[Ada sedikit perubahan dichapter 2, cuma dibagaian akhir, aku gatau itu masuk notif kalian atau engga eheheh]
. . .
Baekhyun ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Joonmyeon, sebenarnya pertemuan mereka bukan hal yang bisa dikenang karena itu sangat buruk
Baekhyun adalah korban tabrak lari waktu itu, tubuhnya tergeletak ditengah jalan yang padat dengan darah yang menggenang disekitar kepalanya, ia tidak bisa merasakan apapun selain sakit kala itu, suara ketukan antara sepatu dan jalan menjadi satu-satunya yang bisa Baekhyun dengar, samar-samar ia melihat seseorang berdiri dihadapannya, terlalu dekat padahal ia yakin kalau sebelumnya ada begitu banyak orang yang mengerumuni tubuhnya yang tergeketak, orang itu tersenyum sangat cerah dengan lengan yang terulur kearahnya, Baekhyun melihat cahaya harapan untuknya bisa hidup kembali jadi tanpa ragu Baekhyun menerima uluran itu
Baekhyun merasa kalau bobot tubuhnya seringan kapas, ia dapat bangkit
"Hallo, Byun Baekhyun" Orang itu menyapanya dengan nada ramah tanpa dibuat-buat, Baekhyun mengangguk canggung "Namaku Kim Joonmyeon"
Baekhyun terkejut saat seseorang menabraknya, ia menoleh dan melihat kerumunan orang yang tadi mengelilinginya, mereka masih berada disana, dengan langkah ragu Baekhyun mendekat, ia mencari celah untuk melihat siapa yang menjadi objek penglihatan mereka. Baekhyun menutup mulutnya yang menganga, terkejut karena melihat tubuhnya yang bersimpah darah masih berada disana
"Kenapa? Kenapa bisa?"
"Kau akan mengerti nanti, sekarang ikut aku"
Baekhyun menolak dengan kasar, ia terus berteriak pada Joonmyeon, mengatai manusia dermawan itu orang aneh, iblis dan semacamnya, padahal ia lah orang yang menyelamatkan Baekhyun, setidaknya Baekhyun tidak segera merasakan siksaan dineraka
Tapi Joonmyeon tetap sabar menghadapinya, menjelaskan segala sesuatu yang mungkin tidak dimengerti oleh Baekhyun termasuk statusnya sebagai penopang keseimbangan bumi dan juga kalau semua orang akan melupakannya, yang mereka tahu Byun Baekhyun sudah meninggal
. .
Joonmyeon menatap Baekhyun sekali lagi "Apa kau bilang?"
Yang ditanya menghela napas sebal "Terimakasih, hyung" ini sudah ketiga kalinya Baekhyun berkata demikian semenjak ia mengajak Joonmyeon berbicara
Pelipis Joonmyeon mengerut tajam "Untuk apa kau berterimakasih?"
"Untuk semuanya, yahh.. semua yang kau lakukan untukku"
Joonmyeon tertawa pelan "Tidak biasanya kau seperti ini, ada apa?"
Baekhyun tersenyum lebar "Ditaman kota ada toko buku yang baru saja buka"
"Lalu?"
"Lalu" Baekhyun menarik napas panjang "Aku ingin kesana"
Dan secepat itu Joonmyeon menggeleng "Tidak, kau lupa dengan apa yang terjadi padamu setiap kau pergi?"
"Aku tidak akan pergi sendirian-"
"Permintaan ditolak, Byun Baekhyun. Kembali ke kamarmu!"
Baekhyun berdecih "Terserah" ternyata rayuan semanis apapun tidak mempan untuk Joonmyeon
Lalu ia pergi ke kamarnya, meski perintah Joonmyeon terdengar menyebalkan pada akhirnya ia akan tetap menurutinya. Baekhyun membanting tubuhnya keatas ranjang, mendengus, memutar tubuhnya ke kanan lalu mendengus lagi, memutar tubuhnya ke kiri lalu -
"Baekhyun hyung, kau didalam?"
"Ah ya!" Baekhyun hampir saja terjungkal karena terkejut
Pintu kamarnya terbuka bersamaan dengan Jongin yang masuk ke kamarnya "Hyung, kau baik-baik saja?"
