LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 16
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)
RATED M
.
JUJU JONGODULT
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
.
HAPPY READING
.
Sehun berjalan mondar mandir disepanjang balkon lantai dua. Ia tidak bisa melihat Chen dan Tao memasang rantai di tubuh Kai. Dan sulit diketahui apakah mereka berdua mempersiapkan Kai untuk bercinta dengannya bisa dianggap sebagai luar biasa erotis atau malah sangat menakutkan.
Sehun berbalik saat pintu balkon terbuka.
" Dia sudah siap. " Ucap Chen.
Tao keluar sambil menarik Chen. " Kami akan berjaga jaga di lorong sini. Kalau kalau kau membutuhkan kami. "
Insting pertama Sehun adalah mengusir mereka berdua. Betapa menakutkan membayangkan mereka akan berada tepat didepan pintu kamar saat ia dan Kai bercinta.
Tapi kemudian ia membayangkan banyaknya rantai besi yang mereka bawa ke dalam tadi. Ia begitu terkejut saat melihatnya.
" Apakah kau yakin kau perlu menunggu? " Tanya Sehun.
" Percayalah pada kami dalam hal ini, " Gumam Chen.
Sehun berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu. Lilin lilin disisi tempat tidur dinyalakan, dan Kai berbaring telanjang di tempat tidur, lengannya ditekuk ke atas kepala, kakinya direntangkan lebar lebar. Rantai diikatkan di sekeliling pergelangan tangan dan pergelangan kakinya, lalu dililitkan ke tiang tiang besar tempat tidur yang terbuat dari kayu ek.
Kai menaikkan kepala, mata biru kehijauannya menusuk dalam keremangan. " Kau yakin tentang hal ini, Sehun? "
Sehun menggelengkan kepalanya. " Kau kelihatan tidak nyaman. "
" Ini tidak terlalu buruk. " Kai membaringkan kepalanya. " walaupun aku senang itu cuma tiang tempat tidur dan bukannya kuda yang berjalan ke empat penjuru yang berbeda. "
Sehun memandangi tubuh indah Kai, tergeletak untuknya seperti semacam persembahan sensual.
Sehun menendang lepas sepatunya, menarik mantel bulu dan kaosnya lewat kepala, dan menanggalkan celana jinsnya.
Kepala Kai terangkat lagi, melihat Sehun melucuti pakaiannya sendiri membuatnya terangsang. Sehun terdiam sejenak saat melihat perubahan kejantanan Kai, menjadi keras. Wajah Kai merah padam dan tubuh indah dan mulus Kai mulai berkeringat.
" Sehun... " Pupil mata Kai berubah putih dan ia mulai mendengkur, mengayun pinggulnya. Dengan sentakan kuat yang mendadak, lengan lengannya terangkat dan menarik ikatannya. Rantai rantai berdenting, bergerak.
" Kau baik baik saja? " Tanya Sehun.
" Oh, Sehun. Aku... Kami lapar. Kami... Sangat mendambakanmu. "
Mengumpulkan segenap keberaniannya, Sehun menghampiri tempat tidur. Ia membungkuk dan mencium bibir Kai, lalu naik ke tempat tidur. Mengangkangkan kakinya, lalu duduk di atas perut Kai.
Hal itu membuat Kai langsung meronta ronta.
Sehun berusaha memasukkan kejantanan Kai ke dalam holenya, namun gagal pada usaha pertama. Ia mencoba lagi dan meringis.
" Kau belum siap untukku, " Ucap Kai, melengkungkan tubuh saat Sehun mencoba lagi.
" Tidak apa apa, biar aku _ "
" Kemarilah, " Saat Kai bicara, suaranya berubah lebih berat. " cium aku, Sehun. "
Sehun menunduk didada Kai dan mencium bibir pria itu, berusaha menumbuhkan hasratnya sendiri. Tapi tidak berhasil.
Kai melepaskan diri dari ciuman mereka, seolah merasa kekurangminatan Sehun.
" Lebih tinggi lagi, Hun. " Rantai rantai bergerak, " Aku ingin merasakan payudaramu. "
Dengan patuh Sehun menuruti perintah Kai dan meletakkan puncak payudaranya dimulut Kai. Kai langsung melumat nipple Sehun, menghisapnya dengan lahap seperti bayi yang menyusui. Segera setelah Sehun merasakan bibir Kai mengulum dan menghisap, tubuhnya merespon. Ia memejamkan mata, merasa lega saat hasrat panas menguasainya.
