Be With You
A Fanfic by Cebolbyun
THIS STORY BELONG TO ME. IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. THANK YOU.
8
Ini bukan pesta seperti yang Baekhyun bayangkan. Dengan beberapa anak dari para konglomerat dikorea itu, kalian akan berfikir jika pesta itu akan berlangsung rapi dan formal. Penuh dengan etika dan keanggunan. Berlatarkan ballroom sebuah hotel dengan konsep klasik dilengkapi music jazz yang mengalun ditelinga kalian, Benar kan?
Haha. Ini konyol karna pesta Tao sangat jauh dari kata formal. Pestanya diadakan disebuah club berkelas di Seoul. Baekhyun pernah mendengar para teman prianya membicarakan tempat ini sesekali. Tidak ada music jazz disini. Well, hanya ada seorang dj, tidak. Mereka ada dua. Mengoperasikan alat dihadapan mereka yang Baekhyun tidak tau apa namanya. Baekhyun tidak pernah datang ketempat seperti ini, oke?
Tidak ada tertawa dengan etika karna mereka tertawa terbahak-bahak seperti orang gila dengan gelas berisi minuman keras ditangan mereka. Beberapa dari mereka ada yang menari sambil mengesekkan butt mereka kepada pasangan menari mereka.
Ini liar. Jelas jauh dari kata formal. Dan jelas jauh dari kata 'Etika'. Mereka seperti sekumpulan orang yang tidak mengenal etika sekarang.
Baekhyun meneliti pemandangan dihadapanya sedetail mungkin. Pria yang memainkan gelasnya dibalik meja lalu menuangkan minuman yang tadi dia mainkan kedalam gelas, beberapa gadis berpakaian pelayan tapi 'minim bahan' terlihat mondar-mandir diseluruh ruangan. Beberapa pria yang terjun kelantai bawah untuk menari dibawah lampu disko. Ini benar-benar liar.
"Sudah kubilang semua akan baik-baik saja." Chanyeol mendekatkan mulutnya ketelinga Baekhyun karna demi Tuhan. Musiknya kencang sekali!
"Itu tao." Chanyeol segera menarik pergelangan tangan Baekhyun dan berjalan menghampiri Tao. Sedang bersama salah satu teman prianya. Mereka tampak asik bercengkrama ketika Baekhyun datang bersama Chanyeol. Tao tampak sedikit terkejut ketika Baekhyun dan Chanyeol benar-benar berdiri dihadapanya.
"Ah, kalian datang!" Sambutnya dengan nada ceria. Meski begitu Baekhyun sedikit takut dengan kantung mata hitam disekitar mata Tao. Dan tubuh Tao yang tak kalah tinggi dengan tubuh Chanyeol. "Kalian tampak serasi." Ucap pria itu diiringi sebuah senyuman.
Baekhyun menunduk melihat setelan yang dipakaianya. Kemeja berwarna merah dengan celana berbahan kain berwarna hitam. Tanpa jas. Chanyeol memutuskan untuk meningalkan jas mereka dirumah.
Tiba-tiba, tanpa permisi Chanyeol menarik pingang Bekhyun mendekat pada tubuhnya. "Kami memang pasangan jika kau sudah lupa, Tao." Ucap Chanyeol sedikit terdengar posesif.
Tao tertawa keras sekali. "Baik baik. Nikmati pestanya oke? Aku akan menemui temanku yang lain."
Chanyeol menganguk dan segera membawa Baekhyun duduk disofa yang terletak disudut ruangan.
"Kau baik-baik saja?"
"Musiknya membuatku pusing." Baekhyun mengerutu. Ia benar saat mengatakan bahwa musiknya membuat kepalanya pusing, bahkan mungki hampir pecah!
Baekhyun mengedarkan pandanganya ke semua sudut dan menangkap Tao -lagi sedang bersama teman prianya yang tadi. Entah mengapa Baekhyun tidak bisa mengalihkan pandanganya pada pria bermata panda itu. "Pria itu, kekasihnya Tao?" Baekhyun menunjuk pada pria bule yang sedang berbicara dengan Tao sambil sesekali memainkan rambut pria bermata panda itu. Oh, mereka tampak mesra. Baekhyun sedikit iri. Haha. Apa?
