4. Keberuntungan Park Chanyeol
.
.
.
.
"Baekhyun.. Berapa ukuran penismu?"
"Ap- Hah?!"
Berapa ukuran penismu...
Berapa ukuran penismu...
Berapa ukuran penismu...
BERAPA UKURAN PENISMU?!
KEMANA OTAKMU PARK CHANYEOL!
Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali menatapku terkejut. Tubuhnya terlihat membeku dengan mulut yang sedikit terbuka membentuk huruf O.
"AH! MAK- Maksudku, pen- penis- Aku-"
Kata-kataku terhenti begitu mendengar suara Baekhyun tertawa kencang. Matanya membentuk bulan sabit dan tubuh mungilnya bergoyang goyang. Seluruh ruangan langsung sunyi. Hanya suara tawa Baekhyun yang terdengar memenuhi ruangan tersebut.
Wajahku sontak memerah hebat melihat wajah Baekhyun yang tertawa. Aku tersenyum kecil sambil terus menatap wajah Baekhyun berharap wajah itu akan terus teringat di pikiranku sampai aku mati nanti.
"Kau lucu sekali, Chanyeol-ssi." Sahutnya begitu selesai tertawa.
Mata bulatku langsung melebar. "Aku.. Aku lucu?"
HAHAHAHA SIALAN. BAEKHYUN BILANG AKU LUCU.
"Iya. Kau lucu sekali.. Karena sudah membuatku tertawa, bagaimana kalau kau kuberi hadiah kecil?"
HAHAHAHAHA
"Kemarikan wajahmu, biar kubisiki."
Kutelan ludah gugup begitu mendengar Baekhyun menyuruhku memajukan wajahku. Oh tidak. DIA MAU NGAPAIN?!
Baiklah tenang Chanyeol. Jangan melakukan hal aneh apapun.
"Baekhyun, dia harus segera ganti giliran." Sahut bodyguard di sebelah Baekhyun yang membuatku sedikit tersadar.
APAAN SIH.
Baekhyun melirik ke arah bodyguardnya sebentar lalu mengangguk kecil. "Tidak akan lama, Hyung. Sebentar lagi." Ia lalu menatapku lagi dengan senyuman kecil di wajahnya. "Ayo Chanyeol-ssi, kemarikan wajahmu."
Akhirnya dengan jantung yang terus berdetak kencang, kumajukan wajahku dengan sedikit membungkuk ke arah Baekhyun.
Bagaimana ini
BAGAIMANA INI.
Wajahnya dekat sekali. Aku harus bagaimana.
Yaampun bibir berkilaunya, bisakah aku menjilatnya sebentar? Astaga Tuhan bantu aku agar sampai ketempat tujuan. Dan tidak tergoda.
Begitu sudah sampai cukup dekat di hadapan Baekhyun, Baekhyun memajukan wajahnya lalu berhenti di sebelah telinga kananku. Hangat nafasnya sangat terasa di telingaku. Membuat tubuhku berdesir tiba-tiba. Wangi rambutnya langsung menusuk indera penciumku..
Jangan buat aku mimisan sekarang sialan.
Bisa kudengar orang-orang di sekelilingku menahan nafas melihat posisiku yang sedikit intim bersama Baekhyun.
"Ukuran penisku..." Baekhyun berbisik.
TIDAK
TIDAK
TIDAAAAAAAKKKKKK
"Tidak lebih besar darimu, Chanyeol-ssi.." Bisiknya lagi lalu meniup telingaku lembut.
Jleb.
Bisa kurasakan juniorku langsung berdiri keras dalam celanaku begitu merasakan Baekhyun meniup telingaku.
Baru hendak menarik wajahku, Baekhyun tiba-tiba saja mendaratkan ciumannya di pipiku lalu menarik wajahnya. Rasa lembut dan basah dari bibirnya langsung terasa. Ia meninggalkanku dengan posisi yang masih diam dengan membungkuk dan wajah serba melebar.
Seperti mata melebar, mulut terbuka lebar, bahkan lubang hidungku terbuka lebar.
Dan dalam beberapa detik...
"KYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Suara teriakan langsung memenuhi ruangan.
BRUK!
"CHANYEOL-SSI!"
Dan... suara teriakan Baekhyun menjadi suara terakhir yang kudengar sebelum semua menjadi gelap.
.
.
.
.
.
"Dia pingsan karena kau cium Baek. Kenapa kau ceroboh sekali."