Baekhyun mengangguk sambil membenarkan posisi duduknya
Jongin melangkah mendekat "Untuk yang kemarin aku minta maaf, seharusnya aku tidak meninggalkanmu"
Baekhyun tertawa renyah "Aku yang memintamu untuk pergi, jangan merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku"
Jongin menunduk "Itu salahku, seharusnya aku mengantarmu kembali ke rumah lebih dulu, kenapa aku baru memikirkannya sekarang?"
Baekhyun menarik pergelangan tangan Jongin, menuntun anak itu agar duduk disampingnya "Aku akan sangat marah jika kau terus merasa bersalah seperti ini, berhentilah!"
Jongin mengangkat wajahnya "Aku sangat takut saat melihatmu tergeletak dijalan-"
Baekhyun mengerjap "Tunggu, kau melihatku? Kau kembali kesana?"
Jongin mengangguk "Aku juga melihat seseorang, mungkin dia yang menyerangmu, aku tidak tahu karena saat aku sudah sangat dekat ia menghilang"
Itu Chanyeol, dia tidak menyerangku
Baekhyun menatap Jongin penuh selidik "Jangan bilang kalau kau yang membawaku kembali kerumah"
Jongin kembali mengangguk "Aku yang membawamu, kenapa hyung terlihat tidak menyukainya?"
Baekhyun menggeleng "Tidak, terimakasih Jongin"
"Ya, hyung. Sekali lagi aku minta maaf"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, entah apa alasannya sekarang ia merasa gugup "Jongin, bisa kau ceritakan padaku tentang apa yang kau lihat?"
Jongin mengangguk pelan, terlihat sedikit ragu "Setelah aku berhasil menyelamatkan seseorang yang berteriak minta tolong itu, aku langsung kembali ketempat aku meninggalkanmu, tapi kau tidak disana. Lalu aku ingat, aku memintamu untuk kembali ke supermarket jadi aku berjalan kearah sana dan aku melihatmu tergeletak ditrotoar bersama seseorang, ia berteriak tapi tak lama ia tertawa lalu ia menangis dan ia menggeram, aku berjalan tanpa suara kearahnya tapi dia bisa mendengarku dan ia menghilang, itu terlalu cepat, aku tidak bisa mengejarnya, bahkan aku tidak bisa melacak keberadaannya, kau tidak sadarkan diri jadi aku langsung membawamu pulang"
Jika itu bukan Chanyeol, lalu kemana ia pergi?
. .
" ... "
"Baekhyun"
" ... "
Kyungsoo mengetuk-ngetuk mangkuk sup Baekhyun dengan sendoknya "Baek, bisakah kau berhenti melamun dan habiskan makananmu?"
Baekhyun menggidik, ia mengaduk supnya dan sadar kalau itu sudah mulai mendingin "Ah, maaf" ia menyendokan satu suap penuh kedalam mulutnya "Ini enak sekali, Kyungsoo-ya"
"Sesuatu menganggu pikiranmu, heh?"
"Tidak" Baekhyun berbicara dengan mulut yang penuh makanan
Jongdae dan Sehun berjalan santai menghampiri mereka, menarik kursi kosong disisi kiri dan kanan Baekhyun lalu duduk disana
"Kyungsoo, aku juga ingin sup!" Jongdae mendekatkan mangkuk kosong pada Kyungsoo
Kyungsoo menatapnya sekilas lalu mengalihkan kembali pandangannya pada objek lain
"Yah!"
Kyungsoo mendengus "Kau tahu tidak apa fungsi dari kedua kaki dan tanganmu?"
Jongdae cemberut sedangkan Baekhyun dan Sehun mati-matian menahan tawa mereka
Lalu tiba-tiba hening
Baekhyun melihat raut wajah teman-temannya berubah menjadi sangat serius, bahkan Sehun yang tertawa disebelahnya menjadi diam seketika
"Ada apa?" Baekhyun bertanya dengan hati-hati
Pegangan Kyungsoo pada sendoknya menguat membuat benda itu bengkok bahkan hampir patah "Sehun, jika kau juga mendengarnya segera beritahu Joonmyeon hyung"
Sehun mengangguk dengan kaku lalu berjalan menuju kamar Joonmyeon
Baekhyun menjadi sangat gugup "Bisakah kalian beritahu aku apa yang terjadi?"
