LOVER ETERNAL

.

CHAPTER 18

.

.

.

KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)

RATED M

.

JUJU JONGODULT

.

REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD

.

.

HAPPY READING

.

Kai meregangkan tubuh dan terkejut mendapati dirinya sudah kembali seperti sedia kala. Ia belum pernah pulih secepat ini dan merasa penyebabnya adalah karena ia tidak melawan perubahannya. Mungkin itu intinya. Mengalir saja.

Sehun keluar dari kamar mandi sambil membawa banyak handuk dan pergi ke lemari untuk menjatuhkan handuk handuk itu lewat perosotan didalamnya. Sehun tampak letih, muram. Tentu saja Sehun terlihat seperti itu. Mereka menghabiskan hampir sepanjang pagi membicarakan Suho, dan walaupun Kai berusaha keras menghibur Sehun, mereka berdua tahu situasinya tidak akan membaik.

Tapi selain hal itu, ada alasan lain yang membuat Sehun khawatir.

" Aku ingin ikut ke dokter bersamamu hari ini, " Ucap Kai.

Sehun tidak menjawab, setelah selesai menjatuhkan semua handuk, ia berjalan masuk ke kamar. " Kau sudah bangun. "

" Ya, aku sudah bangun. Jangan alihkan pembicaraan, aku ingin ikut bersamamu. " Ucap Kai.

Sehun berjalan menghampiri Kai, wajahnya kelihatan tegang, raut yang ditampilkannya tiap kali dia siap berdebat.

Kai langsung memotong sebelum penolakan yang sudah jelas itu terlontar. " Tukar janji temu mu ke sore hari. Matahari tenggelam jam setengah enam sekarang. "

" Kai _ "

Kecemasan membuat suara Kai keras. " Lakukan. "

Sehun berdecak pinggang. " Aku tidak suka kau perintah perintah. "

" Biar kuulangi dengan cara lain. Tolong ganti waktu janji temunya, Sehun sayang, karena aku akan ikut bersamamu. " Tapi Kai sama sekali tidak mengendurkan suaranya menjadi lembut. Bagaimanapun ia harus ikut. Ia ingin berada disamping Sehun, mendampingi kekasihnya itu, apapun berita yang akan disampaikan oleh dokter.

Sehun meraih telepon, sembari merutuk pelan. Setelah berbicara beberapa saat, ia menutup telepon. " Kita akan menemui dokter Zhang sekitar jam enam. "

" Bagus, dan aku minta maaf karena bersikap menyebalkan. Aku hanya perlu berada bersamamu saat kau mendengarnya. Aku butuh menjadi bagian dari semua ini sebisa mungkin. " Ucap Kai.

Sehun menggeleng geleng dan membungkuk untuk memungut kemeja dari lantai. " Kau benar benar berandalan paling manis yang pernah kukenal. "

Saat memperhatikan gerak tubuh Sehun, Kai merasa gairahnya bangkit. Didalam, si monster bergerak juga, tapi anehnya sensasinya terasa tenang. Bukan gejolak energi, hanya terbakar pelan, seolah makhluk itu cukup puas untuk berbagi tubuh dengan Kai, tidak perlu mengambil alih. Penyatuan, bukan dominasi.

Mungkin karena makhluk itu sadar bahwa satu satunya cara agar dia bisa bersama Sehun adalah melalui sosok Kai.

Sehun terus berkeliling ruangan, beres beres. " Apa yang kaulihat? " Tanyanya saat merasa Kai terus memperhatikannya.

" Kau. "

Sambil mengusap rambutnya ke belakang, Sehun tertawa. " Jadi penglihatanmu sudah kembali. "

" Emm.. Kemarilah, Sehun. Aku ingin menciummu. " Ucap Kai.

" Oh, tentu. Berbaikan setelah menjadi penindas dengan menawariku tubuhmu. " Canda Sehun.

