Be With You
A Fanfic by Cebolbyun
THIS STORY BELONG TO ME. IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. THANK YOU.
7
"Apa kau bilang?! Menikah?! Maksudmu menikah secara resmi? Dengan pendeta? Digereja?!" Baekhyun meninggikan suaranya diakhir. Chanyeol tidak tahan untuk tidak membekap mulut yang lebih mungil. Karna -astaga suara Baekhyun bisa saja terdengar hingga diluar kamar mereka!
"Diam dan aku akan melepaskamu. Biarkan aku melanjutkan ucapanku." Ucapnya penuh penekanan.
Baekhyun diam. Dengan tatapan sinis. Chanyeol menarik tanganya dari mulut Baekhyun.
"Mau bagaimana lagi, ayah meminta kita untuk-"
"Tidak Chanyeol. Tidak." Baekhyun mengeleng tegas. "A -aku disini untuk menjadi kekasih bayaranmu. Bukan istri bayaranmu." Baekhyun mendadak menjadi gagap. Setengah dari hatinya menolak mulutnya untuk berkata demikian. Entah mengapa. Mungkin karna dia tau Chanyeol menyukainya. Atau mungkin karna dia –mulai menyukai Chanyeol. Entahlah.
Chanyeol menempatkan bokongnya diatas kasur kemudian menundukan wajah nya frustasi. "Bantu aku memikirkan alasan dan keluar dari masalah ini." Erangnya di akhir kalimat. "Dan Demi Tuhan berhentilah berjalan bolak balik Baekhyun!"
"Aku sedang berfikir. Dan ini caraku berfikir." Baekhyun menyahut tidak terima.
Chanyeol membuat gestur menyerah dengan kedua tangan diatas kepalanya. "Kita menikah saja."
Baekhyun memelototkan matanya. "Kau gila? Ba -bagaimana bisa? Kita bahkan belum lulus!"
Sialan, kenapa aku jadi gagap begini?! Baekhyun berteriak dalam hati.
"Jadi kau tidak akan menolak jika kita sudah lulus?" Chanyeol menaik turunkan alisnya mengoda Baekhyun.
Baekhyun memalingkan wajahnya kesamping. "Hentikan. Kau sinting." Ucapnya sebelum memutar tubuhnya membelakangi Chanyeol. Diam diam tersenyum.
Baekhyun bodoh.
"Wow. Kau terlihat cantik saat merona." Baekhyun tersentak kemudian memutar kepalanya kesamping. Chanyeol berdiri dibelakangnya. Dengan wajah tampan sialanya sedikit condong kedepan untuk melihat wajah merona Baekhyun. Baekhyun panik.
"A -apa? Aku tidak merona!" Tanpa sadar Baekhyun meletakkan kedua tanganya di pipi. Pipi sialan. Jantung sialan. Baekhyun ingin menengelamkan diri saja rasannya.
Baekhyun masih mengutuki dirinya sendiri -yang cepat merona dengan bodohnya- sampai dia mendengar suara decit pintu disusul dengan pintu yang terbuka.
"Ayah memangil kalian untuk turun." Itu seulgi. Berdiri dengan pijama kebesaran bergambar kelinci berwarna baby pink. Benarkah pijama itu kebesaran? Atau memang Seulgi yang semakin kurus?
Oh benarkah itu Seulgi? Dia tampak -
"Buruk." Ucap Baekhyun setelah Seulgi menutup pintunya kembali
"Huh, kau bilang apa Baek?"
Baekhyun berdecak. "Kau tidak lihat? Seulgi terlihat sangat buruk."
Chanyeol mengedikan bahu. Memberikan gestur seakan dia tidak perduli. Tapi bagaimanapun juga dia perduli. Sedikit. Karna Seulgi adalah adiknya.
Oke bagaimanapun juga Seulgi adalah adik tirinya.
