Futatabime no Chansu 5

"Aku takut." Ujar Gaara yang mendapat respon terkejut dari Ino.

"Kenapa Gaara-kun?."

"Aku takut jika Naruko akan menghilang. Ahaha aku tahu ini terdengar aneh tapi aku merasa jika semua ini janggal. Rasanya aku tidak ingin melanjutkan pemeriksaan ini lagi." Gaara menghela nafas berat.

"Narukolah yang menginginkan hal ini sekarang." Ino menepuk pundak Gaara. "Dan kita tidak bisa apa – apa saat ini."

"Hm." Gaara membenarkan.

"Ini sudah malam. Bagaimana jika Gaara-kun menginap di sini saja." Tawar Ino. Gaara hanya menggeleng menolak. "Lebih baik aku pulang."

"Baiklah kalau begitu." Ino tak dapat memaksa.

Keesokan harinya di pagi hari Ino memutuskan untuk menemui Sai di lokasi praktek pribadinya. Entah angin apa yang mendorongnya untuk menemui Sai, tapi yah tidak ada salahnya bukan menemui teman lama?

Langkah Ino terhenti ketika ia melihat Sai berbincang dengan seorang wanita berdua. Dadanya sedikit terasa sesak melihatnya.

"Ah Ino." Panggil Sai membuat Ino sedikit terperanjat. Sai langsung berlari menghampiri Ino dan meninggalkan wanita itu. Tergambar jelas bagaimana tidak sukanya dia ketika Sai menghampiri dirinya.

"Ah maaf jika aku mengganggu." Ino tersenyu canggung. "Sama sekali tidak." Bantah Sai cepat. "Dan maaf karena aku ada urusan mengenai pasien bersama Dokter Ino." Sai membungkuk dan langsung menyeret Ino masuk ke dalam ruangannya. "Fyuuhh. Aku senang kau datang."

Ino mengerutkan dahinya. "Ha?"

"Wanita itu merepotkan." Ujar Sai sembari mengusap tengkuknya. "Dia terus – terusan berusaha mengejarku."

"Kau ini jadi besar kepala ya hanya gara – gara di kejar wanita." Ino memukul keras kepala Sai dengan kotak makanan yang ia bawa.

"Apa ini?" tanya Sai.

"Hmm yaa ini tanda terimakasihku."

"Tanda terimakasih?."

"Kau sudah mau membantuku menangani kasus Naruko. Ya setidaknya karena kita ini teman lama kau sampai memberi geratis pada kami."

"Aku tidak bilang jika aku akan memberikan geratis." Bantah Sai sambil membuka kotak makanan yang di beri oleh Ino. "Tentu saja ada imbalannya."

"APA? Bukankah kau bilang-."

"Aku tidak bilang geratis. Aku hanya bilang padamu jika aku akan membantu." Sai memperjelas. Wajah Ino langsung berubah cemas. "Ah Sai. Kenapa kau begitu padaku." Ringisnya. "Baiklah kalau begitu. Imbalan apa yang kau minta? Akan ku pastikan kau akan medapatkannya. Asalkan kau membantuku." Ucap Ino yakin.

"Hm baiklah." Sai tersenyum palsu seperti biasa. Namun ada yang berbeda kali ini. "Aku akan memberi tahumu nanti setelah kasus ini selesai." Ino hanya terdiam.

"Ah makanannya terlihat lezat."

Seperti yang di janjikan Sai. Jika mereka akan melakukan konseling lagi di dalam kubah kaca. Kali ini Sai memutuskan untuk melakukan Hipnosis atau sering kita dengar dengan nama Hipnotis. Hipnosis sendiri merupakan kondisi mental yang muncul secara alami yang dapat didefinisikan sebagai keadaan konsentrasi tinggi (trance atau tak sadarkan diri), dengan kemauan untuk mengikuti instruksi (menerima sugesti) sedangkan Hipnotis itu sendiri merupakan orang yang melakukan Hipnosis.

