Reyna mencatat di notesnya dan melirik ke arah para anggota tim basket secara bergantian dalam gerakan yang konstan. Sesekali tampak mengernyitkan kening dan berpikir, kemudian mencatat lagi. mengamati satu persatu para pemuda dengan jersey basket itu dengan mata yang sedikit disipitkan agar lebih jelas.
Reyna menghela napas. Laju lari para pemain mulai melambat dan anak-anak didiknya itu mulai saling mengobrol dan tertawa. Reyna meraih peluitnya, dan meniupnya kuat-kuat. Memberi peringatan keras yang langsung ditanggapi cukup baik oleh para pemuda itu. Mereka langsung berdiri tegak dan beralari dengan laju super cepat mengelilingi lapangan.
"Tiga puluh lima putaran lagi." Reyna berkata lantang. Suaranya menggema di dalam lapangan basket. Telinganya bisa menangkap desas-desus sinis dari anggota cheerleader yang mengatainya dasar-gadis-tidak-berperikemanusiaan, atau apa-dia-sudah-gila, atau gawat-bisa mati-pacarku-jika-berlatih-sekeras-itu, atau gadis-tangan-besi, atau banyak lagi yang lainnya. Reyna tidak mau ambil pusing atas semua itu. lagi pula gadis-gadis ber-rok super pendek itu juga nantinya akan menyeka keringat para pemain basket dengan handuk merka yang sudah disirami parfum sambil memberi minum dan menanyakan hal-hal klise sejenis 'pasti lelah sekali ya?' dengan suara dan wajah prihatin yang begitu manis.
Jengah terbawa perasaan, tanpa sadar Reyna meniup peluitnya keras sekali, sampai-sampai para pemain basket mengiranya sedang marah. Sekumpulan pemuda itu berlari makin menggila seolah dikejar maut.
Reyna melirik stopwatch yang dikalungkan di lehernya. Lalu menangguk kecil. "Sepuluh putaran!" Reyna sengaja berteriak untuk menyemangati para pemain. Diliriknya Percy dan Jason yang tampak berusaha saling sikut sambil berlari bersebelahan. Muka mereka merah dan mengernyit dalam tampak saling tak mau kalah. Pemain yang lain berlari beberapa langkah di belakang keduanya tampak terengah-engah dan menderita. Melihat pemandangan itu Reyna tersenyum simpul. Mungkin virus memandang-rendah-kaum-lelaki milik Hylla sudah mulai menular pada Reyna sekarang. Tapi senyum itu pupus begitu Reyna mendapati Minho berlari mengejar Percy dan Jason dengan wajah tanpa gurat ekspresi lalu melesat cepat di antara keduanya yang bahkan tak sadar sudah terselip. Pemuda Asia itu berlari seperti hantu yang berdenyar. Menyombongkan diri ddengan kemampuannya, hal ini entah mengapa membuat Reyna gerah.
Reyna melirik lagi stopwatchnya, dan menggigit peluitnya. Lima detik lagi. Matanya tak lepas mengawasi Minho. Reyna benci ketika pemuda sombong itu patut sombong atas kemampuannya yang memang di atas rata-rata. Reyna melirik lagi stopwatchnya, lalu meniup peluit panjang. Dan berseru. "Istirahat. Lima belas menit."
Sekumpulan remaja laki-laki berseragam basket langsung merosot lunglai di tempatnya. Menggeletak tak berdaya di atas lapangan dengan dada naik turun dan keringat membanjiri tubuh. Dalam sekejap, lapangan basket itu kini menjadi kasur masal para pemainnya. Semua anggota tim basket nyaris kolaps kecuali tiga pemuda yang hanya berdiri dengan napas putus-putus di atas lapangan. Jason dan Percy yang tampak tak mau kelihatan lelah di hadapan satu sama lain, dengan ekspresi keras terlihat berdiri berhadapan sambil bertolak pinggang. Beberapa langkah dari keduanya sesosok pemuda berparas Asia —yang Reyna harap jatuh pingsan— justru berdiri tegak memasang senyum sarkastik ke arah pemain yang tergoler di lapangan.