"Baiklah. ini waktunya. Kurasa aku harus.. uh, pakaian apa yang cocok untukku?" Chanyeol menoleh dan menemukan Baekhyun sedang membongkar lemarinya. Atau lebih tepatnya lemari mereka.
Chanyeol merasakan pening dikepalanya ketika dia melihat baju-baju Baekhyun berterbangan kemana-mana.
"Kau bagus dengan pakaian itu." Chanyeol menginterupsi. Berharap Baekhyun akan menghentikan aksinya mengacaukan isi lemari mereka. "Kau bukannya akan bertemu presiden, Baek. Ayo."
Baekhyun menatap pada kaos rumahan serta celana training miliknya.
Dengan 1 tanganya, Chanyeol menyeret tangan Baekhyun keluar dari kamar. Sambil berharap pakaian itu sudah kembali pada tempatnya saat mereka kembali nanti.
.
.
.
Kyungsoo tidak tau apakah ada hari yang lebih buruk lagi dari pada hari ini selama dia hidup dibumi. Berkali-kali pria bermata doe itu membuang nafasnya dengan suara yang well, cukup menggangu. Jika kalian bertanya mengapa Kyungsoo mendapatkan hari sialnya saat ini lebih baik kalian bertanya pada pria berkulit hitam dengan senyum bodohnya yang setia mengekor kemanapun Kyungsoo pergi.
Bahkan saat Kyungsoo membeli beberapa keperluan bulanannya.
"Kurasa shampo merk ini bagus. Apa kau akan membelinya?" Pria itu tampak menimang shampo ditanganya.
Kyungsoo merampas shampo yang berada ditangan Jongin dengan kasar. "Aku selalu mengunakan ini. Dan bisakah kau berhenti mengikutiku?" Kemudian memasukan shampo itu kedalam troli. "Semua orang memperhatikan kita." Dan berlalu dari hadapan Jongin.
Jongin berlari untuk menyusul Kyungsoo kemudian melambatkan langkahnya ketika dia berdiri disamping pria mungil itu. "Aku ingin melindungimu."
"Please, kau bukan polisi."
"Aku hanya menjadi polisi untukmu."
Jongin dan mulut manisnya. Kyungsoo memberika gestur seakan dia ingin memuntahkan makan siangnya.
"Pergilah. Aku tidak membutuhkan bodyguard."
Kyungsoo melirik dan mendapati Jongin mengelengkan kepalanya. Dia mengabaikanya. Dia memilih untuk melihat-lihat merk deterjen apa yang akan dia beli.
"Tidak." Jongin menyodorkan sebuah merk deterjen kepada Kyungsoo. Kyungsoo menerimanya namun saat Jongin tidak juga melepaskan deterjen itu dari tanganya, Kyungsoo melayangkan pandangan matanya pada Jongin.
Pria itupun sedang menatapnya. Tanpa senyuman konyolnya. Sebuah tatapan yang sendu dan Kyungsoo benci melihat bagaimana keseriusan di dalam tatapan mata Jongin. "Kau tau, aku ini sulit melepaskan hal yang sudah sangat kusukai."
Kyungsoo tidak memiliki alasan untuk tidak merona. Terlebih saat Jongin menatapnya dengan tatapan selembut itu.
Kyungsoo kembali pada kesadaranya saat Jongin melepaskan gengamanya dari deterjen yang dipegangnya. Dengan cepat Kyungsoo berbalik dan mengambil langkah terlebih dahulu meningalkan Jongin.
Jongin melengkungkan bibirnya kebawah. Kyungsoo telah menolak keberadaanya-
"Jongin ayo! Kau harus membantuku memilih beberapa barang lagi!" -atau tidak.
Jongin melebarkan senyumanya selebar telingga Chanyeol. Dia segera berlari untuk menyamakan langkah kakinya dengan Kyungsoo sambil berteriak layaknya seorang idiot. "Ay ay kapten!"
Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan senyumannya melihat tingkah konyol pria disampingnya.
.
