Futatabime no Chansu 6
/Transfer ingatan?/
/Ya. Aku memberikan ingatan semasa hidupku padanya. Melalui mimpi – mimpi yang ia alami, dan aku melakukan ini karena keinginannya dan karena kesepakatan yang kami buat. Mungkin Naruko tidak ingat jika dia pernah berbicara padaku dialam bawah sadarnya./
/Jadi.../
/Benar. Di dalam kesepakatan kami adalah.../
/Hm?/
/Aku adalah dia dan dia adalah aku./
Mendengar perkataan terakhir dari rekaman itu membuat Sasuke menyerengit tidak mengerti. "Apa maksudnya itu?."
"A-aku juga tidak mengerti." Sambung Ino.
"Entahlah ini sama sekali di luar nalar ku." Sai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bahkan ini di luar nalar ilmu medis. Tapi aku menyimpulkannya seperti ini.." Sai memberi jeda sejenak pada ucapnnya. "Kalian bisa mengaggap Naruto masih hidup tanpa harus mengorbankan Naruko. Dengan kata lain ingatan semasa hidup Naruto bersemayam dan menyatu dengan ingatan Naruko." Jelas Sai.
"Maksdumu jika sekarang ini Naruko adalah Naruto dan Naruto adalah Naruko?." Hinata memastikan.
"Tepat sekali." Sai membenarkan. "Ini memang sangat sulit di jelaskan. Aku juga kebingungan saat menyusun kata – kata di dalam proposal penelitian nanti." Sai mengacak rambutnya frustasi.
"Adik ku tidak apa – apa bukan.. maksud ku.."
"Aku tidak apa – apa Gaara-nii." Naruko menepuk lengan Gaara. "Aku tetaplah Naruko hanya saja aku memiliki ingatan Naruto." Terangnya.
"Syukurlah.." Gaara langsung memeluk adiknya itu. "Aku senang jika Naruto kembali tapi aku tidak senang jika adikku yang harus di korbankan.
"Aku tidak sejahat itu." Ucap Naruko setengah berbisik. Naruko juga sudah mulai merasakan kalau dirinya adalah Naruto. Ingatan – ingatan, segala perasaan itu bahkan kepribadian Naruto sudah melekat sempurna pada dirinya. Sekarang Naruko merasa dirinya adalah reinkarnasi dari Naruto.
Masih dalam dekapan Gaara. Naruko memandangi Kushina dan Ino rasanya seperti ada gejolak rindu yang meruak di hatinya. Naruko melepaskan pelukannya pada gara kemudian langsung memeluk Kushina dan Ino.
"Naruku." Tangis Kushina pun pecah. Seolah putrinya yang meninggal benar – benar kembali hidup sekarang. Ino pun tak kalah nyaring isakannya sembari memeluk dua orang yang ia kasihi itu.
Ino melirik Sai kemudian langsung melompat dan memeluknya. "Terimakasih hiks." Isaknya di pelukan Sai. Sai hanya terdiam membatu. Ia tidak pernah di peluk Ino sebelumnya tiba – tiba saja sekarang ia mendapat pelukan dari Ino, wanita yang ia cintai. "Terimakasih hiks.. Sai hiks.. Kalau saja kau tidak membantu kami. Mungkin jalan buntu lah yang akan kami temui." Ino benar – benar merasa berterimakasih.
Sai membelai lembut helaian pirang Ino. "Tidak." Sautnya. "Kita semua sudah bekerja keras memecahkan masalah ini." Sambungnya. "Aku tidak mungkin menyelesaikannya sendiri."
Ino menggeleng pelan. "Hmm terimakasih."
Air mata bahagia juga membasahi pipi Hinata. Sedangkan Sasuke hanya terdiam kemudian berjalan pergi dalam diam. "S-sasuke-kun?." Panggil Hinata kemudian menyusul langkah kaki Sasuke. "Sasuke-kun kenapa?."
"Hn." Jawabnya singkat.
"Sesuai harapan kita Naruto kembali bukan?."
"Hn. Seperti mimpi." Jawab Sasuke sembari menatap langit biru yang tampak sama seperti warna mata Naruto.
"Lalu kenapa kau pergi?." Hinata menatap Sasuke bingung.
"Entahlah. Aku merasa jika tidak seharusnya aku.. tidak kita, tidak seharusnya kita tidak berada di sini." Entah kenapa kenangan lama tentang betapa jahatnya ia pada Naruto dulu kembali terputar. Ia merasa berdosa dan merasa tidak pantas menampakan wajahnya pada Naruto lagi. Hinata terdiam sejenak.
