau aku menyekamu? " Tanya Sehun lagi.
Kai mengangkat bahu, Sehun pergi ke kamar mandi dan kembali membawa waslap yang basah oleh air hangat dan handuk kering. Ia membersihkan wajah Kai dan dengan lembut menyeka tepian perban.
" Aku akan melepaskan semua perban ini, oke? "
Kai mengangguk dan dengan hati hati Sehun mengopek plester dari kulit Kai. Ia menarik perban dan kapasnya. Sehun bergidik, rasa mual menaiki tenggorokannya.
Kai telah dicambuk. Itulah satu satunya penjelasan atas guratan luka lukanya.
" Oh... Kai. " Air mata Sehun merebak, " Aku hanya akan mengganti perbannya. Kulitmu masih terlalu... Lembek untuk dibersihkan. Apa kau punya _ "
" Kamar mandi. Lemari sepanjang dinding disebelah kanan cermin disana banyak terdapat obat obatan. " Sela Kai.
Berdiri didepan lemari tersebut, Sehun terintimidasi melihat perlengkapan yang terdapat didalamnya. Peralatan operasi. Gips untuk tulang patah. Segala jenis perban, plester. Ia mengambil apa yang ia pikir dibutuhkannya dan kembali pada Kai. Ia merobek kemasan steril pembalut luka selebar dua puluh lima centimeter, menaruhnya di dada dan perut Kai, dan mempertimbangkan untuk membiarkannya disana. Mustahil ia bisa mengangkat dada Kai dari ranjang untuk bisa membalutnya, dan memplester semuanya secara bersamaan akan melibatkan terlalu banyak sentuhan.
Sehun menepuk nepuk bagian kiri plester, membuat Kai berjengit. Ia menatap Kai. " Apakah aku menyakitimu? "
" Pertanyaan yang lucu. "
" Apa? " tanya Sehun bingung.
Mata Kai membuka,tatapannya tajam. " Kau bahkan tidak tahu, ya? "
" Jelas aku tidak tahu. Kau membingungkan, Kai. " Gumam Sehun. " Sudah lupakan saja. Apa yang kau butuhkan, sekarang? "
" Aku butuh kau berbicara padaku. " Lirih Kai.
" Oke. Biar kuselesaikan ini dulu. " Ucap Sehun. Segera setelah ia selesai, ia membuka buku.
Kai mengumpat.
Kebingungan, Sehun meraih tangan Kai. " Kenapa? Kau tidak ingin aku bacakan harry potter? "
" Sehun. "
" Aku tidak tahu yang kau inginkan, Kai. "
" Seharusnya itu tidak sulit untuk ditebak. " Suara Kai lemah namun kesal. " Demi Tuhan, Sehun, tidak bisakah kau membiarkan aku masuk sekali saja? "
Tok.. Tok... Tok...
Terdengar ketukan di pintu, membuat mereka mendelik ke arah suara.
" Aku akan segera kembali. " Sehun beranjak, dan membuka pintu.
" Aku Chen, omong omong. Apakah dia sudah bangun? " Chen membawa nampan perak penuh makanan dengan satu tangan.
" Hei, Chen, " Sapa Kai.
Chen berjalan melewati Sehun dan menaruh makanan di atas lemari laci. Sehun menatap Chen dengan tajam, ia berharap memiliki kekuatan sebesar vampir itu sehingga ia bisa mencegah vampir itu masuk.
Chen menyandarkan pinggul di salah satu sisi tempat tidur. " Bagaimana keadaanmu, Kai? "
" Aku baik baik saja. "
" Rasa sakitmu sudah mereda? "
" Ya. " Lirih Kai.
" Jadi kau pulih dengan cepat. " Ucap Chen.
" Lumayan cepat untukku. " Kai memejamkan mata dengan letih.
Chen menatap Kai sejenak, bibirnya menipis. " Aku akan kembali nanti, Kai. "
" Terima kasih sudah membawakan makanan, Chen. " Ucap Kai.
