Futatabime no Chansu (Second Chance) I
Suasana di London Inggris sudah mulai memasuki musim dingin. Sudah 4 tahun Sasuke meninggalkan Konoha dan pindah ke London menyusul kedua orang tuanya. Kini Sasuke sudah memasuki semester akhir di universitas ternama di sana.
Alasan Sasuke meninggalkan Konoha memang sangat pengecut. Ia ingin melupakan penyesalannya pada Naruto. Namun setelah pindah pun Sasuke tetap merasakan penyesalan itu. Bahkan semakin menjadi – jadi.
Sasuke selalu ingat perkataan Naruto yang selalu ingin kuliah di Universitas Oxford di Inggris. Walau pun Naruto bukan tipikal orang yang jenius. Namun Naruto adalah orang yang paling pekerja keras di antara orang lain yang Sasuke kenal.
Sampai sekarang Sasuke masih berhubungan dengan Hinata. Tapi jujur saja Sasuke merasa sudah tidak seperti dulu lagi. Perasaannya yang mengebu pada Hinata sudah lenyap entah kemana. Sasuke baru menyadari perasaannya pada Naruto setelah kematiannya.
"Menyebalkan." Sasuke melemparkan gelas kertas Kopi panas tepat memasuki tong sampah. Sedari tadi ia duduk di bangku taman yang dingin hanya untuk memikirkan penyesalannya. "Sudah ku duga semua akan sama saja." Sasuke memijat kepalanya yang berdenyut sakit.
"Sas, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?." Sasuke mendongakan kepalanya menatap suara familiar yang baru saja memanggilnya.
"Sakura?" Panggilnya.
Sakura adalah teman sekampus Sasuke. Sama seperti dirinya. Sakura masuk ke Oxford karena Naruto. Bahkan Sakura masuk ke jurusan yang Naruto inginkan. "Kau bisa sakit jika berada di tempat seperti ini. Ayo ke apartemen ku. Kita minum coklat hangat." Cengirnya Sakura. Sakura sudah sangat berubah. Dia bukan lagi Sakura yang dulu. Sekarang hanya ada Sakura yang dewasa. Ia akan menjaga Sasuke sahabat Naruto.
Sasuke hanya membalas ajakan Sakura dengan anggukan.
Flash Back...
Ulang tahun Sakura yang ke 18 di adakan cukup meriah bersama teman – temannya. Untuk sejenak ia dan yang lainnya ingin melupkan kepedihannya sepeninggalan Naruto, Setidaknya untuk sementara. Yang paling mengejutkan adalah kedatangan Sepupu Naruto, Ino yang membawakannya kotak besar berisi berisi boneka dengan sebuah surat di dalamnya.
Seketika Sakura menangis sejadi – jadinya setelah membaca isi surat itu. Hadiah Boneka rajut dan surat pemberian Naruto untuknya. Bahkan ia baru sebentar menjadi teman Naruto.
Surat itu berisi tentang ucapan selamat ulang tahun untuknya dan beberapa curhatan Naruto. Naruto berkata jika ia ingin kuliah di Inggris bersamanya. Naruto tau jika Sakura menyukai Desain. Dan Naruto juga mulai menyukainya pada saat itu. Lalu Naruto memintanya untuk menjaga Sasuke sahabatnya.
Flash Back End...
"Sakura." Panggilan Sasuke menyadarkan Sakura.
"Ah maaf aku melamun." Sakura tersenyum canggung.
"Boneka itu." Sasuke menunjuk sebuah boneka di meja sisi lain ruang tamu apartemen Sakura.
"Itu boneka rajut. Hadiah pemberian Naruto." Sakura tersenyum lembut.
"Hn." Sasuke tertunduk. Segala sesuatu tentang Naruto benar – benar membuatnya sedih.
"Sudahlah Sas. Aku tahu kau sangat menyesal. Jalani hidupmu dengan baik dan teruslah menatap kedepan. Demi kebahagianmu." Ucap Sakura paham atas apa yang Sasuke rasakan. "Jika Naruto masih ada pasti ia akan mengatakan itu. Ya setidaknya itulah yang ia katakan padaku di surat itu." Sakura menyeruput coklat hangatnya.
"Sakura apa kau mengenal pria bernama Sabaku Gaara?." Sasuke menatap Sakura dengan tatapan menyelidik.