Sai akan melakukan ini pada Naruko untuk memecahkan kejanggalan yang di alaminya. Walau Sai tidak terlalu yakin dengan cara ini akan efektif. Namun sekiranya cara ini harus ia coba. Walau tidak mendapat jawaban dengan cara ini. Setidaknya Sai merasa akan mendapatkan serpihan puzzle dari kasus Naruko.

"Bagaimana, Naruko? Sudah siap?" Sai menyiapkan arloji yang akan ia gunakan untuk menghipnosis Naruko. Naruko mengangguk sebagai sinyal kesiapannya. Tanpa berlama – lama lagi Sai langsung memulai ritualnya.

.

.

.

Sedangkan mahluk – mahluk di luar sana terus bergerak gelisah. Terutama Kushina. "Tidak kah tindakan ini terlalu cepat?." Ujarnya khawatir.

"Percayalah pada Sai bibi. Sai tahu yang terbaik." Ino menepuk pundak bibinya itu menenangkan. Kushina mengangguk paham.

Sasuke dan Hinata tidak kalah gelisah. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Tampak samar memang Naruko yang terbaring dan Sai yang mulai berbicara seakan menanyakan sesuatu.

Deg

Sai mulai mengeluarkan gestur yang aneh. Hal itu membuat yang menonton semakin penasaran.

"Apa yang terjadi." Gaara mulai berusaha masuk namun dengan cepat Ino menahannya. "Tenanglah. Ini hanya Hipnosis. Tidak akan terjadi sesuatu pada Naruko." Tukas Ino. Dengan terpaksa Gaara menahan diri agar tidak mendobrak masuk kedalam sana.

Tidak lama kemudian Sai pun keluar namun kali ini tidak di susul dengan Naruko. Wajah Sai tampak lebih pucat walau sebenarnya kulitnya memang sudah terlihat pucat. Kali ini Sai lebih memperlihatkan ekspresi tidak percaya.

"Sai ada apa?." Tanya Ino khawatir. "Bagaimana Naruko?." Sai hanya menatap Ino dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Aku akan membahas ini dengan seluruh anggota keluarga. Terutama anda Sabaku-san sebagai penanggung jawab resmi Naruko." Perkataan Sai semakin membuat Gaara merasa cemas. "Sebelumnya bawalah Naruko kekamarnya. Dia sedang pingsan dan tak sadarkan diri." Sasuke mengangguk dan segera memasuki kubah untuk membawa Naruko kekamarnya.

.

.

.

Seluruh anggota keluarga tegang menunggu tiap patak kata yang keluar dari mulut Sai. "Ini memang terdengar mustahil tapi inilah yang terjadi."

"Oh ayolah Sai. Jangan membuat kami penasaran." Ino mulai tidak sabaran. "Naruto masih hidup." Hinata yang terus menyimak dengan tenang langsung tersontak kaget. "Apa maksudmu?." Ino menyerengit.

"Naruto masih hidup di dalam diri Naruko. Aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya dalam istilah medis. Tapi inilah dia."

BRAAKKKK

Gara menggebrak meja tidak terima. "Ini tidak mugkin. Lalu bagaimana dengan adikku?" Raut wajah gara mulai kacau.

"Aku tidak tahu. Tapi Naruto masih meminjam tubuh Naruko sekarang." Gaara langsung berdiri dan bergegas ke kamar Naruko.

.

.

.

Sasuke hanya bisa terdiam. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Apa – apaan ini? Batinnya.

"Kenapa Sas? Kau terlihat kaget?." Naruko memandang Sasuke dengan posisi duduk menyila dan Sasuke berdiri di depannya dengan tubuh membatu. "Ah ini memang membingungkan ttebayo." Naruko menggaruk – garuk kepalanya.

"N-naruto." Panggil Sasuke lirih.

"Hm?" sosok di depannya itu memiringkan kepala.

"K-kau Naru-."

"NARUTO."

BRAAAK

Pintu kamar terbuka dengan tidak elitnya. Naruto dan Sasuke langsung menatap sosok yang membanting pintu barusan.

