"Chanyeol!"

Aku menyambutnya dengan pelukan begitu si tiang itu membuka pintu apartemen. Sempat kulihat bagaimana bola matanya yang sudah selebar bola ping-pong itu makin membesar—efek keterkejutan—sebelum akhirnya ikut melingkarkan sebelah lengannya yang terbebas dari koper di pinggangku.

Dengan pipi yang menempel tepat di bahunya, aku menghirup nafas dalam-dalam dan menikmati bagaimana wangi tubuhnya yang terbaur dengan hangat suhu badannya. Dapat kudengar suara beratnya yang mengeluarkan kekehan ringan dan mendadak aku merasa sedang di surga.

"Merindukanku, ya?"

Aku memang, tapi daripada itu, aku malah membalasnya dengan tamparan ringan di punggung. Bukannya apa-apa, hanya nada suaranya ketika bertanya yang jelas-jelas menggodaku itu membuatku enggan membuatnya merasa menang.

"Duh, percaya diri sekali," cibirku seiring dengan pelukan kami yang terlepas. Aku merasa dingin mendadak menyergap, tapi semua itu terbayar kala melihat senyum bak model iklan pasta gigi tercetak di kurvanya.

"Baiklah, baiklah, yang mulia Baekhyun. Terserah padamu." Chanyeol berujar mengakhiri dengan wajah pasrah dan aku tidak bisa menahan senyum kemenanganku. Kami berjalan bersama untuk memasuki apartemen dengan kopernya yang kini beralih tangan kepadaku—sekali-sekali melakukan peran istri yang baik sebagai hadiah setelah urusan pekerjaannya di Jepang selama seminggu selesai.

Tanpa perlu kuperintah, Chanyeol bergerak sendiri untuk membersihkan tubuh dan sementara itu aku memutuskan untuk membereskan barang-barangnya di koper. Aku memilah antara baju-baju yang akan kumasukkan ke cucian kotor hingga oleh-oleh yang Chanyeol beli selama di Jepang. Di suatu waktu aku refleks mengernyit kala menyentuh sebuah lingerie yang berada di salah satu tumpukkan oleh-oleh, mati-matian menahan diri untuk tidak membakarnya kala memahami bahwa pakaian bodoh ini jelas ditujukan untukku.

Ya ampun, si mesum itu benar-benar.

Aku selesai membereskan barangnya tepat ketika Chanyeol keluar kamar mandi dengan tubuh terbalut baju handuk. Terlalu lelah, aku memilih menjatuhkan tubuhku di ranjang daripada melayaninya untuk mengambilkan pakaian. Membiarkan si bodoh itu mengambil pakaiannya sendiri di walk-in-closet dengan wajah seperti anjing yang dibuang.

Rasa-rasanya aku nyaris saja menjemput mimpi ketika ranjang mendadak berderit dan aku serasa kembali terhempas ke permukaan. Mau tidak mau aku membuka kelopak mata dan melihat Chanyeol yang berbaring di sebelahku dengan sebuah hela nafas. Sebelah tangannya menjadikanku sebagai guling pribadinya dan aku tidak berminat untuk protes.

"Jadi, apa kau besok benar-benar mengambil libur?" Aku membuka percakapan sembari menghadap ke arahnya, mengabaikan suaraku yang sedikit serak efek terbangun dari kegiatan-nyaris-tidur sebelumnya. Di hadapanku, Chanyeol mengangguk dan sedikit membuka matanya. "Hm. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hanya untuk besok. Lagipula besok juga weekend, jadi kenapa tidak?"

"Okay then," balasku pelan sembari kembali memejamkan mata. "Pastikan kau menepati janjimu untuk mengajakku kencan."

Chanyeol hanya terkekeh mendengar suara bossy-ku dan yang selanjutnya dapat kurasakan adalah bagaimana lembutnya bibir Chanyeol menyentuh puncak kepalaku. "Iya, iya. Dasar tukang memerintah. Kau beruntung aku sangat menyukaimu."

Dan beruntung juga untuk Chanyeol, aku sudah sangat mengantuk jadi aku mengurungkan niatku untuk sekadar mencekik atau memukulnya. Kesadaranku mulai menghilang tertiup detik demi detik waktu, dan tidurku terasa begitu damai malam itu.

Sampai ketika fajar menjemput, dan herannya aku tidak terkejut kala tidak menemukan Chanyeol di apartemen—alih-alih malah mendapati sepucuk note yang tertempel di pintu kulkas.

Aku menggeram, "si bajingan itu."

.

.

.


How to Find the Shine Behind a Smile

Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol

Genre :
Romance, Family

Rate :
T

Summary :
Ini hanyalah tentangku dan suamiku—Park Chanyeol, yang seringkali berdebat tentang sabun mandi apa yang akan kami pakai bulan ini, dinner apa yang harus dibuat mala mini, pasta gigi rasa apa yang akan dibeli, dsb. Kami berhasil melewati semuanya. Tapi bagaimana dengan janji yang ingkar? Bisakah aku melewatinya juga, setelah berhasil menaklukan perdebatan tentang perempuan? {chanbaek/baekyeol;yaoi}


.

