LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 15

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)

RATED M

.

JUJU JONGODULT

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

CERITA SEBELUMNYA

.

Ini semua terlalu nyata. Getarannya. Dengungannya. Selalu disekitar Sehun, terutama saat wanita itu terangsang.

Astaga, ia tidak tahu kenapa ia tidak menyadari hal itu sebelumnya. Mungkin ia hanya ingin menghindari yang sebenarnya.

Berada bersama Sehun berbeda karena... Ia bukan satu satunya yang ingin bercinta dengan Sehun.

Monster itu juga menginginkan Sehun.

Monster itu ingin keluar supaya bisa mendapatkan Sehun.

.

HAPPY READING

.

Saat Suho tiba dirumah, ia tidak tahan berdiam diri. Setelah menulis selama sejam dibuku hariannya, ia mengganti pakaiannya dengan jins dan kaus lengan panjang, dan mengenakan jaketnya. Diluar, butiran butiran salju berhamburan, berputar putar dalam embusan angin dingin.

Sambil menutup ritsleting jaketnya, ia berjalan melewati padang tempat rumputnya lebih tinggi dan kasar.

Chanyeol. Ia tidak bisa memejamkan mata dan tidak melihat pria itu terbaring telentang dikamar mandi. Ia berjanji tidak akan mengganggu pria itu lagi, tapi ia tidak ingin memegang janji itu. Ia ingin mencoba lagi dengan pria itu..

Dikejauhan ia menyadari ada yang berjalan mengitari rumah Sehun. Tubuh Suho menegang karena takut, tapi kemudian ia melihat rambut gelap orang itu, jadi ia tahu itu bukan lesser.

Ia yakin itu adalah Chen. Pria itu pasti sedang memasang alarm pengaman. Suho melambai saat melihat pria itu berbalik dikejauhan, ia lalu berjalan mendekat.

Setelah mengobrol dengan Chen dipesta, ia sangat menyukai pria itu. Setelah dekat, ia bersuara. " Kukira kau tidak perlu menyelesaikannya lagi, " Ucapnya saat ia tiba diteras rumah Sehun. " Dengan Sehun _ "

Sosok berambut hitam yang melangkah dihadapannya ternyata bukanlah Chen. Suho tersentak saat mencium aroma kematian dari orang dihadapannya ini. Lesser.

" Soonmi? " Tanya lesser itu bingung.

Sedetik, Suho membeku. Lalu ia berbalik dan lari, bergerak secepat mungkin ditanah. Ia melintasi padang rumput dengan cepat. Ia pasti bisa mencapai rumahnya. Ia harus bisa bersembunyi diruangan bawah tanah tempat tak ada yang bisa masuk. Ia akan menelepon para pejuang dan mengambil jalan di terowongan bawah tanah menuju sisi lain rumahnya.

Lesser itu tepat berada di belakang Suho. Suho dapat mendengar derap kaki dan gemerisik pakaian pria itu. Memusatkan mata pada cahaya lampu rumahnya, ia memaksa otot ototnya untuk berlari lebih cepat.

Tiba tiba ia merasakan rasa sakit dipahanya, lalu ditengah punggungnya. Langkahnya melambat dan kakinya terasa sangat berat. Lalu jarak yang harus ditempuhnya menjadi lebih besar, terentang tak terhingga, tapi ia terus berusaha berlari. Saat tiba dipintu belakang rumahnya, tubuhnya mulai limbung. Entah bagaimana ia berhasil masuk, tapi ia berkutat untuk membuka kunci pintu.

Akhirnya ia berhasil masuk, ia langsung berlari bergegas menuju ruang bawah tanah, suara pintu pintu yang ditendang anehnya terdengar pelan, seolah hal itu terjadi ditempat yang amat sangat jauh.

Tangan seseorang menangkap bahunya.

Dorongan untuk melawan menggelegak dalam diri Suho, dan Suho melayangkan pukulan ke wajah lesser itu dengan kepalan tinjunya. Sesaat pria itu terperangah, lalu akhirnya membalas pukulan Suho. Membuat Suho berputar dan jatuh ke lantai. Pria itu menggulingkan tubuh Suho dan memukulnya lagi, telapak tangan pria itu menampar tulang pipi Suho, membenturkan kepala Suho ke lantai.