Kai sepertinya menyadari perubahan dalam diri Sehun, karena suara dengkuran dalam tubuhnya semakin kencang, menggemakan bunyi yang indah di udara. Saat ia mencumbu payudara Sehun dengan bibirnya, kejantanannya mulai mengeras menggesek paha Sehun, dadanya naik, lalu leher dan kepalanya tersentak ke belakang. Keringat baru bercucuran di sekujur tubuhnya, aroma kebutuhannya untuk bersatu dengan Sehun memenuhi udara dengan wangi rempah.
" Sehun, biarkan aku merasakanmu. " Suara Kai begitu berat hingga kata katanya sulit dimengerti. " Aku ingin merasakan hasratmu yang manis. Biarkan aku merasakanmu. "
Sehun menunduk dan langsung bertatapan dengan bulatan putih berkilauan. Mata itu memiliki daya hipnotis, memancarkan bujukan erotis yang tak mampu ditahannya, walaupun ia tahu ia tidak hanya bersama Kai saat ini.
Sehun merangkak naik lagi, berhenti ketika vaginanya berada didada Kai. Keintiman ini entah bagaimana terasa mengejutkan, apalagi dengan Kai diikat seperti ini.
" Lebih dekat lagi, Sehun. " Bahkan cara Kai mengucapkan namanya tidaklah sama. " Lebih dekat lagi kemulutku. "
Sehun bergerak dengan canggung, ia meletakkan masing masing kakinya di samping kanan kiri kepala Kai. Melebarkan, lalu mengarahkan vaginanya ke mulut Kai. Sehun bergerak mengakomodasi posisinya agar memudahkan Kai menjangkau vaginanya.
" Oh... Sehun. " Erangan Kai bergema, membuat Sehun mencengkeram lengan Kai.
Kai mulai menjilati kulit disekitar vagina Sehun, menghisap klitoris sebelum kembali menjilat, lalu mulai mengarahkan ke lubang vagina Sehun.
Kaki Sehun bergetar saat merasakan Kai mencumbunya dengan lidah lihai pria itu. " Aaahh.. Kai.. " Kenikmatan itu menyita seluruh keengganannya, menjadikannya budak bagi Kai yang mencumbunya dengan luar biasa intim.
Terdengar suara tajam yang diikuti geraman saat rantai rantai ditarik kuat dan tiang tiang tempat tidur memprotes. Lengan lengan Kai mengencang pada rantai yang mengikatnya, otot ototnya bertonjolan, jemarinya membuka lebar lalu melengkung seperti cakar.
" Ya, oohh... Begitu, " Ucap Kai. " aku bisa merasakanmu.. "
Sehun mengangkat lalu menurunkan pinggulnya, membuat lidah Kai keluar masuk lubang vaginanya. Sehun semakin mencengkeram lengan Kai saat dirinya hampir mencapai puncak. Perpaduan desahan napas dan lidah Kai di vaginanya membuatnya tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Suara Kai berubah makin rendah hingga menjadi geraman. Sehun mencapai puncak dan ia pun roboh ke atas tubuh Kai, dalam posisi yang janggal. Sehun menyampingkan wajahnya saat kejantanan keras Kai menyentuh pipinya. Sehun mulai menjilati kejantanan Kai, membuat Kai semakin mengencangkan tarikan rantainya.
Sehun membalikkan tubuhnya, menyuguhkan pemandangan indah bagian pribadinya tepat didepan wajah Kai. Sehun mulai mengulum kejantanan Kai, menghisap kepala kejantanan Kai dengan pelan sebelum melepasnya dengan bunyi ' pop '. Lalu kembali mengulum dengan cepat. Tangannya yang bebas, meremas testis Kai yang merah karena menegang. Sehun begitu menikmati, mengeluar masukkan kejantanan Kai dengan lembut dimulutnya membuat tubuh Kai terlonjak karena hasrat.
" Se... Sehun.. Oohh.. "
Sehun menggesek gesekkan vaginanya di dada Kai, membasahi dada Kai dengan cairannya. Bunyi rantai semakin terdengar kuat. Tiba tiba Sehun melepas kulumannya lalu berbalik menghadap Kai. Ia menatap Kai. Mata putih dan tak berkedip itu melebar takjub dan heran. Sehun benar benar terkesima pada Kai.
Kai menatap Sehun, bernapas dengan pola dua tarikan diikuti satu embusan panjang. " Sekarang, Sehun. " Suaranya dalam dan aneh. Seperti bukan suara Kai.
