5. Chanyeol yang dilanda gulana

.

.

.

.

Keringat terus keluar dari tubuhku karena tidak bisa menahan rasa gugup yang membuncah saat ini. Bisa kurasakan jantungku yang mau meledak keluar. Bagaimana tidak? Sekarang punggungku sedang berhadapan dengan punggung Baekhyun.

Karena dia tidak mau aku tidur di sofa dan tentu saja aku tidak mau dia tidur di sofa, maka kita pun mengambil jalan tengah. Yap. Tidur bersama di kasur.

Bisa kudengar nafas Baekhyun yang teratur menandakan bahwa ia memang sudah terlelap. Itu wajar sih. Dia pasti sangat kelelahan karena jadwalnya yang sangat padat. Ahh.. Baekhyunku.. Kalau kita sudah menikah nanti, akan ku pastikan bahwa tugasmu hanya diam di rumah dan mengurusku. Aku akan berjuang Baekhyun, untuk menjadi suami yang baik. Dan suami yang nikmat. Hehe.

Sambil menjilat bibir, kubalik tubuhku hingga menghadap punggung sempit milik Baekhyun. Leher putihnya terlihat bersinar walau dikeadaan remang-remang seperti ini. Kaos longgarnya sedikit membuat bahunya tersingkap dan menampilkan kulit yang kelihatan begitu putih dan halus.

Tanganku tidak tahan lagi. Kuulurkan tanganku ke belakang lehernya, dan mulai mengelusnya menggunakan punggung jariku. Tanganku yang satu lagi langsung bergerak membekap mulutku sendiri karena sekarang aku benar-benar ingin berteriak.

ASTAGAAAAAA

KENAPA LEHERNYA BEGITU HALUS? LEBIH HALUS DARI BULU PENIS SEHUN!

...

...

...

Hah? Mwo? Kalian menanyakan apakah Sehun punya bulu penis? aigoodasar manusia-manusia mesum.

Beberapa detik kemudian kumajukan tubuhku hingga dadaku menabrak dan menempel di punggung Baekhyun. Hidungku bergerak mengendus wangi rambut Baekhyun berkali-kali.

Kuhirup dalam-dalam wangi strawberry yang menyeruak sambil menautkan kaki dinginku ke kaki hangat milik Baekhyun. Bahkan telapak kakinya pun terasa sangat lembut di kakiku.

Ugh, aku ingin lebih menyentuhnya. Tangan kiriku yang sedari tadi mengelus leher belakang Baekhyun, mulai bergerak dan menelusup masuk ke dalam kaos longgarnya. Membuat bahu kiri Baekhyun tersingkap karena gerakan tanganku.

Tanganku kemudian bergerak ke arah bagian depan. Mencari sesuatu. Berwarna cokelat. Yang jumlahnya ada 2. Yang akan menonjol kalau disentuh. Yang kenyal. Yang bisa ditarik-tarik. Yang-

AH.

Dapat...

Kumainkan jariku disekitar puting kiri Baekhyun dengan gerakan memutar dan menoelnya beberapa kali. Masih kurang puas, kutarik putingnya kemudian kucubit dan kutekan dengan agak keras. Lalu kembali kutarik lagi dengan kencang dan melakukannya secara berulang-berulang.

Sesuatu yang berada dibawahku mulai tidak tahan untuk berdiri. Badanku mulai bergerak maju mundur berusaha menggesekkan bagian bawahku supaya bisa merasakan pantat kenyal milik Baekhyun di selangkanganku.

ahh.. sungguh.. Ini nikmat sekali...

Sampai tiba-tiba bisa kudengar nafas Baekhyun terasa berat. Badannya mulai bergerak gelisah.

"ngghh"

Oh tidak. Dia mulai bangun.

Dengan gerakan secepat boboboy, langsung kutarik tanganku dari dalam kaosnya, kemudian membelakangi Baekhyun lagi lalu pura-pura tidur dan mengeluarkan suara dengkuran. Semoga Baekhyun tidak sadar.

Kasur mulai bergoyang perlahan. Menandakan Baekhyun sedang merubah posisinya.

"Dia tidur.."

Baekhyun bergumam setelah beberapa menit terjadi keheningan.

Kenapa dia ngomong sendiri?!

"Bahunya lebar.." Gumamnya lagi pelan.

Baiklah Baekhyun. Aku mulai takut sekarang.

"Kau tau.. Aku baru pertama kali bertemu pria setampan kau Chanyeol."

...

...

...

"Selamat tidur."

.

.

.

Aku menatap selembar kertas yang menampilkan tentang naiknya tunggakan apartemen bulan depan. Kuhela napas lelah sambil memijit pelan pelipisku. Berusaha mencari cara. Pekerjaanku yang hanya sebagai penulis berita di suatu majalah tentu tidak bisa membuatku hidup berkecukupan dengan kondisiku saat ini. Sekarang universitasku memang sudah libur. Jadi aku otomatis harus bekerja untuk mengisi perutku.