" Aku akan menggunakan aset apapun yang kumiliki. " Sahut Kai.

Kai melempar selimut dari tubuhnya dan menyapukan tangan ke dadanya, lalu perutnya. Dan lebih rendah lagi. Mata Sehun melebar saat melihat arah yang dituju Kai.

Kejantanan Kai yang menegang, dan tangan Kai yang memanjakan kejantanannya sendiri, membuat aroma hasrat Sehun menguar ke seluruh ruangan. Kai terus memanjakan kejantanannya, dan menatap intens mata Sehun.

" Kemarilah, Sehun. Aku tidak yakin melakukan ini dengan benar. Rasanya jauh lebih enak saat kau yang melakukannya. " Kai terus menaik turunkan tangannya dikejantanan.

" kau benar benar parah. " Ucap Sehun.

" Hanya mencoba menggodamu. Dan mencari tahu apa kau tergoda. "

" Menurutmu apa aku tergoda? " Tanya Sehun sambil melepaskan sweternya.

" Menurutku kau tergoda.. Aahhh.. " Desah Kai.

Sehun merangkak naik ke atas tempat tidur. " Apa dia perlu bantuan? " tunjuknya pada kejantanan Kai.

" Emm... "

Sehun melepaskan tangan Kai dikejantanan pria itu dan mengganti dengan tangannya. Ia mulai menaik turunkan tangannya dan merasakan gestur keras tapi juga lembut. Ia menengadahkan kepalanya, mendekatkan bibir lalu mencium bibir Kai yang terbuka.

Ciuman mereka sama sekali tidak lembut, saliva mengalir dari kedua sisi bibir Sehun. Kai menjulurkan tangannya dan meremas kedua payudara Sehun, membuat Sehun menggigit bibirnya karena terkejut.

" Emmhh.. Kai.. "

Kai tidak mengindahkan protesan Sehun, ia kembali memagut bibir manis Sehun dan terus meremas payudara kekasihnya itu. Sehun mendekatkan tubuhnya, duduk dipangkuan lalu melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kai membuat tangan Kai terhimpit tubuh mereka.

Tangan Kai terus meremas payudara Sehun, sedangkan Sehun terus memanjakan kejantanan Kai, dan menggesekkan kejantanan Kai diantara perut mereka.

Ciuman dan sentuhan mereka berlangsung cukup lama, sampai Sehun melepas tautan bibir mereka. Kai kembali mendekatkan bibirnya tapi Sehun mendorong tubuhnya.

" Kai... Aku... Aku ingin memuaskanmu. " Lirih Sehun.

" Maksu... Ahhh.. " Belum sempat Kai bertanya, Sehun sudah mengulum kejantanannya.

Kepala Sehun naik turun membuat kejantanan Kai keluar masuk mulut hangatnya. ia menghisap kepala kejantanan Kai, lidahnya memutar dan menggoda lubang dikepala kejantanan Kai. Ia terus memainkan lubang kejantanan Kai sampai ia merasakan precum yang keluar.

" Su.. Sudah, Hun. Biar aku yang memujamu. " Kai mengangkat tubuh Sehun, membaliknya,memposisikan kedua tangan Sehun di kepala ranjang. Ia lalu beranjak kebelakang, sambil memandang tubuh indah Sehun. Jarinya menyusuri kulit indah wanitanya. Saat didepan vagina Sehun, Kai memutar mutar jarinya di sekitar kulit vagina sebelum memasukkan ke lubang vagina Sehun secara tiba tiba.

" Aahhh... Aahh.. Kai... " Sehun menggerakkan pinggulnya. " Eemmhhh... "

Kai kembali memasukkan dua jarinya kedalam lubang vagina Sehun, jari telunjuknya menggoda klitoris Sehun. Kai menundukkan tubuhnya dan mulai mengecupi punggung Sehun. Sehun melengkungkan tubuhnya, dan mengencangkan dinding vaginanya, membuat dua jari Kai terjepit lebih dalam.