"Oh Gaara." Naruto tersenyum tiga jari. "Dan kenapa semuanya berkumpul di sini?." Naruto menatap Ino, Kushina, Sai, Hinata, Sakura yang menyusul di belakang Gaara.

"J-jadi memang benar Naruto? Tidak mungkin. Naruko jangan bercanda seperti ini. Ini sama sekali tidak lucu." Gaara mencengkram kuat pundak Naruto.

"I-ttai ttebayo." Ringis Naruto. Dengan cepat Sasuke mendorong Gaara agar menjauh dari Naruto.

"Apa – apaan kau?."

"Kau melukainya." Ujar Sasuke dingin.

"Ah benar." Naruto menatap tangannya sendiri. "Aku sudah mati." Lanjutnya membuat Gaara tersentak. "Aku mengerti kenapa Gaara memperlakukan ku seperti ini. Adik kesayanganmu sedang aku ambil alih tubuhnya." Naruto tersenyum. "Tentu saja Gaara tidak terima."

"B-bukan begitu." Gaara mengalihkan pandangannya.

"Aku mengerti. Tapi tenanglah kalian. Naruko masih ada." Naruto mengibas – ngibaskan tangannya. "Aku tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi milikku."

Grab

Sasuke memeluk erat Naruto. "Hei ada apa ini ttebayo?" Naruto menepuk – nepuk kepala Sasuke.

"Kau akan pergi lagi?." Tanya Sasuke.

"Ya~."

"Kenapa?."

"Seperti yang aku katakan. Aku tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi milikku."

"Ku mohon tetaplah disini."

"Tidak." Jawab Naruto sembari tersenyum. "Sebenarnya aku tidak ingin mucul seperti ini. Tapi Sai-nii malah membangunkanku." Naruto mengangkat bahunya.

"Naruto? Bagaimana bisa." Sai menatap lekat Naruto.

"Entahlah. Aku sudah menghindar sebisa mungkin agar tidak terbangun. Bahkan mengabaikan Naruko yang ingin berbicara denganku. Tapi ternyata percuma saja." Naruto menghela nafas.

"Dimana Naruko?." Gaara khawatir.

"Tenanglah dia tertidur. Jauh di dalam sana dan pasti akan terbangun nantinya." Jawabnya jujur.

"N-naruto hikss." Kushina menatapnya tidak percaya.

"Aaa halo Kaa-chan. Kau terlihat sehat." Kushina langsung memeluk Naruto berserta Sasuke dalam dekapannya.

Putrinya, putri kesayangannya yang ia rindukan. Hatinya remuk karena kepergian Naruto. Keajaiban apa yang membuat pertinya kembali Kushina benar – benar bersyukur.

Gaara mulai terlihat susah. Perasaan tak nyaman mulai menyelimuti hatinya. Sangat tidak sopan jika ia meminta Naruko untuk kembali ketika melihat kondisi Kushina yang seperti ini.

Naruto menatap Gaara. Ia menggerakan bibirnya tanpa bersuara. Seolah menyampaikan kata 'Tenanglah Gaara-kun. Dia akan kembali.'

Sedikit ada rasa senang. Namun rasa sedih juga menyelimuti hatinya. Gaara memang sangat menyayangi adiknya. Tapi, Naruto adalah teman paling berharga dan ia harus kehilangan Naruto untuk kedua kalinya. Begitu pun keluarganya. "Maafkan aku Naruto." Gumamnya.

Keesokan harinya. Naruko bangun pagi seperti biasanya. Hanya saja suasana rumah terasa lebih muram dari biasanya.

"Ada apa ini." Naruko menatap cemas Kushina dan Ino yang tidak seperti biasanya. Duduk diam menatap TV walau Naruko tahu mereka sama sekali tidak sedang menonton TV.

"Ah Naruko kau sudah bangun." Dengan cepat Ino merubah air wajahnya. "Tidak. Bukan apa – apa. Kami hanya kurang enak badan." Elak Ino dan mendapat anggukan dari Kushina.

"Dimana Sasuke?" Naruko mencari sosok raven di sekitar sana namun nihil. "Sasuke sedang kerumah Hinata menemui calon mertuanya." Ino mengedipkan mata nakal kearah Naruko.

