Futatabime no Chansu 4

"Ah sensei aku sudah lelah belajar." Lenguh Naruko di meja ruang tamu rumahnya. Sudah ia duga jika home shcooling itu membosankan. Naruko juga ingin bergaul dan berbincang seperti anak seusianya.

"Maa Naru-chan. Baiklah kita beristirahat dulu sejenak." Kurenai menghela nafas. Naruko tidaklah bodoh namun tetap saja ia mudah bosan ketika proses belajar mengajar. Dan Kurenai harus berpikir ekstra agar Naruko tidak bosan dengan pelajarannya. Pukul 10:00. Matahari di rasa sudah naik cukup tinggi. Mereka sudah belajar 3 jam lebih wajar saja jika Naruto jenuh.

"Ne Kurenai Sensei. Aku ingin bersekolah di sekolah." Naruko mengembungkan pipinya sembari menelungkupkan wajahnya di atas meja.

"Ahh~." Kurenai tidak bisa berkata – kata. Sebenarnya Kurenai juga bingung kenapa gadis sehat dan secerdas Naruko harus di home schooling. Ia sempat bertanya kepada Kushina dan Gaara. Namun Kurenai sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. "Aku rasa kau harus belajar menikmatinya Naru-chan." Kurenai tersenyum.

"Umn baiklah." Jawab Naruko dengan nada malas.

Selagi menunggu Naruko home schooling Ino, Sasuke, Sai, Sakura, Hinata dan Karin melakukan pertemuan. Mereka membahas mengenai problematika yang di alami Naruko menurut sepengetahuan mereka, sebelum Sai akan melakukan Konseling lebih lanjut pada Naruko.

"Jadi begitu. Naruko sering mengalami mimpi? Dan anehnya mimpi itu mengenai masa lalu Naruto dan keseharian Naruto semasa hidupnya?" Sai memegang dagunya memasang pose berfikir. "Itu memang cukup aneh." Sai menyerengit.

"Ya. Bahkan Naruko pernah bercerita padaku jika dia pernah bermimpi ketika Naruto mengalami kecelakaan. Ia tidak melihat Naruto mengalami kecelakaan itu melainkan dialah yang mengalaminya." Gaara menahan nafas ketika menceritakan pengalamannya itu. Ia juga dapat membayangkan betapa mengerikannya mimpi itu. "Seketika Naruko terbangun dengan tubuh yang basah terguyur keringat." Lanjutnya berusaha menenangkan diri. Gaara berharap jika tidak ada hal serius yang terjadi pada adik kesayangannya.

"Tidak hanya itu. Naruko bisa mengenali Aku dan Hinata. Ya kami memang mengenalnya berkat Sasuke tapi kami tidak pernah beratatap wajah secara langsung dengannya." Jelas Sakura yang mendapat anggukan dari Hinata.

"Souka." Sai menggangguk paham.

"Bagaimana Sai?" Ino menatap khawatir wajah Sai yang terlihat cemas.

"Aku pernah menangani kasus ini sebelumnya." Aku Sai.

"B-benarkah? Itu bagus?" pekik Ino girang. Sai menggeleng membuat kegirangan Ino hilang seketika.

"Ada apa?." Ino kembali menatap khawatir Sai.

"Aku tidak akan menceritakannya sebelum aku mengetahui langsung kondisi gadis bernama Naruko itu. Besok pertemukan aku denganya." Ino dan Gaara mengangguk menanggapi ucapan Sai.

Namun di sisi lain Hinata hanya terdiam dengan mata melotot dan hal itu di sadari oleh Sasuke. "Hinata." Panggilnya membuat Hinata terlonjak kaget.

"A-ah? I-iya?." Jawabnya gelagapan. Sasuke menaikan sebelah alisnya seolah bertanya ada apa padanya. Dengan cepat Hinata menggeleng dan melontarkan senyuman canggung di bibirnya. Tentu saja itu membuat Sasuke merasa heran.

Tok tok tok

Gaara mengetuk pelan kamar sang adik. "Masuk." Pekik seorang gadis dari dalam sana. "Gaara-nii? Ada apa malam – malam begini?"

