"..I don't wanna hurt you either, this is the only way we can be.."

. . .

"Baek, bangunlah!"

"Baekhyun!"

"Baekhyun!"

Baekhyun membuka matanya dengan napas tersenggal, hal pertama yang ia lihat adalah Yixing yang menatapnya khawatir "Hyung.."

Yixing menarik tubuh gemetar Baekhyun kedalam pelukannya "Aku disini, Baek"

Baekhyun menggeleng cepat, ia terisak "Pria itu, red force itu mengikutiku, pria itu berada dikamarku, dia, dia ingin melukaiku dan kalian-"

Yixing menarik wajah Baekhyun lalu menangkupnya "Itu hanya mimpi, Baekhyun. Tidak ada siapapun dikamarmu" ia tersenyum meyakinkan, menghapus airmata yang mengalir dipipi Baekhyun

"Hyung-"

"Baekhyun" Yixing mengusap pelipis Baekhyun yang dibasahi keringat "Sebaiknya kau kembali tidur, langit masih sangat gelap"

Baekhyun mau tidak mau mengangguk, membiarkan Yixing membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang lalu menutupi tubuh sampai dagunya dengan selimut dan mematikan lampu kamar, Baekhyun menahan lengan Yixing yang hendak pergi

"Dimana Chanyeol?" Baekhyun baru sadar jika Chanyeol tidak ada disofanya

Yixing mengangkat bahu "Sepertinya ia masih tidur dikamarnya ... kenapa?"

Baekhyun menggeleng pelan "Tidak apa-apa" Ia melepaskan lengan Yixing

Yixing mengangguk lalu berjalan keluar, ia terlonjak ketika melihat Joonmyeon berdiri disana entah sejak kapan, lengan kirinya menutup pintu kamar Baekhyun dengan hati-hati selagi matanya memandang Joonmyeon dengan tatapan menyelidik

"Sejak kapan kau disana?"

"Sejak aku mendengar Baekhyun berteriak dan melihat kau berlari ke kamarnya seperti orang kesetanan" ia mendecih, terlihat meledek dan Yixing tidak menyukainya

Yixing berjalan menjauh dari kamar Baekhyun, berusaha untuk terus mengabaikan Joonmyeon yang masih mengikutinya dibelakang

"Kau tidak akan membuat pembelaan?"

Yixing memutar tubuhnya untuk menatap Joonmyeon "Pembelaan?" ia terkekeh "Pembelaan apa maksudmu?"

Joonmyeon menggidikan bahunya "Kau seharusnya tidak memiliki perasaan khusus padanya, itu mustahil, cinta membuatmu lemah, ingat itu" ia tersenyum miring "dan kabar baiknya, Baekhyun lebih tertarik pada Chanyeol dibandingkan dirimu, tidakkah itu jelas? Kau kalah dua kali"

Yixing menggeleng dengan tawa yang ia tahan "Kau terlalu rapat menutup matamu, andai saja pemikiranmu tidak sesempit itu, Joonmyeon. Lagi pula tidak masalah jika Baekhyun lebih tertarik dengan orang lain, karena memaksa perasaan seseorang bukanlah hal yang bisa aku lakukan"

Joonmyeon memandang Yixing dengan prihatin "Kau terlihat menyedihkan"

Yixing menggidikan bahunya "Setidaknya aku bukan seseorang yang akan mengabaikan cintaku demi sebuah ambisi"

Joonmyeon mendelik pada Yixing yang kini tengah tersenyum

"Hyung? Apa yang kalian lakukan?"

Mereka menoleh dengan serempak ketika Chanyeol berjalan mendekat ke arah mereka

"Kalian tidak tidur?" Ia bertanya dengan santai, mengabaikan dua pasang mata yang menatapnya tajam

Joonmyeon membuka suara "Kenapa kau datang dari pintu utama?"

Chanyeol mengangkat bahunya "Aku terbangun di atas lantai dan aku tidak tahu kenapa aku bisa disana"

"Sleepwalking?"