.

.

Aku baru benar-benar terbangun dan membersihkan diri sekitar jam setengah sembilan pagi meski kesadaranku sudah datang semenjak pukul enam. Yang kulakukan di dua setengah jam sebelumnya hanyalah memporak-porandakan kasur sambil menyumpah serapah sementara tanganku bergerak untuk memborbardir pesan berisi kutukan kepada Chanyeol. Persetan kalau dia suamiku.

Dia bahkan baru tadi malam sepercaya diri itu untuk menepati rencananya. Tapi baru saja delapan jam berlalu dan bisa-bisanya dia hanya meninggalkan note yang sialnya kutemukan ketika iseng keluar kamar hendak mencari keberadaanya.

Tidak, aku tidak marah.

Katakan itu pada tempered glass ponselmu yang retak setelah kau banting ke lantai.

Baiklah, maksudku aku hanya kesal.

Apakah itu berbeda?

"Yah, tutup mulut saja kau kata hati!"

Mood-ku serasa makin terjun bebas hingga ke inti bumi dan aku memakai pakaian rumah dengan asal-asalan karenanya. Sebenarnya kami sering melewati hal semacam ini. Entah sudah berapa janji manis yang baik aku maupun Chanyeol ingkari karena padatnya pekerjaan kami. Tapi tetap saja, orang mana yang tidak kesal ketika angan-anganmu yang setinggi langit ke tujuh mendadak dihempaskan ke pantat neraka begitu saja?

Aku bahkan sudah membayangkan pakaian dan lipgloss merek mana yang hendak kugunakan.

Duh, si bajingan itu.

Sadar tidak ada gunanya mengeluh, aku memutuskan bergerak keluar kamar yang bak kapal pecah dan menuju dapur. Langkahku terhenti kala mendapati sebuah note bertuliskan 'Maaf, sweet muffin, kurasa kencan hari ini ditunda dulu karena mendadak ada masalah dan salah satu investorku menginginkan rapat hari ini juga. Jangan marah, I love you.' yang masih saja tertempel di kulkas semenjak terakhir kali aku melihatnya sejak bangun tidur tadi. Rasa sebal mendadak memenuhi tubuhku lagi dan aku membanting kertas itu—kalau saja selembar kertas bisa dibanting—ke tempat sampah terdekat.

"Aku membencimu juga," desisku pelan dan aku mengalihkan pandanganku untuk segera membuat sereal atau apapun yang bisa kugunakan sebagai sarapan. Membuka kulkas yang terlihat tidak semenjengkelkan sebelumnya, nyatanya banyak bahan mentah yang kutemukan di sana daripada sekadar sereal. Tapi sial seribu sial aku mulai menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar memasak apapun. Chanyeol-lah yang selalu memasak dan menghidupiku dengan makanannya yang sudah serasa candu bagi perutku.

Aku disergap rindu oleh rasa masakannya dan mendadak aku merasa ingin menonjok seseorang.

Sebelum aku kembali kehilangan semangat hidup lagi, aku memilih menyambar sebutir telur dan memutuskan untuk menggoreng telur saja. Meski berujung terlalu asin, paling tidak aku merasa lega tidak sampai membakar dapur demi seonggok telur goreng.

Nasi kudapatkan dari meminta pelayan apartemen, dan aku memakannya di depan televisi. Tidak peduli dengan telur yang terlalu asin, semua jadi serasa hambar karena aku tidak merasa baik. Aku tidak sakit, tapi perasaanku yang sakit.

Terima kasih, aku memang hiperbola.

Selama makan, aku tidak dapat mencegah pikiranku yang berterbangan bebas. Suap demi suap yang masuk ke mulutku mengiringi kilas balik yang mendadak muncul dalam pikiran, mengingat bagaimana kejadian semacam ini pernah terjadi untuk beberapa waktu lalu.

Yang kemudian mengingatkanku pada satu waktu.

Boro-boro pergi kencan murahan seperti hari ini. Bahkan, acara melamar yang dia persiapkan mati-matian untukku enam tahun lalu, dia relakan begitu saja demi seonggok pertemuan mendadak.

Si bodoh itu hanya pergi begitu saja tanpa mengabari rekan-rekannya yang membantu acara melamar yang dia buat, dan aku sudah terlanjur tiba di tempat kejutan seperti yang diatur oleh rekan-rekan Chanyeol.

Aku terlanjur tahu apa maksud dari acara itu dan memutuskan menangis bahagia sendirian.

Dan bisa-bisanya ketika Chanyeol memutuskan untuk mengulang acara melamarku keesokan harinya, dia dengan santainya bertanya, "hey, tidakkah kau terlalu datar untuk seseorang yang sedang dilamar kekasihnya sendiri?"

Duh, maaf saja, kau terlambat satu hari untuk menyaksikan tangisan konyolku.

Mendadak sebal, aku menghabiskan sisa makananku dengan membabi buta. Aku terlalu malas untuk mencuci piring, jadi aku membiarkannya teronggok begitu saja di meja tamu dan kemudian aku memberikan fokus pada televisi yang masih setia menyala sejak tadi.

