Baekhyun menghampiri Joonmyeon yang tengah duduk seorang diri didekat pohon yang paling besar, Joonmyeon yang menyadari kehadiran Baekhyun tersenyum lalu memberi ruang untuk anak itu duduk

"Kenapa kau disini?" Baekhyun duduk disamping Joonmyeon

Joonmyeon mengangkat bahunya "Aku.. Hanya ingin- tidak, sebenarnya-" Joonmyeon menggigit lidahnya

Baekhyun menatap Joonmyeon "Itu tidak apa-apa untuk membagi kehawatiranmu dengan yang lain, hyung"

Joonmyeon menghela napas "Ada banyak hal yang aku pikirkan dan banyak hal yang ingin aku ceritakan tapi entah kenapa rasanya sangat sulit"

Baekhyun mengusap lengan Joonmyeon, berharap itu akan membuatnya merasa sedikit lebih baik

Keheningan mengisi mereka untuk beberapa saat

"Siapa itu Zitao?" pertanyaan tiba-tiba Baekhyun mengejutkan Joonmyeon

Joonmyeon menatapnya selama beberapa detik "Bagaimana kau tahu nama itu?"

"Kami bertemu disuatu tempat" kepala Baekhyun jatuh ke atas paha Joonmyeon "Seseorang membawaku padanya"

Joonmyeon tidak mengeluarkan sepatah katapun setelah itu, terlalu bingung

"Zitao bukan orang yang bisa diremehkan, kurasa" Baekhyun bergumam sambil menyamankan posisi kepalanya

"Ya, dia memang" Joonmyeon menatap lurus pepohonan yang terbentang tanpa ujung, ia meyakinkan dirinya untuk bicara "Seharusnya Zitao bersama kita"

Baekhyun merasakan usapan lembut diatas kepalanya

"Beda denganmu yang namanya tertulis dipohon kehidupan, tidak ada yang tahu kalau Zitao akan terlahir dengan kekuatan sehebat itu" Joonmyeon melanjutkan

Baekhyun mengangguk pelan "Apa itu ada hubungannya dengan Kris?"

Usapan dikepalanya terhenti, Baekhyun tersenyum kecil sembari menuntun lengan Joonmyeon untuk kembali bergerak diatas kepalanya "Kau tidak perlu menyembunyikan apapun, hyung"

"Maaf" Joonmyeon bergumam "Kris yang memintaku untuk merahasiakannya" ia menghela napas "Kris sendiri mungkin tidak akan tahu kalau ia tidak bertemu langsung dengannya"

"Aku ingin tahu segalanya tentang Zitao" Baekhyun memutar tubuhnya, ia melihat langit yang dipenuhi bintang dan kehawatiran diwajah Joonmyeon sekaligus "Bolehkah?"

"Yang aku tahu, Zitao juga berbahaya" Joonmyeon kembali menatap Baekhyun "Terakhir aku bertemu dengannya, ia masih memiliki ambisi untuk mengalahkan Red force, tidak seperti kita yang menginginkan kedamaian Zitao ingin mengalahkannya agar ia bisa menguasai dunia"

"Ia serakah"

"Ya" Joonmyeon mengangguk setuju dengan penilaian Baekhyun tentang Zitao "Ia akan mendapat banyak keuntungan saat namanya dikenang sebagai pahlawan"

"Jadi siapa yang harus kita kalahakan lebih dulu?"

"Zitao dan Red force sama-sama kuat, kita tidak akan bisa berada diantara mereka" Joonmyeon tersenyum kecil "Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka lebih dulu"

Baekhyun bergumam "Jadi kita tidak melakukan apapun?"

"Tugas kita untuk mengalahkan Red force, bukan Zitao" Joonmyeon mengusap anak rambut Baekhyun yang menutupi keningnya "Red force tidak akan kalah kecuali oleh orang yang namanya tertulis dipohon kehidupan"

"Itu aku?"

Joonmyeon mengangguk "Tidak ada kecuali dirimu"

.