"Hoo benar juga." Naruko mengangguk paham. Tentu saja, Sasuke dan Hinata berpacaran. Mereka pulang ke Konoha pasti memiliki tujuan, seperti menikah mungkin?

Entah kenapa hati Naruko berdenyut sakit. Rasanya ia tidak bisa menerimanya. Kenapa? Bahkan Sasuke bukan siapa – siapanya? Dia bahkan bisa di bilang baru mengenal Sasuke. Tapi aneh, Naruko merasa jika dia sangat dekat dengan sosok raven itu.

"Ah.. Sai akan datang nanti sore. Kau bisa jalan – jalan atau melakukan apa pun yang kau suka." Ino menepuk pucuk pirang Naruko.

"Baiklah."

.

.

.

Entah apa yang harus Naruko lakukan sekarang. Masih lima jam lagi kedatangan Sai kerumahnya. "Basket." Terlintas keinginan bemain basket di kepalanya. Entah dari mana datangnya keinginan itu. Tidak ada salahnya juga bukan menghabiskan waktu dengan bermain basket. Walaupun ia tidak terlalu pandai memainkan bola besar itu.

Dalam posisi siap dengan bola di tangannya. Naruko hanya melakukan gerakan ringan yaitu memasuki bola kedalam ring di atas sana. "Tinggi sekali. Apa bisa masuk?." Naruko mengerutkan dahinya.

Tinggi tubuhnya bisa dibilang tidak mencukupi untuk memainkan permainan ini. Naruko sangat tidak yakin dapat memasukan bolanya itu ke ring sana. Tapi jika Naruto mencoba mungkin tidak ada salahnya.

Dengan pasti Naruko melemparkan bola keatas mendorongnya sekeras mungkin dengan menirukan gaya Naruto yang melempar bola ketika berada di dalam mimpinya dan sulit di percaya. "M-m-masuk!" pekiknya tidak percaya.

Tidak percaya dengan hasil lemparan yang pertama. Naruko memutuskan untuk melakukannya lagi. Hasilnya sama, lemparan kedua ketiga dan seterusnya Naruko berhasil memasukan bola itu kedalam ring. Ini sangat menyenangkan, pikirnya. Bola basket terasa sangat familiar untuknya saat ini. Oke Naruko mulai menyukai basket sekarang.

.

.

.

Rasa lelah mulai menjalar di tubuhnya. Sekita 4 jam ia bermain tanpa henti. Ini kali pertama melakukan sesuatu tanpa henti bahkan sempat lupa waktu. "Masih ada satu jam. Lebih baik aku pulang." Gumanya.

Naruko bangkit dari duduknya dan meninggalkan lapangan tempat Sasuke dan Naruto dulu bermain. Naruko sama sekali tidak sadar jika sepasang mata Onyx sedari tadi mengamati permainannya.

"Jadi bagaimana perasaanmu sekarang?." Naruko menatap Sai bingung. Dia tidak mengerti maksud dari pertanyaanya itu.

"Maksud Sai-nii?" Naruto tersenyum bingung.

"Ah tidak bukan apa – apa." Sai menggeleng kecil. "Aku akan menceritakan semua setelah hipnosis kali ini." Naruko mengangguk mendengar ucapan Sai. "Dan mungkin ini akan menjadi konseling terakhir kita."

"Baiklah."

.

.

.

Naruko berbaring dengan posisi senyaman mungkin kemudian mendengarkan sugesti dari Sai hingga tertidur. Seperti halnya kemarin. Naruto kembali terbangun. Kali ini banyak hal yang Sai tanyakan kali ini Sai memastikan jika ia merekam setiap pertanyaan yang ia ajukan dan jawaban yang Naruto lontarkan. Dan Sai pastikan juga jika Naruko mendapatkan jawaban yang inginkan.

"Sai-nii." Panggilan Naruto membuyarkan lamunan Sai.

"Huh?"