Kening Chanyeol mengerut "Mungkin"

Yixing perlahan melangkah menjauh, kini ada dua orang yang harus ia abaikan, ia juga butuh istirahat

"Baekhyun mencarimu, mimpi buruk lagi sepertinya" ucapan Joonmyeon berhasil membuat langkah Yixing terhenti

"Sebaiknya kau jangan mengganggu Baekhyun, ia sudah lebih baik dan tengah istirahat, kembalilah ke kamarmu" Yixing berkata tanpa menoleh lalu kembali melanjutkan langkahnya

Chanyeol mengangguk "Joonmyeon hyung, kau juga harus beristirahat"

. .

"Selamat pagi!" Baekhyun berucap dengan riang, menarik satu kursi kosong didepan meja makan

Yixing sampai lupa siapa orang yang semalam menangis karena mimpi buruk

"Hari ini aku ingin berjalan-jalan, bolehkah?" Baekhyun memandang tujuh orang lain dengan tatapan memohonnya, terutama pada Joonmyeon

"Memangnya kau sudah merasa lebih baik?" Kyungsoo bertanya sambil menaruh lebih banyak sayuran dipiring Baekhyun

Baekhyun mengangguk, senyum tak pernah lepas dari wajahnya, jika sudah seperti ini, dilarangpun Baekhyun akan tetap pergi, jadi Joonmyeon mengangguk dengan berat hati

"Baiklah, tapi kau tidak boleh pergi sendiri"

Kini ia menatap Sehun yang sibuk mengunyah sarapannya, merasa ditatap, Sehun menolehkan kepalanya

"Apa?"

"Pergilah denganku, ya?"

Sehun menggeleng "Aku ingin tidur seharian, jangan ganggu aku!"

Baekhyun cemberut "Padahal aku ingin pergi ke kedai Luhan"

Sehun menghentikan tangannya yang sudah tergantung diudara dengan sendok berisi makanan, ia menjatuhkannya lalu berjalan entah kemana, Baekhyun meniup poninya, sepertinya Sehun benar-benar ingin tidur, yasudah. Ia berbalik, menatap Chanyeol, tidak apa-apa, ia bisa mengajak Chanyeol atau Jongdae, mereka pasti tidak akan menolaknya seperti Sehun, Baekhyun hampir membuka mulutnya tapi tiba-tiba Sehun sudah menarik lengannya

"Hyung, ayo! Kau lambat sekali!" Sehun yang sudah mengganti pakaian berjalan dengan menyeret lengan Baekhyun

Suara pekikan Joonmyeon yang menyuruhnya untuk berhenti menarik lengan Baekhyun, disusul dengan Kyungsoo yang meminta mereka untuk menghabiskan sarapan lebih dulu menggema

Benar, jika menyangkut tentang Luhan, Sehun pasti tidak akan menolak

. .

Mereka duduk disudut kedai yang hari ini lumayan sepi pelanggan, Baekhyun ingin mengangkat lengannya agar Luhan datang tapi ia kalah cepat dengan Sehun

"Oh, sudah lama sekali kalian tidak datang" Luhan tersenyum ramah "Ingin pesan apa?"

"Dua choco bubble tea dan sosis panggang" Sehun tersenyum dengan wajah berseri-seri, perut Baekhyun sampai mual melihatnya

"Aku tidak ingin bubble tea"

"Memangnya aku pesan untukmu, percaya diri sekali!"

Baekhyun mendelik pada Sehun, Luhan hanya bisa menahan tawa, mereka selalu saja seperti itu "Strawberry milkshake"

Luhan mengangguk sambil tangannya menulis pesanan mereka "Dua choco bubble tea, satu sosis panggang dan satu strawberry milkshake, pesanan kalian akan siap dalam beberapa menit"

Baekhyun tertawa pelan "Kau tidak harus seformal itu pada kami, hyung"

Luhan meringis "Nanti ayahku memarahiku" Luhan kembali tersenyum sebelum meninggalkan mereka

