Be With You

A Fanfic by Cebolbyun

THIS STORY BELONG TO ME. IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. THANK YOU.

PART 1

"The Reason"

Siang ini chanyeol berencana melanjutkan pembicaraanya dengan Baekhyun disebuah cafe yang dekat dengan kampus mereka.

"Aku memiliki beberapa peraturan disini." Baekhyun melipat tanganya didada sambil menatap Chanyeol dengan tatapan tidak suka.

"Pertama. Kau harus tinggal dirumahku."

"APA?! Memangnya kenapa dengan tempat tinggalku?!"

"Itu tidak layak dan aku tidak mau membawa kakakku kerumah itu."

"Tapi itu layak untukku! " Baekhyun memprotes. Dan demi tuhan beberapa pasang mata sedang menatap kearahnya karna suara cemprengnya. (Yang hanya di buat-buat). "Aku menolak untuk pindah." Baekhyun membasahi tengorokanya dengan Jus Strawberry pesanannta.

"Kau tetap harus pindah. Aku memberimu tempat tinggak yang layak dan uang yang tidak sedikit jumlahnya, Byun."

"Berhenti memangilku dengan margaku."

Chanyeol menjentikan jari. "Kuangap itu jawban 'ya' " Ucapnya mengabaikan wajah kesal pemuda mungil dihadapanya.

"Yang kedua. Kau harus melakukan apa yang kukatakan. Apa saja."

"Apa ini semacam tindakan perbudakan?"

Chanyeol mendelik. "Apa?! Aku tidak sekejam itu dasar bodoh!"

Baekhyun menguap malas. "Lanjutkan."

Chanyeol menyesap americanonya sebelum melanjutkan pembicaraan. "Yang paling penting disini." Chanyeol mengubah raut wajahnya menjadi serius. "Tidak melibatkan perasaan."

Tepat setelah Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun terbatuk. Tersedak air liurnya sendiri.

"Kau berfikir aku akan menyukaimu seperti yang terjadi dalam novel novel picisan itu?"

"Hanya berjaga-jaga"

baekhyun mengangga tidak percaya. Entah karena Chanyeol dengan tampang tololnya atau karena Otak Chanyeol yang entah tercecer dimana.

Mungkin tercecer saat diperjalanan tadi.

Pff!

"Kau konyol sekali." Baekhyun berkomentar singkat karna sunguh memikirkan otak Chanyeol membuat kepalanya pening.

"Dan 1 lagi."

Baekhyun menghentikan tanganya. Padahal jusnya sudah hampir dingin. Uh.

"Kau adalah kekasihku sampai aku menemukan orang yang kusukai."

Baekhyun mengedikan bahu mengabaikan eksistensi Chanyeol ditempat itu dan meminum jusnya kembali.

"Mengapa tiba-tiba kau mencari kekasih? Maksudku- bukankah gadis-gadis itu kekasihmu?"

"Mereka? Kekasihku? Kau bercanda. Mereka hanya one night stand ku. Hanya itu. Tidak lebih."

Baekhyun membuang pandanganya kearah jendela.

"Dan ini semua karna kakakku dan mulut cerewetnya itu. Dia bilang aku harus mencari kekasih sejak sekarang karna saat aku lulus nanti ayah akan menempatkan aku pada salah satu perusahaanya dan aku diharuskan segera menikah."

Baekhyun mengangukkan kepalanya. Menoleh lagi kepada Chanyeol.

"Dan mengenai aku. Dari mana kau tau aku sedang memiliki masalah finansial?"

Pemuda berambut hitam itu tampak berfikir kemudian memekik secepat dia berfikir. "Oh! Kai mengatakan padaku bahwa dia mendengarmu berbicara pada dua temanmu dan dia menyarankan agar aku membantumu. Lagipula aku sedang membutuhkan kekasih sementara." Chanyeol menjeda agak lama sampai dia membuka suaranya kembali. "Dan lagi aku memiliki masalah dirumah. Tentang pacar dan apalah itu."

"Dan kau sedang mengencani seorang pria disini." Baekhyun tersenyum mengejek.

"Itu karna agar kakakku berhenti menjodohkan aku dengan teman wanitanya!" Chanyeol membela diri.

Dan dengan penampilan seperti itu dia terlihat konyol.

Sama seperti seorang pria dewasa yang memekik karna sebuah mainan impiannya.

Konyol.

"Ya. Ya. Terserah kau saja."

Malamnya, Baekhyun sedang bersiap siap dengan kepindahannya. Dia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan hal ini tapi jika itu bisa membantunya segera lulus dari universitas dan memiliki pekerjaan yang layak, mau bagaimana lagi?

Baekhyun menutup koper terakhirnya dan menyingkirkan semua kopernya disudut ruangan hingga menimbulkan suara berisik.