"Aku akan menghilang dari tubuh ini selamanya. Jadi ini adalah pertemuan terakhir kita." Naruto tersenyum. Namun lain halnya dengan Sai.

"Kenapa Naru? Ada apa?." Naruto sudah menduga jika Sai akan menanyakan itu.

"Ah akan aku jelaskan. Akan aku jelaskan Sai nii-san." Naruto menggerak – gerakan tangannya menenangkan Sai.

Di kediaman Hyuuga. Tampak pembicaraan serius yang terjadi di antara Hiashi, Sasuke dan Hinata. Suasana hati Hiashi sedang tidak bagus saat ini.

"Jadi. Kau belum berencana menikahi putriku, Sasuke?." Hiashi menatap tajam Sasuke. Hiashi meminta kepastian Sasuke mengenai hubungannya bersama putrinya. Sudah terlalu lama ia menunggu. Hinata sudah menyelesaikan kuliahnya begitu pula Sasuke. Ya walaupun Sasuke baru saja menyelesaikan kuliahnya. Mengenai pekerjaan Hiashi menjamin jika perusahaannya akan ia serahkan pada Sasuke jika mereka sudah menikah.

"Maafkan saya. Saya belum memikirkan itu." Jawab Sasuke membuat mata Hiashi berkilat marah.

"Apa maksudmu? Sampai kapan kalian akan terus seperti ini. Akan lebih baik jika kalian melangsungkan pernikahan." Raungnya. Hiashi memang terlihat sangat tidak sabaran.

"Tou-san. Mengenai itu biar kami berdua yang mengaturnya." Pinta Hinata. "Saat ini aku belum yakin untuk melangsungkan pernikahan." Hiashi dan Sasuke sontak menoleh kearah Hinata.

"Apa maksudmu putriku?" Hiashi menatap heran Hinata.

"Tou-san bisa melihat posisi Sasuke-kun saat ini." Hinata menghela nafas. Kepalanya tertunduk. "Sasuke-kun telah kehilangan sosok paling berharga baginya. Dan sosok yang paling berharga baginya itu sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk hidup." Hinata tersenyum getir. "Tou-san tidak seharusnya memaksa Sasuke-kun seperti ini. Urusan pernikahan kami, biar kami berdua yang akan mengatur." Hinata melenggak menatap yakin Hiashi.

"Haaa." Hiashi menghela nafas panjang. Ia tidak bisa berkomentar jika putrinya sudah mengatakan itu. "Baiklah. Aku mengerti." Hinata tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Namun Sasuke hanya menatap heran Hinata.

.

.

.

Mereka harus segera kembali ke kediaman Uzumaki. Seperti yang di katakan Sai pada mereka jika ini adalah konseling terakhir mereka. Dan Sasuke pastikan jika dia tidak akan ketinggalan sedikit pun informasi.

Namun dari pada itu. Sasuke masih terganggu dengan ucapan dari Hinata. Hinata mulai tampak berbeda setelah kejadiaan Naruko.

"Hinata." Panggil Sasuke. Membuat Hinata tersentak kaget karena melamun.

"Ah iya, Sasuke-kun?" Hinata menatap Sasuke yang tengah menyetir.

"Kau terlihat aneh belakangan ini."

"Ah." Hinata tertunduk.

"Kau benar mengenai Naruto."

"Feeling wanita jarang sekali salah Sasuke-kun." Hinata terkekeh.

"Ini masih sulit di percaya. Terkadang aku merasa sangat egois setelah kejadian kemarin aku menginginkan jika Naruto mengambil alih tubuh Naruko."

"Kau tahukan jika Naruto tidak mungkin melakukan itu? Dia terlalu baik." Hinata tersenyum.

"Aku tahu betul. Aku berharap jika Naruto itu sedikit lebih egois. Aku ingin dia kembali dan berkumpul lagi bersama kita ha ha." Sasuke tertawa garing. Sasuke akui jika ia merasa jadi orang jahat sekarang. Tapi Sasuke benar – benar ingin Naruto kembali padanya.