Tak lama, Luhan kembali dengan membawa pesanan mereka

"Selamat menikmati" ia hendak pergi tapi Sehun menahannya

"Kedaimu sedang sepi, duduklah, anggap saja ini jam istirahatmu" Sehun menaruh satu gelas bubble tea kehadapan Luhan

Luhan seperti berpikir, tapi akhirnya ia menerima permintaan Sehun

Baekhyun melihat keduanya tersenyum, sepertinya ia hanya akan jadi penonton setia mereka

Jika diingat lagi, ini sudah hampir dua tahun sejak Sehun selalu datang ke kedai milik orangtua Luhan, tapi Sehun belum juga berani menyatakan perasaannya, iya, Sehun jatuh hati pada Luhan, tapi Sehun tidak mau berharap banyak, itu terlalu beresiko untuk keduanya, Sehun tidak bisa membayangkan jika Luhan sampai terluka karena dirinya

"Sering-seringlah datang kemari, aku merindukan kalian" kalimat seperti itu sebenarnya terdengar biasa saja, tapi jika Luhan yang mengucapkannya itu cukup membuat Sehun kehilangan akalnya

. .

Chanyeol memandang aneh Sehun yang tengah berbicara dengan ikan-ikan di aquarium, sedikit menakutkan sebenarnya melihat ia terus tersenyum seperti itu, Chanyeol bergidik

"Jangan tanya aku!" Minseok mengangkat tangannya

Chanyeol berdecih, ia bahkan belum mengatakan apapun

Joonmyeon melangkah dengan gusar melewati mereka, membanting koran yang ia genggam kelantai "Red force kembali berulah, sebenarnya siapa musuhnya? Kenapa ia berubah menjadi pembunuh berantai! Sialan!"

Chanyeol, Sehun dan Minseok yang mendengar makian Joonmyeon langsung menghampirinya, Minseok mengambil koran itu, seluruh isi koran menceritakan tentang pembunuhan yang terjadi kemarin malam dan mengejutkan karena jumlah korban lebih dari sepuluh dengan luka yang hampir serupa- lebam diwajah dan darah yang mengalir dari mata mereka, pihak kepolisian tidak bisa memberi keterangan karena tidak ada bukti apapun yang bisa membawa mereka pada sang pelaku, pantas saja Joonmyeon bisa semurka ini

"Mulai besok malam, aku ingin kita semua berpencar keseluruh kota, kita harus menghentikannya"

"Tapi Baekhyun, ia tidak akan bisa" Chanyeol berucap

"Baekhyun akan tetap dirumah bersama Jongin" keputusan final "Aku harus pergi, tolong beritahu yang lain"

Chanyeol tidak punya tujuan lain selain kamar Baekhyun, ia membuka pintu tanpa mengetuk membuat Baekhyun yang awalnya tengah berdiri menghadap jendela berbalik dan menatapnya

"Kupikir kau sudah tidur"

Baekhyun berjalan lambat menghampiri Chanyeol, ia menggeleng "Aku tidak akan tidur, sepertinya"

Chanyeol tampak heran "Kenapa?"

Mimpi buruk itu... "Tidak mengantuk" ia tersenyum kecil

"Kau harus tidur, aku tidak mau Yixing hyung mengomel lagi"

Baekhyun terkekeh "Baiklah aku akan tidur, kenapa kau kemari?"

Chanyeol menghela napas berat "Ada masalah, Joonmyeon hyung ingin aku dan yang lain pergi besok malam untuk memeriksa keadaan dikota sedangkan kau tetap dirumah"

"Aku ikut"

Chanyeol menggeleng "Kau tidak bisa, Jongin akan bersamamu, kau tidak perlu khawatir"

"Tapi aku ingin ikut, aku akan pergi bersamamu, Joonmyeon hyung pasti akan mengizinkanku"

Chanyeol sekali lagi menggeleng "Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Baek" ia mengusap kepala Baekhyun "Kau harus menjaga kesehatanmu, aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu yang buruk kembali terjadi, dengarkan aku kali ini, hm?"

