"Besok kita akan ke kota?" Baekhyun bertanya dengan suara halus, menghela napas gugup untuk yang ke sekian kalinya
Joonmyeon menyampirkan baju hangatnya di pundak Baekhyun "Semua akan baik-baik saja"
"Aku harap begitu"
. .
Pagi-pagi sekali semua orang sudah bersiap, Joonmyeon meminta yang lain untuk berdiri didekatnya
"Tidak ada cara lain, kita harus membuat sedikit kekacauan" ia menggidikan bahunya "Aku dan Sehun akan membuat ombak besar disetiap pesisir pantai"
"Aku akan membuat gempa bumi" Kyungsoo memberi saran
Joonmyeon bergumam setuju "Tapi jangan sampai membahayakan yang lain"
Kyungsoo mengangguk mengerti
"Dan Chanyeol, bakar hutan yang dekat dengan pemukiman" Joonmyeon tersenyum saat Chanyeol membalasnya dengan anggukan "Jongdae kau bantu Chanyeol untuk menyalakan lebih banyak api"
"Kau bisa mengandalkan aku, hyung" Jongdae tersenyum lebar
"Yixing dan Minseok, berjaga di rumah sakit tempat dimana kita akan mengungsikan seluruh penduduk"
"Jongin tolong kau jaga Baekhyun, aku mengandalkanmu"
"Baik, hyung"
"Jangan ada yang terluka" Joonmyeon menatap tepat dimata mereka satu persatu "Kita akan bertemu lagi di Taman kota, jika itu terlalu jauh menetaplah di Tower Namsan lebih dulu"
Mereka mengangguk serempak, mengambil langkah memisah sesuai instruksi Joonmyeon
Jongin menggenggam lengan Baekhyun "Katakan jika kau merasa lelah, hyung"
Baekhyun mengangguk beberapa kali
"Kita bisa langsung ke Taman kota jika kau mau"
Baekhyun kembali menggeleng "Yang lain menggunakan kaki mereka untuk berjalan, kita juga harus melakukannya"
Jongin menghela napas "Baiklah"
.
Tidak ada lagi pepohonan tinggi yang menghalangi pandangannya, Baekhyun mulai melihat beberapa rumah dipinggir jalan yang ia lalui, juga beberapa orang yang tengah menanam berbagai macam sayur dan buah
Baekhyun menatap mereka yang tengah tersenyum satu sama lain, hatinya terasa sakit saat membayangkan senyum itu tidak lama lagi akan menghilang, digantikan dengan rasa takut
Jongin mengusap pundak Baekhyun yang menegang "Hyung?"
Baekhyun memeluk lengannya sendiri "Kita harus bergerak lebih cepat"
Jongin menarik Baekhyun lebih dekat, merangkul pundaknya "Tutup matamu"
Baekhyun menuruti perintah Jongin, saat ia membuka mata, kedai milik Ayah Luhan menyapa indra penglihatannya. Kedai itu masih berdiri kokoh, hanya saja terlihat kotor dan usang, tidak ada siapapun disana, di pintu kaca itu terdapat tulisan tutup yang sepertinya tidak pernah disentuh oleh siapapun
"Bisa kau tunggu disini? Aku ingin membawa orang-orang ke rumah sakit tempat Yixing dan Minseok hyung berada"
Baekhyun mengangguk "Jaga dirimu"
"Jika sampai mata hari tenggelem aku belum kembali, hyung bisa pergi ke taman kota, itu tidak terlalu jauh dari sini"
Jongin berjalan ke belakang pohon ditrotoar jalan lalu ia menghilang
Baekhyun berjalan lebih dekat ke arah kedai Luhan, mendudukan dirinya dilantai
Baekhyun lihat ada asap mengepul dibalik gedung tinggi yang tidak terlalu jauh dari tempatnya disertai suara gemuruh petir, tanah juga bergetar begitu kuat. Orang-orang mulai berlari tak menentuk arah, ke manapun, demi menyelamatkan diri
"Nak, ayo pergi dari sana!"
Baekhyun mendongak, ia lihat pria paruh baya mengulurkan lengannya, Baekhyun menggeleng "Aku baik-baik saja"
Pria itu malah berjalan semakin mendekat "Bangunan ini bisa saja runtuh dan menimapmu, ayo cari tempat yang lebih aman"
"Aku sedang menunggu temanku, aku baik-baik saja"
.
Kyungsoo berdiri didataran tertinggi daerah itu, ia lihat beberapa orang tengah berlalu lalang
"Maafkan aku" ia bergumam, rasa bersalah menyelimuti dirinya
Hanya dengan menggeser telapak kakinya, tanah tempat ia berpijak bergetar dengan begitu hebatnya bahkan sampai menimbulkan retakan
Kyungsoo lihat orang-orang berlarian dengan wajah yang sangat ketakutan
Jongin muncul dibelakangnya "Sekarang bantu aku, hyung"
Kyungsoo mengikuti langkah Jongin, mereka berlari di antara ratusan orang
Jongin dengan cepat merentangkan lengannya dan dalam hitungan detik mereka menghilang, semuanya, tanpa kecuali
.