"Kehilangan menampakan sisi terlemahmu"
"Itu pesan dari red force" Jongdae tersedak, ia terlalu takut
Baekhyun berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba
Kyungsoo menghadang Baekhyun yang hendak pergi entah kemana "Kemana kau akan pergi?"
Baekhyun menekan pundak Kyungsoo sekuat tenaga "Aku harus menemui orangtuaku"
Kyungsoo menepis lengan Baekhyun "Tetap disini, Baekhyun!"
"Tidak!" Baekhyun menjambak rambutnya sendiri "Red force sialan itu mengincarku, sudah pasti pesan itu ia tujukan padaku! Dan kau memintaku untuk tetap diam disini?!"
Jongdae menarik Baekhyun menjauh, melihat wajah memerah Kyungsoo membuatnya sedikit khawatir, jika emosi Kyungsoo sudah terpancing siapapun tidak ada yang bisa menghentikannya
"Baekhyun, bisa saja pesan itu hanya untuk membuat kita merasa takut, kau berlebihan"
"Apa katamu? Berlebihan?" Baekhyun menepis lengan Jongdae yang mengukungnya "Menghawatirkan keluargamu yang nyawanya bisa diambil kapan saja itu berlebihan?" ia berdecih
Kyungsoo menggeram "Hentikan Baekhyun"
"Lalu kau akan apa?" mata Baekhyun memerah karena airmata yang mulai menggenang dipelupuknya "Apa yang akan kau lakukan jika red force benar-benar membuatku kehilangan orangtuaku, kau akan mengganti nyawa mereka? Kau tidak bisa, sialan! Kalian tidak bisa mengganti nyawa mereka!" Baekhyun mengusap wajahnya yang mulai basah oleh airmata, isakan satu persatu keluar dari bibirnya
Jongdae menghela napas kasar "Baekhyun-ah!"
Jongdae terbelalak saat melihat Kyungsoo terjatuh ke lantai karena Baekhyun mendorongnya dengan sangat kuat, Jongdae membantu Kyungsoo untuk berdiri, disaat itu pula Baekhyun segera berlari
"Jongdae, aku akan mengejar Baekhyun dan kau tetap disini, jika ada yang bertanya katakan saja aku dan Baekhyun pergi tidak jauh dari rumah"
. .
Baekhyun berlari menyusuri jalanan yang sudah lama sekali tidak ia lewati, mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya, yang Baekhyun pikirkan hanyalah bagaimana ia bisa bertemu orangtuanya. Baekhyun berlari sekencang yang ia bisa, tidak perduli dengan airmata yang masih mengalir dipipinya
Langkahnya berhenti ketika melihat bangunan sederhana tempat ia tinggal dulu, Baekhyun berhasil, ia mengetuk pintu kayu yang mulai usang itu beberapa kali dengan napas tersenggal, jika saja diketukan terakhir pintunya tetap tidak terbuka maka Baekhyun akan nekat mendobraknya, tapi niatnya ia urungkan ketika perlahan pintu itu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang kini menatap Baekhyun heran
Baekhyun kembali menangis"Ibu, kau baik-baik saja?" suaranya tertahan ditenggorokam
"Kau lagi ya? Ada apa, nak?"
Pundak Baekhyun bergetar, mendengar suara lembut Ibunya membuat ia semakin tidak bisa menahan rindu, airmata Baekhyun mengalir semakin deras, tangannya terulur perlahan menggapai tubuh ringkih wanita dihadapannya
"Syukurlah kau baik-baik saja, Ibu" suaranya tersenggal-senggal tapi berakhir dengan intonasi yang baik
Ibu Baekhyun masih diam disana, menerima dengan senang hati pelukan hangat yang Baekhyun berikan, seingatnya anak ini juga pernah datang saat upacara seribu hari kematian anaknya, ia juga menangis seperti ini, memeluknya seperti ini
Yang dilakukan Baekhyun berhasil membuat rongga dadanya menghangat, sedikit mengobati rasa rindunya pada mendiang sang anak
Baekhyun melepas pelukannya ketika ia sadar dengan apa yang ia lakukan "Ah, kau pasti merasa bingung, maafkan aku" ia membungkuk beberapa kali sambil mengusap wajahnya yang basah
Wanita paruh baya dihadapannya tersenyum lembut "Tidak apa-apa, nak" ia menepuk pundak Baekhyun
Suara langkah seseorang terdengar mendekati mereka "Ada tamu, sayang?" itu Ayahnya
Baekhyun membungkuk "Selamat siang, tuan"
Pria dewasa itu tersenyum ramah "Ah, kau ya?"
