LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 17
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)
RATED M
.
JUJU JONGODULT
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
.
HAPPY READING
.
Suho menarik napas dalam dalam dan mencium bau tanah, matanya terbuka. Gelap. Hitam. Buta.
Ia berusaha menaikkan sebelah tangan, tapi sikunya menabrak dinding yang tidak rata. Ada dinding lain di belakang dan didepannya, juga dikedua sisinya. Ia memukul mukul tempat kecil itu, panik. Membuka mulut sampai menganga lebar, ia mendapati diri tak mampu bernapas. Tak ada udara, hanya bau tanah lembab, menyumbat... Hidung... Ia...
Menjerit.
Lalu sesuatu di atasnya bergerak. Tiba tiba ada cahaya yang membutakannya saat ia menengadah.
" Sudah siap untuk keluar? " Tanya suara itu dengan lembut.
Dengan sentakan cepat, Suho tidak bisa melawan saat tubuhnya diangkat dengan tali yang diikat di dadanya. Saat ia mengedarkan pandangan dengan ngeri, ia sama sekali tidak tahu dimana ia berada. Ruangan itu tidak luas dan dinding dindingnya pun belum jadi. Tak ada jendela, hanya dua atap kaca dilangit langit yang rendah, keduanya ditutup kain hitam. Tempat itu berbau manis, kombinasi kayu pinus baru dan bau bedak bayi kaum lesser.
Suho bergetar saat pandangannya tertumbuk pada meja baja tahan karat dan belasan pisau dan palu.
" Jangan cemaskan soal itu, " Kata sang lesser. " Kau takkan merasakan semua itu sepanjang kau bersikap baik. "
Tangan pria itu tenggelam di rambut Suho dan menebarkan rambutnya di bahu. " Kau akan mandi sekarang, dan kau akan mencuci ini. Kau akan mencucikan ini untukku. "
Pria itu meraih tumpukan pakaian. Saat ia menekan tumpukan pakaian itu ke tangan Suho, Suho menyadari itu pakaiannya sendiri.
" Kalau kau bersikap baik, kau boleh mengenakan pakaian ini. Tapi tidak sampai kau bersih. " Pria itu mendorong tubuh Suho menuju pintu terbuka, tepat saat terdengar bunyi ponsel. " Kebawah, mandi sekarang. "
Terlalu bingung dan takut untuk berdebat, Suho terhuyung ke kamar mandi yang belum jadi yang tak ada toiletnya. Seperti orang malas, ia menutup pintu dan membuka aliran air dengan tangan yang gemetaran. Ketika ia memutar tubuh, ia melihat lesser itu telah membuka pintu dan mengawasinya.
Pria itu menutup panggilan teleponnya. " Lepaskan pakaianmu sekarang. "
Suho memandangi pisau pisau yang ada di atas meja. Rasa pahit naik ke tenggorokannya saat ia mulai menanggalkan pakaian. Ketika sudah selesai, ia menutupi diri dengan tangan gemetar.
Lesser itu lalu menaruh ponselnya. " Kau tidak boleh bersembunyi dariku. Jauhkan tanganmu. "
Suho mundur, menggeleng gelengkan dengan kebas.
" Jauhkan tanganmu. "
" Tolong, jangan _ "
Pria itu mengambil dua langkah dan menampar wajah Suho, membuatnya terdorong ke dinding. Lalu pria itu meraihnya.
" Tatap aku. TATAP AKU! " Mata pria itu berkilauan senang ketika Suho membalas tatapannya. " Astaga, senang rasanya bertemu denganmu lagi. "
Pria itu melingkarkan lengan di tubuh Suho, mendekapnya erat. Bau manis pria itu membuat Suho mual.
.
( ^ _ ^ )
.
Sehun memandang Chen yang sekarang tengah menjadi pengawalnya.
" Kau butuh sesuatu sebelum kita kembali? " Tanya Chen saat merasakan pandangan mata Sehun.
" Tidak, trims. Kita pulang saja. " Sahut Sehun.
Sore itu benar benar melelahkan dan masih belum menghasilkan apa apa. Dokter Zhang masih berdiskusi dengan koleganya dan memerintahkan Sehun untuk menjalani MRI dan tes fisik lain. Lebih banyak darah diambil karena tim dokter ingin memeriksa ulang beberapa fungsi liver.
Sebenarnya Sehun benci menjalani ini tanpa kepastian sama sekali. Jadi saat ia dan Chen berjalan ke tempat parkir dan masuk ke mobil, Sehun merasa luar biasa jengkel sekaligus lelah. Apa yang benar benar dibutuhkannya sekarang adalah tidur, tapi ia terlalu gelisah, sehingga tidak mungkin bisa tidur.