Chanyeol menganguk meski Baekhyun tidak melihat kearahnya. "Aku dengar Tao memiliki kekasih dan itu bukan orang Asia. Mungkin itu orangnya. Entahlah, tao sedikit tertutup." Baekhyun mengangukkan kepalanya. Ia mengambil gelas berisi minuman dihadapanya kemudian menegaknya dengan tegukan besar. "Tao sangat beruntung. Kekasihnya sedikit tampan." Baekhyun terkekeh kemudian menuangkan minuman lagi kedalam gelasnya dan menegaknya kembali.
"Yeah, Mungkin selera Tao bukanlah orang Asia. Kudengar Tao baru kembali ke kekorea 4-5 tahun terakhir. Selebihnya dia besar di California."
"Kalian tampak mengenal dengan baik." –Dan aku sedikit cemburu. Baekhyun menambahkan.
Tiba-tiba saja, pria disampingnya tertawa lebar sambil mengengam gelas berisi minuman berwarna merah. "Kuberitahu padamu Baekhyun. Didunia bisnis, kami jelas saling mengenal dengan baik. Hanya untuk formalitas, kau mengerti?"
Baekhyun jelas mengerti akan hal itu, Tidak ada persahabatan yang abadi dalam dunia bisnis. Bahkan terkadang, sahabatmu sendiri bisa mengkhianatimu bahkan mencurangimu jika itu perlu. Dunia bisnis terdengar mengerikan untuk Baekhyun.
Merasa tidak ada jawaban dari pria mungil disampingnya, Chanyeol menoleh untuk memastikan bahwa Baekhyun masih ditempatnya atau berkeliaran diruangan itu. Dan apa yang Chanyeol dapatkan? Dia melihat dengan jelas memerah Baekhyun. Baekhyun hangover. Secepat dia menegak minuman itu. Astaga. Baru 2 gelas dan dia sudah mabuk. Chanyeol berfikir. Dan tersadar bahwa Baekhyun meminum minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
"Baekhyun, cukup." Chanyeol menarik gelas yang akan Baekhyun minum. Pria mungil itu justru merampas gelasnya kembali kemudian meneguknya. Dengan wajah mendongak keatas dan lelehan minuman yang jatuh mengalir kelehernya.
Jujur saja pemandangan itu membuat Chanyeol sedikit terangsang. Baekhyun terlihat sangat sangat sangat hot!
"Kita pulang, oke? Ayo." Dengan itu Chanyeol mencoba membawa Baekhyun keluar dari club. Sebelum Baekhyun menjadi mangsa pria lain disana.
Nyatanya, membawa seorang Byun Baekhyun yang sedang mabuk adalah hal tersulit yang pernah ada. Lebih sulit dari pada menemani ayahnya menemui rekan bisnisnya atau menemani kakaknya pergi kesalon seharian penuh.
Sekedar informasi, Baekhyun memiliki tipikal cukup berisik saat sedang mabuk. Dan sedikit mengacau karna Baekhyun bukan hanya mengacaukan isi mobilnya tapi juga merancau disepanjang jalan. Menyanyi, tertawa dan hal itu membuat Chanyeol harus ekstra fokus dengan kemudinya.
"Uh panas! Hei ahjjusi! Apa ac nya tidak menyala?! Mobil tua macam apa ini dan bla bla bla..." Lihat kan betapa berisiknya seorang Byun Baekhyun? Bukan hanya itu, Baekhyun terus menerus menendang. Demi Tuhan MENENDANG! Benar-benar menendang kesegala arah. Bahkan menendangi Chanyeol yang sedang mengemudi.
Akhirnya, Chanyeol, dengan sisa tenaganya yang ada dan penuh perjuangan berhasil mengendong Baekhyun menaiki tangga dan membaringkan -atau sedikit melempar karna Baekhyun terus memberontak- Baekhyun diatas tempat tidur dikamarnya.
"Hey ahjussi! Hati hati! Kepalaku pusing, uh!" Chanyeol melihat Baekhyun memprotes dan memegangi kepalanya dengan kedua tanganya. "Rasanya seperti mau copot!" Chanyeol tersenyum geli kemudian mencoba menghentikan aksi gila Baekhyun yang menariki rambutnya sendiri. Hingga pada detik kesekian, Baekhyun menarik tangan Chanyeol sampai pria bertubuh besar itu jatuh diatas tubuh pria yang lebih mungil.
Damn it!
Chanyeol mengutuk apa yang dilihatnya bahkan mengutuk betapa cantiknya makluk yang berbaring dengan tatapan sayu dibawahnya. Karna Baekhyun terlihat sangat panas juga mengoda disaat yang bersamaan. Dengan sedikit keringat membasahi sekitar wajah hingga lehernya juga bibir yang sedikit terbuka dan nafas tidak beraturan membuatnya terlihat uh, sexy.
