[Mampir yu ke wattpad aku ^^
Nisachu]
. . .
"Apa semua baik-baik saja?" Minseok berlari ditengah kerumunan manusia agar bisa menyusul langkah Yixing
Ia menggeleng "Joonmyeon memberi sinyal bahaya dan ia melakukannya tanpa sengaja"
"Aku juga menerimanya, Jongin dan Sehun juga memanggilku tapi aku tidak bisa pergi" yang lebih tua melihat ke sekeliling, raut wajah ketakutan orang-orang menyapa indra penglihatannya
Yixing mendesah "Apa aku bisa mengandalkanmu?"
"Tidak, jangan pergi kemanapun" Minseok menatap cemas Yixing "Aku mohon"
Yixing mengusak rambutnya sendiri "Kita tunggu sampai matahari terbenam"
.
Joonmyeon berlutut, menurunkan Baekhyun yang ia bawa dipunggungnya
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tapi kau baik-baik saja 'kan?" Joonmyeon mengusap darah yang mengalir dari pelipis Baekhyun
Baekhyun mengangguk lemah, masih berusaha untuk mengatur napasnya yang berantakan
Joonmyeon berdiri untuk memeriksa apa yang terjadi setelah ia membawa pergi Baekhyun saat Zitao lengah karena serangan dari Chanyeol, sejauh ini Zitao hanya terluka dibagian lengan kiri
Baekhyun menarik ujung celana Joonmyeon yang kotor "Apa Chanyeol baik-baik saja? Bukankah seharusnya kita membantunya?"
Joonmyeon menggeleng "Tidak, Baekhyun" ia kembali berlutut "Ini... terlalu rumit"
Suara ledakan menggema dibelakang mereka, sangat kuat bahkan sampai membuat tanah yang mereka pijak bergetar. Joonmyeon rasa tempat mereka berada sekarang kurang aman karena terlalu dekat dengan keberadaan Zitao dan Chanyeol, jadi ia kembali membopong Baekhyun dipunggungnya, berlari setengah membungkuk ke balik pohon yang setengah sisinya hangus terbakar
Baekhyun mengerang saat tubuhnya diturunkan dari punggung Joonmyeon
"Kita akan aman disini, setidaknya sampai kau tidak seburuk ini" Joonmyeon melepas baju hangatnya lalu ia sampirkan di dada Baekhyun
"Maafkan aku"
Ucapan Baekhyun yang tiba-tiba membuat Joonmyeon sedikit heran "Kenapa kau meminta maaf?"
"Aku meminta maaf atas nama Chanyeol, maafkan aku" Baekhyun mengusap pelipisnya yang kembali mengeluarkan darah segar
Tidak, Joonmyeon tidak mau melihat Baekhyun berpura-pura menjadi yang paling kuat. Tanpa diberitahupun, ia sudah mengerti kalau Baekhyun yang paling terluka disini, tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari dihianati seseorang yang paling kau percaya
"Yixing hyung pernah memintaku untuk menjauh dari Chanyeol dan aku membentaknya" Baekhyun menunduk dalam
Joonmyeon mengusap kepalanya, ia tersenyum lemah "Tidak apa-apa, lagi pula siapa yang akan menyangka ini terjadi?"
"Bisakah aku mengelak takdir, hyung?" Baekhyun meraih lengan Joonmyeon "Bisakah aku tidak menjadi orang yang membunuh Red force?"
"Jangan terlalu menekan dirimu"
Baekhyun terkesiap kala melihat tubuh Jongin perlahan muncul dihadapannya, ia tidak sendiri, Kyungsoo dan Sehun ada dibelakangnya
"Jongin, bawa Baekhyun ke tempat Yixing hyung" Kyungsoo tanpa aba-aba memberi komando, Baekhyun menggeleng, menolak secara halus
"Aku baik-baik saja"
Kyungsoo berdecak tidak percaya "Serius? Dengan darah yang mengalir dipelipismu?"
Sehun menahannya yang hampir berlutut, takut tiba-tiba ia memukul Baekhyun atau apapun itu "Ini bukan waktu yang tepat"
.