Sehun membuat pusaran angin yang sangat besar untuk melindungi tubuhnya dan Joonmyeon dari hempasan ombak yang baru saja mereka ciptakan
"Tidak ada yang terluka 'kan?" Joonmyeon bertanya di sela-sela napasnya yang tersenggal
Sehun mengangguk meski ia ragu "Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Kita cari yang lain lebih dulu"
"Baiklah"
Angin yang Sehun buat bergerak, membawa mereka menjauh dari tengah laut menuju dataran
.
"Chanyeol-ah, rambutmu?"
Jongdae menunjuk rambut Chanyeol yang perlahan berubah menjadi merah
Chanyeol tersenyum "Tidak apa-apa, ini karena aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku"
Jongdae menarik pundak Chanyeol ketika ia hendak membuat bola api "Kalau begitu berhenti"
Chanyeol menggeleng "Aku baik-baik saja"
"Lagi pula ini sudah cukup, berhenti" Jongdae berkata dengan tegas "Jika kita membuat lebih banyak api, ini bisa saja menyebar sampai ke kota"
Chanyeol melempar satu bola api terakhir lalu menuruti perkataan Jongdae untuk berhenti, juga karena kepalanya mendadak terasa pening "Lebih baik kita pergi dari sini"
"Ya, ikuti aku!"
Mereka berjalan dengan Chanyeol yang berada beberapa langkah dibelakang Jongdae keluar dari hutan, keheningan yang menemani mereka
Chanyeol lihat beberapa petunjuk jalan yang terlihat usang memberi tanda kalau mereka hampir dekat dengan kota
"Apa sebaiknya kita langsung ke taman kota?" Chanyeol bertanya
Jongdae mengangguk "Sepertinya, yang lain juga sudah menyelesaikan tugas mereka"
Jongdae dan Chanyeol berbelok dipersimpangan terakhir, jalanan yang awalnya beralaskan tanah kini mulai dilapisi aspal meski masih setapak
Kota yang awalnya padat kini sudah terlihat seperti tidak berpenghuni, kepulan abu karena reruntuhan bangunan masih sangat tebal berterbangan disekitar sana, kendaraan yang ditinggal oleh pemiliknya terparkir sembarangan juga jalanan yang masih basah karena air laut yang naik sampai kota
"Joonmyeon hyung akan sangat marah saat melihat ini" Jongdae bergumam, ia terkekeh pelan di ujung kalimatnya
Chanyeol mengangguk, diam-diam setuju pada ucapan Jongdae. Ia masih sangat ingat saat Joonmyeon meminta untuk tidak ada kerusakan selain hutan yang terbakar karena mereka
Taman kota juga tidak kalah berantakan, masih terdapat banyak genangan air dan bangku-bangku taman yang bergeser dari tempat seharusnya mereka berada
"Chanyeol hyung!" Jongin berlari dengan langkah terseok mendekat ke arah mereka "Jongdae hyung!"
Mata Chanyeol membulat saat melihat wajah Jongin yang babak belur juga ujung bibirnya yang berdarah "Ada apa dengan wajahmu?"
"Baekhyun hyung-"
Chanyeol merasa sesuatu yang tajam menohok dadanya saat nama Baekhyun meluncur dari bibir bergetar Jongin
"Ziato membawa Baekhyun hyung" Helaan napas Chanyeol menjawab Jongin "Aku meminta Baekhyun hyung untuk menungguku, tapi saat aku kembali Baekhyun sudah tidak ada jadi aku mencarinya, didekat sungai Han aku lihat Zitao menarik lengan Baekhyun yang terus memberontak, aku berlari ke arahnya tapi segerombol orang datang dan mereka langsung memukulku"
Chanyeol meremas pundak Jongin "Joonmyeon hyung memintamu untuk menjaganya, bagaimana bisa kau meninggalkan Baekhyun begitu saja?!"
"Maaf- hyung"
Chanyeol melepas pundak Jongin dalam satu hempasan "Jika sesuatu terjadi padanya, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu"
Jongdae menarik lengan Chanyeol "Jangan salahkan Jongin untuk ini, ia meninggalkan Baekhyun untuk membawa yang lain ke rumah sakit"
Chanyeol tidak memperdulikan perkataan Jongdae, ia berlari menuju sungai Han, tempat Zitao menahan Baekhyun
.
"Aku sedang menunggu temanku, aku baik-baik saja" Baekhyun memeluk lututnya semakin dalam
Pria paruh baya menarik lengan Baekhyun tepat sebelum kaca dibelakangnya pecah "Aku sudah memperingatkanmu, ada tempat aman yang tidak terlalu jauh, aku yakin temanmu bisa menemukanmu disana"
Sebelum Baekhyun berbicara, lengannya sudah kembali ditarik, Baekhyun sedikit memberontak tapi pria itu tidak mengindahkannya
Alis Baekhyun menukik tajam kala rambut putih pria itu perlahan menghitam dan memanjang
"Jangan pernah tolak bantuan dari pria dewasa, anak muda" ia tertawa
"Zitao?"
