Futatabime no Chansu 3
Hari menjelang siang. Sulit di percaya ketika Naruko menuju meja makan sosok ia sudah di nanti begitu banyak orang di sana. "Are?"
"Sudah jam berapa ini dasar tukang tidur." Ino berkacak pinggang di hapan Naruko sedangkan Naruko hanya terkekeh menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Ah Dia?." Naruko menatap Sakura yang duduk di sebelah Sasuke. "Sakura-chan ka?"
Sakura terlonjak kaget ketika Naruko menyebukan namanya. Tentu saja Sakura mengenal Naruko namun mereka belum pernah bertemu secara langsung. "Ini benar – benar mengejutkan." Sakura terkekeh sembari melirik Sasuke yang tengah menikmati kopi miliknya.
"Sudah aku katakan." Sasuke memutar bola matanya. Ino menatap heran Sasuke dan Sakura.
"A? Kalian ini kenapa?." Tanyanya penasaran.
"Ino-nee ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan." Sakura, Gaara dan Sasuke saling berpandangan. Hal ini membuat Ino semakin heran dan penasaran.
"Ah tentu." Jawabnya ragu.
"Naruko sarapanlah dulu. Hanya kau sendiri yang belum sarapan." Ucap Kushina sembari menyeret Naruko ke meja makan.
"Baik Kaa-chan."
Di halaman belakang suasana di antara mereka bertiga terasa begitu serius. Ini membuat Ino benar – benar merasa tidak nyaman. "Oh ayolah. Aku merasa seperti sedang di introgasi di sini. Ada hal yang ingin kalian tanyakan pada ku?" Ino menyilangkan tangannya di depan dada.
"Gomen Ino nee-san. Kami ingin Ino-Nee menyelidiki prihal Naruko." Ucap Sakura ragu.
"Naruko? Ada apa dengan Naruko? Apa dia kurang sehat?"
"Bukan begitu. Ino-nee bisa melihatnya sendiri jika belakangan ini Naruko terlihat aneh bukan? Mimpi – mimpi itu dan-..."
"Aku tahu." Ino memotong ucapan Gaara.
"Jadi kalian ingin aku memeriksa Naruko karena itu?" Ino menatap serius ketuganya.
"Benar." Jawab Sasuke, Sakura dan Gaara.
"Kau tahu aku ini dokter specialis dalam? Aku mungkin tidak terlalu membantu jika mengenai ini namun pengalaman ku mungkin iya." Terang Ino.
"Kami tahu." Jawab Sakura.
"Mungkin Psikolog akan sangat membantu ya aku juga akan membantu sebisa mungkin."
"Psikolog? Naruko tidak gila Ino-nee." Raung Gaara.
"Hei Gaara. Kau pikir Psikolog hanya melayani orang gila? Kau salah besar." Bantah Ino membuat Gaara terdiam.
"Yang di tangani Psikolog tidak hanya itu. Mereka dapat menyelesaikan masalah yang mungkin tidak dapat kita selesaikan. Misalnya saja kau mengalami masalah kegugupan yang berlebihan ketika ingin mencari pekerjaan atau kau memiliki rasa takut yang berlebihan akan sesuatu. Mereka dapat membantu mu menyelesaikan masalah itu." Terangnya. "Kau bisa menyebutnya dengan Konseling. Bukan kah di SMU kalian pernah melakukannya? Apa kalian gila saat melakukan Konseling?" Gaara menggelengkan kepala.
"Kalian beruntung karena aku memiliki teman seorang Psikolog. Besok aku akan menghubunginya." Sakura dan Gaara mengangguk paham.
"Sudah selesai bukan? Karena aku harus pergi bekerja." Ino bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka bertiga di sana.
"Aku harap kita akan segera mendapat jawabannya." Sasuke bangkit dan menyusul kepergian Ino.
"Sas kau mau kemana?" Sakura ikut berdiri dari duduknya.
