LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 11

.

.

AUTHOR JUJU JONGODULT

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)

RATED M

.

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

" Dompet vampir sialan itu sudah dicuri seseorang. Tapi dia sempat menyebut bar yang baru saja didatangi para Brother. One Eye. "

U mengerutkan dahi. " kau yakin dia tidak asal bicara hanya supaya kau berhenti? One Eye tidak jauh dari sini. "

" Well, tidak ada salahnya bukan kalau kita mengawasi bar itu. Mungkin saja para Brother akan kembali lagi ke sana. "

U berbalik pergi. " Terserah saja. "

.

HAPPY READING

.

Kai berdoa agar mendapatkan sarana pelampiasan saat berjalan menyusuri gang gang bar di pusat kota. Dibawah guyuran hujan dingin ia benar benar kekacauan yang siap meledak, dengan amarah dan kepedihan bergemuruh di dadanya. Tao sudah menyerah untuk berbicara dengannya dua jam yang lalu.

" Aku akan mencoba untuk terakhir kalinya, Kai. " Tao menyalakan rokoknya. " Ada apa dengan semua sikap diam ini? Kau sudah tidak sakit gara gara malam kemarin, kan? "

" Tidak, aku baik baik saja, "

Kai menyipitkan mata ke sudut sudut gelap gang, harinya sangat payah, sama sekali tidak tajam tak peduli seberapa sering ia mengedip. Dan pendengarannya juga tidak bekerja seperti semestinya. Biasanya ia bisa mendengar suara suara dari jarak hampir dua kilometer, tapi sekarang ia harus berkonsentrasi hanya untuk mendengar percakapan dari antrean klub.

Tentu, ia marah atas apa yang terjadi pada Sehun sikap menutup diri yang ditunjukka wanita yang kau cintai bisa membuat pria manapun marah. Tapi perubahan fisik yang ia alami ini, tidak ada hubungannya dengan semua kecengengan itu.

Dan ia tahu apa masalahnya. Monster itu tidak berada bersamanya malam ini.

Seharusnya itu melegakan. Menyingkirkan makhluk sialan itu bahkan dalam waktu singkat merupakan anugerah besar. Hanya saja ia telah mengandalkan naluri makhluk itu. Bukannya ia meragukan kemampuannya bertarung dengan tangan kosong ataupun tebasan belatinya. Rasanya lebih seperti si makhluk buas memberinya informasi tentang lingkungannya hingga ia terbiasa mengandalkan kekuatan si makhluk. Tambahan lagi, makhluk buruk rupa itu merupakan kartu AS yang luar biasa. Kalau semua cara gagal, makhluk itu yang akan menghabisi musuh musuh mereka.

" Wah, wah, coba lihat itu. " Kata Tao, mengedikkan kepala ke arah kanan.

Sepasang lesser berjalan di sepanjang Trade street, rambut putih mereka berkilauan dibawah cahaya lampu. Seperti boneka yang digerakkan dengan tali yang sama, kepala mereka menoleh bersamaan ke arah Kai dan Tao. Keduanya memelankan langkah. Berhenti.

Tao membuang rokoknya, menginjaknya dengan sepatu bot. " Terlalu banyak saksi untuk memulai perkelahian. "

Para lesser itu tampaknya menyadari hal itu juga, mereka sama sekali tidak bergerak untuk menyerang. Para manusia di tengah tengah mereka sama sekali tidak menaruh curiga. Namun para vampir sipil yang berada di tengah tengah antrean tahu persis apa yang terjadi. Mereka bergerak gerak gelisah, jelas berpikir untuk melarikan diri. Kai menahan mereka ditempat dengan tatapan tajam dan menggeleng perlahan. Tempat terbaik untuk mereka justru di hadapan orang banyak seperti ini.

Tapi tentu saja, para vampir sipil yang bodoh itu malah melarikan diri.

Lesser lesser sialan itu tersenyum lalu berlari mengejar mangsa seperti sepasang binatang lapangan atletik.

Kai dan Tao mengikuti mereka dengan sangat cepat juga.

Bodohnya, para vampir sipil itu malah berlari ke dalam gang. Kai dan Tao berlari semakin kencang, dan mereka dapat menangkap para lesser sebelum bisa mendapatkan para vampir sipil.

Ketika Kai hendal mencengkeram lesser disebelah kanan, truk hitam tahu tahu berbelok ke gang dari arah depan, meluncur di aspal basah, lalu berhenti. Truk itu melambat tepat saat kedua lesser menahan salah satu vampir sipil. Mereka melempar tangkapan mereka ke belakang truk lalu membalikkan badan, siap bertarung.

" Aku akan mengurus truknya! " Teriak Kai.

Tao menghadapi para pembantai saat Kai berlari mengejar truk. Truk itu sedikit melambat saat berbelok, dan hal itu memberi kesempatan untuk Kai. Saat sedikit lagi tangannya meraih belakang truk tiba tiba truk kembali melaju kencang. Dengan dorongan luar biasa, Kai melompat ke udara, tepat waktu untuk meraih ujung belakang truk.

Tapi pegangannya disana melonggar karena basah. Ia berusaha keras mencengkeram lebih kuat ketika jendela belakang membuka dan laras senapan diacungkan. Kai menunduk, menduga akan mendengar suara tembakan. Alih alih si vampir sipil yang ternyata sedang berusaha keluar, berjengit dan mencengkeram bahunya. Vampir itu menoleh ke sekitarnya dengan linglung, lalu jatuh kembali ke belakang truk dengan gerakan pelan.

Jemari Kai lepas dari truk itu, dan ia menggulingkan tubuh saat jatuh telentang. Saat ia terpental dan terhenti dijalanan, mantel panjang kulitnya menahannya dari luka luka.