"Sasuke-kun. Aku harap aku.. tidak maksudnya kita, aku harap kita tidak lagi mengulangi kesalahanya yang sama pada Naruto." Langkah Sasuke terhenti mendengar perkataan Hinata. "Aku merasa takdir sudah memberikan kita kesempatan."
"Hening."
"Aku selalu menanti kesempatan ini. Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Aku juga tidak ingin Sasuke-kun menyesal untuk yang kedua kalinya."
"Jadi? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan Hinata?." Hinata tersenyum mendengar pertanyaan Sasuke. Mungkin ini akhir segalanya. Dan ini adalah kesempatan baginya. Kesempatan kedua yang Naruto berikan untuk dirinya dan Sasuke.
Tidak terasa siang berganti malam. Keluarga Uzumaki kini sedang dihujani kebahagiaan. Kushina memanggil seluruh teman dekat Naruto kerumah dan mengadakan sebuah acara kecil – kecilan. Ino menceritakan apa yang sudah terjadi pada Naruto pada teman – temannya tentunya di bantu oleh Sai dan bukti konseling lainnya.
Sebagai sahabat Naruto tentu saja mereka sangat senang. Sahabatnya kembali ditengah – tengah mereka. Walau tampil dengan usia yang sangat muda. Naruko merasakan ada yang kurang di pestanya. Hinata tengah berbincang dengan Sakura dan Karin. Lalu dimana Sasuke? Naruko memutuskan untuk mengecek kamar yang Sasuke diami.
Tok tok tok
"Sasuke. Apa kau ada di dalam?" tanyanya. Naruto memang sudah menyatu dengan dirinya sekarang. Lihat, Naruko tidak lagi memanggil Sasuke dengan embel embel nii atau semacamnya. "Hoi kenapa hanya diam?." Panggilnya lagi sambil menggedor pintu dengan kuat. Masih tidak ada jawaban dari dalam. "Aku tahu kau ada di dalam Teme. Buktinya pintu ini terkunci. Buka atau aku dobrak." Ujar Naruko mulai emosi.
Sasuke pun membukakan pintunya. "Berisik." Desisnya tidak suka. "Ada apa?." Tanyanya ketus.
"Cih kau ini. Turunlah semua ada di bawah." Ajaknya.
"Untuk apa?."
"Huh? Kau bertanya untuk apa?." Naruko mengerutkan dahi. "Sas. Kau tidak suka aku kembali?" Naruko menatap mata kelam Sasuke.
"Tidak. Bukan itu Naruto, hanya saja.." Sasuke tidak sanggup meneruskan katalimatnya.
"Jawab aku Sasuke. Kau tidak senang aku kembali?"
"Jangan bodoh Naruto. Tentu saja aku senang. Aku sangat merindukan mu bahkan sejak awal bertemu gadis ini, Naruko aku berharap dia benar – benar kau. Hanya saja aku.." Sasuke membuang wajahnya kearah lain.
Naruto mengelus lembut pipi Sasuke. "Aku senang mendengarnya." Ucapnya seraya tersenyum. "Aku tahu apa yang kau pikirkan dan rasakan sekarang, Sasuke. Apa pun yang terjadi di masa lalu kau tetaplah sahabatku aku tetap menyayangimu."
"Naruto." Air mata Sasuke mulai menggenang. Naruko menarik Sasuke dalam pelukannya, tangis Sasuke pun pecah. "Maafkan aku, Naruto. Maafkan aku." Isaknya.
"Aku sudah memaafkanmu." Naruko menepuk – nepuk pundak Sasuke.
"Ku mohon beri aku kesempatan kedua." Sasuke memeluk erat Naruko. "Aku mencintaimu. Aku tidak bisa hiduptanpa mu." Naruko terdiam mendengar kata – kata terakhir yang dilontarkan Sasuke.
"Bagaimana dengan Hinata?." Sasuke menarik masuk Naruko kedalam kemudian kembali memeluknya.
"Kami sudah putus." Jawab Sasuke.
"Bagaimana bisa?." Tanyanya dengan nada tenang.
Flash Back...
"Sasuke-kun. Aku harap aku.. tidak maksudnya kita, aku harap kita tidak lagi mengulangi kesalahanya yang sama pada Naruto." Langkah Sasuke terhenti mendengar perkataan Hinata. "Aku merasa takdir sudah memberikan kita kesempatan."
"Hening."
"Aku selalu menanti kesempatan ini. Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Aku juga tidak ingin Sasuke-kun menyesal untuk yang kedua kalinya."
"Jadi? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan Hinata?." Hinata tersenyum mendengar pertanyaan Sasuke. Mungkin ini akhir segalanya. Dan ini adalah kesempatan baginya. Kesempatan kedua yang Naruto berikan untuk dirinya dan Sasuke.