Menonton beberapa acara televisi sambil menghabiskan beberapa toples cemilan sedikitnya cukup untuk membuatku lupa dengan hal-hal yang berhubungan dengan Chanyeol. Setelah puas menangisi beberapa drama picisan, tertawa sampai sekarat pada beberapa variety show, dan mengamuk-ngamuk kala melihat artis kesayanganku dilanda rumor bodoh di acara gosip, aku baru menyadari aku sudah menghabiskan hari hanya dengan menonton televisi.

Pukul tiga sore dan aku memutuskan untuk mematikan televisi. Hening menyergap dan aku langsung merasa bosan. Aku memilih beranjak dari sofa dan tergerak untuk menghabiskan waktu dengan membereskan kamar—sadar bahwa aku jelas tidak bisa tidur nanti malam kalau kamar dalam keadaan seperti itu.

Kamar sudah beres, dan aku memilih untuk mandi. Beberapa lagu yang kudendangkan memantul di dinding kamar mandi, membuat suaraku paling tidak lumayan enak didengar—mengingat aku menyanyi dengan asal-asalan. Paling tidak suaraku sendiri membuatku tidak merasa sendirian.

Tapi toh itu tidak bertahan lama. Aku keluar dari kamar mandi dalam perasaan kosong. Mendadak aku merasa benar-benar kesepian dan hebatnya aku jadi merindukan si bajingan tengik yang sialnya berstatus sebagai suamiku itu. Aku menghela nafas, dan seiring dengan itu aku membulatkan sebuah keputusan.

Aku akan menghampiri Chanyeol ke kantornya.

.

.

.

Aku keluar dari apartemen dengan kemeja putih berlapis sweater baby blue dan ripped jeans yang membalut tubuhku. Tidak ribet sama sekali karena aku sendiri sudah terlalu malas untuk sekadar berpikir. Lagipula untuk apa juga aku berdandan hanya demi si bodoh itu.

Baiklah, aku tidak biasanya begini. Hanya sedang kesal saja.

Bergegas, aku menuju ke parkiran bawah tanah untuk menemui mobilku dan mengendarainya. Dengan harap-harap cemas semoga jalanan belum terlalu padat oleh jam pulang kerja—yang sepertinya mustahil karena ini sudah pukul setengah enam sore—dan semoga Chanyeol benar-benar ada di perusahaannya, aku menekan pedal mobilku semakin dalam.

Tapi, yah, memang dewi fortuna sepertinya membenciku hari ini.

Jalanan benar-benar padat, terutama ketika sudah di lampu lalu lintas. Aku harus menghadapi dua kali lampu merah sebelum benar-benar lolos dari satu lampu lalu lintas saja, dan bahkan aku bisa saja menyelesaikan satu ronde permainan di ponselku sampai aku bisa menjalankan mobilku dengan lancar. Belum lagi perbaikan jalan yang sialnya berada di jalur yang hendak kulewati untuk sampai ke perusahaan Chanyeol, rasa-rasanya makin membuatku naik darah.

Aku tiba di perusahaan Chanyeol dengan kepala yang kurasa sudah berasap. Bergerak cepat, aku mematikan mesin mobil dan beranjak keluar. Beberapa staff membungkukkan badan padaku dan sekadar menyapa yang kubalas dengan senyum setengah-setengah—hitung-hitung formalitas. Petugas resepsionis dengan sigap memberitahuku bahwa Chanyeol sedang berada di ruangannya semenjak rapat selesai pukul dua siang tadi. Tanpa basa-basi lagi aku langsung memasuki lift dan menuju ke lantai paling atas.

Pintu lift terbuka dan dari tempatku berdiri aku bisa melihat pintu berbahan mahoni yang nampak gagah dan estetik—paduan yang tepat pada untuk CEO seperti Chanyeol. Sudah ribuan kali terhitung aku mendatangi tempat ini dan entah bagaimana aku tidak pernah gagal terpesona dengan bagaimana gedung ini didesain.

Mengembalikan fokusku, aku segera melangkah mendekati pintu ruangan Chanyeol. Seiring dengan nafas yang kutarik dalam-dalam, aku memutar kenop dan mulutku siap mengeluarkan panggilan.

"Chan—oh,"

Bibirku refleks kukatupkan dalam-dalam dan pintu yang tadi sudah terbuka cukup lebar kini kututup tidak sempurna—tetap memberi celah dengan maksud agar aku bisa mengintip ke dalam. Bukan tanpa alasan, aku melakukannya karena pandangan pertama yang kudapatkan bukanlah sesuatu yang jelas kuharapkan.

Tak pernah terpikirkan olehku, amat sangat tak pernah terpikirkan, bahwa seorang sekretaris diperbolehkan memakai pakaian seterbuka itu.

