Be With You

A Fanfic by Cebolbyun

THIS STORY BELONG TO ME. IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. THANK YOU.

5

Ini adalah hari pertama Baekhyun berangkat kekampus sendiri setelah beberapa hari terakhir dia selalu berangkat bersama dengan Chanyeol.

Dan rasanya sedikit aneh saat hampir semua orang berbisik sambil melihat kearahmu seolah sedang mengosipkanmu.

Tapi toh Baekhyun tidak perduli. Dia tetap melangkah menuju kelasnya.

Ia meletakkan tasnya disamping dimeja membuat Kyungsoo yang sedang mengobrol dengan Luhan menolehkan kepala. Dan menampilkan raut wajah khawatir mereka.

"Chanyeol bilang kau mengurung diri dikamar! Apa ada hal buruk yang terjadi?" Luhan mulai memborongi Baekhyun dengan pertanyaan.

Baekhyun mengeleng singkat. "Hanya ada.. 1 masalah. Tapi entah mengapa itu sangat menganguku."

Luhan memperhatikan pria mungil dihadapanya dan dia baru menyadari bahwa Baekhyun sedikit mirip dengan zombie pagi ini. "Kau seperti tidak tidur dengan baik. Lihat. Kantung matamu memiliki kantung mata."

Baekhyun tersenyum samar.

Kyungsoo disampingnya menepuk di bahunya. "Jadi ada masalah apa?"

Untuk sesaat, Baekhyun jadi merasa ragu apakah dia harus menceritakan tentang Chanyeol yang mencium Seulgi pada Kyungsoo dan Luhan atau tidak. Karna well, Baekhyun tidak ingin mereka berdua khawatir mengingat Baekhyun masih tingal bersama Chanyeol. Dan juga, Baekhyun tidak ingin menambah pening kepalanya dengan masalah lain lagi. Cukup masalahnya dengan Chanyeolyang membuat kepalanya pening.

Tapi menyembunyikan sesuatu dari 2 sahabatnya adalah hal yang sangat buruk. Karna jujur saja, Mereka selalu terbuka satu sama lain selama ini. Mungkin hal itulah yang membuat hubungan persahabatan mereka tetap terjaga hingga sekarang. Baekhyun sendiri juga tidak berniat menyembunyikan apapun dari kedua sahabatnya karna, Luhan bisa jadi membunuhnya dan Kyungsoo merebusnya didalam salah satu panci dirumahnya. Jadi Baekhyun memilih untuk menceritakan semuanya, sangat detail hingga mengapa dia berangkat kekampus sendiri.

Luhan mengebrak meja. Reaksi yang diluar prediksi Baekhyun."Bajingan itu." Luhan sudah bangkit berdiri berniat melabrak Chanyeol namun Baekhyun menahan tanganya.

"Sudahlah lu, ini masalahku. Aku bisa menyelesaikanya sendiri." Baekhyun mencoba menenangkan Luhan. Hei! Dia bisa menjadi singa betina jika dia marah!

"Tapi Baek, dia menyakitimu demi tuhan!"

Baekhyun mengeleng. "Bukankah aku hanya kekasih pura-puranya? Lagipula dia straight dan Seulgi adalah seorang gadis. Bukankah itu masuk akal?" Tatapan Baekhyun melembut berharap Luhan akan mendengarkanya.

Kyungsoo mendesah panjang. "Baekhyun benar. Biarkan saja dia. Dan biarkan Baekhyun menyelesaikanya sendiri."

Luhan mengalah. Dia kembali menempatkan bokongnya dikursi.

Tak lama, seorang pria bertubuh tinggi masuk kedalam kelas dengan nafas memburu kemudian berlari menghampiri meja Baekhyun.

"Baek..hyun.." Katanya terengah. Baekhyun menoleh kemudian menatap pria dihadapanya dengan wajah bingung. "Aku mencarimu pagi ini. Mengapa kau tidak bilang akan berangkat duluan?" Chanyeol melanjutkan kalimatnya setelah nafasnya kembali normal.