Zitao mengerang saat lagi-lagi lengan kirinya diserang, lawannya tertawa lantang dengan langkah tajam mendekatinya. Ia bergerak cepat mengangkat lengan untuk menunjukan kehebatannya, sedang Chanyeol hanya menatapnya penuh, tidak menunjukan ketakutannya sama sekali
"Bagaimana bisa?" Zitao berteriak sembari membuka jubah panjangnya lalu melempar itu ke jalanan
Chanyeol kembali tertawa, api ditubuhnya perlahan meredup "Belum waktunya, tidak bisa menunggu lebih lama, huh?" ia melompat, menendang dada Zitao dengan satu kakinya "Akan lebih baik jika aku menyingkirkanmu sekarang, tapi tidak adil namanya, juga, aku tidak akan melawan seseorang dengan kekuatan jauh dibawahku"
Zitao mengerang sekali lagi saat Chanyeol menginjak pergelangan lengannya dan meludahi wajahny
Lalu Chanyeol menghilang bersama kepulan asap hitam yang tertiup angin
.
"Chanyeol hyung pergi"
"Apa?" Baekhyun mengerut pada pernyataan Sehun
"Chanyeol hyung pergi meninggalkan Zitao" ia menjawab dengan mata yang menatap lurus ke depan
Baekhyun hendak bangkit tapi Joonmyeon menahannya "Sekarang kita yang harus pergi"
Baekhyun menggeleng kuat "Tidak, aku harus mencari Chanyeol"
Joonmyeon mencengkram pergelangan lengan Baekhyun "Dia bukan lagi Chanyeol, ia Red force yang berbahaya, yang hampir membunuh Zitao"
"Chanyeol tidak berbahaya"
"Jika itu memang Chanyeol hyung, aku ingatkan kalau ia pernah hampir mencekikmu, hyung" Jongin bersuara
Joonmyeon menarik lengan Baekhyun bersamanya "Bawa kami ke tempat Yixing dan Minseok hyung, Jongin"
Jongin mengangguk patuh
Dima-diam Baekhyun menangis, ia hanya ingin melihat Chanyeol, Chanyeolnya, bukan Red force
Baekhyun hanya ingin bertemu Chanyeol
Hanya dalam hitungan detik mereka sampai disana, Yixing berlari menghampirinya, hanya saja Baekhyun terlalu lemah untuk membuka mata, sebelum Yixing sempat mengatakan satu patah katapun Baekhyun sudah jatuh dilengannya
Jika Yixing tidak salah dengar, Chanyeol adalah kata yang ia ucapkan terakhir kali
"Bawa Baekhyun ke salah satu kamar"
"Tidak ada tempat kosong" Minseok menyahut setelah menyelesaikan suapam terakhir pada bocah perempuan yang tadi merengek padanya "Bawa saja ke ruangan dokter, disana tidak ada siapapun"
Yixing mengangguk, mengangkat Baekhyun dilengannya lalu melangkah ke teempat yang Minseok unjukan
"Sesuatu terjadi? Kau tidak sengaja mengirim sinyal bahaya tadi"
Joonmyeon mengangguk "Sesuatu itu sangat buruk"
"Chanyeol adalah Red force, seseorang yang kita cari ternyata sudah bersama kita sejak lama" Kyungsoo mengusak wajahnya "Apa yang harus Baekhyun lakukan? Ia tidak mungkin membunuh Chanyeol 'kan?"
"Baekhyun harus melakukannya, dunia tidak akan seimbang jika Chanyeol tetap hidup meskipun ia berbalik ada dipihak kita"
Tatapan mereka berbalik saat mendengar suara langkah kaki mendekat yang ternyata milik Jongdae
"Apa maksudmu? Baekhyun membunuh Chanyeol? Chanyeol tidak ada dipihak kita?" Pertanyaan beruntun itu keluar sangat cepat dari bibir Jongdae
Jongin mendekat ke arahnya, mengusap pundak tegang gitu "Chanyeol hyung sedang tersesat dan tidak ada yang tahu sampai kapan ia berada disana"
"Jika Chanyeol tidak berpihak pada kita kenapa ia malah menyerang Zitao? Bukan aku atau Baekhyun?"
