LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 12

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)

RATED M

.

JUJU JONGODULT

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

" Aku takkan memaksamu melihat. Hanya saja... Ada keintiman tak terelakkan dalam hal ini, dan kurasa kau dan aku akan sama sama lebih nyaman bila kau ada disana. Dengan begitu kau tahu persis apa yang terjadi. Tak ada yang tersembunyi ataupun tidak jelas dalam hal ini. " Jelas Kai.

Sehun mengangguk. " Baiklah. "

Kai menarik napas dalam dalam. " Itu fakta kehidupan yang tak bisa kuubah. "

Sehun menyapukan tangan menuruni dada Kai. " Kau tahu, walaupun rasanya agak menakutkan, aku berharap darahkulah yang kauminum. "

" Oh, Sehun, begitu juga aku. "

.

HAPPY READING

.

Minho melirik arlojinya. Kyungsoo akan menjemputnya lima menit lagi, jadi sudah waktunya untuk turun. Ia menenteng kopernya dengan dua tangan dan berjalan menuju pintu.

Ketika tiba di trotoar, ia memandang ke ujung jalan, bertanya tanya dari arah mana Kyungsoo akan datang. Mobil jenis apa yang akan dikendarai pria itu. Dan dimana ia tinggal? Siapa pasangannya?

Seberkas cahaya muncul dari arah kanan. Minho memalingkan wajah berharap cahaya dari sinar lampu mobil itu adalah Kyungsoo yang datang menjemputnya tapi ternyata mobil itu hanya berlalu.

Dua mobil lagi dan truk yang berlalu.

Minho menunduk memandangi diri, memikirkan betapa menyedihkan penampilannya. Sepatunya begitu kotor, bajunya bersih tapi jins yang ia pakai sudah berumur dua tahun.

Ia berharap penampilannya bisa lebih bagus.

Sinar lampu depan membelok cepat di sudut jalan, seolah si pengemudi menekan pedal gas dalam dalam. Itu bukan hal bagus. Dilingkungan ini, siapapun yang mengebut biasanya melarikan diri dari polisi atau lebih buruk lagi.

Minho melangkah ke balik kotak pos yang sudah penyok, berusaha benar benar tidak terlihat, tapi Range Rover hitam itu berhenti dengan ban berdecit didepannya. Kaca kacanya gelap. Tepiannya dilapis krom mahal.

Minho mencengkeram tasnya dan berjalan kembali menuju apartementnya. Lebih baik ia menunggu di lobi apartement saja daripada di tempat terbuka seperti ini. Minho tengah bergegas menuju pintu ketika pintu mobil terbuka.

" Kau sudah siap, Minho? "

Minho berbalik mendengar suara Kyungsoo. Pria itu berjalan mengelilingi kap mobil. " Hei, apakah kau sudah siap untuk pergi? "

Minho menatap Kyungsoo dengan perasaan bimbang. Seolah merasakan kebimbangan Minho, Kyungsoo bersandar ke Rovernya dan menyilangkan pergelangan kakinya.

" Aku tidak ingin kau merasa terpaksa. Tapi kuberitahu kau, aku bisa memasak makanan lezat. Mungkin kau bisa berkumpul bersama aku dan pasanganku, kita makan bersama sama. Kau bisa melihat lihat rumahku dulu, dan kita bahkan bisa meninggalkan barang barangmu disini. Bagaimana menurutmu? "

Suara itu pelan, datar. Tidak mengancam. Mendengarkan instingnya, yang memberitahunya Kyungsoo adalah pria yang baik., Minho lalu menyeret kopernya menuju mobil.

" Apakah ini sudah semuanya? "

Wajah Minho memerah dan mengangguk.

" Kau tidak perlu malu, " Ujar Kyungsoo pelan. " Tidak saat kau bersamaku. "

Kyungsoo membantu Minho mengangkat koper, dan meletakkannya di kursi belakang. Saat akan masuk ke dalam mobil, Minho lupa akan sepedanya. Ia mengetuk atap Rover untuk mendapatkan perhatian Kyungsoo, lalu menunjuk ke gedung dan mengacungkan jari telunjuknya.

" Kau perlu waktu satu menit? "

Minho mengangguk dan melesat naik menuju apartementnya. Ia sudah membawa sepedanya, dan meninggalkan kunci di meja, lalu ia membawa sepedanya ke koridor, menutup pintu, dan bergegas menuruni tangga.

.

.

.

" Sehun? Sehun, bangun. Dia sudah datang. "

Sehun merasa bahunya diguncang, dan ketika ia membuka mata, Kai tengah menunduk memandanginya. Pria itu berganti pakaian dengan setelan putih lengan panjang dipadu celana longgar.

Sehun duduk, berusaha mengumpulkan pikirannya. " Boleh aku minta waktu sebentar? "

" Tentu. "

Sehun bergegas ke kamar mandi dan mencuci muka. Dengan air dingin menetes dari dagunya, ia menatap bayangannya di cermin. Kekasihnya akan minum darah orang lain. Dihadapannya.

Dan itu bukan bagian paling anehnya. Ia merasa tidak mampu karena bukan dirinya yang memberi Kai, kekasihnya, minum.