"Ada yang harus kukerjakan."

"Kau belum sarapan. Ayo." Chanyeol mengengam pergelangan Baekhyun namun Baekhyun menolaknya bahkan engan melihat wajahnya. Sama seperti kemarin saat dia membantu Baekhyun membersihkan sisa-sisa pesta.

"Aku akan pergi keperpustakaan." Baekhyun bangkit bediri. "Dan kau jangan mengikutiku." Baekhyun menunjuk Chanyeol tepat diwajahnya kemudian melangkah meningalkan kelas.

Chanyeol menengok kearah Kyungsoo dan luhan namun ke dua teman Baekhyun memalingkan wajah darinya. Chanyeol tau bahwa Baekhyun sudah menceritakan semuanya kepada Luhan dan Kyungsoo. Itulah mengapa Luhan dan Kyungsoo engan bahkan untuk menatap wajahnya.

Dengan wajah lesu, Chanyeol melangkah keluar. Toh jika dia mengikuti Baekhyun hanya akan membuat Baekhyun semakin marah padanya.

.

.

.

"Sudah kubilang kau itu bajingan." Jongin berkomentar dengan nada tidak suka saat Chanyeol menceritakan apa yang membuatnya tampak lesu pagi ini.

Oh ayolah dia bahkan belum sempat sarapan.

Chanyeol bersungut-sungut. Kesal. Entah kepada mulut sialan Jongin atau kepada dirinya sendiri.

Sehun menepuk bahu Chanyeol. "Kau sudah bicara padanya? Aku melihatnya tampak seperti zombie tadi pagi."

"Yeah aku juga melihatnya. Dan dia menolak sarapan denganku." -padahal aku kelaparan sekarang.

Jongin melompat dari atas meja lalu menarik sebuah kursi dan menempatkan bokongnya disana. "Kurasa kau harus bicara padanya. Serius. Dalam kasus ini kau yang bersalah." Ucap Jongin. "Dan kau harus memastikan jika Baekhyun tidak akan melayangkan cakarannya diwajah adikmu." Tambahnya sebelum akhirnya membuka aplikasi game diponselnya dan mulai berteriak seperti orang bodoh.

Sehun meletakkan keningnya dimeja. Menghela nafas panjang dengan perilaku bodoh sahabatnya. "Well, Jongin benar. Kau harus bicara padanya." ucapnya setelah mengangkat wajahnya kembali.

Chanyeol mengusap kasar diwajahnya, merasa frustasi dengan apa yang menimpanya pagi ini, Atau karma apa yang menimpanya karna tingkah lakunya.

Oh god.

"Aku akan menyusul Baekhyun."

.

.

Dan Chanyeol melakukanya. Berlari secepat yang dia bisa untuk sampai diperpustakaan. Nafasnya memburu. Ia menumpukan kedua tanganya dikedua pahanya dengan posisi menunduk untuk menentralkan deru nafasnya.

Setelah semuanya kembali normal, kedua matanya berpencar untuk mencari sosok pria mungil yang tampak asik dengan buku yang dibacanya. Disudut ruangan.

Itu dia.

Maka Chanyeol berjalan dan mengambil tempat dihadapan Baekhyun. Baekhyun yang merasa seseorang sedang memandanginya segera menoleh dan membuka lebar matanya melihat siapa yang duduk didepanya.

"Bukankah sudah kukatakan? Aku tidak ingin diikuti. Olehmu." Baekhyun berdesis karna hey, ini perpustakaan man. Jangan berisik atau penjaga perpustakaan akan menendangmu keluar dari tempatnya dan mengingat Baekhyun masih membutuhkan beberapa hal ditempat ini, Baekhyun fikir akan lebih baik jika dia menaati peraturan di tempat ini.

Chanyeol tersenyum seperti orang gila. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Ucapnya kemudian.