" Eeuungghhh... " Desah Sehun saat Kai mengeluarkan jarinya. " Kai... "

Kai kembali mengecup punggung Sehun. Ia merapatkan kedua kaki Sehun, Ia menyelipkan kejantanannya di antara kedua paha Sehun, menggesek gesekkannya. Kedua tangan Kai mencengkeram paha Sehun dan semakin merapatkan agar kejantanannya semakin terjepit.

" Oohh.. Kaihh.. " Desah Sehun.

Secara tiba tiba, Kai membuka lebar kedua paha Sehun, dan memposisikan kejantanannya di depan lubang vagina Sehun lalu memasukkannya secara perlahan. Cengkeraman Sehun di kepala ranjang semakin kencang saat Kai memenuhi vaginanya dengan kejantanan.

" Nyahhh... Aahhhh... Kai... hhnnn... " Desah Sehun. " Kehh... Kenapa kejantananmu terasa lebih besar.. Hhnnn... Kai.. "

Kai menggerakkan pinggulnya secara perlahan, membiarkan Sehun membiasakan diri. " Aku juga tidak tahu, Hun. " ia menggerakkan pinggulnya lebih cepat sekarang. " Didalammu selalu terasa hangat.. Oohh ini benar benar nikmat. " erangnya.

Sehun melepaskan cengkeraman tangannya di kepala ranjang, menegakkan tubuh, dan merangkulkan lengannya di leher Kai. Kai merapatkan tubuh mereka, kedua tangannya meremas kedua payudara Sehun.

" Hhnnn... Kai.. Aaahhh... " Sehun mengencangkan dinding vaginanya, membuat Kai semakin kencang meremas payudaranya. " Le... Lebih cepathh.. "

Gerakan hunjaman Kai semakin cepat membuat tubuh Sehun terhentak hentak dengan kasar. Ia menyandarkan kepalanya dibahu Kai, membuat Kai bisa melihat leher jenjang miliknya. Kai mulai mengecup lembut lehernya, jemari Kai memainkan kedua nipplenya, membuatnya tanpa sadar mengencangkan dinding vaginanya membuat kejantanan Kai masuk lebih dalam.

" Hun... Jangan terlalu kencang, aku susah menggerakkannya. " Bisik Kai sambil terus mengecup leher Sehun.

" Nyaahhh... Aku.. Aku tidak mengencangkannya. Aaahhh... " Sehun meremas rambut Kai, menyalurkan rasa nikmatnya.

" Eemmm... "

Kai mengangkat tubuh Sehun, membalik lalu menghempaskan tubuh Sehun ke atas tempat tidur. Dengan cepat membuka lebar kedua kaki Sehun, ia lalu memposisikan kembali kejantanannya untuk memasuki vagina Sehun. Kali ini Kai menggerakkan pinggulnya lebih pelan dan teratur. ia ingin merasakan kenikmatan kulit kejantanannya yang bergesekan dengan dinding vagina Sehun.

Sehun menggigit bibir bawahnya, menahan agar tidak berteriak memohon pada Kai. Ia menyukai Kai yang bersikap lembut tapi saat ini ia sedang tidak ingin diperlakukan dengan lembut seperti kaca yang mudah pecah. Ia ingin Kai bergerak dan menghujamnya dengan keras dan cepat.

Jari telunjuk Kai, memainkan klitoris Sehun membuat tubuh Sehun tersentak. " Oohhh... Kai.. "

Kai menggerakkan pinggulnya sedikit lebih cepat, jari telunjuknya membelai, sesekali memutar klitoris Sehun seirama dengan hunjaman kejantanannya di vagina Sehun.

Sehun membusungkan dadanya, mencengkeram bantal untuk menyalurkan rasa nikmat karena Kai menggoda di dua titik sensitifnya. Gigitan di bibir bawahnya semakin keras, membuat bibir bawahnya terluka dan mengeluarkan darah.