"Aku hanya mencium pipinya!"
"Tapi tetap saja bibirmu menempel di tubuhnya."
"Tapi Luhan, aku hanya memberinya hadiah."
Suara-suara itu terdengar sedikit keras di telingaku membuat mataku sedikit terbuka lalu mengerjap-ngerjap begitu melihat cahaya lampu di atasku.
Kulihat sekeliling sebelum membangunkan tubuhku. Ini bukan kamarku.. Aku ada dimana?
"Kau sudah bangun?"
Sebuah suara lembut dari sampingku membuatku menolehkan kepalaku ke arahnya. Sosok mungil dengan rambut pink cerah masuk ke pandangan mataku.
Mataku kembali mengerjap beberapa saat sebelum...
"BYUN BAEKHYUN!" Teriakku kencang menatap sosok dihadapanku horror.
Baekhyun tertawa kecil lalu mengangguk-anggukan kepalanya. "Hai Chanyeol-ssi. Kau baik-baik saja?"
"A- eh- uh- ap- aku- ini-"
Kau kenapa tiba-tiba gagap seperti orang tolol Chanyeol!
"Kau- Kau nyata kan?"
"Tentu saja aku nyata." Jawabnya yang disambung dengan kekehan kecil.
Tidak mungkin. Aku pasti sedang bermimpi. "Ke- Kenapa aku ada disini? Ini dimana?" Tanyaku kemudian.
Baekhyun mengambil tempat di sebelahku di kasur, lalu tersenyum menatapku. "Ini di kamarku. Kau tadi pingsan lama sekali. Karena acara sudah selesai dan kau belum bangun-bangun juga, akhirnya kubawa kau keapartemenku. Kebetulan cukup dekat dari-"
"-HAH!" Teriakku tiba-tiba. Tidak kuat lagi mendengar suara Baekhyun yang begitu merdu.
Nafasku naik turun tidak karuan. Aku harus benar-benar keluar dari sini. Ini tidak akan baik untuk kesehatan tubuhku jika terus disini.
Baru saja hendak berdiri dan meninggalkan kasur, tangan halus Baekhyun menarikku sedikit kencang, membuatku menatapnya dengan mata membulat besar.
"Kamu mau kemana?"
...
...
..
Demi pantat Sehun..
"Istirahat saja disini dulu. Diluar hujan deras sekali. Dan ini sudah jam 1 dini hari."
...
...
..
Demi jempol Sehun..
"Kau bisa tidur dikamarku, Chanyeol-ssi.."
...
..
...
Aku pasrah mas..
"Baekhyun! Kau gila!"
Apa? Itu bukan aku yang berteriak! Mana mungkin aku ngatain istriku gila. Itu teman Baekhyun yang berdiri di dekat lemari. Dia menatap Baekhyun dengan pandangan kesal.
"Cuma sehari, Luhan. Apa salahnya?"
Ya Luhan! Apa salahku! Maksudku apa salahnya!
Luhan menghela napas keras lalu mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. "Dia orang asing!"
"Dia fansku! Bukan orang asing!"
Kau salah Baekhyun. Aku suamimu.
"Fans yang bertanya berapa ukuran penismu saat pertama kali bertemu. Bagus sekali Baek. Dia bisa saja orang mesum!"
HEY!
Kenapa Luhan tau aku mesum!
Hehe.
"Kau harus pulang sekarang Luhan. Aku akan baik-baik saja aku janji. Aku percaya Chanyeol."
"Tapi-"
"Pulang, Luhan!"
Dan kata-kata keras Baekhyun, sukses membuat Luhan pergi dari kamar Baekhyun diiringi bunyi keras pintu yang ia banting saat keluar.
Aku menunduk dan menatap tanganku yang kutaruh di paha. Merasa bersalah.
"Baekhyun-ssi, aku pulang saja ya. Kau jadi berkelahi seperti itu aku tidak enak."
Baekhyun tersenyum sambil meremas tanganku lembut. "Tenanglah. Dia cuma kelelahan karena terlalu sibuk bekerja sebagai manajerku hari ini. Makanya gampang emosi."
Mendengar kata-katanya, pipiku tersemu merah tanpa sadar. Kenapa dia baik sekali.
Baekhyun bangkit dari duduknya lalu menatapku "Kau mau mandi? Biar kupinjamkan baju."
