Be With You

A Fanfic by Cebolbyun

THIS STORY BELONG TO ME. IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. THANK YOU.

6

Malamnya, Chanyeol memutuskan untuk tidak melakukan apapun. Tidak mengerjakan tugas kuliahnya atau apapun. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali dia mengerjakan tugas kuliahnya. Yang dia kerjakan sepanjang malam hanya berdiri dibalkon hingga larut malam sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidur. Begitu setiap hari. Dia tidak perduli jika nanti pihak kampus akan mengeluarkanya. Dia tidak bisa berkonsentrasi disaat Baekhyun masih menghantui fikirannya. Juga rasa bersalah itu masih menyelimuti hatinya.

Seperti teringat sesuatu, Chanyeol meraih ponselnya didalam saku celannya. Menekan speed dial nomor 1 dan menempelkan ponselnya ketelinga.

Hanya beberapa kali nada dering hingga suara tut tut yang cepat. Menandakan bahwa tidak ada yang menjawab pangilan darinya. Selalu seperi ini setiap harinya.

Chanyeol menghela nafas panjang. Dia mengetikan beberapa kata pada ponselnya. Setelah mengirimkannya pada orang itu dia memasukkan kembali ponselnya disaku celananya dan kembali menatap lurus kedepan.

"Chanyeol.."

Chanyeol tersentak ditempatnya dan segera memutar tubunya ketika mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya. Dan benar saja. Baekhyun berdiri disana. Membawa nampan berisi makanan. Chanyeol tersenyum lebar. Tidak. Sangat lebar.

"Aku membawakan ini untukmu. Paman Jung bilang kau selalu melewatkan makan malammu." Baekhyun meletakkan nampan yang dibawahnya diatas kursi dibalkon Chanyeol. Memang benar jika paman Jung merasa khawatir dengan Chanyeol namun Baekhyun jauh lebih khawatir dari paman jung mengkhawatirkan Chanyeol.

Baekhyun membawa tubuhnya berdiri disamping Chanyeol kemudian menatap kedepan. Tersenyum melihat kerlap-kerlip lampu diseoul.

"Aku merindukan balkon ini. Disini sangat indah." Baekhyun bergumam sementara Chanyeol hanya termangu seperti orang bodoh. Dia tidak percaya akhirnya Baekhyun berbicara padanya. Dia benar-benar merindukan pria mungil itu.

"Aku suka tempat ini. Dengan kau berdiri disini sepanjang malam dan aku melihatmu dari atas tempat tidur karna aku tidak tahan dingin." Baekhyun tersenyum sendiri. Namun sedetik kemudian, raut wajahnya berubah sendu.

"Chanyeol." Baekhyun memutar tubuhnya menghadap Chanyeol kemudian menundukan wajahnya. "Maafkan aku.. Kurasa.. Aku bersikap kekanakan." Demi tuhan Baekhyun mengutuk dirinya sendiri juga kegugupan didalam dirinya. Padahal dia mati-matian menyiapkan kata-kata yang pas untuk berbicara dengan Chanyeol dan semuanya menguap entah kemana ketika dia melihat Chanyeol. "Aku membuatmu kacau seperti ini.. Aku.." Dengan gerakan cepat Chanyeol menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya.

Akhirnya. Chanyeol berbisik pada dirinya sendiri.

Lihat bagaimana tubuh mungil itu sangat pas dengan tubuh besar Chanyeol.

"Jangan mengatakan apapun. Seharusnya aku yang meminta maaf disini. Semua adalah salahku. Aku minta maaf Baek. Sunguh.." Chanyeol merasakan Bekhyun menganguk dalam dekapannya dan itu membuatnya tersenyum lega.

"Kembalilah Baekhyun. Kamar ini juga milikmu."

Yang lebih kecil melingkarkan tanganya dipingang Chanyeol kemudian menganguk disertai senyuman diwajahnya meski Chanyeol tidak bisa melihatnya.

.

.