Baekhyun menyerah, ia mengangguk

"Sekarang tidurlah, jika kau mencariku, aku ada dikamarku"

Tapi tidak, Chanyeol tidak dikamarnya malam itu

Baekhyun menyesal karena tidak bisa menahan kantuknya dan malah terlelap, mimpi buruk itu kembali datang mengganggunya dan orang yang sangat ia butuhkan tidak ada dimanapun. Baekhyun membekap mulutnya untuk meredam isakan yang terus keluar, tubuhnya ia jatuhkan ke atas ranjang Chanyeol yang dingin, itu berarti Chanyeol tidak pernah ke kamarnya, dimana dia sebenarnya?

. .

Baekhyun membuka matanya saat merasakan seseorang mengusap rambut dikeningnya

"Selamat pagi" Chanyeol berucap hampir berbisik

Baekhyun melompat kedalam pelukan Chanyeol "Dimana kau semalam?" suaranya teredam karena ia menenggelamkan kepalanya di dada Chanyeol

Chanyeol membalas pelukan Baekhyun "Aku disini, dikamarku"

Baekhyun mendongak "Kau tidak disini, aku mencarimu dan kau tidak ada"

"Aku disini, aku tidur diranjangku, aku tidak kemanapun"

Pintu kamar Chanyeol terbuka, Yixing berdiri disana dengan tatapan datar, Baekhyun melepaskan tangannya yang masih melingkar dipinggang Chanyeol dengan canggung

"Joonmyeon memanggilmu, Chanyeol"

Chanyeol mengangguk sebelum akhirnya meninggalakan Baekhyun setelah mengusap puncak kepala yang lebih kecil

"Aku akan segera kembali" Baekhyun mengangguk

. .

Malam ini semua orang benar-benar pergi, kecuali ia dan Jongin. Karena sebelum pergi Kyungsoo meminta mereka untuk berbelanja keperluan makanan, jadi disinilah mereka sekarang, berdiri ditengah barisan lemari yang berisi sayur dan buah disupermarket, baik Jongin maupun Baekhyun tidak ada yang pernah menginjakan kakinya ditempat ini, karena biasanya Joonmyeon akan menyuruh Kyungsoo atau Minseok

"Apa yang harus kita beli?" Jongin bertanya sambil matanya menatap ke arah rak buah

Baekhyun menggidikan bahunya "Kyungsoo hanya berpesan untuk membeli bahan makanan"

Jongin mengetuk-ngetuk dagunya lalu mengangguk "Ikuti aku, hyung"

Baekhyun menarik ujung baju Jongin agar pria itu memperlambat langkahnya, mereka berhenti didepan lemari pendingin yang berisi potongan ayam

"Kita harus beli banyak ayam"

Baekhyun berdecih lalu menarik Jongin untuk kembali ke lemari sayur dan buah, setelah melakukan perdebatan panjang karena Jongin yang terus merengek ingin ayam, Baekhyun memutuskan untuk membeli dua bungkus ayam dan daging sapi juga beberapa buah dan sayur yang biasa mereka lihat dikulkas

Dengan kedua tangan yang penuh dengan kantung belanjaan, mereka berjalan untuk kembali menuju rumah

"Seharusnya kita hanya beli satu ayam dan daging, Joonmyeon hyung pasti marah karena uangnya kita habiskan" Baekhyun menggerutu

"Uang joonmyeon hyung itu banyak, hyung"

"Meskipun uangnya banyak, ia 'kan sangat perhitungan, jika Joonmyeon hyung mengomel-"

"Hyung, kau dengar?"

Baekhyun menoleh pada Jongin yang menghentikan langkahnya, Baekhyun berdiri menghadap anak itu "Dengar apa?"