"Tidak kah kalian ingat? Chanyeol pernah berkata kalau lawan Red force memang Zitao dan kita terikat karena Baekhyun bersama kita" Kyungsoo menatap mereka secara bergantian
Minseok menghela napas kuat "Kenapa aku tidak menyadari itu lebih awal?"
"Chanyeol hyung sudah banyak memberi kita petunjuk, ia sendiri ingin kalau kita mengetahui identitas aslinya tapi kita terlalu bodoh untuk mengerti"
Joonmyeon mengangguk setuju pada ucapan Sehun "Saat hari dimana Red force pertama kali muncul ia tidak ada dimanapun dirumah, saat kita disekap, api unggun dan sampai akhirnya ia menunjukan jati dirinya secara langsung"
"Chanyeol hyung sungguh tidak mau menjadi seperti itu, itu terjadi diluar kendalinya"
Kyungsoo mengatupkan bibirnya rapat-rapat sebelum berbicara "Bisakah kita melewati ini?"
"Bisakah Baekhyun melawan takdirnya?"
.
Chanyeol berjalan semakin masuk ke dalam hutan, menyusuri setiap langkah yang pernah ia buat dijalanan setapak basah berbatu, mencari tempat pertama kali ia dan mereka melarikan diri, mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya memiliki alasan untuk kembali bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan
Ia setengah berlari saat menemukan tujuannya, dengan wajah penuh harap mencari-cari sesuatu yang bahkan tidak ia tahu apa itu, satu garis tipis dibibirnya terbentuk kala ia melihatnya, baju hangat yang pernah Baekhyun kenakan beberapa kali, yang pernah menjadi sangat pria itu butuhkan
"Aku akan pastikan untuk bisa bertemu denganmu, sebelum waktunya"
. .
Ranjang tempatnya berbaring berderit, dengan beban tambahan yang membuat itu sedikit miring, Baekhyun menoleh dengan cepat kala kehangatan menjalar disisi kanan tubuhnya, satu tetes air mata mengalir dipipinya begitu ia melihat seseorang yang sangat ia rindukan berada disana, tertidur dengan salah satu lengan terulur dipinggangnya
"Aku juga merindukanmu" Chanyeol tersenyum, masih dengan mata yang terjepam dan dekapan yang semakin erat dipinggangnya "Tidak perlu mengatakannya, aku tahu segalanya"
Baekhyun ingin berbicara, ia ingin mengatakan segala hal yang memenuhi isi kepalanya, tapi hanya ada isakan yang keluar setiap kali ia membuka bibirnya
Chanyeol mengerjap, perlahan membuka ke dua matanya, bola mata kelabu itu sudah tidak ada lagi tergantikan dengan sepasang warna merah kelam yang juga tidak kalah indah
Ia mengusap pipi Baekhyun dengan ujung ibu jarinya "Jangan berhenti menangis, jangan berhenti menangis untukku"
Ia kembali menutup mata dengan tangisan Baekhyun sebagai lagu penghantar tidurnya-
-Baekhyun membuka mata saat ia rasa akan kehabisan napas karena terlalu sesak menahan isakan, ia lihat tidak ada lengan yang mengukungnya, tidak ada yang menghapus air matanya, tidak ada Chanyeol, Chanyeol tidak ada disana
Yang tersisa hanya airmata
Baekhyun menekan dadanya begitu kuat, berharap itu akan mengurangi rasa sakit yang ia rasakan
Tadi itu terlalu nyata untuk hanya menjadi sebuah mimpi
.
