LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 13
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)
RATED M
.
JUJU JONGODULT
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
CERITA SEBELUMNYA
.
Kai merasakan lengan berat merangkulnya saat ia ditarik ke dada yang kokoh. Tubuhnya menegang, namun ia membiarkan diri bersandar di bahu Kris yang bidang.
" Kris? "
" Ya? "
Kai membuka mulut untuk berbicara, tapi kehilangan suaranya.
Kris menjawab dengan lembut. " Kami semua akan mendampingimu. Jadi kau harus meminta bantuan pada kami ketika kau membutuhkannya. Dan kalau saatnya tiba, dia akan diantar dengan upacara Fade secara penuh, sebagaimana yang layak didapatkan pasangan seorang pejuang. "
Kai memejamkan matanya rapat rapat. " Terima kasih... My Lord. "
.
HAPPY READING
.
Malam itu Sehun berdiri di kamar tidur mereka, menyisir rambut dan mengeringkannya dengan pengering. Setelah selesai, ia menatap bayangannya di cermin dan mengusap rambut hitamnya. Terasa halus di jemarinya.
Ia menolak untuk memikirkan akan botak lagi. Ia mengenyahkan pikiran itu. Akan ada waktu untuk merenung saat hal itu benar benar terjadi.
" Kau masih secantik kemarin, " ucap Kai saat keluar dari kamar mandi. Selagi mengeringkan diri dengan handuk, ia melangkah ke belakang Sehun dan meniupkan ciuman ke bayangan Sehun di cermin.
Sehun tersenyum. " Terima kasih banyak karena sudah mengundang Suho dan Minho. Suho teman yang sangat baik dan aku mencemaskan Minho. "
" Aku tidak ingin kau putus hubungan dengan orang orang hanya karena kau ada disini. Lagipula, brotherhood perlu memainkan peran beradab sekali sekali. Itu bagus untuk kami. "
" Kau tahu, aku sangat senang saat mendengar Kris dan Kyungsoo bersedia menampung Minho. "
" Mereka memang yang terbaik. " Ucap Kai bangga. Ia kembali berjalan ke kamar mandi untuk meletakkan handuk basah.
Saat Kai berjalan membelakanginya, Sehun merasa mata tato yang ada dipunggung Kai seperti memandanginya. Efeknya sangat menakutkan, menurutnya, tapi tidak benar benar menjengkelkan. Rasanya seperti diawasi anjing penjaga yang sebenarnya ingin kau mengusap kepalanya.
Sehun berjalan dan duduk di ujung tempat tidur. " Hei, aku minta maaf kalau aku membuatmu terbangun pagi ini. Tidurku sering resah saat terkena demam. "
Kai muncul dari balik lemari baju, menutup ritsleting celana hitamnya. " Kau sama sekali tidak mengangguku. Tapi adakah yang bisa kita lakukan untuk hal itu? Untuk mengurangi keresahanmu? "
" Sepertinya tidak ada. Aku akan pindah ke kamar lain kalau aku menganggumu. " Sehun tertawa saat melihat tatapan Kai. " Oke, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan tetap tinggal dikamar kita. "
" Sehun, aku pernah meminta ijinmu tentang dokter kami yang ingin melihat berkas berkasmu, bukan? " Sehun mengangguk. " Tadinya aku berharap ada yang bisa kami lakukan untukmu, tapi ternyata _ "
" Tidak apa apa, Kai. Kau tidak perlu cemas. Dah oh ya, aku menghargai usahamu. " Ucap Sehun.
" Kapan kau akan bertemu dengan doktermu lagi? "
" Segera, tapi kita tidak usah membicarakan itu lagi, oke? Malam ini, semuanya tentang kehidupan. Aku merasa sehat, dan aku takkan menyia nyiakan semenit pun. "
Sudut sudut bibir Kai terangkat, matanya menyorotkan persetujuan. Sehun balas tersenyum, ia sangat menantikan penghujung malam ini, ketika mereka bisa berduaan saja, dalam gelap, tanpa ada penghalang diantara mereka.