Kai yang melihat darah mengalir dari bibir Sehun, menundukkan wajahnya, lalu menjilat aliran darah yang membasahi pipi Sehun. Jilatan lidahnya mulai dari dagu, pipi lalu mengarah ke bibir Sehun. Kai sedikit mengangkat kepalanya, melukai bibirnya dengan taringnya sendiri, setelahnya ia menghisap bibir Sehun, membuat darahnya mengalir ke dalam mulut Sehun.

Sehun membalas jilatan lidah Kai, lidah mereka bertemu dan saling melilit. Rasa darahnya bercampur menjadi satu dengan darah Kai. Ia menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Kai. Kai maju, ia mundur, begitu seterusnya membuat kejantanan Kai semakin masuk lebih dalam dan semakin menambah kenikmatan mereka.

" Kai... Nyaaahh... Aku ingin... " Lirih Sehun disela sela ciuman mereka.

" Eennnhh.. Keluarkan Hun, tidak perlu kau tahan. " Kai semakin cepat menghunjam, membuat ranjang semakin berdecit.

" Aaaahhhhhhhh... " Erang Sehun saat klimaks menghantamnya.

Kai menyurukkan wajahnya ke leher Sehun, semakin merapatkan pelukan tubuh mereka. Kejantanannya semakin membesar tanda ia akan klimaks sebentar lagi. Sehun terus menggerakkan pinggulnya walaupun ia sudah klimaks, ia bisa merasakan sebentar lagi Kai akan memenuhi vaginanya dengan sperma pria itu.

Setelah beberapa hunjaman akhirnya Kai klimaks, " Aaahhh.. Hunnhh.. "

Sehun memeluk tubuh Kai, mereka sama sama mengatur napas.

" Maaf, apa aku menyakitimu? Tadi aku lumayan kasar. " Lirih Kai.

Sehun tersenyum, dan mengelus pipi Kai. " Kau tidak menyakitiku, yang aku rasakan hanya rasa nikmat. "

Kai bangkit dari atas tubuh Sehun lalu berbaring di samping. Kai memeluk tubuh Sehun. Mereka mulai memejamkan mata tapi setelah beberapa saat mereka sama sekali tidak bisa tidur. Karena mereka takut apa yang akan mereka hadapi besok.

.

KAIHUN

.

Malam itu Sehun berusaha bernapas dengan normal saat mereka naik lift menuju lantai enam rumah sakit. Setelah sampai dilantai tujuan mereka segera duduk di ruang tunggu dan menunggu dokter Zhang.

Lima menit kemudian dokter Zhang memasuki ruang tunggu. Sang dokter tersenyum. " Hai, Sehun, kau akan masuk kedalam ruangan sendiri? Atau berdua dengan pria yang berada disampingmu? "

" Kami berdua. Ini Kai. Dia... "

" Aku pasangan Sehun. " Sambung Kai dengan lantang dan jelas.

Alis dokter Zhang melengkung tinggi, dan Sehun harus tersenyum lepas semua tekanan yang dirasakannya.

Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor, melewati pintu pintu ruang periksa dan timbangan timbangan di ceruk ceruk kecil dan meja meja komputer. Tak ada obrolan basa basi. Tak ada perbincangan apapun diantara mereka. Sang dokter tahu Sehun benci obrolan basa basi seperti itu.

Kantor dokter Zhang dipenuhi tumpukan kertas, berkas, dan buku. Sehun dan Kai duduk saat dokter berjalan ke balik mejanya.

Sebelum dokter Zhang duduk, Sehun bertanya, " Jadi apa yang akan kauberikan padaku, dan berapa banyak yang bisa kuhadapi? "

Dokter Zhang menengadah dari berkas berkas medisnya. " Aku sudah berbicara dengan kolega kolegaku disini dan dua dokter spesialis. Kami mengulas berkas medismu dan hasil pertemuan kemarin _ "

" Sekarang beritahu bagaimana hasilnya? " Ucap Sehun.