Aku memasang mata tepat di celah pintu, memperhatikan sedetail mungkin tentang pakaian apa yang sedang digunakan si sekretaris Chanyeol. Perempuan dengan name tag bertuliskan 'Kim Bora' itu jelas-jelas menggunakan pakaian yang mengundang. Tentu saja dengan rok super pendek dan kemeja putih ketat nan super tipis yang dua kancing teratasnya sengaja tidak dikaitkan, aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengerti bahwa perempuan itu jelas memakai pakaian itu demi menggoda Chanyeol.

Chanyeol.

Lelaki yang terakhir kuperiksa masih berstatus sebagai suamiku.

Mendadak aku merasa meradang. Tidak tahu mengapa begitu, padahal jelas-jelas Chanyeol-ku bahkan tidak memasang mata kemanapun selain ke berkas-berkas membosankan yang harus ditandatanganinya. Aku bisa melihat bagaimana Bora mencuri pandang kepada Chanyeol yang benar-benar hening dan Bora jelas nampak dibuat-buat kala dia menyenggol stationery miliknya hingga jatuh ke lantai. Menimbulkan suara hantaman yang cukup memekakan telinga.

Dahiku refleks mengernyit melihat senyuman sumringah Bora ketika Chanyeol menoleh sekilas ke arah Bora.

"Hati-hati, Bora-ssi."

Tanpa suara, aku mencibir melihat Bora yang membungkukkan badan sekali seiring dengan bibir bergincunya yang berucap, "maafkan saya, Mr. Park."

Dan rasanya aku ingin mengaum kala melihat Bora yang bergerak dari tempatnya, menuju ke tempat di mana stationery-nya terjatuh dan dia membungkuk dengan punggung yang menghadap Chanyeol kala memunguti alat tulisnya. Dengan rok sependek itu, aku berani bertaruh bahwa kalau saja, kalau saja Chanyeol menoleh barang sedikit, pandangan eksklusif dari paha dalam seorang perempuan tersaji cuma-cuma tepat di hadapan mata Chanyeol.

Aku baru saja hendak bernafas lega kala Bora telah menegakkan badannya dan aku sudah berniat benar-benar memasuki ruangan, tapi si sialan Bora itu mendadak kembali berulah. Dia mengambil sebuah map dari meja miliknya dan bergerak menuju samping meja Chanyeol. Aku bisa mendengarnya yang berkata, "Mr. Park, saya baru saja menyelesaikan bagian ini. Anda bisa mengeceknya."

Di tempatnya Chanyeol menggumamkan kata sebentar sebelum akhirnya menoleh dan menerima sodoran map dari Bora. Sementara Chanyeol membuka lembaran dalam map, Bora semakin membungkukkan tubuhnya. Aku mengangkat alis melihat kelakuannya sebelum akhirnya mataku refleks membola menyadari apa maksud terselubung Bora.

Perempuan itu berniat untuk memamerkan belahan dada dari kemeja super ketat miliknya kepada Chanyeol.

Chanyeol mulai bersuara, dan sebelum Chanyeol mencoba menoleh—seiring dengan Bora yang membungkuk makin rendah, secepat yang kubisa, aku menghentakkan tangan untuk membuka pintu lebar-lebar.

"Yah! Berhenti sampai di situ, nona!" Aku tidak sadar bisa sehisteris itu jeritanku kala aku merangsek masuk ke dalam ruangan. Seiring aku yang berkacak pinggang ke arah mereka, Bora buru-buru menegakkan badannya yang hanya kutanggapi dengan tatapan sinis.

Duh, sudah terlambat untuk memperbaikinya, bodoh.

Tanpa mempedulikan raut wajah Bora yang sudah bercampur aduk, aku mengacung-acungkan jariku padanya. "Tidakkah kau sadar yang sedang kau goda itu adalah pimpinanmu sendiri, Bora-ssi? Dan, demi Tuhan, pimpinan bodohmu ini bahkan sudah berkeluarga!"

"Dan kau, Chanyeol." Acungan jariku bergerak menuju wajah Chanyeol, membuatnya yang sudah membuka mulut kembali menutupnya lagi. "Bisa-bisanya kau membiarkan karyawanmu berpakaian bak bintang porno?! Ikut menikmatinya, hm?"

Aku mengerutkan dahi dalam-dalam sementara Chanyeol bergerak cepat dari kursinya untuk menghampiriku, melewati Bora begitu saja. Tepat di hadapanku, Chanyeol mencoba menggenggam lenganku sementara bibirnya berujar, "ya Tuhan, Baek, bukan begitu. Lagipula paling tidak mereka tidak telanjang—"

"—oh, jadi maksudmu mereka bebas memakai baju super tipis dan pendek, lalu mondar-mandir di hadapanmu bak iklan kondom?! Kenapa tidak sekalian saja kau sediakan tiang di sini dan biarkan satu persatu karyawanmu menari striptease untukmu?"

Sementara aku bersedekap tangan di depannya, Chanyeol mengusak rambutnya pelan. "Astaga, Baek. Bukannya aku berniat begitu. Aku membiarkan mereka karena tidak peduli mereka mau telanjang pun, aku tidak akan tergoda."