Kai kembali menghilang ke balik lemari baju, Sehun mengejarnya, berpikir mereka punya beberapa menit sebelum pesta dimulai jadi mungkin mereka bisa memulai pesta sendiri terlebih dahulu. Selagi Kai memandangi deretan baju yang digantung, Sehun memegang punggung pria itu, tepat di bahu sang monster.
Kai berjengit dan menjauh.
" Apakah kau terluka? " Tanya Sehun.
Saat ia berjalan kehadapan Kai, pria itu terus menghindar, hingga mereka berdua bertukar tempat beberapa kali.
" Kai _ "
" Kita perlu bergegas kalau tidak ingin terlambat. " Suara Kai sedikit parau, otot otot dadanya berkedut.
" Punggungmu kenapa? "
Kai melepaskan kemeja dari gantungan dan mengenakannya, mengancingkan kemejanya dengan cepat. " Punggungku baik baik saja. "
Kai mengecup pipi Sehun dan dengan cepat berjalan melewati Sehun. Ia membuka pintu kamar yang mengarah ke lorong lalu mengambil arloji dari meja dan memakainya di pergelangan tangan. Jemarinya gemetar saat ia memasang klip jamnya.
Tepat saat Sehun kembali hendak bertanya, Tao muncul di ambang pintu.
" Hei, Kai, Sehun. " Sapanya sambil tersenyum. " Kalian mau berjalan turun bersama? "
Sehun menyembunyikan kekesalannya, dan memutuskan kalau mereka memang harus diinterupsi, tak ada yang lebih baik daripada ini.
Untuk menghilangkan suasana canggung di antara mereka, Sehun mulai bertanya sesuatu pada Tao. " Tao, apakah kau pernah bertemu dengan Suho? "
Tao memain mainkan saputangan di saku kemejanya, walaupun benda itu sudah berada tepat ditempatnya. " Ya, aku pernah bertemu dengannya. Pada malam kau dan bocah itu datang ke mansion. "
" Suho akan datang lagi malam ini. " ucap Sehun.
" Aku, eh, aku tahu. " Sahut Tao.
" Dan dia sedang tidak berkencan dengan siapapun saat ini. " Ucap Sehun lagi. Wow, rona yang luar biasa. Apa Tao menyukai Suho? Pikirnya.
" Tao tidak tertarik, " Sela Kai seraya menyelipkan pistol ke punggungnya.
Sehun melirik tajam pada kekasihnya itu, yang tidak disadari Kai saat pria itu mengenakan jasnya.
" Tapi kau masih lajang, " Ucap Sehun pada Tao. " Ya, kan? "
" Oh, dia memang masih lajang. " Sela Kai lagi.
" Kai, bagaimana kalau kau membiarkannya menjawab? Jadi, Tao, kalau kailan berdua sama sama sedang tidak mempunyai pasangan, bagaimana kalau kau mengajak Suho makan malam bersama kapan kapan? " Ucap Sehun antusias.
Tao mengusap kelepak jasnya, rona merah dipipinya semakin memerah. " Yah, aku tidak yakin akan hal itu. "
" Suho adalah gadis yang sungguh luar biasa _ "
Kai menggeleng geleng dan menggiring Sehun ke lorong. " Sudahlah, Sehun, jangan ganggu Tao lagi. Ayo kita pergi. "
Separo jalan menuruni tangga, Sehun menarik Kai hingga berhenti. Saat Tao berjalan mendului mereka, ia berbisik, " Beri mereka kesempatan, oke? Suho dan Tao akan saling menyukai. "
" Satu satunya yang akan didapatkan Suho dari Tao hanyalah percakapan. " Sahut Kai.
" Apa maks _ "
" Tao tidak berhubungan dengan wanita. " Sela Kai.
" Apakah dia penyuka sesama jenis? " Tanya Sehun.
" Bukan, tapi jangan menyodorkan Suho padanya, oke? Itu tidak adil bagi mereka berdua. "
Sehun memandang Tao, yang baru saja melangkah ke lantai marmer selasar. Bahkan dengan kakinya yang sedikit pincang, Tao tetap terlihat seperti pria yang baik baik saja.