Suho tidak merasakan apapun. Tamparan itu, atau benturan kepalanya. Dengan sekuat tenaga Suho berusaha menjangkau pria itu, setelah dapat, ia cengkeram lalu menggigit lengan pria itu.

Mereka bergulingan bersama, menabrak meja dapur, menjatuhkan kursi kursi. Suho berusaha melepaskan diri dengan mencengkeram salah satu benda dan menghantamkannya ke dada pria itu. Tak tentu arah, terengah engah, Suho merangkak menjauh.

Tubuhnya roboh didasar tangga ruangan bawah tanah. Berbaring disana, ia masih sadar, tapi tak mampu bergerak. Samar samar ia berpikir ada yang menetes ke matanya. Mungkin darahnya sendiri.

Pandangannya berputar saat tubuhnya digulingkan. Suho menatap langsung wajah lesser itu. Rambut gelap, mata cokelat pucat.

Ya Tuhan, teriak batin Suho.

Pembantai itu menangis saat mengangkat Suho dari lantai dan mengayunnya dalam pelukan. Hal terakhir yang disadari Suho adalah air mata pria itu yang jatuh ke wajahnya.

Ia tidak merasakan apa apa.

.

.

.

" Kau menangkap vampir lain? "

O berpaling, " Ya. "

" Kalau begitu ayo kita langsung bekerja dengan tangkapan baru ini. "

O menekan sepatu botnya di atas tutup lubang berisi vampir wanita itu. " Yang ini milikku. Siapapun yang berani menyentuh wanita ini akan kukuliti. "

" Wanita? Bagus sekali. Sensei pasti akan sangat senang. "

" Kau tidak boleh memberitahunya tentang vampir wanita ini. Mengerti? " Ancam O.

Pria lain itu mengangkat bahu. " Terserahmu. Tapi kau tahu cepat atau lambat Sensei pasti akan tahu, jangan berpikir aku yang memberitahunya. "

O mengalihkan pembicaraan. " Oh ya, aku menemukan seorang wanita yang terlihat sedang bersama salah satu pejuang. Namanya adalah Oh Sehun. " O menyerahkan sebuah alamat. " Wanita itu tinggal disana. Pergi dan tangkap dia. "

Pria itu mengangguk. " Akan kulakukan, tapi ini sudah hampir fajar dan aku perlu tidur. Aku begadang dua malam berturut turut dan aku agak lemas. "

" Besok kalau begitu. Sekarang pergilah. " Ucap O.

Pria itu berbalik lalu pergi. Dengan puas, O menunduk ke tutup lubang itu, dan ia tidak bisa berhenti tersenyum.

.

.

.

Kai tidak kembali ke rumah utama sampai jam lima sore itu. Selagi berjalan menyusuri lorong, ia tidak bersuara. Ia melepaskan sepatunya gara gara basah lalu lupa dimana meninggalkan benda itu.

Ia kelebihan energi, rasa panas dalam dirinya serupa gejolak yang tak dapat disingkirkannya tak peduli seberapa lelah dirinya atau seberapa banyak beban yang diangkatnya atau seberapa jauh ia berlari. Saat ini, bukan berarti ia mempertimbangkannya, tapi ia tak dapat membayangkan bahwa berhubungan seks dengan ratusan wanita berbeda bisa meredakan gejolak dalam tubuhnya.

Tak ada jalan keluar lagi baginya, tapi sebelumnya ia harus berbicara dulu dengan Sehun. Ia tidak ingin memberitahu Sehun bahwa ia telah dikutuk seabad yang lalu dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Sehun bahwa monster yang ada dalam tubuhnya juga menginginkan Sehun. Tapi walau bagaimanapun Sehun berhak mengetahui hal ini

Ia menguatkan diri dan membuka pintu kamar mereka. Tapi Sehun tidak terlihat dikamar mereka. Dengan panik, Kai berlari ke bawah dan menemukan Fritz di dapur.

" Apakah kau melihat Sehun? " tanya Kai, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya tetap datar.

" Ya, Sire. Dia pergi. "

Darah Kai langsung membeku. " Kemana dia pergi? "

" Dia tidak mengatakannya. "

" Apakah dia membawa sesuatu bersamanya? Tas tangan? Tas untuk menginap? " Tanya Kai panik.