Semuanya berjalan seperti biasa. Baekhyun berangkat kesekolah bersama dengan Chanyeol lagi kali ini. Ditambah senyuman diwajah mereka dan gadis-gadis yang masih mengosip satu sama lain sama seperti biasanya.

Baekhyun masuk kedalam kelas setelah Chanyeol mengantarnya sampai didepan kelasnya. Tak lupa mengusak surai kecoklatan Baekhyun sebelum dia pergi.

"Senang melihatmu tersenyum lagi." Kyungsoo membuka suara melihat Baekhyun duduk disampingnya dengan wajah ceria. "Jadi, kalian sudah baikan?"

Baekhyun menganguk cepat. "Dia bahkan mengatakan dia mencintaiku didepan Seulgi."

"God. Tidak mungkin." Luhan membulatkan kedua matanya.

"Aish aku serius lu! Mereka bertengkar hebat dan aku mengintip. Dan kau tau? Chanyeol mengatakannya." Baekhyun kembali tersenyum.

"Astaga Baek pipimu bersemu!" Luhan menunjuk tepat di kedua pipi Baekhyun membuat yang lebih mungil mengerucutkan bibirnya.

"Lu berhentilah mengodanya." Kyungsoo menengahi. "Nah kau merasa lega?"

Baekhyun menganguk cepat. Dengan kedua mata yang berbinar. "Ayo kekedai eskrim. Aku merasa kasihan pada eskrim strawberryku. Aku mengabaikannya 1 minggu kemarin."

Baekhyun kembali mengerucutkan bibirnya lucu.

"Nanti setelah kita selesai ujian, Baek."

"Astaga ujian! Aku lupa!"

.

.

Biarkan Baekhyun menyebut ini takdir. Atau apapun yang bermaksud sama dengan itu. Karna dia tidak tau jika Chanyeol juga berada dikedai eskrim siang ini bersama Jongin juga Sehun. Pria betelingga lebar itu tersenyum sama lebarnya dengan telinganya ketika melihat baekhyun masuk kedalam kedai eskrim bersama Luhan dan Kyungsoo.

Chanyeol melambaikan tanganya yang mana membuat Baekhyun langsung menatap kearahnya kemudian membuang wajahnya malu.

"Haruskah kita duduk disebelah sana Kyung?" Luhan menaik turunkan alisnya mengoda Baekhyun.

"Ti -tidak." Baekhyun menyela cepat. "Kita duduk di.. Sana." Baekhyun menunjuk kearah kursi disamping jendela. Tempat favoritnya. Dan itu berjarak sekitar 1 bangku dengan tempat Chanyeol duduk.

Kyungsoo dan Luhan menghela nafas hampir bersamaan. Mereka mengikuti kemana Baekhyun memilih tenpat duduk.

Baekhyun sangat mengutuk Chanyeol juga senyuman idiotnya itu. Yang mana membuat hampir seluruh orang diruangan memperhatikan kearahnya. Sial.

"Ah Baekhyun. Apakah kalian.. Benar-benar berpacaran? Maksudku. Berpacaran sunguhan. Oke." Luhan mendengus. "Kau mengerti maksudku kan?"

Baekhyun menganguk singkat kemudian mengelengkan kepalanya. "Aku tidak. Maksudku kami tidak."

Kyungsoo menoleh kearah meja Chanyeol bermaksud melihat Chanyeol disana tapi hei! Apa yang dia dapatkan?! Jongin mengerling padanya. MENGERLING DEMI TUHAN!

Kyungsoo ingin muntah saja rasanya.

"Kau baik-baik saja?" Kyungsoo menganguk menjawab pertanyaan Baekhyun.

Ya dia baik. Atau tidak sama sekali karna Jongin terus menatap kearahnya.

"Kurasa dia tertarik denganmu."

What the f*ck.

Luhan tersenyum menampilkan semua giginya dibalas tatapan tajam oleh Kyungsoo. "Serius! Dia menatapmu terus Kyung~"

"Katakan itu pada pria yang kemarin malam berkencan dengn sehun."