Hanya selang beberapa detik sejak peluit panjang Reyna ditiup. Dan para anggota cheerleader yang semula sibuk berlatih kini juga ikut beristirahat. Lapangan seketika dibanjiri oleh gadis-gadis dengan seragam cheer berwarna merah abu-abu yang berlari ke segala penjuru sambil membawakan handuk kecil dan sebotol air untuk pacar atau targetnya masing-masing.
Reyna melirik sekilas ke arah Jason yang sedang tersenyum ke pada Piper yang menyeka keringat di dahinya. Reyna menggigit bibir bawahnya singkat. Rasanya masih juga sakit melihat mereka berdua. Reyna tersentak kecil begitu merasakan seseorang menyentuh lengannya. "Oh, Annabeth." Reyna bergumam kecil. Gadis pirang keriting itu balas tersenyum ramah padanya.
"Latihan keras lagi, Coach?" Goda Annabeth jail.
Reyna tersenyum kecil. "Mereka perlu itu, Chase." Jawab Reyna. Melirik sekilas ke tempat duduk yang semula diduduki Annabeth, lalu kembali memandang mata abu gadis pirang itu. "Kau masih memikirkan desain itu?"
Annabeth mendelikkan bahu. "Begitulah," dia kedengaran tidak terlalu bersemangat. "Kau tahu, Percy si Otak Ganggang sampai mencibirku terus akhir-akhir ini." Annabeth membusungkan dada agar terlihat lebih tinggi, memasang wajah malas ala Percy dan berkata. "Demi kuda Poseidon, Annabeth. Sebenarnya kau pacaran dengan siapa sih? Aku atau laptop itu?" Menirukan gaya bicara Percy.
"Oh, yeah. Usaha yang bagus, nona Chase. Tapi aku tidak pernah mengerucutkan bibir seperti itu."
Keduanya serempak menoleh. Percy tersenyum miring dan berjalan mendekat. Tubuhnya bersimbah keringat tapi kilat di matanya tampak jail. Annabeth merotasikan bola mata abu-abunya malas dan menggerutu kecil seputar menguping dan tidak sopan juga menyebalkan.
"Mana minuman untukku, Annabeth?" Percy bertanya.
"Beli sendiri."
Percy menyisir rambutnya yang menutupi kening dalam satu gerakan ringan ke belakang kepala. Menyeringai licik menatap Annabeth lalu beralih menatap Reyna. "Boleh aku pinjam nona Bijaksana ini sebentar, Coach?"
Reyna menagguk kecil. "Tentu." Dan dengan persetujuan Reyna, kuduanya pergi sambil berdebat atau saling sikut sesekali.
Reyna tersenyum geli. Annabeth dan Percy mungkin adalah pasangan favoritnya. Mereka tidak suka mengumbar kemesraan di depan semua orang, mereka juga tidak mengumumkan secara gamblang seputar hubungan mereka. Mereka masih sering bertengkar dan adu argumen sengit. Lagi, Annabeth itu tidak seperti gadis kebanyakan. Gadis pirang itu cenderung cuek dan tidak mau ambil pusing atas masalah penampilannya. Reyna pribadi berteman cukup dekat dengan Annabeth, bisa dikatakan Annabeth adalah satu-satunya anak perempuan yang sejalan pemikirannya dengan Reyna.
Mata Reyna kembali menyapu sepenjuru lapangan. Menemukan Jason dan Piper yang sedang duduk bersebelahan di salah satu sudut lapangan, tertawa bahagia. Sesekali Piper meniju manja bahu Jason atau menyeka keringat di kening pemuda pirang itu dengan handuk kecilnya. Reyna tersenyum miris. Rasa itu masih berputar di sekitar hatinya tiap kali dia menatap Jason. Masih rasa yang sama, namun kali ini ada sebait rasa lain yang mendampinginya. Sebait luka menyakitkan. Sakit itu mulai meremas hati Reyna dan melukainya. Tatapan mata Jason pada Piper sungguh sangat membuat Reyna terluka.
"Ugh, pasti sakit."
Reyna terlonjak keget begitu mendengar bisikan itu menyapu telinga kirinya. Reflek, Reyna mengepalkan tinju dan menyerang apapun yang berada di samping kirinya.
"Whoa!" Minho menghindar tepat waktu. Nyaris, tipis saja sebelum tinju Reyna menghantam pelupuk matanya. Pemuda itu menyeringai tipis. "Kau jago bertarung rupanya, Council."