Baekhyun mencoba untuk tersenyum "Maaf karena mengganggu kalian, aku- aku hanya-"
"Baekhyun!"
Suara Kyungsoo menggema keseluruh penjuru, Baekhyun menoleh dan melihat anak itu sedang berlari ke arahnya dengan wajah kesal bukan main, mati kau Baekhyun!
"Apa aku bilang? Semua baik-baik saja, sial!" Kyungsoo berusaha untuk menghirup udara sebanyak yang ia bisa "Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah ini"
Baekhyun berdehem "Eum Soo, ini Bibi dan Paman yang aku ceritakan padamu"
Kyungsoo hanya menatap pasangan paruh baya dihadapannya dengan mata membulat, Baekhyun tersenyum canggung lalu mendorong kepala Kyungsoo agar membungkuk
Kyungsoo menjauhkan tangan Baekhyun dari kepalanya "Maafkan adikku ini Paman dan Bibi, ia memang selalu tidak terduga seperti itu"
Mata Baekhyun membola "Apa katamu?"
"Tidak apa-apa, nak"
Kyungsoo memutar jari telunjuknya diatas kepala "Dia sedikit terganggu, jika ia datang lagi, jangan buka pintunya"
Baekhyun menganga, Kyungsoo menekan dagu anak itu agar berhenti melakukannya
"Ah, begitu ya? Tapi ia kelihatan sehat"
"Aku memang sehat!" Baekhyun berteriak dan itu membuat semua orang terkejut
Kyungsoo merangkul pundak Baekhyun sambil mengusap wajahnya beberapa kali "Tidak apa-apa, ayo kita pulang, kau belum minum obatmu hari ini"
Mata Baekhyun berkedut, rasa sedihnya menguap entah kemana digantikan dengan keinginan memukul kepala Kyungsoo dengan sepatunya
. .
"Kehilangan membuatmu lemah"
Sehun menoleh pada Chanyeol yang barusan bergumam
"Joonmyeon hyung mengurung dirinya diperpustakaan setelah mendengar pesan itu, kau tahu sesuatu?"
Yang paling muda menggeleng "Aku tidak tahu"
Alis Chanyeol terangkat "Kenapa kau terlihat tidak nyaman?"
Sehun melipat kedua lengannya didepan dada "Entah, rasanya sesuatu mengganggu pikiranku"
Chanyeol tersenyum tapi itu terlihat ganjal dimata Sehun "Kau tahu dimana Baekhyun?"
Sehun menatap tajam Chanyeol yang kini berdiri sedikit menjauhinya "Baekhyun hyung sedang pergi bersama Kyungsoo hyung"
Chanyeol mengangkat bahunya "Kehilangan menampakan sisi terlemah semua orang, ingat saat Kris hyung memutuskan untuk meninggalkan kita?" Chanyeol memasukan satu tangannya kedalam saku celana
"Semua orang menghormatinya, ia mendapat perhatian dari semua orang, saat ia pergi kita menjadi sangat terpuruk dan saat itulah musuh pertama kita muncul" Chanyeol memutar tubuhnya menghadap Sehun "Sudah mendapatkannya?"
Mata Sehun membola "Baekhyun hyung" ia bangkit dari duduknya
. .
Baekhyun menjaga jarak dari Kyungsoo yang terus mendekatinya, Baekhyun tidak akan melupakan ucapan Kyungsoo dihadapan orangtuanya, apa-apaan itu? memang tidak ada alasan yang lebih bagus selain mengatai dirinya terkena gangguan jiwa?
Baekhyun mendengus
Kyungsoo berdecih "Sudah merasa lebih baik saat tahu kalau orangtuamu baik-baik saja?"
Baekhyun mengabaikannya
Kyungsoo menghela napas "Aku melakukannya demi keselamatan mereka, Baek"
"Dengan menyebut diriku sakit jiwa dihadapan orangtuaku sendiri?"
"Kau tidak mengerti" gigi Kyungsoo bergretak "Jika kau terus berada disekitar mereka, keselamatan mereka juga terancam, musuh bisa datang kapan saja Baekhyun!"