Menolak tenggelam dalam pikiran itu, Sehun meraih handuk dan mengeringkan muka dengan gosokan kuat. Tak ada waktu untuk mengganti sweter dan celana jinsnya. Lagipula, tak ada baju khusus yang ingin dikenakannya.

Saat ia keluar dari kamar mandi, Kai tengah melepaskan arlojinya.

" Kau mau aku memegang arlojimu? " Tanya Sehun, mengingat kali terakhir ia menjaga Rolex itu.

Kai menghampiri Sehun dan menekan benda itu ke telapak tangan Sehun. " Cium aku. "

Sehun berjinjit bersamaan dengan Kai yang menunduk. Bibir mereka bertautan selama beberapa saat.

" Ayo. " Kai meraih tangan Sehun dan membimbingnya keluar ke lorong. Melihat Sehun yang tampak bingung, Kai berkata. " Aku tidak ingin melakukannya di kamar kita. Itu ruang pribadi kita. "

Kai membawa Sehun mengitari balkon menuju kamar tamu lain. Kai membuka pintu, dan mereka masuk bersama sama.

Awalnya Sehun mencium bunga mawar, lalu ia melihat wanita di sudut ruangan. Tubuh sintal wanita itu dibalut gaun lilit putih, dan rambutnya yang pirang digelung di atas kepala. Dengan garis leher rendah gaunnya dan gelungan rambutnya, leher wanita itu terpapar dengan jelas.

Wanita itu tersenyum dan membungkuk, berbicara dalam bahasa asing itu.

" Tidak, " Kata Kai. " Bahasa manusia. Kita akan melakukan ini dalam bahasa manusia. "

" Tentu, pejuang. " Suara wanita itu tinggi dan murni, seperti nyanyian burung. Matanya, hijau pucat dan indah, berlama lama di wajah Kai. " Suatu kehormatan bisa melayanimu. "

Sehun bergerak gerak gelisah, berusaha menghentikan dorongan agar tidak mencengkeram wajah wanita didepannya ini.

" Siapa namamu, Yang terpilih? " tanya Kai.

" Namaku Hyoyeon. " Ia membungkuk lagi. Saat menggerakkan tubuh, matanya menelusuri tubuh Kai.

" Ini Sehun. " Kai merangkul bahu Sehun. " Dia... "

" Kekasihnya, " Sahut Sehun tajam.

Bibir Kai berkedut tersenyum. " Dia pasanganku. "

" Tentu, pejuang. " Hyoyeon membungkuk lagi, kali ini ke arah Sehun. Ketika wajahnya terangkat, ia tersenyum hangat. " Mistress, suatu kehormatan untuk bisa melayanimu juga. "

Bagus, pikir Sehun. Kalau begitu bagaimana kalau kau seret tubuh kerempengmu itu dari sini dan pastikan penggantimu adalah wanita mengerikan yang buruk rupa dan bergigi dua dalam balutan baju hawaii.

" Dimana kau ingin aku berada? " Tanya Hyoyeon.

Kai mengedarkan pandangan sebelum menatap ranjang bertiang yang sangat mewah. " Disana. "

Sehun menyembunyikan ringisannya. Oh, itu jelas bukan pilihan pertamanya.

Hyoyeon berjalan sesuai perintah, gaunnya yang berbahan halus berputar dibelakangnya. Ia duduk di atas bed cover satin, tapi ketika ia menaikkan kakinya, Kai menggeleng. " Tidak. Tetap duduk. "

Hyoyeon mengerutkan dahi, tapi tidak mendebat. Ia tersenyum lagi saat Kai melangkah maju.

" Ayo. " Ajak Kai, menarik tangan Sehun.

" Ini sudah cukup dekat. "

Kai mencium Sehun dan menghampiri Hyoyeon, berlutut dihadapan wanita itu. Ketika tangan Hyoyeon meraih gaun seolah hendak melepaskannya, Kai menghentikannya.

" Aku akan minum dari pergelangan tanganmu saja, " Kata Kai. " Dan kau tidak boleh menyentuhku. "

Kekecewaan mewarnai raut wajah Hyoyeon, matanya melebar. Ia memiringkan kepalanya karena malu. " Aku sudah membersihkan diri sepantasnya untuk kau gunakan. Kau boleh memeriksaku, kalau kau mau. "

Sehun menutup mulut dengan telapak tangannya. Mendengar bagaimana wanita ini memandang diri tak lebih daripada objek untuk digunakan sungguh mengejutkan.

Kai menggeleng, tampak jelas sama tidak nyamannya saat menjawab. " Aku tidak menginginkan ini semua, " Gumam Kai.

" Apakah kau menginginkan Yang Terpilih lainnya? "

Kai menggeleng.

" Tapi mengapa kau memanggil Yang Terpilih kalau kau tidak berniat memanfaatkannya? "

" Aku tidak mengira akan sesulit ini. " Gumam Kai.