Reyna mendengus gusar. Menurunkan kepalan tangannya, dan memandang sepupu Frank itu dengan tajam dan galak. "Mau apa kau?"
Minho terkekeh. Suara tawa yang dibuat-buat dan terdengar menyebalkan. "Rasa-rasanya tadi aku mendengar suara hati yang hancur." Dia menetap lurus ke mata Reyna. "Setelah ku ikuti ternyata itu berasal darimu."
Reyna menarik napas perlahan. Mengendalikan diri agar tidak kelapasan membanting pemuda berparas Asia itu dengan teknik judo. Reyna sadar hubungannya dengan Minho tidak bisa dibilang harmonis. Sepupunya Frank ini ternyata benar-benar memiliki kepreribadian yang bertolak belakang dengan Frank. Minho sama seali tidak sopan dan manis seperti Frank. Itulah sebabnya Reyna menempatkannya di pemain cadangan. Agar pemuda ini belajar sedikit menganai menghargai orang lain dan berhenti bersikap sombong.
"Kemari kau." Reyna berkata dingin. Baru saja satu ide cemerlang melintas di kepalanya.
Minho menangkat satu alisnya tinggi, tapi tetap menurut. Setelah mereka berdiri berhadapan. Reyna terpaksa sedikit mendongak untuk bisa menatap langsung ke sepang mata bulan sabit itu. Reyna menyeringai, lalu mulai mengatur stopwatch-nya. "Latihan tambahan, Greenie."
Firasat Minho buruk. "Apa maksudmu?"
Reyna tersenyum jahat. Mendelikkan dagunya ke arah bangku penonton yang berundak seperti anak tangga lebar-lebar. "Aku mau kau lari naik-turun di sana sambil mendribble bola."
"Hah?"
Reyna mengabaikannya, melirik ka arah stopwatchnya, lalu sengaja menunjukkannya kepada Minho. "Minimal kau harus bolak-balik sebanyak tiga puluh kali. Waktumu lima belas menit, dimulai dari.." Reyna menekan stopwatchnya. "Sekarang!"
Minho terbelalak lebar. Reyna benar-benar sudah gila. Seolah berlari keliling lapangan itu belum cukup, kini gadis itu memberi latihan tambahan untukkany. Berlari naik-turun di tribun penonton sama sekali bukan bentuk latihan yang menyenangkan. Lantai di sana licin, dan tangganya lebar-lebar. Minho harus mengambil langkah yang tepat jika tidak ingin tergelincir atu terpeleset. Belum lagi target yang diminta Reyna. Dalam enam puluh detik, Reyna memintanya minimal bolak-balik sebanyak dua kali. Minho membuang naps gusar. Sebelum beranjak pergi, dia menyempatkan diri untuk mematap Reyna tajam, dan berkata. "Sialan kau."
Percy Jackson and the Olympians & Heroes of Olympus
belong's to Rick Riordan
also
Maze Runner Trilogy
belong's to James Dashner
.
.
Versus (c) Aiko Blue
.
"Dia memberiku sesi latihan khusus. Latihan biasa saja sudah seperti separo siksa neraka. Dan dia secara cuma-cuma memberiku bonus latihan." Minho berkata, sepasang matanya menatap jemu langit-langit kamar Frank. Tubuhnya atletisnya telentang di atas kasur Frank yang berseprai abu-abu. Remaja itu memasang wajah merengut yang ganjil mengerikn. Sementara Frank sendiri duduk di kursi belajarnya.
"Hanya karena dia ahli taktik, dan punya bakat mengintimidasi orang lain dengan tatapan galaknya, tak seorang pun berani menentangnya. Bahkan si Jason sekali pun. Semua orang menghormati dan tunduk seolah rela menjilati sepatunya. Che!" Minho mencibir jengkel. Wajahnya cemberut dan marah. "Padahal di tidak hebat-hebat amat, cuma kerena dia punya rompi ungu konyol dan lencana emas itu..."
Frank memutar malas kedua bola matanya. Dia bosan dengan topik ini.
"...semua orang menganggapnya hebat. Reyna pintar. Reyna hebat. Reyna begini, Reyna begitu, rasanya hampir kusobek mulut mereka."