Ia melompat berdiri dan memperhatikan truk itu berbelok di pojok jalan yang jauh. Sambil mengumpat keras ia berlari kembali ke Tao. Pertempurannya masih berlangsung seru, para lesser sangat percaya diri dengan kemampuan mereka. Tao bertahan, belatinya teracung dan melukai para pembantai.

Kai menerjang lesser pertama yang bisa ditangkapnya, kesal karena kehilangan vampir sipil yang dibawa pergi truk tersebut, dan luar biasa marah pada dunia gara gara Sehun. Ia memukuli lesser itu dengan tinjunya, mematahkan tulang, merobek kulit. Darah lesser terciprat ke wajahnya. Ia tidak berhenti sampai Tao menarik dan mendorongnya ke dinding gang.

" Apa yang kau lakukan? " Kai nyaris menghajar tao karena Tao menghalanginya menghajar para jahanam itu.

Tao mencengkeram jaket Kai dan membanting Kai kedinding, seolah berusaha menyadarkannya. " Lesser itu tidak bergerak lagi, dia sudah mati. Tatap aku, Kai. Dia ada ditanah dan tetap disana. "

" Aku tidak peduli !" Kai berusaha membebaskan diri, tapi Tao menahannya di tempat dengan susah payah.

" Kai? Ayo, bicaralah padaku. Apa yang terjadi? Dimana kau berada, Brother? "

" Aku hanya perlu membunuhnya.. Aku perlu... " Entah darimana, histeria merambati suara Kai. " Atas apa yang mereka lakukan... Para vampir sipil tak bisa melawan... Aku butuh membunuh... " Emosinya meluap luap, tidak bisa menahan diri. " Oh Tuhan, Sehun, mereka mengincarnya... Mereka akan menculiknya seperti mereka menculik vampir sipil itu. Tao, sial... Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Sehun? "

" Ssstt. Tenanglah, Kai. Tenangkan pikiranmu. "

Sebelah tangan Tao terangkat dan ibu jarinya mulai mengusap leher Kai maju mundur. Gerakan menghipnotis itu mulai membuat Kai tenang.

" Lebih baik? " Tanya Tao.

" Ya. Lebih baik. "

Kai menarik napas dalam dalam dan mondar mandir sesaat. Lalu ia kembali menghampiri mayat lesser itu. Ia merogoh saku sakunya, menemukan dompet, beberapa lembar uang dan senjata.

Oh, ini bagus.

" Lihat apa yang kutemukan, " Gumam Kai. " Ucapkan salam pada Mr. Blackberry. " Ucapnya sambil mengacungkan dompet lesser itu.

Kai melempar dompet itu kepada Tao, yang bersiul pelan. " bagus. "

Kai menarik belatinya dari sarung dan membenamkan mata belatinya yang hitam di dada lesser. Dalam sekejap, sosok itu hilang, tapi Kai masih merasa belum cukup. Ia masih ingin mengaum dan menangis pada saat bersamaan.

Kai dan Tao berkeliling dan memeriksa keadaan lingkungan. Semua tampak tenang.

" Aku menginginkan guci lesser lesser itu. " Kata Kai. " Apakah kau mendapatkan sesuatu dari lesser yang kau bunuh? "

Tao melambaikan dompet. " SIM nya menunjukkan alamatnya di LaCrosse Street nomor 195. Kalau lesser yang kau bunuh, dia tinggal dimana? "

Kai memeriksa isi dompet. " Tidak ada. Tidak ada SIM. Buat apa dia membawa bawa - Hei. Nah, ini baru menarik. "

Kartu berukuran 7,5 x 12, 5 sentimeter itu dilipat dua dengan rapi. Didalamnya tertulis alamat tak jauh dari tempat mereka berada.

" Ayo kita periksa alamat ini sebelum kita pergi ke LaCrosse. "

.

.

.

Sehun mengemasi tasnya dibawah pengawasan Fritz. Kepala pelayan itu sudah gatal ingin membantu, bergerak gerak, tak tahan untuk melakukan apa yang jelas dipikirnya merupakan tugasnya.

" Aku sudah siap, " Ucap Sehun akhirnya.

Fritz tersenyum kini setelah ia memiliki tujuan dan mengantar Sehun mengitari balkon menuju kamar yang menghadap ke taman belakang mansion. Ia harus memuji pria itu karena bertindak sangat hati hati. Kalau Fritz berpikir kepindahan Sehun dari kamar Kai sangatlah aneh, dia tidak menunjukkannya, dan pria itu tetap memperlakukannya dengan santun seperti biasa.

Setelah sendirian, Sehun memikirkan pilihan pilihan yang dimilikinya. Ia ingin pulang, tapi ia tidak bodoh. Makhluk makhluk ditaman waktu itu sangatlah berbahaya, dan meskipun ia sangat butuh ruang pribadi saat ini, ia tidak mau mati hanya demi memperjuangkan kemerdekaannya. Lagipula, memasang sistem pengaman takkan butuh waktu lama, bukan? Mungkin Chen sudah mulai mengerjakannya sekarang.

Ia memikirkan janji temunya dengan dokter besok siang. Kai bilang dia bakal membiarkannya pergi ke dokter, dan betapapun marahnya pria itu saat pergi, Sehun tahu Kai takkan pernah mencegahnya pergi ke rumah sakit. Fritz mungkin akan mengantar dirinya.

Sehun menatap tasnya. Seraya memikirkan pergi untuk selamanya, ia tahu ia tak bisa pergi begitu saja dalam keadaan bertengkar dengan Kai. Mungkin setelah bepergian saat malam, Kai bisa lebih tenang. Ia pun sekarang sudah merasa sedikit rasional

Ia membuka pintu kamar cukup lebar supaya bisa mendengar kepulangan Kai. Lalu ia duduk ditempat tidur dan menunggu.