" Emm, Chen, bisakah kau mengantarku ke rumahku dalam perjalanan pulang? Aku ingin mengambil beberapa obat yang kutinggalkan. "
" Aku ingin menghindar pergi kesana sebisa mungkin. Apakah tidak bisa membeli apa yang kau perlukan di apotek atau sesuatu? " Pinta Chen.
" Itu obat resep dokter, Chen. Hanya sebentar saja, kumohon. "
Chen mengerutkan dahi. " Baiklah. Tapi kau harus cepat, dan aku ikut masuk denganmu. "
Lima belas menit kemudian mereka parkir di jalur mobil rumah Sehun. Dalam keremangan senja, ia memperhatikan rumahnya yang terlantar tak terurus. Ia berharap siapapun yang akan membeli rumahnya nanti akan menyukai tempat ini sebesar ia menyukainya.
Saat ia masuk ke dalam rumah, angin dingin bertiup di ruang duduk, dan ternyata jendela di atas bak cuci piring di dapur terbuka. Ia menutup jendela itu, ia menduga pasti Tao membiarkannya terbuka ketika ia datang untuk memasang sistem alarm sebelum ia pindah. Ia mengunci jendela itu lalu naik tangga menuju kamarnya untuk mengambil obatnya.
Sebelum mereka pergi, ia berhenti dipintu geser belakang dan melihat ke halaman belakangnya. Kolam dipenuhi dedaunan, permukaannya tampak keruh. Padang rumput disebelah sana merupakan gelombang pucat _
Sesuatu berkedip di rumah Suho.
Instingnya langsung siaga. " Chen, keberatan kalau kita memeriksa itu? " Tunjuk Sehun pada cahaya yang berkedip.
" Tidak bisa. Aku harus membawamu pulang sekarang. "
Sehun menggeser pintu belakangnya.
" Sehun, disana tidak aman. "
" Dan itu rumah Suho. Seharusnya tak ada yang bergerak dirumahnya pada jam segini. Ayo. "
" Kau bisa menelponnya saat kita berada di dalam mobil. " Ucap Chen.
" Aku akan menelponnya dari sini. " Sedetik kemudian ia menutup telepon dan berjalan menuju pintu belakangnya lagi. " Tidak dijawab. Aku akan kesana. "
" Omong kosong - Sehun, tunggu! Ya ampun, jangan paksa aku melemparmu ke bahuku dan menggotongmu keluar dari sini. "
" Kalau kau berani melakukan hal semacam itu dan aku akan memberitahu Kai kalau kau mencoba menggerayangiku. " Ancam Sehun.
Mata Chen berkilat kilat. " Ya ampun, kau manipulator, sama seperti Kai. "
" Tidak juga, tapi aku sedang belajar. Nah, kau ikut denganku atau aku pergi sendirian? "
Chen menyumpah serapah dan meraih pistolnya. " Aku tidak suka ini. "
" Aku tahu. Dengar, kita hanya akan memastikan Suho baik baik saja. Takkan butuh waktu lebih dari sepuluh menit. " Ucap Sehun.
Mereka berjalan melintasi padang rumput, Chen mengawasi lapangan itu dengan tajam. Saat mereka semakin dekat ke rumah pertanian itu, Sehun bisa melihat pintu Prancis dibekalang rumah Suho berayun terkena angin dan memantulkan sinar terakhir matahari.
" jangan jauh jauh dariku, oke? " Kata Chen saat mereka berjalan ke pekarangan.
Mereka berjalan hati hati ke dalam.
" Ya Tuhan, " Ucap Sehun lirih.
Kursi kursi bergeletakan di seputar dapur beserta pecahan piring, mug dan lampu. Bekas terbakar menandai lantai, begitu juga cairan hitam yang menyerupai tinta.
Saat Sehun membungkuk untuk melihat cairan berminyak itu, Chen berkata. " Jangan dekat dekat cairan itu, itu darah lesser. "
Sehun memejamkan mata. Makhluk ditaman itu menangkap Suho.
" Bukankah kamar tidur Suho ada diruang bawah tanah? " Tanya Chen.
" Ya, Suho pernah bilang padaku, kamarnya ada di ruang bawah tanah. "
Mereka berlari turun dan menemukan pintu ganda kamar tidur Suho terbuka lebar. Beberapa lemari laci diacak acak, dan kelihatannya beberapa baju Suho diambil. Itu sangat tidak masuk akal.
Chen membuka ponselnya saat mereka naik kembali ke dapur. " Brother? Ada yang menerobos masuk rumah Suho. " Ia memandangi noda hitam dikursi yang patah. " Dia melawan habis habisam. Tapi kurasa dia ditangkap lesser. "
.
( ^ _ ^ )
.
