Futatabime no Chansu 2

Naruto menunggu di sebuah rumah pohon reot penuh semangat. Hari yang ia tunggu – tunggu akan terjadi sekarang. Belajar bermain basket dengan orang yang dulu menjadi sahabat sosok yang di kaguminya. "Ah aku terlalu senang sampai – sampai jantungku berdebar kencang." Gumamnya sembari meremas area jantung.

"Maaf aku sedikit terlambat." Sasuke melambai dari bawah sembari mengangkat sebuah kantong di tangan kirinya. "Aku habis membeli beberapa makanan dan minuman."

"Sasuke-nii." Naruko melompat turun dari rumah pohon dan sontak membuat Sasuke panik bukan kepalang. Refleks ia menangkap Naruko sebelum menyentuh tanah.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Raungnya membuat Naruko sedikit tersentak.

"M-ma ma~ t-tenang Sasuke-nii." Naruko menggerak – gerakan tangannya dalam dekapan Sasuke. "Aku sudah terbiasa.

Sasuke terdiam. Ia menurunkan Naruko dari dekapannya dan memegang keningnya yang tiba – tiba berdenyut. "Gomen." Ucapnya lirih. Ia hanya takut jika Naruko terluka.

"Ano. Apa kita jadi bermain basket?" Naruko memiringkan kepalanya menatap Sasuke.

"Tentu." Sautnya datar.

"Apa benar aku bisa tinggi jika bermain basket."

Sasuke mengendikan bahu. "Tergantung. jika takdir mu memang bertubuh.." Sasuke menatap Naruko degan tatapan jahil. "Maka kau tidak akan bisa tinggi." Ejeknya.

Pertigaan merah muncul di kening Naruko. Tanpa berfikir Naruko melemparkan bola basket yang sedari tadi ia pegang ke kepala Sasuke.

Jedug

Bola itu menghantam kepala. Membuat empunya terjungkir kedepan. "Itta." Ringisnya. "Nice Shoot." Puji Sasuke. "Sepertinya kau memang punya bakat dalam basket." Naruko terdiam. "Ada apa?." Sasuke menyerengit.

"Aku refleks." Jawab Naruko lirih. "Kenapa rasanya familiar sekali." Naruko memandangi tangnnya dengan tatapan aneh. "Padahal ini adalah pertama kalinya aku memegang bola basket tapi kenapa terasa familiar." Tangannya tiba – tiba bergetar.

"Apa kau tidak sehat? Lebih baik kita pulang saja." Anjur Sasuke. Dalam kondisi seperti ini mustahil untuk Naruko bermain. Sasuke tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis ini tapi ia merasa ada sesuatu dan ia tidak memiliki hak untuk bertanya.

Kushina duduk di pinggir ranjang tempat Naruko meringkuh memeluk lutut. "Ada apa Naruko? Kau kurang sehat? Ingin Kaa-chan masakan sesuatu?" Kushina menatap khawatir Naruko.

Naruko menggeleng pelan. "Gaara hari ini lembur aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Kushina menatap Sasuke berharap jika pria itu tahu harus berbuat apa.

Sasuke menghela nafas. Sebenarnya banyak yang ingin ia tayakan. Terutama tentang igauan Naruko semalam. Itu benar – benar menganggunya. Namun tetap saja ia merasa jika ia tidak memiliki hak untuk menanyakan itu pada Naruko. "Maaf Kaa-san." Sasuke menggeleng pelan. "Mungkin kita harus membiarkan Naruto beristirahat."

Kushina mengangguk dan ia pun berjalan keluar meninggalkan Naruko di kamarnya. Hendak menyusul Kushina langkahnya terhenti karena sesuatu menarik bajunya dari belakang. "Hn?" Sasuke menaikan alisnya menatap Naruko yang juga menatapnya.

"Mungkin hanya Sasuke-nii yang paham tentang ini." Naruko menatap Sasuke dengan tatapan serius dan membuat Sasuke semakin kebingungan.

"Apa maksudmu?"

"Aku pernah menceritakan ini pada Gaara-nii. Tapi aku tidak mendapatkan respon atau jawaban yang ku inginkan. Mungkin Sasuke-nii akan memberikan respon yang ku inginkan jika aku ceritakan." Sasuke menyerengit mendengar perkataan Naruko. Sasuke terdiam.