Duit untuk fanmeeting kemarin saja aku harus rela menggunakan seluruh gajiku. Mana aku tau kalau hasilnya seperti ini. Tau begitu aku tidak usah ikut fanmeeting Baekhyun kemarin.

Hey! Sadar Chanyeol! Karena fanmeeting kemarin lah kau bisa memegang puting kenyal milik Baekhyun! Dan kau tidak bersyukur?

Ngomong-ngomong soal Baekhyun, saat aku bangun keesokan harinya, ia sudah pergi. Apartemennya ditinggalkan kosong. Apa dia benar-benar sepercaya itu padaku hingga membiarkan apartemennya terbuka begitu saja. Begitu melihat secarik kertas yang menunjukkan kata-kata maafnya karena ada jadwal mendadak, aku langsung pergi meninggalkan apartemennya sebelum membersihkan kamar dan kasurnya. Dia bahkan tidak meninggalkan nomor teleponnya untuk kuhubungi. Mungkin dia memang tidak ingin lagi bertemu denganku.

"Chanyeol! Buka pintunya!" Suara teriakan Sehun terdengar dari luar.

Belum sempat aku membalas, dia sudah membuka pintu tersebut tanpa seijinku. "Kau sudah lihat pengumuman yang ditempel di depan pintu tadi pagi?" Tanyanya.

Kuangkat kertas yang kugenggam daritadi kearahnya. "Kau lihat sendiri."

"Ajumma itu benar-benar pelit! Baru tahun lalu dia naikin harga sewa. Sekarang naikin lagi? Rasanya ingin kutusuk perut besarnya itu supaya kempes!" Marah Sehun sambil duduk disamping Chanyeol.

"Aku sepertinya tidak akan bisa membayar uang sewa." Seruku kemudian.

Sehun menaikkan kedua alisnya. "Kau mau jual diri?"

Dengan satu gerakan keras langsung kudepak kepala jeleknya itu. "Tak punya otak. Aku akan cari apartemen yang lebih kecil."

"Tidak!"

"Apa masalahmu bilang tidak, Oh Sehun?"

"Aku nanti sama siapa?! Gamau!"

Mendengar kata-kata Sehun aku ingin sekali membuang isi perutku ke wajahnya. "Kau menjijikan. Keputusanku sudah kotak Oh Sehun."

"Keputusan sudah bulat, sialan. Mana ada kotak!"

Kuberi senyum lebar kearah Sehun lalu bangkit berdiri ke kamarku. "Bantu aku rapikan baju dan barang-barangku. Aku bakal pindah besok pagi."

"Mwo?! Besok pagi? Kau gila ya? Memangnya kau tau mau kemana?"

"Aku mau ke menumpang di tempat Jongdae mungkin. Sekalian bantu-bantu."

Sehun langsung merenggut kesal sambil mengeluarkan pakaian-pakaianku dari lemari. "Kenapa harus ketempat Jongdae sih. Tinggal di apartemenku memangnya tidak bisa?"

"Tidak bisa Sehun. Hyungmu ini tidak mau merepotkanmu terus. Jadi aku harus pergi."

"Kau tidak mau.. Kembali saja ke ayahmu Chan?" Sahut Sehun tiba-tiba.

Gerakanku yang hendak merapikan buku-buku di meja langsung berhenti begitu mendengar kata-kata Sehun. Kuhela napas pelan sebelum kembali melanjutkan mengambil barang-barangku di meja. "Tidak semudah itu. Aku sudah janji tidak akan menggunakan sepeserpun uang miliknya."

"Tapi kau membutuhkannya sekarang Chanyeol. Hanya untuk tempat tinggal saja."

"Tidak perlu. Lagipula aku memang butuh apartemen yang lebih kecil. Apalagi aku hanya tinggal seorang diri."

Merasa tidak akan menang melawan debatanku, Sehun hanya mendengus kecil sebelum mulai membantuku merapikan kamar.

Kuambil beberapa pigura foto Baekhyun yang juga kutaruh dinding lalu mengelus wajahnya perlahan. Refleks tersenyum begitu melihat wajah Baekhyun yang sangat manis dengan senyum andalannya.

Baekhyun-ah.. Bantu aku ya..

.

.

.

.

KELUARGA BESAR KIM SEDANG HOLIDAY. A-YEE. KAMI TUTUP UNTUK SEMENTARA. SEMOGA KALIAN AKAN KEMBALI LAGI 2 MINGGU KEDEPAN. -Kim Jongdae dan Kim Minseok mengucapkan selamat liburan.

Mataku melebar ketika membaca kertas yang ditempel di depan pintu restoran ayam milik Jongdae. Baiklah. Ini tidak baik. Sungguh. SEKARANG AKU HARUS KEMANA?!