"Yup aku tahu. Aku mengenalnya saat di rumah sakit. Kami cukup dekat." Jawab Sakura jujur.
"Oh." Sasuke kembali tertunduk.
"kenapa? Apa kau ingin bertanya tentang adiknya?" Kini Sakura yang menatap Sasuke dengan tatapan menyelidik. Sasuke tersentak. Sakura cukup berbahaya, pikirnya. "Aku tahu. Mereka sangat mirip bukan? Aku juga sempat kaget." Sakura terkekeh.
"Tidak. Hanya saja- " Sasuke menghentikan ucapannya.
"Ah bagaimana kabar Hinata?" Sakura mengalihkan topik pembicaraan. Sakura paham, membicarakan prihal tentang Naruto sangat menyakitkan bagi Sasuke.
"Dia baik – baik saja."
"Yah, dia hidup lebih baik sekarang. Dia benar – benar sudah sehat." Sakura tersenyum. "Dan kenapa kalian tidak Kuliah di tempat yang sama? Padahal kau sudah mendapat beasiswa di universitas yang sama dengan Hinata?" Sakura memiringkan kepalanya. Sakura tidak tahu jika Sasuke kuliah di London juga karena Naruto.
"Karena orang tua ku ada di sini." Jawab Sasuke masuk akal.
"Ah ya. Benar juga." Angguk Sakura.
"Lagipula aku menukai tempat ini."
Hening...
"Osshhh menyebalkan. Dingin sekali. Yo sak- eh kau." Kedatangan wanita yang satu ini berhasil memecahkan keheningan.
"Karin. Dari mana saja? Lama sekali aku menunggumu. Untung aku bertemu dengan Sasuke." Omel Sakura. Sakura dan Karin tinggal dalam satu apartemen. Tak hanya itu Karin juga satu kelas dengannya.
"Gomen gomen. Tiba – tiba saja dosen menyuruhku untuk menemaninya ke lab." Gerutunya sebal. "Ya tak apalah. Setidaknya aku mendapatkan nilai tambahan darinya." Karin mengangkat bahu.
"Menyebalkan. Dasar curang." Sakura melemparkan bantal pada Karin.
"Oh ya sebentar lagi libur panjang. Kau Uchiha, tidak ingin kembali ke Jepang?" Karin menatap lekat Sasuke. Ia harap Sasuke akan tergoncang atas pertanyaanya. Ya sepertinya ia benar. Sasuke sangat terguncang.
"Karin hentik- "
"Jangan salah sangka Sakura. Aku sama sekali tidak mengganggap dia yang membunuh sepupu ku." Karin duduk di bangku tepat di depan Sasuke. "Bahkan aku tidak berhak beranggapan seperti itu. Karena dari dulu aku tidak memiliki hubungan yang baik dengannya." Karin mengangkat bahu.
"Bisa kau langsung ke intinya Uzumaki." Sasuke menatap Karin tidak senang.
"AHAHAHAHAHA kau ini lucu sekali." Karin tertawa garing. "Tenang saja. Aku tidak sejahat yang kau pikirkan Uchiha. Kau lebih jahat dariku." Karin membincingkan mata. "Baiklah langsung ke inti. Aku tahu kau tidak memiliki muka lagi untuk menatap Tanteku karena rasa bersalahmu itu. Tapi setidaknya kau harus tetap menemuinya karena dia adalah orang tua kedua mu. Ingatlah dia yang membesarkan mu dari kecil setelah orang tuamu yang tak bertanggung jawab itu membuangmu padanya."
"Gezz ucapanmu itu terlalu kasar Karin." Sakura menatap khawatir Sasuke.
"Aku mengerti." Sasuke bangkit. "Terimakasih atas undangannya Sakura. Aku mohon pamit." Sasuke berlalu meninggalkan mereka.
"Karin. Apa yang kau lakukan?" pekiknya.
"Hanya dengan cara itu." Jawab Karin ambigu. "Hanya dengan cara itu yang membuat Sasuke kembali ke Konoha." Karin meninggalkan Sakura menuju kamarnya.
Terdiam...
Ia berusaha mencerna ucapan Karin. Sepertinya memang benar. Hanya dengan cara itu agar Sasuke mau kembali ke Konoha. Ia sudah menggunakan berbagai cara untuk membuar Sasuke kembali namun tiada hasi. Sepertinya Karin memang pakar dalam mengurusi orang yang keras kepala.