Sang dokter melepaskan kacamatanya dan menghirup napas dalam dalam. " Kurasa sebaiknya kau membereskan semua urusanmu, Sehun. Tak ada yang bisa kami lakukan untukmu. "

.

KAIHUN

.

Pada jam setengah lima pagi, Kai meninggalkan rumah sakit dalam keadaan linglung. Ia tidak pernah mengira bakal pulang ke rumah tanpa Sehun.

Sehun disuruh untuk menjalani rawat inap untuk transfusi darah, dan karena terbukti demam yang dialaminya tiap malam serta semua kelelahan itu terkait erat dengan gejala awal radang pankreas. Kalau keadaan membaik, Sehun akan diijinkan pulang besok pagi, tapi tak ada yang mengatakan apapun.

Kanker yang diderita Sehun kuat. Kehadirannya sudah berlipat ganda bahkan dalam waktu singkat antara saat Sehun menjalani pemeriksaan rutinannya seminggu yang lalu dan saat menjalani tes darah kemarin. Dokter Zhang dan para dokter spesialis sepakat kalau mereka tidak bisa memberikan kemoterapi lagi karena semua perawatan yang pernah dijalani Sehun telah membuat livernya tidak berfungsi lagi dan takkan mampu menerima bahan kimiawi lagi.

Ya Tuhan, teriak Kai. Ia sudah siap menghadapi perlawanan hebat, dan penderitaan besar, untuk mendukung Sehun. Tapi ia tidak pernah mengira akan ada kematian. Dan tidak secepat ini.

Mereka hanya memiliki beberapa bulan.

Kai berpindah ke halaman rumah utama dan berjalan ke Pit. Ia tidak tahan kembali ke kamarnya dan Sehun sendirian. Belum.

Hanya saja saat berdiri didepan pintu kamar Chen dan Tao, ia tidak mengetuk pintu. Ia malah menengok ke belakang, ke bagian depan rumah utama, dan membayangkan Sehun tengah memberi makan burung burung. Ia membayangkan Sehun disana, ditangga, dengan senyum menawannya, dan matahari menyinari rambut kemilau Sehun.

Demi Tuhan, apa yang akan kulakukan tanpa Sehun?

Ia membayangkan kekuatan dan ketenangan dimata Sehun setelah ia meminum darah dari wanita lain dihadapan Sehun. Cara Sehun mencintainya meskipun dia sudah melihat sang monster. Kecantikan Sehun yang tenang namun menghanyutkan, tawanya, dan mata hazelnya yang tajam itu.

Tapi terutama, ia memikirkan Sehun pada malam dia melesar keluar dari rumah Suho, berlari dalam dingin dengan kaki telanjang, berlari ke dalam pelukannya, mengakui bahwa ia tidak baik baik saja... Akhirnya meminta bantuan padanya.

Kai merasakan sesuatu di wajahnya.

Oh, brengsek. Apakah ia menangis?

Yap.

Dan ia tidak peduli ia mulai cengeng.

Ia menunduk ke batu batu kerikil dijalur mobil dan terkejut mendapati pikiran absurdnya, bagaimana batu batu itu tampak sangat putih di bawah penerangan sorotan lampu yang begitu terang. Begitu juga dinding pecahan yang mengitari pekarangan. Dan air mancur di tengah tengah yang dikeringkan karena musim dingin _

Ia membeku. Lalu matanya terbuka.

Perlahan lahan ia berbalik menuju mansion, menengadah ke jendela kamar mereka. Dengan penuh tekad ia berlari sekencang kencangnya menuju bagian depan mansion.

.

KAIHUN

.

Sehun berbaring di ranjang rumah sakit dan berusaha tersenyum pada Chen, yang duduk dikursi di pojok tanpa menanggalkan topi dan kacamata hitamnya. Dia datang segera setelah Kai pergi, untuk menjaga Sehun sampai malam tiba.