Frank menghela napas. "Minho, kau sudah menceritakannya padaku sekurang-kurangnya empat belas kali selama empat hari ini." Frank mengingatkan. Matanya bertemu langsung dengan milik Minho. Minho menatapnya galak, tapi Frank tidak lagi terpancing emosi. "Dan kuingatkan kau bahwa tidaklah—bijaksana—memperlihatkan bahwa kau kurang menyukai Reyna, mengingat sebagian besar orang di sekolah kita menganggapnya baik dan menghormatinya, bahkan juga para guru."
Minho bangkit dari posisi telentangnya dan langsung duduk tegak. Terlihat dua kali lebih marah. Kilat amarah di sepang mata Minho adalah hal yag sudah sering Frank lihat sebelum bencana besar menghampirinya bertahun-tahun silam.
"Ayo, Fai. Kita berantem saja di luar." Minho menggulung lengan bajunya, tampak siap bergulat seru dengan Frank.
Frank menelan ludah dengan gugup. Tenanglah, pikir Frank. Sekarang porsi tubuhmu seimbang dengan Minho. tapi Frank tidak yakin dia suka bertengkar dengan sepupunya itu, orangtuanya pasti tidak suka rencana itu. sementara Minho kelihatan sudah siap memamerkan beragam jurus bela dirinya, Frank sibuk berpikir.
"Minho," kata Frank pelan, tak ada emosi sama sekali dalam suaranya.
"Apa? Kau takut, Fai?" Minho tersenyum mengejek. Ekpresi di wajahnya menrendahkan dan begitu menyebalkan.
"Kau mau ikut aku?"
"Sebenarnya, kenapa kita ke sini?" Minho bertanya, setengah berbisik. Seraya bergerak merapatkan jaketnya. Dia tidak berpenampilan seperti Frank dan Hazel yang kelihatan siap berkemah. Minho hanya memakai kaus abu-abu, jaketnya dan celana pendek sebatas lutut. Dia bahkan tidak memakai sepatu, melainkan sepasng sandal yang sering dipakainya di rumah.
"Wisata horror." Jawab Hazel kalem. Satu tangannya mengamit tangan Frank dan meremasnya kecil. Gadis itu tidak keliahatan takut sama sekali.
"Di sekolah?" Tanya Minho lagi, tangannya menepuk nyamuk yang mengihisap pipi kirinya.
"Di gedung lama sekolah, lebih tepatnya. " Kali ini Frank yang menjawab. Minho menatapnya penuh tanya, Frank tersenyum tipis. "Gedung yang sudah tidak terpakai, jaraknya kira-kira lima ratus meter dari halaman belakang sekolah."
"Sebenarnya ini bukan wisata horror semacam mencari hantu atau apa." Kata Hazel. "Kita hanya bermain."
"Bermain?" Minho menepuk nyamuk lagi yang kali ini menghisap keningya.
"Banyak rumor yang beredar di sekolah bahwa gedung itu angker. Kami hanya penasaran dan berpikir bahwa hal itu menarik."
"Bertiga saja?"
"Ah, tidak kok. Yang lain sudah menunggu di sana." Dia memandang Minho dari atas ke bawah. Menyadari bahwa sepupunya itu terlihat tidak nyaman dengan bentol-bentol merah gatal gigitan nyamuk di beberapa bagian tubuhnya. "Kan sudah ku bilang pakailah baju yang lebih mendukung petualangan. Salah sendiri kau tidak menurut."
"Berisik, Fai!"
"Kau selalu begitu—"
"Frank." Kata Hazel. "Sudahlah, kita hampir sampai."
Lima menit kemudian setelah menerobos masuk ke semak belukar tak terawat dan berkali-kali tersandung ranting dan menepuki nyamuk. Akhirnya Frank dan Hazel berhenti. Minho sudah nyaris meninju sepupunya itu jika tidak ingat tangannya lebih baik dipakai untuk menghajar nyamuk yang mengeroyok betisnya.
"Hai, kau juga datang, Minho." Suara itu membuat Minho menoleh. Berdiri Percy dengan senyum lebarnya, mata hijaunya berkilauan di bawah cahaya bulan.
Minho mengernyit, lalu memutuskan untuk memandang berkeliling. Tepat di balik bahu Percy sekelompok anak-anak lain berdiri. Lengkap dengan jaket, celana panjang, sepatu, dan ransel seolah mereka siap kemah. "Kalian juga di sini?"