" Sulit? " Suara Hyoyeon merendah. " Maaf, tapi aku tidak mengerti bagaimana aku bisa membuatmu tidak nyaman. "

" Bukan itu, dan aku tidak bermaksud menyinggung. Sehun- ku... Dia manusia, dan aku tidak bisa meminum darahnya. "

" kalau begitu dia akan bergabung dengan kita dalam kenikmatan di tempat tidur. Suatu kehormatan bagiku untuk membimbingnya disana. "

" Ah, ya, itu tidak... Dia tidak berada disini untuk... Ehn, kita bertiga tidak akan _ " Ya ampun, Kai merona! " Sehun ada disini karena aku tidak menginginkan wanita lain, tapi aku harus minum darah, apakah kau mengerti? " Kai mengumpat dan berdiri. " Ini tidak akan berhasil. Aku merasa ini salah. "

Mata Hyoyeon berkilat kilat. " kaubilang kau harus minum darah, tapi kau tidak bisa meminum darah darinya. Aku disini. Aku bersedia. Suatu kehormatan bagiku jika bisa memberikan apa yang kaubutuhkan. Kau ingin menunggu lebih lama? Sampai rasa lapar menguasaimu dan bahaya mengintai pasanganmu? "

Kai menyapukan tangan ke rambut. Mencengkeram sejumput. Menariknya.

Hyoyeon menyilangkan kaki, gaunnya membelah terbuka hingga ke paha. Dia memberikan gambaran yang indah, duduk ditempat tidur mewah itu, begitu sopan namun juga luar biasa seksual.

" Apakah kau sudah melupakan tradisi, pejuang? Aku tahu sudah lama, tapi bagaimana kau bisa merasa tidak nyaman dengan aku melayanimu? Ini adalah salah satu tugasku, dan aku merasakan kehormatan besar karenanya. " Hyoyeon menggeleng geleng. " Atau mungkin lebih tepatnya, dulu. Kami dulu merasa terhormat karenanya. Yang Terpilih telah menderita selama ratusan tahun belakangan. Tak ada anggota Brotherhood yang memanggil kami lagi, kami tak diinginkan, tak terpakai. Ketika kau akhirnya memanggil, kami sangat senang. "

" Maafkan aku, " Kai menoleh pada Sehun. " tapi aku tidak bisa _ "

" Dialah yang sangat kau cemaskan, bukan begitu? " Gumam Hyoyeon. " Kau cemas apa yang dipikirkannya kalau dia melihatmu dipergelangan tanganku. "

" Dia belum terbiasa dengan cara hidup kita. "

Hyoyeon mengulurkan. " Mistress, duduklah bersamaku supaya dia bisa memandangmu saat meminum darahku, supaya dia bisa merasakan sentuhanmu dan mencium aromamu, supaya kau menjadi bagian ritual ini. Kalau tidak dia akan menampikku, lalu apa yang akan terjadi pada kalian berdua? " Ketika keheningan terbentang dan Sehun bergeming, wanita itu menggerakkan tangan dengan tak sabar. " Tentunya kau sadar dia tidak akan minum. Kau harus melakukan ini untuknya. "

Sehun menatap uluran tangan Yang Terpilih lalu menatap Kai. Wajah kekasihnya itu muram, tubuhnya tegang.

" Tidak maukah kau membantunya? " Tanya Hyoyeon.

Sambil menarik napas dalam dalam, Sehun melangkah maju dan meletakkan tangannya di tangan wanita itu.

Hyoyeon menarik Sehun dan tersenyum simpul. " Aku tahu kau gugup, tapi tidak perlu cemas, ini akan segera berakhir. Setelah itu aku akan pergi meninggalkan kalian berdua. Kau bisa berpelukan dan mengenyahkanku dari pikiran kalian. "

" Bagaimana kau bisa tahan untuk... Dimanfaatkan seperti ini? " tanya Sehun.

Hyoyeon mengerutkan dahi. " Aku menyediakan apa yang dibutuhkan, bukan dimanfaatkan. Dan bagaimana aku tidak memberi kepada Brotherhood? Mereka melindungi kami hingga kami bisa hidup. Mereka memberikan putri putri bagi kami hingga tradisi kami bisa berlanjut... Setidaknya, itulah yang terjadi pada masa lalu. Belakangan ini jumlah kami berkurang, karena para brother tidak lagi mendatangi kami. Kami sangat membutuhkan keturunan, tapi menurut hukum kami hanya boleh mendapatkannya dari anggota Brotherhood. " ia menengadah pada Kai. " Itulah sebabnya aku terpilih malam ini. Aku mendekati masa subur, dan kami berharap kau akan membuahiku. "

" Aku tidak akan tidur denganmu. " Ucap Kai pelan.

" Aku tahu, dan aku akan tetap melayanimu. "

Sehun memejamkan mata, membayangkan seperti apa anak Kai. Seraya menyentuh perutnya yang rata, Sehun berusaha membayangkan dirinya dengan perut membuncit dan berat. Kebahagiaannya takkan terkira, ia yakin. Karena kesedihan menyadari hal itu takkan pernah terjadi terasa luar biasa lebih berat.

" Jadi, pejuang, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan mengambil apa yang dengan senang hati kuberikan? Ataukah kau bersedia mengambil resiko melukai pasanganmu? "

Kai ragu ragu, membuat Sehun menyadari bahwa satu satunya solusi yang mereka miliki berada tepat dihadapan pria itu. Kai butuh melakukan ini.