"Tidak. Pergi sekarang juga."

"Bagaimana jika aku tidak mau?"

"Maka aku yang akan pergi." Baekhyun bangkit berdiri menimbulkan suara decitan nyaring dikursinya disusul suara sssttt dari beberapa mahasiswa. Tuh kan? Sudah kukatakan padamu.

Chanyeol menahan pergelangan tangan Baekhyun. "Maaf karna aku melakukanya. Aku.. Aku

.. Itu diluar kendaliku." Chanyeol mendesis masih mencengkram pergelangan tangan Baekhyun. Memastikan agar pria mungil itu tidak lari.

Lagi. Baekhyun menepisnya. Namun pria mungil itu memilih untuk kembali duduk dikursinya. Lagipula dia tidak ingin membuat keributan di perpustakaan. Sunguh. Dia tidak ingin ditendang keluar sekarang.

"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu, Chanyeol." Tukas Baekhyun. Pria mungil itu membereskan buku-bukunya diatas meja. Menumpuknya menjadi 1 tumpukan. "Angap saja kita ini seperti simbiosis mutualisme. Aku membutuhkanmu untuk membiayaiku hingga aku lulus dan kau membutuhkanku untuk melengkapi kebohonganmu pada orang tuamu." Baekhyun menarik bukunya dari atas meja kemudian menatap Chanyeol tepat dikedua matanya. "Soal dengan siapa kau menjalin hubungan diluar perjanjian kita, itu bukan urusanku. Begitupun sebaliknya." Ucapnya sebelum meningalkan Chanyeol sendiri ditempat itu.

Chanyeol menarik kasar rambutnya lalu menengelamkan wajahnya pada lipatan tanganya. Dia benar-benar merasa seperti pria brengsek sekarang.

Oh sial.

.

.

.

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan dan segera berlari menuju kamar mandi. Didepan cermin, pria mungil itu menundukkan wajahnya. Menumpahkan seluruh air matanya disana meskipun dia tidak tau apa yang membuatnya menjadi pria lemah seperti ini. Benarkah semua ini karna Chanyeol? Benarkah dia telah menyukai pria bertubuh tinggi itu? Jika tidak mengapa hatinya merasa sesakit ini melihat Chanyeol mencium gadis lain?

Lagi-lagi Baekhyun jatuh pada kenyataan bahwa Chanyeol hanya membutuhkan dirinya untuk ikut masuk kedalam kebohongan yang pria itu buat dan Baekhyun tidak bisa berbuat apa apa dengan rasa sukanya sementara Chanyeol telah menyukai gadis lain. Seorang gadis. Setidaknya itulah yang ada dikepala Baekhyun saat ini.

Dan hei, mana mungkin kau mencium seorang gadis yang tidak kau sukai jika kau bukanlah seorang yang brengsek?

Atau memang chanyeol seperti itu adannya. Atau memang Chanyeol seorang yang brengsek.

Tiba-tiba Baekhyun teringat akan sosok Chanyeol yang sebenarnya. Bukankah sudah menjadi hal yang biasa seorang Park Chanyeol memiliki banyak gadis disekitarnya hanya untuk patner satu malamnya.

Baekhyun merasa bodoh sekarang. Seharusnya dia tau bahwa sejak awal Chanyeol adalah seorang straight. Dan tidak akan pernah mungkin Chanyeol menyukainya.

Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap pantulan wajahnya di cermin kemudian membasuh wajahnya dengan air. Dia memang terlihat mengerikan. Baekhyun melihat bayangan wajahnya yang mengerika disana.

Dia menghela nafas. Panjang dan berat.

Ribuan kali Baekhyun memantapkan hatinya bahwa dia melakukan hal ini hanya demi dia bisa lulus dari kampus ini dan mengejar cita-citanya.

Dengan kepingan hatinya yang tersisa, Baekhyun melangkah keluar sambil kembali menata kembali kepingan hatinya yang hancur karna ulah Chanyeol.