"Aku ingin melanjutkan skripsiku. Aku pikir tidak ada gunanya terus menunda." Sasuke mengendikan bahunya dan menghilang di balik pintu.
"Ah sudah ku duga jika Sasuke akan fokus ke masalah ini. Itu sebabnya dia memutuskan mengerjakan hal yang ia tinggalkan." Sakura menghela nafas.
"Maksudnya?" Gaara menatap Sakura dengan tatapan tidak mengerti.
"Setelah kematian Naruto Sasuke tidak pernah mengerjakan suatu hal dengan serius. Dan tentu saja itu menjadi masalah bagi masa depannya. Setahuku Naruto itulah yang menjadi penyemangat dan pemicu Sasuke dalam belajar. Walaupun tak terbantahkan jika Uchiha itu memang memiliki kejeniusan yang mengerikan."
"Jadi artinya ia sama sekali tidak menggunakan kejeniusannya belakangan ini?" Gaara asal menyimpulkan.
"Err bisa di bilang begitu. Dan aku harus pergi menemui Karin." Sakura melihat arloji di tangannya.
"Karin?"
"Ah iya kau tidak mengenalnya. Ia adalah keponakan dari Bibi Kushina. Dia memang sangat jarang bermain ke tempat bibi dan juga ia memiliki hubungan yang buruk dengan Naruto dulunya." Sakura menyingsing tasnya dan bersiap untuk pergi.
"Oh souka."
"Besok akan aku kenalkan padamu. Dan kebetulan aku akan memaksanya datang kemari he he." Sakura tersenyum miring.
"Kimochi waruii." Gaara bergidik ngeri.
"Jaa ne."
"Jaa."
"Kaa-chan aku pergi ke supermarket." Teriak Naruko sembari memasang sepatunya dan hendak keluar. Namun ketia ia membuka pintu...
BUGHHH
Naruko seperti sedang menabrak sesuatu. Dan yang benar saja ketika ia melihat sosok yang terjatuh di bawah sana. "Ah S-sumimasen aku tidak melihat mu... Hi...Na..Ta-chan(?)."
Hinata yang terjatuh terkejut bukan kepalang. Bukan karena rasa sakit akibat tertabrak melainkan karena siapa sosok yang menabraknya kini. "N-naruto?" ucapnya dengan nada takut.
"Are siapa yang datang Naruko." Kushina meghampiri. "Kenapa ribut sekali. Eh are Hinata-chan. Kapan kau datang? Ayo masuk." Kushina membantu Hinata berdiri dan mendorongnya masuk kerumah. Sedangkan Naruko melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti yaitu berburu diskonan ramen di supermarket.
"Aha kau kerkejut ya?" Kushina tersenyum menatap Hinata sambil meletakan secangkir teh untuk Hinata. "Sudah aku duga jika orang terdekat Naruto akan terkejut jika melihat Naruko."
"Naruko?"
"Ya namanya Sabaku Naruko. Dia anak dari kakak ayah Gaara-kun." Jelas Kushina.
"Sou. Aku sudah mendengar sedikit tentangnya dari Sasuke. Tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengannya secara langsung seperti ini dan itu benar – benar mengejutkan." Ujarnya masih dengan nada shock. "Mereka benar – benar memiliki paras yang keterlaluan mirip."
"Aku setuju." Kushina tersenyum.
"Oh ya kenapa Hinata-chan datang? Aku dengan jika Hinata-chan sudah menjadi dokter dan pasti sangat sibuk."
"Sasuke menghubungiku. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan."
"Waah apa jangan – jangan Sasuke ingin melamar mu Hinata-chan?" Kushina asal menebak.
"A-aaa Bibi Kushina itu tidak mungkin." Hinata membatahnya dengan cepat. "Walau aku berharap jika Sasuke-kun akan melamarku segera. Tapi aku pikir ia memanggilku untuk pulang bukan karena hal itu." Hianat terkekeh.