Namun Sehun tidak merasa takut mendengar suara Kai yang berbeda. Ia tidak merasa takut ataupun merasa dirinya mengkhianati Kai.
Apapun yang keluar dari diri pria itu, tidaklah brutal ataupun sama sekali asing. Ia sudah merasakan... Hal ini didalam diri Kai sejak lama dan tahu ini bukan sesuatu yang perlu ditakutinya. Dan saat ia bersitatap dengan mata Kai. Ia yakin akan menerima Kai dan monster yang ada ditubuh Kai.
Sehun bergerak turun, satu tangannya menggenggam kejantanan Kai dan mengarahkannya ke lubang vaginanya. Saat tubuh mereka menyatu, pinggul Kai menyentak, dan teriakan lantang lain keluar dari tenggorokannya saat tubuhnya merespon Sehun dan bergerak dalam entakan entakan liar yang makin lama makin kuat.
" Nyahh.. Ahhh.. Kaiaahh... " Sehun mencengkeram pinggul Kai kuat. Gerakan liar Kai membuatnya... Entahlah ia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata kata. Kai memang bergerak kasar tapi juga lembut disaat bersamaan. Sehun bisa melihat tatapan memuja di mata putih itu, tatapan yang begitu memuja padanya.
Sehun menekuk kedua kakinya dan lebih melebarkan pahanya, ia menggerakkan pinggulnya naik turun seirama dengan hunjaman Kai.
" Oohhh.. " Sehun mendesah pelan merasakan kejantanan Kai menekan pusat gairahnya. Ia menjatuhkan tangannya ke atas perut Kai lalu mencengkeramnya, menyalurkan rasa nikmat hasratnya.
Posisi itu membuat Kai dapat menghunjam lebih dalam, karena posisi bokong Sehun yang agak naik. Tubuh Sehun jatuh diatas tubuh Kai, tersentak sentak karena hunjaman keras dan kencang Kai.
Tubuh mereka bergerak dengan irama yang sama. Tangan Sehun menemukan nipple Kai yang menegang. Sentuhan kulit mereka terasa panas karena gesekan gairah.
Gerakan pinggul Kai semakin kuat dan liar, sekujur tubuhnya gemetar. Sehun hanya bisa mengikuti dengan pasrah gerakan tubuh Kai. Posisi tubuhnya memang diatas tapi dia sama sekali tidak bisa mengendalikan gerakan hasrat liar sang monster. Gelombang badai hasrat itu semakin meninggi, meninggi, hingga akhirnya tubuh Kai melengkung dari tempat tidur, tangan dan kaki berkontraksi hingga tempat tidurnya berderit. Kelopak matanya terangkat, cahaya putih membelah kamar, membuat tempat itu seterang siang bolong. Jauh didalam Sehun bisa merasakan sperma Kai memenuhinya, dan sensasi itu menimbulkan ketegangan baru dalam dirinya sendiri, dan akhirnya ia menyusul Kai. Cairan klimaksnya membasahi kejantanan Kai.
Sehun roboh didada Kai ketika semua sudah berakhir, dan tubuh mereka diam kecuali untuk bernapas. Ia mengangkat kepala untuk memandang wajah Kai. Mata putih Kai tampak menyala nyala saat menatapnya dengan tatapan memuja penuh.
" Sehun- ku, " Monster yang ada dalam diri Kai berucap.
Lalu tegangan listrik rendah menyetrum tubuh Sehun dan lepas ke udara. Semua cahaya diruangan menyala, membanjiri tempat itu dengan cahaya terang. Sehun terkesiap dan melihat ke sekeliling, tapi tegangan itu menghilang secepat datangnya. Begitu saja, energi itu pun hilang.
Sehun menunduk dan melihat mata Kai kembali normal, mata biru kehijauan yang bersinar.
" Sehun? " Tanya Kai dengan suara terkesima, tidak jelas.
Sehun harus menarik napas beberapa kali sebelum bicara. " Kau sudah kembali. "
" Dan kau baik baik saja. " Kai menaikkan lengan, menggerak gerakkan tangannya. " Aku tidak berubah? "
" Apa maksudmu, berubah? "
" Aku tidak... Aku bisa melihatmu saat monster itu bersamaku. Kau tampak kabur, tapi aku tahu kau tidak dilukai. Ini pertama kalinya aku bisa ingat apapun. "
Sehun tidak tahu bagaimana harus mencerna hal itu, tapi melihat rantai rantai itu telah melukai kulit Kai membuatnya sedih. " Bisakah aku melepaskanmu sekarang? "
" Ya, tolong. "
Sehun bergerak mengangkat tubuhnya untuk melepaskan ikatan tangan Kai tapi respon yang ia terima membuatnya terkejut.