" Minumlah, " Perintah Sehun.

Kai menatap mata Sehun. " Sehun? "

" Aku ingin kau meminum darahnya, sekarang. "

" Kau yakin? "

" Ya. "

Sedetik terentang keheningan yang membekukan. Lalu Kai berlutut dihadapan Hyoyeon lagi. Saat Kai mencondongkan tubuh ke depan, wanita itu menarik lengan gaunnya dan meletakkannya di atas paha. Pembuluh darah dibagian dalam pergelangan tangannya tampak biru pucat dibawah kulitnya yang putih.

Kai meraih tangan Sehun saat ia membuka mulut. Taring taringnya memanjang tiga kali lipat dibanding biasanya. Dengan desisan pelan, ia membungkuk dan mengatupkan mulutnya di tangan Hyoyeon. Tubuh wanita itu tersentak, lalu kembali tenang.

Ibu jari Kai mengusap usap pergelangan tangan Sehun, tangan pria itu terasa hangat ditangannya. Sehun tidak bisa melihat apa yang dilakukan Kai, tapi gerakan samar kepala pria itu menunjukkan dia tengah menyedot. Ketika Kai meremas telapak tangannya, Sehun membalasnya dengan lemah. Seluruh pengalaman ini terlalu asing, dan Kai benar : Ada keintiman yang mengejutkan didalamnya.

" Belai dia, " Bisik Hyoyeon. " Dia berniat berhenti, dan ini masih terlalu cepat. Dia belum minum cukup banyak. "

Dengan kebas, Sehun mengulurkan tangannya yang bebas ke kepala Kai. " Tidak apa apa. Aku baik baik saja. "

Ketika Kai bergerak untuk mundur, seolah tahu ia berbohong, Sehun memikirkan segala cara agar Kai mau tetap meminum darah Hyoyeon.

Sehun menahan kepala Kai, menekannya. " Tidak usah terburu buru. Sungguh, semua baik baik saja. "

Saat Sehun meremas telapak tangan Kai, bahu pria itu merileks dan dia bergerak mendekatinya, memutar tubuh. Sehun membuka kakinya supaya Kai bisa bersandar ke tengah tengah tubuhnya, Kai mengistirahatkan dadanya di paha Sehun, bahu lebar Kai membuat Sehun merasa kecil. Sehun mengusap usap rambut pirang Kai yang tebal dan licin tenggelam di sela sela jarinya.

Mendadak, semua ini tidak terasa terlalu janggal.

Walaupun Sehun tidak dapat merasakan sedotan yang dilakukan Kai di pembuluh darah Hyoyeon, tubuh Kai yang bersandar padanya terasa familier, dan usapan di pergelangan tangannya memberitahunya bahwa Kai memikirkan dirinya selagi minum darah. Sehun menatap Hyoyeon. Wanita itu tengah mengawasi Kai, tapi ekspresi di wajahnya sama sekali tanpa emosi.

Sehun ingat perkataan Kai tentang minum darah : bahwa jika Kai menggigitnya, ia bisa merasakan kenikmatan pria itu. Hal itu jelas tidak terjadi di antara Kai dan Hyoyeon. Tubuh mereka berdua bergeming tenang, tidak bergejolak dalam hasrat macam apapun.

Mata Hyoyeon beralih ke atas dan dia tersenyum. " Dia baik baik saja. Hanya butuh sekitar satu atau dua menit lagi. "

Lalu selesailah sudah. Kai menengadahkan kepalanya sedikit dan berbalik ke tubuh Sehun, menyelinap ke lekuk pinggangnya, meletakkan tangan di sekeliling tubuh Sehun. Kai membaringkan kepalanya di paha Sehun, dan walaupun Sehun tak dapat melihat ekspresi Kai, tapi Sehun bisa mengetahui kenyamanan Kai dari otot ototnya yang rileks, serta napasnya yang dalam dan teratur.

Sehun melirik pergelangan tangan Hyoyeon. Ada dua luka tusukan dan memar kemerahan, serta sedikit tetesan darah.

" Dia akan butuh waktu untuk mengumpulkan tenaga, " Ucap Hyoyeon sambil menjilat lukanya lalu menurunkan lengan gaunnya. Ia berdiri.

Sehun mengusap punggung Kai seraya menatap wanita itu. " Terima kasih. "

" Sama sama. " Sahut Hyoyeon.

" Maukah kau datang lagi kalau dia membutuhkanmu? " Pinta Sehun.

Hyoyeon berekspresi terkejut. " Kalian berdua menginginkanku? Aku, secara khusus? "

Sehun menguatkan diri mendengar kegirangan dalam suara wanita itu. " Ya, aku , eh, kurasa kami menginginkanmu secara khusus. "

Hyoyeon berseri seri, matanya menyala nyala bahagia.

" Mistress, itu akan menjadi kehormatan bagiku. " Hyoyeon membungkuk. " Dia tahu bagaimana cara memanggilku. Hubungi aku kapan pun. "

Hyoyeon meninggalkan ruangan dengan langkah sedikit melompat senang.