Sehun kembali berbalik menghadap Kai. " Apakah dia, kau tahu, impoten? "
Kai tersenyum dan mengusap pipi Sehun. " Tidak, sejauh yang kutahu dia tidak impoten. Tapi dia memilih untuk selibat. "
" Ya ampun, sayang sekali. " Ucap Sehun prihatin.
" Sayang sekali? " Selidik Kai. " Apa maksudmu dengan sayang sekali, Sehun? Apa kau menyukai Tao? "
Sehun memandang wajah Kai yang mengeras, lalu mengecup bibir Kai. " Ada apa, eum? Apa pejuangku ini sedang cemburu? "
Kai tidak menjawab, hanya memandang Sehun dengan tajam.
Sehun kembali mengecup bibir Kai. " Kau tahu, Kai. Saat cemburu seperti ini, kau terlihat menggemaskan. " Saat Kai mengerutkan alisnya, Sehun kembali menjelaskan. " Maksudku dengan sayang sekali itu adalah sayang sekali aku jadi tidak bisa menjodohkannya dengan Suho. Jadi, apa Tao adalah seorang anggota semacam kelompok religius? "
" Tidak. "
" Kalau begitu kenapa dia memilih selibat? "
" Aku juga tidak tahu kenapa, tapi mungkin hal ini berkaitan dengan saudara kandungnya, Chanyeol. Dan ya, aku tahu mereka tidak mirip. " Kai menarik Sehun dan mulai menuruni tangga lagi.
" Kenapa Tao pincang? "
" Dia memakai kaki palsu. Dia kehilangan separo kaki kirinya. " Jelas Kai.
" Astaga, kenapa? " Tanya Sehun kaget.
" Dia menembak kakinya sendiri. "
Sehun berhenti berjalan. " Apa? Apakah itu kecelakaan? "
" Tidak, itu disengaja. Sehun, ayo, kita bisa menyelesaikan percakapan ini nanti. " Kai meraih tangan Sehun dan menariknya maju.
.
.
.
Suho melangkah ke bagian depan mansion bersama pelayan yang mengantarnya ke tempat ini. Ia tercengang. Keluarganya memiliki rumah besar, tapi sama sekali tidak seperti ini. Tempat ini... Seperti istana.
" Selamat datang, Suho. " Sambut seorang pria.
Suho menoleh dan melihat seorang pria tinggi yang memiliki rambut panjang yang indah.
" Aku Tao. Kita pernah bertemu di gym. "
" Pejuang, " Sahut Suho, membungkuk dalam dalam. Sulit rasanya untuk tidak terpukau melihat para brother, apalagi yang seperti ini.
" Kami senang kau bisa datang. " Tao tersenyum pada Suho, matanya yang kuning tampak hangat. " mari, biar kubantu kau melepaskan mantelmu. "
Ketika mantelnya sudah lepas, Suho menyampirkan benda itu dilengannya. " Sejujurnya, aku tidak percaya aku ada disini _ "
" Suho.. "
Suho berbalik dan mendapati Sehun sedang berlari ke arahnya. " Sehun! Hai !"
Kedua wanita itu berpelukan lalu mengobrol dengan Tao. Tak butuh waktu lama untuk Suho merasa nyaman sepenuhnya di dekat sang pejuang. Tao menguarkan aura tenang dan dapat dipercaya.
Tapi meskipun Tao terlihat sangat menarik, mata Suho mencari cari seseorang, seorang pejuan yang mempunyai bekas luka diwajahnya. Sambil mengikuti percakapan, diam diam ia mengamati ruangan itu, tapi ia tidak melihat tanda tanda kehadiran Chanyeol. Mungkin Chanyeol tidak mau ikut pesta ini. Chanyeol terlihat seperti tipe yang tidak suka bersosialisasi.
Saat Sehun pergi menghampiri Kai, Suho bertekad untuk tidak merasa kecewa. Demi Tuhan, seharusnya ia tidak mengejar ngejar pria seperti Chanyeol.
" Omong omong, Tao, " Ucap Suho. " Bolehkah aku... Aku tahu ini tidak sopan, tapi aku harus menyentuh rambutmu. " Tangannya terangkat sebelum Tao sempat menolak dan menangkap sejumput rambut lurus, menggosokkan helaian tebal itu ditangannya. " Indah sekali. Rambutmu benar benar lembut. Dan... Oh, wangi sekali. Shampoo apa yang kau pakai? "
Suho menatap ke dalam mata Tao, mengira pria itu akan melontarkan semacam komentar ringan. Tapi pria itu malah membeku, bahkan tidak mengedip saat menunduk menatapnya.