Percy meangguk lalu berjalan ke arah yang lain, Minho berjalan di sebelahnya. Berhenti di dekat anak-anak lain dan mengamati mereka satu persatu. Jason bahkan ada di sana, tampak nyengir salah tinggah begitu Minho menatapnya minta penjelasan. Piper, Annabeth, Juga Frank, dan Hazel. Total ada tujuh orang termasuk Minho. Yanag payah adalah, semua orang tampak matang sekali mempersiapkan malam ini, sementara Minho berpenampilan seperti orang yang ingin berangkat tidur.
Hazel berdeham untuk menagambil perhatian. Semua pasang mata kini menatapnya. "Oke, begini teman-teman. Peraturannya sederhana saja, kita hanya harus masuk ke sana," Hazel meunjuk bangunan di belakangnya dengan ibu jari (sebuah bangunan berlantai empat yang terlihat begitu tua, gelap, dan suram). "cari ruang laboratorium biologi di lantai tiga, dan salin ulang di atas kertas apa yang tertulis di white boardnya."
"Bagaimana kau tahu kalau ada tulisan di sana?" Tanya Minho sambil menggaruk bentol gigitan nyamuk di lehernya.
Hazel angkat bahu ringan. "Aku bahkan tidak tahu. Hanya firasat saja, tapi kalau memang tidak ada tulisan apapun, artinya kita juga tidak perlu menulis." Hazel menjentikkan jari satu kali. "Nah, peraturannya sederhana kita akan masuk secara berpasangan. Masing-masing tim akan membawa secarik kertas kosong, pulpen, juga senter. Temukan laboratoriumnya, salin sesuatu—jika ada—yang tertulis di sana. Kembali kemari, masukkan kertas kalian ke kardus itu," Hazel menunjuk satu kardus kosong di dekat tanaman liar. "Lalu tim lain akan masuk dan menjalankan gilirannya. Dengan begitu, tim yang berbohong pasti akan ketahuan. Mudah, bukan?"
"Baiklah," Percy kelihatan sudah tidak sabar. "Sebaiknya kita mulai sekarang. Siapa yang mau masuk lebih dulu?"
Semua mulai sibuk berbisik-bisik dan saling tunjuk. Minho menggaruk belakang kepalanya. Merasa dia mulai buang-buang waktu di sini. Semua ini tak lebih dari acara tripple date teman-temannya.
"Tunggu!" Kata Annabeth tiba-tiba. Membuat segala kasak-kusuk terhenti. Gadis itu bergerak-gerak gelisah dan menyorotkan lampu senternya ke arah timur, memicingkan mata, dan mencondongkan kepala, lalu melirik jam tangannya. "Dia belum datang."
Semua orang memandang Annabeth heran.
"Siapa?" Tanya Percy.
"Aku." Jawab sebuah suara terdengar tajam dan dingin. Piper memekik kaget dan segera memeluk Jason erat sekali. Frank langsung mengarahkan senternya ke sumber suara.
Minho memincingkan matanya. Di dekat pohon besar yang rimbun. Berdiri di antara semak setinggi lutut. Satu sosok muncul. Ekspresi wajahnya muram dan dingin, tertimpa cahaya senter Frank dan membuat wajahnya terlihat pias, rambutnya yang panjang berterbangan tertiup angin dan menutupi hampir separuh wajahnya. Butuh tiga detik bagi Minho untuk benar-benar tersadar siapa sosok itu.
"Reyna!" Annabeth berseru riang dan menarik tangan Reyna, lalu merangkulnya penuh kasih. "Aku tahu kau pasti akan datang!"
"Kalian nekat sekali tetap melakukan ide gila ini." Reyna memelotiti dengan galak. Percy, Jason, dan Frank mendadak tertarik untuk memandang sepatunya masing-masing. "Berkeliaran di sekitar sekolah malam-malam. Menyelinap masuk tanpa izin. Tanpa didampingi guru, atau surat izin tertulis. Masing-masing dari kalian seharusnya dapat minus seratus lima puluh poin."