" Saya lihat dia membawa beberapa barangnya. "

Kai langsung berlari ke terowongan bawah tanah dan berada di depan kamar Tao dalam setengah menit. Ia menggedor gedor pintu kamar Tao.

Tao sialan itu berlambat lambat membuka pintu dan hanya mengenakan celana bokser dengan wajah mengantuk saat melakukannya. " Apa apaan _ "

" Sehun pergi dari rumah. Sendirian. Aku harus menemukannya. "

Setelah mendengar hal itu, Tao langsung fokus. Ia berjalan ke komputernya, dan membuka video kamera yang menampilkan semua gambar halaman luar yang bisa didapatkannya, dan menemukan Sehun bergelung di bawah sinar matahari, tepat didepan pintu mansion.

Kai mengambil napas dalam dalam. " Bagaimana kau membuat benda ini bergerak lebih dekat? "

" Tekan tombol zoom di sudut pojok kanan atas. "

Kai memperbesarnya. Sehun tengah memberi makan beberapa burung gereja, melempar potongan potongan kecil pada burung burung itu. Sesekali ia menengadah dan mengedarkan pandangan. Senyum di wajahnya tampak pribadi, hanya sedikit lengkungan dibibirnya.

Kai menyentuh layar, menyapukan ujung jemarinya ke wajah Sehun. " Kau tahu, kau salah, Tao. "

" Salah tentang apa? "

" Sehunlah takdirku. "

Tao mengerutkan dahinya, ia masih agak pusing karena terlalu banyak memakai narkoba. " Apakah aku bilang dia bukan takdirmu? "

Tatapan Kai fokus pada mata Tao. " Aku bukan kekasih pertama Sehun. Kau bilang takdirku adalah seorang perawan. Jadi kau salah. "

" Aku tidak pernah salah. "

Kai mengerutkan dahi, menolak gagasan bahwa ada wanita lain yang akan lebih berarti baginya atau akan menggantikan tempat Sehun dihatinya. Persetan dengan takdir kalau itu akan membuatnya jatuh cinta dengan orang lain. Dan persetan dengan ramalan Tao.

" Pasti menyenangkan tahu tentang segalanya. " Gumam Kai. " Atau setidaknya berpikir kau tahu segalanya. "

Kai berbalik, tapi sebelum ia bisa berjalan jauh, lengannya dicengkeram kuat. Mata Tao yang biasanya sangat tenang, menyipit dan gusar. " Saat aku bilang aku tidak pernah salah, aku bukan bermaksud sok. Melihat masa depan adalah kutukan, Kai. Apa kau pikir aku suka mengetahui bagaimana semua orang akan mati? "

Kai tersentak dan Tao tersenyum dingin. " Ya. Pikirkan itu. Setelah itu sadari satu satunya yang aku tidak tahu adalah waktu hal itu akan terjadi, jadi aku tidak bisa menyelamatkan kalian. Sekarang, kau mau bilang padaku kenapa aku perlu memamerkan kutukanku ini? "

" Oh Tuhan, Tao, maafkan aku... "

Tao menghembuskan napas. " Tidak apa apa. Dengar, bagaimana kalau kau menjemput Wanitamu? Dia memikirkanmu sepanjang siang. Dan jangan tersinggung, tapi aku mulai lelah mendengar kesedihannya dikepalaku. "

.

.

.

Sehun bersandar dipintu kuningan dan menengadah. Diatas, langit tampak biru membentang, sebelum matahari terbenam, ia ingin berjalan jalan dihutan, tapi kehangatan yang menembus parkanya membuatnya letih. Ia tidak bisa tidur setelah Kai meninggalkan kamar mereka, dan menghabiskan seharian berharap Kai akan kembali.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Ia bahkan tidak yakin ia melihat apa yang ia kira dilihatnya. Yang benar saja, tato tidak mungkin terangkat dari kulit seseorang. Dan tato juga tidak bergerak.

Namun bukan hanya tato yang ada dipunggung Kai yang membuatnya tidak bisa tidur semalam. Janji temunya dengan dokter Zhang adalah besok, dan ketika itu selesai, ia akan tahu perawatan seberat apa yang harus dijalaninya.