Saat Kai mengenakan setelan berbahan kulitnya, ia menjepit ponsel diantara bahu dan telinga. " Chen, biarkan aku bicara dengan Sehun. "
Terdengar suara gerakan lalu ia mendengar. " Halo, Kai? "
" Hei, gadisku, kau baik baik saja? "
" Aku baik baik saja. " Suara Sehun bergetar hebat, tapi mendengarnya saja rasanya luar biasa melegakan.
" Aku akan datang menjemputmu. " Ia meraih sabuk dadanya sembari memasukkan kakinya ke sepatu bot. " Aku akan segera kesana. "
Ia ingin Sehun aman dan ada dirumah. Selagi ia dan para brother mengejar para bajingan itu.
" Kai... Oh, Tuhan, Kai, apa yang akan mereka lakukan pada Suho? " Cemas Sehun.
" Aku tidak tahu. " Padahal itu bohong. Ia tahu persis apa yang akan mereka lakukan pada Suho. Semoga Tuhan menyertai Suho. " Dengar, aku tahu kau mencemaskannya. Tapi saat ini aku butuh kau memikirkan dirimu sendiri. Aku ingin kau selalu berada di dekat Chen, mengerti? "
Karena lebih cepat bagi Kai untuk berpindah kesana daripada meminta Chen mengantar Sehun kembali ke rumah. Tapi ia benci membayangkan Sehun begitu terbuka untuk diserang.
Sambil menyelipkan belatinya ke sabuk, Kai menyadari tak ada suara dari telepon. " Sehun? Kau dengar apa yang kukatakan? Pikirkan dirimu sendiri. Jangan jauh jauh dari Chen. "
" Aku berdiri persis disampingnya. " Lirih Sehun.
" Bagus. Pertahankan itu, dan jangan cemas, bagaimanapun caranya kita akan mendapatkan Suho kembali. Aku mencintaimu. " Kai menutup telepon dan mengenakan jaket panjangnya yang berat.
Saat ia melesat di lorong, ia bertemu dengan Tao, yang juga mengenakan pakaian kulit dan bersenjata lengkap.
" Apa apaan ini? " Chanyeol muncul dari pojok. " Aku mendapat pesan darurat dari Chen tentang wanita _ "
Suho diculik lesser, " Ucap Kai, sambil memeriksa pistolnya.
Tiupan angin dingin meluncur dari tubuh Chanyeol seperti ledakan. " Apa kaubilang? "
Kai mengerutkan dahi melihat keseriusan nada bicara Chanyeol. " Suho. Teman Sehun sudah diculik lesser. "
" Kapan? "
" Tidak tahu. Chen dan Sehun berada dirumahnya _ "
Dalam sekejap mata Chanyeol menghilang.
Melihat hal itu, Kai dan Tao mengikuti jejak Chanyeol, mereka menghilang, berpindah ke rumah Suho. Mereka bertiga berlari menuju tangga depan rumah pertanian itu bersama sama.
Sehun berada didapur, tepat disamping Chen yang sedang memeriksa sesuatu dilantai. Kai menerobos masuk dan merenggut Sehun, memeluk wanita itu begitu keras hingga tulang tulang mereka bertemu.
" AKu akan membawamu pulang, " Gumam Kai dirambut Sehun.
Chen melempar kunci ke arah Kai. " Mobilnya ada didepan rumah Sehun. "
Tao mengumpat sambil mendirikan kursi. " Apa yang kita dapatkan? "
Chen menggeleng geleng. Kurasa mereka menangkapnya hidup hidup, berdasarkan pola terbakar dipintu ini. Jejak darahnya terbakar terkena sinar matahari _ "
Bahkan sebelum Chen berhenti dan menatap Sehun, Kai sudah berjalan membawa Sehun bersamanya menuju pintu. Hal terakhir yang dibutuhkan Sehun adalah mendengarkan detail penangkapan Suho yang mengerikan.
Chen melanjutkan. " _ lagipula, dia takkan ada gunanya bagi mereka kalau mati - Chanyeol? Kau tidak apa apa? "
Kai menoleh saat mendengar nada khawatir Chen.
Tubuh Chanyeol bergetar marah, mereka bingung hal apa yang membuat Chanyeol sampai begitu marah. Ini hanyalah kasus penangkapan vampir yang sudah biasa mereka tangani.
Kai berhenti berjalan, " Chan, ada apa? "
Chanyeol memalingkan wajah seolah tidak ingin dilihat, lalu bersandar lebih dekat ke jendela di belakangnya. Dengan geraman rendah, ia menghilang, berpindah.
Kai melihat keluar. Satu satunya yang bisa ia lihat hanyalah lumbung Sehun di seberang padang rumput.