Ia melempar tubuhnya keatas ranjang.

Ah, kasur kesayanganan.

Ah pungungku~~

Tidak. Ini bukan saatnya bermain main.

Baekhyun duduk kembali lalu berfikir mengenai kencan pura-puranya dengan Chanyeol.

Oke, bagi sebagian gadis atau pria sekalipun menginginkan berada diposisi Baekhyun saat ini. Menjadi kekasih seorang Putra dari Park Jongsi, Park Chanyeol yang kaya juga tampan.

Bahkan tinggal di istana milik keluarga Park.

Bukankah itu seperti kau memenangkan sebuah lotre?

Tapi tentu saja Baekhyun tidak benar-benar menginginkan hal itu. Dia hanya ingin menjalani hidupnya sebagai seorang remaja normal berusia 20 tahun yang biasa-biasa saja. Lulus dengan nilai yang baik, mendapat pekerjaan yang layak lalu melanjutkan hidupnya dengan menikah.

Tidakkah itu terdengar sangat indah?

Dan mengapa pula dia harus terjebak dengan pemuda bermarga Park itu?!

"ARGH!" Baekhyun menarik rambutnya frustasi.

Baekhyun sunguh tidak mengerti mengapa mencari pekerjaan disaat kau belum mendapatkan ijazah s1 sangatlah sulit? Hingga pekerjaan paling mudah yang bisa ia dapatkan saat ini adalah 'Menjadi kekasih pura-pura Chanyeol.

Oh terkadang hidup memang tidak adil bukan?

Besoknya, Chanyeol menjemput Baekhyun pagi pagi sekali sambil sesekali mengeluh tentang bau yang busuk dan serangga dimana mana.

Baekhyun sedang menaikan koper terakhirnya kedalam mobil Chanyeol saat pria itu kembali mengerutu.

"Bagaimana kau bisa tinggal ditempat seperti ini?"

"Aku tidak terlahir sebagai seorang tuan muda sepertimu jika kau lupa. Aku sudah.. Terbiasa,mungkin?"

Chanyeol memberi gestur Baekhyun agar pemuda pendek itu masuk kedalam mobilnya.

Baekhyun masuk kedalam mobil Chanyeol tanpa banyak bicara.

Bahkan hening hingga akhirnya Chanyeol membuka suara.

"Kau tinggal sendiri ditempat itu? Dimana ayah ibumu?"

Ada jeda sejenak sebelum Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol. "Ibuku meningal saat aku berusia 10 tahun dan ayahku -menyusul ibu 2 bulan kemudian."

Dan Chanyeol merasa bersalah telah bertanya.

"Baek aku tidak-"

"Sejak saat itu aku hanya tingal berdua dengan kakakku. Tapi saat aku berusia 15 tahun -kakakku meningal ditempat kerjanya. Uh, seperti kecelakaan kerja."

Chanyeol terdiam. Ke 2 ekor matanya sesekali melirik kearah pemuda pendek disampingnya.

Entah mengapa Chanyeol merasa bersalah karna membuka luka lama dihati Baekhyun.

Dan bagaimanapun juga, Chanyeol bisa merasakan kesedihan Baekhyun karna-

"Ibuku juga meningal saat aku masih kecil. Mungkin saat aku 6-7 tahun." -Chanyeol juga merasakan hal yang sama.

Meskipun tidak kehilangan semuanya seperti Baekhyun. Setidaknya masih ada ayah dan kakaknya sekarang.

"Tenang saja. Kau memiliki kami sekarang. Uh maksudku, "

Dasar mulut sialan!

"Kau bisa.. Mengangap ayah dan kakakku sebagai keluargamu juga." Chanyeol segera mengoreksi kalimatnya. Well dia terdengar sangat cheese tadi.

Baekhyun tersenyum jenaka. Chanyeol sebenarnya heran dengan perubahan mood Baekhyun yang sangat cepat.

Tipe orang yang pintar menyembunyikan kesedihanya, huh?

"Terimakasih." Jawabnya singkat lalu membuang mukanya kesamping.

Menatap jalanan yang cukup ramain dikota seoul.

Dan dia baru menyadari bahwa diluar sana sedang turun hujan.

Baekhyun menganga. Dengan mata membulat seperti tokoh kartun pororo kesukaan Kyungsoo.

Dan mulut terbuka.

Oke itu tidak elit sama sekali.

"Apa yang kau lihat? Ayo masuk." Chanyeol menyentak bahunya kemudian berjalan beberapa langkah didepanya.

Benarkah ini sebuah rumah? INI RUMAH?!

RUMAH?! BENARKAH?!

Jika bangunan semewah dan semegah ini bernama 'Rumah' maka tempat tinggalnya itu apa?

Kandang ayam?