Mata Jongin menyipit "Seseorang meminta bantuan"

Baekhyun mengedarkan pandangannya, ia tidak melihat siapapun, jalanan sangat sepi. Baekhyun membulatkan mulutnya, ia mengangguk mengerti

"Kau harus menolongnya"

"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri"

"Aku akan baik-baik saja, aku tidak akan pergi kemanapun sampai kau kembali"

Jongin menggeleng, ia hendak melanjutkan langkahnya tapi Baekhyun menghadang

"Kau tidak bisa mengabaikannya, Jongin" Baekhyun memberi isyarat padanya untuk pergi

Jongin menghela napas "Baiklah, tunggu aku disini, jika ada seseorang yang mencurigakan, hyung kembali saja ke supermarket"

Baekhyun mengangguk setuju, Jongin menyerahkan belanjaannya pada Baekhyun lalu ia berjalan dengan cepat, sangat cepat sampai akhirnya menghilang

Baekhyun menghela napas, melihat ke sekeliling, tidak ada siapapun, ia berjalan pelan kembali menuju supermarket, perkataan Jongin barusan malah membuatnya mengingat pria bermata merah yang masih terus menghantuinya, Baekhyun merapatkan genggamannya pada kantung plastik yang ia jinjing, berjalan lebih cepat

Baekhyun merasa jarak antara supermarket dan dirinya sejauh dunia

Langkah Baekhyun terhenti dipersimpangan jalan ketika matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang berdiri disana, mematung dan sekarang menatapnya, Baekhyun menahan napas, dengan cepat ia berbalik dan mengabaikan keberadaan orang asing itu lalu melanjutkan langkahnya, tapi sekali lagi langkahnya terhenti karena -Baekhyun tidak tau bagaimana bisa pria dipersimpangan tadi sudah berdiri tepat dihadapannya, Baekhyun hampir berteriak jika saja pria itu tidak membungkamnya dengan memukul rahang Baekhyun

Baekhyun mendesis saat punggungnya mendarat ke trotoar jalan dan juga rasa panas disekitar pipinya, Baekhyun mendongak, ia melihat sepasang mata merah menatapnya tajam, red force

Pria itu tertawa bengis "Kita bertemu lagi"

"Apa yang kau inginkan?"

Pria itu menginjak dada Baekhyun dengan sangat kuat, Baekhyun menjerit tertahan, suara patahan tulang menggema ketelinganya, sakit sekali "Tentu saja aku ingin kematianmu"

"Kalau begitu bunuh saja aku, kau sialan!" Baekhyun berusaha untuk menyingkirkan kaki red force, tapi ia kehilangan kekuatannya

Pijakan di dada Baekhyun semakin menjadi "Daripada langsung membunuhmu, bukankah lebih menyenangkan jika aku menyiksamu terlebih dahulu"

Lampu penerangan jalan terlalu redup, Baekhyun tidak bisa melihat wajah musuhnya dengan jelas

Baekhyun mengerang "Aku tidak punya urusan apapun denganmu"

"Kau terikat dengan water, jadi tentu saja kau punya urusan denganku"

Baekhyun tidak bisa menahan rasa sakitnya "Kenapa kau terus mengejarku? Joonmyeon hyung memiliki tujuh elemen lain, kau bahkan sudah mengambil kekuatanku!"

Pria itu kembali tertawa "Itu karena kau yang membangkitkanku, kau yang menciptakanku"

"Aku, yang menciptakanmu?"

"Kau yang menciptakanku, light, kenapa? Kau terkejut?"

Baekhyun berteriak saat pria itu kembali menekan pijakan kakinya, ia mendengar suara tawa pria itu sekali lagi, ia hampir kehilangan kesadaran, pandangannya mulai pudar

Tawa yang Baekhyun dengar kini berganti menjadi teriakan yang memanggil namanya

"Baekhyun! Byun Baekhyun!"

"Apa yang terjadi? Baekhyun-ah!"

Baekhyun benar-benar diambang kesadarannya

Kenapa.. Kenapa ia disini?

"Chanyeol?"

Kenapa Chanyeol disini?

Dimana... red force?

Baekhyun menangkup wajah Chanyeol dengan sebelah tangannya, ia melihat mata ke abuan Chanyeol yang berair, Chanyeol mengangkat tubuhnya dan memeluknya dengan sangat erat

"Kenapa, Chanyeol?"