Dan Suho mendadak menyadari Kai tengah mengawasinya dari ambang pintu dengan raut shock. Begitu juga dengan para pejuang lain yang berada di ruangan itu. Dan...
Yah, sepertinya pestanya terhenti.
Suho menurunkan tangannya dan berbisik, " Maaf. Aku baru saja melakukan hal yang sangat tidak sopan, ya? "
Tao tersadar dari apapun yang membuatnya terdiam. " Tidak. Tidak apa apa. "
" Kalau begitu kenapa semua orang memandangiku? "
" Mereka tidak terbiasa melihatku dengan... Itu, tak ada wanita... Eh... " Tao meraih tangan Suho dan meremasnya. " Suho, kau tidak melakukan kesalahan apapun, sungguh. Dan jangan pedulikan para brotherku, oke? Mereka hanya iri karena mereka ingin kau menyentuh rambut mereka juga. "
Tapi ada yang benar benar aneh dengan Tao, dan Suho tidak terkejut ketika pria itu meninggalkannya beberapa menit kemudian.
Seorang pelayan melangkah kedepannya. " Maaf, Madam. Seharusnya saya mengambil mantel Anda dari tadi. "
" Oh, terima kasih. "
Setelah menyerahkan mantelnya pada pelayan, Suho menyadari pestanya telah berpindah ke ruangan yang sepertinya tempat bermain billiard. Ia hendak beranjak kesana ketika merasakan udara dingin dari suatu tempat dibelakangnya. Apakah pintu depan tertiup angin hingga terbuka?
Suho berbalik untuk memastikan keadaan.
Chanyeol berada disudut remang bagian depan mansion, memandangi Suho dari bawah bayang bayang. Mata gelap Chanyeol tampak liar. Sensual.
Wajah Suho merona. Inilah alasan mengapa ia datang. Ia harus bertemu dengan pria ini lagi.
Sambil mengambil napas dalam dalam, ia berjalan menghampiri Chanyeol. " Halo. " Sapa Suho. Ketika Chanyeol tidak mengatakan apapun, ia memaksakan seulas senyum simpul. " Malam yang indah , bukan? "
" Apakah kau suka merasakan saudara kandungku? "
Tao? Saudara kandung pria ini? Bagaimana mungkin mereka berdua...
" Aku bertanya padamu. Apakah rambutnya terasa lembut? " Mata hitam itu menyusuri tubuh Suho, menelusuri tepian blus dan rok sutra ketat yang dikenakan Suho. " Kau harus menjawabku. "
" Suho, " Gumam Suho spontan. " Tolong panggil aku Suho. "
Tatapan Chanyeol makin gelap. " Apakah menurutmu saudaraku indah? "
" Eh, dia tampan, ya. "
" Tampan. Ya, itu kata yang tepat. Katakan padaku, apakah kau menginginkannya cukup besar hingga membuatmu mau tidur denganku? "
Rasa panas menjalari sekujur tubuh Suho, api hasrat yang dinyalakan oleh kata kata yang diucapkan Chanyeol dan cara pria itu memandangnya. Namun kemudian Suho menyadari apa yang dikatakan pria itu.
" Maaf aku tidak mengerti? "
" Kakakku itu hidup selibat dari lidah sampai jari kakinya. Jadi sepertinya hal terdekat yang bisa kaudapatkan dari Tao adalah aku. " Chanyeol berdecak. " Tapi aku pemeran pengganti yang payah, bukan? "
Suho menyentuh lehernya, tenggelam dalam bayangan berada dibawah kekuasaan Chanyeol ketika pria itu menyatukan tubuh mereka. Seperti apa rasanya? Dikuasai pria itu? Sisi dirinya yang liar penasaran ingin tahu. Astaga, baru memikirkannya saja, ia sudah gemetar.