"Tadaima."
"Okaeri. Sasuke kau sudah pulang." Sambutan hangat menghambur kepelukan Sasuke. "Bagaimana kuliah mu?"
"Lumayan."
"Aku sudah menyiapkan makan malam."
"Hn."
Begitulah. Semenjak kematian Naruto Sasuke menjadi lebih dingin dari biasanya. Bahkan pada keluarga kandungnya.
Suasana makan malam yang hening. Keluarga Uchiha selalunya memang tidak terlalu banyak bicara. "Aku akan pergi kejepang." Ucapan tiba – tiba Sasuke membuat Fugaku, Mikoto dan Itachi sontak tersedak.
"Kenapa tiba – tiba putraku?" Tanya Mikoto.
"Kau akan merepotkan Kushina. Apa lagi setelah kematian putri sematawayangnya." Timpal Fugaku. Tak lama kemudian deringan handphone mulai terdengar saling bersautan. Makan malam belum selesai namun Ayah, ibu dan kakaknya mulai sibuk dengan urusan masing – masing. Mereka memang orang yang sangat sibuk. Itu sebabnya ia merasa sangat muak.
"Ah.. aku memang harus pergi." Sasuke mengelap mulutnya dan beranjak dari ruang makan.
Sementara itu di jepang Naruko terduduk lesu di depan layar Laptopnya. Membuat Gaara yang sedari tadi mengamati Naruko sedikit khawatri.
"Mimpi itu jangan terlalu kau pikirkan Naru." Gaara menepuk lembut kepala Naruko.
"Bukan." Suara serak dari bibir Naruko.
"huh?" Gaara menatap Naruko semakin khawatir.
"Bukan karena itu Gaara-nii." Tangisan Naruko pecah. "Anime favoriteku end. Mereka end." Naruko menarik kerah baju Gaara dan menggoyang – goyangkannya. "Ughh aku masih belum puas mendengar suara sexy Viqtor dan keromantisan mereka." Naruko menelungkupkan wajahnya ke meja.
"..." poker face. Gaara sempat menyesal karena telah mengkhawatirkan adiknya ini.
"Aku harap mereka memproduksi season duanya." Naruko mendengus. "Ne Gaara-nii. Soal mimpi itu aku sudah tidak pernah mengalaminya lagi." Naruko melenggakkan kepalanya menatap sang kakak yang berada di belakangnya. "Tapi aku ingin merasakan mimpi itu lagi. Aku ingin membuat kak Naruto berbicara pada ku. Kenapa ia tidak mau berbicara pada ku? Apa dia marah karena aku mengambil matanya?" Mata Naruko berubah nanar.
"Marah? Tetu saja tidak. Naruto menghadiahkan mata itu sebagai hadiah ulang tahun untuk mu." Gaara kembali menepuk kepala sang adik.
"Ah minggu depan aku ingin kerumah Bibi Kushina dan menginap di sana. Boleh kah?"
"Tentu saja." Gaara beranjak dari kamar Naruko. "Jangan membuat Kushina-san kerepotan." Ucapnya sebelum pergi.
Naruko terdiam. Kematian Naruto merupakan pukulan paling menyakitkan untuk Kushina dan orang di sekitarnya. Masih teringat jelas di kepala Naruko wajah terkejut Kushina saat melihat dirinya.
"Apa aku harus menjadi Naruto-nii untuk mereka." Naruko meletakan tangannya di belakang kepala. "Itu akan menyenangkan. Tapi Naruto-nee akan sangat marah karena aku mengambil miliknya haha." Naruko terkekeh. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang kak Naruko. Entah kenapa."
Tiga bulan telah berlalu. Sasuke sudah mulai memasuki masa libur yang cukup panjang. "Wah aku tidak percaya kalau Sasuke-kun akan benar – benar kembali ke jepang. Sudah empat tahun lamanya." Sakura menatap tak percaya Sasuke yang sudah siap untuk terbang kembali ke jepang.
"Hn. Kau tidak kembali?"
"Aku dan Karin akan menyusul lima hari lagi. Kami masih harus mengurus tugas akhir kami. Ah Sasuke-kun sudah menyelesaikannya ya?" Sakura terkekeh.
"Kau tidak perlu menanyakan hal itu pada orang jenius Sakura. Tentu saja dia sudah selesai." Timpal Karin. Kejeniusan Sasuke memang tidak bisa di pandang sebelah mata. "Keluarga Uchiha memang mengerikan." Desisnya.