. .

Kau yang menciptakanku

"Aku yang menciptakannya?"

Baekhyun menyentuh dada sebelah kirinya yang terasa sangat sakit, matanya memandang jauh pada langit-langit kamarnya yang gelap. Seingat Baekhyun, Chanyeol lah yang membawanya kembali ke rumah, entah bagaimana caranya

Sesuatu terus mengganjal pemikirannya, terlalu rumit

Kenapa Chanyeol bisa berada disana padahal ia yakin kalau tidak ada siapapun kecuali si red force sialan, bukankah Chanyeol seharusnya pergi ke pusat kota?

Baekhyun menggigit bibir bawahnya "Tidak mungkin 'kan?" ia menggeleng

Pintu kamarnya terbuka, Chanyeol muncul dari sana dengan membawa susu kotak strawberry, Chanyeol tersenyum sangat cerah, sisi lain hati Baekhyun menangis, ia tidak seharusnya berpikir buruk tentang Chanyeol

"Kau bangun? Apa karena aku?"

Baekhyun menggeleng "Tidak, aku memang sudah bangun"

Chanyeol menyerahkan susu kotak yang ia bawa pada Baekhyun "Aku tidak menemukan apapun dikulkas kecuali ini"

Baekhyun menerimanya dengan senang hati "Terimakasih"

Chanyeol duduk dilantai dengan kepala yang ia sandarkan dipinggir ranjang Baekhyun, Baekhyun menaruh telapak tangannya di kepala Chanyeol, mengusap rambut si tinggi yang sedikit berantakan

Tidak ada yang berbicara, mereka larut dalam keheningan, rasanya sangat nyaman, Baekhyun selalu merasa lebih baik jika Chanyeol berada disampingnya

"Jadi aku dengar-" Chanyeol menghentikan ucapannya ketika Baekhyun memekik

"Maaf, aku terkejut" Baekhyun tersenyum canggung "Kau dengar apa?"

Chanyeol mendongak untuk mempertemukan mata mereka "Aku dengar kau tertarik padaku"

Baekhyun tersedak air liurnya "Apa? Siapa yang mengatakan itu?"

"Seseorang"

Jika boleh jujur, Baekhyun memang sudah lama jatuh hati, Chanyeol tidak pernah membiarkannya merasa sendirian, Chanyeol adalah orang pertama yang mengembalikan senyumnya

Baekhyun bergumam, Chanyeol kembali berbicara

"Jangan beritahu aku dulu, jika kau memang tertarik padaku carilah aku dikehidupan keduamu, temui aku lagi, jatuh cinta lagi padaku, dan nyatakan perasaanmu"

Baekhyun menggigit bibirnya "Rasanya mustahil"

Karena cinta memang terasa tidak masuk akal bagi orang-orang seperti mereka

"Bagaimana jika aku juga mencarimu?"

Baekhyun dengan cepat menolehkan kepalanya "Apa maksudmu?"

Chanyeol menahan senyumnya "Aku tidak akan memberitahumu sekarang"

Jika pada akhirnya mereka semua akan kembali ke pelukan Tuhan, mengajukan satu permintaan untuk kehidupan keduanya tidak terdengar keterlaluan 'kan? Jika Tuhan masih berbaik hati padanya tidak ada hal lain yang akan ia pinta

Baekhyun hanya ingin merasakan akhir cinta yang bahagia

.

.

.

Tbc

Demi kepentingan cerita aku mutusin buat ngubah sedikit obrolan ChanBaek dibagian akhir, maaf kalau ini buat kalian ga nyaman 🙏 untuk chapter 3 aku usahain hari minggu up ya ^^

Terimakasih untuk yang mau baca, review dan nambahin cerita ini di list favorite kaliaannn, review kalian itu mood aku banget

Apdet jamaah lagiii sama author paporit, lope lope :* Azova10 ft. Parkayoung, Silvie vienoy, Kang seulla, Peachybloom, Blood type-b . Jangan lupa mampir dn review di cerita mereka yaa