Tubuh Chanyeol mengapung diatas hamparan air danau yang tenang, ia menatap satu lengannya yang lama kelamaan menampakan garis-garis merah yang mengeluarkan percikan api mengikuti urat nadinya. Jika awalnya Chanyeol akan berteriak ketakutan, kali ini ia hanya membiarkannya. Katakanlah Chanyeol sudah terbiasa

Bibirnya tanpa sadar menggumamkan satu nama "Kris" orang yang ia ingat sebagai penyelamat dan kehancuran hidupnya

Kepergian Kris berdampak sangat buruk pada dirinya, Chanyeol selalu merasa sendiri karena hanya Kris yang peduli. Bahkan Minseok sekalipun, mereka tidak pernah melihatnya, yang mereka pedulikan hanyalah Baekhyun dan Baekhyun dan Baekhyun, seseorang yang katanya ditakdirkan untuk menyelamatkan mereka dan dunia

Chanyeol terkekeh "Anak itu bahkan tidak punya kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri"

Chanyeol ingat saat pertama kali Kris membawanya ke rumah, mereka semua tersenyum hangat menyambut kedatangan Chanyeol, tidak ada yang tidak Chanyeol dapatkan dirumah itu. Kris selalu disampingnya, mengajarinya untuk mengendalikan kekuatan yang ia miliki, Kris berperan sebagai pemimpin dan hyung untuknya

Kris mempercayakan semua padanya karena ia percaya bahwa Chanyeol lah orang terakhir itu, seseorang yang ditulis akan menyelamatkan mereka

Sampai hari itu tiba, saat lonceng perang berbunyi ditengah kekacauan

Kris memang selalu menolak perang, bukan karena ia tidak mampu, hanya saja ia tidak ingin melihat orang-orang yang tidak bersalah terkena imbas dari pertumpahan darah ini. Kris melakukan segalanya agar perang tidak pernah terjadi dan MAMA mendengar permohonanya, Ia memusnahkan semua musuh mereka dan sebagai imbalannya Ia meminta Kris untuk mengasingkan diri

Chanyeol tidak habis pikir saat Kris menyetujui itu

Chanyeol sangat marah sampai ia tidak bisa mengendalikan dirinya, Chanyeol membakar semua yang ia lihat, saat itulah ia sadar kalau ada sesuatu didalam dirinya, sesuatu yang mengendalikannya. Chanyeol berlari ditengah kobaran api sampai ia menemukan genangan air, ia melihat pantulan wajahhnya disana, Chanyeol berteriak ketika melihat mata ke abuannya berubah menjadi merah

Chanyeol berteriak tapi pantulan wajahnya menunjukan kalau ia tengah tertawa

Semuanya menjadi semakin membingungkan saat tiba-tiba Joonmyeon membawa Baekhyun ke tengah-tengah mereka, mengatakan kalau ternyata Baekhyun yang akan menyudahi peperangan

Chanyeol tersadar dari lamunannya saat melihat telapak tangannya mengeluarkan percikan api yang lebih besar, ia memasukan lengannya kedalam air, bukannya menghilang api itu malah menjalar diatas permukaan danau dan langsung membakar habis pohon-pohon yang ada disekitar sana

. .

Suara kicauan burung membangunkan Baekhyun, ia melihat yang lain tengah bersiap dengan alat berburu yang Kyungsoo dan Jongdae buat kemarin

"Jangan sampai kau terkena ujung tombak ini, berbahaya karena Kyungsoo menaruh terlalu banyak racun" Jongdae menjelaskan pada Sehun dengan mata yang mendelik tajam pada Kyungsoo

Sehun mengangguk patuh lalu pamit untuk mulai berburu

Kyungsoo merotasi matanya "Itu tidak akan sampai membunuhmu"

Baekhyun menghampiri mereka, merasa sedikit malu karena ia yang paling telat bangun "Apa aku bisa membantu sesuatu?"