Tuhan... Ia ingin sekali membicarakan semua itu dengan Kai. Mencoba mempersiapkan kekasihnya itu.

Saat matahari tenggelam dibalik garis pepohonan, rasa dingin merambatinya. Ia berdiri, meregangkan tubuh, lalu berjalan melewati pintu pertama menuju bagian depan mansion. Karena pintu itu tertutup, ia menunjukkan wajah ke kamera lalu pintu didalam terbuka.

Sehun melihat Kai duduk dilantai tepat disebelah pintu masuk. Kai berdiri perlahan. " Hai, aku sudah menunggumu dari tadi. " Ucapnya.

Sehun tersenyum canggung. " Aku ingin memberitahumu dimana aku berada. Tapi kau tidak membawa ponselmu ketika kau _ "

" Sehun, dengar, tentang semalam _ "

" Tunggu. " Sehun mengacungkan tangan, menarik napas dalam dalam. " Sebelum kita mulai soal itu. Ada yang ingin kukatakan. Aku akan pergi ke rumah sakit besok untuk konsultasi sebelum perawatan dimulai. "

Kerutan dahi Kai begitu dalam, alisnya menyatu ditengah tengah dahinya. " Rumah sakit mana? "

" Saint Francis. " Jawab Sehun.

" Waktunya? "

" Sore. "

" Aku ingin ada yang menemanimu. " Pinta Kai.

" Salah satu pelayan? "

Kai menggeleng. " Kau pergi bersama Chen. Dia ahli dalam menangani senjata, dan aku tidak ingin kau pergi tanpa perlindungan. Dengar, bisakah kita naik? "

Sehun mengangguk dan Kai meraih tangannya, membimbingnya ke lantai dua. Ketika mereka berada di kamar mereka, Kai mondar mandir tanpa henti sementara Sehun duduk ditempat tidur.

" Kai, jelaskan padaku apa yang terjadi semalam. " Ketika Kai ragu, Sehun menambahkan. " Apapun itu, kita akan mengatasinya. Kau bisa memberitahuku apapun. "

Kai berhenti mondar mandir lalu menghadap Sehun. " Aku berbahaya. "

Sehun mengerutkan dahi. " Tidak, kau tidak berbahaya. "

" Kau tahu apa yang ada disepanjang punggungku? " Tanya Kai.

Sambil bergidik, Sehun memikirkan tato yang bisa bergerak _ Tunggu. Tato itu tidak bisa bergerak. Kai pasti bernapas dengan kuat atau apa, dan itulah sebabnya benda itu kelihatan bergerak gerak.

Melihat Sehun yang tidak kunjung menjawab, Kai melanjutkan perkataannya. " Sehun, tato yang ada dipunggungku itu adalah sebagian dari diriku. Monster itu. Dia ada didalamku. " Ia menggosok gosok dada lalu lengannya sendiri. Kini pahanya. " Aku berusaha mengontrolnya sebisa mungkin. Tapi dia... Aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bahkan sekarang, saat berada didekatmu, aku... Ya ampun, aku benar benar kacau. "

Kai mengulurkan tangannya yang gemetaran. " Sebagian alasan mengapa aku harus bertarung adalah karena pertarungan itu menjinakkan monster itu, " paparnya. " Begitu juga semua wanita itu. Aku berhubungan dengan mereka karena pelepasan seksual membantu menjauhkan si monster. Hanya saja karena sekarang aku tidak bisa serampangan seperti dulu lagi, aku jadi tidak stabil. Itulah sebabnya, semalam, aku nyaris kehilangan kendali dua kali. "

" Tunggu... Apa yang kau bicarakan? Kau berada bersamaku. Bercinta denganku. " Ucap Sehun.

Kai menggeleng. " Aku tidak bisa membiarkan hal itu terulang kembali. " Desisnya. " Aku tidak bisa... Bercinta denganmu lagi. "

Terperangah, Sehun memandangi Kai. " Maksudmu, kau tidak akan bersamaku sama sekali? Takkan pernah lagi? "

Kai menggeleng geleng. " Takkan pernah. "

" Apa apaan? " Geram Sehun. " Kau menginginkanku. " Matanya bergerak turun ke selangkangan Kai. " aku bisa melihat saat inipun kau menginginkanku. Aku bisa mencium kebutuhan yang kau inginkan dariku. "

Mendadak mata Kai berhenti berkedip dan berkilat putih.