"Apa kau sedang sibuk?" tanyanya berharap jika ia tidak sedang mengganggu Naruto yang sedang belajar.

"Ah tidak. Aku baru saja selesai belajar. Ada apa?" tanyanya lagi.

"Um besok hari sabtu dan home Schooling libur bukan?"

"Hm ya?." Naruko memiringkan kepalanya.

"Apa besok kau mau ikut dengan ku ke tempat konseling?." Gaara sedikit menahan nafas. Berharap jika Naruko tidak akan marah apa lagi mengira jika dirinya mengganggap adiknya itu stress atau gila.

"Oh. Tentu saja." Jawab Naruko tanpa penolakan. Gaara terkejut di buatnya. Bahkan adiknya itu tidak menanyakan kenapa. "Gaara-nii kenapa? Kau terlihat terkejut?." Lagi – lagi Naruko memiringkan kepalanya.

"Tentu saja. Kau bahkan tidak bertanya kenapa? Kenapa aku mengajakmu untuk ke pskiater."

"Aku rasa itu tidak perlu. Karena aku juga tahu kenapa Gaara dan yang lainnya melakukan ini. Aku bukan anak kecil dan aku tidak lagi buta. Jadi aku bisa melihat gelagat kalian dengan jelas." Tutur Naruko yang membuat Gaara terdiam.

"Ah."

"Lagi pula aku juga ingin tahu apa maksud dari mimpi – mimpi itu." Naruko tersenyum pada Gaara.

"Ah. Sou, baiklah kalau begitu." Gaara mengangguk paham. Tentu saja itulah Naruko yang ia kenal. Naruko memang sangat dewasa dan selalu berfikir positive. "Oh ya. Kau akan melakukan konseling bukan di tempat konseling biasa." Gaara menaikan jari telunjuknya di depan Naruko.

"Eh? Di mana? Memangnya efektif?."

"Entahlah. Tapi yang jelas psikolog itu bilang ia ingin menciptakan suasana yang nyaman ketika melakukan konseling."

"Dimana?"

"Kau akan tahu besok." Gaara menepuk sayang pucuk kepala Naruko.

"Kay."

Hinata duduk gelisah di ranjang kamar hotelnya. Ia sudah menduga jika firasatnya benar. Namun melihat kondisi Naruko dan sekelilingnya Hinata merasa apa boleh jika dia berharap seperti ini?

Hinata menghela nafas dalam. Baru – baru ini Hinata menangani pasien yang memiliki penyakit yang serupa dengannya dan harus melakukan transplantasi jantung. Setelah transplantasi selesai keluarga pasien mengabarkan jika pasien sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun terjadi perubahan karakter pada sang pasien. Di duga karakter pasien berubah menyerupai si pendonor kala masih hidup.

Hinata bertanya – tanya. Apakah kasus ini seperti yang di alami Naruko? Tapi Hinata lah yang menerima jantung dari Naruto. Kenapa ia tidak mengalami hal tersebut. Mimpi yang di ceritakan Gaara atau perubahan karakter seperti yang pasiennya alami. Hinata menggigit kukunya menganalisa.

Ting tong

Bell berbunyi. Membuyarkan semua lamunannya. Hinata berjalan mendekat menuju pintu dan memeriksa siapa gerangan di luar sana. "Sasuke?" ucapnya lirih. Bergegas ia membukakan pintu untuk kekasihnya itu. "S-sasuke-kun ada apa?."

"Kau bertingkah aneh tadi. Dan aku ingin mengkhawatirkan mu." Jawabnya sambil melangkahkan kaki masuk.

Sasuke mengkhawatirkannya? Hinata sangat senang mendengar itu. Belakangan ini Sasuke memang bersikap sangat dingin terhadapnya. Ya setelah kematian Naruto semuanya telah berubah termasuk dirinya. Dan perubahan sikap Sasuke terhadapnya? Hinata sudah memaklumi. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya seperti dulu. "Aku baik – baik saja, Sasuke-kun." Sautnya meyakinkan Sasuke.

"Hn."

"Hanya saja..."

"Hn?"

Hinata tertunduk ia belum yakin untuk menceritakan hal ini pada Sasuke. Apa lagi setelah tahu jika Sasuke cukup dekat dengan gadis bernama Naruko itu.