" Oohh... " Erang Kai.
Sehun yang baru saja mengangkat separo tubuhnya, tiba tiba menghentakkan lagi tubuhnya. " Ada apa Kai? "
" Se... Sehun. "
" Aaahh.. " Desah Sehun saat merasakan Kai kembali menghunjamkan kejantanan pada lubang vaginanya. " Kaiiaahh... "
" Hun, bi... Bisakah kau melepaskan ikatanku? " Kai terus menghunjam tanpa memberikan Sehun kesempatan untuk protes.
Sehun kembali mengangkat tubuhnya, dan Kai juga mengangkat sedikit pinggulnya agar ia kejantanannya tetap tertanam di kehangatan vagina Sehun.
Melepaskan semua ikatan itu memakan waktu karena Kai sama sekali tidak mengurangi kecepatan hunjamannya. Dengan tubuh tersentak sentak Sehun bersusah payah melepaskan ikatan, berusaha secepat mungkin agar ia bisa menikmati.
Kai bergerak lebih lembut ketika melihat wajah Sehun yang meringis. Ia berusaha menekan keinginannya untuk bergerak lebih cepat.
" Kaiii... " Sehun menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan pinggul Kai. Sensasi menegangkan itu kembali membuat gerakan hunjaman mereka sedikit lebih cepat.
Kai bisa merasakan Sehun mendapatkan klimaksnya lebih dulu, karena merasakan kejantanannya dijepit cukup kuat oleh dinding vagina Sehun membuatnya klimaks sambil meneriakkan nama Sehun.
" Sehunnn... "
Sehun merebahkan tubuhnya didada Kai, tangan Kai yang sudah bebas memeluk tubuh Sehun dengan erat. Ia bangun dan membawa Sehun duduk dipangkuannya. Sehun bangkit dan duduk disamping Kai. Kai memijat mijat pergelangan tangan dan kakinya dan mengamati Sehun dengan seksama, seolah meyakinkan diri bahwa Sehun baik baik saja.
Sehun mencari cari jubah kamar. " Sebaiknya aku memberitahu Tao dan Chen kalau mereka boleh pergi sekarang. "
" Biar aku saja. " Kai berjalan ke pintu kamar dan menjulurkan kepala keluar.
Saat Kai berbicara dengan kedua pria itu, Sehun menatap tato dipunggung Kai. Ia berani bersumpah tato itu tersenyum padanya. Ia langsung melompat naik ke tempat tidur dan menyelimuti diri.
Kai menutup pintu dan bersandar disana. Ia masih kelihatan tegang, meskipun ia sudah mendapatkan pelepasannya. " Setelah semua itu... Apakah kau akhirnya takut padaku? "
" Tidak. "
" Apakah kau takut pada... Nya? "
Sehun membuka selimut lalu mengulurkan tangan. " Kemarilah. Aku ingin memelukmu. Kau kelihatan seperti orang yang sangat cemas. "
Kai menghampiri tempat tidur perlahan, seakan tidak ingin Sehun merasa dibuntuti atau apa. Sehun memberi isyarat dengan tangan, mendorong Kai untuk bergerak lebih cepat.
Kai berbaring disamping Sehun, tapi tidak menyentuhnya.
Setelah beberapa detik melihat respon Kai yang masih takut mendekatinya, Sehun berinisiatif untuk mendekat, melingkupi tubuh Kai dengan tubuhnya sendiri, tangannya menelusuri tubuh Kai. Usapannya pada sisi tubuh Kai, mengenai ujung ekor si naga, Kai berjengit dan bergerak.
Sehun menghela napas, mengerti kalau Kai tidak ingin ia dekat dekat dengan monster itu. " Bergulinglah, " Pinta Sehun. " Menelungkup. "
Kai menggeleng, menolak. Sehun mendorong bahu Kai, rasanya seperti berusaha menggerakkan piano besar.
" Bergulinglah. Ayolah, Kai. " Pinta Sehun lagi.
Memandang Sehun, akhirnya Kai menurut. Ia menurut tanpa keanggunan sama sekali, merutuk dan berbaring menelungkup.
Sehun menelusurkan tangannya dipunggung Kai, tepat di atas si naga.