"Sou."
"Hn? Seharusnya kau datang dua hari lagi kan?" Hinata tersentak. Dengan cepat ia menoleh ke arah tangga tempat sumber suara.
"S-sasuke-kun? Ya aku memutuskan untuk mempercepat kedatangan karena semua urusanku sudah selesai." Jawabnya.
"Hn." Sasuke menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur.
"Sudah ku duga jika Sasuke berada di sini." Mata Hinata mengikuti arah kepergian Sasuke.
"Tentu saja. Ini juga rumahnya." Kushina mengembungkan pipinya.
"B-bukan itu maksud ku bibi. Hanya saja setelah apa yang terjadi..." Hinata tertunduk.
"Aku tahu. Sasuke adalah orang yang paling menyesali kematian Naruto." Kushina menatap Hinata dengan senyuman. "Mereka aku besarkan bersama – sama sejak kecil. Sasuke pula sudah seperti putraku sendiri. Aku mengerti dengan kesibukan keluarga sahabatku Mikoto dan sesekali aku pernah berharap jika mereka akan memperhatikan putra bungsu mereka Sasuke." Kushina menghela nafas.
Hinata akhirnya mengerti kenapa Naruto begitu dekat dengan Sasuke dulunya. Bisa di bilang Naruto adalah satu – satunya wanita yang dekat dengan Sasuke. Hinata mengutuk dirinya yang dulu karena selalu cemburu dengan kedekatan Sasuke dan Naruto. Hingga membuatnya melakukan hal bodoh dan memonopoli Sasuke. Ia sengaja membuat janji dengan Sasuke di hari ulang tahun Naruto agar Sasuke lupa dengan hari besar sahabatnya itu. Siapa yang menduga jika Naruto adalah orang yang menyelamatkan hidupnya. Dan orang yang memberikan kehidupan kedua baginya.
"Bibi Kushina." Panggil Hinata lirih.
"Hm?" Kushina menoleh.
"Bibi tahu kenapa aku menjadi seorang dokter?"
"Hm?"
"Ini semua berkat Naruto. Aku ingin menjadi sepertinya. Memberikan kehidupan kedua bagi orang lain." Kushina tersenyum lembut ketika mendengar ucapan Hinata. "Tentu saja ini karena pengalaman pribadiku sendiri. Aku tahu rasanya memiliki penyakit kronis itu sama sekali tidak enak. Makanya aku ingin orang yang sama sepertiku dahulu itu merasakan yang namanya kesembuhan." Kushina menepuk sayang pucuk kepala Hinata. "Bibi tahu jika sebenarnya aku sering mengharapkan kesempatan kedua. Aku selalu berharap jika Naruto kembali hidup dan... aku ingin meminta maaf dan menebus semua dosa ku dan semua kebodohan yang telah aku lakukan padaya dahulu." Hinata menepis tangan Kushina dari kepalanya dan kemudian menggenggamnya erat.
Kushina hanya tersenyum lembut. "Kau tahu itu tidak akan mungkin terjadi." Genggaman Hinata melonggar seketika.
"Aku tahu. Dan bibi tahu jika aku datang kemari lebih cepat karena harapan yang tidak mungkin ini? Entah kenapa ketika Sasuke menceritakan hal itu aku merasakan sesuatu." Ucapan Hinata membuat Kushina bingung.
Hening...
"TADAIMAAAA." Naruko menggebrak pintu dan memecahkan keheningan. "Are kenapa suasananya serius sekali?." Naruko memiringkan kepala. "Kalian sedang membahas apa?"
"Kami hanya sedang bernostalgia sedikit." Kushina bangkit dari duduknya. "AKH LAGI?" pekik Kushina ketika melihat duah gundukan pelastik besar di tangan Naruko.
"Aaa gomen – gomen Kaa-chan. Aku khilaf." Jawabnya panik.