"Benarkah?" Aku mengangkat sebelah alisku, diam-diam menggerakkan tanganku hingga mendarat di suatu titik yang membuat Chanyeol refleks menarik nafas terkejut. "B—baek, apa—"

Tanpa dapat kutahan, aku menyeringai. "Tapi aku hanya menyentuh penismu saja dan kenapa kau jadi sekeras ini, huh? Mereka bisa saja melakukannya dan kau bakal berakhir seperti ini juga, bukankah begitu?"

Di tempatnya, Chanyeol melenguh pelan seiring dengannya yang menggumam, "i—itu karena, uh, kau yang melakukannya, Baek…."

Aku memicing, menatap Chanyeol yang balas menatapku dengan tatapan memohon. Genggaman tanganku di bagian selatannya mulai kulepas dan aku menghela nafas. Aku mengenal Chanyeol sejak aku masih seorang remaja bodoh nan labil yang sedang mencari jati diri, dan aku jelas paham bagaimana tatap matanya kala ia jujur ataupun tidak. Dan kali ini, aku percaya padanya.

Paling tidak aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Chanyeol memang jelas tidak tergoda dengan Bora dan dia bahkan nyaris tidak pernah benar-benar mengalihkan pandang dari berkasnya.

Beberapa detik terselimuti hening dan yang bisa kulakukan setelahnya adalah melirik ke arah Bora yang masih bungkam semenjak melihat adegan tidak senonoh di hadapannya.

"Pecat dia, Yeol."

Bora membulatkan mata sementara bibirnya yang bergerak cepat untuk mengeluarkan suara. "Tunggu, Mr. Park, anda—"

"Tunggu, kau serius?" Chanyeol mengerutkan dahinya ke arahku, sekilas mencuri pandang ke arah Bora. "Tapi disamping pakaiannya yang seperti itu, dia cukup kompeten dalam menjadi sekretarisku dan—"

"Chanyeol," bisikku pelan, sengaja memotongnya. Chanyeol menyendat kalimatnya dan irisnya menatapku penuh tanda tanya. Aku balas menatapnya dalam sebelum akhirnya belah bibirku kembali terbuka. "Kau tidak ingat pertengkaran terakhir kita?"

Chanyeol sama sekali tidak membuka suara yang kuanggap sebagai kode untukku melanjutkan. Dan dengan itu, aku kembali berujar. "Aku mungkin terlihat egois atau menyebalkan, aku tahu. Maaf untuk itu. Mungkin ini sepele bagimu, tapi tidak untukku. Kau bisa saja berkata bahwa kau tidak akan tergoda, dan mungkin memang begitu saat ini. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam waktu ke depan dan siapa yang tahu jalangmu itu bisa menjadi salah satu potensi yang menghancurkan kita?"

Kupikir Chanyeol akan mendengus kesal atau tertawa meremehkan kala mendengar kekhawatiran berlebihanku, tapi dia tidak. Aku tidak menyiapkan hati sama sekali ketika taunya, Chanyeol malah memberikan satu senyum terbaiknya dengan tangan hangatnya yang mendarat di puncak kepalaku. Mengusapnya lembut yang mana membuatku refleks memejamkan mata.

Ketika aku membuka mata, kudapati Chanyeol yang menoleh ke arah Bora dan tersenyum menyesal. "Maaf, Bora-ssi. Tapi mulai hari ini, kau bisa berhenti."

Di tempatnya, Bora membuka bibir dengan ragu. "T-tapi, Mr. Park, saya—"

"Maaf," Chanyeol berujar sekali lagi, dan dapat kurasakan sebelah tangan Chanyeol berakhir di pundakku, "tapi Baekhyunku jauh lebih berharga daripada sekretaris sebaik apapun."

Tanpa dapat kutahan, serangan kupu-kupu itu menginvasi tubuh, menggelitik perutku hingga ke tulang.


"Apa yang akan kau lakukan dengan ini?" Chanyeol berujar setengah merengek dengan telunjuk yang menunjuk tenda di bagian selatannya. Dengan perasaan yang masih setengah marah, aku memutuskan untuk mengalihkan pandang. "Selesaikan saja sendiri."

Chanyeol hendak membuka mulut untuk memprotes, tapi suara Bora yang herannya masih saja betah di dalam ruangan mendadak terdengar. "Mr. Park, mungkin saya bisa mem—"

Sebelum Bora mencoba menyelesaikan kalimatnya, aku lebih dulu menarik kerah Chanyeol dan membawa bibirnya dalam sebuah ciuman. Chanyeol menyambutku, jelas dia mengira itu adalah pintu terbuka untuknya, tapi nyatanya memang tidak karena aku buru-buru melepas pagutan kala kudengar suara pintu yang telah ditutup.

"Kenapa berhenti?"

"Enak saja, kau kira aku sudah memaafkanmu?" Aku mencibir pelan. "Selesaikan sendiri."

Jelas, si bodoh itu tidak memiliki pilihan lain selain melangkah pasrah ke toilet.

.

.

.

