6. Pembantu Elit

.

.

.

.

"Iya aku memang sedang mencari pekerjaan tambahan." Ujarku siang itu yang sedang duduk berdua Kyungsoo masih di depan lukisan karya Affandi itu. Disini memang diberi beberapa kursi untuk duduk. Jadi aku dan Kyungsoo memutuskan untuk mengobrol lebih jauh lagi.

Ahh.. Kyungsoo benar-benar anak yang manis, perlu kau ketahui.

"jjinja? Kupikir kau anak orang kaya.."

Kyungsoo menaikkan kedua alisnya sedikit terkejut mendengar pernyataanku. Aku tersenyum membalas tatapannya. "Aku tau wajah setampan ini tidak pantas jadi orang miskin. Yakan?"

Suara kekehan Kyungsoo terdengar. "Menjijikan." Gumamnya.

"Uhm.. Kau mau bekerja denganku?" Sahutnya lagi.

Mataku langsung berbinar lebar. Kulipat kedua tanganku lalu menatapnya dengan tatapan memohon. "Bisakah aku bekerja denganmu? Kumohon Kyung.."

"Tapi kau mungkin tidak akan suka. Apalagi jurusanmu jurusan musik.."

Kugelengkan kepalaku dengan cepat. "Tenang saja. Asal dapat tempat untuk tidur aku rela melakukan apapun!"

"Asal tidak melayani tante-tante kurang kerjaan! Kau bukan gigolo kan Kyung?" Sambungku cepat.

Mata bulat Kyungsoo yang sudah bulat semakin membulat. "Yak! Memangnya aku terlihat seperti itu!"

Aku hanya tertawa kecil membalas perkataannya. "Yasudah ayo ikut aku. Kamu bakal bantu-bantu jadi pembersih rumah. Nanti kamu bisa tidur di rumahku. Aku punya kamar kosong kok."

"Pem- Pembersih rumah? Mak- Maksudmu pembantu?"

Kyungsoo mengangguk lalu bangkit berdiri dan menatapku bingung. "Iya. Pembantu. Kau keberatan?"

"Ah? Tidak! Ten- Tenang saja!" Sahutku ikut berdiri dan mengikuti langkahnya yang mulai beranjak keluar dari museum sambil menarik koper besarku.

Aku benar-benar tidak mengerti apa aku bisa disebut orang yang beruntung apa tidak. Tapi.. duh. Bersih-bersih rumah? Mencuci piring saja masih sering banyak sisa makanan yang menempel.

GIMANA BERSIH-BERSIH SATU RUMAH?!

.

.

.

"Sebelumnya perlu kuberitahu kalau kita merupakan pembantu elit!" Ucap Kyungsoo menggebu-gebu. Tangannya terkepal keatas dengan mata membelalak lebar semangat.

Aku terdiam kebingungan. Memangnya ada pembantu elit?

"Aku tidak mengerti, Kyung."

"Maksudnya, kau harus bersih-bersih menggunakan hatimu, seluruh kemampuanmu, seluruh tenagamu, dan seluruh pengetahuanmu. Jadi kita ini disebut pembantu elit. Karena pertama, kita tidak datang ke rumah pelanggan saat mereka masih ada dirumah."

"Kalau memang mereka seharian dirumah gimana?"

"Buat dirimu seinvisible mungkin!"

"Kalau dikira maling bagaimana?"

"Makanya itu kubilang, buat dirimu invisible. Jadinya kan tidak akan ketahuan!"

Aku manggut-manggut paham. Kyungsoo kembali melanjutkan. "Yang kedua, kita harus pergi sebelum pelanggan pulang kerumahnya."

"Bisa dipahami."

"Yang ketiga, semua kondisi rumah harus sebersih mungkin. Dan saat kau selesai membersihkan rumah itu, taruh kartu bertuliskan logo perusahan pembantu kita di depan pintu. Jadi dia bisa melihat kalau rumah bersih karena kita."

Benar-benar aneh.

"Bisa dimengerti."

"Dan yang terakhir kita tidak boleh memeriksa barang pribadi pelanggan. Apalagi pergi ke lemari bajunya!"

"Kalau lemarinya berantakan gimana?"

"Ya kau bisa rapikan itu. Tapi jangan sampai kau mengambil atau menyelundupkannya ke tasmu. Camkan hal itu baik-baik."

"Memangnya baju-baju mereka sebagus apasih. Aku juga masih punya baju."