" Ayo, " ajak Kai pada Sehun. " Aku ingin kau segera pergi dari sini. "
Sehun mengangguk dan Kai mencengkeram lengannya, membimbing Sehun menjauh dari rumah. Mereka tidak mengatakan apa apa saat berjalan dengan cepat melewati rerumputan. Saat mereka tiba dipekarangan Sehun, terdengar suara kaca pecah.
Sesuatu - seseorang - terlempar keluar dari rumah Sehun. Tepat melewati pintu geser.
Saat tubuh itu terpental di teras, Chanyeol melompat lewat celah itu, taringnya keluar, wajahnya berkerut kerut marah. Ia melompat menerjang si lesser, menjambak rambuk dan menarik dada pria itu dari tanah.
" Dimana dia? " Geram Chanyeol. Karena lesser itu tidak menjawab, Chanyeol memindahkan pegangan dan mencengkeram kuat kuat bahu kanan lesser itu, menembus jaket kulitnya. Lesser melolong kesakitan.
Kai tidak berlama lama disana untuk menonton pertunjukan itu. Ia berlari membawa Sehun mengitari sisi rumah, hanya untuk bertemu dengan dua lesser lain. Sambil mendorong Sehun ke belakang tubuhnya, ia melindungi wanita itu dengan tubuhnya sementara meraih senjatanya. Tepat saat ia membidik, suara letupan bergema dari arah kanannya. Peluru peluru berdesingan di telinga dan berderu dari rumah, mengenai lengan dan pahanya dan...
Kai tidak pernah sesenang ini mendapati si makhluk buas keluar darinya. Ia melempar diri ke dalam pusaran itu dengan amukan, menyambut perubahannya, mempersilakan kilatan panas dan ledakan otot dan tulangnya.
.
( ^ _ ^ )
.
Saat ledakan energi terpancar dari tubuh Kai, Sehun terlempar mengenai dinding rumah, kepalanya tersentak ke belakang dan membentur kusen. Ia merosot ke tanah, samar sama menyadari keberadaan makhluk buas itu menggantukan tempat Kai.
Terdengar lebih banyak suara tembakan, teriakan, raungan yang memekakkan telinga. Sehun menyeret diri dari tanah, bersembunyi dibalik rumput, tepat saat seseorang menyalakan lampu luar rumahnya.
Ya Tuhan, batin Sehun.
Tato dipunggung Kai berubah hidup, makhluk seperti naga yang diselubungi warna ungu transparan dengan sisik hijau limau. Makhluk itu memiliki ekor bergerigi tajam, cakar kuning yang panjang, dan rambut surai yang berantakan. Sehun tak dapat melihat wajahnya, tapi suara yang dikeluarkan makhluk itu sungguh mengerikan.
Dan monster itu mematikan, menghabisi para lesser dengan cepat.
Sehun menutup wajah dengan tangan, tak sanggup melihat. Ia berharap monster itu tidak melihatnya, dan kalaupun monster itu melihatnya, ia hanya berharap monster itu ingat siapa dirinya.
Lebih banyak raungan. Teriakan lain. Suara remukan yang mengerikan. Dari belakang rumah, ia mendengar rentetan tembakan senapan.
Seseorang berteriak. " Chanyeol! Hentikan! Kita membutuhkan mereka hidup hidup! "
Pertempuran itu berlanjut terus dan mungkin berlangsung selama lima atau sepuluh menit. Dan setelah itu hanya ada suara napas. Dua tarikan napas. Satu hembusan pelan.
Sehun menengadah. Monster itu menjulang di atas semak rumput tempat ia bersembunyi, mata putih itu terpaku padanya. Wajahnya lebar, rahangnya memiliki banyak gigi setajam gigi hiu, surainya terjuntai di keningnya yang lebar. Darah hitam mengaliri dadanya.
" Dimana dia? Mana Sehun? " Suara Chen terdengar dari pojok. " Sehun? Oh... Sial. "
Kepala monster itu langsung menoleh saat Chen dan Chanyeol berhenti mendadak.
" Aku akan mengalihkan perhatiannya, " Ucap Chanyeol, " Kau bawa wanita itu pergi dari sini. "
Monster itu menatap para brother dan memosisikan diri dalam posisi menyerang, cakar teracung, kepala condong ke depan, ekor bergerak gerak mantap. Otot otot kaki belakangnya bergetar.
Chanyeol terus menghampiri monster itu sementara Chen mendekati tempat Sehun berada.
Monster itu menggeram dan mengatupkan rahangnya dengan keras.