"Tidak" Jongdae dan Kyungsoo berseru

Baekhyun menatap mereka kesal

Kyungsoo memutar bahu Baekhyun "Kembali tidur dan bangun saat semuanya sudah siap"

Baekhyun menepis lengan Kyungsoo "Aku ingin ikut"

Kyungsoo menggeleng

"Aku juga ingin membantu kalian"

"Kau sudah banyak membantu" Jongdae tersenyum, entah meledek atau apa

Baekhyun balas tersenyum tapi ia tetap tidak berhenti "Aku bisa memanah"

"Kau terlihat meragukan"

"Aku bisa memancing ikan, ayo kita cari sungai"

"Memancing akan memakan banyak waktu"

"Kalau begitu aku akan menyelam"

"Kau bahkan tidak bisa berenang!"

Kyungsoo mendengus karena suara berisik Jongdae dan Baekhyun yang tidak kunjung berhenti, kebetulan karena Kyungsoo melihat Chanyeol yang datang dengan wajah lelahnya

"Chanyeol!" Kyungsoo berseru "Temani Baekhyun mencari kayu bakar, ya?"

Baekhyun mengerang "Mencari kayu bakar itu membosankan"

"Tidak ada protes" Kyungsoo memberikan Baekhyun dan Chanyeol masing-masing seutas tali

Chanyeol tertawa saat melihat wajah murung Baekhyun "Aku lihat ada banyak kayu kering dan tempatnya tidak terlalu jauh dari sini"

Yixing menghampiri mereka "Aku dan Jongin ke arah barat, siapa yang mau ikut bersama kami?"

Jongdae menggeleng "Aku dan Kyungsoo akan ke arah selatan, semalam kami mendengar banyak suara dari sana, entah itu kijang atau apa"

"Baiklah" Yixing mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun, menatapnya agak lama

Chanyeol menarik Baekhyun untuk lebih dekat lalu menggenggam lengannya "Baekhyun akan bersamaku, mencari kayu bakar"

.

Yixing dan Jongin terus berjalan menyusuri hutan yang jalanannya semakin terjal, sepertinya mereka masuk terlalu dalam

Jongin menahan langkah Yixing dengan sebelah lengannya, ia sedikit merundukan tubuhnya untuk mengintip dicelah dedaunan, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ia melihat seekor rusa yang tengah mengunyah buah mirip seperti berry, Jongin sudah bersiap-seiap membidik dengan tombak kecil yang ia pegang tapi ia membatalkan niatnya setelah melihat kijang itu tiba-tiba ambruk ke tanah, tubuhnya kejang sebelum akhirnya tidak bergerak sama sekali

Mereka sedikit berlari untuk memeriksanya, Yixing berlutut dengan telapak tangan yang menyentuh kepala hewan malang itu

"Rusa ini memakan buah yang sangat beracun"

"Aku pikir itu buah berry" Mata Jongin membola "Kasihan sekali, kenapa kau tidak coba untuk hidupkan dia kembali?"

Yixing menggeleng "Itu akan berbahaya karena racun dalam tubuhnya tidak akan hilang" ia berdiri "Aku akan mengubur rusa ini, bisa bantu aku?"

Jongin mengangguk, ia mengangkat kaki belakang rusa itu sedangkan Yixing di sisi lainnya, mereka menemukan sebuah kubangan yang lumayan besar dan memutuskan untuk mengubur rusa itu disana. Setelah semua selesai, mereka kembali menyusuri hutan

Rasanya aneh karena mereka tidak menemukan satu hewanpun yang tinggal disekitar sana, meskipun ada mereka pasti sudah menjadi bangkai

Yixing menapakan kakinya lebih kuat ke atas tanah, ia merasakan kejanggalan disekitar sini

Dan benar saja

"Aku merasakan kematian"

Jongin menganga "Hyung, apa yang kau katakan? Jaga bicaramu!"

