"...You light up my heart..."

.

.

"Baekhyun?"

Baekhyun mengerjap sekali lagi, mengumpulkan kesadarannya yang sempat menguap ke udara

Suara berat itu berlarian dari telinga menuju titik terdalam rongga dadanya, menimbulkan sakit yang teramat, tidak tertahankan, tidak bisa dihindari

Orang-orang berkata jika perasaan seperti ini disebut rindu

Baekhyun rindu

Baekhyun merindukannya

Tapi ia tahu kalau yang dirindu hanyalah sebuah ilusi

Ia tidak ingin menangis, tidak boleh, bagaimanapun ia seorang pria, pria yang diharuskan menjadi sekuat baja dan sekokoh batu karang, ia sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menangis, itu sudah lebih dari cukup

Baekhyun menghela napas, menarik lengannya yang masih menggantung diudara

Ia tersenyum kala cahaya mentari menubruk matanya, mengingatkannya pada hari pertama Joonmyeon membawanya ke rumah

Semilir angin kembali menyapu wajahnya, mengeringkan sedikit air mata yang menggenang disana

"Baekhyun"

Baekhyun menoleh cepat, kali ini bukan suara seseorang yang sangat ia rindukan memanggilnya, melainkan suara Kyungsoo yang sekarang sudah ikut berbaring disisi kanan tubuhnya

"Udara sangat dingin, kenapa seorang diri disini?"

Baekhyun terkekeh "Kalau begitu peluk aku"

Berdecih "Apa-apaan!"

Tawanya meledak

Sebenarnya Kyungsoo tidak tahu apa yang lucu tapi ia ikut tertawa secukupnya, hanya untuk terdengar sopan

"Jika aku memelukmu, apa Chanyeol akan datang?"

Tawa Baekhyun terganti dengan batuk, ia tersedak udara "Tidak tahu"

Kyungsoo memutar kepalanya, meneliti wajah Baekhyun yang semakin tirus "Bahkan jika aku hanya menyentuh lenganmu, Chanyeol biasanya tiba-tiba akan ada disana untuk memukulku"

Baekhyun terkekeh pelan kala ingatannya melayang pada saat itu

"Saat kau belum bergabung dalam kelompok, aku dan Chanyeol sering sekali bertengkar"

"Benarkah? Kenapa?"

Pundak Kyungsoo bergidik "Tidak tahu, kami hanya suka melakukannya"

Baekhyun sungguh tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa pada obrolan mereka sekarang, setiap nama Chanyeol disebut yang ia rasakan hanyalah sakit

"Tapi saat kau datang, Chanyeol jadi lebih sering bersamamu, ia menceritakan semua hal tentangmu pada kami dengan semangat, seperti tidak ada hal yang lebih menarik selain itu" ia tersenyum tipis "Jongin bilang aku cemburu saat Chanyeol jadi lebih dekat denganmu padahal tidak sama sekali, karena akhirnya tidak ada lagi yang menggangguku"

Baekhyun menghela napas pelan

"Chanyeol pernah memukul wajahku karena aku terlalu berlebihan mengganggunya dan kau tahu?"

Baekhyun menggeleng

"Chanyeol terus menangis setiap melihat memar yang ia buat dipipi kananku, ia terus meminta maaf dan berkata kalau ia sangat menyesal"

"Chanyeol tentu tidak sengaja melakukannya 'kan?"

Kyungsoo mengangguk "Itu diluar kendalinya"

"Diluar kendalinya" Baekhyun bergumam

"Kau sudah mengerti sekarang?"

"Apa?"

"Yang terjadi saat ini juga diluar kendalinya, Baekhyun"

Baekhyun sontak menoleh pada Kyungsoo yang tengah menatapnya

"Lakukan apa yang harus kau lakukan tapi jangan sampai membencinya, Chanyeol adalah orang yang sangat peduli padamu"

Baekhyun membuka bibirnya tapi ia menutupnya lagi, tidak tahu apa yang harus ia katakan setelah mendengar Kyungsoo berbicara seperti itu

.

Kalimat yang Kyungsoo ucapkan berhasil membuat Baekhyun kembali memikirkan keputusannya untuk tidak lagi melibatkan ingatannya akan Chanyeol dalam segala hal

Faktanya, Chanyeol tetap ada disana, berkeliaran dikepalanya yang sekarang terasa pening

Ia menghela napas panjang dengan mata menatap lurus ke arah Joonmyeon yang tengah melipat setumpuk selimut

Joonmyeon menepuk lengannya setelah selesai melipat selimut terakhir "Panggil aku jika ada sesuatu!"