"Apa?! I -itu bukan kencan. Aku hanya menemaninya menonton film! Hanya itu."

"Hanya menonton film, huh? Sambil berpegangan tangan?!"

"Hey aku tidak!"

Baekhyun menukikkan alisnya tajam kemudian melipat kedua tanganya dan menatap heran kearah dua manusia yang sedang berdebat didepannya.

"Guys. Ada yang kukewatkan disini? Atau.. Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"

Kyungsoo dan Luhan membeku. Membeku bukan membeku seperti es, oke.

"Kalian menyembunyikan sesuatu! Aku tau itu hmphhhh-"

"Mother of god!" Luhan mendesis ditengah aksinya membekap mulut serampangan Baekhyun.

"Hmphhh! Mpphh!"

"Tidak jika kau masih berteriak seperti orang gila." Kyungsoo menatap sekeliling dan mendapati Chanyeol juga teman-temannya melihat kearah mejanya. "Dan membuat Chanyeol dan 2 temannya melihat kita. Serius. Berhentilah Baek."

Baekhyun diam. Dengan padangan tidak terima. Dan Luhan melepaskan tanganya yang sekarang bercampur dengan liur Baekhyun. "Menjijikan."

"Katakan. Padaku. Sekarang." Ucap Baekhyun disertai penekanan disetiap kalimatnya. "Sejak kapan kalian saling mengenal 1 sama lain."

Luhan membuang tissue yang dia pakai membersihkan tanganya kesembarang tempat. "Baekhyun, aku dan Kyungsoo berteman sejak kami berada di semester 1, sayang." Luhan menjawab.

"Bitch."

Luhan menampilkan wajah bodohnya. "Apa? Itu benar! Bahkan kau juga teman kami!" Luhan cemberut. Itu hanya pura-pura, oke?

"Maksudku kau dan sehun." Baekhyun menunjuk Luhan dengan wajah garangnya. "Lalu kau dan Jongin." Kemudian menujuk Kyungsoo dengan ekspresi yang sama. "Katakan." Kemudian menyandarkan tubuhnya dikursi.

"Dia menguntitku." Kyungsoo menjawab lebih dulu. "Terserah kau menyebutnya apa tapi dia menguntitku. Dia -entah bagaimana bisa mendapatkan nomor ponselku. Dia mengirim pesan seperti orang gila setiap harinya. Atau lebih tepatnya sejak pesta dirumah Chanyeol." Kyungsoo menoleh kearah meja Chanyeol lagi. Beruntung Jongin sedang sibuk dengan ponselnya.

Dan sedetik kemudian ponsel Kyungsoo berbunyi. Kemudian dia melihat Jongin menoleh padanya lalu mengerling lagi sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Oh tuhan.

"Dia suka padamu." Baekhyun menjawab asal lalu memasukkan 1 sendok ice cream strawberry kemulutnya.

"Dia mengangguku, Baek."

"Karna dia menyukaimu. Dan mengapa kau baru mengatakanya sekarang?"

Kyungsoo melempar pungungnya bersandar pada kursi. " Kau sedang dalam masalah Baek. Aku tidak mungkin menceritakan ini padamu."

"Cih, pengertian sekali." Luhan berdecih diakhir kalimat dihadiahi tatapan tajam dari Kyungsoo.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Baekhyun memijat pelipisnya. Tidak bisakah hari ini terasa lebih melelahkan lagi?

"Hentikan. Kalian hentikan." Baekhyun mendesah panjang. "Dan kau Lu, ada yang ingin kau katakan?"

"Tidak."

"Fuck Lu!"

"Aku hanya menemani Sehun menonton film, okay? Film." Romantis. Luhan menambahkan dalam hati.

Baekhyun mengerutkan alisnya. "Kau memerah."

"Tidak, Baek. Aku tidak."

"Ya kau iya. Dan kau menyukainya."