"Kau menyembunyikan sesuatu." Sasuke duduk di sebuah sofa dan Hinata masih berdiri dan tertunduk di sampingnya.

"Sasuke. Apa kau menginginkan Naruto untuk kembali hidup?." Mata Sasuke membulat sempurna seketika.

"Apa maksud mu?." Sasuke menatap Hinata dengan mata melotot. Hinata tersentak mendengar pertanyaan Sasuke.

"J-jawab aku dengan jujur Sasuke-kun." Pekik Hinata.

Sasuke mulai gelisah namun ia dengan mudah menutupi gelagatnya itu dengan wajah stoic yang ia miliki. Apakah Hinata sedang mengujinya? Apakah Hinata mulai mempertanyakan perasaannya padanya? Pertanyaan pertanyaan mulai berkecamuk di benak Sasuke. Ia takut jika ia salah bicara.

"Aku sangat berharap jika Naruto kembali hidup."

Hening...

Lama Sasuke terdiam. "Aku ingin menebus dosa ku padanya. Kau tahu hidup dalam rasa bersalah ini sangat menyiksa ku. Naruto menyuruhku agar hidup dengan baik tapi-.." Hinata memutus ucapanyannya. Air mata mengalir deras.

Sasuke tidak membantah jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan Naruto untuk kembali hidup. Namun nyatanya manusia yang sudah mati tidak akan bisa kembali hidup. "Sudahlah Hinata." Sasuke menghela nafasnya.

"Sasuke-kun. Mungkin kau akan memanggap ku konyol. Tapi aku memiliki firasat tentang ini."

"Apa maksudmu?" Sasuke mendelik.

"Aku akan menceritakannya pada mu."

Pagi yang sangat cerah. Angin menyapu lembut surai kemerahan milik Gaara. Gaara sama sekali belum pernah datang kemari sebelumnya. Kubah kaca yang terletak jauh di belakang rumah kediaman Uzumaki.

"Waah tempat ini." Yang sedari tadi hanya mengkuti Gaara mempercepat langkahnya.

"Eh?." Gaara terkejut ketika Naruko berjalan mendahuluinya dan memasuki kubah kaca tersebut.

"Waaah cantiknya~." Pekik Naruko terkagum – kagum.

"Kami sudah menunggu." Ucap seorang pria berpakaian kasual duduk di sebuah kursi bundar di samping sebuah kasur kecil. Di sana juga terdapat Sasuke, Hinata, Sakura, Karin dan Ino.

"Jadi konselingnya di sini?." Naruko melirik Gaara.

"Ya." Jawabnya.

"Naruko. Pria ini bernama Sai. Dia adalah seorang Psikolog yang akan melakukan konseling padamu." Jelas Ino pada Naruko.

"Hm." Angguk Naruko paham. Naruko berjalan mendekati Sai dan mulai berbaring di ranjang kecik yang sudah di siapkan. Sai melirik ke setiap orang sebagai isyarat agar meninggalkan mereka berdua.

"Ternyata wajah kalian benar – benar mirip ya." Sai basa – basi pada Naruko.

"Hm. Semuanya mengatakan hal yang sama." Naruko tersenyum. Ia tidak merasa tersinggung sama sekali. Naruko malah merasa senang ketika di samakan dengan Naruko.

"Hari ini aku hanya akan menanyakan beberapa hal padamu sebelum lanjut ke tahap berikutnya." Naruko mengangguk paham dengan ucapan Sai.

"Jadi aku mohon agar kau menjawab setiap pertanyaan ku."

"Baiklah."

.

.

.

Mereka yang berada di luar hanya bisa menatap pantulan cerminan dari Sai dan Naruko. Tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di sana. "Kira – kira apa yang mereka lakukan di dalam sana." Karin menebak – nebak di dalam pikirannya.

"Ini adalah tahap awal. Sai hanya melemparkan beberapa pertanyaan sebelum ia akan menetukan tindakan selanjutnya." Jelas Ino.

"Menjadi Psikolog sepertinya menarik juga." Ujar Karin.

"Tapi sayangnya kau sudah memutuskan menjadi Desainer, Karin." Saut Sakura sembari menyikut temannya itu.