"Kau tidak akan hidup dengan hanya makan ramen kan Naruko?" Kushina menunjuk kantong besar itu. "Kau juga harus ingat. Kalau kau harus makan makanan seimbang." Omelnya.
"W-wakatta na Kaa-chan. I-ini hanya persediaan cemilan selama sebulan."
"Ah. Terserahlah." Kushina menghela nafas.
"Ini juga salah Kaa-chan karena menyuruhku mencoba ramen dan aku sekarang jadi ketagihan." Naruko mengerucutkan bibirnya.
"APA SEKARANG KAU SUDAH BERANI MENYALAHKANKU?" Kushina melepaskan sendal rumahnya dan melemparkannya pada Naruko. Sedangkan Naruko hanya berlari terbirit – birit menuju dapur.
"Pfftt." Hinata menahan tawa melihat tingkah keduanya. Sepertinya Naruko berhasil menutup luka di hati Kushina. Hinata sedikit bersyukur.
Sasuke bersandar bibir jendela menikmati angin sore yang menghembus tiap helaian surai dongkernya. Entahlah sudah berapa lama ia berada di sana. Bukankah seharusnya ia bersama Hinata sekarang? Menghabiskan waktu layaknya sepasang kekasih? Tidak. Sasuke tidak bisa melakukannya. Sasuke sadar betul jika ia sudah sudah sangat berubah semenjak sepeninggalan Naruto. Bahkan Hinata pun sudah menyadari perubahannya.
Aneh nya, Hinata sama sekali tidak complaint atau menuntut apapun. Apakah Hinata sudah memakluminya? Dan memutuskan untuk bersabar menghadapinya? Sasuke menghela nafas panjang.
Tidak hanya soal Hinata. Kepalanya pun sekarang sudah di penuhi oleh Naruko. Perubahan yang ia alami setelah pertemuannya pertamakali. Sekarang Naruko terasa semakin mirip denga Naruto. Salahkan jika ia merasaka hal itu?
Perasaan Sasuke semakin kacau ketika melihat dua kantong besar yang Naruko bawa tadi. Apakah Naruko juga Ramen Fetish Freak? Sepertinya ia harus mencari tahu sesuatu tentang hal yang Naruko sukai atau tidak sukai di masa lalu. Mungkin ini akan menjadi bahan pertimbangan nantinya.
Tring...
Ponselnya berdering. Tertulis nama Ino di sana. Sepertinya Ino berhasil menghubungi temannya yang seorang Psikolog. Baguslah Sasuke merasa jika ia sepertinya sudah mendekati jawaban yang ia cari.
Sementara itu Sakura tengah sibuk mencari sesuatu di tumpukan buku didalam perpustakaan bersama Karin. "Aku tidak menemukannya di sana." Karin menghampiri Sakura yang tengah sibuk berkutat dengan buku.
"Ah aku tidak bisa menemukannya." Sakura mengerang frustasi.
"Bagaimana kau bisa menemukannya bahkan judulnya saja kau tidak ingat." Karin menghela nafas.
"Aku sedang berusaha mengingatnya Karin." Erangnya.
"Jadi yang kau ceritakan itu memang terjadi?" Karin mendudukan dirinya di samping Sakura.
"Tentu saja. Kau pikir aku sedang bergurau." Ucapnya dengan nada nyaring.
"SSTTT." Seketika mendapat teguran dari pengunjung perpustakaan lainnya.
"S-sumimasen." Sakura membungkuk meminta maaf.
"Sou."
"Aku tahu mungkin ini terdengar tidak masuk akal tapi ini benar – benar terjadi." Sakura menghela nafas berat.
"Kau tahu Sakura. Aku juga jadi penasaran." Karin menyadarkan dagu pada tanganya.
"Hm. Buku novel itu mungkin akan membantu." Sakura melancukan pencariannya pada rak buku lain. Karin hanya menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oh ya Karin."
"Hm?."