Ia mengangguk dengan patuh, Joonmyeon tersenyum lalu melangkah pergi dengan selimut dipelukannya

Saat pintu kembali tertutup, Baekhyun mengubah posisi duduknya untuk menghadap pada cermin besar, meneliti kehampaan yang terpampang disana

Sedikit demi sedikit ia mulai mengerti, tentu saja, hanya sosok abadi yang bisa menghentikan Red force yang tidak terkalahkan

Jika ia berhasil mengalahkan Red force, mungkin akan ada jalan untuknya kembali menjadi manusia, ia akan menua dan akhirnya pergi lalu terlahir kembali menjadi seseorang yang berbeda, yang tidak akan mengingat apapun kecuali namanya dan jalan hidupnya yang tidak serumit hari ini

Ia pernah bermimpi untuk menjadi seorang pilot karena Ibunya menyukai langit, ia ingin membawa wanita paling berharga itu ke setiap langit yang bisa ia gapai

Baekhyun akan mewujudkannya suatu saat nanti

"Baekhyun"

Detak jantungnya berhenti selama beberapa detik saat suara itu kembali mengiang ditelinganya, Baekhyun menunduk, tidak berani menatap sekitar karena takut hatinya yang terlalu berharap kembali terluka

Pundaknya menegang kala sepasang lengan menyelimuti tubuhnya, aroma mint dan lemon menggelitik hidung, tidak salah lagi, ini memang Chanyeol

Ia mendongak, membuka mata

Berbisik hampir tanpa suara "Apa?" ia menangis dalam diam saat kehampaan yang lagi-lagi tertangkap matanya

Salahkan hatinya yang menggantung harap setinggi bintang

"Baekhyun?"

Ia mengusap wajahnya saat suara Joonmyeon mengalun sampai telinga "Iya, hyung?"

"Semua tengah berkumpul, ingin bergabung?" Joonmyeon mengusap pundaknya

Baekhyun mengangguk pelan

"Akan aku pindahkan secepatnya" mata Joonmyeon memincing pada cermin dihadapannya

"Tidak, tidak, itu tidak mengganggu sama sekali" Baekhyun tersenyum seadanya

Joonmyeon menarik pelan lengan Baekhyun, membawanya ke luar dari ruangan, menyusuri beberapa lorong menuju tempat yang biasanya anak-anak gunakan untuk berkumpul dan bermain

Benar kata Joonmyeon, semua disana, duduk membentuk lingkaran, hanya Yixing yang berbaring dengan paha Sehun sebagai bantalan, ada beberapa botol air mineral yang dua diantaranya sudah kosong, tidak ada makanan karena semuanya sudah mereka berikan untuk warga yang tinggal disana

Joonmyeon masih menuntun lengannya sampai mereka benar-benar duduk

"Ah!" Sehun mengerang "Kakiku pegal, hyung"

Tanpa membalas rengekan yang termuda, Yixing memutar kepala, kali ini paha Minseok menjadi korban karna ia yang duduk paling dekat dengannya

Baekhyun lihat Kyungsoo tersenyum ke arahnya, jadi ia balas tersenyum

Tidak ada kalimat yang tersampaikan ditengah perkumpulan kecil mereka, hanya mata yang menatap satu sama lain, berharap dengan itu kehawatiran mereka tentang hari esok akan sirna, meski nyatanya itu tidak berpengaruh sama sekali

Bahkan Joonmyeon yang biasa memberi banyak nasihat menjadi tidak bersuara

Angan Baekhyun melayang, meliar membayangkan tentang hal besar yang sedang menantinya, hari penentu bagaimana nasib jutaan nyawa yang ada ditangan mereka di kemudian hari

Pada siapa akhirnya dunia jatuh dan bertekuk lutut

Seluruh tubuhnya bergetar hebat, takut jika pada akhirnya melalaikan kehendak yang kuasa karena terbuai perasaan

Sebagian dari dirinya menolak menyalahkan cinta sebagai penyebab utama yang membuatnya lemah, tapi memang itulah kenyataan yang ada, perasaan tak kasat mata itu menghancurkan pertahanannya

Sekali lagi ia menghela napas panjang, sembari meregangkan otot wajahnya yang sedari tadi kaku terutama dibagian rahang, dikepalanya berputar puluhan kalimat yang mungkin saja bisa ia gunakan untuk memulai obrolan tapi setiap kali ia mencoba, yang keluar hanyalah suara hembusan napas

Ia benar-benar kepayahan, padahal membuka obrolan adalah hal yang biasa ia lakukan

Matanya memincing, tiba-tiba teringat akan orbnya yang hilang. Redforce adalah Chanyeol dan orbnya pasti sedang bersama pria itu

Untuk apa?