Chanyeol menyumpah ke arah sang monster. " Ya, memangnya apa yang akan kau lakukan padaku yang belum pernah kuterima? "
Sehun langsung berdiri. " Chanyeol! Jangan! "
Chanyeol berjalan maju. Monster itu bersiap menerjang, dan Chen berlari ke arah Sehun. Suara Sehun membekukan segalanya secara dramatis. Ketiga pria itu menatap Sehun sesaat. Lalu kembali fokus pada satu sama lain, kembali melanjutkan pertempuran yang mereka jalani.
" Kalian berdua, menyingkirlah dari sini. " Desisi Sehun. " Kalian hanya akan terluka dan hanya menambah masalah. "
" Sehun, kami perlu mejauhkanmu dari sini. " Suara Chen terdengar menyebalkan, seperti pria yang mengucapkan bersikap - rasionallah - sedikit saat terjadi masalah.
" Dia tidak akan melukaiku, tapi dia bakal merobek robek kalian berdua. Mundur! " Seru Sehun.
Tak ada yang mendengarkan Sehun.
" Ya ampun, jauhkan aku dari pahlawan ini, " Gumam Sehun. " Semuanya, mundur SEKARANG JUGA! "
Teriakan itu membuat perhatian terarah pada Sehun. Kedua brother berhenti bergerak, dan sang monster menoleh ke belakang.
" Hei, " panggil Sehun, melangkah keluar dari balik semak. " Ini aku, Sehun. "
Kepala naga yang besar bergerak gerak naik turun seperti kepala kuda, surainya mengilat hitam. Tubuh raksasa itu mengayun sedikit ke arah Sehun.
Makhluk buas itu sangat indah, batin Sehun. Indah seperti kobra, keburukannya tertutupi gerakan anggun dan kecerdasan predator yang mau tak mau harus kau hormati.
" Kau benar benar besar, kau tahu itu? " Sehun tetap bersuara pelan seraya mendekati makhluk itu secara perlahan, mengenang bagaimana Kai menyukai caranya berbicara pada pria itu. " Dan kau menyelesaikan tugas dengan baik, menjauhkan lesser lesser itu dariku. Terima kasih. "
Sehun mendekat dan berdiri tepat disamping sang naga, rahang makhluk itu membuka dan dia melolong ke arah langit sementara matanya tertuju pada Sehun. Dengan cepat kepala raksasa membungkuk, seolah minta disentuh. Sehun mengulurkan tangan, mengelus sisik sisiknya yang halus, merasakan kekuatan otot otot dibalik leher dan bahunya yang tebal.
" Kau benar benar menakutkan dari jarak sedekat ini, sungguh. Tapi kau enak dipegang. Aku tidak menyangka kulitmu bisa terasa selembut ataupun sehangat ini. " Lirih Sehun.
Mata putih itu berkedip kedip ke arah kiri dan menyipit, bibirnya melengkung marah.
" Jangan bilang padaku ada yang mendekat, " Ucap Sehun tanpa mengubah nada suaranya ataupun menoleh. Ia memusatkan matanya pada wajah besar itu.
" Chanyeol, mundurlah, " Gumam Chen. " Sehun sedang menenangkannya. "
Monster itu menggeram pelan di tenggorokannya.
" Hei, hei, jangan terganggu dengan mereka. " Ucap Sehun. " Mereka tidak akan melakukan apapun terhadap salah satu dari kita. Lagipula, bukankah kau sudah selesai untuk malam ini? "
Makhluk itu menarik napas berat.
" Ya, kau sudah selesai, " Gumam Sehun, mengusap usap dibawah surai sang monster. Otot otot besar bertautan seperti tali tambang besar dibalik kulit itu. Tak ada lemak, tak ada apapun selain kekuatan.
Mata sang monster kembali mengawasi para vampir sekali lagi.
" Tidak, kau dan aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Kau tinggal berdiri disini denganku dan _ "
Tanpa peringatan, monster itu memutar tubuh dan menghantam Sehun ke tanah dengan ekornya. Dia melompat ke udara menuju rumah Sehun, menabrakkan tubuh bagian atasnya menembus salah satu jendela.
Seorang lesser ditarik ke kegelapan malam, dan raungan kemarahan sang monster terhenti saat dia mengatupkan rahangnya ke lesser itu.
Sehun bergelung seperti bola, melindungi diri dari ekor setajam kawat itu. Ia menutup telinga dan memejamkan mata, menghalau suara menjijikkan dan pemandangan mengerikan pembunuhan itu.
Beberapa saat kemudian ia merasakan tubuhnya disenggol. Monster itu menyenggol tubuhnya dengan hidung.
Sehun berguling dan menengadah ke mata putih itu. " Aku baik baik saja. Tapi kita harus memperbaiki etika makanmu. "
Makhluk itu mendengkur dan berbaring di tanah tepat disebelah Sehun, menumpangkan kepala diantara kaki depannya. Terlihat kilasan cahaya benderang, lalu Kai muncul dalam posisi yang sama. Berselubung darah hitam, ia gemetaran diterpa dingin.