"Aku tidak mau lagi menjadi orang ketiga diantara kalian." Sasuke sontak berbalik menghadap Hinata.
"Apa maksudmu?."
"Sasuke-kun. Aku ingin kita putus. Aku tahu belakangan ini kau mulai kacau. Hati dan pikiran mu terbang entah kemana. Aku memutuskan untuk melepasmu." Jawab Hinata sembari tersenyum manis. "Aku tidak akan lagi menjadi penghalang untuk kalian berdua. Jika memang ini adalah kesempatan kedua yang Naruto berikan..." Hinata terdiam sejenak.
"Aku ingin memafaatkan kesempatan ini untuk berbaikan dengan Naruto dan menjadi sahabatnya." Jelasnya. Dengan mengatakan ini dan melepaskan Sasuke, Hinata merasa sudah melepaskan beban berat di bahunya.
"Ambillah keputusan Sasuke-kun. Jangan sia – siakan kesempatan ini. Aku tidak ingin kita berdua menyesal untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup."
Flash Back end...
Naruto terdiam mendengar cerita Sasuke. Ia menatap Sahabatnya yang tengah duduk bersila di depannya nya itu dengan tatapan bimbang. "Ah gelap sekali. Kau bisa tahan di tempat gelap seperti ini? Setidaknya nyalakanlah lampu." Ucap Naruto basa – basi. Sasuke sedikit kecewa karena Naruto tidak merespon ceritanya. Ia merasa jika perasaan cinta yang Naruto tulis sebelumnya sudah hilang. Sasuke sangat berharap.
"Aku merasa bersalah pada kalian berdua. Gara – gara aku kalian harus pisah." Naruto menghela nafas.
"Tidak.." bantah Sasuke cepat.
"Aahahah iya – iya aku tahu Sasuke. Aku tahu apa yang akan kau jawab. Ini bukan salah ku? Bukan?." Naruto tersenyum miring. "Tetap saja Sas. Ini memang karena aku." Naruto mendengus. "Aku senang Sasuke mengutarakan perasaannya padaku karena aku juga masih menyukai Sasuke."
"Hening."
Mata Sasuke membulat mendengar penuturan Naruto. Naruto hanya senyum canggung setelah mengatakan itu. "Apa kau serius Naruto?." Sasuke memastikan jika apa yang didengarnya barusan itu bukan sebuah kesalahan.
"Hm." Naruto mengangguk malu. Kamarnya memang gelap namun matanya yang tajam masih bisa melihat gerak – gerik Naruto dengan jelas. Sasuke tersenyum simpul sembari menggengam erat tangan Naruto.
"Terimakasih." Ucapnya. "Terimakasih atas kesempatan kedua yang sudah kau berikan padaku."
Hinata yang sedari tadi berada di balik pintu hanya bisa tersenyum dan turut bahagia atas Sasuke dan Naruto. Walau hatinya kini terasa sangat perih karena ia masih sangat mencintai Sasuke, namun tetap saja ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami Naruto dulu. Sudah seharusnya Hinata melakukan ini bukan? Ia sudah sangat berterimakasih dan bersyukur karena Naruto sudah memberika kehidupan kedua serta kesempatan kedua pada dirinya.
Tamat
Satu lagi story saya yang sudah selesai xD
Masih ada epilognya kok. terimakasih untuk para reader yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir.
Thanks to: yuunhiFahrie Hamada
Yuunhi: aduh saya juga lupa sama judulnya apa. Tapi untuk alur saya masih ingat dengan jelas. Yang mendonorkan itu cewek trus yg di donorkan itu cowok. Di alam bawah sadar si cowok mereka di pertemukan (tapi si cowok ga tau kalau itu dia sedang mimpi atau berada di alam bawah sadarnya). Di ceritakan kalau cewenya ini indigo dan pindah rumah dari tempat yg jauh ke tempat cowok itu. Si cowoknya juga indigo dia bisa dengan suara sepelan apapubahkan suara hati atau pikiran seseorang dia bisa denger. Karena merasa ada kecocokan dan kesamaan bakat aneh jadi mereka temenan dan dekat. Sebenarnya alam bawah sadar itu adalah tak tik si cewek yang mau ngambil alih tubuh si cowok. Eding novelnya itu nanti si pendonor mata berhasil ngambil alih tubuh anak cowok yang di donorin. Baca novelnya dulu pas masih SMA sekarang dah kuliah xD
Fahrie: iyap. Makasih sarannya xD . emang rada kurang teliti pas proses pengetikan. Karena saya moody orangnya trus sering lupa apa yang mau ditulis jadi yaa terburu – buru xD. Lain kali saya usahakan lebih teliti lagi dalam penulisan.
Review?