" Kenapa matamu berubah? " Bisik Sehun.

" Karena monster itu... Hidup. " Lirih Kai.

Ketika Sehun hanya diam, irama napas Kai mulai aneh. Dua tarikan, satu embusan napas panjang. Dua tarikan napas pendek, satu tiupan pelan.

Sehun berjuang untuk memahami apa yang dikatakan Kai. Dan gagal, sebagian besarnya. Kai pasti bermaksud mengatakan dia memiliki semacam alter ego yang sangat kasar.

" Sehun, aku tidak... Bisa bercinta denganmu karena... Karena ketika aku bersamamu, monster ini ingin keluar. " dua napas cepat lain. " Monster ini ingin... "

" Ingin apa tepatnya? " Tanya Sehun.

" Dia menginginkanmu. " Kai mundur menjauh dari Sehun. " Sehun, monster ini ingin berada... Di dalammu. Kau mengerti apa yang kukatakan? Sisi lain diriku ini ingin bercinta denganmu. Aku... Aku harus pergi. "

" Tunggu! " Teriak Sehun, membuat Kai berhenti. Mata mereka bersitatap. " Kalau begitu biarkan dia mendapatkanku. "

Mulut Kai menganga lebar. " Apa kau sudah gila? "

Tidak, aku tidak gila. Batin Sehun. Mereka bercinta dengan keputusasaan yang nyaris mengarah ke kekerasan. Sehun pernah merasakan tingginya hasrat Kai. Kalau sisi lain Kai yang ini keras, ia merasa mampu mengatasinya.

" Lepaskan saja. Tidak apa apa. " Ucap Sehun lembut.

Dua sentakan napas pendek. Satu embusan napas panjang. " Sehun, kau tidak tahu... Apa yang barusan kau katakan. "

Sehun berusaha memperingan suasana. " Memangnya apa yang akan kau lakukan? Memakanku? "

Ketika Kai hanya memandanginya dengan mata putih itu, tubuh Sehun terasa dingin.

" Kita ikat saja dirimu. " Usul Sehun.

Kai menggeleng geleng saat tersandung kakinya sendiri dan mencengkeram kenop pintu. " Aku tidak ingin mengambil resiko itu. "

" Tunggu! Apakah kau tahu pasti apa yang akan terjadi? " Tanya Sehun.

" Tidak. " Kai menggaruk garuk lehernya dan bahunya.

" Adakah kemungkinan kau akan mendapatkan pelepasan seperti yang kaubutuhkan? "

" Mungkin. " Jawab Kai.

" Kalau begitu kita coba saja. Aku akan lari kalau... Yah, kalau ada hal aneh yang terjadi. Kai ijinkan aku melakukan ini untuk kita berdua. Lagipula, apa pilihan yang ada? Aku pindah? Kita tidak bertemu satu sama lain? Kita tidak pernah bercinta lagi? Maksudku, yang benar saja, kau begitu gatal saat ini, kau sudah hampir melompat keluar dari kulitmu. "

Rasa takut membanjiri wajah Kai, membuat mulutnya tegang, matanya melebar. ekspresi rasa malu, penderitaan mengerikan dan menyakitkan yang diperlihatkan Kai, membuat Sehun menghambur melintasi ruangan untuk menghampiri Kai. Ia meraih tangan Kai, merasakannya gemetar.

" Aku benci melihatmu seperti ini, Kai. "

Saat Kai ingin berbicara, Sehun langsung memotong. " Dengar, kau tahu apa yang kita hadapi disini, dan aku tidak. Lakukan apa yang harus kaulakukan untuk mengamankan dirimu sendiri setelah itu... Kita lihat apa yang terjadi. "

Kai menunduk menatap Sehun. Sehun ingin memaksa pria itu, tapi merasa itu hanya akan membuat Kai makin menjauh darinya.

" Biarkan aku membicarakannya dengan Tao sebentar. " Kata Kai akhirnya.

.

.

.

" Rantai, " Ulang Kai, selagi berdiri ditengah tengah ruang duduk pit.