Chanyeol mengelengkan kepalanya. Sedikit pening karna dia meminum sedikit alkohol disana dan suara Baekhyun memperparah segalanya.
"Baekhyun aku bersumpah aku akan memakanmu. Hentikan itu sekarang." Ancaman Chanyeol bukanlah sebuah permainan, dude.
Baekhyun mengelengkan kepalanya sambil mengerakan pingangnya secara random. Keatas, kesamping hingga sesekali bergesekan dengan penis Chanyeol dibawah sana.
Persetan dengan akal sehatnya.
Chanyeol mendesis. Membuka seluruh kancing bajunya dan membuangnya begitu saja. Ditariknya dagu pria mungil dibawahnya lalu dilumatnya bibir semanis cherry yang Demi Tuhan akan menjadi candunya mulai sekarang. Merasa puas dengan bibir milik pria mungil dibawahnya, Chanyeol menengelamkan wajahnya diperpotongan leher Baekhyun. Menyesap menjilat bahkan membuat kiss mark disana sambil mengesekkan penis mereka satu sama lain.
Baekhyun meleguh. "Ouhh..God,fuck! Yes, Chanyeolhh!"
Baekhyun mendesah sementara pria yang lebih tinggi melecehkanya ditempat-tempat yang tepat.
Untuk malam ini biarkan Chanyeol melupakan akal sehatnya. Biarkan mereka menikmati permainan panas yang mereka lakukan sambil berharap bahwa itu bukanlah suatu kesalahan.
Itu bukan suatu kesalahan jika mereka saling mencintai, benar kan?
.
.
.
Hal pertama yang Baekhyun rasakan saat dia terbangun dipagi hari adalah pening luar biasa dikepalanya terlebih saat sinar matahari langsung menerpa di wajahnya.
"Shhh.." Dan sakit luar biasa diarea bokongnya.
Sakit. Dibokong. Baekhyun membuka matanya secepat yang dia bisa dan-
"Fuck." -Mengumpat melihat pakaiannya tercecer dimana-mana dan dirinya telanjang dengan selimut menutupi ditubuhnya. Pening dikepalanya kembali lagi dengan tiba-tiba. "Shhh.." Baekhyun kembali mendesis. Dia menoleh dan mendapati Chanyeol tertidur sampingnya. Dengan kondisi yang sama seperti dirinya. Telanjang.
"Chanyeol." Baekhyun menguncang tubuh raksasa itu. Merasa tidak ada respon yang berarti, Baekhyun mengucang tubuh raksasa itu sekuat tenaga. "YAK PEMALAS BANGUN!" Disertai sebuah teriakan.
Beruntung Baekhyun tidak melayangkan tendanganya dibokong Chanyeol.
Yang lebih tinggi mengerang hingga kedua matanya terbuka perlahan.
"Oh, pagi babe."
"Babe pantatmu?!" Sergah Baekhyun sambil menatap tajam pada pria disampingnya.
Oh ini tidak baik. Chanyeol mengubah posisinya duduk disamping Baekhyun secepat mungkin.
"Apa. Yang. Kau lakukan. Padaku. Semalam?" ucap Baekhyun dengan penekanan disetiap katanya. Lengkap dengan tatapan 'marah' khas seorang Byun Baekhyun. Yang mana terlihat lebih imut daripada menyeramkan. Setidaknya itulah yang bisa otak Chanyeol fikirkan.
"Kita melakukan sex."
Ingin rasanya Baekhyun membelah kepala Chanyeol hany untuk melihat sekecil apa otak pria dengan tinggi badan 183 cm itu.
"Ya. Terimakasih sudah memberi tahu. Aku sudah melihatnya." Baekhyun mengedikan dagu menunjuk kearah bajunya yang berserakan dilantai.
Chanyeol mengeryit saat Baekhyun menatapnya lebih tajam. "Apa? Kau mengodaku. Kau mengesekkan penismu-"
"Oke cukup." Baekhyun mengangkat kedua tanganya memberi gestur dia menyerah. Oh, Baekhyun tidak tahan dengan kalimat frontal dipagi hari. "Kau tau aku sedang mabuk." Baekhyun memelankan suaranya. Juga raut wajahnya sedikit melunak. Dia tidak mengatupkan rahangnya sekeras tadi juga tatapannya tidak setajam tadi.