Chen berbalik dan bersitatap dengan Sehun. Saat itu Sehun berharap vampir itu bisa merasakan sakit yang diakibatkannya pada tubuh Kai. Dan Sehun sadar keinginan untuk membalas dendam tertera diwajahnya.
" Kau wanita yang tangguh, bukan? " Gumam Chen.
" Kalau dia saudaramu, kenapa kau menyakitinya? " Geram Sehun.
" Sehun, jangan, " Sela Kai parau. " Aku sudah memberitahumu _ "
" KAU TIDAK MEMBERITAHUKU APA APA. " Sehun memejamkan matanya rapat rapat. Tidaklah adil meneriaki Kai saat pria itu terkapar dengan dada yang terlihat seperti peta dengan banyak garis.
" Mungkin sebaiknya kita tumpahkan saja semuanya. " Ucap Chen.
Sehun menyilangkan lengan di depan dada. " Itu ide bagus. Bagaimana kalau kauberitahu aku seluruh kejadian sialan ini? Bantu aku memahami mengapa kau melakukan ini padanya. "
Kai bersuara. " Sehun, aku tidak ingin kau _ "
" Kalau begitu beritahu aku. Kalau kau tidak ingin aku membenci mereka, jelaskan ini padaku. " Mohon Sehun.
Chen menoleh ke arah ranjang, " Kai mengkhianati Brotherhoo untuk bisa bersamamu. Dia harus menebus kesalahannya kalau dia ingin tetap bergabung dengan kami dan kau boleh tinggal disini. "
Sehun berhenti bernapas. Semua ini demi dirinya? Gara gara dirinya?
Oh Tuhan. Kai membiarkan dirinya dicambuk habis habisan demi aku... Batin Sehun.
Aku akan membuatnya aman untukmu, bagaimana menurutmu? Sehun mengingat ucapan Kai yang pernah diucapkan.
Sehun sama sekali tidak paham pengorbanan macam ini. Atas penderitaan yang diterima Kai demi dirinya. Atas apa yang dilakukan terhadap kai oleh orang orang yang seharusnya peduli pada pria itu.
" Aku tidak... Aku merasa sedikit pusing. Aku permisi... "
Sehun mundur, berharap bisa pergi ke kamar mandi, tapi Kai bergerak gerak diranjang, seolah berniat mengejarnya.
" Tidak, tetaplah disana, Kai. " Sehun kembali menghampirinya, duduk dikursi, dan membelai rambut Kai. " Jangan bergerak. Sst... Tenanglah. "
Ketika Kai sedikit tenang, Sehun menatap Chen. " Aku tidak mengerti semua ini. "
" Kenapa kau harus mengerti? " Tanya Chen.
Mata vampir Chen menatap Sehun lekat lekat. Sehun membalas tatapan Chen sebelum kembali memusatkan perhatian pada Kai. Ia mengusap rambut Kai dengan ujung jemarinya dan bergumam sampai Kai terlelap lagi.
" Apakah menyakitkan bagimu untuk melakukan ini padanya? " Tanya Sehun pelan, tahu Chen masih belum pergi. " Katakan padaku ini juga menyakitkan bagimu. "
Sehun mendengar desiran baju, dan ia menoleh. Chen telah menanggalkan bajunya, didadanya terdapat luka baru, tebasan, seolah belati ditorehkan ke kulitnya.
" Hal ini sangat menyakitkan bagi kami semua. "
" Bagus. " Sahut Sehun.