Kuanggukkan kepalaku perlahan tidak enak menolak perhatian Baekhyun. Baekhyun kemudian berjalan ke arah lemarinya lalu terlihat memilih beberapa baju dan mengambil handuk baru. "Ini baju terbesar yang kupunya. Maafkan aku kalau terlalu pas atau kurang nyaman."
Aku langsung bangkit berdiri dari kasur lalu melangkah mendekati Baekhyun yang sedang memegang pakaianku. Ketika sampai di hadapannya, aku baru sadar. Tinggi Baekhyun bahkan tidak mencapai telingaku. Kenapa dia terlihat sangat mungil dan menggemaskan sih.
"Terimakasih Baekhyun-ssi." Sahutku mengambil pakaian dan handuk dari tangannya, lalu tersenyum manis menampilkan lesung pipiku yang memang hanya ada satu.
Bisa kulihat pipi Baekhyun merona merah. Apa karena senyumanku?
HAHAHAHA.
Susahnya jadi laki-laki tampan.
"Uhm, kau bisa mandi disini. Aku buatkan teh dulu. Mungkin kau masih pusing karena pingsan tadi."
Kembali kuanggukkan kepalaku dan masih menampilkan senyuman. Baekhyun menunduk lalu segera berlari cepat keluar dari kamarnya.
Dengan perasaan sangat senang dan berbunga-bunga, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi sambil bersiul kencang dan menari-nari dengan gembira.
Aku menaruh tubuhku di kasur Baekhyun merasa lelah dan sangat pusing. Kalau dipikir-pikir, kenapa tadi sore aku bisa pingsan ya. Masa karena dicium dipipi doang. Gimana nanti kalau dicium di bawah.
Tapi ini benar-benar hebat. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa akan berakhir di kamar orang yang sudah kukagumi selama ini. Laki-laki mungil yang hanya bisa kulihat dari layar televisi atau leptop. Bahkan aku tidak menyangka sama sekali bisa tidur dikasurnya.
Kubalik tubuhku hingga tengkurap lalu membenamkan wajahku di bantal milik Baekhyun. Dengan reflek langsung kuhirup aroma bantal yang benar-benar wangi. Bisa kupastikan ini harum tubuh Baekhyun.
Ahhh.. Indahnya...
.
.
.
"Chanyeol-ssi ini tehnya"
Begitu mendengar suara Baekhyun yang masuk ke kamar, tubuhku langsung menegak dan duduk di pinggir kasur.
Oh shit..
Baekhyun masuk kekamar sambil membawa secangkir teh dengan bajunya yang sudah diganti. Kapan dia ganti baju?! Dan kupikir itu akan menjadi masalah untuk juniorku beberapa saat kedepan.. Dia memakai kaos longgar putih yang menampilkan sedikit pundaknya dan akan menampilkan seluruh dada putihnya jika ditarik kebawah. Dan celana yang pendeknya beberapa centi diatas lutut yang menampilkan kakinya yang.. astagaa luar biasa indah.
"Terimakasih. Maaf merepotkanmu terus" Sahutku mengambil cangkir teh dari tangan Baekhyun dan menyesapnya perlahan.
Baekhyun duduk di sebelahku lalu memainkan tangannya. Ia lalu berdehem pelan dan menatapku. "Maaf aku menciummu tadi.. Gara-gara itu.. Kau jadi pingsan begitu." Sahutnya.
Hampir saja aku tersedak air teh begitu mendengar Baekhyun berbicara seperti itu. Kugelengkan kepalaku pelan. "Aniyo.. Aku memang kurang istirahat saat ingin bertemu denganmu kemarin. Jadi kupikir aku pingsan karena kurang tidur. Tenang saja, itu bukan salahmu sama sekali."
Baekhyun tersenyum kecil. "Baiklah. Istirahatlah disini. Aku akan tidur disofa depan."
Mataku melebar terkejut. "Hah? Yang benar saja! Yang ada aku sebagai tamu tidur di sofa depan. Ini kan apartemenmu."
"Tapi sofa di depan kurang nyaman, Chanyeol-ssi. Dan kamu cukup tinggi. Tubuhmu tidak akan muat."
"Karena kurang nyaman itulah, kau harus tidur disini. Kau pasti sangat lelah seharian ini."
Baekhyun terdiam sesaat sebelum menghela napasnya dan menatapku dengan rona merah dipipinya.
"Bagaimana.. Kalau kita tidur disini sama-sama?"
.
.
.
.
.
"Demi penis Sehun..."
.
.
.
.
jangan lupa comment sama likesnya selalu ditunggu :)