Kyungsoo terdiam sejenak. Ia menatapku datar. "Aku lupa memberitahumu satu hal."

Kutatap wajahnya penasaran. "Apa?"

"Kita hanya membersihkan rumah selebritis."

Dan mataku langsung melotot lebar sangat terkejut.

.

.

.

Seminggu penuh aku belajar cara membersihkan rumah dengan Kyungsoo. Seluruh tubuhku pegal bukan main. Pantas saja Kyungsoo punya tubuh sangat mungil. Dia pasti tidak bisa bertumbuh walau makan banyak karena pekerjaan ini. Ternyata perusahaan pembantu selebritis milik Kyungsoo merupakan turun temurun dari Kakeknya dulu. Karena kakeknya cukup dekat dengan para selebritis Korea. Sekarang, sejak ayahnya meninggal, otomatis Kyungsoo lah yang menggantikan Ayahnya.

Oh dan perusahan Kyungsoo sudah cukup terkenal di kalangan selebritis. Jadi bisa diyakini, bahwa pekerja dan karyawannya sangat terpecaya dan handal. Entah apa yang membuat Kyungsoo sangat mempercayaiku bekerja ditempatnya. Bisa saja aku mencuri barang saat sedang membersihkan rumah kan? Tapi dia bilang, mukaku seperti orang idiot. Jadi hal itu tidak mungkin kulakukan.

Apa benar? Wajahku seperti orang idiot?

Ah masa sih.

Baekhyun saja bilang aku tampan.

Hehe.

Ngomong-ngomong soal Baekhyun, aku sempat bertanya pada Kyungsoo. Apa dia pernah membersihkan rumah Baekhyun. Dia menjawab sudah membersihkannya selama 2 kali. Tapi Baekhyun sangat jarang tinggal di apartemennya. Jadi dia tidak pernah membersihkannya lagi. Dan Baekhyun sangat baik. Dia memberi Kyungsoo uang tip yang cukup besar dengan menaruhnya di meja sebelum dia pergi.

Lihatlah hati malaikatku itu. Benar-benar luar biasa.

Kyungsoo akhirnya mengetahui obsesi besarku terhadap Baekhyun. Dan dia akan membantuku supaya aku bisa membersihkan rumahnya kalau-kalau Baekhyun memang sedang menyewa jasanya.

Hehe. Membayangkannya saja aku sudah tidak sabar rasanya. Kembali ke apartemen Baekhyun. Menghirup wanginya lagi. Uuhhh sungguh tak sabar aku.

"CHANYEOL JANGAN MENGEPEL SAMBIL MAJU! NGEPEL ITU JALANNYA HARUS MUNDUR BODOH!"

Teriakan Kyungsoo membuyarkan lamunanku lalu segera menatap ke arah lantai. Ah sial. Lantai yang baru kupel makin kotor karena kuinjak saat sedang basah.

"Maaf Kyung. Aku lupa." Sahutku lalu kembali mengepel dari ujung. Kali ini dengan gerakan mundur.

Ah! Job pertamaku yang diberikan Kyungsoo cukup sulit. Yaitu rumah G-Dragon. ULALA..

Dan pekerjaanku tidak pernah lebih seru lagi sebelumnya.

Oh ada yang paling seru.

Menjadi masa depan Baekhyun. Hehe.

Itu perkerjaan yang sangat sulit.

"Chanyeol. Kau dapat kabar baik." Kyungsoo tiba-tiba berteriak dari dapur. Kuhentikan langkah mengepelku lalu membalas sambil sedikit berteriak. "Kabar baik apa?!"

Kyungsoo memunculkan kepalanya dari arah dapur sambil tersenyum lebar. "Baekhyun mau rumahnya dibersihkan sabtu besok."

Senyumku langsung mengembang sangat lebar. Jantungku rasanya ingin copot saat mendengar kabar itu. "KYUNGSOO AKU CINTA KAU KAU HARUS TAU ITU!"

"Jangan macam-macam! Mengerti?!" Ancam Kyungsoo.

Aku hanya memberikan cengiran lebar lalu mulai kembali mengepel lantai sambil memikirkan bagaimana caranya supaya Baekhyun bisa bertemu denganku lagi.

Apa aku harus menunggu dikasurnya?

.

.

.

Kuketuk pintu apartemen Baekhyun beberapa kali. Tidak ada jawaban dari dalam. Sepertinya istriku sudah pergi sejak tadi. Dengan perlahan, kubuka pintu apartemennya dengan kunci yang sudah dititipkan Baekhyun ke Kyungsoo, lalu masuk ke dalam tidak meninggalkan senyuman di wajahku.