Baekhyun menatap Joonmyeon yang juga melakukan hal serupa padanya, ia mencoba untuk tersenyum meski hasil akhirnya hanyalah bibirnya yang kembali bergetar karena menahan tangis
"Aku baik-baik saja" kalimat itu hanya menambah rasa hawatir Joonmyeon padanya
Joonmyeon meraih Baekhyun ke dalam dekapannya, tidak mengatakan apapun bahkan saat ia merasa tubuh ringkih Baekhyun bergetar hebat dipundaknya, hanya membiarkan Baekhyun menghabiskan sebanyak apapun waktunya untuk menangis disana
Ia mengusap rambut Baekhyun yang selembut sutra, mengisi sela-sela jarinya dengan itu lalu menyisirnya dengan perlahan, Joonmyeon juga berusaha dengan sangat keras untuk menahan tangisannya
Meniru sikap angkuh Kris yang bahkan tidak terlihat gentar saat sang pencipta sudah memutuskan kehendak Nya
"Ia datang ke mimpiku semalam, hyung" Baekhyun melepas dekapan hangat Joonmyeon "Aku tidak ingin menangis sebanyak ini, tapi saat ia berkata untuk tidak menahan airmata, aku sadar kalau sudah terlalu banyak kesedihan yang aku tunjukan sepanjang hari"
Joonmyeon tersenyum, mengusap pipi basah Baekhyun dengan telapak tangannya "Ya, Chanyeol juga pernah bekata padaku seperti itu. Jangan simpan kepedihanmu, itu tidak akan menghilang sebanyak apapun usahamu untuk menutupinya"
"Apa aku salah jika aku merindukannya?"
Joonmyeon menggeleng "Aku juga merindukannya, sebanyak rasa penyelasanku" lengannya bergerak turun, menyatukan jari-jarinya dengan milik Baekhyun
"Bisakah aku melawan takdirku, hyung?"
Joonmyeon benar-benar tidak bisa menjawab untuk pertanyaan itu, ia hanya kembali tersenyum
Suara ketukan mengalihkan fokus mereka, Yixing masuk ke dalam dengan segelas air ditangan kanannya
"Ke mana yang lain?"
Yixing tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Joonmyeon "Sedang membagikan makanan dan obat"
Ia menarik sebuah kursi, menaruhnya di antara dua orang yang wajahnya tidak bisa ia jelaskan, memberikan air yang ia bawa pada Baekhyun sebelum akhirnya duduk disana
Baekhyun tersenyum "Terimakasih, hyung"
Yixing mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya
"Kakimu kenapa?" Joonmyeon menunjuk pergelangan kaki Yixing yang diperban, baru menyadari benda putih itu ada disana
"Aku tidak sengaja menumpahkan air panas disana dan terlalu lemah untuk mengobatinya"
"Hari ini dan esok akan jadi hari terlemah kita, aku harap tidak ada dari kalian yang keluar rumah sakit sebelum gerhana matahari" Setidaknya itulah yang ia lihat dibuku kelahiran mereka
Yixing mengangguk, mengalihkan matanya pada Baekhyun "Maaf karena aku tidak ada disana"
Baekhyun mengangguk kecil saat mengerti kemana arah pembicaraan Yixing
Yixing tersenyum lalu bangkit "Aku harus membantu yang lain"
Ia melangkah setelah sedikit membungkuk pada dua orang lain disana
Dan pada akhirnya apa yang ia dapatkan hanyalah sebuah penolakan, meski Baekhyun tidak memberitahunya secara langsung tapi ia mengerti, tetap hanya ada Chanyeol diseluruh hatinya, bahkan tidak ada tempat untuknya sekedar menetap
Yixing menutup pintu dibelakangnya dengan perlahan, menatap lengannya yang masih menggantung digagang pintu dengan nanar, tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini
Rasa sakitnya terlalu familiar
"Hyung, jangan biarkan aku tetap menguasainya"
Yixing menoleh dengan cepat, ke arah suara itu terdengar dan ia tidak menemukan apapun selain lorong yang kosong, ia memejamkan matanya menghilangkan segala kekacauan dalam dirinya yang sampai membuatnya berhalusinasi begitu buruk sebelum pergi menjauh dari sana
Andai saja Yixing mau peduli, mungkin ia akan menemukan Chanyeol yang berdiri disana, di sisi lain suara itu berasal
.
"Paman! Bisakah paman menggendongku?"