Sehun melepaskan jaketnya saat para brother datang menghampiri mereka. Masing masing melepaskan jaket dan menyampirkannya ke tubuh Kai.
" Sehun? " Panggil Kai parau.
" Aku ada disini. Semua orang baik baik saja. Kalian berdua menyelamatkanku. " Ucap Sehun sambil mengecup kening Kai.
.
( ^ _ ^ )
.
Mereka takkan percaya kalau tidak melihat sendiri. Sehun mengubah makhluk liar yang mengamuk itu sejinak hewan peliharaan. Astaga, Sehun memang luar biasa, dan pemberani juga. Setelah melihat monster itu memakan para pembantai dihadapannya, Sehun malah berdiri dihadapan makhluk itu dan menyentuhnya.
Sehun menengadah pada Chen. " Bisakah beberapa dari kalian membantuku membawa Kai ke mobil? "
Chen langsung datang menghampiri, meraih kaki Kai, sementara Chanyeol dan Tao masing masing menopang sebelah lengan Kai. Mereka menggotong Kai ke kursi belakang mobil.
Tao masuk ke pintu pengemudi. " Aku akan mengantar mereka pulang. "
Chen dan Chanyeol mengangguk. Setelah mobil menjauh, Chen mulai menjelaskan. " Kuberitahu kau tentang apa yang kuketahui sejauh ini. " Ia mengantar Chanyeol ke belakang rumah Sehun dan menunjuk pola jejak hitam di tanah. " Kau lihat tanda terbakar itu? Suho dibawa lesser dan digendong dari rumahnya melintasi padang rumput hingga kemari. Suho berdarah, dan ketika matahari terbit jejak darahnya terbakar dan meninggalkan pola ini di tanah. Dan mengapa dia perlu membawa Suho melintasi padang rumput? Kurasa lesser itu mencari Sehun dan entah bagaimana berpapasan dengan Suho dilahan sini, Suho lari ke rumahnya dan lesser itu harus membawanya kembali kemari setelah menangkap Suho, mungkin karena ia memarkirkan mobilnya di rumah Sehun. Ikuti aku. "
Chen berjalan mengitari sisi rumah menuju jalanan tempat mobil Ford Explorer diparkir ditepi jalan.
" Suho, bagi mereka, merupakan keuntungan yang tidak disengaja, dan mereka kembali malam ini untuk menyelesaikan tugas mendapatkan Sehun. Kita akan memeriksa mobil itu dan berharap menemukan petunjuk dibawa kemana Suho. "
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka hanya menemukan sedikit petunjuk.
" SUV nya luar biasa bersih, tapi terdaftar pada pria bernama Ustead. " Chen mengangsurkan STNK kepada Chanyeol. " Kemungkinan identitas palsu, tapi nanti aku akan meminta Tao untuk memeriksa alamat yang tertera di STNK tersebut. "
Tanpa kata Chanyeol kembali ke rumah Suho, Chen mendesah sebelum mengikuti Chanyeol.
Saat ia masuk, Chen melihat Chanyeol sedang memperhatikan sesuatu. " Apa yang kau dapat? " Tanyanya.
" Bukan apa apa. " Sahut Chanyeol, tangannya terlihat memasukkan sesuatu ke kantong celananya.
" Kalau kau menemukan sesuatu, beritahu aku biar kita bisa lebih cepat menemukan Suho. "
Chanyeol hanya mengangguk diam.
.
( ^ _ ^ )
.
Sehun membawa cairan yang terlihat seperti obat. Kai berbaring di kamar mereka, bernapas perlahan, sedikit kehijauan di sekitar hidung.
Setelah meminum cairan tersebut, Kai menatap Sehun. Wajahnya tegang dan matanya berubah ragu, cemas. " Sehun..., kuharap kau tidak melihat semua itu. "
" Sssttt..., istirahatlah sebentar, oke? Masih ada waktu untuk berbicara nanti. "
Sehun menanggalkan baju dan menyelinap kebalik selimut. Begitu Sehun berada dibalik selimut, Kai memeluknya, tubuh besarnya bagaikan selimut hidup yang hangat.
Berbaring disamping Kai, sepenuhnya aman, membuat Sehun memikirkan Suho. Dada Sehun tersekat dan matanya terpejam erat. Akhirnya ia tertidur, sampai beberapa jam kemudian, ketika Kai berteriak teriak lantang.
" Sehun! Sehun! Lari! "
Tangan Kai mulai menggelepar gelepar. Sehun melompat keantara tangan Kai, mendarat didada pria itu, menahannya, membujuknya. Ketika tangan Kai masih bergerak gerak panik, Sehun menangkapnya dan menaruh telapak tangan Kai ke wajahnya.