"Dengarkan aku Sasuke-nii. Ini benar – benar terasa aneh menurutku. Gaara-nii selalu memintaku untuk tenang dan ia selalu berkata jika ini hanya mimpi. Tapi kenapa mimpi itu selalu berulang." Naruko semakin mempererat genggamannya pada baju Sasuke.

"Tenanglah. Ceritakan padaku." Sasuke menghela nafas. Ia duduk di tepi ranjang dan mulai penasaran dengan sesuatu yang di alami Naruko.

"Aku bermimpi tentang Naruto-nee." Jawabnya. "T-tidak hanya itu. Masa lalu kesehariannya bahkan kematiannya. Aku melihat bagaimana mobil itu mendekat dan menabrak dari sudut pandangku." Naruko menceritakannya pada Sasuke dengan nafas tercekat. Rasa sakit, takut, kecewa, sedih semua ia rasakan. Itu membuatnya nyaris gila.

Sasuke menatap horror Naruko. Perasaannya campur aduk. Ia bingung harus menanggapi cerita Naruko seperti apa. "Tenanglah. Aku akan mencari tahu tentang ini." Sasuke memegang pundak Naruko. Dapat ia rasakan tubuh Naruko yang menggigil hebat. "Sekarang lebih baik kau beritirahat." Naruko mengangguk paham.

Sasuke menekan – nekan tombol poselnya untuk menghubungi seseorang. Sakura, mungkin ia tahu sesuatu tentang apa yang dialami Naruko.

"Sakura. Kapan kau tiba di Konoha?" tanya Sasuke to the poin ketika telfonya berhasil terhuung.

/Aaa besok aku sudah sampai. Ada apa Sas?/

"Hubungi aku jika kau sudah tiba."

/Ah oke./

Sasuke langsung memutus sambungan telfonnya. Yang benar saja mood nya sekarang berada di titik terendah.

malam yang kelam. Tidak ada bintang atau pun bulan yang menerangi Konoha persis seperi iris mata yang ia miliki sekarang. Cerita Naruto masih mengiang – ngiang di kepalanya. Membuat matanya tak sanggup mengatup. Ia memutuskan untuk keluar dan sedikit refreshing. Bukankah itu tujuannya sejak awal untuk datang ke Konoha?

Salah satu Bar ternama di Konoha menjadi tempat persinggahannya kali ini. Mungkin sedikit minum dapat membuatnya segar kembali.

Ia mulai menuguk vodka sembari memejamkan mata untuk menikmati rasa yang di berikan dan melupakan sejenak apa yang menganggunya. Namun percuma saja. Prihal Naruto atau Naruko masih bertah bertengger di kepalanya.

Di tambah lagi pandangan kagum para gadis yang mengarah padanya sungguh membuatnya risih. Sasuke kembali terpikir tentang mimpi Naruko. Apa benar ia memimpikan keseharian Naruto? Jadi Naruko melihat setiap perlakuan buruknya pada Naruto selama ini?

Sasuke menggeleng gelengkan kepalanya. Ia harus memastikannya terlebih dahulu. Hendak bangkit dan meninggalkan bar Sasuke di hadang gerombolan wanita yang sedari tadi tertarik dan terus menatapnya.

"Ingin pulang?" salah satu gadis mengelus dadanya manja. "Ne lebih lamalah di sini dan bermain bersama kami." Rayunya. Sasuke mendorong halus wanita yang menempel pada tubuhnya dan berlenggang pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Wajah nakal wanita itu berubah masam menatap punggung Sasuke.

Sepulangnya dari bar. Sasuke langsung mendatangi kamar Naruko. Seperti dugaannya. Jika Naruko sama sekali belum tidur. Atau lebih tepatnya terbangun. Bisa di lihatnya sediri tubuh Naruko yang basah karena keringat serta tangannya yang bergetar.

"S-sasuke-nii?" panggilnya lirih ketika mendapati sosok Sasuke tampak bersandar di bibir pintu kamarnya.

"Mimpi buruk lagi?" tanyanya dengan wajah datar seperti biasa dan mendapat anggukan dari Naruko. "Aku sudah menghubungi temanku yang mungkin saja tahu prihal ini." Terangnya sembari berjalan menuju kasur Naruko.

"Boleh aku bertanya? Apa isi mimpimu kali ini?" Sasuke mulai mengorek informasi dan memastikan dugaanya.