Drrttt Drrrtt

Merasakan getaran dari kantong celanaku, kutaruh pantatku di gundukan tangga yang ada didepan restoran Jongdae, lalu meraih handphoneku dan memeriksanya.

new message from Sehoon

From: Sehoon

Chanyeol-ah~ bAg4imaNa? 5u-ddah b3rt^^eMu JoOnG-dae~?

"Si bangsat ini."

KENAPA AKU PUNYA TEMAN SEMENJIJIKAN SEHUN?

To: Sehoon

Kenapa kau hidup.

Kututup handphoneku setelah membalas pesan tidak penting Sehun, lalu beranjak bangkit dan pergi sambil membawa koper besarku. Aku benar-benar harus mencari tempat untuk tidur sekarang. Betapa menyebalkannya.

Kakiku berhenti di depan bangunan besar yang terlihat cukup sepi. Tentu saja sepi. Siapa yang mau mengunjungi museum seni pagi-pagi begini.

Kudorong pintu masuk sesudah membeli selembar tiket lalu memberikannya ke penjaga museum. Mataku langsung menjelajah ke seluruh ruangan. Tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Letak-letak lukisan maupun ukiran patung tetap berada di tempatnya.

Tanpa sadar ujung bibirku terangkat. Sudah berapa lama aku tidak pergi kesini yaa.. Padahal dulu hampir setiap hari aku kesini.

Satu dua orang terlihat hilir mudik melihat berbagai lukisan yang dipajang disini. Pasti mereka sedang tidak ada tujuan dan tiba-tiba menemukan tempat ini. Aku yakin sekali.

Sampai saat dimana aku akhirnya menghentikan langkahku di depan lukisan besar yang terpajang agak jauh ke dalam museum. Senyumku kembali terukir. Ini salah satu lukisan favoritku.

Saat ingin menghampirinya lebih dekat, pandangan mataku jatuh ke punggung seorang laki-laki cukup pendek yang mengenakan topi dan tas ransel di punggungnya. Ia sedang menatap lukisan itu dengan menengadahkan kepalanya sedikit ke atas.

Ia sedang menatap lukisan itu dengan menengadahkan kepalanya sedikit ke atas

"Ini lukisan karya Affandi. Pelukis dari Indonesia."

Sahutku begitu sampai ke sampingnya. Ikut menatap lukisan tersebut.

Bisa kudengar nafas laki-laki disebelahku sedikit tercekat. Mungkin dia kaget. "Ah? Aku tau. Ada tulisannya. Tapi aku gak ngerti kenapa wajahnya terbakar dan banyak wajah-wajah lain di sekelilingnya? Ini.. Sedikit menyeramkan."

Aku tersenyum sedetik kemudian begitu mendengar penuturannya. "Kau tau judul lukisan ini dalam bahasa korea? Potret diri dan topeng-topeng kehidupan."

"Aku masih gak ngerti."

"Arti dari lukisan ini... cukup dalam menurutku. Kau tau kan Tuhan menciptakan manusia lebih mulia dan paling sempurna dari ciptaan-Nya yang lain?"

"Tentu saja."

"Tapi, dengan kesempurnaan itu manusia cenderung mempunyai banyak kelemahan karena hawa nafsu yang berasal dari bisikan-bisikan buruk. Wajah-wajah disekeliling itu, adalah wajah-wajah dari bisikan-bisikan buruk yang sering terdengar di pikiran kita. Dan wajah terbakar yang ada di manusia itu adalah cerminan bisikan-bisikan yang membuat kita menutup hati dan kebenaran."

"Wow.."

Tawa kecilku keluar "Aku tahu. Cukup dalam kan? Walaupun aku mengerti artinya, tetap saja aku masih berbuat dosa. Menyedihkan sekali."

"Maksudmu berbuat dosa?"

Karena tidak tahan, kali ini kutatap laki-laki disampingku. "Kemarin malam... Aku melecehkan seseorang. Bahkan aku sering membayangkan hal-hal yang buruk begitu melihat wajahnya. Seperti membayangkan bagaimana ketika dia mendesah di bawahku. Atau bagaimana ketika aku melihat ukurannya untuk pertama kali. Atau bagaimana ketika bibir pinknya itu kuhisap-"

"-Baiklah. Baiklah. Kau bisa hentikan itu. Aku mengerti." Kali ini laki-laki mungil itu tertawa. "Kau aneh juga ya. Kukira awalnya, kau orang yang serius. Tau-tau hanya laki laki mesum." Sahutnya lagi. Kutatap wajahnya dari samping yang membuatku sadar bahwa ia cukup manis dengan suara beratnya itu.

"Yah.. Aku berubah mesum hanya jika melihat wajahnya saja."

"Aneh."

"Aku tau." Balasku dan mengalihkan pandanganku dari wajahnya ke lukisan lagi.

Setelah itu keheningan menyelimuti kami. "Ngomong-ngomong..." Sahutnya lagi tiba-tiba membuatku kembali menatap ke arahnya.

"Namaku Kyungsoo. Senang bertemu denganmu."

.

.

.

ditunggu reviewnya if you like it :)