" Aku baik baik saja. Aku ada disini. " ucap Sehun menenangkan.
Kai membuka matanya. " Oh, syukurlah... Sehun. " Ia mengusap pipi Sehun. " Aku tidak bisa melihat jelas. "
Di bawah cahaya lilin, Sehun menunduk memandang mata Kai yang tidak fokus. " Berapa lama pemulihannya berlangsung? " Tanyanya.
" Satu atau dua hari. " Kai mengerutkan dahi lalu meregangkan kaki. " Sebenarnya, aku tidak sekaku biasanya. Perutku sangat tidak enak, tapi pegal pegalnya sama sekali tidak buruk. Setelah aku berubah _ "
Kai berhenti bicara, rahangnya berubah kaku. Lalu ia melonggarkan pegangannya pada Sehun seolah tidak ingin membuat Sehun merasa terperangkap.
" Tidak usah cemas, " Gumam Sehun. " Aku tidak takut padamu walaupun aku tahu apa yang ada didalam dirimu. "
" Sial, Sehun... Aku tidak ingin kau melihatnya sama sekali. " Kai menggeleng geleng. " Buruk. Semua ini buruk sekali. "
" Aku tidak yakin soal itu. Aku mendatangi monster itu, sebenarnya. Aku berada sedekat kau dan aku saat ini. " Ucap Sehun.
Mata Kai terpejam. " Sial, Sehun, seharusnya kau tidak melakukan itu. "
" Ya, aku harus melakukan itu. Pilihannya, aku mendatanginya atau dia akan memakan Chen dan Chanyeol. Dalam arti harfiah. Tapi tidak usah cemas, monstermu dan aku bisa bergaul dengan akrab. "
" Jangan lakukan itu lagi, kumohon. " Pinta Kai.
" Prsetan. Kau tidak bisa mengendalikannya. Para brother tidak bisa berhadapan dengannya. Tapi monster itu mendengarkanku. Suka atau tidak, kalian berdua membutuhkanku. " ucap Sehun.
" Tapi bukankah monster itu... Jelek? "
" Tidak, bagiku tidak. " Sehun mengecup dada Kai. " Monster itu menakutkan dan menyeramkan sekaligus kuat dan mengagumkan. Dan kalau ada yang berani mendekatiku, makhluk itu akan menghabisi semuanya. Wanita mana yang takkan luluh? Lagipula, setelah melihat lesser lesser itu beraksi, aku sangat bersyukur monster itu ada. Aku merasa aman. Antara kau dan si naga, tak ada yang perlu kucemaskan. "
Sehun menengadah sambil tersenyum dan mendapati Kai tengah mengerjap ngerjap cepat.
" Oh, Kai... Tidak apa apa. Kau tidak perlu _ "
" Kukira kalau kau tahu sosok monster itu, kau tidak akan sanggup melihatku lagi. " ucap Kai parau. " Satu satunya yang akan kau ingat adalah monster itu sangat mengerikan dan kau akan pergi menjauh. "
Sehun mencium Kai dan mengusap air mata dari wajah pria itu. " Monster itu bagian darimu, bukan seluruh dirimu ataupun jati dirimu. Dan aku mencintaimu dengan ataupun tanpa monster itu. "
Kai memeluk Sehun dan membenamkan wajah Sehun ke lehernya. Ketika pria itu mendesah, Sehun bertanya. " Apa sudah sejak lahir, monster itu ada ditubuhmu? "
" Tidak. Monster itu hukuman. "
" Hukuman? Untuk apa? " Tanya Sehun.
" Aku membunuh burung. " Jawab Kai.
Sehun menatap Kai, berpikir sepertinya itu hukuman yang terlalu ekstrem.