"Halo lagi, Baekhyun"
Baekhyun menapakan kakinya dengan kuat ditanah, mencoba untuk menghentikan Zitao yang terus menarik lengannya tapi itu tidak bekerja sama sekali karena kekuatannya lebih besar dari Baekhyun
Baekhyun mencoba untuk membuat bebatuan disekitarnya bergerak ke arah Zitao tapi ia bisa menghadangnya dengan satu jentikan jari, bahkan batu-batu itu berubah menjadi abu dan terbang karena tiupan angin
Zitao terkekeh "Jadi kau sudah punya kekuatan baru? Tidak lagi merengek pada teman-temanmu, huh?"
"Lepaskan aku, sialan!" Baekhyun berteriak
"Bisakah kau diam?"
"Tidak-"
"Baekhyun hyung!"
Baekhyun menoleh, ia lihat Jongin yang berlari ke arahnya
"Jongin jangan!"
Zitao berdecih "Kenapa sulit sekali membawamu menjauh dari mereka?"
Zitao kembali menjentikan jarinya, dalam hitungan detik segerombol orang sudah mengelilingi Jongin dan langsung menyerangnya. Baekhyun semakin memberontak dalam kungkungan Zitao, ia menangis, merasa buruk karena melihat Jongin yang hampir tidak sadarkan diri akibat pukulan yang bertubi-tubi dan Baekhyun tidak bisa melakukan apapun
Baekhyun memukul lengan Zitao dengan seluruh kekuatan yang ia miliki "Jangan lakukan itu pada Jongin"
Zitao menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk menatap mata basah Baekhyun "Berhenti memberontak maka aku akan melepaskannya"
Setelah mendengar itu Baekhyun tidak lagi bergerak dan berteriak
"Bagus" Zitao tersenyum lalu mengusak rambut Baekhyun
Orang-orang yang menyerang Jongin menghilang semudah mereka muncul
"Hanya ikuti aku, setidaknya aku tidak akan membunuhmu sampai aku bertemu orang yang aku cari"
Zitao kembali menarik lengan Baekhyun menuju sisi sungai Han yang airnya kini berubah menjadi ke cokelatan, lengan Baekhyun diikat kuat dengan seutas tali yang sisi lainnya Zitao ikatkan pada kakinya sendiri
"Lihat dan nikmati pertujukannya, kau pasti akan menyukai ini" ia menginjak lengan Baekhyun dengan sangat kuat setelah mengatakannya
Baekhyun merintih kesakitan tapi Zitao tetap tidak menjauhkan kakinya dari atas lengan Baekhyun
.
Sehun menahan lengan Joonmyeon saat matanya menangkap Chanyeol yang berjalan dengan langkah gusar melewati mereka
"Chanyeol hyung!"
Chanyeol sama sekali tidak mengindahkan panggilan Sehun, ia tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh
"Sehun kau pergi ke taman kota, aku akan mengikuti Chanyeol" Joonmyeon menepuk pundak Sehun
"Tapi hyung-"
"Katakan pada yang lain untuk segera pergi ke rumah sakit"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan menyusul bersama Chanyeol"
Joonmyeon langsung mengambil langkah, mengekori Chanyeol. Alis Joonmyeon mengerut saat sadar dengan warna rambut Chanyeol yang berubah merah dan pakaian yang Chanyeol gunakan tidak seperti yang terakhir kali ia lihat
Joonmyeon mempercepat langkahnya saat Chanyeol tiba-tiba berlari semakin dekat ke arah sungai Han
"Lepaskan" suara tajam Chanyeol mengudara
Joonmyeon terkejut saat melihat Zitao dengan Baekhyun yang meruduk ditanah, ia berlari untuk berdiri didepan Chanyeol, bermaksud untuk melindunginya tapi kakinya seketika membatu saat mendengar ucapan Zitao
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Red force"
Red force?
"Dan siapa yang ikut bersamamu? Pemimpin kalian?" Zitao berdecih lalu setelahnya ia tertawa dengan sangat kencang "Sepertinya ini akan menjadi lebih menarik dari yang aku kira"
Joonmyeon memutar kepala, kakinya seperti tak lagi berpijak pada tanah saat melihat Chanyeol yang berpakaian serba hitam, ke dua bola mata kelabunya berubah menjadi merah dan sekujur tubuhnya diselimuti api yang berkobar
"Chanyeol-ah" Joonmyeon menelan kembali segala kalimat yang ingin ia lontarkan
.
.
.
[Tbc]
Terimakasih buat yang masih setia baca dan review meskipun authornya ngaret melulu ehe ehe ehe
Sampai jumpa di dua chapter terakhir 🙌