Minho mendengus gusar. Muak karena semua anak laki-laki di sini tunduk di bawah Reyna begitu saja. "Lalu kau sendiri?" Kata Minho dengan nada menuding. "Council, menyelinap malam-malam ke sekolah tanpa izin dari guru. Tahu rencana gila teman-temanmu tapi tidak melaporkannya pada guru. Membiarkan mereka melanggar aturan, dan parahnya lagi kau justru ikut bergabung." Cibir Minho. "Pangkatmu pasti akan dicabut jika ada yang melaporkanmu."
Seolah baru sadar akan keberadaan Minho di sana, Reyna membelalak kaget dan menunjuk jarak antara kedua mata Minho dengan telunjuknya. "Kau!"
"Apa?"
Hazel bertepuk tangan sekali untuk mengambil alih perhatian. "Oke, tidak peting siapa yang salah atau benar di sini." Kata Hazel lugas. Gadis itu kemudian memandang Reyna dan tersenyum hangat. "Reyna, kami tahu kau akan ke mari karena khawatir pada kami. Dan malam ini, kau datang sebagai sahabat dan bukannya pengawas murid." Reyna mengalihkan pandangan, tapi tidak merona sama sekali—yang membuat Minho semakin yakin gadis itu tidak murni manusia. "Nah, karena kita semua sudah berkumpul, bagaimana jika kita mulai saja?"
.
.
Reyna tidak suka hantu. Dia terlahir dangan mata berbeda dari orang lain karena bisa melihat mahluk-mahluk itu, yang kata orang seharusnya membuatnya jadi terbiasa dan tidak takut lagi. Tapi nyatanya tidak. Awalnya Reyna memang tidak terlalu peduli, sampai saat ketika peristiwa mengerikan itu terjadi. Hal yang membuat Reyna ketakutan setengah mati dan sampai berniat ingin mencabut bola matanya sendiri.
Reyna sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan semua rasa takutnya selama ini. Tapi malam ini, begitu memasuki bangunan tua itu, semua perasaan buruk berbalik menyerbunya kembali. Reyna tahu, Reyna bisa meraskannya, mereka ada di dalam sana. Menunggunya dengan seringai menyeramkan.
Reyna mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Rasanya ia ingin berlari pergi, jauh-jauh dari tempat menyeramkan ini. Tapi Reyna tidak bisa. Teman-temannya percaya padanya, terlebih lagi, dia tak mau kelihatan lemah di depan pemuda yang berjalan satu langkah di depannya itu.
"Cegiral!" Minho lagi-lagi mengumpat dengan bahasa yang tidak dimengerti Reyna. Punggung Pemuda itu tampak berguncang hebat karena dia berjalan dengan kaki dihentak-hentakkan kesal seperti anak-anak yang merajuk. Reyna menarik napas, dan membuangnya perlahan. Dari semua orang yang ada, kenapa ia harus berpasngan dengan Minho? Dan baik Reyna, maupun Minho sama-sama tidak ada yang merasa diuntungkan.
Tapi Reyna malas berdebat malam ini. Kakinya sudah gemetar hebat hingga Reyna harus memerintahkan tungkainya sendiri untuk bertahan. Hawa dingin menyapu sepanjang punggungnya. Langkah kaki mereka menggema kosong di sepanjang koridor ruang kelas yang gelap dan sepi. Reyna bisa mendengar bisik-bisik mengerikan dan suara senandung anak perempuan dari kamar mandi di ujung sana. Tapi Reyna mencoba bertahan, mengabaikannya. Minho pasti akan mengejeknya habis-habisan dan mengiranya gila jika sampai Reyna menceritakan semua yang dirasakan atau didengarnya. Dan bagi Reyna, Minho jauh lebih buruk dari hantu.
Sementara itu, Minho heran Reyna mendadak jadi lebih pendiam begitu mereka memasuki bangunan bekas sekolah itu. Gadis itu hanya berjalan satu langkah di belakangnya dan tidak mengeluarkan suara apapun selain langkah kaki dan napas. Padahal, Minho mengira mereka akan bertengkar heboh begitu dipaksa masuk berdua saja dalam sebuah gedung yang kosong. Minho melirik sekilas ke balik bahunya, mendapati Reyna berjalan dengan wajah putih pucat yang tertimpa cahaya minim. Poninya yang panjang jatuh menutupi sebagian sisi wajahnya, tapi Reyna kelihatan tidak peduli. Sorot matanya sulit di baca, dan bibirnya terkatup rapat sekali. Bagus, gadis itu lebih mirip hantu sekarang.