Chen tersenyum maklum. " Kau memahami hal ini lebih baik daripada yang kau kira. Dan makanan itu bukan cuma untuk Kai, aku juga membawakannya untukmu. "
Ya, sayangnya aku tidak menginginkan apapun dari kalian, batin Sehun. " Terima kasih. Akan kupastikan ia makan saat bangun nanti. "
Chen mulai berjalan keluar, tapi sebelum mencapai pintu, ia kembali berbalik. " Apakah kau sudah memberitahunya tentang namamu? "
Sehun menoleh dengan kaget. " Apa? "
" Kai. Apakah dia tahu? "
Bulu kuduk Sehun meremang. " Dia jelas tahu namaku. "
" Bukan, maksudku apa Kai tahu namamu yang dulu? Sebaiknya kau memberitahunya. " Chen mengerutkan dahi. " Dan tidak, aku tidak tahu dari internet. "
Astaga, apa ia bisa membaca pikiranku, Batin Sehun. " Apa kau bisa membaca pikiran? "
" Ketika aku ingin dan terkadang ketika aku tidak punya pilihan. " Chen pergi, menutup pintu perlahan.
Kai berusaha berguling ke sisi tubuhnya dan terbangun sambil mengerang. " Sehun? "
" Aku disini. " Sehun merangkum tangan Kai dengan tangannya.
" Ada apa? " Seraya menatap Sehun, mata biru kehijauan Kai tampak lebih waspada daripada sebelumnya. " Sehun, tolong. Sekali ini saja, beritahu aku apa yang kaupikirkan. "
Sehun ragu. " Kenapa kau tidak meninggalkanku saja? Jadi semua ini... Takkan terjadi. "
" Apapun akan kulakukan demi keselamatanmu, demi hidupmu. " Lirih Kai.
Sehun menggeleng. " Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa merasa begitu dalam untukku. "
Kai tersenyum simpul. " Kau tidak perlu mengerti apapun, sayang. "
Sehun tersenyum, tangannya terulur untuk mengusap rambut Kai. " Kembalilah tidur. Tiap kali kau tidur, sepertinya proses pemulihanmu maju pesat. "
" Aku lebih suka memandangimu. " Tapi Kai memejamkan mata. " Aku suka sekali saat kau memainkan rambutku. "
Kai menjulurkan leher, sedikit menjauh dari Sehun supaya wanita itu bisa menyentuh lebih banyak rambutnya. Dada Kai naik turun dalam desahan mendalam. Setelah beberapa saat, Sehun bersandar di kursi dan menjulurkan kaki, menyandarkannya di salah satu tiang ranjang yang besar.
Jam demi jam berlalu, Kai banyak tidur, tapi terus terbangun tiap kali mencoba bergerak dan memiringkan tubuhnya. Dia menatap Sehun selagi bergerak gerak, seolah mencari kekuatan saat menatap Sehun, dan Sehun membawakan air, mengusap wajahnya, menyuapinya makan. Mereka tidak banyak bicara. Sentuhan itu sudah cukup.
Kelopak mata Sehun mulai berat, dan ia membiarkan kepalanya bersandar ke belakang ketika terdengar ketukan pelan. Mungkin Fritz membawa lebih banyak makanan.
Sehun meregangkan tubuh dan berjalan ke pintu.
" Masuklah, " Katanya seraya membuka pintu.
Pria tinggi yang mempunyai bekas luka dipipinya berdiri didepan pintu menatap ke dalam kamar dengan pandangan kosong.
Sehun buru buru mendekati tempat tidur untuk melindungi Kai, meskipun konyol rasanya berpikir ia bisa menghalau seorang vampir.
Keheningan merentang. Sehun mengatakan pada diri sendiri bahwa vampir itu mungkin hanya ingin melihat keadaan Kai saja seperti para brother lainnya. Hanya saja... Vampir yang ini sekujur tubuhnya kelihatan tegang, caranya berdiri terlihat seolah dia bisa menerjang mendadak. Dan yang lebih membuat Sehun heran adalah fakta vampir tersebut tidak membalas tatapannya, dan dia juga sepertinya tidak menatap Kai. Tatapan kelam dan dingin pria itu tidak jelas.
" Apakah kau mau masuk dan melihat Kai? " Tanya Sehun pada akhirnya memecah keheningan.
Mata itu beralih padanya.
Obsidian, pikir Sehun. Mata itu seperti batu obsidian. Mengilat. Tak berdasar. Tak berjiwa.