"Berhenti memasang wajah seperti itu, Baek. Aku sudah menuruti keinginanmu, kan?" Lagi-lagi Chanyeol membujuk dan bujukan kesekian ribu ini tidak membuatku lega sama sekali.

Dari sudut mataku aku dapat melihat Chanyeol yang sesekali mencuri pandang ke arahku sementara tangannya sibuk menggenggam kemudi. Dia dengan keputusan sepihaknya memaksaku untuk pulang semobil dengannya sementara mobilku akan dikembalikan ke parkiran apartemen kami oleh salah satu satpam perusahaan.

Dapat kudengar Chanyeol yang menghela nafas, dan aku refleks meliriknya. Chanyeol tidak lagi mencoba mencuri pandang. Tatapannya terfokus pada hamparan jalan raya di hadapannya, dan pemandangan Chanyeol yang seperti itu membuatku jadi tanpa sadar berujung memperhatikan lebih lama.

Wajahnya terlihat kusut, entah karena efek bekerja seharian atau karena aku yang mendiaminya. Jasnya sudah teronggok di kursi belakang, dan kemeja putihnya ditekuk hingga ke siku. Memperlihatkan rolex berwarna gold yang melingkar di pergelangannya.

Pemandangan itu membuat pikiranku jadi berterbangan dan setelahnya aku baru menyadari betapa selama ini aku memang kekanak-kanakan. Chanyeol jelas lebih muda dariku, itu fakta, tapi nyatanya dia lebih banyak berkorban untukku. Ketakutan-ketakutan konyolku akan hubungan kami, baru kusadari, malah jadi terasa seperti aku tidak benar-benar mempercayainya. Tapi meski begitu, Chanyeol tetap mengalah padaku, tetap memenuhi keinginanku, dan bahkan aku tidak pernah mendengarnya yang mengeluh tentang sifatku.

Dengan itu, aku refleks membuka mulut. "Aku marah bukan tentang masalah tadi."

Chanyeol menoleh padaku, mengerutkan alis. "Lalu?"

Menghela nafas, aku mengalihkan pandanganku ke jendela. Memperhatikan kendaraan dan gedung demi gedung yang simpang siur, sebelum akhirnya berujar pelan. "Aku memang marah karena sekretarismu itu. Tapi aku jauh lebih marah karena lagi-lagi kau melanggar rencanamu sendiri untuk hari ini."

"Maaf…" Chanyeol bergumam pelan. Diam-diam aku mencuri lirikan dan kudapati bagaimana matanya yang menatapku sendu. "Aku benar-benar berusaha semampuku. Aku juga sangat menantikan hari ini, asal kau tahu. Tapi bagaimana lagi? Perusahaan membutuhkanku, dan seperti itulah tugasku sebagai pimpinan. Bukannya kau nomor dua, tapi aku tidak bisa mengabaikan perusahaan yang didirikan ayahku dari nol begitu saja."

Melihatnya yang seperti itu, pada akhirnya aku hanya akan selalu memakluminya lagi dan lagi karena memang aku sadar, sudah seharusnya seperti ini resiko yang harus kuterima semenjak menjawab 'iya' kala Chanyeol memintaku jadi pendamping hidupnya. Dengan itu, aku menggumam sebagai jawaban. "Sudahlah, lagipula memang jadwalmu hari ini mendadak, kan? Itu di luar kendalimu."

Kalau boleh jujur, aku ingin sekali berteriak padanya. Memprotes dan meraung padanya. Tapi aku sadar bahwa aku pun juga terkadang sepertinya. Meninggalkannya yang sedang memiliki waktu luang demi mengurus restoranku. Beralasan bahwa kami berdua jelas sama-sama paham perusahaannya dan restoranku itu sama-sama penting bagi kami. Tapi tetap saja, aku bahkan menutup restoranku hari ini demi menghabiskan waktu bersamanya dan lihat yang dia lakukan.

Meski sekeras mungkin aku mencoba memahami dan melupakannya, aku tidak bisa berbohong setidaknya pada diriku sendiri bahwa aku kecewa. Chanyeol melanggar janjinya, memaksaku merelakan kenyataan bahwa hari ini aku gagal menghabiskan waktu bersamanya, dan seperti kurang sial lagi, Chanyeol membiarkan perempuan berpakaian minim mondar-mandir seruangan dengannya.

Aku mendadak merasa menyedihkan dan tanpa bisa kutahan, aku lagi-lagi menghela nafas. Seharusnya aku melepas rinduku dengan benar kala menghampiri ruangan Chanyeol. Seharusnya perjalanan pulang kami berlangsung lebih menyenangkan dan paling tidak aku bisa cukup lega dapat menghabiskan hari yang tersisa dengan bersenda gurau. Tapi yang terjadi malah kami dirundung keheningan yang sama sekali tidak ada nyaman-nyamannya.

Terlalu lama melamun, aku tidak sadar bahwa kini mobil yang kutumpangi bersama Chanyeol telah berhenti bergerak. Aku memicingkan mata dan menyadari bahwa ini bukanlah apartemen kami. Karenanya, aku menoleh ke arah Chanyeol, memberi pertanyaan melalui sorot mata—aku terlalu marah untuk banyak mengeluarkan suara.