.
.
"Percayalah padaku. Ini enak Lu."
Luhan memberengut menatap minuman yang Sehun sebut dengan 'bubble tea' ditanganya.
"Aku ingin milkshake. Bukan bubble bubble ini!" kemudian mengerucutkan bibirnya lucu.
Uh, Sehun harus menahan diri untuk tidak mencubit pipi Luhan saat ini.
Atau Luhan akan melempar bubble tea ditanganya kewajahnya.
"Ayo bertaruh."
Luhan mengerutkan keningnya bingung.
"Jika ini enak kau harus menjadi kekasihku."
Luhan mendelik dengan tatapan tidak terima. "Oh tuhan peraturan konyol macam apa itu?!"
Sehun menangapinya dengan sebuah seringai. "Jika tidak maka aku tidak akan mengangumu lagi. Deal?"
Luhan menghela nafas panjang kemudian membalas uluran tangan sehun.
Dia meminum bubble teanya.
Manis. Ini seribu kali lebih enak dari pada milkshake! Luhan berfikir.
Melihat ekspresi Luhan, pria itu tidak tahan untuk tidak mengoda Luhan. "Kau menyukainya."
"Uh ini enak!" Luhan meminum bubble teanya dengan tegukan besar. Sehun kembali menyeringai.
"Kita harus membeli minuman ini lagi dan kau harus mengantarku!" Luhan kembali menyesap habis minuman itu dengan kedua mata terpejam.
Ah, ini baru minuman surga dunia. Luhan bermonolog lagi.
"Well, Nyonya Oh Luhan. Kau adalah kekasihku mulai sekarang."
Surga dunia Luhan lenyao seketika.
"Ap -Nyonya?! Dan apa-apaan itu kekasih?!" Yang lebih mungil menyahut tidak terima.
"Ingat perjanjian kita?"
"Jangan menyeringai. Kau mengerikan."
Luhan membuang wajahnya kesamping. Wajah dengan pipi yang memerah. "Dan jangan menganti margaku- Hey! Lepaskan aku Sehun!"
"Ayo! nanti bubble teanya habis sayang!"
"Sayang pantatku?! Yak!"
.
.
.
"Baekhyun?"
"Pergilah. Aku merasa buruk sekarang." Baekhyun menengelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Chanyeol menempatkan dirinya disamping Baekhyun. Mengamati pria mungil yang tampak murung itu untuk beberapa detik.
"Jangan menganguku atau aku akan membakar seluruh koleksi kaset pornomu, Chanyeol."
Chanyeol tersentak. "Hey! Darimana kau tau?!"
Baekhyun mendongakkan kepalanya kemudia menoleh pada pria disampingnya. "Aku menemukan itu dibawah tempat tidur ini." Ucapnya dengan ekspresi yang kelewat datar.
What the fuck.
"Seharusnya kau punya tempat yang lebih aman. Didalam lemari misalnya. Kamu bisa membawa kunci lemarimu-"
"Oke oke. Aku akan menyingkirkanya nanti. Sekarang mari bicara tentang dirimu."
Baekhyun menengelamkan wajahnya diantara kedua lututnya lagi. Chanyeol menghela nafas panjang.
"Jangan fikirkan perkataan ayahku. Dia-"
"-Dia meminta kita segera menikah. Menikah Chanyeol demi tuhan." Baekhyun memijat pelipisnya sendiri. Dan menengelamkan wajahnya kembali diantara kedua lututnya. "Pergilah. Biarkan aku sendiri."
"Aku akan bicara pada ayahku. Aku janji."
Bekhyun tidak menjawab. Hanya suara erangan yang Chanyeol dengar. Chanyeol memutuskan untuk meningalkan Baekhyun sendiri. Meskipun begitu, ini adalah kesalahannya. Dan dia harus meluruskan hal ini.
.
.
.