"Bawa barang barang si pendek ini kekamarku." Perintah Chanyeol pada beberapa pelayannya.

Uh, apa?

"Kamarmu? Tunggu sebentar tuan tukang perintah." Baekhyun menginterupsi. Secara otomatis pelayan Chanyeol pun ikut membeku ditempat.

Dan Chanyeol menatap Baekhyun seolah berkata, 'Hei! Siapa yang kau sebut tukang perintah?!'

"Bagaimana jik Itu-"Baekhyun menunjuk pada koper kopernya. "-Berada dikamarku dan kita bisa tidur dengan damai?"

Sialnya, Chanyeol menolak permintaan itu dengan tegas.

Uh, Menyebalkan.

"Jadi, kalian akan mendengarkan aku atau pria pendek ini?"

Seketika Hening.

"Bawa itu kekamarku. Dan jangan sampai aku mengulang yang ke 3 kali."

"Mengapa aku harus tidur dikamarmu, huh?!"

Baekhyun meletakkan ke dua tanggannya dipingang sambil menengadahkan kepalanya keatas.

Salahkan Chanyeol yang kelebihan kalsium!

"Kamarku adalah tempat yang nyaman untuk kau beristirahat."

Baekhyun mendelikan matanya. "Nyaman katamu?! Tidur bersama denganmu dan kau fikir aku bisa nyaman?!" Baekhyun meninggikan suaranya hingga beberapa oktaf.

Itu berlebihan kurasa.

Bagaimana jika aku mengeluarkan liurku saat tidur?!

Bagaimana jika suara mengorokku sangat kencang?!

Bagaimana jika bajuku tersingkap keatas dan-

-Sebuah Telunjuk mendorong dikeningnya.

"Berhenti berfikir macam-macam dan ikuti aturanku."

Baekhyun menarik nafas keras- "Fuck!" -Kemudian berjalan menghentak-hentak kelantai atas.

Chanyeol menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya dengan tiba-tiba.

"Ah paman Jung?" Ucapnya setelah mengetahui siapa yang menepuk pundaknya. "Ada apa?"

"Ah, Tuan Park mengatakan bahwa beliau akan menemui Tuan saat makan malam. Bersama Noona Yoora."

Chanyeol menganguk-anguk. "Ahh.. Baiklah kalau begitu aku akan meminta Baekhyun bersiap."

"Apakah Tuan Baekhyun kekasih Tuan Chanyeol?" Ucap paman Jung mencoba mengoda Chanyeol.

"Ahh,," Chanyeol tampak bersemu.

Apa? Dia bersemu. Hahaha. Haha.

"Dia kekasihku. Aku berencana akan memperkenalkan dia pada Ayah dan Noona."

"Baiklah Tuan. Saya yakin beliau pasti sangat menyukai Tuan Baekhyun."

Chanyeol tertawa. 1 tanganya menepuk bahu Paman Jung. "Baiklah paman. Terimakasih."

•••

Baekhyun sedang bersantai. Bersantai adalah hal yang menyenangkan, kau tau? Dan Baekhyun sangat menghargai waktu santainya dengan bermain game diponselnya.

Sampai seseorang merusak kesenanganya.

Sebuah paperbag terlempar kewajahnya.

Tidak mungkin itu paperbag kiriman dari santa claus padahal ini bukan hari natal.

"Pakai itu untuk makan malam. Ayah dan Noonaku ingin menemuimu."

Oh paperbag dari Chanyeol.

Baekhyun membuka isinya. Sebuah hodie berwarna putih dan celana jeans berwarna ash grey.

Dan ini adalah pakaian dengan brand yang mahal!

Oke kapital. INI ADALAH PAKAIAN DENGAN BRAND YANG MAHAL!

DEMI TUHAN BAHKAN BAEKHYUN TIDAK AKAN MAMPU MEMBELI PAKAIAN DENGAN MERK INI WALAUPUN DIA HARUS BEKERJA SEUMUR HIDUPNYA!

"Dan pastikan kau terlihat ca -um, tampan. Mereka akan datang sekitar pukul 7."

"Apa itu berarti aku harus menjaga etika dimeja makan. Ayolah, ini bukan seperti kita tinggal dijaman kerajaan." Baekhyun meletakkan paperbag itu disampingnya.

Dan bermain game lagi.

Dan Chanyeol merebut ponselnya dengan tiba-tiba.

Dan Baekhyun memasang wajah seolah dia baru saja kehilangan mainan kesayanganya.

"Aku akan membawa benda ini. Akan kuberikan ponsel yang baru."

"Apa?! Tapi-"

"Kau bisa memasukkan kartumu kedalam ponsel barumu. Ponselmu sudah kuno." Chanyeol memasukan benda itu kedalam sakuny.