Entahlah, Chanyeol tidak bisa membaca raut wajah Baekhyun saat ini. Mungkin marah, kecewa, kelelahan dan –hei! Paha Baekhyun terekpos sempurna.
Chanyeol bersiul menatap paha seputih susu milik Baekhyun dihadiahi delikan tajam dari sang pemilik paha.
Baekhyun menutupi pahanya dengan selimut secepat mungkin. Atau Chanyeol bisa saja memperkosanya lagi. Baekhyun menyebut tindakan Chanyeol adalah pemerkosaan. PEMERKOSAAN.
"Ya. Dan aku juga. Uh, sedikit mabuk." Ucapnya kemudian. Chanyeol mencoba melakukan pembelaan diri.
Baekhyun menyerah. Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi ditubuhnya. Susah payah dia berjalan untuk memunguti pakaiannya disaat bokongnya serasa seperti terbelah. "Demi tuhan! Berapa kali kau melakukannya padaku?!" Baekhyun mengerang frustasi. Memakai celana dalam serta boxer miliknya. Tapi tidak memakai bajunya karna dia pikir akan segera pergi mandi setelah ini. Tubuhnya benar-benar lengket dan –uh, bau.
"Mungkin 4. Ya sepertinya 4 kali."
"Dasar monster." Baekhyun mengerutu tentang pantatnya yang sakit, wajah horny chanyeol dipagi hari yang terlihat sialan menurutnya hingga suaranya teredam karna tubuh mungilnya menghilang dibalik kamar mandi.
Tanpa Baekhyun ketahui, Chanyeol mengembangkan senyumannya diam-diam sambil teringat kalimat yang Baekhyun ucapkan ditengah-tengah seks mereka yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lagi. Dan sedikit merona dipipinya.
Well, selama yang Chanyeol tau orang mabuk biasanya berkata jujur. Dan Baekhyun telah jujur dengan perasaanya. Haha.
.
.
.
Baekhyun mengerutkan keningnya melihat beberapa koper yang entah milik siapa berjejer di dekat pintu keluar rumah Chanyeol. Ada 2 koper dan sebuah tas pakaian besar disana.
Tak lama seorang gadis berdiri disampingnya. Baekhyun tidak menyadarinya hingg a gadis itu membuka suara. "Aku akan pulang ke NewYork."
Baekhyun tersentak. Secara otomatis menolehkan kepalanya. Dan mendapati Seulgi berdiri disampingnya.
Sunguh, Baekhyun merasa kasihan dengan kondisi Seulgi. Gadis itu seperti mayat hidup dengan kantung mata besar disekitar matanya dan tubuh yang semakin kurus.
"Kau tau, bagaimana rasanya jika kau mencintai seseorang hingga kau melakukan banyak pengorbanan demi orang itu, tapi orang itu tidak pernah melihat bahkan tidak pernah menoleh kepadamu?"
Baekhyun bungkam. Dia mulai tau kemana arah pembicaraan Seulgi saat ini. Pastilah tentang Chanyeol, dan dirinya.
"Aku mencintai kakak tiriku sendiri. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi." Baekhyun melihat Seulgi tersenyum masam. "Bohong jika aku bilang aku sudah melupakanya. Tidak semudah itu. Dan untuk itulah aku memutuskan untuk pulang lebih cepat."
Seulgi menoleh cepat kearah Baekhyun. Disaat itulah Baekhyun melihat Seulgi menyunginkan sedikit senyuman dibibirnya. "Aku sudah mendengar semuanya tadi malam. Bagaimana kalian saling mencintai. Dan aku menyerah untukmu. Aku akan berhenti sampai disini."
Baekhyun membuka mulutnya. Hendak mengatakan sesuatu namun Seulgi telah lebih dulu berlalu meningalkanya hingga masuk kedalam mobil. Disusul dengan paman Jung yang memasukan koper milik seulgi kedalam bagasi.
Sesaat sebelum mobil itu melaju, Baekhyun melihat Seulgi tersenyum padanya dengan sedikit angukan.
Baekhyun menghela nafas dan mulai berfikir bahwa Seulgi tidak seburuk yang ia bayangkan. Gadis itu hanya terjebak dalam perasaan yang salah.
Baekhyun tersenyum kecut kemudian membawa dirinya masuk kedalam rumah.
Dengan langkah tertatih karna bokongnya masih sangat sangat sakit.