Suasana apartemen yang mewah namun sederhana kembali terlihat. Ini luar biasa.

Sampai tiba-tiba handphoneku bergetar perlahan membuatku menghela napas. Sudah pasti itu dari Sehun. Siapa lagi yang selalu menghubungiku siang bolong begini. Apa dia tak ada kerjaan?

Begitu kuangkat panggilan darinya, suara berat Sehun langsung terdengar. "Hyuuungg..."

"Mwooo?" Balasku singkat sembari melepaskan sepatu dan memakai sandal rumah Baekhyun.

"Kau dimanaa? Kenapa tidak memberiku kabar? Apartemenku jadi sepi. Dan sekarang apartemenmu sudah diisi namja aneh bermata rusa. Bayangkan saja Hyung! Baru bertemu denganku pertama kali kemarin, dia sudah memintaku untuk memasukinya! Yang benar saja!" Cerocos Sehun tidak berhenti. Chanyeol me-loudspeaker panggilan Sehun, menaruhnya di meja, lalu mulai membersihkan sampah-sampah makanan yang berserakan di ruang tamu Baekhyun.

"Memasuki bagaimana maksudnya?"

"Ituloh Hyung.. masa tidak mengerti sih. Memasuki benda panjang milikmu ke lubangnya yang ketat."

Tawa kecilku langsung keluar mendengar kata-kata Sehun. "Kau luar biasa vulgar." Balasku sarkasme.

"Inilah hidup Hyung. Kadang kau diatas. Kadang kau dibawah."

"Apa hubungannya, sialan."

"Yaahh walaupun lebih enak diatas. Kau bisa menusuk dengan nikmat."

"Kau mulai keluar topik, Sehun."

Aku sungguh tidak mengerti ada orang se-absurd Oh Sehun.

Kalian bilang aku lebih absurd?

Dasar tidak punya otak!

Saat sudah selesai membersihkan sampah-sampah di ruang tamu, kakiku mulai melangkah ke tempat kenikmatan. Kamar tidur Baekhyun. Tentu saja masih membawa handphone dengan suara Sehun yang terus berbicara tanpa henti.

Senyumku merekah melihat suasana kamar Baekhyun yang kemarin ku tiduri. Maksudnya aku tidur di kamarnya. Bukannya aku meniduri kamarnya.

Kamar Baekhyun terlihat sedikit berantakan. Kembali menaruh handphoneku di meja kecil sebelah kasur Baekhyun, aku mulai merapikan barang-barang Baekhyun yang berantakan.

Sampai tiba-tiba mataku membulat besar begitu melihat sesuatu di bawah kasurnya tergeletak. Mulutku terbuka lebar.

APA-APAAN INI. KENAPA ADA KONDOM BEKAS DI KAMAR BAEKHYUN!

Ja- Jangan bilang... Dia... Bermain api dibelakangku..

Entah apa yang terjadi hatiku rasanya begitu sakit melihat kondom bekas yang masih berisi sperma tergeletak begitu saja di kamar Baekhyun. Rasanya aku ingin menangis sekarang juga.

"Hyung! Hyung! Kau disana? Kenapa tidak membalas kata-kataku aish!" Suara Sehun membuyarkan lamunanku.

"Sehun-ah.." Balasku kemudian lalu dengan perlahan mengambil kondom itu dengan jari-jariku. Sedikit menjauhkannya dari tubuhku.

"Ne? Kenapa Hyung?"

"Apa yang akan kau lakukan kalau-kalau kau menemukan sebuah kondom berisi sperma di rumah pacarmu?"

Sehun terdiam.

"Uhhmm.. Kalau itu kondomku sih-"

"Tentu saja itu bukan kondom milikmu bodoh!"

"Ahhh.. Kalau seperti itu sudah pasti dia selingkuh Hyung! Aku sih akan melemparkan kondom itu ke wajahnya. Kalau tidak kusumpel saja mulutnya dengan kondom itu. Dasar tidak tahu diri!"

Kuhela napas panjang mendengar kata-katanya. Baekhyun ternyata memang selingkuh di belakangku.

MENGAPA KAU LAKUKAN ITU BAEKHYUNKU KASIHKUCINTAKU.. MENGAPA?!

Masih memegang kondom itu dengan ujung jariku, kuputar-putar sedikit memeriksa spermanya. Isinya lumayan banyak. Pasti laki-laki itu merasakan kenikmatan yang tiada tara. Sialan. SIALAN.

