Porco mengedip singkat. Enam senar di hadapannya begitu solid dan ia hampir tak percaya ketika tatapannya berhasil menangkap keseluruhan bentuk benda itu—gitar. Gitar pertamanya. Gitar impiannya. Gitar yang baru akan bisa ia dapat di usia enam belas tahun, bersamaan dengan ribuan—let's say, term and service—dari ayah dan ibunya.

"Wah—gitar, Pokko! Akhirnya! Kita bisa membentuk band impian kita!"

Porco menatap gadis di sebelahnya yang kini sudah berkaca-kaca. Rambut hitamnya yang dikuncir kuda bergoyang searah gerakannya yang terlampau antusias. Meski begitu, senyum lebarnya masih menjadi satu-satunya yang menular untuk Porco. Selalu. Selalu hingga Porco tak pernah memikirkan apakah selalu itu akan bertahan sampai bertahun-tahun kemudian.

"Sini, Pieck." Porco mengujar, gadis di sebelahnya—Pieck—mendekat. "Terima kasih," sambungnya lagi. "Terima kasih selalu percaya dengan mimpiku."

Ketika Pieck mengedip, sekali, dua kali. Lengan Porco telah melingkarinya. Memeluknya dalam batas-batas naif yang membuat pipinya memanas.

Pieck tersenyum lebar.

Kala itu, bahagia masih sesederhana rona-rona merah di belah pipi mereka yang menguar lembut.

Selembut petikan gitar pertama Porco untuk Pieck di ulang tahunnya yang keenam belas.


.
paper planes.
—look how far we've gone.

.


chapter 1

"Zoned out." Musik berhenti. Ruangan sunyi dalam waktu sepersekian detik. "Seriously, Galliard?" Reiner mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam stik drum. Menunjuk pada Porco yang berstagnasi di depan stand mic dengan gitar akustiknya.

Semua tatapan tertuju pada Porco.

Porco berdeham. "Sorry." Matanya terpejam dan terbuka dalam beberapa detik. Udara di sekitarnya menipis, dan ia mencengkeram erat stand mic—kamuflase pada debar aneh yang menyergap seluruh tubuhnya bersamaan dengan bayangan itu lagi. "Once again, please. Janji ini yang terakhir."

Dan musik kembali berdentum. Berteriak mengisi kubikel kecil kedap suara yang lama menjadi rumah kedua mereka. Gitar, bas, dan drum. Alunan suara Porco yang rendah dan temporal. Namun tetap terdengar di antara musik-musik rok yang khas akan suara keras.

Ini bukan kali pertama pecahan-pecahan memori itu kembali. Menyergap kepala Porco di antara musiknya yang mengalun. Membawanya jauh kepada waktu di mana hidup terasa begitu ringan, dan mudah, dan ramah kepada dunianya. Di mana yang Porco pikirkan hanya kunci-kunci dasar C, G, Am, dan F yang mampu membentuk puluhan nada baru untuk lagu-lagunya. Di mana tertawa masih begitu mudah, begitu ringan. Di mana ia masih di sana dan melantunkan lagu bersama Porco, merangkai mimpi-mimpi, menghitung nada-nada baru.

Menggenggam tangannya tanpa ragu.

Beberapa hal yang ia kira akan berstagnasi. Bertahan hingga bertahun-tahun kemudian. Namun, nyatanya perubahan datang begitu cepat dan menampar realitas kehidupannya. Menjadi dewasa bukan sesuatu yang effortless dan ia disadarkan tepat ketika usianya tertaut di angka tujuh belas. Naif, ambisius, idealis. Tidak ada realistis di masa-masa itu.

Dan memang, Porco tidak akan pernah siap dengan segala perubahan yang pada akhirnya terjadi.

Sampai di hari itu, di mana ia kembali; Paper Planes membawanya kembali pada tempat yang bertahun-tahun lalu ia tinggalkan.


"Ok, then. Marley akan jadi kota pertama untuk tur Paper Planes."

Porco mengingat Marcel melirik pada sudut mata ke arahnya ketika menyebut kota itu. Untuk ukuran saudara laki-laki merangkap manajer, terkadang Marcel memberi pandangan subjektif berlebihan kepadanya.

"Aku oke." Reiner yang pertama kali mengucap afirmasi setuju. Disusul dengan Colt dan Bertholdt yang menganggukan kepala.

"Porco?" Marcel menatapnya lagi, kali ini tak hanya melalui sudut mata. Dan hal yang ia prediksi selanjutnya pun terjadi sebab tak hanya Marcel yang kini menatap pada direksinya penuh—namun juga tiga pasang mata lainnya di kubikel itu.