Baekhyun tidak dalam kondisi yang baik. Dia merasa benar-benar buruk bahkan hanya untuk berangkat kekampus. Jika boleh dia ingin tengelam saja dibalik selimut. Menghabiskan sisa harinya dengan tidur . Itu terdengar lebih menyenangkan dari pada berkutat dengan setumpuk buku sialan seperti sekarang ini.
"Berhenti memasang wajah murung. Kau terlihat jelek."
Oh terdengar seperti pujian dipagi hari.
"Terimakasih Lu. Sunguh." Baekhyun memasang wajah malasnya.
"Jadi sekarang apa? Chanyeol membakar seluruh koleksi eyelinermu? Atau Seulgi masih mencoba mengesekkan bokongnya dipenis Chanyeol? Apa?"
Baekhyun mendelik tajam kepada Luhan. "Ini bukan tentang eyeliner atau bokong atau apalah itu. Ini tentang pernikahan." Baekhyun mengerutu. "Ayah Chanyeol memintaku segera menikah dengan Chanyeol."
"WHAT?!" Kyungsoo dan Luhan berteriak secara bersamaan.
"Tapi kalian-"
Baekhyun menariki rambutnya sendiri. Kyungsoo sempat bergidik jika rambut itu akan lepas dari kepala Baekhyun. "Itu dia masalahnya Kyung! Ayahnya bilang aku bisa menikah dengan Chanyeol dan tetap melanjutkan kuliah kami." Ucapnya dengan pekikan yang cukup mengangu ditelinga.
Beruntung karna Luhan dan Kyungsoo sudah biasa mendengarkan lengkingan buruk temannya itu.
"Tunggu. Bukankah kau benar-benar menyukai Chayeol?"
Baekhyun mengerjap. "A -aku tidak mengatakan seperti itu!" Protesnya disusul dengan bibirnya yang mengerucut kedepan.
"Katakan itu pada pipi meronamu, sayang."
Terimakasih lagi Luhan. Sunguh.
Baekhyun mengelengkan kepalanya. "Ini semua demi melanjutkan beasiswaku disini, okay? Aku tidak.." Baekhyun menghentikan ucapanya kemudian mendesah panjang. "Baiklah" Baekhyun menyerah dengan egonya. "Hanya saja Chanyeol tidak memintaku secara resmi menjadi kekasihnya."
Told ya.
Luhan menepuk keningnya sendiri. "Bodoh. Kau saja yang mengatakanya. Bukankah kau dengar Chanyeol mengatakan pada Seulgi bahwa dia mencintaimu? So? Masalah terpecahkan."
"Terpecahkan pantatmu." Baekhyun mengerang. "Aku tidak bisa mengatakanya lebih dulu Lu. Sunguh. Seharusnya dia yang mengatakanya padaku!"
Baekhyun melihat Kyungsoo tampak memasang wajah berfikir. "Mungkin dia belum yakin dengan perasaanya padamu, Baek. Kusarankan padamu untuk memberinya waktu."
"Dan pernikahan itu?"
Kyungsoo berfikir lagi. "Masih ada waktu kan?"
Baekhyun menganguk lemas setelahnya.
Oh dia benci menunggu sesuatu.
.
.
.
Baekhyun mengerutkan keningnya ketika Chanyeol memberinya sebuah kertas. Berwarna merah dengan pita berwarna emas diatasnya.
Tanpa bertanya, Baekhyun membuka kertas itu dan membaca isinya.
"Ini undangan? Pesta ulang tahun?" Baekhyun bertanya dengan wajah bodohnya.
"Yep."
"Disini tertulis, Tao. Siapa itu Tao?" Baekhyun meletakkan undangan itu diatas tempat tidur. Disampingnya.