"Ya ya walau menarik aku pikir menjadi Psikolog itu merepotkan jadi aku akan tetap menjadi desainer." Celotehnya.

Sasuke dan Hinata hanya terdiam dan tidak bicara sepatah kata pun. Yaa memang sudah biasa bagi Sasuke. Akan sangat aneh jika Sasuke banyak bicara. Tapi sungguh kali ini hal yang di ceritakan Hinata benar – benar menganggunya.

Tapi kenapa hal itu tidak terjadi pada Hinata. Kenapa hanya terjadi pada Naruko?

"Hm kira – kira langkah apa yang di lakukan Sai-san setelah ini?." Karin cukup banyak bertanya. Bisa di bilang ia cukup tertarik dengan hal yang berbau psikologi. Terbukti dari koleksi novel – novel yang bernuansa psikologi yang ia miliki.

"Mungkin hipnosis." Ino mengangkat bahunya. "Masalah yang Naruko hadapi adalah mimpinya. Mungkin saja itu bersumber dari alam bawah sadar miliknya."

"Nee Ino-nee. Kau tahu aku pernah membaca novel yang kasusnya sama seperti yang Naruko alami." Karin menatap Ino lekat. "Karakter utama itu adalah seorang gadis yang meniggal karena kecelakaan bermobil. Lalu mata kanannya di donorkan pada pria yang mengalami kecelakaan dengannya. Ino-nee tahu apa yang terjadi pada gadis dan pria itu?."

"Hm?" Ino memiringkan kepalanya.

"Gadis itu merasuki alam bawah sadar pria itu untuk menguasai tubuhnya." Mata Sasuke dan Hinata membulat sempurna mendengar ucapan Karin.

"I-itu hanya cerita novel, karin." Tukas Ino.

"Benar." Karin mengangkat bahunya. "Ya aku hanya bilang jika kasusnya mirip. Benar kan Sakura?" Karin melirik Sakura.

"Hm. Aku juga pernah membacanya. Sudah lama sekali. Sampai – sampai aku lupa judulnya he he." Sakura menggaruk kepalanya sambil terkekeh.

"Novel yang mengerikan." Tukas Ino bergidik. "Karakter utama yang kejam. Kau tahu walau pun itu terjadi Naruto tidak akan berbuat seperti itu." Ino mengibas – ngibaskan tangannya.

'Benar juga.' Ujar Hinata dalam hati. Tersirat rasa kecewa di wajah Hinata. Ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya.

"Tentu saja." Jawab Karin. "Naruto itu relalu baik." Sakura menyikut Karin karena ucapannya. "Aku mengatakan yang sebenarnya Sakura."

Tak lama kemudian Sai dan Naruko pun keluar dari kubah kaca. "Sudah selesai?." Tanya Ino cepat. Sai dan Naruko pun mengangguk.

"Bunga – bunganya."

"Hm?." Ino menaikan alis mendengar ucapan Naruko.

"Siapa yang merawat bunga – bunganya?."

"Dulu Naruto lah yang rajin merawat bunga di taman kaca ini. Tapi sekarang aku dan Bibi ku Kushina yang merawatnya." Jelas Ino sembari tersenyum.

"Hmm Ino-nee. Boleh aku ikut merawat mereka?" Pinta Naruto. Ino hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi permintaan Naruko.

"Bagaimana?" Ino menatap Sai penuh arti.

"Seperti yang aku bilang padamu sebelumnya. Sepertinya aku akan melakukan hipnosis." Sai menjawab pertanyaan Ino dengan wajah canggung.

"Apa yang kalian bahas?" tanya Ino penasaran.

"Nanti akan aku ceritakan. Sekarang aku harus menganalisis jawaban dari Naruko yang sudah aku dapat." Ino mengangguk paham.

"Nanti aku akan menceritakannya padamu. Hanya kau dan aku." Sai menepuk pundak Ino. Sai merasa jika di bicarakan berdua saja ada baiknya. Setelah itu Ino bisa menceritakan pada yang lainnya.

"Baiklah aku mengerti."

"Aku pulang dulu. Jaa Minna."