"Aku melihat Sasuke-nii dengan Hinata-nee dari tempat yang jauh. Kalian sedang menaiki sebuah perahu dan terlihat bahagia." Jawab Naruko lirih.

Sasuke sontak memegang keningnya yang tiba – tiba berdenyut sakit. Selain karena efek vodka yang ia minum dan juga jawaban yang mengejutkan dari Naruko. Faktanya Naruko sama sekali tidak mengenal Hinata. Bahkan bertemu pun tidak pernah. Mimpinya itu yang mengenalkannya pada Hinata?

"Kau tahu Hinata itu siapa?" Sasuke menatap Naruko dengan tatapan menyelidik.

"Pacar Sasuke-nii?" Naruko memiringkan kepalanya. Sasuke menghela nafas.

"Apa kau mulai bermimpi aneh setelah transplantasi mata? Kapan tepatnya?."

Naruko mengangguk. "Setahunan ini. Dan semakin parah belakangan ini."

"Ini mungkin hanya perkiraanku saja. Tapi sepertinya kau terhubung dengan Naruto karena itu." Sasuke menunju iris langit Naruko yang dulunya merupakan mata Naruto.

"Begitukah?" Naruko menatap bingung Sasuke.

"Aku tidak tahu. Dan ini sedikit rumit untuk di jelaskan." Sasuke menghela nafas. "Sekarang kau kembali tidur. Besok dia akan datang." Sasuke merebahkan tubuh Naruko.

"Sasuke-nii aku tidak mau tidur. Aku takut jika harus memimpikan mobil itu lagi." Naruko menggengam ujung jaket yang Sasuke kenakan. "Ano mau kah Sasuke-nii menemani ku?" pintanya dengan nada takut.

"Hn." Jawabnya sembari menyelimuti Naruko. Tak lama kemudian setelah yakin jika Naruko sudah tertidur Sasuke mulai merebahkan dirinya di sofa tidak jauh dari ranjang Naruto. Bisa saja ia menolak permintaan Naruko barusan. Namun ada sesuatu yang membuanya tidak bisa menolak. Ia kembali teringat pada Naruto dan memikirkan sudah berapa kali ia menolak ajakkan Naruto dan sudah berapa kali ia melanggar janjinya pada Naruto.

Itu membuatnya tidak tega untuk menolak Naruko.

Tidak terasa pagi akan datang secepat ini. Sasuke mengerang ketika merasakan tepukan di pipinya. "Sakura?" ketika ia melihat sosok yang membangunkannya itu.

"Ehe gomen. Aku langsung kemari ketika sampai. Aku merasa jika kau akan mengatakan sesuatu hal yang amat penting." Sasuke mendudukan dirinya.

"Hn. Ini berkaitan dengan orang itu." Sasuke menunjuk sosok Naruko yang masih tertidur pulas. "Mengejutkan jika ia tidak terbangun karena mimpi buruk malam ini."

"Waah Suge na. Ternyata memang benar – benar mirip." Sakura memandang takjub sosok Naruko yang sangat mirip dengan Naruto. "Aku baru pertama kali ini melihatnya secara langsung. Ternyata benar – benar mirip."

"Hn. Tetap saja mereka orang yang berbeda."

Sakura tersenyum getir. "Hidoi na Sasuke-kun. Aku sempat berharap jika Naruto hidup lagi dalam wujud ini."

"Naruto sudah mati." Sasuke berusaha menyadarkan Sakura dan juga menyadarkan dirinya sendiri.

"Ne Sasuke-kun kenapa kau terdengar seperti menyadarkan diri sendiri?" Sakura terkekeh kecil.

"Hn." Jawabnya singkat.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Ini mungkin terdengar aneh. tapi bocah itu memiliki ingatan Naruto." Sasuke memijat kepalanya yang berdenyut sakit. Ia pikir ia tidak terlalu mabuk semalam. Tapi sepertinya dampaknya tetap masih terasa.

"Hee? Jangan bercanda Sas." Sakura mengibas – ngibaskan tangannya.

"Aku terlihat sedang bercanda?" Sasuke menatap tajam Sakura. "Awalnya aku juga sama sepertimu. Tapi dia mengenal Hinata. Kau pikir ia pernah meihat hinata?" Sakura menggeleng.