.

.

.

Baekhyun memasukkan barang-barangnya kedalam koper tepat setelah dia pulang dari kuliahnya. Dia bahkan tidak repot-repot untuk mengganti pakaiannya.

Tepat disaat koper terakhirnya selesai, Chanyeol masuk kedalam kamar dan raut wajahnya berubah panik melihat Baekhyun membereskan semua barangnya.

"Aku ingin pindah kamar." Baekhyun bersuara sebelum yang lebih tinggi bertanya. "Bisa kau tunjukan dimana kamar yang kosong?"

Chanyeol termanggu. Ingin sekali dia menahan Baekhyun untuk tetap tinggal dikamarnya. Tapi dia tidak ingin menjadi pria yang egois kali ini atau dia akan membuat Baekhyun semakin merasa sedih. Mungkin saja Baekhyun membutuhkan waktu untuk sendiri.

"Kamar disebelah kamarku kosong. Kau bisa pindah kesana jika kau mau."

Tanpa berkata apapun Baekhyun mengeret 2 kopernya keluar dari kamar.

BLAM.

Chanyeol terduduk lesu diatas tempat tidurnya. Sisi dimana Baekhyun biasa tidur. Dengan gerakan pelan, Chanyeol mengusapkan lenganya pada seprai ditempat tidurnya. Merasakan bagaimana tekstur lembut seprei itu mengelitik telapak tangannya. Sambil mengingat jika Baekhyun pernah berbaring disana.

Bahkan aroma Baekhyun masih tertingal dibantalnya.

Chanyeol meringis. Menertawakan kebodohannya sendiri. Jika saja dia tidak bertindak ceroboh hingga menikmati ciuman Seulgi saat itu, Baekhyun tidak akan pergi. Mereka tidak akan menjadi seperti ini.

Chanyeol menjatuhkan kepalanya diatas bantal Baekhyun kemudian memejamkan kedua matanya. Aroma Baekhyun selalu membuatnya merasa tenang dan dia menyukai itu. Atau lebih tepatnya, dia menyukai semua hal yang berhubungan dengan pria mungil itu hingga dia sadar bahwa dia telah memberikan hatinya pada pria mungil itu.

Ditempat yang sama Baekhyun sedang menata beberapa barangnya kedalam lemari hingga tanganya menyentuh baju yang Chanyeol berikan untuknya. Baju pertama. Sebuah hodie putih yang dia kenakan untuk makan malam bersama keluarga Chanyeol kala itu.

Baekhyun mendesah panjang. Jari-jarinya mencengram kuat baju ditanganya hingga tanpa sadar dia kembali menangis.

Ini bahkan belum ada 1 jam dia berpisah dengan Chanyeol dan Baekhyun sudah merindukan Chanyeol berada disekitarnya.

Meskipun berkali-kali Baekhyun membuat tekat yang kuat untuk bersikap tenang dihadapan Chanyeol, tekatnya selalu runtuh disaat dia sendiri seperti ini. Kenyataanya dia bahkan tidak bisa membenci Chanyeol. Dia hanya.. Marah. Kepada Chanyeol juga kepada dirinya sendiri.

Kepada dirinya karna dia tidak bisa menahan perasaanya terhadap Chanyeol bahkan berani menyukai pria sempurna seperti Chanyeol.

Baekhyun merasa benar-benar bodoh bahkan hatinya sempat mengutuk dirinya yang dengan mudah tergiur dengan tawaran Chanyeol sampai akhirnya dia terjebak dengan kesepakatan yang dia buat sendiri.

Jika saja dia tidak pernah mengenal Chanyeol semuanya pasti akan baik-baik saja. Dia tidak harus merasakan perih dihatinya melihat Chanyeol berciuman dengan gadis lain sekalipun.