Baekhyun tidak tahu

Asal itu bersamanya, tidak mengapa, pasti Chanyeol membutuhkannya untuk sesuatu

Sungguh tidak ada satu kalimatpun yang keluar, bahkan sampai satu persatu dari mereka tertidur disana, beralaskan karpet berbulu dan selimut yang di ambil Joonmyeon dari lemari penyimpanan

. .

Pagi-pagi sekali Joonmyeon meminta mereka untuk membuka mata, membangunkan orang-orang dan membagikan sarapan dengan makanan yang masih tersisa

Guncangan kuat datang, menandakan lawan mereka sudah benar-benar siap

"Jongin, minta mereka untuk berkumpul dilantai satu" Joonmyeon berkata dengan seribu langkah yang membuat suaranya bergetar

Jongin bergumam "Tapi aku ingin ikut dengan kalian"

"Bawa mereka ke bukit tempat kita melarikan diri waktu itu, aku dan yang lain akan berada tidak jauh dari tanah lapang didekat sungai Han"

Jongin mengangguk setuju dengan langkah melambat, melihat Joonmyeon dan yang lain pergi menjauh tanpa pakaian hangat mereka

"Pegang tanganku" ia berbicara dengan lembut "Lalu lakukan hal itu pada orang disampingmu dan seterusnya" senyum menjadi pengantar mereka menuju tempat tujuan

Ia melakukannya berulang kali sampai semua orang berada disana

.

Joonmyeon berlari secepat yang ia bisa, aliran air menjadi tanda disetiap langkah kakinya

Getaran hebat kembali terasa bahkan sampai membuatnya hampir terjatuh kalau saja Sehun tidak menahannya dengan pusaran angin yang sengaja ia bentuk, hembusan angin menjadi hal pertama yang menyambutnya

Suara tawa mengejek dari Zitao juga ikut andil dalam penyambutan, itu membuatnya muak, sungguh

Ia menembakan air dari telapak tangannya lalu Minseok tanpa diminta membekukannya, membuat air itu terlihat seperti tombak yang unjung runcingnya bisa menembus sampai jantung

Tapi sial karena Zitao bisa menghindarinya meski ia terlihat sangat terkejut entah karena apa

"Satu, dua, tiga..." Zitao menunjuk mereka satu persatu ".. delapan" ia kembali tertawa "Pasti kau terkejut saat tahu kalau musuh terbesarmu selama ini bersamamu 'kan?"

Baekhyun menatap nyalang pada sekitar, mencari seseorang yang membuat tidurnya semalam tidak nyenyak

Kyungsoo hendak menyerang tapi Zitao menahannya dengan suara lantang

"Kenapa terburu-terburu?" ia melangkah mendekat pada delapan pria yang menatapnya waspada "Tidakkah kalian ingin lebih mengenalku? Ayo habiskan sedikit waktu untuk berbincang sampai Red force kesayangan kalian menampakan diri"

Baekhyun menarik lengan Joonmyeon untuk sedikit mundur ke belakang, tatapan tajam Zitao pada pemimpinnya benar-benar membuat ia hawatir. Joonmyeon balas mengusap lengannya lembut, berbisik bahwa semua akan baik-baik saja

Sehun bergerak dengan ceroboh, membuat pusaran angin besar yang bergerak cepat menabrak tubuh Zitao dan berhasil menjatuhkannya

"Lihat!" Kyungsoo berseru, jarinya menunjuk langit yang mulai menggelap karena bulan yang perlahan bergerak menutupi permukaan matahari "Gerhana-"

Mata Baekhyun membola kala melihat semua pergerakan berhenti tanpa terkecuali, bahkan daun yang gugur dari pohonnya menggantung di udara

Zitao muncul dari kepulan abu tepat saat bulan benar-benar menutupi matahari, Baekhyun ingin lari tapi ia tidak bisa meninggalkan yang lain

Zitao melepas mantel panjangnya lalu menjatuhkan benda mahal itu ke atas tanah, tangan melambai pelan pada Baekhyun yang menatapnya tajam "Sedikit terkejut karena melihatmu lagi, kupikir kau sudah mati"

Baekhyun mendengus, sebelah tangannya yang masih menggenggam pergelangan Joonmyeon perlahan merosot ke sisi tubuhnya, mengumpulkan kepercayaan diri untuk bisa mengeluarkan suara tanpa gemetar "Tidak semudah itu"