Tao menengadah. " Jenis seperti apa, contohnya? "

" Rantai yang biasa kau pakai untuk menderek mobil. "

Chen masuk dari arah dapur, membawa bir disatu tangan, sandwich ditangan lain. " Hei, Kai. Ada apa? "

" Aku ingin kalian berdua merantaiku ke tempat tidur. " Ucap Kai.

" Nakal. " Goda Chen.

" Jadi, apakah kita punya benda yang bisa kita gunakan, Tao? " Tanya Kai kembali.

" Kurasa ada rantai dibengkel. Tapi Kai, apa yang kaupikirkan? "

" Aku butuh... Bersama Sehun. Tapi aku tidak ingin melewati _ " Kai berhenti bicara. Mengembuskan napas. " _ aku takut berubah. Terlalu teler. "

Mata pucat Tao menyipit. " Kau sudah sangat lama tidak berhubungan dengan wanita lain lagi, bukan? "

Kai mengangguk. " Aku hanya menginginkan Sehun. Aku bahkan tidak bisa terangsang oleh siapapun saat ini selain dengan Sehun. "

Tao dan Chen menghela napas bersamaan. " Kita bakal membutuhkan rantai besi. "

.

.

.

O makin gugup. Wanita vampir yang ia culik belum sadar sepenuhnya dan ini sudah delapan belas jam. Seharusnya wanita vampir ini sudah siuman sekarang.

O berjalan ke lubang tempat wanita itu berada. Ia sudah membuka tutup lubang itu. Ia melihat wanita itu meringkuk didasar, bersandar lemah di dinding pipa.

Ia ingin mengeluarkan wanita itu, ingin memeluknya dan menciumnya tapi belum saatnya. O kembali menutup lubang dan mondar mandir. Akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan kekasihnya lagi, well, walaupun wampir wanita ini bukan kekasih sesungguhnya, tapi vampir ini memiliki wajah yang mirip dengan kekasihnya. Dan ia berharap bisa bercinta dengan vampir wanita ini. Ia akan menerima hadiah yang diberikan padanya dan menjaganya dengan baik. Kali ini tak ada yang akan merebut kekasihnya lagi darinya.

.

.

.

Chanyeol bangun dari tidurnya dan berjalan telanjang di sekeliling kamar yang ditempatinya.

Apa yang terjadi kemarin dengan Suho menyiksanya. Ia ingin menemui Suho dan meminta maaf, tapi bagaimana caranya?

Ia memejamkan mata dan mengingat bagaimana tangan lembut Suho menyentuh dadanya yang telanjang dengan jemarinya yang panjang dan elegan, dengan kuku kuku cantik tanpa kuteks diujungnya. Sentuhannya sangat ringan.

Chanyeol membuka mata dan menyingkirkan omong kosong yang berkecamuk dipikirannya. Hal terbaik yang bisa dilakukannya untuk Suho, untuk menebus kesalahannya adalah memastikan Suho takkan pernah melihatnya lagi.

Walaupun ia akan melihat Suho. Setiap malam ia akan mengunjungi rumah Suho dan memastikan wanita itu baik baik saja. Ia akan melindungi wanita itu dari balik bayang bayang.

Memikirkan melindungi Suho menenangkan Chanyeol.

Ia tak bisa memercayai dirinya untuk berada dekat dengan Suho. Tapi ia percaya sepenuhnya pada kemampuannya untuk menjaga keselamatan Suho, tak peduli sebanyak apapun lesser yang harus dibunuhnya agar Suho bisa selamat.

.

.

.

.

.

.

TBC? END?

Hallo readers...

Gini aku pengen jelasin sesuatu ke kalian, bukan niatku buat update lama tapi aku kan punya target kalo review lebih 20 baru aku lanjut, lahh target review aza belum nyampe gimana aku mau post?

Kalo kalian ngerasa aku terlalu memaksa dalam review, merasa jengkel ya udah jangan dibaca FF yang aku bikin.

Kalo pengen update cepet tolong reviewnya yaaa. Aku target gak banyak kok cuma 20 lebih kok kayaknya susah banget yaa terlalu banyak silent readers yang gak menghargai karya seseorang. Aku tahu ini cuma FF remake bukan karya ku sendiri tapi remake juga perlu waktu, perlu tenaga. Jadi tolong dihargai yaa. Lebih 20 ya reviewnya baru di post chapter yang baru.

# Juju Jongodult