Baekhyun bangkit dari atas kasur- "Kau!" -dan menunjuk Chanyeol tepat didepan wajahnya. "Kau menyebalkan!" Lalu berteriak.

"Ya ya. Terimakasih kembali."

Baekhyun tidak mencurigai apapun ketika Chanyeol memberinya paperbag sore tadi. Sungguh. Dia merasa seperti.. Salah kostum mungkin.

Uh itu memalukan!

Seharusnya Chanyeol membelikanya setelah jas atau -pakaian yang lebih baik dari pada hodie!

Lihat Yoora nonna. Dia memakai terusan berwarna hitam yang sangat pas ditubuhnya. Cantik dan elegan.

Ayah Chanyeol bahkan mengenakan setelan jas berwarna hitam.

Dan Chanyeol sendiri memakai sebuah kemeja berwarna hitam juga celana berbahan kain berwarna hitam.

Baekhyun terlihat seperti -uh, benar-benar salah kostum.

"Nah Chanyeol, pria cantik disampingmu itu -siapa dia?"

WTF- Cantik?!

Demi kolor keropi milik Luhan! DIA TAMPAN!

"Yang satu ini milikku ayah. Jangan menyentuhnya. Dan namanya Baekhyun. Byun Baekhyun."

Baekhyun tersenyum manis layaknya seorang menantu.

What?! Menantu pantatmu!

"Dimana kau tinggal sayang? Dan dimana orang tuamu?"

Baekhyun sudah membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Ayah Chanyeol.

Tapi Chanyeol sepertinya memilki kebiasaan menyela pembicaraan orang lain.

"Dia sebatang kara dan -sekarang dia tinggal disini."

"aku turut berduka Baekhyunnie-"

"Ayah. Dia. Milikku."

Ayah Chanyeol menampillan senyuman menawannya.

Oh Baekhyun jadi tau dari mana Chanyeol mendapatkan senyum menawan itu.

"Kurasa aku benar-benar harus menjauhkan Baekhyun darimu."

"Chanyeol!" Baekhyun berdesis. Menyengol lengan Chanyeol. "Dia ayahmu dasar bodoh!" Gumamnya pelan.

Suara tawa mengelegar diruangan itu. "Jangan khawatir. Dia memang seperti itu dan aku tidak keberatan."

Baekhyun tersenyum cangung.

"Jadi Baekhyun, kau akan tingal disini?" Kali ini suara khas wanita menyapa telinganya. Halus dan berwibawa.

"Iya noona saya meminta ijin untuk tinggal disini."

"Meminta ijin?" Yoora tersenyum. Cantik sekali. "Tentu saja. Kekasih Chanyeol adalah keluarga kami juga. Benar kan ayah?"

Tuan Park menganguk singkat.

"Tunggu." Chanyeol menginterupsi. "Tidak apa jika adikmu ini, gay?"

Yoora mengedikan bahu. "Gay bukan penyakit menular Yeol. Lagipula memangnya kenapa kalo adikku memiliki kebahagiaanya sendiri bersama kekasihnya. Benar begitu?"

Chanyeol terdiam. Menatap steak dihadapanya.

"Lagipula ini sudah lama sekali kau tidak membawa kekasihmu kemari. Bagus kalau kau membawa kekasihmu bukannya wanita wanita-"

"Okay cukup nonna. Thanks."Chanyeol segera memotong dengan wajah malas.

Baekhyun menundukkan kepalanya. Menatap makannya yang belum tersentuh.

Mau tidak mau dia harus mengakui bahwa hatinya menghangat ketika keluarga Chanyeol menerimanya dengan baik. Dia merasa seperti benar-benar menjadi kekasih Chanyeol. Apa? Kekasih. Oh konyol.

Ya sangat konyol.

Baekhyun menertawakan dirinya sendiri.

"Oh Chanyeol. Seulgi akan datang besok."

Baekhyun mengerutkan kening tiba-tiba.

Seulgi? Nama yang aneh.

"Ada apa?"

"Jina dan aku akan mengadakan perjalanan bisnis cukup lama di Jepang. Dan Noonamu akan berangkat ke China besok. Jadi aku menitipkan Seulgi padamu."

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol.

Ini aneh. Mengapa raut wajah Chanyeol terlihat tidak suka?

"Mengapa tiba-tiba sekali?"

"Karna aku pergi tiba-tiba, Chanyeol."

"Oh yeah, jawaban yang sangat masuk akal."

"Dia tidak akan merepotkan. Oke?"

Chanyeol berdecak. "Kuharap dia tidak memgacau dikorea. Well, korea bukan seperti Newyork Ayah."

"Ayah tau. Ayah akan bicara padanya."

Jadi, siapa Seulgi itu? Dan mengapa Chanyeol terlihat sangat terganggu?

Apa dia-

TBC!

Jangan lupa review ^^