Saat pintu tertutup rapat, Sehun membungkuk dan mencium bahu Kai. Kai bergerak, mengangkat kepala sedikit. Lalu dia mengusap mulut dengan telapak tangan, seolah tidak ingin Sehun melihat darah yang mungkin masih menempel padanya. Saat menengadah kembali, kelopak mata Kai rendah, dan mata biru kehijauannya tampak sedikit kabur.

" Hai, " Ucap Sehun, kembali mengelus rambut Sehun.

Kai menyunggingkan senyum khasnya, yang membuatnya kelihatan seperti malaikat. " Hai. "

Sehun menyentuh bibir bawah Kai dengan ibu jari. " Apakah dia terasa enak? " Saat Kai ragu, Sehun kembali berkata, " Jujurlah padaku. "

" Ya, dia terasa enak. Tapi aku lebih suka kalau itu kau, dan aku memikirkanmu sepanjang aku menghisap darah dia tadi. Aku membayangkan dia dirimu. "

Sehun membungkuk dan menjilat bibir Kai. Hal itu membuat mata Kai terbelalak, Sehun menyelipkan lidah ke dalam mulut Kai dan mencecap darah yang terasa seperti anggur merah yang masih tertinggal didalam mulut Kai.

" Bagus, " Gumam Sehun dibibir Kai, " Aku ingin kau memikirkanku saat melakukannya. "

Kai meletakkan tangan di sisi sisi leher Sehun, ibu jarinya berada tepat di pembuluh darah Sehun. " Selalu. "

Kai lalu melumat bibir Sehun dan Sehun mencengkeram bahu kekasihnya itu, mendorongnya untuk mendekat. Saat Kai menarik ujung sweternya, Sehun menaikkan tangan supaya Kai bisa menyingkirkan baju itu darinya lalu berbaring di tempat tidur. Kai menanggalkan sisa pakaian Sehun, lalu menanggalkan pakaiannya sendiri.

Kai menjulang di atas Sehun, mengurung tubuh Sehun dengan kedua pahanya, menahan Sehun ditempat tidur. Melihat bukti gairah Kai, Sehun mulai menggesekkan tubuhnya dengan tubuh Kai.

Bibir Kai melumat bibir Sehun dalam ciuman tak sabaran, walaupun ciuman mereka sangat berantakan dan penuh nafsu, tapi saat Kai menyatukan tubuh mereka, Kai tidak terburu buru. Ia melakukannya dengan perlahan dan lembut. Gerakannya tidak terburu buru, tiap hunjamannya dalam. Wangi memabukkan itu kembali memancar dari kulit Kai, memenuhi diri Sehun.

" Aku takkan memiliki kekasih lain, " ucap Kai dileher Sehun. " Aku takkan bercinta dengan wanita lain selain dirimu. "

Sehun mengalungkan kakinya ditubuh Sehun, berusaha menahan kekasihnya itu bersamanya selamanya.

.

.

.

Minho mengikuti Kyungsoo mengitari rumah. Ada banyak kamar, dan semua perabot serta dekorasinya tampak benar benar bagus. Ia berhenti didepan lukisan dan mengagumi sebuah lukisan.

Di ujung lorong, Kyungsoo membuka pintu dan menyalakan lampu. " Aku sudah menaruh kopermu didalam sini. "

Minho melangkah ke dalam. Dinding dan langit langitnya di cat biru gelap dan ada ranjang besar dengan kepala ranjang yang licin dan banyak bantal gemuk. Di sana juga ada meja kerja dan lemari laci, dan pintu kaca geser yang membuka ke arah teras.

" Kamar mandinya disebelah sini. " Kyungsoo menyalakan lampu lain.

Minho melongok ke dalam dan shower nya dihalangi pintu kaca dan... Wow, ada empat pancuran!

" Kalau kau butuh sesuatu, wellsie ada disini, dia pengurus rumah disini, dan aku akan kembali sekitar jam empat pagi. Kami biasa bekerja pada malam hari. Kalau kau membutuhkan kami pada siang hari, angkat telepon manapun dan tekan angka satu. wellsie akan senang bertemu denganmu kapanpun. Kalau kau perlu keluar, minta saja dia untuk mengantar atau menemanimu. "

Minho berjalan ke tempat tidur dan menyentuh sarung bantal. Begitu lembut, hingga nyaris tak terasa.

" Kau akan baik baik saja disini, Minho. Mungkin butuh waktu untuk beradaptasi, tapi kau akan baik baik saja. "

Minho menatap ke seberang ruangan. Mengumpulkan segenap keberaniannya, ia berjalan menghampiri Kyungsoo dan membuka mulut. Lalu ia menunjuk pria itu.

" Kau yakin mau mengetahu ini sekarang? " Tanya Kyungsoo.

Minho mengangguk, Kyungsoo perlahan lahan membuka mulutnya, dan memamerkan sepasang taring.

Minho menelan ludah dan meletakkan jari ke mulutnya sendiri.