"Kenapa kau diam saja?" Minho tidak tahan lagi untuk bertanya. Mereka bertatapan selama sepersekian detik, dan kembali memandang lurus ke tangga yang menanjak.
Reyna tidak menjawab.
Minho mendengus, menyorot senternya tepat ke lantai tiga, lalu kembali ke anak-anak tangga di depannya. "Takut?"
Reyna tetap diam saja. Langkah kaki keduanya bergema mengerikan di sepanjang lorong tangga yang gelap. Minho mendengus gusar. Memutuskan untuk menyerah mengajak Reyna bicara. Pemuda itu mempercepat langkahnya, mengganti menjadi lari-lari kecil menaiki anak tangga. Membuat sorotan lampu senternya bergoyang-goyang. Sampai akhirnya Minho berhenti tatkala terpaan angin tiba-tiba datang menerobos melewati tubuhnya. Rasanya seperti ditembus oleh lemari es tak sasat mata. Minho menelan ludah, dan berbalik menghadap Reyna.
"Kau merasakan itu?"
Reyna berdiri diam seperti patung tiga anak tangga di belakangnya. Wajahnya sepucat kertas, matanya sedikit terbeliak dan kosong. Minho mengangkat satu alisnya, dia belum pernah melihat Reyna seperti itu. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, lalu memandang Minho lurus ke matanya. Dan mengatakan dengan suara nyaris habis. "Jalan terus. Cepat selesaikan misinya."
Ada yang salah dengan Reyna, pikir Minho. Gadis itu sedang berusaha menahan diri—ketakutan. Minho kira bakal asyik mengerjai Reyna yang sepucat kertas. Tapi rasanya justru aneh melihat sosok setegar Reyna berdiri gemetar seperti itu. Karenanya, Minho memngambil tindakan yang menurutnya paling pintar. Berpura-pura tidak tahu kalau Reyna ketakutan. Pemuda itu mengangkat bahu tak acuh, dan lanjut berjalan, Reyna mengikuti dari belakang. Selanjutnya hawa menjadi semakin tidak enak dan dingin. Mereka sudah berada di lantai tiga, dan hanya harus mencari laboratorium biologi. Berkali-kali Minho bisa merasakan Reyna menahan napas dan menggelengkan kepalanya seolah berusaha mengusir pemikiran buruk.
Minho mengarahkan senternya ke deteran pintu ruangan yang berjejer. Memicingkan mata untuk melihat lebih jelas tulisan yang tertera di sana.
"Itu.." Suara Reyna bergetar. Gadis itu menunjuk satu ruangan paling ujung sebelah kiri. Minho mengarahkan senternya ke sana melihat tulisan Lab. Biology dan tersenyum tipis.
"Ayo, jalan." Katnya ceria sambil melangkah mantap menuju ruangan yang ditunjuk Reyna.
Pintu mengeluarkan suara derik tua ketika Minho mendorongnya. Ruangan itu gelap, tapi dapat pemasukan cahaya minim dari jendela-jenjela besar yang terbuka. Angin malam mengibaskan tirai putihnya dalam gerakan misterius yang membuai.
"Tidak, bukan salahku!"
Minho terperanjak kaget mendengar Reyna berteriak. Segera dia arahkan lampu senternya tepat ke wajah Reyna.
"Apa-apaan kau! Kenapa—Reyna?" Minho mengeryit bingung. Wajah Reyna basah oleh air mata, matanya terpejam rapat dan gelisah sekali. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan tangannya kuat-kuat.
"Tidak ..."
"Council, kenapa kau?" Minho semakin tidak mengerti. Lampu senternya menyorot tepat ke wajah Reyna yang seperti berda di dunia paranoidnya sendiri.
"Aku tak bisa," Reyna memohon. "Aku—aku tak bisa." Reyna menghabiskan bertahun-tahun untuk membendung rasa takut dalam dirinya. Kini, bendungan tersebut bobol.
Minho membatu. Dia tak percaya gadis yang menangis sambil berbisik memohon itu adalah Reyna. Beberapa detik yang lalu Reyna masih berdiri tegak di belakangnya, mamsang wajah dingin dan ekspresi kaku.