Chanyeol tertawa dingin. " Aoakah aku sudah membuatmu shock? Maaf. Aku hanya berusaha membantumu memberikan solusi karena menginginkan sesuatu yang tak bisa kau dapatkan pasti sangat menyebalkan. " Mata Chanyeol menatap leher Suho lekat lekat. " Aku sendiri tidak pernah mengalami masalah sepertimu. "
Suho menelan ludah, mata Chanyeol mengikuti gerakan itu. " Masalah? " Bisik Suho.
" Apa yang kuinginkan, pasti akan kudapatkan. "
Dalam gelombang panas, Suho membayangkan Chanyeol menatapnya lekat lekat ketika tubuh mereka menyatu, wajah pria itu nyaris bersentuhan dengan wajahnya. Bayangan itu membuat tangan Suho terangkat. Ia ingin menyapukan ujung ujung jarinya menuruni parut luka di wajah Chanyeol. Hanya untuk mengetahui seperti apa rasa pria itu.
Dengan gerakan cepat ke samping, Chanyeol menghindari sentuhan Suho, matanya menyala nyala seakan Suho mengejutkannya. Ekspresi itu terkubur dengan cepat.
Dengan suara datar dan dingin, Chanyeol memperingatkan. " Hati hati, aku menggigit. "
" Bisakah kau memanggil namaku? "
" Kau mau minum, Suho? " Sela Tao. Ia meraih siku Suho. " Barnya ada disebelah sini, didalam ruang billiard. "
" Ya, bawa dia pergi, " Ucap Chanyeol malas. " Kau pahlawan yang baik, brother. Selalu menolong orang, dan asal kau tahu, menurut wanita ini kau tampan. "
Wajah Tao menegang, tapi ia tidak mengatakan apa apa saat membimbing Suho melintasi selasar.
Suho menoleh ke belakang, tapi Chanyeol sudah menghilang.
Tao menarik tangan Suho untuk menarik perhatian wanita itu. " Kau perlu menjauh darinya, " Saat Suho tidak menjawab, sang brother menariknya ke sudut dan mencengkeram bahunya. " Dia bukan hanya rusak. Dia sudah hancur. Apakah kau paham perbedaannya? Kalau rusak, kau masih bisa memperbaikinya. Hancur? Satu satunya yang bisa kau lakukan adalah menunggu untuk menguburnya. "
Bibir Suho terbuka sedikit. " Itu sangat... Kejam. "
" Itu kenyataannya. Kalau dia mati sebelum aku, aku akan sangat sedih. Tapi hal itu tidak akan mengubah dirinya. "
Suho melepaskan diri dari Tao. " Akan kuingat itu. Terima kasih. "
" Suho _ "
" Kau bilang kau akan mengambilkanku minum. "
.
.
.
Sehun berjalan menghampiri Kai, menaruh tangannya dibelakang punggung dan menunggu waktu yang tepat. Kai sedang berada di tengah tengah permainan billiard, dia dan Chen mengalahkan Tao dan Kyungsoo dengan telak.
Sehun benar benar menyukai para brother. Bahkan Chanyeol, dengan semua kemuramannya. Mereka begitu baik terhadapnya, memperlakukannya dengan rasa hormat dan segan, membuatnya bertanya tanya apa yang telah dilakukannya hingga layak diperlakukan seperti ini.
Kai mengedip padanya saat membungkuk diatas meja dan mengarahkan tongkat billiardnya, membuat Sehun tersenyum.
" Itu karena caramu memperhatikan Kai, " Bisik seseorang ditelinga Sehun.
Sehun tersentak kaget, Chen berada tepat dibelakangnya. " Apa yang kau bicarakan? "
" Itulah alasan kami memujamu. Dan sebelum kau memberitahuku untuk berhenti membaca pikiranmu, aku tidak bermaksud menangkap pikiran itu. Hanya saja pikiran itu terlalu lantang untuk diabaikan. " Chen meneguk vodkanya. " Tapi itulah alasan kami menerimamu. Ketika kau memperlakukan Kai dengan baik, kau menghormati kami masing masing. "
Kai menengadah dan mengerutkan dahi. Segera setelah membidik bola bolanya, dia memutari meja dan mendekati Sehun dan dengan sengaja mendorong Chen untuk menyingkir dengan tubuhnya.