Porco memutar netra. "C'mon, bro. Apa?"

Reiner terkekeh singkat. "Welcome to the same old drama, eh?"

Marcel mendesah pelan. Ia beranjak dari duduknya dan mendekat pada Porco. "Kita bisa pilih kota lain sebagai pembuka. Bagaimanapun, ini penting untuk kenyamanan semua dari kalian."

"And then, what?" Porco memetik gitarnya main-main, menatap Marcel. "Toh cepat atau lambat Marley tetap masuk ke dalam list Paper Planes, bukan?"

Semuanya terdiam. Porco kembali menghela napas final. "It's ok, bro," ucapnya santai. "Besides ... Marley itu spesial, for us." For me. "Irreplaceable."

Sebab Marley adalah tempat di mana semuanya dimulai.

Di mana Porco berpikir, mungkin, mungkin saja ia punya harapan dan kesempatan untuk mengubah kesalahan-kesalahannya.

Dan mungkin saja ia punya kesempatan, untuk kembali.


Porco tak pernah terbiasa memerhatikan detail-detail di sekelilingnya. Orang-orang datang, pergi, suara-suara bising, atau gedung-gedung tinggi dan kubikel yang menghimpitnya dalam balutan-balutan konser dan kehidupan hiburan. Ia sedikit teledor dengan kelebihan temperamen yang mungkin akan membuat orang-orang terdekatnya menatap kesal—Grumpy Porco—namun menjadi daya tarik tersendiri untuk imej panggung hiburannya. Porco Galliard; tampan, cuek, pemarah. Stereotipe vokalis-gitaris yang tak pernah ia sangkal dan pada akhirnya dibiarkan mengalir simbolis untuknya.

Tapi, ketika sadar—

—ada satu detail yang tak pernah bisa ia lewatkan.

Seperti, ketika ketukan tap tap halus mengingatkannya pada satu onomatope langkah seseorang. Disusul aroma kamomil yang menenangkan. Bayangan rambut hitam panjang yang berantakan. Mata sayu. Sebuah presensi halus yang sadar-tidak sadar selalu bisa menginvasi keberadaannya.

Pertama kali Porco melihatnya setelah sepuluh tahun ia pergi adalah Pieck yang tidak lagi menatapnya dengan tatapan sama yang familier. Porco hampir tidak mengenalinya kalau saja kilau itu tak ada di sana. Pieck hanya menatapnya tiga detik—memalingkan wajah dan menanggalkan senyum terlampau formal ketika namanya disebut dan teman-teman satu band-nya yang lain menyadari ia adalah Pieck Finger—yang sama, yang tak pernah lepas dari Porco bertahun-tahun lalu, yang senyumnya manis dan pipinya merona, yang hampir menjadi vokalis Paper Planes; bagian dari mereka.

Dan alasan mengapa Porco menolak tinggal di apartemen lamanya selama mereka kembali adalah perempuan itu. Pieck Finger. The girl next door. Di apartemen sederhana yang memang hanya ditinggali mereka berdua, juga keluarga Pieck.

Tapi, pada akhirnya, Porco menyerah. Porco menyerah atas egoisme dan alasan keefektifitasan ruang dan waktu. Toh, kamar apartemennya cukup luas dan tak jauh dari studio musik, juga kantor pusat manajernya selama di sini. Strategis dari kamar apartemen yang disewa teman-temannya yang lain. Plus tambahan lainnya, Porco akan sering mendapatkan makanan gratis dari keluarga Finger—yang Porco yakin, masih akan sebaik dan seramah sepuluh tahun lalu meski ia meninggalkan anak perempuannya tanpa peringatan apa-apa, di hari-hari terdahulu.

Hanya, yang Porco tidak tahu, re-encounter pertama mereka justru bukan di antara koridor dan pintu-pintu kayu apartemen bernomor belasan tanpa eskalator itu.

Tapi, di studio musik mereka. Dengan latar profesionalisme dan jabatan-jabatan tangan membosankan.

Karena Pieck Finger berdiri di sana, bergandengan erat dengan Zeke Yeager—si pemilik studio musik sekaligus pemilik music company yang akan bekerjasama menyukseskan konser mereka di sini.

.

.

[tbc]

Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: T+ rated, au, miss typo(s), and other stuffs. and also, it's important to keep an open mind because few things are needed for plot and character developing.

Note: as always, i can't help it, guys :_: another multichapter daan mohon doanya semoga bisa completed ;_; well, i planned 5-shots for this one. semoga gak lebih dari 5 chapter yaaa. and btw thanku for always having me & hope u like it! :)