"...bukan salahku...kumohon.." Reyna terlihat menderita sekali. Gadis itu memangis tanpa suara, berjongkok di dekat dinding sambil menutup telinga dan matanya rapat-rapat seolah berusaha menghindar dari bisikan-bisikan yang menyiksanya. Selama beberapa saat, Minho hanya berdiri diam mematung dan menganga, mengarahkan senternya tepat ke arah Reyna.
"Tch, bodoh." Minho meraih kedua bahu Reyna dan memaksanya berdiri. Meremas dan menguncangnya kuat sekali. "Reyna!" Meneriakkan namanya, berharap Reyna mendengar dan menyadari keberadaan Minho. Minho memanggil Reyna berkeli-kali hampir frustasi. Sampai akhirnya, perlahan-lahan Reyna membuka matanya.
"Suara itu.."Reyna menatapnya dengan mata merah yang berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar, menggigil ketakutan.
Suara? Kening Minho berkerut dalam. Ditatapnya gadis itu lekat-lekat, benaknya sibuk menyusun sejuta pertanyaan dan kemungkinan jawaban. Minho membuang napas, menyentak bahu Reyna kuat-kuat. "Hey! Sadarlah! Suapa apa? Apa maksudmu?" Ia mendesak tidak sabaran.
Reyna membuka mulutnya, tapi tak sepatah katapun keluar, bibirnya bergetar, dan air matanya mulai jatuh lagi. Gadis itu lalu menunduk, ekspresinya seolah sedang berusaha menepis rasa sakit dan kepedihan mendalam.
"...mereka.." Desis Reyna, suaranya nyaris serupa bisikan. Aku bisa mendengar mereka... mereka meyalahkanku. Air muka gadis itu berubah sepucat kertas, garis rahangnya pias dibawah sorot yang redup. "Jangan! Tolong.."
Minho terbelalak. "Reyna, kau.." Seorang Indigo? Lalu bergerak cepat meraih saku jaketnya, mengeluarkan earphone dan mamasangkannya ke kedua telinga Reyna, menyetel penuh volume suara ponselnya dan memutar lagu.
"Kau tidak mendengar apapun selain musik!" Minho meletakkan ponselnya di kantung jaket Reyna. gadis itu tersentak kecil begitu musik keras bergema di sepasang telinganya. Matanya menatap Minho dengan pandangan yang sulit dibaca.
Minho tidak berpikir, hanya bertindak. Meraih satu pergelangan tangan Reyna dan mencengkramnya erat sekali kemudian menarik gadis itu masuk ke laboratorium biologi. Menyorot senternya ke arah papan tulis. Dan menyalin coretan berupa 'Laporan praktikum dikumpulkan Senin depan.' Minho tidak bisa berhenti marah-marah dalam hati melihat tulisan konyol itu. Menyalinnya di secarik kertas kosong dengan penuh emosi, lalu segera menyeret Reyna pergi.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di bawah, berjalan terburu-buru ke arah yang lain. Minho tidak menjawab pertanyaan apapun yang diajukan padanya. Dia melempar kertas misinya ke dalam kardus. Dan ketika yang lain mencoba melongok ke balik bahunya untuk bertanya dengan Reyna. Minho secara reflek bergerak menutupi gadis itu. Menghalanginya dari pandangan yang lain. Minho merasa Reyna tidak akan suka dilihat orang dalam keadaan seperti ini. Pergelangan tanggan Reyna masih dipegangnya erat-erat.
"Err.. Minho, bisa minggir sedikit? Aku mau bicara sama Reyna." Annabeth meminta, tapi Minho semakin menamengi Reyna dengan tubuhnya.
"Maaf, kami ada kencan!" Ujar Minho cepat lalu menarik Reyna pergi, entah kemana.
TBC (?)
a/n: Haiiii~
first, bing thanks and love to Fumetsu Vara yang sudah mereview chapter sebelumnya/peluk cium/dibegal. Hehe, iya kamu bener, bagian buka baju (?) itu memang terinspirasi dari kurobas/ditikam Akashi. Waaah.. makasih udh ngeship mereka :* Seneng deh punya temen, hehe. Btw, Aiko juga ada satu lagi ff MinhoxReyna, kalo mau silakan baca, sudah complete, cek saja userku; judulnya Bell Amor (dia mah promosi)/senyum modus.