"Hei Karin. Jangan berbicara seperti itu. Padahal dulu kau adalah salah satu orang yang menjadi fans fanatic Sasuke." Sakura tersenyum jahil menatap Karin.
"K-KAU.. SAKURA DIAM LAH." Karin memukul – mukul tubuh teman seapartemennya itu. "I-itu dulu. Sebelum aku tahu petapa brengsek dan egoisnya pria yang aku kejar dulu." Ucapnya sambil menjeling menatap Sasuke yang tertunduk.
Hening...
Suara pemberitahuan peringatan menghilangkan kesunyian di antara mereka. "Aku aku harus pergi." Ucap Sasuke datar.
"Haik. Jaga dirimu selama di sana. Dan jangan marah dengan ucapan Karin barusan. Kau tahu Karin memang selalu begitu." Sakura meminta pengertian Sasuke.
"hn." Sasuke berbalik dan menuju pergi meninggalkan mereka.
Sasuke tidak akan marah dengan ucapan Karin. Karena apapun yang karin ucapkan adalah sebuah kebenaran.
Sakura benar – benar megkhawatirkan Sasuke. Berat baginya membiarkan Sasuke pergi kejepang sendirian. Dulu tanpa sepengetahuan Hinata, Sasuke sering mencoba untuk melakukan bunuh diri. Jika saja Sakura tidak menangkap basah kegiatan Sasuke mungkin ia akan kehilangan teman untuk kedua kalinya.
Mengenai percobaan bunuh diri Sasuke. Hanya ia yang tahu. Walau pun itu kejadian dua tahun yang lalu. Namun Sakura masih merasa cemas. ia harus menjaga Sasuke sesuai janjinya dengan Naruto.
"Kau mencemaskan orang itu?" Suara Karin mengejutkannya. "Tidak perlu mencemaskannya. Dia tidak akan melakukan hal bodoh selama di sana."
"Eh?" Sakura memiringkan kepalanya.
"Aku tak tahu apa yang pernah terjadi pada dirinya. Tapi apa pun itu kau belakangan ini mulai bersikap seperti Ibunya." Sakura terkejut mendengar penuturan Karin.
"Terlihat jelas kah?" Karin menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan Sakura. "Huuh. Aku memang tidak bisa membiarkannya sendiri. Ne Karin kita harus cepat menyelesaikan tugas akhir kita."
"Tentu saja. Aku tidak mau berlama – lama membiarkan benda laknant itu terabaikan. Aku ingin cepat bebas dan tidur dengan nyenyak."
"Waah Sasuke-kun akan pulang." Jerit girang Kushina terdengar hingga kelantai dua. Naruko yang sedang menonton Anime favoritenya bergegas turun dan menghampiri Kushina.
"Eh Sasuke-nii? Sahabatnya Naruto-nee? Kapan Kaa-chan?" Pertanyaan demi pertanyaan menghujani Kushina.
"Entahlah. Tapi sekarang Sasuke-kun sudah berada di pesawat menuju kemari." Jawab Kushina. "Naruko terlihat senang?" Kushina menatap Naruko dengan pandangan menyelidik.
"Ah. Ano aku hanya senang saja. Aku ingin dekat dengan orang – orang di sekitar Naruto-nee, Kaa-chan" Naruko menggaruk – garuk pipinya.
"Kau tidak perlu cemas. Teman – teman di Naruto akan senang bertemu dengan mu." Ino merangkul Naruko. "Tadaima~."
"Ino-nee~ Okaeri."
"Okaeri Ino. Bagaimana pekerjaan mu hari ini?." Kushina meletakan masakan yang ia masak tadi di atas meja.
"Pasien hari ini banyak sekali aku sampai kelelahan." Ino menghela nafasnya dan mendudukan dirinya di bangku meja makan. "Tapi aku senang ketika mendaoat kabar jika mereka telah sembuh." Tuturnya sembari tersenyum.
"Menjadi dokter memang memiliki kebahagiaan tersendiri." Timpal Kushina.
"Ne Naruko. Kelak kau mau menjadi apa?" Ino menatap Naruko yang duduk di sampingnya.
"Huh entahlah. Aku tidak tahu." Naruko menggeleng – gelengkan kepalanya.
"Bagaimana rasanya home schooling?"