Dalam hitungan detik ia dirundung kecemasan, jadi ia mengangkat telepon. Ketika Suho menjawab, lega rasanya bisa mendengar suara temannya itu. Mereka membicarakan hal hal umum selama beberapa saat.

Setelah beberapa saat, terdapat jeda panjang di antara mereka. " Eh, Sehun, boleh aku menanyakan sesuatu? "

" Tentu. "

" Apakah kau bertemu dengan para pejuang lainnya? " Tanya Suho.

" Beberapa ya. Tapi aku tidak tahu apakah aku sudah bertemu dengan semuanya. " Sahut Sehun.

" Apakah kau pernah bertemu dengan pejuang yang... Wajahnya ada bekas luka? "

" Oh, itu Chanyeol. " Ucap Sehun.

" Oh. Eh, apakah dia... "

" Apa? "

" Yah, aku sering mendengar cerita tentang dia. Reputasinya mengatakan dia berbahaya. " Suho berucap canggung.

" Yah, bisa kubayangkan. Tapi kau tahu, kurasa dia tidak seburuk itu. Kenapa kau bertanya? "

" Oh, tidak ada alasan khusus. Sungguh. "

.

.

.

Pada jam satu malam, Minho berjalan pulang. Kyungsoo belum datang. Mungkin kesempatan untuk pergi dengan pria itu sudah hilang.

Saat ia mencapai pintu apartement nya, ia langsung memasukkan kunci dan dengan cepat membukanya. Setelah masuk dengan cepat ia mengunci pintu.

Dengan lelah ia merebahkan diri di ranjang, setelah beberapa saat terdengar ketukan dipintu. Minho menengadah, harapan dan ketakutan menyesakkan jantungnya.

" Minho? Ini aku, Kyungsoo. Buka pintunya. "

Minho melesat melintasi ruangan, membuka semua kunci dan nyaris melemparkan diri pada Kyungsoo.

Alis Kyungsoo menyatu bingung. " Ada apa, Minho? Kau kena masalah? "

Minho tidak yakin seberapa banyak yang bisa ia ceritakan tentang pria pucat yang ditemuinya di tangga, dan akhirnya, memutuskan untuk tidak menceritakannya. Ia tidak mau mengambil resiko Kyungsoo berubah pikiran karena anak yang hendak diajaknya tinggal bersama ternyata orang sinting yang paranoid.

" Minho? "

Minho pergi mengambil kertas dan bolpoin sementara Kyungsoo menutup pintu.

Aku senang kau datang. Terima kasih. Tulis Minho.

Kyungsoo membaca kata kata itu. " Ya, aku akan datang lebih cepat, tapi semalam ada... Urusan yang harus kutangani. Jadi kau sudah memikirkan _ "

Minho mengangguk dan buru buru menulis. Aku ingin ikut denganmu.

Kyungsoo tersenyum simpul. " Itu bagus. Itu pilihan yang bagus. "

Minho menarik napas dalam dalam, luar biasa lega.

" Inilah yang akan kita lakukan. Aku akan kembali besok malam dan menjemputmu. Aku tidak bisa membawamu pulang sekarang karena aku harus menjalani tugas lapangan sampai subuh. "

Minho menelan kepanikan baru yang muncul. Ayolah. Hiburnya pada diri sendiri, apalah arti sehari lagi?

.

.

.

Dua jam sebelum subuh, Kai dan Tao pergi ke pintu masuk Tomb. Kai menunggu di hutan sementara Tao memasukkan guci keramik yang mereka temukan di rumah lesser di LaCrosse.

Alamat lain ternyata merupakan tempat penyiksaan yang sudah ditinggalkan. Dalam perjalanan pulang ke Tomb, mereka mampir ke rumah Sehun supaya mereka dapat memperkirakan dimana mereka harus memasang pengaman hingga tempat itu terjaga aman. Berada disana sungguh menyiksa bagi Kai. Melihat barang barang Sehun. Mengingat malam pertama ia pergi mencari Sehun. Ia tak mampu menatap sofa sama sekali karena benda itu mengingatkannya pada apa yang telah dilakukannya pada tubuh Sehun dilantai dibelakang sofa.

Semua itu terasa seperti berabad abad yang lalu.

Kai mengumpat dan kembali memindai hutan disekeliling mulut gua. Ketika Tao keluar, mereka berdua menghilang dan muncul kembali dihalaman rumah utama.

" Hei, Kai. Aku Akan pergi menyusul Chen ke One Eye untuk minum minum. Kau mau ikut? "

Kai menengadah ke jendela kamar tidurnya yang gelap.

Walaupun ia tidak berminat pergi ke One Eye, tapi ia harus pergi. Dengan gejolak emosinya saat ini, kemungkinan besar ia akan pergi mencari Sehun dan bersikap seperti orang tolol dengan memohon. Itu akan sangat memalukan. Sehun sudah menegaskan posisi mereka, dan dia bukan tipe wanita yang bisa dibujuk. Lagipula, Kai sudah muak memerankan pria idiot yang mabuk kepayang.

" Ya, aku ikut dengan kalian. " Sahut Kai akhirnya.

" Oke. Baguslah kalau begitu. Kita akan berangkat lima belas menit lagi. Aku perlu mandi. "

" Aku juga. " Kai butuh membersihkan tubuh dari darah lesser.

Saat berjalan melewati bagian depan mansion dan kedalam selasar. Fritz muncul dari ruang makan.