Kakinya bergerak melawan arah Zitao yang terus mendekat

Jika waktu itu Chanyeol datang, kuharap kali ini ia juga melakukan hal yang sama

"Itu terdengar seperti sebuah tantangan"

Lengan terlatih Zitao bergerak tanpa aba-aba, mendaratkan sebuah tinjuan telak di wajah Baekhyun yang tidak memiliki waktu untuk mengelak, satu pukulan kembali ia dapatkan disisi wajah yang lain menyebabkan ia jatuh tersungkur di gundukan batu kerikil

Baekhyun mengerang saat merasa sudut bibirnya terkoyak dan darah keluar dari sana

Zitao hendak kembali melayangkan pukulan tapi kali ini Baekhyun bisa menghindar, membuat kepalan lengan Zitao mendarat di kerikil yang tajam, Baekhyun mengambil kesempatan untuk menginjak punggung pria itu dengan kuat tapi lagi-lagi Zitao berhasil menghindar

Zitao tersenyum remeh "Lumayan"

"Terimakasih" Baekhyun membalas kepayahan

Mentari perlahan kembali menampakan sinarnya sampai rembulan benar-benar tidak lagi menghalanginya

Tanpa diduga Zitao bergerak sangat cepat, mendekat pada Minseok dan menancapkan kuku-kukunya di dada sebelah kiri, mengambil orbnya yang berwarna ke biruan sebelum akhirnya mengembalikan pergerakan si tertua

Minseok terbatuk, menekan dada kirinya yang teramat sakit

Baekhyun berlari dengan cepat tanpa suara lalu memukul wajah Zitao yang membuat pria itu kehilangan keseimbangan dan menyebabkan orb milik Minseok jatuh. Zitao balas memukulnya, ia hampir jatuh tapi seseorang menahan tubuhnya

"Baekhyun hyung"

Baekhyun sedikit kecewa saat suara Jongin yang terdengar jelas ditelinganya

Jongin menarik tubuh Baekhyun bersamaan dengan gerakan lengan Zitao yang hendak menyerang mereka

"Minseok hyung terluka, kau tolong dia"

"Apa? Bagimana denganmu?"

"Aku baik-baik saja, Zitao mengincarku, ia tidak akan melukaimu" ia berseru, mendorong Jongin untuk cepat berlari pada Minseok yang mulai mengeluarkan darah dari mulutnya

Baekhyun tahu seberapa sakitnya itu, ia lihat Jongin menghilang dengan tubuh Minseok dilengannya

Zitao menggapai baju bagian belakang Baekhyun, menarik tubuhnya mendekat lalu memukul perutnya beberapa kali, itu hampir membuat Baekhyun kehilangan kesadaran

"Ah!" Zitao mengerang, tubuhnya tiba-tiba terjatuh dibawah kaki Baekhyun yang pandangannya mulai mengabur tapi ia masih bisa melihat dengan jelas bagaimana Chanyeol berdiri disana dengan rahang mengeras

Pria itu berjalan mendekat pada Baekhyun, menuntunnya untuk sedikit menjauh dari sana tanpa sepatah katapun

Mata mereka tidak berhenti memandang satu sama lain

Aku merindukanmu, hati Baekhyun menjerit tapi bibirnya masih setia bungkam

Tanpa mereka sadari, Zitao sudah ada dibelakang punggung Chanyeol, siap kembali menyerang kalau saja ia tidak segera mengelak dan balas menyerang dengan melempar satu bola api ke rongga dadanya

"Senang sekali melawan yang lebih lemah, huh?" Chanyeol tersenyum miring

Zitao berdecih "Aku tidak punya urusan denganmu"

"Bukankah kau muncul karena mencariku?"

"Ya, sebelum aku tahu kalau ternyata kau hanya memiliki satu orb yang lain"

Chanyeol tertawa "Tanpa itu kau tidak bisa menguasai dunia, tentu kau juga membutuhkannya"

"Tidak juga" Zitao membuang liurnya yang bercampur dengan darah "Bukankah kau juga ingin dunia ada ditanganmu?"

"Tidak juga"

"Buat ini menjadi mudah, kita bisa bekerja sama untuk mengambil semua orb"

Chanyeol terkekeh "Kenapa tidak terpikirkan oleh ku?"