"Membosankan. Tidak bisa berinteraksi dan bersenda bergurau bersama teman – teman." Jawab Naruko sedih.
"Ku rasa Gaara sudah mengambil keputusan yang salah dengan memasukan mu di home schooling." Ino mengangkat bahunya. "Kau sudah lulus SMA. Tidak ingin melanjutkan kuliah?"
"Aku sudah pernah membahas itu dengan Gaara-nii. Dia tidak mengizinkan ku."
"Kenapa?"
"Dia bilang kalau dia sangan mengkhawatirkan ku."
"Bagaimana dengan Naruko? Apa keinginanmu?"
"huh? Maksud Ino-nee?"
"Apakah Naruko senang seperti ini terus. Kau tidak memiliki sakit parah. Dan sekarang kau sudah bisa melihat. Tidak seperti dulu lagi." Naruko terdiam. Naruko baru menyadari sesuatu. Selama ini Gaara selalu memperlakukannya seperti orang yang memiliki penyakit kronis.
"Aku akan membicarakannya lagi pada Gaara-nii." Ino tersenyum mendengar jawaban Naruko.
"Kau tahu. Naruto itu sangat ambisius. Kushina selalu melarangnya ketika ia mengatakan ingin menjadi desainer dan pergi keluar negri. Tapi, ia sama sekali tidak mendengarkan larangan Kushina sedikit pun." Ino terkekeh. "Sayang sekali. Usianya begitu singkat. Bahkan ia tidak menyelesaikan SMUnya." Ino terisak. Begitu pun Kushina. Luka di hati mereka masih bersemayam. Seolah menjadi luka yang tidak akan pernah sembuh.
Suasana makan malam tadi terasa sangat menyesakkan. Hatinya ikut terluka saat melihat kesedihan yang tersirat di mata Kushina dan Ino.
Padahal ia sudah memanggil Kushina dengan sebutan 'Kaa-chan' namun di rasa belum cukup untuk menyembuhkan luka basah di hatinya. Bahkan Kushina lah yang memintanya untuk memanggilnya dengan panggilan itu. Tentu saja Naruko menyetujuinya. Di tambah lagi ia adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak dari ayah kandungnya.
Naruko merebahkan tubuhnya ke ranjang. Di lihatnya suasana kamar yang dulu di tempati Naruto. Dinding Orange, lemari orange, meja orange dengan beberapa foto Naruto dan Sasuke menghiasi dinding, lemari dan cermin di meja hias. "Naruto-nee sangat menyukai Orange ya." Naruko terkekeh.
Naruko terpaku dengan sebuah foto yang ada di sebelah ranjang. "Sasuke-nii?"
Foto Sasuke ketika masih kecil. Yang membuatnya tertarik adalah senyuman lebar nan manis yang menghias wajah Uchiha bungsu itu. "Kira – kira apa yang membuat Sasuke-nii tersenyum seperti ini?" Naruko memiringkan kepala sembari tersenyum.
Rumah, suana, dan lingkungan. Tidak ada yang berubah sedikit pun dari tempat ini. Lama Sasuke menatap struktur rumah yang pernah ia tinggali dulu sebelum ia mulai memasukinya.
Gelap. Tentu saja. Ia tiba di jepang tepat jam 2 malam dan semuanya pasti sudah hanyut dalam mimpi masing – masing.
Sasuke memasuki kamar Kushina dan mulai duduk di tepian ranjang. Ia menatap wajah yang penuh Kushina kemudian mengecup lembut keningnya. "Selamat hari Ibu Kaa-san. Maafkan aku yang sudah merenggut kebahagianmu." Ucapnya penuh penyesalan.
"Ngghh Sasuke-kun? Kau sudah sampai?"
"Kaa-san. Okaeri."
"Ah Yokatta. Akhirnya kau pulang setelah sekian lama, Sasuke-kun." Kushina memeluk tubuh Sasuke penuh sayang.
"Hn."
"Naiklah ke atas. Naruko sudah menunggumu."
"hn? Naruko?"
Sasuke sedikit kebingungan saat Kushina mengatakan jika Naruko sudah menunggunya. Ah ternyata anak ini menginap di sini.
Kamar ini bahkan tidak berubah sama sekali. Dan Sasuke kembali dibingungkan dengan sesuatu yang Naruko bawa tidur.