Baekhyun bisa melihat Luhan lebih memerah dari sebelumnya. Kali ini disertai senyuman malu malu memuakan dari Luhan.

"Yeah, Bitch." Kyungsoo dan Baekhyun memutar bola matanya dengan gerakan yang hampir bersamaan.

"Apa? Itu bukan berkencan secara resmi, oke? Kami hanya berteman."

"Terserah." Bekhyun mengakhiri perdebatan mereka. Sunguh, berdebat dengan Luhan adalah hal yang melelahkan.

"Oke, kami sudah mengatakanya Baek. Sekarang giliran kau." Luhan melipat tanganya didada.

"Guys, aku tidak pernah menyembunyikan apapun."

Luhan memalingkan wajahnya malas. "Katakan itu pada pria bodoh disana." Luhan mengedikkan dagu dan Baekhyun segera mengikuti arah yang Luhan tunjukan.

Demi tuhan Baekhyun menyesal telah menuruti perkataan konyol Luhan.

Atau pria disanalah yang lebih konyol. Disana. Chanyeol menulis disebuah kertas. Tulisan yang sangat besar hingga semua orang ditempat itu bisa membacanya dengan jelas. Atau sangat jelas.

PULANG BERSAMAKU, CANTIK?

Ingatkan Baekhyun untuk tidak membunuh Chanyeol dan membuangnya kejalan tol nanti.

.

.

.

"Kau mengelikan."

"Dan tampan."

Baekhyun menoleh cepat kearah Chanyeol. Niatnya melayangkan protes seketika batal.

Oke, untuk beberapa detik Baekhyun seperti terhipnotis dengan pria tampan disampingnya. Saat Chanyeol menyetir, entah mengapa pria itu terlihat seribu kali lebih tampan. Dengan setelan casual juga ekspresinya saat sedang serius menatap kearah jalan. Perpaduan yang sempurna.

Beruntung karna Chanyeol dianugrahi wajah yang tampan juga ekonomi yang jauh dari kata cukup. Artinya dia kaya. Oke? Jadi Baekhyun tidak akan mempermasalahkan ketololannya. Juga sikap konyolnya.

Oke. Baekhyun mempermasalahkanya, sedikit.

"Nah, kita sampai princess." Chanyeol menoleh. Mendapati Baekhyun mengerjap imut. Baekhyun segera meraih tasnya lalu memutar tubuhnya hendak keluar dari mobil Chanyeol sebelum sebuah tangan menarik pergelangan tanganya, hingga tubunya berbalik dan hal terakhir yang diingatnya adalah sebuah benda kenyal yang menempel ah tidak, melumat bibirnya. Dengan lembut. Itu bibir Chanyeol.

Baekhyun membulatkan kedua matanya sambil berusaha mencerna hal yang terjadi padanya saat ini.

Itu bibir Chanyeol. Itu berarti Chanyeol sedang menciumnya. Menciumnya. Oke kapital. MENCIUMNYA. ATAU MELUMATNYA.

Baekhyun segera mendorong tubuh tinggi itu sesaat setelah kesadarannya kembali. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya setengah linglung.

"Menciummu."

"Bodoh." Dengan gerakan cepat Baekhyun melesat meningalkan Chanyeol. Berlari masuk kedalam kamarnya -atau kamar chanyeol- kemudian mengunci pintunya dan memerosotkan tubuhnya dibalik pintu. Dengan senyuman bodoh tercetak diwajahnya. Sunguh, ini tidak baik untuk jantungnya.

Baekhyun meremas kaos depannya.

Didalam sana, jantungnya berdegup dengan kecepatan yang mengila. Lagi.

.

.

.

"Ayah sudah pulang? Ayah bilang akan lama disana." Sekedar informasi, Chanyeol sedang berada dihalaman belakang rumahnya. Menikmati teh sorenya bersama sang ayah.

"Pekerjaanku selesai lebih cepat. Kakakmu belum pulang?"

Chanyeol mengeleng kemudian menyesap teh hangatnya.