Mereka berjalan mendekat, ke dua tangan saling terulur untuk berjabat, api yang menyelimuti tubuh Chanyeol perlahan meredup terganti dengan senyum hangat yang terpatri dibibirnya

"Jangan berharap terlalu tinggi padaku atau kau akan terjatuh sangat dalam" Chanyeol berbisik penuh tekanan, menarik tangan Zitao sampai pria itu membungkuk dengan hidung yang mendarat dilututnya

Kaki panjang Chanyeol terangkat tinggi, menendang leher Zitao dengan gerakan memutar yang sempurna

Chanyeol meregangkan otot lehernya setelah menarik rambut Zitao sampai kepala sang pemilik mendongak tinggi, telapak tangannya yang mengeluarkan api ia tempelkan dipundak Zitao, seharusnya Zitao kesakitan tapi ia tidak bereaksi apapun untuk itu

Chanyeol mengangguk pelan "Pintar, aku tidak bisa meremehkan kelebihanmu yang satu itu"

Zitao terkekeh dengan suara meledek "Selesaikan dengan cepat, membuang-buang waktu bukan sesuatu yang biasa aku lakukan"

"Baiklah"

Zitao memutar tubuhnya, dan berhasil lepas dari kungkungan Chanyeol secepat pria itu melakukannya, ia mengangkat lengan tapi tidak mengarah pada Chanyeol melainkan pada Joonmyeon yang masih mematung

"Kematian mereka adalah apa yang kau inginkan 'kan? Aku akan mewujudkannya"

"Jangan berani bermain-main denganku"

Lengan Zitao terkepal, Joonmyeon terbebas dari waktu yang membeku tapi ia tidak bisa melakukan apapun karena kekuatan Zitao masih menahannya. Oksigen disekitar Joonmyeon menghilang membuatnya kesulitan untuk mengambil napas, dadanya yang sesak berhasil membuatnya hampir kehilangan kesadaran

Chanyeol mengambil langkah bahaya, melayangkan kepalan tangannya ke tengkuk Zitao dan berhasil melumpuhkannya, membebaskan Joonmyeon dari permainan pria itu

Baekhyun berlari, memeluk kepala Joonmyeon yang terkulai "Hyung" ia berbisik ditelinganya

"Aku baik"

Chanyeol terus melayangkan pukulan dengan api yang berkobar dikepalan tangannya, tidak ada luka bakar ditubuh Zitao, hanya luka biasa, memar membiru dan darah yang keluar dari robekan kulitnya

"Kenapa kau hanya diam?!" Chanyeol berteriak, melayangkan pukulan terakhir dengan tenaga yang tersisa

"Bodoh, terimakasih kerena tidak terlahir dengan kepintaran bersamamu"

Zitao menendang perut Chanyeol, lalu berdiri dengan wajah menantang, luka dikulitnya pulih dengan cepat seperti ia tidak pernah tersentuh sama sekali

Pria penuh ambisi itu mendaratkan satu pukulan yang langsung diterima Chanyeol tanpa perlawanan karena ia terlalu lemah, seluruh tenaganya sudah ia buang melalui pukulan yang sia-sia

Punggung Chanyeol mendarat di tanah berpasir dengan Zitao yang menduduki perutnya

"Aku akan memberi kesempatan pada mereka untuk melihatmu meregang nyawa ditanganku" ia mengembalikan pergerakan semua orang "Sebelum mereka juga mati"

Zitao menancapkan kuku-kukunya di dada kiri Chanyeol, merobek kulit dalamnya yang terbuka dengan darah segar yang mengalir, Chanyeol bahkan tidak memiliki kekuatan untuk sekedar berteriak, memberitahu siapapun kalau itu amatlah menyakitkan

Jongdae dan Kyungsoo bekerja sama mencoba menyelamatkan Chanyeol yang sekarat, mereka membuat gumpalan tanah yang dilapisi kilat lalu melempar itu ke arah Zitao tapi bola itu malah berputar, memantul kembali pada mereka, menyebabkan ledakan dan lubang hitam dalam yang amat besar

Tubuh mereka terlempar beberapa meter ke belakang

Zitao memang selalu licik, tidak tersentuh dan angkuh

Suara bising di atas mereka membuyarkan keputus asaan, pekikan hewan buas bersayap membuat bulu kuduk semua orang meremang

Kepakan sayap Dragon memusnahkan lingkaran waktu yang Zitao buat disekitarnya

Kris melompat, melayangkan tendangannya pada pria yang tangannya berlumuran darah itu

"Bukan untuk ini sang pencipta melahirkanmu!" ia berseru, berusaha membuka mata Zitao yang tertutup ambisi besar

"Ini tujuan hidupku, garis takdir yang sudah tertulis bahkan sebelum aku lahir, jika sang pencipta tidak ingin aku melakukannya kenapa ia tetap membiarkan aku hidup?"