Baekhyun menatap Kyungsoo dari ujung matanya
"Jangan korbankan siapapun, jangan lagi, jangan seperti diriku"
"Soo-"
"Cukup saudaraku saja yang merasakan akibat dari kelalaianku, aku tidak mau ada nyawa yang terenggut lagi, orangtuamu harus tetap hidup, hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawa mereka"
Baekhyun menggigit bibirnya, ia terlalu lelah untuk kembali menangis "Aku rasa, kita butuh sedikit minum"
Kyungsoo berdecih "Kau yang traktir" ia berjalan mendahului Baekhyun
Baekhyun merotasi matanya sambil menarik Kyungsoo yang berjalan ke arah sebaliknya dari tempat yang mereka tuju "Ke arah sini, kau bodoh!"
"Yah!"
.
Sehun terus berlari, mencoba menemukan keberadaan Baekhyun
.
Baekhyun dan Kyungsoo berdiri didepan kedai milik Luhan, mereka kurang beruntung karena tepat saat mereka datang paman Xi sudah menutup kedainya, Baekhyun lupa kalau ini akhir pekan, pasti tadi kedai mereka sangat ramai
"Kita bisa cari tempat lain" Kyungsoo memberi tanda pada Baekhyun untuk pergi
Baekhyun mengangguk lalu berjalan dibelakang Kyungsoo saat menyebrang
.
Langkah kaki Sehun terhenti saat ia berhasil menemukan mereka yang sedang menyebrang jalan, Baekhyun dan Kyungsoo baik-baik saja, ia menghembuskan napas lega
"Terimakasih, dewa"
Sehun berjalan mendekati mereka dengan langkah yang terasa ringan
Sehun melihat Luhan berdiri tidak jauh dari kedainya, ia menyerukan nama Baekhyun dengan lengan yang melambai, Sehun tanpa sadar tersenyum
.
"Baekhyun!" Baekhyun menoleh ketika mendengar suara Luhan memanggilnya, ia melihat Luhan melambaikan lengannya disebrang jalan sana
Baekhyun ikut melambaikan lengannya "Luhan?"
Baekhyun melihat Luhan berjalan mendekat, lampu penyebrangan masih berwarna hijau jadi Baekhyun tidak menghentikannya
Luhan sedikit berlari, entah kenapa ia merasa sangat bersemangat, ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Baekhyun
"LUHAN BERHENTI!"
Luhan mengernyit heran ketika mendengar teriakan Baekhyun, ia mendengar suara ribut lain, suara kelakson mobil dan rem dan-
BUGHH
Tubuh Luhan terhempas akibat mobil besar yang menabraknya
.
Sehun membeku ketika melihat tubuh Luhan yang bersimpah darah tergeletak dihadapan kakinya, ia mundur beberapa langkah
"Luhan" tenggorokannya terasa sangat kering saat menyebut namanya
Kakinya tidak bisa menopang bobot tubuhnya sendiri, ia terjatuh dengan lutut sebagai penyangga "Luhan" ia ingin tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Luhan
Mata Sehun tidak berhenti berkedip karena airmata terus saja datang, itu menghalangi penglihatannya, Sehun tidak ingin menangis dihadapan Luhan tapi ia tidak bisa menahannya
"Kau kalah"
Pasti rasanya sangat sakit "Luhan" ia merangkak mendekat pada Luhan, mendekap tubuhnya, mengusap darah yang mengalir dari belakang kepalanya "Kau- bertahanlah, jangan tutup matamu, kau dengar aku?"
Mata Luhan bergerak
"Bagus, jangan tutup matamu, aku akan membawamu-" Sehun terisak "-aku akan membawamu pada Yixing hyung, Luhan kau percaya padaku 'kan? Kau akan baik-baik saja selagi kau membuka matamu"
.
"Luhan hyung!"
Kyungsoo menahan Baekhyun yang histeris ditempatnya
Kyungsoo lihat langit mulai menggelap, burung gagak berterbangan diatas kepalanya, suasana menjadi semakin buruk karena orang-orang berteriak ketakutan, dikejauhan ia melihat pusaran angin datang mendekat ke arah mereja
Kyungsoo sedikit menjauh dari Baekhyun, ia mengangkat lengannya dan seketika tubuh Baekhyun terkurung didalam bangunan tanah "Maafkan aku, kau harus tetap disini, ini bisa melindungimu"
"Kyungsoo-ya! Aku ingin melihat Luhan!"