"Dan kita semua tahu. Jika itu tiak akan terjadi." Hinata tersenyum getir. Begitu pula Sasuke yang mendengarnya. Naruto itu memang terlalu baik.

Sai keluar dari kubah kaca di susul dengan Naruko. Tersirat rasa lega di wajah Naruko. Pastilah kabar baik yang akan mereka sampaikan nanti. Pikir orang – orang yang menunggunya.

Sasuke dan Hinata yang baru tiba langsung menghampiri Sai dan Naruko yang baru saja keluar. "Bagaimana?." Tanya Hinata penasaran.

"Kami harap ini adalah berita baik." Ujar Kushina penuh doa. Gaara hanya menatap resah adik sepupunya itu dan berdoa semoga buka hal buruh yang di alami Naruko.

"Seperti yang kalian harapkan. Ini adalah kabar baik." Ucap Sai yang membuat senyum Kushina, Gaara, Ino dan Hinata merekah. "Dan juga. Kejadian kemarin serta apa yang di alami Naruko selama konseling sudah aku ceritakan. Tanpa sedikitpun hal yang aku sembunyikan." Ino mengangguk paham mendengar ucapan Sai. "Ada satuhal yang ingin aku perdengarkan pada kalian." Sai mengeluarkan kemudaian menyalakan rekaman yang ia gunakan ketika melakukan konseling pada Naruko.

/Sai-nii./

/Huh?/

/Aku akan menghilang dari tubuh ini selamanya. Jadi ini adalah pertemuan terakhir kita./

/Kenapa Naru? Ada apa?./

/Ah akan aku jelaskan. Akan aku jelaskan Sai nii-san. Sebenarnya aku sudah merencanakan ini. Untuk meninggalkan tubuh Naruko selamanya. Namun dia melarangku./

/Dia?/

/Naruko. Naruko menawarkan padaku tubuhnya. Dia bilang dia ingin membagi tubuhnya./

/Apa maksudnmu?/

/Sebenarnya begini. Sudah lama sekali aku berada di dalam tubuhnya tanpa melakukan apapun. Tiba – tiba saja dia datang menghampiriku. Pada awalnya aku melayani sapaannya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan tubuh ini. Satu tubuh tidak bisa memiliki dua jiwa./

/Aku tidak mengerti./

/Naruko menawarkan untuk berbagi tubuh karena aku memutuskan untuk pergi. Namun aku menolak. Dia terus memohon padaku dan mendesakku agar tidak pergi. Aku tidak tahu bagaimana lagi harus menolaknya. Jadi aku memutuskan untuk melakukan ini./

/Hm?/

/Aku setuju tetantang berbagi tubuh. Tapi bukan bertukar kepribadian atau hal seperti ini. Aku lebih memilih melakukan transfer ingatan padanya. Dan kami pun memulai sebuah kesepakatan./

/Transfer ingatan?/

/Ya. Aku memberikan ingatan semasa hidupku padanya. Melalui mimpi – mimpi yang ia alami, dan aku melakukan ini karena keinginannya dan karena kesepakatan yang kami buat. Mungkin Naruko tidak ingat jika dia pernah berbicara padaku dialam bawah sadarnya./

/Jadi.../

/Benar. Di dalam kesepakatan kami adalah.../

/Hm?/

/Aku adalah dia dan dia adalah aku./

Bersambung...

Sebentar lagi cerita ini akan menuju klimaks ~

Ikuti terus ya.

yuunhi: Eheheh serem yak? dalam dunia medis mungkin susah di jelaskan. tapi FF ini sbnrnya saya terinspirasi dari sebuah novel yang katanya kisah nyata. udah lama banget bacanya sampu lupa judul novelnya apa tapi alur ceritanya masih tergambar jelas.

tapi FF ini ga sama dg alur novelnya kok. beda banget. kalau yg di novel si pendonor yg udah mati itu berhasil mengambil alih tubuh orang yg make donor matanya. percaya ga percaya deh sama peristiwa kaya gni : sbnrnya author juga agak kurang percaya karena belum menyaksikan langsung.

Thanks for: yuunhi || Rini ~ 3

Review?