Otot otot Kai berkontraksi tak beraturan. Itu adalah bagian tubuhnya yang berhubungan dengan tempat Sehun menyentuh tatonya.
Sehun mengusap punggung Kai lagi, merasa seakan tato itu terangkat untuk menemui telapak tangannya seperti kucing yang minta dielus.
" Apakah kau akan mau bersama denganku lagi? " Tanya Kai kaku. Ia menolehkan kepala ke samping supaya bisa melihat Sehun. Hanya saja matanya tidak menatap Sehun.
Sehun berlama lama dimulut si monster, menelusuri garis bibir si monster dengan ujung jarinya. Bibir Kai sendiri membuka seolah merasakan sentuhannya.
" Kenapa aku tidak mau bersamamu lagi? " Tanya Sehun.
" barusan agak aneh, bukan? "
Sehun tertawa. " Aneh? Aku tidur di mansion penuh vampir. Aku jatuh cinta pada... " Sehun berhenti bicara. Ya ampun, apa yang barusan terlontar dari bibirnya?
Kai mendorong tubuhnya bangkit dari tempat tidur, membalikkan dada supaya bisa menatap Sehun. " Apa yang barusan kau katakan? "
Aku tidak bermaksud mengatakannya, batin Sehun. Bagian jatuh cinta maupun mengungkapkannya. Tapi ia takkan menarik kembali ucapannya.
" Aku tidak yakin, " gumam Sehun, meyerap kekuatan bahu dan lengan Kai. " Tapi kurasa aku menyebut nyebut soal ' aku mencintaimu '. Ya, kurasa begitu. Aku, eh, aku mencintaimu, Kai. "
Itu memalukan sekali, teriak batin Sehun. Seharusnya ia bisa berbuat jauh lebih baik.
Sehun merangkum wajah Kai, mencium bibir pria itu kuat kuat, lalu menatap Kai lekat lekat. " Aku mencintaimu, Kai. Aku sangat mencintaimu. "
Lengan Kai merangkul Sehun dan ia membenamkan kepalanya di leher Sehun. " Kukira kau takkan pernah bisa jatuh cinta padaku. "
" Apakah aku sekeras kepala itu? "
" Bukan. Karena aku tidak layak dicintaimu oleh wanita sempurna sepertimu. "
Sehun memundurkan tubuh dan memelototi Kai. " Aku tidak mau mendengarmu mengatakan hal semacam itu lagi. Kau hal terbaik yang pernah terjadi dikehidupanku. "
" Bahkan dengan adanya makhluk buas itu? "
Makhluk buas? Tentu, ia bisa merasakan ada yang lain dalam diri Kai. Tapi makhluk buas itu tidak berbuat jahat padanya.
" Ya, bahkan dengan adanya si makhluk buas. Hanya saja bisakah kita melakukannya tanpa semua rantai ini, nanti? Aku sangat yakin kau takkan melukaiku. " Ucap Sehun.
" Ya, kurasa kita bisa melakukannya tanpa rantai. "
Sehun mendekap Kai kembali ke lekuk lehernya. " Kau adalah mukjizat yang paling aneh, " Bisiknya pada Kai.
" Apa? " Tanya Kai dileher Sehun.
" Tidak ada apa apa, sayang. " Sehun mencium puncak kepala pirang Kai dan kembali menikmati aroma kulit maskulin Kai.
.
.
.
.
.
.
TBC? END?
CHOCO MILK COUPLE EVENT #904 #0904 #KAIHUNDAYS #94DAYS.
Well, HAPPYKAIHUNDAYS FOR KAIHUN SHIPPER.
Makasih yaa bagi semua readers yang udah kasih review, trus makasih juga bagi " Xnapoenya " makasih bnyk udah bilangin kalo translate itu gak capek. Yahh kalo gak capek, kamu aza deh yang translate. Karena aku ngerasa capek. Aku emang gak minta ijin ama authornya langsung. Dan ya tentu aza lah author aslinya kagak mentingin review soalnya yang dia pentingin novelnya dia kejual ato kagak. Itu yg lebih dipentingkan ama authornya. Kalo kagak ada yg beli novel dia ngapain dia capek2 nulis lagi.
Terserah situ deh bilang ane apa? Mw ngemeng ane author sok hebat kek, pengemis review kek, author sombong kek, terserah lah yaa. Tolong kasih tau aku author mana yg gak mentingin review? Bahkan author di AFF pun juga minta2 review.
Maaf kalo anda tidak terima dengan kata kata kasar ane.