"Bukan kematian itu maksudku!" Yixing berdecih "Ikuti aku"

Yixing memimpin jalan, mereka kembali melihat beberapa bagkai hewan yang tergeletak dan pepohonan yang daunnya mengering hampir mati

Diujung sana, mereka melihat danau yang sangat luas. Airnya berwarna hitam, pohon dan ilalang yang mengelilinya habis terbakar

"Seseorang melakukan ini? Tapi aku yakin tidak ada penduduk yang tinggal disekitar sini" Jongin hendak melangkah kedepan tapi Yixing menahannya

"Tidak" Yixing melangkah mundur "Mereka tidak akan jadi beracun jika hanya terbakar"

Yixing menutup kedua matanya, lengannya perlahan bergerak ke atas, tumbuhan disana perlahan mulai kembali hidup dan berwarna hijau tapi tidak dengan air didalam danau itu yang masih tetap hitam. Yixing pikir itu akan berhasil tapi nyatanya tak lama setelah ia membuka mata, mereka kembali mati

Yixing memungut sebatang ranting lalu memberikannya pada Jongin "Buat garis mengelilingi danau ini"

Jongin mengangguk patuh, tak butuh waktu yang lama ia sudah kembali berdiri disamping Yixing dan menyelesaikan apa yang Yixing tugaskan "Selesai"

"Terimakasih"

Dari garis itu muncul cahaya berwarna putih kehijauan

"Aku tidak tahu apakah ini akan bertahan lama, tapi setidaknya ini akan menahan racun agar tidak terlalu cepat menyebar"

"Apa kita harus memberitahukan hal ini pada yang lain?"

Yixing menggeleng "Tidak, tetap jadikan ini rahasia. Joonmyeon tidak akan senang jika ia mengetahui ini"

Yixing menatap danau itu, matanya memancarkan ketakutan, sesuatu dalam dirinya menolak percaya pada apa yang baru saja ia temukan

Jejak Red force

.

Baekhyun hanya memperhatikan Chanyeol yang sibuk memilah ranting karena ia tidak dizinkan untuk membantu, membosankan

Baekhyun mengerang kecil "Aku tidak bisa jika hanya duduk diam disini"

Chanyeol tidak menggubrisnya

Baekhyun kesal karena merasa diabaikan

"Chanyeol-"

"Kau sudah temukan jawabannya?"

"Apa?" Baekhyun menatap Chanyeol heran "Jawaban apa?"

Chanyeol mengikat tumpukan ranting itu dengan tali yang Kyungsoo berikan, Baekhyun masih setia menunggu Chanyeol bicara "Bukankah kau sudah bertemu dengannya?"

Meski Chanyeol memunggunginya, Baekhyun tahu kalau Chanyeol tengah tersenyum

Baekhyun mencoba untuk tertawa, entah mengapa ia merasa takut sekarang "Apa? Bertemu siapa?"

"Kunci" Baekhyun tidak puas dengan apa yang Chanyeol katakan, jadi ia menunggu "Kau sudah berhasil membuka pintunya, jadi bersiaplah"

Chanyeol membawa tumpukan ranting itu diatas punggungnya, ia berjalan untuk kembali ke tempat peristirahatan mereka, meninggalkan Baekhyun yang masih kebingungan dengan pernyataannya barusan

Chanyeol tersenyum miring

Baekhyun segera mengejar Chanyeol "Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"

Chanyeol menggidikan bahunya "Aku hanya ingin mengatakannya" ia berbicara dengan nada yang terdengar dingin

"Chanyeol-"

"Berhenti menyebut namaku"

Kedua alis Baekhyun menyatu "Apa?"

Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun "Berhenti untuk selalu ada disekitarku"

Baekhyun terdiam, ia masih memproses kalimat Chanyeol bahkan saat Chanyeol sudah mulai menjauh

"Chanyeol" Baekhyun terlalu bingung

Apa Baekhyun melakukan kesalahan?

Kemana Chanyeol yang baru saja menggenggam tangannya?