"Naruto masih menyimpan foto ini?" Sasuke manatap gambar dirinya kemudian meletakan foto itu ke meja. "Jika di perhatikan baik – baik kau memang sangat mirip dengannya. Bahkan cara tidur mu yang bodoh itu." Sasuke Sweatdrop. Mana ada wanita yang tidur seperti itu selain Naruto ah dan gadis yang tidur di kasur Naruto.
Sasuke tercekat saat melihat airmata yang keluar dari mata Naruko. Di tambah lagi gumaman yang Naruko keluarkan.
"Nyem.. nyem.. tentu saja aku jago dalam basket. Dan aku akan selalu mengalahkan mu Teme nyem."
Mata Sasuke terbelalak. Kata kata itu adalah kata kata yang sering Naruto ucapkan padanya dulu ketika ia kalah bertanding melawan Naruto.
Perasaan aneh mulai merasuk ke hatinya. Dengan segera ia keluar dari kamar Naruto dan menuju kamarnya yang ia tempati dahulu.
"Ohayo Kaa-chan." Sapa Naruto sembari menuju meja makan yang sudah di huni beberapa orang.
"Ohayo mo Naru-chan"
"heekk? S-sasuke-nii." Ucapnya syok sembari menunjuk sosok yang tengah duduk sambil menyeruput teh itu.
"Hai – hai. Sasuke tiba semalam." Ujarnya Kushina.
"Dari mana saja kau, bodoh. Baru kembali sekarang?" Ino mengepit leher Sasuke dengan tangannya.
"Aku kuliah Ino-nee." Jelasnya.
"Hee! Syukurlah jika begitu. Ku kira kau merasa bersalah dan memutuskan untuk tidak kembali." Ino mengacak acak rambut Sasuke.
"Hn." Sasuke memandangi Naruko lekat. Ia masih kepikiran dengan kejadian semalam. Bukan hanya itu, tingkah laku Naruko sangat mirip dengan Naruto. Apa ia memang seperti ini? Haruskah ia menanyakan nya pada Gaara?
"Wow kalian sudah berkumpul." Seluruh pandangan beralih kearah sumber suara.
"Ah. Aku baru saja memikirkan mu." Ucap Sasuke membuat Ino menyemburkan air putih yang ia minum tadi.
"Hee? Sasuke? Kapan kau kembali. Lama tidak melihatmu." Gaara menghampiri meja makan dan duduk di depan Sasuke.
"Semalam."
"Aku pikir kau tidak akan kembali." Gaara tersenyum jahil. "Ah bahkan semua orang yang ada di sini berfikir seperti itu."
"Hn."
"Ne bibi Kushina. Gomen jika Naruko merepotkan mu."
"Gaara-nii. Aku tidak merepotkan." Pekik Naruko kesal.
"Ara.. tidak masalah Gaara-kun. Kami senang Naruko berada di sini." Tutur Kushina dengan senyum tulus di bibirnya. "Kami merasa seperti Naruto kembali pada kami." Ucapanya. Naruko terdiam. Matanya berbinar menatap Kushina. "Yah dengan versi gadis mungil ini." Kushina terkekeh.
"Yah Naruko memang lebih kecil dari pada Naruto. Sudah lulus SMA pun Naruko masih terlihat seperti anak SMP." Ucapannya itu berhasil membuat Naruto mendaratkan piring cantik ke kepala Gaara.
"Urusai Nii." Desis Naruko.
"Kau harus makan yang banyak Naruko. Kau masih bisa tumbuh di usia mu saat ini." Hibur Ino.
"Oh Honto?" Naruko berbinar menatap Ino.
"Ya. Jangan lupa olahraga. Naruto itu tinggi karena ia rajin sekali bermain basket."
"Waa Naruto-nee bisa bermain basket?"
"Hai. Naruto dan Sasuke-kun dulu hampir setiap hari bermain basket. Jika kau ingin belajar bermain basket kau bisa mengajak Sasuke-kun." Kushina melirik Sasuke yang masih sibuk dengan cangkir tehnya. "Bolehkan Sasuke-kun?" Kushina menyikut Sasuke.
"Hn tentu saja." Jawabnya singkat.
"Yosh~ kita mulai sore ini." Pekik Naruto penuh semangat. "Nii mau ikut?" Naruto melirik Gaara.
"Aku mau. Tapi besok kau harus bekerja lembur." Gaara menghela nafas.
"Ah sayang sekali."
Bersambung...Review?