Chen tertawa. " Tenang, Kai. Hanya kau yang diperhatikannya. "
Kai menggerutu dan merangkul Sehun ke sisi tubuhnya. " Kau hanya perlu mengingat itu, maka tangan dan kakimu akan tetap berada ditempatnya. "
" Kau tahu, kau tidak pernah menjadi tipe posesif seperti ini. "
" Itu karena aku tidak pernah memiliki sesuatu yang ingin kusimpan dulu. Giliranmu selanjutnya, brother. "
Ketika Chen menaruh minumannya dan berkonsentrasi pada permainan, Sehun mengacungkan tangannya. Dari ujung jemarinya, menggantung buah ceri.
" Aku ingin melihat trikmu. " Kata Sehun. " Kau bilang kau bisa melakukan sesuatu yang luar biasa dengan lidahmu dan tangkai buah ceri. "
Kai tertawa. " Ayo _ "
" Apa? Tak ada trik? "
Senyum Kai tersungging lambat lambat. " Perhatikan saja mulutku bekerja, sayang. "
Sambil mengamati Sehun dari bawah kelopak matanya yang turun, Kai membungkuk ke tangan Sehun. Lidahnya terjulur dan menangkap buah ceri itu, menariknya ke antara bibir. Ia mengunyah lalu menggeleng geleng seraya menelan.
" Belum. " Gumam Kai.
" Apa? "
" Rasamu jauh lebih manis, Sehun, daripada buah ceri. "
Dengan wajah merah padam, Sehun menutup mata dengan tangan. Eugh, kenapa Kai harus bersikap seksi sekarang? Batin Sehun. Saat menarik napas dalam dalam, hidungnya menangkap aroma gelap dan erotis yang dilepaskan Kai tiap kali ingin bercinta dengannya. Sehun menaikkan tangan dan mengintip ke arah pria itu.
Kai tengah mengawasinya dengan konsentrasi penuh, dan biji matanya tampak putih dan berkilauan seperti salju yang baru turun.
Napas Sehun terhenti.
Ada yang lain didalam diri Kai, pikir Sehun. Ada... Yang lain yang memandanginya lewat tatapan Kai.
Tao mendatangi mereka, tersenyum. " Cari kamar, Kai, kalau kau akan seperti ini. Kami tidak perlu diingatkan tentang semua yang kaumiliki. " ia menangkupkan tangan ke bahu Kai.
Kai berputar dan mencoba menggigit tangan Tao. Suara rahangnya yang beradu cukup keras untuk menghentikan semua percakapan dalam ruangan.
Tao melompat mundur, menyingkirkan tangannya jauh jauh. " Astaga, Kai ! Apa _ sial. Matamu, Kai. Matamu berubah. "
Wajah Kai memucat lalu ia terhuyung huyung, menyipitkan mata dan mengerjap ngerjap. " Maaf, sial, Tao, aku bahkan tidak tahu aku _ "
Disekeliling ruangan, semua pria meletakkan apapun yang tengah mereka pegang dan mendatangi Kai, mengelilinya.
" Seberapa dekat kau untuk berubah? " Tanya Tao.
" Keluarkan semua wanita, " Perintah seseorang. " Bawa mereka ke atas. "
Saat suara orang orang meninggalkan ruangan memenuhi udara, Chen meremas lengan Sehun. " Ikut denganku. "
" Tidak, " Sehun memberontak. " Hentikan. Aku ingin disini bersama Kai. "
Kai melihat ke arah Sehun, dan seketika tatapan aneh dan terpusat itu muncul kembali. Lalu mata putihnya beranjak ke arah Chen. Bibir Kai memamerkan giginya dan dia meraung, selantang singa.
" Chen, lepaskan Sehun. Sekarang juga. " Perintah Kyungsoo.
Chen menjatuhkan tangannya, tapi berbisik pada Sehun. " Kau harus menyingkir dari sini. "
Persetan, pikir Sehun.
" Kai? " panggil Sehun lirih. " Kai, apa yang terjadi? "
Kai menggeleng geleng dan memutuskan kontak mata mereka, melangkah mundur hingga menabrak perapian marmer. Keringat berkilauan diwajahnya saat ia mencengkeram batu itu, dan otot ototnya diregangkan seolah dia berusaha mencabut seluruh rak perapian itu dari dinding.