"Bagaimana mungkin dia bisa memiliki ingatan Naruto?" Sakura menatap Naruko yang masih tertidur dengan tatapan tak percaya.

"Mimpi."

"Heh? Mimpi?" Sakura menyerengit.

"Ya belakangan ini Naruko mendapatkan mimpi yang sama berulang – ulang. Kehidupan, keseharian bahka saat detik – detik kematian Naruto."

"T-tunggu. Jangan bilang itu terjadi setelah dia mendapatkan mata Naruto." Sekarang Sakura yang heboh sendiri.

"Tepat sekali." Sasuke menyandarkan tubuhnya di sofa.

"I-i-ini seperti cerita dalam sebuah novel yang pernah aku baca." Jawabnya antusias. "Tapi aku tidak tahu jika ini bisa terjadi dalam dunia nyata."

"Bagaimana cerita Novel itu?" Sasuke penasaran.

"Aku hanya mengingatnya sedikit. Karena sudah lama sekali aku membaca Novel itu. Kalau tidak salah seorang pria yang mendapat mata seorang gadis. Lalu sang gadis yang memiliki mata tidak menerima jika dirinya mati dan memutuskan untuk mengambil alih tubuh pria itu dengan cara mengunci pria itu dalam alam bawah sadar melalui mimpi. Ketika itu sang pria tengah koma."

"Apa Naruto juga melakukan hal yang sama padanya?"

"Kenapa kau seperti berharap Sas?" Sakura tersenyum getir. "Lagi pula Naruto tidak akan melakukan itu. Ia sudah tenang di sana." Sakura menduduki dirinya di samping Sasuke. "Ne Sasuke-kun. Bukan kah Hinata juga mendapatkan jantung dari Naruto? Apa tidak terjadi apa pun padanya seperti yang di alami Naruko?".

"Sepertinya tidak. Jika terjadi pun ia akan langsung menelfon ku dan menceritakannya."

"Hee jadi hanya Naruko ya?"

"Are. Kenapa kalian berkumpul di sini?" suara tersebut mengejutkan Sasuke dan Sakura.

"A Gaara-kun. Lama tak jumpa." Sakura bangkit dan bersalaman dengan Gaara.

"Sakura. Lama tak jumpa. Apa kau baru tiba?"

"Ya begitulah. Aku langsung kemari karena Sasuke ada pembicaraan penting."

"Ah Sou." Gaara duduk di sofa depan Sasuke.

"Apa yang sedang kalian bahas?" Gaara sedikit penasaran dengan pembahasan mereka.

"Tentang mimpi Naruko." Jawab Sasuke singkat.

"Tidak perlu khawatir. itu hanya mimpi dan dia selalu melebih lebihkan mimpinya." Gara mengibas – ngibaskan tangannya seolah berkata tidak perlu khawatir.

"Aku berharap juga begtu. Hanya mimpi. Tapi itu terlalu aneh untuk ukuran mimpi. Apa Naruko pernah bertemu dengan pacarku?" Sasuke menatap Gaara tajam.

"Hinata? Aku rasa tidak."

"Dia mengenal Hinata."

"Itu tidak mungkin." Gaara menyerengit.

"Itu mungkin bahkan sudah terjadi."

"Pasti ada penjelasan medis tentang ini."

"Tentu saja ada." Sasuke mengangkat telpon genggamnya dan memperlihatkannya pada Gaara. "Hinata sudah wisuda dan menjadi seorang dokter di Rusia. Kebetulan sekali dia akan pulang ke Konoha dua hari lagi."

"Waah suge na Hinata-chan." Sakura terkagum – kagum. "Kau Sas seharusnya juga sudah selesai dua tahun ini apa yang kau kerjakan huh? Mengulur skripsi mu?"

"Hn."

"Ya aku tahu alasanya." Sakura tersenyum getir.

"Ino-nee juga seorang dokter kita bisa bertanya prihal ini."

"Ah kau benar." Gaara mengangguk setuju.

"Ada baiknya jika kau tidak mengabaikan gejala kecil yang terjadi pada Naruko Gaara. Kau bisa saja kehilangannya." Sasuke bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari kamar Naruto. Ia tidak menyangka jika pagi ini akan terasa sangat panjang.

Bersambung...Review?follow juga Wattpad yu di - @Lexyes