"Kita mampir ke supermarket dulu, ya."

Paling tidak Chanyeol mengerti pandangan penuh tanda tanya dariku.

Masih dengan wajah cemberut, aku memasuki supermarket dengan Chanyeol yang bersisian denganku. Aku hendak menghentikan langkah demi menunggu Chanyeol yang kukira akan mengambil keranjang atau trolley, tapi ternyata dia tidak melakukannya. Jadilah aku hanya menghendikkan bahu dan kembali berjalan mengikutinya.

Kami berputar-putar mengelilingi supermarket tanpa arah. Memasuki lorong demi lorong yang lain tanpa membuka percakapan. Kulihat mata Chanyeol yang bergerak menelusuri rak yang kami lewati. Mulai dari produk sabun hingga detergen. Makanan ringan hingga kaleng minuman. Tapi meski begitu, Chanyeol tidak beranjak sedikitpun untuk setidaknya meraih paling tidak satu atau dua barang.

Aku tidak mengerti tapi aku terlalu malas untuk bertanya.

Sesekali aku hanya menyandarkan tubuh pada pilar dinding terdekat, menunggui Chanyeol yang menelusuri rak demi rak. Terlalu bosan memandangi barang-barang di rak membuatku memutuskan memandangi wajah Chanyeol yang mengerutkan dahi saking seriusnya mengamati. Mengagumi parasnya yang kusimpan diam-diam dalam pikiran.

Beberapa kali aku mengalihkan pandang untuk menatap sekitar. Aku mendapati pasangan suami-istri yang sedang memilih popok bayi tak jauh dari tempat di mana Chanyeol berada—hey, aku bahkan baru sadar ini adalah rak penuh popok juga segala tetek bengek untuk bayi. Dan kenapa juga kami berada di sini? Kami bahkan tidak memiliki anak.

Atau mungkin Chanyeol ingin bekerja sambil pakai popok bayi, aku tidak tahu.

Di bagian yang lain, aku melihat seorang ibu yang masih sibuk memilih beberapa produk tissue bayi dalam posisi membelakangiku. Di gendongannya terdapat batita laki-laki yang menumpukan dagu di bahu ibunya, otomatis menghadap ke arahku.

Aku memandang tanpa ekspresi, tapi bisa-bisanya batita itu cekikikan heboh sampai si ibu harus memutar badan dan aku buru-buru mengalihkan wajah.

Maaf ya adik kecil, aku bukannya ingin mengetusimu. Hanya sedang dalam mood yang buruk. Tapi kurasa tak masalah memasang wajah seperti ini, toh yang bisa dilakukan batita tadi hanya tertawa kala melihat wajahku.

Bahkan aku tidak tahu apa yang lucu dari wajah datarku.

Lagi-lagi aku melirik Chanyeol dan mendapati ia yang mulai bergerak. Tanpa kata, aku hanya berjalan mengikutinya. Meski begitu, aku tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa aku bosan. Semakin banyak lorong dan rak yang terlewati, wajahku makin tertekuk. Hingga akhirnya sampai juga di rak terakhir dan barulah Chanyeol menoleh padaku. "Tidak ada yang kucari, tidak ketemu."

Aku mengangkat sebelah alisku seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir. "Memangnya apa yang kau cari?"

Chanyeol menatap tepat ke mataku dan semudah itu aku tenggelam di kelam irisnya. Wajahku terpantul di bening matanya kala Chanyeol berbisik pelan.

"Senyummu."

Yang dapat kulakukan pertama kali hanyalah mengerjapkan mata.

"A—apa-apaan?" Aku balik berbisik, pupilku bergetar sebelum akhirnya kuputuskan memutus pandangan lebih dulu. Membatin dalam diam betapa anehnya seorang Park Chanyeol, tapi tidak bisa kupingkiri bahwa jauh di balik tulang rusukku, jantungku bertalu dengan irama kelewat cepat. Dan ditemani detak jantung bersama rasa menggelitik di perut, tanpa dapat kutahan, bibirku merekahkan sebuah senyum malu-malu.

"Dasar konyol." Aku bergumam, mati-matian menahan diri agar senyumanku tidak semakin mengembang lebar. Di hadapanku, Chanyeol tertawa ringan dan langkahnya menghampiriku. Kami hanya berjarak sekian sentimeter ketika Chanyeol menundukkan tubuh dan mencuri kecupan kecil di hidungku. "Manisnyaaa."

Aku mengerang merasakan wajahku yang mulai panas—kuharap tidak sampai memerah. "Ugh, berisik."

Chanyeol sama sekali tidak keberatan kukatai seperti itu. Yang ada, dia membawa sebelah tanganku dalam sebuah genggaman dan menuntunku untuk berjalan balik. "Ayo pulang. Yang kucari sudah kutemukan."

"Tidak beli apa-apa?" Aku refleks bertanya. Chanyeol menoleh padaku. "Kau ingin sesuatu?"