"Baekhyun? Kau sakit?" Baekhyun tersentak mendengar suara Ayah Chanyeol dari belakang tubuhnya hingga pria itu berdiri dihadapanya.
"Ti -tidak Ayah. Aku hanya sedikit kelelahan karna menemani Chanyeol 'Makan' Sepanjang malam."
Tuan Park mengerutkan keningnya.
Baekhyun tersenyum lagi. "Dia memiliki nafsu makan yang besar saat dipesta jadi pingangku sedikit pegal." Ucapnya Bohong. Kecuali tentang nafsu makan Chanyeol.
Pria itu tersenyum pada Baekhyun. "Kau harus beristirahat. Katakan padaku jika kau membutuhkan sesuatu." Meski bingung dengan jawaban Baekhyun, Tuan Park memutuskan untuk tidak ambil pusing.
"Baiklah, terimakasih ayah." Dan Baekhyun membawa dirinya masuk kedalam kamar. Menyisakan Tuan Park dengan wajah bingungnya.
.
.
.
"Kau mengatakan pada ayahku bahwa nafsu 'Makan' ku besar? Well itu tidak sepenuhnya salah." Chanyeol menyeringai. Disampingnya Baekhyun sedang menahan diri agar tidak melemparkan bantal tepat kewajah Chanyeol.
"Diamlah. Uh. Sakit sekali sial." Dan pria mungil itu kembali mengerutu tentang pingang juga pantatnya yang sakit.
Oke, Chanyeol mulai khawatir dengan kondisi Baekhyun sekarang. "Haruskah kita pergi kedokter? Kau terlihat.. Buruk." Chanyeol menyuarakan nada khawatirnya. Hai! Dia benar-benar khawatir, oke?
"Lalu apa? Mengatakan bahwa kau melakukan anal sex denganku 4 kali dalam waktu semalam?"
Chanyeol mengedikan bahu. "Asal dokter itu memiliki obat untuk meredakan rasa sakitmu."
Baekhyun berdecak. Chanyeol dan otak kosongnya itu. Baekhyun memijat pelipisnya. "Kau idiot. Cukup membeli obat pereda rasa sakit di apotik. Mungkin sakitnya akan berkurang." Baekhyun mendesis saat mencoba meletakkan bokongnya diatas sofa. "Damn it! Seberapa besar penis sialanmu itu huh?!"
"Kau ingin melihatnya?" Chanyeol menyeringai sementara Baekhyun menatap tajam ketika Chanyeol memberikan gestur seolah akan membuka celananya.
"Jangan coba-coba." Sergahnya kemudian memalingkan wajahnya kedepan. Menonton televisi. Hal terbaik yang bisa ia lakukan daripada menonton Chanyeol telanjang.
"Seulgi sudah pulang."
"Aku tau." Chanyeol melemparkan bokongnya pada tempat kosong disamping Baekhyun. "Ayah bilang, Seulgi ingin pulang hari ini."
Baekhyun mengangukkan kepala. Seperti teringat sesuatu, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. "Apa aku merancau ketika aku sedang mabuk?" Tanyanya. Sebenarnya dia sedikit merasa aneh dengan kata-kata Seulgi tadi. Apakah desahanya terdengar hingga kekamar Seulgi. Jika benar, Baekhyun sepertinya tidak punya muka untuk keluar dari kamar. Karna mungkin saja pelayan Chanyeol mendengar semuanya.
Chanyeol membeku kemudian berusaha sebaik mungkin menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Ya. Hanya menyanyi dan berbicara. Tidak lebih."
Baekhyun membentuk huruf o dibibirnya. Dia merasa lega.
Dan kau mengatakan bahwa kau mencintaku. Chanyeol tersenyum sendiri.
.
.
.
Baekhyun memutar matanya melihat tingkah berlebihan Kyungsoo dan Luhan. 2 sahabatnya itu datang kerumah Chanyeol tepat setelah jam kuliah mereka berakhir untuk menjenguk Baekhyun. Atau lebih tepatnya mengacaukan barang diakamar Chanyeol.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Baekhyun mengerutkan keningnya saat melihat Kyungsoo dan Luhan menghambur masuk kedalam kamarnya. "Dan siapa yang mengijinkan kalian masuk?" Baekhyun berdiri dengan kedua tangan terlipat didadanya.