Chanyeol tampak membongkar isi lemarinya. Baekhyun menebak pria itu sedang mencari baju yang pas untuk datang kepesta Tao. "Dia temanku. Atau lebih tepatnya, Anaknya teman bisnis ayahku. Kami saling mengenal saat ayahku diundang perjamuan makan malam dirumah Tao." Chanyeol menarik sebuah kemeja berwarna hitam. "Kami tidak terlalu akrab, sebenarnya. Hanya orang tua kami." Kemudian menarik setelan jas berwarna hitam juga celana panjang berwarna hitam.
Oh pria ini pintar memilih pakaian yang akan membuatnya terlihat semakin 'Hot'
"Dan kau memintaku ikut denganmu?"
Chanyeol menganguk setelah menutup kembali lemarinya. "Kau kekasihku disini. Tentu saja kau harus ikut."
Baekhyun meringis. Dia. Seorang Byun Baekhyun akan terjebak didalam sebuah pesta bersama anak-anak konglomerat dikorea. Wow. Itu keren. Dan sedikit menyeramkan.
Hal yang menganggu dikepala Baekhyun adalah -tentang etika. Cara mereka makan, cara mereka minum, bahkan cara mereka tertawa.
Dan Baekhyun rasa, dia tidak cukup siap untuk itu.
"Chanyeol, uh bisakah ku datang sendiri? Maksudku, undangan itu untukmu kan? Bahkan ada namamu disana." Baekhyun mencoba mencari alasan. Dan seharusnya dia tau bahwa Chanyeol akan tetap pada pendirianya.
"Tidak. Kau harus ikut dan aku sudah meminta paman Jung mencari pakaian yang cocok untukmu. Pestanya malam ini."
Baekhyun mendesah lega.
Terjebak dengan sekumpulan anak kaya bahkan tidak pernah terlintas difikiranya.
Untuk kesekian kali dalam 1 hari, Baekyun mendesah panjang dan berfikir bagaimana mungkin kehidupannya berubah drastis hanya dalam 1 malam saja?
"Apa kau yakin? Aku tidak tau banyak tentang etika dan apapun itu, Chanyeol. Sunguh." Baekhyun melengkungkan sudut bibirnya kebawah. "Aku akan mengacaukan nama baik ayahmu."
Wow, itu terdengr sedikit menakutkan.
Chanyeol memutari ranjangnya kemudian menempatkan tubuhnya disamping tubuh Baekhyun. Dengan senyuman menawan yang -demi Tuhan! Berhentilan tersenyum. BERHENTI TERSENYUM!
"Jangan khawatir. Semua akan baik baik saja. Aku disisimu."
Sedikit banyak kata-kata penyemangat dari Chanyeol membuat percaya dikirinya bangkit kembali. Juga membuatnya sedikit merasa tenang.
Dia bisa mengatasi rasa gugupnya sekarang.
"Baik. Aku ikut. Dan pastikan kau selalu berada disisiku. Aku.. Tidak mengenal siapapun kecuali kau."
"Tentu. Aku tidak ingin kau mempermalukan dirimu karna tidak bisa membedakan mana minuman keras dan mana minuman biasa." Chanyeol menyeringai diakhir kalimat.
Baekhyun mencibir disamping Chanyeol merasa itu sebuah penghinaan untuknya. "Baik baik terserah kau saja. Yang penting jangan pergi dari sisiku. Kau mengerti?"
"Tentu. Dengan senang hati, Nyonya Park." Chanyeol mengedip nakal.
Baekhyun melotot dwngan wajar kesal yang berlebihan. "KATAKAN SEKALI LAGI DAN AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBAKAR KASET-KASET SIALANMU ITU CHANYEOL!"
Tbc
HOLAAAAA~ Author gaje balik lagi ^^ seneng gak kalian? Seneng gak?!
Muehehe jiwa fujoshi author lagi balik akhir-akhir ini~ seneng deh liat Chanbaek ^^
Adem Muehehehe Author curhat. U.U
Oh ya, jangan lupa review sayang/? Author seneng bisa dapet respon positif dari kalian ^^ Semoga idenya terus ngalir dikepala author. Amin.
Salam Chanbaek ^^