Baekhyun menjatuhkan dirinya diatas lantai. Menengelamkan wajahnya diantara kedua lututnya dengan 1 tangan mengcengkram erat hodie pemberian Chanyeol. Dan menangis sepuasnya berharap Chanyeol tidak akan mendengar suara tangisannya.

.

.

Sudah stu minggu penuh terhitung sejak Baekhyun bersikap diam kepada Chanyeol. Meski Baekhyun tidak benar-benar bersikap seperti itu disaat diam-diam dia masih memperhatikan Chanyeol. Jika kalian bertanya apakah Baekhyun sudah baik-baik saja jawabannya adalah tidak. Baekhyun tidak baik-baik saja. Dia selalu berangkat kekampus dengan wajah lesu. Senyumannya menghilang sejak dia melihat Chanyeol berciuman dengan Seulgi dan ketika Baekhyun kembali mengingat hal itu, Baekhyun kembali merasakan sakit didadanya. Rasanya sesak. Seolah kau akan kehilangan nafasmu sebentar lagi. Dan berakhir dengan Baekhyun yang menangis dikamar mandi kampus atau dikamarnya sendiri.

Perubahan sikap Baekhyun membuat Kyungsoo dan Luhan merasa iba. Bukan sekali dua kali Luhan ingin melayangkan tinjunya didepan wajah Chanyeol agar pria itu sadar dengan sikap brengseknya dan bukan sekali dua kali Kyungsoo menahannya dengan alasan Baekhyun akan marah jika Luhan melakukanya. Alhasil Luhan kembali memendam rasa marahnya pada Chanyeol.

"Baek, kita pergi kekedai eskrim setelah ini. Bagaimana?" Tanya Luhan tepat setelah mata kuliah terakhir mereka selesai.

Baekhyun meresponnya dengan angukan tanpa minat. Dia memilih menunduk sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas.

Luhan dan Kyungsoo saling berpandangan. Biasanya Baekhyun yang paling semangat untuk membeli es krim strawberry kesukaanya disana seolah Baekhyun mengantungkan hidunya untuk 1 mangkuk es krim disana. Dan kali ini berbeda. Pria mungil itu bahkan hanya mengaduk tanpa minat eskrim stawberry pesanannya.

Kyungsoo menjulurkan tanganya, mengusap lembut pungung Baekhyun. "Kau ingin menceritakan sesuatu kepada kami?" Kyungsoo bertanya dengan nada lembut. Baekhyun mendongak untuk menandangi Luhan juga Kyungsoo secara bergantian.

Melihat keyakinan dimata Luhan juga Kyungsoo, Baekhyun memilih untuk menceritakannya semuanya kepada kedua sahabatnya berharap hatinya akan sedikit lega setelah itu.

"Dia bersikap sangat dingin kepada Seulgi sekarang."

"Seulgi masih mengodanya?" Luhan bertanya sambil memasukkan es krin vanilanya kedalam mulut.

Baekhyun menganguk. "Kurasa Chanyeol tidak meresponnya. Dia.. Dia terlihat kacau. Aku melihatnya bangun terlambat akhir-akhir ini. Dia banyak mengurung diri didalam kamar dan melupakan makan malamnya." Baekhyun menghela nafas panjang. Dia kembali mengaduk-aduk eskrimnya. "Sehun dan Jongin sempat mengirim pesan padaku. Mereka mengatakan hal yang sama. Mereka bilang Chanyeol mengacaukan nilai mata kuliahnya. Dan mereka bilang jika Chanyeol seperti ini terus, Itu tidak akan bagus untuk Chanyeol. Dia bisa mendapat surat peringatan atau lebih parahnya dia bisa dikeluarkan." Baekhyun kembali menunduk kemudian meremas celananya sendiri. "Apa yang harus kulakukan? Ini sudah 1 minggu dan aku.. Aku belum bisa berbicara padanya.. Aku.. Aku tidak bisa. Meskipun dia selalu mengirim pesan 'minta maaf' padaku bahkan menelfonku sampai beberapa kali dalam sehari. Aku.. Aku tidak bisa." Ucap Baekhyu terbata. Baekhyun mengelengkan kepalanya pelan sampai Kyungsoo meletakkan tanganya dipundak Baekhyun agar pria mungil itu sedikit tenang.