Kepala pelayan itu membungkuk dalam dalam. " Selamat malam, Tuan. Tamu anda sudah datang. "

" Tamu? "

" Yang Terpilih. Dia menyatakan bahwa Anda memanggilnya. "

Sial. Kai lupa ia telah mengajukan permintaan itu, padahal ia sudah tidak membutuhkan pelayanan mereka lagi. Kalau Sehun tidak ada dalam hidupnya, ia tidak butuh membuat pengaturan khusus untuk minum darah. Ia bebas meminum darah dan bercinta dengan siapapun yang diinginkannya.

Kai bergidik setelah pikiran bercinta dengan orang lain selain Sehun memenuhi pikirannya.

" Tuan? Apakah Anda mau menerimanya? "

Kai sudah hampir berkata tidak, sebelum berpikir itu bukanlah tindakan pintar. Mengingat sejarahnya dengan Scribe Virgin, sepertinya tidaklah bijaksana untuk menyinggung deretan wanita istimewa binaannya.

" Beritahu dia aku akan menemuinya beberapa menit lagi. " Ucap Kai.

Kai berlari menaiki tangga ke kamarnya, menyalakan shower untuk menyiapkan air hangat, lalu menelepon Tao. Tao sepertinya tidak terkejut ketika ia membatalkan ikut ke bar.

Sayang sekali alasannya sama sekali tidak seperti yang dipikirkan Tao.

.

.

.

Sehun terbangun karena mendengar percakapan yang mengalun di udara dari arah selasar. Suara Kai. Ia mengenali gumaman berat itu dimanapun juga.

Ia turun dari tempat tidur, dan berjalan menuju celah pintu.

Kai berjalan menaiki tangga. Rambut pria itu lembab, seolah baru saja mandi, dan dia mengenakan kemeja hitam longgar dan celana panjang longgar. Sehun nyaris melangkah keluar ketika ia melihat Kai tidak sendirian. Wanita yang berjalan bersama pria itu bertubuh mungil dan memiliki rambut pirang panjang yang dikepang disepanjang punggungnya. Wanita itu mengenakan gaun putih tipis, dan bersama sama mereka tampak seperti pasangan yang sangat sempurna, Kai mengenakan berpakaian serba hitam sementara wanita itu dalam balutan gaun tipis. Ketika mereka tiba di puncak tangga, sang wanita berhenti, seolah tidak tahu arah mana yang harus ditujunya. Kai menyentuh siku wanita itu sangat, dan tulangnya bisa patah hanya dengan naik ke lantai dua.

Sehun mengawasi kepergian mereka ke kamar Kai. Pintu menutup dibelakang mereka.

Sehun berjalan kembali ke tempat tidur dan naik. Gambaran gambaran tumpang tindih didalam benaknya. Kai menyentuh sekujur tubuh wanita itu dengan bibir dan tangan pria itu. Kai berterima kasih pada wanita itu karena telah memberinya minum darah.

Ya, Kai jelas mencintaiku. Begitu besarnya hingga dia bercinta dengan wanita lain di seberang lorong.

Begitu pikiran itu menyelinap benaknya, Sehun tahu sikapnya tidak masuk akal. Ia sendiri yang mendorong Kai pergi. Kai memahami maksudnya. Ia tidak berhak menyalahkan Kai karena berhubungan dengan wanita lain.

Ia mendapatkan persis seperti yang dimintanya.

Kai membiarkannya pergi.

.

.

.

Malam berikutnya, tepat sebelum petang, Kai pergi ke gym hanya sebagai kewajiban. Untuk terus menjaga langkahnya yang menyakitkan, Kai menenggelamkan diri dalam musik yang berdentam lewat pengeras suara. Lagu lagu itu melengking di seantero ruangan.

Ketika suara itu mendadak berhenti, Kai tidak repot repot menoleh. Ia mengira stereonya ditendang atau ada yang ingin berbicara dengannya, dan ia tidak tertarik untuk berurusan dengan salah satunya.

Kyungsoo melangkah ke depan mesin treadmill. Tatapan Kyungsoo membuat Kai menekan tombol stop.

" Apa? " Napas Kai terengah dan ia kembali mengelap wajahnya dengan kaus.

" Dia hilang. Sehun menghilang. "

Tangan Kai membeku dengan kaus dibawah dagu. " Apa maksudmu menghilang? "

" Fritz menungguinya didepan rumah sakit selama tiga jam sementara Sehun menemui dokter. Ketika dia masuk, klinik yang didatangi Sehun sudah tutup. Fritz menyetir ke rumah Sehun. Ketika Sehun tidak ada juga disana, Fritz kembali dan mencarinya ke seluruh penjuru rumah sakit. " Jelas Kyungsoo.

Pelipis Kai berdentum karena takut alih alih kelelahan, ia berkata. " Ada tanda tanda kerusakan atau kekerasan di rumahnya? "

" Tidak? "

" Apakah mobilnya ada digarasi? " Tanya Kai lagi.

" Ya. "

" Kapan terakhir kali Fritz melihatnya? "

" Sehun pergi ke dokternya sekitar jam tiga. Dan asal kau tahu, Fritz bolak balik meneleponmu, tapi hanya mencapai voice mail di ponselmu. "

Kai melirik arlojinya. Jam enam lebih sedikit. Dengan asumsi sekitar satu jam lebih untuk janji temu dengan dokter, berarti Sehun sudah menghilang selama dua jam.

Ia sulit membayangkan lesser telah menculik Sehun dari jalan. Skenario yang lebih masuk akal adalah Sehun pulang dan para lesser itu menemukannya disana. Tapi, dengan tidak adanya tanda tanda pergulatan di rumah Sehun, kemungkinan besar Sehun tidak diculik.