"Untuk memberimu kesempatan merubah garis takdir"

Zitao tertawa tapi entah mengapa itu terdengar menyakitkan "Takdirku untuk menguasai dunia!"

"Dunia tidak untuk perorangan, tidak akan ada hal baik setelah dunia ada genggamanmu, percayalah" Kris melangkah, mencoba mendekat pada Zitao yang terlihat gusar

Zitao menggeleng cepat, mengangkat lengannya "Aku bisa membunuhmu bahkan tanpa kau ketehaui"

Dragon kembali memekik karena merasa terancam akan keselamatan tuannya

Di sisi lain, Baekhyun masih berusaha melepaskan diri dari genggaman Joonmyeon dan Sehun yang menahannya untuk menolong Chanyeol, mengatakan itu terlalu beresiko

Kris perlu membuat Dragon untuk tenang dengan memperhalus hembusan napasnya yang sempat memburu karena ancaman Zitao

"Aku tahu kau bisa dan aku juga bisa melakukan yang sama persis sepertimu, jadi jangan paksa aku"

Seperti tidak mendengarkan apa yang baru saja Kris katakan, Zitao melakukan penyerangan secara tiba-tiba dengan melempar pecahan kaca ke arah Kris, Dragon dengan sigap membentangkan sayapnya, menjadikan itu pelindung bagi tubuh Kris, hewan raksasa itu kembali memekik kala pecahan kaca merobek kulit sayapnya terus menerus

Tanpa Kris sadari, airmatanya mengalir karena ikut merasakan sakit yang Dragon terima

Zitao mengambil langkah yang salah, Kris sudah benar-benar siap menerima hukuman dari sang pencipta karena setelah ini seseorang akan mati ditangannya

Kris menarik satu sisik Dragon yang kemudian berubah menjadi sebilah samurai, ia berlari pada Chanyeol yang wajahnya pucat karena kehabisan darah

"Aku masih membutuhkanmu"

Kris memapah tubuh Chanyeol, membantunya menggenggam samurai dengan memeluk tubuhnya dari belakang, mengangkat benda mengkilap itu tinggi-tinggi

"Dragon!" hewan itu menarik sayapnya, terbang ke belakang tuannya yang sudah sangat siap

Kris yang dibantu lengan Chanyeol mengayunkan samurai itu dengan kuat ke udara lalu menancapkan ujungnya yang runcing ke tanah, membuat getaran hebat disana sampai menimbulkan retakan yang menjalar sampai ke bawah kaki Zitao

Tidak ada luka dan tidak ada erangan kesakitan, yang mereka tahu hanya Zitao sudah terkapar ditanah dengan orb berwarna hitam menculas dari tempat asalnya, pecah menjadi beberapa bagian bahkan sebelum itu menapak ke atas tanah

Kesunyian menemani kemenangan mereka

Tidak ada sorak sorai kegembiraan, hanya hembusan angin yang marayakan

Debu dan asap sebagai pelengkap

Darah sebagai tanda

Airmata penghilang lelah

Keringat wujud dari usaha mereka yang membuahkan hasil

.

Kris mengusap pundak Yixing yang turun, hilang semangat karena semua usaha yang ia lakukan untuk membuat Chanyeol sadar tidak membuahkan hasil, pria itu masih bernapas dengan normal tapi matanya tidak kunjung terbuka dan darah segar masih mengalir dari luka dalamnya

Yixing beberapa kali mencoba menutup lukanya, tapi itu hanya bekerja untuk sementara waktu karena luka itu akan kembali terbuka dengan sendirinya

"Aku sudah melakukan semua yang bisa aku lakukan, tapi itu tidak bekerja" Yixing menghela napas lelah

"Dimana Baekhyun?" Kris bertanya

Joonmyeon menunjuk seseorang yang tengah duduk jauh disudut ruangan bersama Jongin, bahunya bergetar karena tidak berhenti menangis meski ia terus mencoba untuk menahan airmatanya

"Tidak ada yang bisa kita lakukan" Kris berkata pelan "Sudah waktunya bagi Chanyeol"

Joonmyeon menggeleng tidak setuju "Lakukan hal lain! Oleskan ramuan atau apapun! Chanyeol masih memiliki kesempatan untuk hidup!" ia mendorong Yixing, memaksannya untuk melakukan sesuatu yang bisa membuka mata Chanyeol "Chanyeol masih bernapas!"