Kyungsoo mengabaikan teriakan Baekhyun, ia berlari, Sehun pasti disekitar sini, Sehun pasti melihat apa yang terjadi pada Luhan
Benar saja, Sehun tengah mendekap Luhan sambil terisak, itu menyakiti Kyungsoo, Sehun tidak seharusnya merasakan hal seperti ini
Sehun mengecup kedua mata Luhan
Bibir Luhan terbuka, ia mengisyaratkan sesuatu tapi Sehun tidak cukup pintar untuk mengerti
"Sehun hentikan" suara Kyungsoo menggema ditelinga Sehun "Sehun, kau bisa membahayakan banyak nyawa!"
Kyungsoo melihat pusaran angin itu semakin mendekat dan semakin kuat, Kyungsoo berjalan mendekat ke arah Sehun yang masih menangis
Sehun tidak mendengar apapun, kepalanya kosong, tidak ada hal yang ia pikirkan selain keselamatan Luhan
Tangan Kyungsoo mengepal, pusaran angin itu mulai menghancurkan beberapa bangunan dan rumah warga, tidak ada pilihan lain, Kyungsoo menghembuskan napas untuk meyakinkan dirinya kalau pilihan ini tidak salah sama sekali
"Maafkan aku, Sehun" ia menarik gumpalan tanah dari kejauhan lalu menghantamkannya pada punggung Sehun
Dekapan Sehun pada Luhan terlepas, mulutnya mengeluarkan sangat banyak darah segar karena rasa sakit yang menghantam punggungnya tidak tertahankan, ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya, merangkak menuju Luhan yang tergeletak sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri didekat jasad Luhan
Pusaran angin raksasa itu menghilang, Kyungsoo berhasil, ia berhasil melaksanakan kewajibannya, ia menyelamatkan banyak nyawa. Kyungsoo merasa kebas disekujur tubuhnya lalu tak lama ia limbung
Hal terakhir yang ia lihat sebelum benar-benar tidak sadarkan diri adalah Jongin dan Yixing yang mengangkat tubuhnya
. .
. .
Baekhyun menolak melihat saat peti berisi jasad Luhan mulai dimasukan kedalam tanah, ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis tapi matanya menolak perintah yang ia berikan, pipinya sudah basah. Sepasang tangan mengusap punggungnya dengan lembut "Terimakasih" ia berbisik pada Chanyeol
Paman Xi membacakan puisi terakhirnya untuk Luhan, wajahnya menyiratkan kesakitan yang teramat dalam, suara pria paruh baya itu bergetar hebat tapi beliau mampu menyelesaikannya dengan sangat baik
Satu persatu pengantar jenazah pergi dan hanya menyisakan beberapa sanak saudara keluarga Xi
Chanyeol menarik dengan lembut tangan Baekhyun agar anak itu mau segera pulang dan beristirahat, Baekhyun melihat teman-temannya kecuali Sehun -karena Sehun tidak mau datang- menunggunya, mereka tahu kalau Luhan juga sangat dekat dengan Baekhyun dan pasti Baekhyun sedang sangat terpuruk sekarang
. .
Sehun menatap kosong Tv dihadapannya, membosankan karena seharian ini semua stasiun hanya menayangkan berita tentang angin puting beliung yang terjadi kemarin
Yixing berjalan mendekat "Kau sudah merasa lebih baik?"
Sehun menggeleng pelan, ia tersenyum miring "Apa kau pikir setelah ini aku akan merasa baik?"