Tidak ada satupun jenis barang yang masuk ke dalam pikiranku, jadi aku hanya menggelengkan kepala. Chanyeol mengangkat lengannya sehingga kini jadi merangkul bahuku, dan kami berjalan keluar dari supermarket dengan tangan kosong.

Kali ini aku tak lagi menahan senyuman. Dengan hangat tubuh Chanyeol yang melingkupi bahuku, sesekali berhiaskan usakan ringan di rambut belakangku, aku merasa cukup.

Tidak butuh kencan kekanakan. Tidak butuh taman bermain maupun taman kota. Karena baru kusadari, yang kubutuhkan hanyalah Chanyeol di sampingku dan aku tidak ingin apa-apa lagi.

.

.

.

END

.

.

.


Ps. Inspired by 9996 post :

Aku mengajakmu yang sedang cemberut ke sebuah toko.

Mengajakmu menyusuri rak-rak tinggi, mulai dari sabun cuci sampai ke kuaci, dari rak tusuk gigi hingga ke rak roti.

"Tidak ada, tidak ketemu," kataku.

"Memangnya kau cari apa?" tanyamu.

"Senyummu."

Tiba-tiba yang kucari ada di depanku, mengembang malu-malu.

9996,
Ayo pulang, yang kucari sudah ketemu.

#9996Series


.

.

.

epilog;

"Seingatku kau mengajakku pulang." Aku memiringkan kepala. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Chanyeol yang menggaruk tengkuknya. "Uh… iya."

"Jadi," aku menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut, "kenapa kita jadi berakhir di sini?"

Aku mengalihkan pandangan dan memperhatikan sekeliling. Penerangan samar dari bioskop di hadapan kami menjadi satu-satunya cahaya yang ada. Suasana tidak terlalu ramai, mengingat ini sudah pukul setengah sembilan dan jelas hanya yang akan menonton midnight saja yang masih berada di sini.

Chanyeol malah menarik tanganku untuk mengikutinya masuk tanpa berniat menjawab pertanyaanku. Kami mengantri dalam keheningan, dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk memilih film berserta tempat kursi. Kami sempat bercekcok untuk memilih genre film, dan akhirnya action jadi film pilihan yang menengahi kami.

"Jadi kenapa?" Aku balik bertanya ketika kami sudah duduk di dalam studio. Chanyeol menoleh sekilas, kemudian membawa tubuhku mendekat untuk bersandar di lengannya. Aku sibuk menyamankan posisi sambil menyeruput coke di genggamanku sementara Chanyeol akhirnya membuka suara.

"Kau pernah bersenggama di dalam bioskop?"

Aku membulatkan mata, dan yang kulakukan setelahnya adalah mengangkat wajah untuk menoleh ke arahnya. Seiring dengan mataku yang memicing kepadanya, aku balik melempar pertanyaan. "Kau pernah dibunuh di dalam bioskop?"

Chanyeol hanya tertawa pelan dan sebelah tangannya kembali mendekapku untuk ia sandarkan di lengannya. "Bercanda, Baek. Berhubung masih tersisa beberapa jam sebelum masuk ke hari esok, jadi aku memakai sisa hari ini untuk menepati janjiku. Kau menginginkan ini sejak kemarin, kan?"

Aku mengangguk pelan. Sebuah senyum tipis mengembang tanpa bisa kukendalikan seiring dengan lampu studio yang dipadamkan dan film mulai berjalan. Kurasa Chanyeol masih sibuk menikmati film kala aku memberanikan diri berbisik kepadanya. "Terima kasih, Yeol."

Dapat kurasakan sebelah tangan Chanyeol yang bergerak menyisir rambutku perlahan, dan kemudian aku mendengar bisikannya yang berhembus di puncak kepalaku. "Simpan terima kasihmu untuk di ranjang nanti."

Aku mendaratkan cubitanku pada pinggangnya dan membiarkan teriakannya memenuhi satu studio. Membuatnya menanggung malu sendirian kala para penonton yang lain serentak menyuruhnya bungkam.

Sementara Chanyeol merengut, aku tertawa puas.

.

.

.

Done!

.

.

.


Allahu kalian harus tau betapa malunya diriku yang rendah ini :(

Bener-bener ngga nyangka yang respon di kolom [want to ask] bakal sebanyak itu dan semuanya pada excited nunggu sequelnya yang sialnya malah bikin aku ngerasa bersalah.

Karena... yakin aja, ini pasti jauh banget dari ekspektasi kalian. Hadu. Niatnya sih mau cari konflik yang lain tapi ujung2nya juga berakhir ke masalah perempuan lagi. Damn.

Dan ini kaya g ada bedanya sama main storynya ya ngga sih hAHAHAHA. Kayaknya alurnya sama aja, konflik sama aja, g ada yang menarik, g ada yg bikin beda, yaudah aku modar dulu aja.

I'm so sorry, ini gagal total buat disebut sebagai sequel...

This is a whole mess compared to the main story, wew.

Afterall, ditunggu reviewnya, yep. Bubye and enjoy!

.

.

.

.

.

xoxo,
baekfrappe.