" Ya, kau akan mendapatkan taring juga. Dua tahun dari sekarang. " Kyungsoo menyeberangi ruangan dan duduk di tempat tidur, menumpukkan siku ke lututnya. " Kita mengalami transisi sekitar dua puluh lima. Setelah itu kau bakal butuh minum untuk bisa bertahan, dan aku tidak berbicara tentang susu. "

Minho mengerutkan alis, bertanya tanya apa yang akan ia minum.

" Kami akan mencarikan wanita untuk mendampingimu menjalani transisi, dan aku akan memberitahumu apa yang akan kau alami. Takkan menyenangkan, tapi begitu kau berhasil melewatinya, kau akan menjadi kuat, dan kau akan menyadari semua kesakitanmu sepadan dengan hasilnya. "

Mata Minho berkilat kilat saat mendengarkan penjelasan Kyungsoo. Dengan cepat ia merentangkan lengan secara horizontal maupun vertikal, lalu ibu jarinya menunjuk diri sendiri.

" Ya, kau akan menjadi sangat berotot. " Jawab Kyungsoo.

Minho mengerucutkan bibirnya, meragukan perkataan Kyungsoo.

" Sungguh. Itulah sebabnya masa transisi benar benar menyebalkan. Tubuhmu akan melalui perubahan besar dalam hitungan jam. Setelah itu kau harus memperlajari segala sesuatunya, cara berjalan, cara bergerak. " Kyungsoo menunduk menatap diri. " Pada awalnya kau akan sulit mengendalikan tubuhmu. "

Tanpa sadar Minho menggosok gosok dadanya, tempat bekas luka melingkar itu berada. Mata Kyungsoo mengawasi gerakannya.

" Aku harus jujur padamu. Masih banyak yang belum kami ketahui tentang dirimu. Salah satunya, tak ada yang tahu seberapa banyak darah brotherhood dalam darahmu, dan kami tidak tahu menahu garis keturunanmu. Tentang bekas luka itu, aku juga tidak bisa menjelaskannya. Kau bilang kau memiliki bekas luka itu dari kau lahir, dan aku percaya ucapanmu itu, tapi tanda itu pemberian seseorang, bukan tanda yang dibawa sejak lahir. "

Minho mengeluarkan kertasnya dan menulis, Apa semua makhluk bertaring mempunyai tanda seperti ini?

" Tidak. Hanya para brotherhood yang mempunyai tanda seperti itu. Itulah sebabnya Suho membawamu pada kami. "

Siapa kalian? Tanya Minho.

" Black Dagger Brotherhood. Kami pejuang. Kami bertarung untuk menjaga kelangsungan hidup ras kita, dan untuk itulah kau akan kami latih. Pria lain dalam kelasmu akan menjadi prajurit biasa, tapi kau, dengan tanda itu, kau mungkin akan menjadi salah satu dari kami. " Kyungsoo menggosok tengkuknya. " Tak lama lagi aku akan membawamu menemui Kris. Dia Raja kami dan juga pasanganku. Aku juga ingin kau diperiksa oleh dokter kami. Dia mungkin bisa membaca garis darahmu. Apakah kau tidak keberatan dengan itu? "

Minho mengangguk.

" Aku senang kami menemukanmu, Minho. Kalau tidak kau bakal mati, karena takkan ada yang bisa memberimu apa yang kau butuhkan. "

Minho mendekat dan duduk disebelah Kyungsoo.

" Ada yang ingin kau tanyakan padaku? "

Minho mengangguk, tapi tak bisa menata pikirannya ke dalam pola kalimat yang bisa dipahami.

" Begini saja, kau pikirkan malam ini. Kita akan mengobrol lebih banyak besok. "

Minho nyaris tak sadar kepalanya mengangguk sebagai jawaban. Kyungsoo bangun dan berjalan ke pintu.

Entah darimana rasa panik melesat menembus dada Minho. Membayangkan dirinya bakal sendirian terasa menakutkan, sekalipun dia berada di rumah indah, dengan aman. Ia hanya merasa... Begitu kecil.

Sepatu bot Kyungsoo muncul dalam jarak pandangnya lagi.

" Hei, Minho, mungkin aku akan tinggal disini dulu bersamamu. Kau suka itu? Kita bisa mencari cari tontonan. "

Terima kasih, ucap Minho otomatis dalam bahasa isyarat. Aku merasa agak canggung.

" Kuanggap itu sebagai ya. " Kyungsoo bersandar di bantal bantal, meraih remote, dan menyalakan TV. " Chen, salah satu brotherku, memasang TV kabel di rumah ini. Kurasa kami punya sekitar tujuh ratus saluran di TV. Kau suka nonton apa? "

Minho mengangkat bahu dan beringsut menyandarkan diri ke kepala ranjang.

Kyungsoo terus menggonta ganti saluran TV hingga menemukan Terminator 4. " Kau suka ini? "

Minho bersiul pelan dan mengangguk.

" Ya, aku juga. "

.

.

.

Kai tidur larut, sangat larut, dan apa yang membangunkannya merupakan kabar buruk. Keresahan ini, rasa gatal yang menggila, kembali hidup dalam dirinya. Penundaan hukuman Scribe virgin telah berakhir. Si monster telah kembali.