"Chanyeol bilang kau sedang sakit jadi dia mengijinkan aku dan Kyungsoo masuk." Luhan mulai mengamati Baekhyun dari atas kepalanya hingga keujung kakinya. Jika boleh jujur, Baekhyun merasa sedikit risih dengan tindakan Luhan. "Sepertinya kau baik-baik saja." Luhan tersenyum mengejek sementara Kyungsoo sibuk berkeliling disekitar kamar.
"Apa ini kamar Chanyeol?"
Baekhyun menganguk menangapi pertanyaan Kyungsoo. Pria bermata bulat itu masih berkeliling. Mengamati bingkai foto yang terpasang didinding kamar Chanyeol.
"Kalian-"
"Iya Kyung. Kami tidur bersama. Dikamar ini. Dan- hei! Letakkan itu kembali Lulu!" Baekhyun memekik melihat Luhan mengangkat sebuah figura foto milik Chanyeol. Foto Chanyeol bersama ayah dan kakaknya.
Luhan meletakkan kembali foto itu dengan cengiran diwajahnya.
"Berhentilah mengacau dikamar ini, oke? Ini bukan rumah sewaku yang lama. Ini kamar Chanyeol." Baekhyun memijat keningnya. Beruntung sakit dipantatnya sedikit berkurang karna Chanyeol memberinya obat yang Chanyeol beli diapotik.
Kyungsoo mendudukkan tubuhnya disofa diikuti oleh Baekhyun dan Luhan.
"Kau absen hari ini. Ada apa?"
Baekhyun panik. Dia mulai mencari alasan yang tepat selain bahwa dia telah melakukan sex dengan Chanyeol. Tidak tidak. Dia tidak bisa mengatakan itu pada Kyungsoo juga Luhan. Terlebih karna Status hubunganya dengan Chanyeol belum cukup jelas. Dia akan terlihat.. Uh murahan?
Luhan mengendus kasur Chanyeol dengan wajah aneh. "Aku mencium bau sperma disini." Luhan menyeringai. Baekhyun tau bahwa Luhan sedang mengodanya jadi dia mengabaikannya.
"Aku hanya sedikit pusing tapi Chanyeol sudah memberiku obat. Jadi sekarang aku sudah merasa lebih baik."
"Kau yakin?" Kyungsoo bertanya dijawab dengan angukan oleh Baekhyun.
Baekhyun menoleh dan medapati Luhan kembali berkeliling dikamar mereka. Baekhyun kembali mengabaikan Luhan.
Seperti teringat sesuatu, Kyungsoo memekik dengan kata oh! Baekhyun menoleh dengan cepat. "Seseorang mencarimu tadi. Dikampus. Uh, seseorang dengan rambut pirang bertubuh tinggi dan sedikit tampan. Dia memiliki tinggi hampir sama dengan Chanyeol." Baekhyun mengernyit.
"Dia mencarimu dirumah sewamu yang lama tapi kau tidak ada jadi aku memberikan alamat rumah ini kepadanya." Lanjut Kyungsoo diakhiri sebuah cengiran.
Oh tuhan, terkadang Kyungsoo pun bisa menjadi sangat bodoh.
"Kyung jangan sembarangan memberikan alamat rumah ini pada orang lain. Astaga!"
"Karna dia temanmu jadi kufikir tidak akan menjadi masalah."
Baekhyun menghela nafas. "Ini yang terakhir, oke?" Dan Kyungsoo mengangukan kepala.
"Oh namanya.." Kyungsoo tampak berfikir. Cukup lama hingga ia berhasil mengingat nama pria itu. "Ah! Wu yi fan! Tapi dia memintaku memangilnya dengan nama Kris."
Dan nama itu berhasil membuat Baekhyun membeku ditempat. Nafasnya tertahan ditengorokan. Dia bahkan tidak yakin apakah Dewi Fortuna akan berpihak padanya atau tidak karna pria itu kembali.
Kris kembali.
Tbc.
UWAAAAA T,T MAAPKAN AUTHOR YANG BELUM BISA KASIH ADEGAN RANJANG/?NYA CHANBAEK U,U
AUTHOR MASIH PROSES BELAJAR BUAT NULIS ADEGAN ITU/? U,U MAAPKAN AUTHOR KALO UPDATENYA AGAK LAMA DAN CUMA SATU T,T JAM KERJA AUTHOR NAMBAH NIHH/PELUK CHANBAEK/
EHEHE INI PADA MAU ENDING DI CHAPTER BERAPA? JAWAB OI JAWAB U,U
READER : SERAH LU THOT SERAH! -,-