Kai melompat turun dari treadmill. " Aku perlu mempersenjatai diri. "

Kyungsoo mendorong botol air ke tangan Kai. " Minum ini. Chen akan membawakan peralatanmu. Temui dia di ruang loker. "

Kai melesat pergi.

" Kami akan membantumu menemukannya! " Seru Kyungsoo.

.

.

.

Suho membuka pintu ke dapur dengan penuh Senyum. Ia sedang berpikir membuat roti panggang atau panekuk ketika melihat cahaya dari sisi terjauh padang rumput. Ada yang masuk ke rumah Sehun. Mungkin para Brotherhood yang tengah memasang sistem pengaman.

Yang berarti kalau ia pergi kesana ia mungkin bisa bertemu pria berwajah luka itu lagi.

Chanyeol memenuhi pikirannya sejak ia bertemu dengan pria itu, hingga lembaran buku hariannya dipenuhi dengan spekulasi tentang Chanyeol. Pria itu begitu... Liar. Setelah hidup mandiri, ia ingin mengalami sesuatu yang liar.

Dan tentu saja, sensualitas liar yang dikuarkan Chanyeol memenuhi persyaratan tersebut.

Suho mengenakan jaket dan mengganti sendalnya dengan sepatu kets. Sembari berlari melewati padang rumput, ia melangkah perlahan saat mendekati halaman belakang Sehun. Ia tidak ingin berpapasan dengan lesser _

" Sehun! Apa yang kaulakukan disini? "

Sehun tampak termenung saat menengadah dari kursi santai tempat ia berbaring. Walaupun malam itu dingin, Sehun hanya mengenakan sweter dan jins.

" Oh... Hai, Suho. Apa kabar? "

Suho berjongkok disamping Sehun. " Apakah Chen sudah selesai memasang sistem pengaman? "

" Selesai dengan apa? " Sehun bergerak kaku seraya berdiri. " Oh, alarm. Kurasa belum. Atau setidaknya, tak ada yang mengatakan apapun padaku, dan sepertinya didalam kelihatan sama. "

" Sudah berapa lama kau ada diluar sini? "

" Tidak lama. " Sehun menggosok gosok lengannya, lalu meniup tangan. " Aku hanya memperhatikan matahari terbenam. "

Suho melihat ke arah rumah, rasa cemas bergolak. " Apakah Kai akan segera menjemputmu? "

" Kai takkan datang menjemputku. "

" Salah satu pelayan, kalau begitu? " Tanya Suho lagi.

Sehun mengernyit seraya berdiri. " Ya ampun, dingin sekali. "

Saat Sehun berjalan seperti zombie ke dalam rumah, Suho mengikutinya. " Sehun, eh... Sebaiknya kau tidak tinggal sendirian disini. "

" Aku tahu. Kupikir aku aman karena tadi masih siang. "

" Apakah Kai atau salah satu Brother tidak memberitahumu bahwa lesser tidak bisa beraktivitas di bawah sinar matahari? Karena aku tidak yakin, tapi kurasa mereka bisa. "

Sehun mengangkat bahu. " Mereka tidak menggangguku sejauh ini, tapi aku tidak bodoh. Aku akan pergi ke hotel. Aku hanya perlu mengepak beberapa barang. "

Bukannya mengepak barang, Sehun hanya mondar mandir, berkeliaran dilantai satu rumahnya seakan kebingungan arah.

Dia mengalami shock, pikir Suho. Tapi apapun masalahnya, mereka berdua benar benar perlu menyingkir dari tempat ini.

" Sehun bagaiman kalau kau makan malam bersamaku? " Suho mengamati pintu belakang. " Dan, kau tahu, kau bisa tinggal bersamaku sampai Chen selesai disini. Rumahku sudah penuh dengan sistem pengaman. Tempat itu bahkan memiliki jalan keluar dibawah tanah. Mereka takkan mengira kau ada bersamaku. "

Suho bersiap siap berdebat, mengumpulkan bantahan bantahan didalam benaknya.

" Oke, trims, " ucap Sehun. " Beri aku waktu sebentar. "

Wanita itu naik dan Suho mondar mandir, berharap ia punya senjata dan tahu cara menggunakannya. Ketika Sehun turun menenteng tas besar lima menit kemudian, Suho menarik napas dalam dalam.

" Bagaimana dengan jaket panjang? " Tanya Suho, ketika Sehun berjalan ke pintu tanpa mengenakan jaket.

" Ya, jaket. " Sehun menjatuhkan tasnya, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan parka merah.

Saat mereka melintasi padang rumput bersama sama, Suho berusaha mempercepat langkah mereka.

" Bulannya hampir penuh, " Komentar Sehun saat mereka menapaki rumput.

" ya memang. "

" Dengar, saat kita tiba dirumahmu, aku tidak mau kau menelepon Kai. Dia dan aku... Kami berpisah. Jadi jangan ganggu dia dengan urusan tentang aku. " ucap Sehun.

Suho menelan keterkejutannya. " Dia tidak tahu kau pergi? "

" Tidak. Dan dia akan tahu sendiri. Oke? " Ucap Sehun.

Suho mengiyakan hanya supaya Sehun tetap berjalan. " Bolehkah aku menanyakan sesuatu? "

" Tentu saja. "

" Dia atau kau yang memutuskan hubungan kalian? " Tanya Suho.

Sehun berjalan dalam diam selama beberapa waktu. " Aku. "

" Eh, apakah kau, kira kira... Apakah kalian berdua cukup intim? "

" Apakah kami berhubungan intim? " Sehun memindahkan tasnya ke tangannya yang lain. " Ya. "

" Ketika kalian bercinta, apakah kau menyadari wewangian yang menguar dari kulit Kai? Sesuatu seperti rempah gelap dan _ "

" Kenapa kau menanyakan semua ini? " Sela Sehun.