Jongdae menarik Joonmyeon menjauh dari Yixing yang terlihat tertekan

"Hyung, tenangkan pikiranmu"

Baekhyun menutup telinganya, menolak mendengar keributan yang baru saja terjadi

Jongin terus berusaha untuk menenangkan, ia memberikan orb Baekhyun pada pemiliknya

"Kris hyung menemukan ini didekat tubuh Chanyeol, milikmu" ia tersenyum, menarik lengan Baekhyun yang pria itu gunakan untuk menutup telinga, meletakan bola putih itu ditelapak tangan cantiknya

Baekhyun tidak menginginkan benda itu lagi, ia tidak membutuhkannya

"Dari awal aku tidak ingin memilikinya" ia mengembalikan benda itu ke tangan Jongin

"Kau akan membutuhkan ini suatu saat nanti" Jongin kembali menaruh benda bercahaya itu diantara telapak tangannya yang terbuka

Suara langkah mendekat menarik atensi mereka, Kyungsoo berdiri disana, memberi tanda pada Jongin untuk pergi yang langsung dimengerti oleh pria berkulit tan itu

"Kyungsoo, aku-"

"Kau tidak baik-baik saja, aku tahu"

Kyungsoo memeluk tubuh gemetar Baekhyun, ia membiarkan pundaknya basah oleh lelehan airmata

"Aku tidak membencinya, aku tidak membencinya, Kyungsoo. Chanyeol yang membenciku, ia tidak mau membuka mata karena tidak ingin melihatku"

Kyungsoo mengeratkan pelukannya saat tangisan Baekhyun kembali pecah

"Aku ingin berbicara padanya, aku ingin mengatakan kalau aku merindukannya, aku ingin memeluknya, Kyungsoo, aku ingin Chanyeol tahu kalau aku sangat bersyukur bisa mengenalnya, Kyungsoo, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Chanyeol"

Tanpa Kyungsoo tahu, airmatanya ikut meleleh mendengar suara Baekhyun "Aku tahu, aku mengerti, Baekhyun"

"Semua orang menatapku seperti hari ini akan jadi hari paling menyedihkan, semua akan baik-baik saja 'kan? Besok Chanyeol akan membuka matanya dan pulih"

Yang Baekhyun harapkan mewakilkan doa semua orang yang menunggu satu ke ajaiban kembali menghampiri mereka

. .

Yixing masih berusaha mengobati Chanyeol dengan beberapa cara, meski hasil yang ia dapat tetaplah sama

Hari demi hari ia habiskan dengan mencoba dan berusaha, mengerahkan segalanya demi kesembuhan Chanyeol

. .

"Chanyeol tidak bisa melewati ini dan Yixing sudah kehabisan banyak energi, ia sakit, pikirkan ke adaannya juga" Kris menatap ke sekeliling

"Sedikit lagi" Joonmyeon bergumam

Kris mengerang "Dan kau juga akan kehilangan Yixing"

"Lalu apa? Apa yang harus aku lakukan?"

"Biarkan Chanyeol pergi, bujuk Baekhyun agar ia mau melaksanakan tugas terakhirnya"

"Baekhyun tidak bisa" Kyungsoo bersuara

"Ia pasti bisa melakukannya, untuk itu ia dilahirkan"

Joonmyeon menggigit bibir bawahnya "Aku akan coba berbicara padanya"

Ia pergi ke kamar Baekhyun, melihatnya yang tengah duduk termangu di depan jendela, memandang hujan yang tengah mengguyur kota

"Baekhyun" Joonmyeon memanggilnya pelan

Baekhyun menoleh "Ya, hyung?"

"Kau tidak pernah keluar kamar, aku menghawatirkanmu"

Ia tersenyum tipis "Aku tahu kenapa kau datang"

Joonmyeon terkesiap

"Aku akan melakukannya" ia berkata dengan penuh keyakinan

"Baekhyun, kau serius mengatakannya?"

Baekhyun mengangguk "Chanyeol tidak bahagia, ia juga ingin pergi"

Joonmyeon mengusap lengannya sebelum menuntun Baekhyun untuk berdiri dan berjalan ke ruangan tempat Chanyeol berada

Baekhyun meminta yang lain untuk keluar, meski awalnya mereka menolak tapi pada akhirnya mereka pergi

Ia menatap wajah pucat Chanyeol selama beberapa saat

"Aku merindukanmu" ia bergumam, berharap suaranya dapat tertangkap telinga Chanyeol "Terimakasih karena sudah terlahir dan mau berjuang bersama yang lain"

Baekhyun menutup rapat matanya saat ia menancapkan jari-jarinya ke luka di dada Chanyeol yang terbuka, menarik orb miliknya dari sana lalu melempar itu ke lantai sampai hancur menjadi beberapa bagian

Napas Chanyeol ikut berhenti tepat saat orbnya hancur

Baekhyun membekap mulutnya, menahan isakan yang keluar dengan airmata yang terus mengalir dari sepasang hazel indah itu

Akhir kisah yang sama sekali tidak ia inginkan sungguh terjadi padanya

.