Kai mengusap usap rambut Sehun. " Aku melakukan lebih banyak daripada itu, tapi membunuh burung lah yang akhirnya mengacaukan segalanya. "
" Maukah kau menceritakannya padaku? "
Kai terdiam beberapa lama. " Waktu aku muda, tepat setelah perubahanku, aku..., sangat liar. Aku memiliki semua energi dan kekuatan ini, dan aku gegabah dalam menggunakannya. Tidak kejam, cuma..., tolol. Suka pamer, dan mencari cari masalah agar bisa berkelahi. Dan aku, eh, tidur dengan banyak wanita, wanita yang seharusnya tidak kuganggu karena mereka merupakan shellan ( pasangan ) vampir vampir lain. Aku tidak pernah melakukannya untuk membuat marah pasangan mereka, tapi aku hanya menerima apa yang ditawarkan para shellan itu. Aku mengambil..., semua yang ditawarkan padaku. Aku minum, aku mengisap ganja, campuran ganja dan alkohol..., aku senang kau tidak mengenalku saat itu. "
" Itu berlangsung selama dua puluh atau tiga puluh tahun, aku lupa. Aku merupakan bencana tsunami yang menunggu di tepi pantai, dan benar saja, aku bertemu seorang wanita. Aku menginginkannya, tapi dia jinak jinak merpati, dan semakin dia menggodaku, semakin aku bertekad mendapatkannya. Baru ketika aku bergabung dengan Brotherhood, wanita itu mulai serius denganku. Senjata membuatnya terangsang, dan pejuang Brotherhood membuatnya terangsang. Dia hanya ingin akrab dengan para brother. Suatu malam aku mengajaknya ke hutan dan memamerkan semua belati dan senapanku. Dia memain mainkan senapanku. Ya ampun, aku masih ingat bagaimana senjata itu terlihat ditangannya, itu bedil yang dibuat pada awal 1800- an. "
1800- an? Astaga, berapa umur Kai? Pikir Sehun.
" Singkat cerita, bedil itu melepaskan tembakan di tangannya dan aku mendengar ada yang jatuh ke tanah. Burung hantu, jenis serak jawa yang putih dan cantik. Aku masih bisa melihat noda merah darahnya terserap ke sayapnya. Ketika aku memungut burung itu dan merasakan bobotnya yang ringan ditanganku, aku menyadari bahwa kecerobohan merupakan bentuk kekejaman. Kau tahu, aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa karena aku tidak bermaksud jahat, apapun yang terjadi bukanlah kesalahanku. Namun, saat itu aku tahu aku salah. Kalau aku tidak memberikan senapanku pada wanita itu, burung itu tidak akan tertembak. Aku bertanggung jawab meskipun bukan aku yang menarik pelatuk senapannya. "
Kai berdeham. " Burung itu sungguh makhluk yang polos. Begitu rapuh dan kecil dibandingkan denganku saat dia berdarah dan mati. Aku merasa..., sedih, dan aku berpikir untuk mengubur burung itu, ketika Scribe virgin mendatangiku. Dia murka. Dia sangat menyukai burung, dan serak jawa itu adalah lambangnya, tapi tentu saja kematian burung itu hanya sebagian masalah saja. Dia mengambil tubuh burung itu dari telapak tangannya dan meniupkan kembali napas kehidupan pada burung itu, mengirimnya terbang ke langit malam. Rasa lega ketika burung itu pergi benar benar luar biasa. Aku merasa seolah hal buruk itu sudah terlupakan dan aku bisa memulai awal yang baru. Aku bebas, disucikan. Tapi setelah burung itu terbang menjauh, Scribe virgin menoleh padaku. Dia mengutukku, dan sejak saat itu, tiap kali aku kehilangan kendali, monster itu akan keluar. Di satu sisi, sebenarnya itu merupakan hukuman yang sempurna. Aku belajar untuk mengatur energiku, suasana hatiku. Aku belajar untuk menghargai konsekuensi dari setiap tindakanku. Membantuku memahami kekuatan tubuhku dalam cara yang takkan pernah bisa kulakukan kalau tidak begini. "
Kai tertawa pelan. " Scribe virgin membenciku, tapi dia memberiku bantuan yang luar biasa. Yah... Itulah alasan mengerikan dibalik monster itu. Aku membunuh burung dan diganjar monster. Sederhana sekaligus rumit, bukan? "
Dada Kai melebar saat menghirup napas dalam dalam. Sehun dapat merasakan penyesalan pria itu dengan jelas, seolah ia sendiri yang mengalaminya.
" Emm, memang rumit. " Gumam Sehun, sambil mengusap usap bahu Kai.
" Kabar baiknya adalah dalam kurang lebih sembilan puluh satu tahun dari sekarang, hukumannya akan berakhir. " kening Kai berkerut seolah mempertimbangkan hal tersebut. " Si monster akan hilang. "
" Kau akan merindukannya, ya? " Ucap Sehun.
" Tidak. Tidak, aku... Itu akan melegakan. Sungguh. " Hanya saja kerutan didahi Kai tak kunjung menghilang.
.
.
.
.
.
TBC ? END ?
Anyeong, i' m back.
Ya, ya, ya, ane tau klo FF ini selalu telat update tapi tetep update kan kekeke. Kira kira sekitar 3 chapter lagi FF ini bakalan tamat, finish, the end.
Dan yeayyy tebar confetti, Hunnie udah ketemu scr official ama monster nya Kai.
Masih pada berminat kan ama FF ini? Mohon reviewnya.
Yeayy or Nayy buat enceh chap depan?