"Tidak"
Jongin memukul lengan Sehun karena apa yang ia lakukan membuat bocah perempuan itu sedih
"Sehun, aku mengandalkanmu" Minseok berkata demikian sembari melintas didekat mereka dengan wajah tegas
Sehun mendengus, menatap anak perempuan itu sekali lagi lalu mengulurkan lengannya meski ia sungguh tidak menginginkan itu
Jongin menahan tawa saat anak perempuan itu langsung melompat kegirangan ke arah Sehun "Good boy~"
Ia meninggalkan Sehun yang sedang kerepotan karena anak itu tidak berhenti melompat di gendongannya, merasa tertarik dengan apa yang Jongdae kerjakan ia menghampirinya
Saat ia hampir membuka suara, Jongdae sudah pergi untuk menarik lebih banyak perhatian dari Minseok
"Hyung lihat! Aku bisa membuatnya!" Jongdae memperlihatkan lipatan kertas rumit yang ia buat pada Minseok
Yang hanya dijawab dengan kata "Bagus" bahkan Minseok tidak menolehkan kepalanya sedikitpun
Jongin mendengus, beruntung karena mata jelinya menangkap Yixing yang berjalan mendekat ke arahnya
"Bagaimana ke adaan Baekhyunn hyung?"
"Ia sudah lebih baik, Joonmyeon bersamanya" Yixing tersenyum tipis
"Bisakah kalian membantuku?" Minseok tiba-tiba ada diantara mereka "Kyungsoo butuh beberapa orang, ia ada dilantai tiga, terimakasih untuk bantuannya"
Jongin dan Yixing kompak merotasi matanya
Menuruti permintaan Minseok tanpa berkomentar apapun kemudian
Tentu mereka merasa lelah karena harus melakukan segalanya, tapi itulah apa yang harus mereka lakukan, menjaga mereka yang tidak mengerti apapun tentang bahaya besar yang mengancam mereka
.
"Hyung, aku ingin keluar ruangan, bolehkah?" Baekhyun bertanya setelah menghabiskan suapan terakhir makan siangnya
Joonmyeon mengangguk pelan dan Baekhyun tersenyum akan izin yang hyungnya berikan, mereka berjalan bersama ke luar ruangan dan berpisah disalah satu lorong karena Baekhyun ingin ke atap rumah sakit, mencari udara segar karena hidungnya sedikit bermasalah karena terus menghirup bau obat-obatan belakangan ini
Ia menghela napas saat kaki-kakinya berhasil memijak tangga terakhir, seketika lelahnya terbayar kala hembusan angin menyapu wajah dan helaian rambutnya
Ia berjalan lurus, jauh lebih ketengah bangunan kosong itu, tidak beratap dan tidak beralasan keramik, hanya ada hamparan debu. Ia tidak memperdulikannya, meski akan berakhir dengan telapak kakinya yang menghitam karena tidak mengenakan alas
Baekhyun menghirup udara dalam-dalam kala melihat seberapa hancurnya yang dapat ia tangkap dengan mata kosong, ia rasa tidak akan ada mahluk hidup yang akan tahan hidup dengan keadaan yang seperti itu
Tidak mau ambil pusing, ia membaringkan tubuhnya disana, memandang kepulan awan putih yang bergerak lambat diatas hamparan warna biru, tersenyum kecil kala ia mengingat semua hal yang telah ia lalui sampai sejauh ini
"Jadi inikah jawabannya?" Ia bergumam, sangat pelan "Kau menolakku, ya 'kan?"
Ia tertawa dengan segala kesakitan didadanya, menggantungkan lengannya ke udara lalu merentangkan ke lima jarinya, cahaya mentari menembus ke wajahnya
Mungkin ia bermimpi saat melihat sela-sela jarinya terisi dengan milik orang lain, sangat hangat dan pas untuknya
"Baekhyun"
Matanya terbuka lebar saat mendengar suara berat itu memanggil namanya
.
.
.
[Tbc]
Cara penulisan aku sedikit berubah ya? Eh ehe ehe
Terimakasih buat kalian yang masih mau baca Sweet lies dan buat kalian yang nungguin ini sampe tiga minggu, maaf, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk 🙏