"Dengarkan aku Baek. Hanya kau yang bisa memaafkan sikap Chanyeol." Kyungsoo membuka suara.

"Berhentilah menyiksa diri kalian dan bicaralah satu sama lain." Tambahnya kemudian.

Baekhyun menoleh kearah jendela sambil memikirkan perkataan Kyungsoo. Sudah saatnya dia mengakhiri ini. Sudah saatnya dia berbicara dengan Chanyeol. Setidaknya Baekhyun akan mencoba. "Baiklah aku akan mencobanya."

.

.

Baekhyun meletakkan tasnya diatas tenpat tidurnya kemudian berjalan menuju lemari berniat akan menganti pakaiannya sampai dia mendengar suara gaduh dihalaman belakang rumah Chanyeol. Dia meraih pakaian milikknya, memakainya dengan gerakan cepat kemudian berlari menuju halaman belakang.

"Kau menyalahkanku atas semua in?! Kulihat kau menikmatinya!"

Mendengar suara seulgi yang membentak, Baekhyun memutuskan untuk bersembunyi disalah 1 pilar runah Chanyeol. Dia mengamati dari tenpat persembunyianya.

"Kau tau aku mabuk saat melakukannya! Aku bahkan baru teringat setelah Baekhyun mengatakannya!" Kali ini giliran Chanyeol yang meningikan suaranya.

" Jadi semua ini tentang Baekhyun?!"

"Ya! Dan semua ini karna kau." Chanyeol menujuk tepat didepan wajah Seulgi. Seulgi menepisnya dengan segera.

"Apa hebatnya Baekhyun Dibandingkan aku?! Aku sangat mencintaimu. Aku melakukan semua ini agar kau juga mencintaiku!"

Baekhyun mengigit bibirnya melihat Chanyeol memijat pelipisnya sendiri. Dia terlihat frustasi dan lelah. "Tapi aku mencintai Baekhyun. Aku mencintainya. Dan jika jau berfikir bisa melakukan ini lagi padaku atau Baekhyun aku akan menendangmu keluar dari rumah ini." Ucapnya. Sangat berat dan penuh penekanan. Baekhyun tau bahwa Chanyeol sama lelahnya dengan dirinya.

Seulgi terdiam. Ia membuang wajahnya kesamping. Terlihat marah dan kesal namun raut wajah angkuhnya tidak pernah hilang.

"Aku melindungimu dari ayah karna kau adalah adikku dan kuharap kau tidak melebihi batasmu lagi, Seulgi." Tepat setelah mengatakan hal itu Chanyeol pergi menjauh dari tempat seulgi berada.

Beruntung Baekhyun merapatkan tubuhnya pada pilar jadi Chanyeol tidak melihatnya disana bahkan tersenyum setelah hatinya merasa lega mengetahui bahwa Chanyeol mencintainya dan meningikan suaranya pada Seulgi.

Baekhyun menatap pungung Chanyeol yang masuk kedalam kamar dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya. Lagi. Jantungnya kembali berdetak upnormal dan kali ini Baekhyun menyukai sensasi saat jantungnya berdetak cepat karna Chanyeol.

TBC

Kkk Updatenya lama yaaa.. maaf deh author bener-bener bingung bagi waktu antara kerja sama nulis fanfic. Disini siapa yang udah kerja angkat kakinya /eh?/

Kadang juga ide dikepala Authr tiba-tiba hilang~ huhu U.U

Hahaha maafkan author ini kalau banyak typo bertebaran. Author udah berusaha ilangin kok, suer. Ehe.

Semoga jalan ceritanya kali ini nggak ngecewain kalian~ muahehehe salam Chanbaek ^^