"Dia pasti betah berlama-lama disana." Ayah Chanyeol mendengus. "Bagaimana dengan Seulgi? Apa dia mengganggumu?"

Untuk sesaat Chanyeol terdiam. Dia bisa saja berkata 'iya dan dia mencoba untuk mengodaku' agar Ayahnya menendang Seulgi keluar dari rumah. Namun jika diingat-ingat lagi, bagaimanapun juga Seulgi adalah adik tirinya. Mereka berbagi ayah yang sama sekarang. Ini rumit. Chanyeol berfikir.

"Tidak. Dia baik-baik saja."

"Dia terlihat murung. Dia hanya mengurung diri dikamar seharian. Dia menolak sarapannya juga makan siangnya."

Chanyeol mengedikkan bahu. Memang sebenarnya dia sudah tidak lagi bertatap wajah dengan Seulgi sejak Chanyeol mengakui perasaanya kepada Baekhyun. Dia baru sadar akan hal itu.

"Kurasa kau harus bicara denganya."

Bicara? Dengannya? Dan membuat hubunganya dengan Baekhyun kembali memburuk? Oh tidak. Tidak tidak.

Chanyeol mengeleng. Meletakkan cangkir tehnya diatas meja. "Kurasa itu.. Masalah pribadinya. Aku tidak ingin ikut campur, ayah."

"Kau kakaknya, Chanyeol."

"Jika Yoora noona kembali aku akan meminta dia bicara dengan Seulgi. Mereka sama sama wanita, ayah."

Tuan Park mengangukan kepalanya membuat Chanyeol bernafas lega. "Kau benar. Dan bagaimana dengan Baekhyun? Dimana dia?"

"Dia-" Dikamar. Berkutat dengan semua eyelinernya. "Mungkin tidur. Terakhir kali kulihat dia sedang tidur."

Tuan Park menganguk lagi. Hening untuk beberapa saat hingga Tuan Park kembali membuka suara. "Chanyeol, nikahi Baekhyun secepatnya."

Beruntung karna Chanyeol tidak menyemburkan teh yang baru diminumnya kewajah ayahnya.

"A -apa?"

"Berapa lama lagi ayah akan menunggumu menikah? Ayah lihat dia -pemuda yang baik. Dan..Mengairahkan."

"Ayah." Chanyeol melayangkan wajah malasnya pada sang ayah. Sunguh, ayahnya semakin gila setelah menikah dengan ibu tirinya. Atau karena mereka tinggal di NewYork?

"Ayah bercanda." Yang lebih tua tertawa. "Kalian sudah tinggal bersama. Apalagi yang kalin tunggu?"

Masalahnya adalah, Baekhyun bukan kekasih sunguhanku. Dia hanya berpura-pura. That's the problem.

Chanyeol meletakkan cangkirnya untuk yang kesekian kali. Kemudian memijat pelipisnya sendiri. "Tunggulah sampai kami lulus kuliah, ayah."

"Tidak. Ayah tau kau, Chanyeol." Sergah Tuan Park. "Kau dan semua sifat playboy mu itu."

"Kau fikir dari siapa aku mewariskan sifat itu?" Ucap Chanyeol setengah menyindir.

Tuan Park mengeleng tegas. "Kau harus membicarakan ini dengan Baekhyun atau ayah yang akan membujuknya sendiri."

Chanyeol diam. Sebenarnya dia berdoa untuk keselamatan dirinya.

"Ayah serius Chanyeol. Menikah." Tuan Park mematenkan.

Oh Tuhan. Baekhyun akan membunuhku.

Akan lebih baik jika dia tertelan hidup-hidup didalam tanah.

Chanyeol berkomat-kamit.

Tbc

Author sekali update langsung update dua yak! ^^ Gimana? Kemarin greget sama Chanyeolnya kan?
Gimana kalo buat chap yang ini?

Seperti biasa jangan lupa review sayang/? Muehehehe ^^ Author usahain Update lebih cepet lagi, oke?

Salam Chanbaek ^^