Baru hendak berjalan ke plastik sampah yang kupersiapkan di pinggir meja, tiba-tiba pintu kamar Baekhyun terbuka membuatku menghentikan langkahku dan menatap pintu itu.

Mataku membelalak lebar begitu melihat sosok Byun Baekhyun dengan surai pink lembutnya masuk ke kamar sambil memainkan handphonenya. Begitu mendongakkan kepalanya, kali ini giliran mata Baekhyun yang melotot lebar melihatku berdiri tidak nyaman. Lalu pandangannya beralih ke kondom yang sedang kupegang. Lalu ke wajahku lagi. Ke kondom lagi. Ke wajahku. Ke kondom. Ke wajah. Ke kondom. Ke penisku...

...

...

...

HAHAHA maksudnya ke wajahku.

"CHANYEOL-SSI?!"

Kuteguk ludah gugup begitu mendengar teriakannya..

"SAYANG?!"

"Sayang?"

"EH?! BAEKHYUN-SSI!"

Dan karena terkejut, kondom yang kupegang jatuh begitu saja ke lantai membuat isinya berceceran kemana-mana. Membuatku kali ini menatap horror ke lantai..

EWWWWW TIDAAAAKK

.

.

.

"Jadi kau bekerja dengan Kyungsoo?"

Aku duduk di sofa dengan menutup kedua kakiku rapat karena gugup. Kuanggukkan kepalaku kecil. "Iya. Aku bekerja dengannya. Mumpung kuliahku sedang libur. Jadi.."

Baekhyun terkekeh kecil disampingku. "Aku mengerti. Maaf aku harusnya tidak pulang ke rumah saat jam segini. Kau jadi melanggar aturan ya? Tapi tadi ada benda yang tertinggal jadi aku harus pulang."

Kenapa dia tidak menjelaskan saja tentang kondom yang sudah kubersihkan itu.

"Tidak apa Baekhyun-ssi. Nanti akan kujelaskan ke Kyungsoo." Balasku memberi senyum kecil.

Baekhyun mengangguk. "Ah. Kau mau minum apa? Kenapa kemarin kau malah pulang? Padahal aku masih ingin mengobrol banyak denganmu."

Mataku yang sudah bulat semakin membulat mendengar kata-katanya. "Be- benarkah?"

Baekhyun tersenyum sangat manis. Membuat kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Tentu saja." Kali ini ujung bibirnya turun ke bawah. "Tapi kau malah pulang. Padahal aku hanya pergi beberapa menit ke supermarket."

Keningku mengkerut. "Loh? Bukannya kau ada jadwal mendadak?"

Baekhyun terdiam sesaat. "Iya. Awalnya memang seperti itu. Tapi saat dijalan manajerku memundurkan jadwalnya. Jadi aku ke supermarket sebentar membeli bahan-bahan makanan lalu buru-buru pulang. Tapi kau sudah pergi." Sahutnya dengan nada sedih.

Aduh.. Menggemaskan sekali.

"Maaf. Aku tidak tahu."

"Tidak apa."

Dan percakapan berhenti. Suasana menjadi hening. Pandanganku terus memutar ke segala arah. Berusaha menghilangkan kegugupanku. Sampai tiba-tiba kurasakan wangi tubuh Baekhyun mendekat kearahku. Langsung kulirik Baekhyun yang sekarang mendekatkan duduknya hingga lututnya dan bahunya menempel dengan milikku.

"Chanyeol.." Ia berbisik pelan.

Membuatku tanpa sadar meremas ujung sofa dengan gugup. "Ke- ke- kenapa Baekhyun-ssi?"

Tangan Baekhyun tiba-tiba menjalar ke pahaku lalu mulai merabanya perlahan. Membuat sesuatu dalam celanaku berkedut gemas.

"Kau.. punya penggaris?" Bisiknya lagi membawa tangannya naik turun di pahaku.

Masih kutatap televisi di hadapanku tidak berani untuk menolehkan wajahku ke samping dan berdekatan dengan wajah Baekhyun.

"Bu-Buat apa?"

Bisa kudengar tawa kecil Baekhyun keluar. Lalu tangannya kali ini meremas pahaku beberapa kali. Dan ia berbisik pelan meniupkan sedikit udara ke telingaku.

"Untuk mengukur penisku..."

DEMI KOLOR KYUNGSOO...

.

.

.

.

.

ditunggu komentarnya if you like it :)