"Jaa Sai-san. Arigato na untuk hari ini." Naruko, Ino, Hinata, Karin dan Gaara melambaikan tangan pada Sai.

"Bagaimana rasanya konseling?." Gaara menatap adiknya itu.

"Aku cukup senang berbicara dengan Sai-san. Dan rasanya seperti tidak melakukan konseling. Itu menyenangkan." Jawab Naruko girang.

"Syukurlah." Gaara tersenyum mendengar jawaban adiknya.

"Hm kata Sai-san besok kami akan melakukan konseling di taman kaca ini lagi. Yosh rasanya aku sangat senang. Akhirnya aku bisa mendapatkan jawaban yang aku inginkan." Ujar Naruko penuh semangat.

"Hm persiapkan dirimu untuk besok. Sekarang beristirahatlah." Ino Menepuk kedua pundak Naruko dan mendorongnya menuju rumah. "Kalian juga." Ucapnya pada Sasuke, Hinata, Sakura dan Karin yang masih berdiri di belakangnya.

"Hai – hai." Saut Sakura yang mulai berjalan mengikuti Ino dan Naruko. Kemudain di susul oleh Gaara dan Karin. Yang tersisa hanya Sasuke dan Hinata.

"Novel itu?." Sasuke melirik Hinata dengan tatapan menyelidik.

"Benar, aku pernah membacanya. Itu juga yang aku ceritakan pada mu dan mengenai pasien ku itu..." Hinata menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu lagi kabarnya."

"Kau yakin hanya karena novel itu?." Sasuke menaikan sebelah alisnya.

"Tidak. Aku hanya berharap Sasuke-kun." Hinata menggeleng kecil. "Dan harapan ku baru saja di patahkan."

Hening...

"Apa yang kau pikirkan itu benar, Hinata. Aku menginginkan Sahabatku kembali. Tapi, orang mati tidak akan embali hidup." Hinata mengangguk paham dengan ucapan Sasuke. Mungkin Hinata gila karena mengharapkan keajaiban yang seluar biasa itu.

Tapi tetap saja masih ada setitik keyakinan di dalam lubuh hati Hinata. Jantung Naruto di dalam dirinya pun tak berhenti berdetak kencang. Tapi ia tidak akan berharap banyak dengan apa yang akan terjadi nanti. Naruko gadis yang baik. Tentunya ia bisa mengobati luka orang terdekat Naruto. Terutama Kushina dan Sasuke.

Ponsel Sasuke tak berhenti berdering sedari tadi. Namun sengaja tidak Hinata hiraukan namun lama kelamaan ia juga merasa risih. "Sasuke-kun. Lebih baik kau angkat saja." Ujarnya. Sasuke hanya menghela nafas pelan dan akhirnya memutuskan untuk mengangkat telfonnya.

"Halo Aniki."

/Sasuke kau pergi kemana?/ terdengar jelas suara resah sosok di telfon itu oleh Hinata.

"Konoha." Jawab Sasuke singkat.

/APA? BAGAIMANA BISA? BUKAN KAH AKU SUDAH MELARANGMU. KAU AKAN MEREPOTKAN KUSHINA./ Suara di telfon itu berubah. Kali ini lebih berat.

Sasuke hanya memutar bola matanya malas. "Tidak pelu khawatir. Kaa-chan sangat senang atas keberadaan ku di sini. Dan aku juga merasa senang berada di sini dari pada di sana bersama kalian." Sasuke langsung mematikan telefonya.

"Sasuke-kun? Itu orang tua mu? Tidak kah itu terlalu kasar?." Hinata menatap cemas Sasuke.

"Tidak perlu khawatir. Sejak dulu kami memang seperti ini." Sasuke melangkah pergi meninggalkan Hinata.

Hinata hanya menatap kasihan punggung Sasuke yang mulai menjauh. Sepertinya ia memang tidak mengenal Sasuke sama sekali. Padahal mereka sudah berhubungan bertahun – tahun lebih. Seperti apa keluarganya, bagaimana keluarganya, masa kecilnya Hinata sama sekali tidak tahu.

Bersambung...

Review? Follow juga Wattpad aku Lexy_EL

Thanks To: Rini ~ 3