" Maaf. Aku tidak bermaksud usil. "

Mereka nyaris tiba di rumah pertanian ketika Sehun bergumam. " Wewangian paling indah yang pernah kucium. "

Suho merutuk dalam hati. Tak peduli apa yang dipikirkan Sehun, sang pejuang pirang pasti akan datang mencarinya. Pria vampir yang sudah terikat takkan membiarkannya pasangannya pergi. Takkan pernah. Dan itu didasari pengalamannya sendiri dengan vampir sipil.

Suho hanya bisa membayangkan apa yang akan dilakukan sang pejuang pirang saat pasangannya kabur.

.

.

.

Kai berjalan memasuki setiap ruangan dirumah Sehun. Di kamar mandi atas, ia menemukan lemari di bawah wastafel terbuka. Didalamnya berjejer perlengkapan mandi tambahan. Ada celah di antara barisan yang rapi itu, seolah Sehun mengambil beberapa di antaranya.

Sehun tinggal ditempat lain, pikir Kai, mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kalau ke hotel, aku akan menemui jalan buntu, karena Sehun akan cukup pintar untuk mendaftar dengan nama lain_

Tiba tiba Kai memusatkan perhatian pada rumah pertanian jauh di seberang padang rumput. Cahaya lampu berpendar di dalam.

Mungkinkah Sehun pergi ke rumah Suho?

Kai bergegas menuruni tangga dan mengunci pintu. Dalam hitungan detik ia menghilang dan muncul kembali di teras depan rumah Suho, menggedor gedor pintu. Suho membuka pintu, lalu menepi mempersilahkan Kai masuk.

" Dia ada diatas, di kamar depan. " Ucap Suho

Kai menaiki tangga dua dua. Hanya satu pintu yang ditutup, dan ia tidak mengetuk, hanya membentangkannya lebar lebar. Cahaya dari koridor menyinari kamar itu.

Sehun tertidur lelap di ranjang yang sangat besar, mengenakan sweter dan jins yang dikenali Kai. Selimut perca menutupi kakinya, dan dia separo tertidur miring separo menelungkup. Sehun tampak sangat lelah.

Naluri pertama Kai adalah memeluk Sehun.

Sehun bergeming.

" Sehun. " Kai menjaga suaranya tetap netral. " Sehun bangun. "

Bulu mata Sehun bergetar, tapi ia hanya mendesah dan menggerakkan kepalanya sedikit.

" Sehun. "

Kai mendatangi tempat tidur dan mengguncang kasur dengan tangan. Itu berhasil menarik perhatian Sehun. Wanita itu terjaga, matanya membelalak takut hingga dia melihat Kai.

Setelah itu Sehun tampak kebingungan.

" Apa yang kau lakukan disini? " Sehun mendorong rambut menjauhi wajahnya.

" Ya, mungkin kau ingin menjawab pertanyaan itu lebih dulu? " Balas Kai.

" Aku tidak berada dirumah. "

" Tidak. Kau juga tidak berada di tempat yang semestinya. " Ucap Kai.

Sehun bersandar ke bantal bantal, lalu Kai menyadari lingkaran gelap dibawah mata Sehun, bibir Sehun yang pucat... Dan fakta bahwa Sehun tidak mengajaknya bertengkar.

Jangan bertanya, ucap Kai dalam hati.

" Apa yang terjadi siang ini? " Sial, umpat Kai dalam hati.

" Aku hanya butuh waktu untuk sendirian. " Jawab Sehun.

" Aku tidak bicara tentang bagaimana kau berhasil kabur dari Fritz. Kita akan membahasnya nanti. Aku ingin tahu tentang pertemuanmu dengan dokter. " Ucap Kai.

" Oh, ya. Itu. "

Kai memandangi Sehun yang memain mainkan ujung selimut perca. Saat Sehun diam saja, Kai ingin berteriak dan melempar barang barang ataupun membakar sesuatu.

" Jadi? " Tanya Kai.

" Bukannya aku menganggapmu tidak berharga. " Lirih Sehun.

Apa yang dibicarakan wanita itu? Oh, ya, percakapan menyenangkan tentang merawatmu - ketika - kau - sakit. Man, wanita ini benar benar sedang suka menghindar.

" Seberapa parah, Sehun? Dan jangan coba coba membohongiku. " Tegas Kai.

Mata Sehun bertemu pandang dengan mata Kai. " mereka ingin aku mulai menjalani kemoterapi minggu depan. "

Kai menghembuskan napas perlahan. Berita itu benar benar membuatnya terpukul. Ia duduk di sisi terjauh tempat tidur dan menutup pintu secara telepati. " Apakah cara itu akan berhasil? "

" Kurasa begitu. Dokterku dan aku akan bertemu kembali dalam beberapa hari setelah dia berbicara dengan beberapa koleganya. Pertanyaan terbesar adalah seberapa banyak kemoterapi yang bisa kuterima, jadi mereka mengambil darah untuk memeriksa kondisi hati dan ginjalku. Aku memberitahu mereka bahwa aku akan menjalani sebanyak yang bisa mereka berikan padaku. " Jelas Sehun.

Kai menggosok gosok wajah dengan telapak tangan. " Ya ampun. "

" Aku memperhatikan ibuku meninggal. " Lirih Sehun pelan. " Buruk sekali. Melihatnya kehilangan kemampuan berpikir dan kesakitan seperti itu. Pada akhirnya dia tidak kelihatan seperti dirinya sendiri, tidak bersikap seperti dirinya sendiri. Dia sudah mati hanya saja tubuhnya menolak menghentikan fungsi dasarnya. Aku tidak bermaksud mengatakan itulah jalan yang akan kutuju, tapi perjalanannya akan sangat berat. "

Keparat, dada Kai terasa sakit. " Dan kau tidak mau aku mengalami semua itu? "

" Ya. Aku tidak mau hal itu terjadi pada kita berdua. Aku lebih suka kau mengenangku seperti saat ini. Dan aku lebih suka mengenang kita pada saat yang lalu. Aku bakal membutuhkan saat saat indah untuk dikenang. " Ucap Sehun.