Dengan pikiran yang masih berkecambuk, Baekhyun melanjutkan langkahnya berharap bisa mengejar Chanyeol tapi ia tidak melihat Chanyeol bahkan sampai ia tiba di tempat peristirahatan mereka

"Baekhyun? Kupikir kau sudah kembali"

Baekhyun mengabaikan Minseok, ia melihat tumpukan kayu bakar yang tadi Chanyeol bawa

Baekhyun menatap mereka "Dimana Chanyeol?"

Joonmyeon menggidikan bahunya "Aku baru saja ingin menanyakannya padamu"

"Bukankah kalian tadi pergi bersama?"

Sesuatu bergemuruh dalam dada Baekhyun, rasanya sakit sekali

Sekali lagi ia bertanya pada dirinya sendiri, dimana Chanyeol?

.

Chanyeol belum kembali bahkan sampai langit hampir gelap, Baekhyun tidak bisa untuk tidak hawatir

"Habiskan makan malammu" Sehun mendorong daun yang berisi potongan daging bakar kehadapan Baekhyun

Baekhyun menggeleng pelan "Aku tidak lapar"

Sehun menghela napas "Aku tahu kau menghawatirkannya"

"Chanyeol belum makan apapun sejak tadi pagi"

"Chanyeol hyung pasti baik-baik saja, mungkin ia butuh waktu untuk sendiri"

"Ya" Baekhyun mencoba percaya pada apa yang Sehun katakan

Joonmyeon menghampiri mereka "Kalian beristirahatlah"

Sehun mengangguk lalu bangkit, pusaran kecil angin membawanya terbang ke atas pohon yang sudah ia sulap menjadi tempat istirahat yang nyaman

"Kau juga, Baekhyun"

Baekhyun mengangguk "Aku akan tidur disini"

"Apa tidak apa-apa?" Joonmyeon bertanya hawatir

"Tidak apa-apa, hyung"

"Baiklah"

Joonmyeon menyampirkan selimut yang ia buat dari rerumputan ke pundak Baekhyun lalu meninggalkannya seorang diri disana, Baekhyun membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ia lipat dibawah kepalanya, Baekhyun tidak membiarkan matanya tertutup karena tujuan awalnya memilih tidur disini karena ia ingin menunggu sampai Chanyeol kembali

Baekhyun sudah lelah karena berkali-kali mengganti posisi berbaringnya tapi Chanyeol tidak kunjung menampakan diri. Baekhyun duduk, rasa hawatirnya tidak membantu sama sekali

Kemana Chanyeol?

Matanya mengedar ke sekeliling dan menyipit ketika ia melihat kepulan asap diatas bukit yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka, tanpa berpikir Baekhyun berlari ke arah sana untuk memastikan apa penyebabnya

Kepulan asap tebal benar-benar menghalangi pandangannya

.

Chanyeol menjauhkan lengan dari matanya, ia lihat bintang sudah bersinar dengan terang, jadi ia memutuskan memutar arah untuk pulang

Chanyeol rasa dadanya bergemuruh, sakit sekali. Chanyeol tidak seharusnya merasakan itu karena Baekhyun 'kan? Ia membencinya tapi kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Baekhyun membuat dadanya berdesir

Chanyeol membenci Baekhyun, tapi kenapa ia selalu bersikap seperti Baekhyun adalah segalanya. Chanyeol membencinya, ia harus membencinya

Chanyeol menggeram, kedua tangan dan kakinya mengeluarkan api dan itu mulai merambat diatas rerumputan lalu membakar habis pohon-pohon disana, mata merahnya berkilat penuh kebencian. Chanyeol terus melemparkan bola api ke apa saja yang terjangkau oleh penglihatannya

Api semakin banyak menyebar dengan kepulan asap setinggi langit, Chanyeol tertawa, rasanya menyenangkan melihat pohon-pohon itu terbakar karena dirinya