Waktu berlalu dengan sangat perlahan saat Kai bergulat dengan dirinya sendiri, dadanya naik turun, tangan dan kakinya gemetar. Lama setelahnya barulah dia merosot dan ketegangan meninggalkan tubuhnya. Apapun pergulatan itu, dia memenanginya. Tapi hanya menang tipis.
Saat menengadah, matanya kembali normal, tapi wajahnya sangat pucat. " Maafkan aku, " Gumam Kai. Lalu ia menatap Sehun dan membuka mulut. Alih alih bicara, ia malah menunduk seakan malu pada dirinya sendiri.
Sehun berjalan menembus barisan pria dan menyentuh wajah Kai.
Kai terkesiap kaget, Sehun mencium bibirnya.
" Ayo tunjukkan kemampuanmu dengan ceri itu. Ayo. " Bisik Sehun.
Para pria yang berdiri mengelilingi mereka terperangah, Sehun dapat merasakannya dalam tatapan mereka. Kai juga terguncang. Tapi ketika Sehun menatapnya lekat lekat, Kai mulai mengunyah, membolak balik tangkai ceri itu dengan giginya.
Sehun menoleh ke para brother dibelakangnya. " Dia baik baik saja. Kami baik baik saja. Pergilah dan lakukan apa saja, oke? Dia butuh waktu sebentar, dan dengan kalian semua mengawasinya seperti ini sama sekali tidak membantu. "
Chen terkekeh dan berjalan menuju meja billiard. " Kau tahu, wanita ini benar benar luar biasa. "
Kyungsoo mengambil gelasnya kembali, dan berjalan mengikuti Chen. " Ya, kau benar. "
Saat pesta dilangsungkan kembali, dan Suho serta para wanita yang lain kembali, Sehun mengusap wajah dan leher Kai. Sepertinya kekasihnya itu kesulitan menatap matanya.
" Apakah kau baik baik saja? " Tanya Sehun pelan.
" Aku benar benar minta maaf _ "
" Berhentilah meminta maaf. Apapun itu, kau tidak bisa mengendalikannya, bukan? " Sela Sehun.
Kai mengangguk.
" Kalau begitu tidak perlu meminta maaf. "
Sehun ingin tahu apa yang terjadi barusan, tapi tidak disini, tidak sekarang. Terkadang, berpura pura semuanya normal merupakan obat penawar terbaik untuk keanehan.
" Sehun, aku tidak ingin kau takut padaku. " Lirih Kai.
Sesaat, Sehun mengawasi mulut Kai dan rahang pria itu membolak balik tangkai ceri.
" Aku tidak takut. Chen dan Tao mungkin agak dalam bahaya, tapi kau takkan pernah menyakitiku. Tidak mungkin. Aku tidak tahu bagaimana aku tahu itu, tapi aku tahu. "
Kai menarik napas dalam dalam. " Ya Tuhan, aku mencintaimu. Aku amat sangat mencintaimu. "
Kai tersenyum dan memperlihatkan apa yang telah ia lakukan pada batang ceri. Sehun terbahak bahak hingga semua kepala diruangan itu berbalik menatapnya.
Tangkai ceri itu tersimpul rapi mengelilingi salah satu taring Kai.
.
.
.
Lesser yang bernama O melirik tas jinjing wanita yang telah diberikan anak buahnya. Ia meraih benda itu dan mengaduk aduk isinya. Botol obat, tisu, tampon, ponsel.
Ahhh, dompet.
Ia mengeluarkan SIM, dan memperhatikan foto seorang wanita berambut hitam panjang dan bermata cokelat. Alamatnya jauh dipinggir kota, Route 22.
Salah satu anak buahnya bertarung satu lawan satu dengan seorang pejuang. Pejuang itu tengah bersama seorang wanita. Anak buahnya berhasil melarikan diri dan mengambil tas ini.
O berdiri lalu memungut tas wanita itu dan berjalan keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC? END?
Review lebih dua puluh lanjutt yaaaaa