" Aku ingin mendampingimu. " Lirih Kai.

" Aku tidak butuh kau dampingi. Aku tidak akan memiliki tenaga untuk melawan. Dan kesakitan... Kesakitan bisa membuat orang berubah. "

" Oh, Kai... " Ketika suara Sehun bergetar, ia berdeham tajam. Dan Kai membenci bagaimana Sehun butuh untuk tetap terkendali. " Aku akan... Merindukanmu. "

Kai menoleh ke arah Sehun. Ia tahu kalau ia mencoba memeluk Sehun, wanita itu akan langsung berlari keluar ruangan, jadi ia berpegangan pada ujung matras. Dan meremas kuat kuat.

" Apa yang kulakukan? " Sehun tertawa canggung. " Maafkan aku karena membebanimu dengan semua ini. Aku tahu kau sudah melanjutkan hidupmu. "

" Melanjutkan hidup? " Sergah Kai gusar. " Darimana kau bisa menyimpulkan itu? "

" Wanita itu, semalam. Omong omong_ "

" Wanita apa? " Sela Kai.

Ketika Sehun menggeleng, Kai kehilangan kesabaran. " Sialan kau, tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa perlu bertengkar? Anggap saja tindakan belas kasihan, sesuatu yang baru. Aku akan pergi dalam beberapa menit, jadi kau tidak perlu cemas untuk melakukannya lagi. "

Saat bahu Sehun merosot, Kai merasa buruk sekali karena telah meneriaki wanita itu. Tapi sebelum ia sempat meminta maaf, Sehun berkata. " Aku membicarakan wanita yang kau tiduri semalam. Aku... Aku menunggumu. Aku ingin memberitahumu aku minta maaf... Aku melihatmu pergi kekamarmu bersamanya. Dengar, aku tidak mengungkit ungkit hal ini untuk membuatmu merasa bersalah atau apa. "

Tidak, tentu saja tidak. Batin Kai. Sehun tidak menginginkan apapun darinya. Tidak cintanya. Tidak dukungannya. Tidak rasa bersalahnya. Tidak seks darinya.

Kai menggeleng geleng, suaranya berubah datar. Ia sangat lelah berusaha menjelaskan diri pada Sehun, tapi ia tetap melakukannya secara otomatis. " Itu anggota Yang Terpilih. Kita sudah membicarakan soal kebutuhan minum darah, Sehun. Aku tidak tidur dengannya. "

Kai menekuri lantai. Lalu ia melepaskan pegangannya di kasur dan membenamkan wajah di tangan.

Hening.

" Maafkan aku, Kai. " Gumam Sehun.

" Yah. Aku juga. "

Kai mendengar suara cegukan dan menggerakkan jemarinya supaya bisa melihat wajah Sehun dari celah celah jemarinya. Tapi wanita itu tidak menangis. Tidak, Sehun takkan menangis, dia terlalu kuat untuk itu.

Tapi Kai tidak sekuat itu. Air mata menggenangi pelupuk matanya.

Kai berdeham dan mengerjap ngerjap. Ketika ia menoleh lagi, Sehun tengah menatapnya dengan kelembutan dan kepedihan yang membuat Kai gusar.

Oh bagus, sekarang Sehun mengasihani diriku karena aku begitu cengeng dan kacau. Sial, kalau aku tidak mencintai Sehun sebesar ini, aku pasti akan membenci wanita ini. Pikir Kai.

Kai berdiri dan memastikan suaranya setegas mungkin. " Sistem pengaman dirumahmu akan disambungkan ke tempat kami. Kalau alarm berbunyi, aku " _ Kai mengoreksi diri _ " salah satu dari kami yang akan segera datang. Chen akan menghubungimu saat sistemnya sudah siap. "

Saat keheningan terentang, Kai mengangkat bahu. " Kalau begitu... Selamat tinggal... "

Kai berjalan keluar pintu dan tidak mengijinkan diri untuk menengok ke belakang. Saat tiba dibawah, ia menemukan Suho di ruang duduk. Begitu melihat wajahnya, Suho membelalak. Jelas tampangnya seburuk perasaannya.

" Terima kasih, " Ucap Kai, walaupun ia tidak yakin untuk apa ia berterima kasih pada Suho. " Dan asal kau tahu, Brotherhood akan berpatroli di depan rumahmu. Bahkan setelah Sehun pergi. "

" Baik sekali dirimu. "

Kai mengangguk dan tidak berlama lama. Hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini, berjalan keluar pintu tanpa membiarkan tangisnya pecah dan melolong seperti bayi.

Kai berjalan menjauh dari rumah dan menuruni padang rumput, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya atau kemana ia harus pergi. Mungkin sebaiknya ia menelepon Kyungsoo, untuk bergabung bersama saudara lainnya.

Tapi alih alih ia diam ditempat. Didepan, bulan muncul tepat diatas pepohonan. Kai mengulurkan tangan ke arah bulan dan memejamkan sebelah mata. Memiringkan arah pandangannya, ia memosisikan sinar bulan itu dalam lekuk telapak tangannya dan memegang sinar maya itu dengan hati hati.

Samar samar, ia mendengar suara entakan dari dalam rumah Suho. Entakan yang beritme.