Yixing menghembuskan napasnya "Paman Xi menanyakan keberadaanmu, tadi"
Sehun mengabaikannya, ia beranjak dari sana, Yixing hanya bisa menatap punggung saudara termudanya itu yang semakin menjauh
"Yixing, bisa ikut aku?" Joonmyeon berbicara tanpa menghentikan langkahnya, melewati Yixing begitu saja
Yixing segera bergerak, Joonmyeon membawanya ke arah perpustakaan
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu" Joonmyeon mengunci pintu setelah Yixing masuk kedalam
Joonmyeon mencari sesuatu ditumpukan buku-buku yang tersusun rapih, ia berhenti saat lengannya berhasil mengambil beberapa potong kertas usang yang tersimpan diantara tumpukan buku
Yixing menerimanya, ia melihat tulisan yang sepertinya sudah sangat tua tercetak disana
"Kebencian adalah awal kelahiranku
Kita berdiri diatas tanah yang sama tapi memandang langit yang berbeda, memandang langit yang sama tapi berdiri ditanah yang berbeda
Saat bulan dan matahari bertemu itu akan menutup satu cahaya, membuat satu juta kegelapan
Aku akan datang kedalam mimpi terburukmu"
Kening Yixing berkerut "Apa maksudnya ini?"
"Gerhana matahari total, red force akan benar-benar menampakan dirinya saat gerhana matahari total, waktunya tidak lama lagi" tubuh Joonmyeon membungkuk saat ia menjambak rambutnya
Yixing memandang Joonmyeon khawatir "Meski kita ingin, kita tidak bisa menghindarinya 'kan?"
Joonmyeon mendesis "Tengah malam nanti aku akan pergi"
"Kemana kau akan pergi?"
Joonmyeon menghembuskan napas kasar "Menemui Kris"
. .
Minseok mengetuk pintu kamar Sehun perlahan, ia mendengar suara langkah yang mendekat lalu pintu itu terbuka, Minseok tersenyum lebar
"Kau belum makan sarapanmu" ia masuk ke dalam dengan hati-hati karena takut sarapan yang ia bawa untuk Sehun akan terjatuh "Aku membuat ini untukmu, pasti kau merasa tersanjung 'kan?"
Sehun berdecih "Percaya diri sekali"
Minseok tertawa renyah, ia menaruh makanan itu ke atas nakas disamping tempat tidur Sehun
"Aku tahu kau pasti sangat terpukul"
Sehun menggeleng "Aku tidak ingin membahas ini sekarang, hyung"
"Lalu kapan?" Minseok menatap tajam kearah Sehun "Jika kau tidak mengeluarkan semuanya sekarang, kau tidak akan merasa tenang sampai kapanpun"
Sehun menggigit bibir bawahnya
"Aku tidak melihatmu dipemakaman Luhan"
"Aku tidak ingin hadir disana"
"Aku memang tidak terlalu mengenalnya tapi aku yakin Luhan pasti menunggumu" Minseok menepuk pundak Sehun beberapa kali "Datanglah saat kau merasa sudah lebih baik"
Setelah mengucapkan itu, Minseok berjalan pergi
Sehun menenggelamkan wajahnya ke bantal, sejujurnya ia ingin datang kesana bersama yang lain, tapi jika ia datang bukankah itu artinya ia sudah merelakan Luhan pergi? Tapi hatinya tidak berkata demikian. Sehun menghembuskan napas kasar, mengingat tentang Luhan membuatnya ingin menangis lagi, tapi ia rasa sudah cukup untuk hari ini, ia sudah membuang terlalu banyak airmata
Sehun merasa punggungnya sedikit nyeri saat ia membalikan tubuhnya, matanya ia pejamkan dan airmata berhasil lolos tanpa kendali
"Kehilangan menampakan sisi terlemahmu" Sehun mengangguk setuju dengan kalimat itu "Ini memang benar-benar membuatku terlihat lemah"
Sehun mengusap ujung matanya yang basah, tiba-tiba sebuah pemikiran mengganggunya "Kenapa Luhan? Kenapa Luhan yang harus menjadi korban?"
. .
"Kenapa harus nyawa Luhan yang terenggut?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Baekhyun
Gerakan tangan Chanyeol terhenti, ia menoleh menatap Baekhyun yang tengah memandang lipatan tangannya sendiri lalu tersenyum, lengannya ia ulurkan untuk mengusap puncak kepala Baekhyun
"Kau butuh kunci untuk membuka sebuah pintu, Baekhyun"
"Apa maksudmu?"
"Itu sudah sangat jelas, kenapa kau masih bertanya?"
Kening Baekhyun mengerut
Kunci untuk membuka pintu?
.
.
.
[Tbc]
Iya tau kok aku ngaret, kan janjinya update hari minggu bukan malem senin wkwkwk
Terimakasih buat yang udah mau review, follow, favorite dan baca cerita aku, love yaaaaa ^^