Ia membuka mata dan melihat rambut Sehun di bantalnya, dan lekuk leher Sehun, dan punggung telanjang wanita itu. Tubuhnya mulai berkeringat, hasratnya muncul secepat detak jantung.

Ia memikirkan bagaimana mereka telah bercinta setelah ia minum darah. Lalu lagi setelah mereka kembali ke kamar mereka. Ia bercinta dengan Sehun dua kali lagi saat siang, ia merasa buruk karena terlalu sering meminta hal itu dari Sehun. Namun, tiap kali Sehun tersenyum padanya dan menyambut penyatuan mereka, meskipun dia pasti lelah dan mungkin sedikit pegal.

Dan sekarang ia menginginkan Sehun lagi, tapi dengan dentuman kebutuhan berbeda dari yang dirasakannya sebelumnya. Rasa mendamba ini terasa liar, seolah ia tidak pernah bercinta dengan Sehun atau sudah berbulan bulan tidak berjumpa dengan Sehun. Saat mealwan dorongan itu, tangan Kai terkepal kuat, jemarinya menggelenyar, kulitnya meregang. Ia benar benar tegang, setiap tulang dalam tubuhnya bergetar.

Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya. Pada saat ia kembali ke dalam kamar, ia sudah mendapatkan sebagian kendali dirinya, tapi lalu ia melihat Sehun telah menendang selimut yang menyelebungi tubuhnya. Sehun berbaring menelungkup, tubuh telanjang wanita itu merupakan godaan yang menggerogotinya.

" Kau mau kuambilkan sesuatu dari dapur? " Tanya Kai parau.

" Tidur, " Gumam Sehun, berbalik telentang. Puncak payudaranya menegang saat terkena udara dingin.

Oh, ya ampun... Teriak batin Kai. Tapi tunggu, ada yang tidak beres. Wajah Sehun merah padam seolah dia terkena ruam akibat angin yang luar biasa dingin, dan kakinya berayun ayun di atas ranjang.

Kai menghampirinya dan meletakkan tangannya di kening Sehun. Kekasihnya itu panas sekali, bibirnya kering. " Sehun, kurasa kau sedang demam. "

" Suhu tubuh rendah. Bukan hal aneh. " Gumam Sehun.

Rasa takut memadamkan hasrat Kai. " Kau mau kuambilkan aspirin? "

" Hanya perlu tidur sampai demamnya hilang. "

" Apakah kau mau aku menemanimu? "

Sehun membuka matanya, Kai benci melihat betapa redup mata Sehun. " Tidak, ini sudah biasa. Sungguh, aku tidak apa apa. Aku hanya perlu tidur sampai demamnya sudah hilang dengan sendirinya. "

Kai mengusap rambut Sehun. " Tidurlah. "

Sehun memejamkan mata, Kai menemani Sehun sedikit lebih lama lalu ia mengenakan celana training dan kaos. Sebelum pergi, ia kembali memandang Sehun. Ia tidak tega melihat Sehun mengalami demam ringan. Seperti apa rasanya ketika penyakit Sehun bertambah parah?

Oh iya, dokter Havers, ia belum mendengar kabar lagi dari dokter itu, dan dokter itu sudah cukup lama membaca catatan medis Sehun. Kai meraih ponselnya dan pergi ke lorong.

Percakapan dengan Havers tidak berlangsung lama, karena tak ada yang bisa dilakukan sang dokter untuk Sehun. Karena vampir tidak mengidap penyakit kanker, jadi ia tidak berkonsentrasi pada penyakit itu.

Kai sudah hendak menutup ponselnya ketika sang dokter berkata, " Maaf, Tuan, karena saya tidak bermaksud ikut campur. Tapi apakah Anda... Apakah Anda tahu seberapa banyak perawatan yang telah dijalaninya? "

" Aku hanya tahu dia menjalani banyak perawatan. "

" Apakah Anda menyadari seberapa intensif perawatan yang telah dijalaninya? Kalau leukimianya kembali, pilihannya mungkin terbatas _ "

" Terima kasih karena sudah melihat catatan medisnya. Aku menghargainya. " Sela Kai. Ia tidak perlu penegasan seberapa parah penyakit yang diderita Sehun.

" Tunggu... Tolong dimengerti bahwa saya ada disini untuk membantu sebisa mungkin. Walaupun saya tidak bisa menolong sehubungan dengan kemoterapinya tapi kita memiliki racikan obat untuk sebagian besar pengobatan rasa sakit dan semua hal lain yang telah dijalaninya. Saya bisa membantu meringankan rasa sakitnya dan mengawasinya, meskipun dia akan menjalani perawatan di rumah sakit manusia, Anda harus tetap menghubungi saya. "

" Aku pasti akan menghubungimu, Havers. Terima kasih. "

Setelah menutup ponselnya, Kai berjalan ke ruang kerja Kris, tapi ruangan itu kosong jadi ia berbalik untuk pergi ke lantai bawah. Mungkin Kris dan Kyungsoo sedang makan.

Tapi sebelum ia sempat ke bawah, Kris tampak berjaan di lorong menuju ke arah Kai.

" Mencariku? " Tanya sang raja.