" Tidak usah pedulikan aku, " Ucap Chen pelan, seolah ia tahu Sehun sulit berbasa basi. " lakukan saja apa yang perlu kau lakukan. "

Sehun mengangguk dan melihat keluar jendela. Slang infus ditangannya tidak terasa sakit atau apapun. Tapi dipikir pikir lagi, ia begitu mati rasa, mereka bisa saja memaku pembuluh darahnya dan ia mungkin tidak merasakan apa apa.

Akhirnya kenyataan tak terelakkan akan kematian membayanginya. Tak ada jalan keluar kali ini. Tak ada yang bisa dilakukan, tak ada peperangan untuk dimenangi. Kematian bukan lagi konsep abstrak, melainkan peristiwa yang sangat nyata dan akan segera terjadi.

Ia tidak merasa damai. Tidak pasrah. Satu satunya yang dirasakannya adalah... Marah.

Ia tidak ingin pergi. Ia tidak ingin meninggalkan pria yang dicintainya. Tidak ingin meninggalkan kekacauan hidup.

Hentikan ini, pikirnya. Seseorang... Tolong hentikan ini.

Ia memejamkan mata.

Saat segalanya berubah hitam, ia melihat wajah Kai. Dan dalam benaknya ia menyentuh pipi pria itu dengan tangannya dan merasakan kehangatannya, tulang tulang kuat dibaliknya. Kata kata mulai berhamburan dalam benaknya, datang dari suatu tempat yang tidak dikenalinya, tertuju pada... Bukan siapapun,.

Tolong jangan biarkan aku pergi. Jangan biarkan aku meninggalkannya. Tolong...

Ya Tuhan, ijinkan aku tinggal disini dan mencintainya sedikit lebih lama lagi. Aku berjanji takkan menyia nyiakan waktu. Aku akan memeluknya dan takkan melepaskannya... Tuhan, tolong. Hentikan ini...

Sehun mulai menangis saat menyadari ia tengah berdoa, berdoa dengan segenap daya dan upayanya, membuka hatinya lebar lebar, memohon. Saat ia berseru pada sesuatu yang bahkan tidak dipercayainya, pencerahan yang aneh menghampirinya di tengah tengah keputus asaan.

Jadi inilah sebabnya ibunya selalu berdoa, harapan untuk memiliki sedikit waktu lagi untuk mencintai.

Dan kenapa semua doa itu dipanjatkan ke surga? Yah, itu masuk akal , bukan? Bahkan ketika tak ada pilihan lain untuk tubuh, hati ingin mencari jalan keluar, dan seperti semua kehangatan, cinta. Dan anugerah memang tercurah dari langit, seperti hujan musim semi dan angin musim panas dan matahari musim gugur serta salju musim dingin.

Sehun membuka matanya. Setelah mengerjap ngerjap untuk menjernihkan pandangannya, ia memusatkan perhatian pada sinar fajar yang mulai menyingsing dibalik gedung gedung kota.

Tolong... Tuhan.

Ijinkan aku berada disini bersamanya.

Jangan biarkan aku pergi.

.

.

.

.

.

TBC

Okeh, ane mewek pas ngetik bagian ending. Gimana kgk mewek ane ngetik sambil dengerin lagunya Lee Jia Gee Degenerate yg uhukss banget. Berasa pas aza gitu.

Mungkin bakalan ada chap khusus ChanHo, kan kgk enak klo ChanHo ngegantung ceritanya jadi aku masukin. Padahal di novelnya sih kgk ada.

Oh ya untuk enceh jgn pada protes yee klo kgk hot plus seuprit aza bikinnya hehehe

So, masih ada yang berminat? Mohon reviewnya. Selalu ngucapin terima kasih buat yg setia n selalu review di akun bearbunny.

Salam Kaihun Shipper

# Juju Jongodult