Satu tahun kemudian

.

"Selamat pagi!" Baekhyun berseru pada Joonmyeon yang sibuk membaca korannya

"Pagi" ia membalas pelan, merasa aneh karena Baekhyun terlihat sangat bersemangat hari ini

Baekhyun duduk disamping pria itu "Ini tepat satu tahun hari kematian Chanyeol"

"Iya, dan kita akan mengunjungi pemakamannya"

Baekhyun mengangguk, memberikan selembar surat yang terbungkus amplop berwarna putih "Jangan dibuka sampai matahari terbenam!"

Joonmyeon memandang amplop itu lamat-lamat "Penting?"

"Kau akan tahu nanti" Baekhyun tersenyum jahil "Cepat bersiap, aku ingin jadi orang pertama yang sampai di pemakaman!"

.

Baekhyun menaruh beberapa tangkai mawar putih di atas gundukan tanah yang tertutup rumput hijau, juga beberapa bungkus permen cokelat ke sukaan Chanyeol

"Aku merindukanmu" ia berkata pelan dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya

Acara sederhana itu tidak memakan banyak waktu, mereka hanya menaruh beberapa tangkai bunga diatas makam dan memanjatkan doa yang terbaik untuknya yang mungkin sudah bahagia disana

Sebelum matahari ada dipuncak, Joonmyeon mengajak Baekhyun untuk makan siang disebuah restoran sederhana ditepi jalan

"Apa rencanamu setelah ini?" Baekhyun bertanya di antara suapannya

Joonmyeon menggidikan bahu "Mungkin membuka usaha, menikah dan memiliki anak"

Baekhyun terkekeh

"Bagaimana denganmu?"

"Aku ingin bahagia"

"Tentu, semua orang pasti ingin bahagia"

"Aku dengar Yixing hyung membuka klinik"

Joonmyeon mengangguk "Iya, tidak terlalu jauh dari rumah kita"

"Aku ingin mengunjunginya"

"Jika memiliki waktu luang"

"Sehun dan Kyungsoo melanjutkan study di Universitas hukum Seoul, aku iri pada mereka"

Setelah hari itu mereka memang memutuskan untuk tinggal terpisah, mengejar mimpi yang sempat tertunda. Hanya Baekhyun dan Joonmyeon yang masih bersama, menjalankan hari-hari mereka dengan sederhana

.

Joonmyeon melempar handuk basah ke keranjang pakaian kotor, mengambil setelan pajama untuk ia kenakan malam ini

Matanya tanpa sengaja menangkap keberadaan surat pemberian Baekhyun yang ia taruh diatas nakas samping tempat tidurnya, ia lihat matahari sudah tenggelam jadi ia membukanya sesuai dengan apa yang Baekhyun pinta

"Hyung..."

Mata Joonmyeon membulat, bergerak ke bawah sampai kalimat terakhir yang Baekhyun tulis

Ia berlari menuju lantai dua, kamar tidur Baekhyun

"Baekhyun!"

Joonmyeon mengetuk pintu kamarnya dengan berutal tapi tidak ada jawaban apapun yang ia terima, dengan panik ia membuka pintu itu dan serpihan kaca menjadi hal pertama yang ia lihat

Joonmyeon yakin kalau itu adalah pecahan orb milik Baekhyun

Pijakan kakinya hampir goyah

Sekali lagi Joonmyeon gagal, Baekhyun tidak memberinya kesempatan untuk membuktikan kalau ia bisa menjadi pemimpin yang melindungi anggotanya

. .

Aku ingin pergi

Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri

Dan aku sadar kalau kebahagiaanku ternyata tidak disini

. .

- END -

. .

Let's vote

SQUEL?

Yes or No

Tulis vote kalian di review atau langsung mampir ke instagram Nisachu_ untuk bantu vote di sg ehehehe

Maaf karena Sweet lies selalu ngareeetttt, ada aja lagian yang buat aku hilaf selingkuh sama hal lain hehe

Akhirnya yaaa aku bisa tamatin Sweet lies, terimakasih buat kalian yang setia baca sampai chapter akhir cerita ini dan nyisihin sedikit waktu kalian buat review, aku sayang kalian pokonya /cipok basah 😘😘

Nisachu

Januari 2018