" Hai. Ya. Aku mencarimu hanya untuk memberitahu kalau Sehun pindah kemari untuk seterusnya. "

" Begitulah yang kudengar. Fritz bilang dia membawa beberapa barang. "

" Eemm, Kris. Apakah kau keberatan kalau aku mengadakan pesta kecil disini malam ini? Aku ingin Sehun bertemu dengan temannya, Suho, dan aku berpikir brotherhood bisa bersikap sopan. Sehun memilikiku, tapi dia juga butuh bergaul dengan yang lainnya. Aku tidak ingin dia merasa terasing. " Ucap Kai.

" Usul yang sangat bagus. Kyungsoo ingin kami pergi ke kota malam ini, tapi _ "

" Tidak perlu mengubah rencana kalian. Ini benar benar pesta santai. "

" Yah, Kyungsoo sudah menanti nantikan untuk pergi. Kau tahu selama beberapa hari ini dia terlihat sangat sibuk, jadi dia menantikan waktu berduaan denganku. Dan aku, eh, aku juga sangat menantikan waktu berduaan saja dengannya, kau paham maksudku, bukan? "

Kai tersenyum simpul saat ia mencium aroma hasrat Kris. " Ya, aku paham. "

Jeda sejenak, lalu sang raja berkata, " Kai, apakah ada hal lain? "

" Eh, ya. Sehun sebentar lagi akan sakit parah. Aku akan tetap menjalankan tugas tiap malam bersama para brother selama yang kubisa, tapi saat keadaan semakin berat _ "

" Tentu saja. Lakukan apa yang harus kau lakukan. "

Kai tersenyum. " Terima kasih, My Lord. "

Kris menggeleng geleng. " Kau tahu... Kau benar benar pria sejati. Sungguh. "

" Well, terasa aneh mendengar kalau aku adalah seorang pria sejati. Aku punya reputasi sebagai bajingan yang egois yang harus kujaga. " Tawa Kai.

" Aku hanya tidak pernah menyangka kau bisa menjadi seseorang yang seperti ini. " Ucap Kris.

Kai mengerutkan dahi. " Sial, kau membuatnya terdengar seolah ini semacam pengorbanan. Aku benar benar mencintainya. "

" Itulah pengorbanannya. Kau mencintainya walaupun kau tahu dia akan pergi _ "

" Dia tidak akan pergi kemanapun. " Kai menggigit dalam pipinya. " Dia akan baik baik saja. Keadaannya akan sulit, tapi dia akan baik baik saja. "

" Maafkan aku. " Kris membungkukkan kepalanya. " Tentu saja dia akan baik baik saja. "

Kai menatap ke bawah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan permintaan maaf Kris karena biasanya dirinyalah yang meminta maaf. Lagipula, tiap kali ia memikirkan Sehun sekarat, ia merasa seolah dadanya dibakar oleh api.

" Sampai nanti, My Lord, " Ucap Kai, ia ingin pergi sebelum ia tambah mempermalukan diri dengan bersikap emosional.

Hanya saja ketika ia menengadah, ia mendapati dirinya bertatapan dengan mata Kris. Napas Kai terhenti, terfokus pada selaput iris perak hijau yang memantulkan cahaya pelangi yang balas menatapnya. Kehangatan yang terpancar di dalam mata Kris membuat Kai tenang.

" Kau membuatku bangga memanggilmu brother, " Ucap Kris.

Kai merasakan lengan berat merangkulnya saat ia ditarik ke dada yang kokoh. Tubuhnya menegang, namun ia membiarkan diri bersandar di bahu Kris yang bidang.

" Kris? "

" Ya? "

Kai membuka mulut untuk berbicara, tapi kehilangan suaranya.

Kris menjawab dengan lembut. " Kami semua akan mendampingimu. Jadi kau harus meminta bantuan pada kami ketika kau membutuhkannya. Dan kalau saatnya tiba, dia akan diantar dengan upacara Fade secara penuh, sebagaimana yang layak didapatkan pasangan seorang pejuang. "

Kai memejamkan matanya rapat rapat. " Terima kasih... My Lord. "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Makasih buat yang masih dukung FF ini... karena puasa jd NC nya di skip yaaa

Terserahlah kalian mikirnya aku ini author yang gila review, krn yahh dri review itu aku bakalan tau kalian suka gak ama FF yang aku bikin ato remake. Laa kalo kgk ada yg review, gmn mw tau reaksi kalian.

Ada yang review author yang baik kgk mengharapkan review, well, aku author yang baik tp sayangnya aku mharapkan review. FF ini kyk laporan kerjaan jg kalo laporan kerjaan lo kgk dikomentari ama boss nah gmn mw tau kerjaan kita udah baik apa blm? nah aku mau balikin ke kalian sbg reader yang baik kalian pasti menghargai bikinan orang lain kan. Review kan gak susah, gak makan waktu lama jg kok review.

Lagian aku gak muluk2 jg mnt reviewnya cuma minta dua puluh lima lebih azaa gak mpe ratusan.

Met menjalankan ibadah puasa yaaaa... Kalo ada salah2 kata mohon maaf lahir batin.