Chanyeol merasakan kehadiran seseorang "Tepat sekali" ia tersenyum miring

Chanyeol memutar tubuhnya, ia melihat Baekhyun yang bersembunyi dibalik pohon dengan tubuh bergetar hebat. Chanyeol melempar bola api yang tepat mengenai pohon itu, Baekhyun siap untuk berlari menjauh tapi Chanyeol sudah lebih dulu menghadangnya

Baekhyun menahan napas, matanya tidak bisa terbuka karena asap dan kobaran disekitar sana membuat matanya mengeluarkan banyak airmata. Baekhyun menutupi wajahnya, ia terlalu takut untuk menduga-duga hal apa yang akan terjadi setelahnya

Chanyeol siap menyerang, ini waktu yang tepat, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berharga seperti ini lagi. Bunuh dia

Lengan Chanyeol terangkat tinggi dengan bola api yang semakin membesar karena rasa bencinya-

"Chanyeol"

Chanyeol dengar Baekhyun menggumamkan sesuatu

"Chanyeol tolong aku"

Berhenti menyebut namaku

"Chanyeol, aku takut sekali, tolong aku"

Berhenti melakukannya!

Bola api dilengannya perlahan menghilang, Chanyeol menatap kosong Baekhyun yang masih menutupi wajahnya

.

Baekhyun tersedak, ia membuka matanya lebar-lebar, peluh membanjiri sekujur tubuhnya, matanya perih bukan main. Tidak ada hal yang lebih mengejutkan bagi Baekhyun kecuali ia terbangun ditempatnya menunggu Chanyeol

Tadi itu terlalu nyata jika hanya sebuah mimpi

Lengannya meraba-raba sekitar tempat ia duduk, Baekhyun merasakan selimut pemberian Joonmyeon masih menutupi kaki sampai pinggangnya, Baekhyun sedikit berjengit ketika lengannya menyentuh jari-jari seseorang, ia memutar kepalanya

"Chanyeol apa itu kau?" Mata Baekhyun sangat kabur, ia tidak yakin dengan apa yang ia lihat

"Ini aku" Chanyeol menggenggam lengan Baekhyun "Ini aku"

Baekhyun tersenyum, ia mengusap wajah Chanyeol yang basah "Kau baik-baik saja? Kemana kau pergi? Aku menuggumu, kau belum makan sejak tadi pagi-" Baekhyun terkejut bukan main saat bibir Chanyeol mendarat dikeningnya "Chanyeol"

"Jangan terlalu memikirkan keadaanku" Chanyeol berbisik "Aku akan selalu baik-baik saja"

"Mataku tidak bisa melihat dengan jelas" Baekhyun mengedipkan matanya berkali-kali, ia mulai panik karena penglihatannya malah makin memburam

Chanyeol mengusap kening Baekhyun "Kau hanya butuh tidur" ia menarik selimut Baekhyun sampai sebatas bahu "Sekarang tidurlah"

Chanyeol menuntun Baekhyun untuk berbarik, ia membuat lengannya menjadi bantalan kepala Baekhyun

"Maafkan aku" Baekhyun bergumam "Untuk apapun yang aku perbuat hingga membuatmu marah, maafkan aku"

Chanyeol menahan perih ditenggorokannya, seharusnya bukan Baekhyun yang mengatakan itu "Iya, Baekhyun"

Baekhyun tersenyum sebelum menutup matanya

Chanyeol bersyukur karena Baekhyun tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena jika ia bisa, Baekhyun akan melihatnya yang tengah menangis dan lebih buruk lagi ia akan melihat mata kanan Chanyeol yang berwarna merah

.

.

.

[Tbc]

Jadi Red force adalah CHANYEOL wuuhuuuu! . Buat yang mau tanya-tanya seputar Sweet lies atau seputar Nisa silahkan tulis pertanyaan kalian dikolom review yaaaaa, chapter depan aku bakal jawab pertanyaannya ^^

Terimakasih buat yang masih setia sama Sweet lies, jangan lupa mampir di OH! Juga terimakasih buat admin dan owner Chanbaek id club yang udah bantu promosi Sweet lies /Big heart

See yaaaa ^^