Pintu depan terbentang, dan Sehun melesat keluar rumah, melompat dari teras, tidak repot repot menuruni anak tangga. Wanita itu berlari melintasi rumput yang sangat dingin dengan kaki telanjang sebelum akhirnya melemparkan diri pada Kai, memeluk leher Kai dengan kedua lengan. Sehun bergantung pada Kai begitu kuat hingga rasanya tulang punggung Kai retak.

Sehun menangis. Meraung. Menangis begitu keras hingga sekujur tubuhnya gemetar.

Kai tidak bertanya, hanya memeluk Sehun erat erat.

" Aku tidak baik baik saja, " Ucap Sehun parau di sela sela napasnya. " Kai... Aku tidak baik baik saja. "

Kai memejamkan mata dan memeluk lebih erat lagi.

.

.

.

" Jadi, inilah yang disebut rumah sekarang. " Gumam Sehun ketika Kai menutup pintu kamar tidur mereka di mansion.

Sehun merasakan lengan Kai terulur mengelilingi pinggangnya, dan pria itu menariknya mundur untuk bersandar ditubuhnya. Saat melirik jam, Sehun menyadari mereka baru meninggalkan rumah Suho satu setengah jam sebelumnya, tapi hidupnya berubah sepenuhnya.

" Ya, ini rumahmu. Rumah kita. " Ucap Kai.

Tao, Chen dan Fritz datang membantu Sehun berkemas. Tidak butuh waktu lama untuk mengemasi beberapa barang, memuat barang barang itu ke dalam mobil, lalu menyetir kembali ke mansion. Setelahnya Sehun dan Kai akan kembali untuk mengambil sisa barang Sehun. Dan pagi ini Sehun akan menelpon kantor tempatnya bekerja, dan mengundurkan diri. Ia juga akan meminta agen real estate untuk menjual rumahnya.

Astaga, ia benar benar melakukannya. Pindah ke tempat Kai dan meninggalkan kehidupan lamanya sepenuhnya.

" Sebaiknya kau membongkar dus dus ku dulu. " Gumam Sehun.

Kai meraih tangannya dan menarik Sehun ke arah tempat tidur. " Aku ingin kau beristirahat. Kau tampak terlalu lelah bahkan untuk berdiri. "

Selagi Sehun berbaring, Kai menanggalkan jas panjangnya, melepaskan ikat pinggang belati maupun sabuk senjatanya. Ia ikut berbaring disamping Sehun, menciptakan ceruk dalam matras yang membuat Sehun langsung terhempas ke tubuhnya. Semua lampu langsung mati, ruangan langsung gelap gulita.

" Kau yakin kau sudah siap untuk semua ini? " Tanya Sehun saat matanya menyesuaikan diri dengan cahaya samar dari jendela. " Untuk semua... Urusanku? "

" jangan memancing kemarahanku lagi. " Sahut Kai.

Sehun tertawa. " Tidak. Hanya saja _ "

" Sehun, aku mencintaimu. Aku lebih daripada siap untukmu. " Sela Kai.

Sehun merangkum wajah Kai dan mereka terdiam beberapa saat, hanya bernapas bersama sama.

Sehun sudah hampir tertidur ketika Kai berkata, " Sehun tentang pengaturanku untuk minum darah. Selagi kita berada dirumahmu, aku menelepon Yang Terpilih. Sekarang setelah kau kembali bersamaku, aku perlu menggunakan mereka.

Tubuh Sehun menegang. Tapi sial, kalau ia akan bersama vampir, dan vampir itu tidak bisa hidup dari darahnya, mereka harus menangani masalah itu bagaimanapun caranya.

" Kapan kau akan melakukannya? " Tanya Sehun.

" Ada wanita yang harusnya datang malam ini, dan seperti yang sudah kukatakan kepadamu, aku ingin kau ada bersamaku. Kalau kau merasa nyaman. " Ucap Kai.

Seperti apa rasanya? Sehun bertanya tanya. Apakah Kai akan memeluk wanita itu dan minum darah dari leher wanita itu? Ya ampun, bahkan seandainya Kai tidak berhubungan intim dengan wanita itupun, Sehun tidak yakin ia mampu menyaksikan hal itu.

Kai mengecup tangan Sehun. " Percayalah padaku. Lebih baik seperti ini. "

" Kalau aku tidak, eh, kalau aku tidak sanggup menanganinya _ "

" Aku takkan memaksamu melihat. Hanya saja... Ada keintiman tak terelakkan dalam hal ini, dan kurasa kau dan aku akan sama sama lebih nyaman bila kau ada disana. Dengan begitu kau tahu persis apa yang terjadi. Tak ada yang tersembunyi ataupun tidak jelas dalam hal ini. " Jelas Kai.

Sehun mengangguk. " Baiklah. "

Kai menarik napas dalam dalam. " Itu fakta kehidupan yang tak bisa kuubah. "

Sehun menyapukan tangan menuruni dada Kai. " Kau tahu, walaupun rasanya agak menakutkan, aku berharap darahkulah yang kauminum. "

" Oh, Sehun, begitu juga aku. "

.

.

.

.

.

.

TBC ? END ?

Wewwww dikit banget yeee review chapter kemarin cuma 13 doank # plakkk kyk nya emang udah gak seru lagi FF ini...

Jadi ini mungkin Chapter terakhir yang aku post, kalo masih sedikit banget reviewnya yahhh anggap aza chapter ini chapter terakhir.

Makasih yang udah selalu kasih review ke FF ini.

Aku bukannya gila review tapi yahhhh gimana yaa, aku udah capek capek translate disela sela kerjaan numpuk tapi gak ada timbal baliknya.

Bye Bye.. Kalo review banyak kita pasti bakaln ketemu lagi. Jangan biasakan jadi silent readers.