Sehun bergerak mundur lebih jauh dan meraih tangan Kai. Vampir diambang pintu itu tersenyum mengejek.
" Kau kelihatan galak, perempuan. Apa kau pikir aku datang untuk menghajarnya lagi? " Suara itu terdengar rendah, licin, menggema.
" Apakah kau akan melukainya? " Tanya Sehun khawatir.
" Pertanyaan bodoh. "
" Kenapa? " Tanya Sehun lagi.
" Kau tidak akan memercayai jawabanku, jadi sebaiknya kau tidak usah bertanya. "
Hening lagi, dan tanpa suara Sehun menilai pria itu. Terpikir olehnya bahwa mungkin pria itu bukan hanya agresif. Dia juga canggung.
Sehun mengecup tangan Kai dan memaksa diri untuk menyingkir. " Aku akan mandi. Maukah kau menjaganya saat aku pergi? "
Vampir itu mengerjap seolah Sehun membuatnya terkejut. " Kau akan merasa nyaman telanjang di kamar mandi itu selagi aku ada disini? "
Tidak juga. Teriak batin Sehun.
Sehun mengangkat bahu. " Terserah padamu. Tapi aku yakin kalau Kai bangun, dia lebih suka melihatmu daripada sendirian. "
" kau akan memercayaiku begitu saja? "
" Kau mau masuk atau tidak? " Ketika pria itu tidak menjawab, Sehun berkomentar. " Malam ini pasti terasa seperti neraka bagimu. "
Bibir atas pria itu mengedut penuh ejekan. " Kau satu satunya yang menganggap aku takkan melukai orang. Apakah kau type Bunda Teresa? Hanya melihat yang baik dalam sampah masyarakat bertubuh besar dan terluka? "
" Kau tidak mendapatkan luka diwajahmu secara sukarela, bukan? Dan aku berani bertaruh masih banyak luka di tubuhmu. Jadi, seperti yang kukatakan, malam ini pasti terasa seperti neraka. " Jelas Sehun.
Mata pria itu menyipit, dan angin dingin menerpa ruangan, seolah pria itu mendorong angin ke arah Sehun. " Hati hati, Perempuan. Keberanianmu bisa berbahaya. "
Sehun berjalan hingga tiba didepan pria itu. " Kau tahu? Aku berbohong waktu bilang mau mandi. Aku berusaha memberimu sedikit waktu sendirian dengan Kai, karena kau jelas merasa bersalah, kalau tidak kau tidak akan berdiri di ambang pintu dan terlihat begitu terpukul. Terima tawaran ini atau pergi, tetapi apapun pilihanmu, aku akan menghargainya kalau kau tidak mencoba menakut nakutiku. "
Pada saat ini, Sehun sudah tidak peduli kalau pria itu menghajarnya. Namun, ia gugup setengah mati dan dengung kelelahan mungkin memengaruhinya hingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
" Jadi? " Tanya Sehun.
Vampir itu melangkah masuk dan menutup pintu, kamar bertambah dingin dengan kehadirannya. Sikap permusuhannya terasa menguar dan menyapu tubuh Sehun seperti sentuhan tangan. Saat pintu dikunci, Sehun merasa takut.
" Aku tidak mencoba, " Ujar pria itu dengan suara lembut dan gaya bicara yang dilambat lambatkan.
" Apa? " tanya Sehun dengan suara tercekat.
" Aku tidak mencoba untuk menakutimu. Kau memang sudah takut. " Pria itu tersenyum. Taringnya sangat panjang, lebih panjang daripada taring Kai. " Aku bisa mencium ketakutanmu. Seperti cat basah, baunya menggelitik hidung. "
Saat Sehun melangkah mundur, pria itu maju, mendekat.
" Hmm... Dan aku suka baumu. Sejak pertama kali melihatmu. "
Sehun bergerak lebih cepat, dengan tangan terulur, berharap dapat merasakan tempat tidur sebentar lagi dan dapat memeluk Kai. Tapi sebaliknya, ia malah tersandung tirai berat di jendela.