"Aku ingin kau datang ke rumah bibi Kushina malam ini." Sakura menatap Karin dengan tatapan memohon.
"Baiklah." Sakura menatap Karin dengan tatapan tidak percaya. Tanpa penolakan? Pikirnya. Sulit di percaya jika Sakura tidak perlu menggunakan paksaan untuk mengajak Karin.
Karin menaikan sebelah alisnya menatap keheranan Sakura. Tentu saja ia tahu jika Sakura akan sangat shock karena ia menerimanya begitu saja. Karin memiliki alasan tersendiri kenapa ia memutuskan untuk mengunjungi kediaman tantenya Kushina. Karin ingin memastikan cerita sakura dengan mata kepalanya sendiri. Dan ada sesuatu hal yang harus Karin pastikan tentang sosok wanita yang menyerupai sepupunya ini.
"Ino... Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Pria berkulit pucat itu tersenyum pada wanita cantik di depannya. "Sudah sekian lama baru kali ini kau menghubungiku lagi."
"Sai. Aku menghubungimu karena ada hal penting yang hanya bisa di selesaikan olehmu." Sai menaikan sebelah alisnya.
"Aku akan lebih merasa senang jika kau menghubungi di waktu senggang biasa tanpa ada urusan, masalah atau bisnis lainnya." Ino terdiam mencerna ucapan dari teman lamanya itu. "Maksudnya aku ingin bercengkrama tanpa membahas urusan apapun itu aku ingin kita bersantai dan jalan – jalan berdua." Seketika wajah Ino memerah.
"A-aa itu..." Ino menautkan jari telunjuknya membuat Sai tertawa kecil karena tingkah teman lamanya itu. Ia tahu jika Ino sudah lama menyukainya sejak ia masih kuliah dulu. Walau mereka berbeda jurusan mereka bisa di bilang sering bertemu dan memiliki hubungan yang sangat dekat.
Melihat sifat Ino yang keras kepala akan sangat tidak mungkin jika ia akan mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Tentu saja Sai juga menyukai Ino, walaupun ia baru menyadarinya sekarang. Setelah melihat perubahan Ino. Yang dulunya masih terlihat seperti anak – anak. Namun sekarang Ino sudah terlihat seperti wanita dewasa yang calon istri yang ideal.
"Aku akan membantumu soal itu." Wajah Ino berbinar seketika.
"B-benarkah? Bagus." Ino melompat girang dengan cepat ia menyambar ponselnya dan menghubungi Sasuke. "A jadi apa yang harus kita lakukan pertama?" Ino melirik Sai sambil mengetik pesan singkat untuk Sasuke.
"Aku ingin melakukan beberapa test dan konseling untuk gadis yang kau maksud itu. Dan Ino aku benar – bena turut berduka cita atas kematian Naruto. Dia anak yang manis dan baik." Ino tersenyum manis mendengar ucapan Sai.
"Ya."
"Lalu bagaimana dengan Sasuke? Dia masih bersama kalian?"
"Hm. Sasuke baru kembali dari London dua hari yang lalu. Aku dengar dia sedang dalam tahap menyelesaikan kuliahnya."
"Waah mereka benar – benar sudah dewasa." Ucapnya kagum. "Dan kita semakin tua."
"Hei." Ino menyikut Sai dengan sikutnya.
"Sudah seharusnya di usia ini kita sudah menikah dan memiliki anak Ino. Dan liat apa yang kita lakukan? Sibuk dengan karir masing – masing." Sai menghela nafas. Sebenarnya ini merupakan kode keras yang di lancarkannya untuk Ino.
"Kau benar. Kalau di pikir – pikir kenapa aku belum menikah ya?" Ino melirik Sai sekilas. "Mungkin aku masih menunggu orang bodoh itu untuk peka." Ino mengendikan bahunya.
Sai hanya tersenyum lembut.
Bersambung...Review?follow juga wattpad Yu di - @Lexyes