Vampir itu memojokkan Sehun. Matanya yang dingin memberitahu Sehun semua yang perlu diketahui Sehun tentang kemampuan pria itu untuk membunuh.
Sambil mengumpat, Sehun menunduk dan menyerah. Tak ada yang bisa ia lakukan, juga Kai dalam kondisinya, jika vampir berparut itu menyerang. Sial, ia benci merasa tak berdaya, tapi terkadang hidup menempatkanmu dalam posisi itu.
Vampir itu membungkuk ke arahnya dan Sehun berjengit. Vampir itu menghirup napas dalam dalam dan mengeluarkan napas dengan desahan panjang.
" Mandilah, Perempuan. Aku tidak berniat melukai Kai tadi malam, dan tidak ada yang berubah. Dan aku juga tidak berniat melukaimu. Kalau sesuatu terjadi padamu, Kai akan lebih menderita daripada yang tengah ia alami saat ini. "
Sehun merosot saat pria itu berbalik, dan sempat melihat pria itu meringis saat menatap Kai.
" Siapa namamu? " Tanya Sehun.
Vampir itu melengkungkan sebelah alis pada Sehun lalu kembali menatap saudaranya. " Aku sijahat, kalau kalau kau belum bisa menebaknya. "
" Aku ingin tahu namamu, bukan julukanmu. " Ucap Sehun.
" Namaku Chanyeol. "
" Yah.. Senang bertemu denganmu, Chanyeol. " Sahut Sehun.
" Sopan sekali. " Ejek sang vampir.
" Oke, bagaimana kalau begini. Terima kasih karena tidak membunuh Kai ataupun aku barusan. Apakah itu cukup tulus bagimu? "
Chanyeol menoleh, kelopak matanya seperti kerai, hanya mengijinkan sekilas kegelapan malam untuk menyinarinya. Hanya saja saat pria itu menatapnya di bawah cahaya lilin, kehangatan berkelebat diwajah pria itu. Sekilas saja, hingga Sehun tidak bisa paham darimana ia tahu kehangatan itu ada disana.
" Kau, " ucap Chanyeol pelan, " benar benar luar biasa. " Sebelum Sehun sempat berkata kata, pria itu mengacungkan tangannya. " Pergilah. Sekarang. Tinggalkan aku dengan saudaraku. "
Tanpa bicara lagi, Sehun pergi ke kamar mandi. Ia berdiam di bawah pancuran begitu lama hingga jemarinya mulai berkerut dan uap di udara terasa kental. Ketika sudah selesai, ia mengenakan pakaian yang sama yang dipakainya tadi, karena ia lupa membawa pakaian baru tadi. Ia membuka pintu ke kamar tidur perlahan.
Chanyeol tengah duduk di ranjang, bahunya yang besar membungkuk, tangannya memeluk pinggang. Membungkuk di atas tubuh Kai yang terlelap, vampir itu melengkungkan tubuh sedekat mungkin tanpa bersentuhan. Seraya berayun maju mundur, terdengar nyanyian samar.
Vampir itu menyanyi, suaranya naik turun, melompati nada nada, melengking tinggi. Luar biasa indah. Dan Kai tampak tenang, tidur dalam kedamaian yang sebelumnya tidak didapatkannya.
Sehun buru buru melintasi ruangan dan pergi keluar, meninggalkan kedua pria itu sendirian.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Anyeoonnnggggg...
Maaf kalau updatenya lama... Aku nyusun otakku dulu buat translate hehehe
Punya Boss terlalu baik itu gak enak banget, karena baik banget selalu kasih kerjaan laporan yang setumpuk alhasil otak ane rada mampet buat translate tapi karena baca review kalian yang selalu berhasil kasih semangat jadi aku berusaha ngumpulin jiwa dan raga lagi buat translate.
So? Masih ada yang berminat ama ini FF?
Review lebih dua puluh lima aku lanjut yaa sayang.
