Squel of Sweet lie
Summary :
Baekhyun ditakdirkan untuk kembali bertemu semua orang dimasa lalunya tanpa ingatan apapun tentang itu, termasuk cinta dimasa lampau
Age gape
Chanyeol 17 : Baekhyun 27
.
.
.
Baekhyun membuka kotak berwarna biru yang Joonmyeon berikan, didalamnya ada selembar surat dan replika pesawat terbang, ia menghela napas, memandang pria yang kepalanya mulai ditumbuhi beberapa rambut berwarna putih itu sedikit sebal
"Ayah, ini replika pesawatku yang ke delapan puluh, terimakasih" ia menaruh hadiah pemberian Joonmyeon ke dalam lemari pajang yang juga penuh dengan replika pesawat pemberiannya
Joonmyeon mengusap pundaknya sambil tertawa pelan "Kupikir ini bisa sedikit menghiburmu"
Baekhyun memaksakan dirinya untuk tersenyum saat lagi-lagi mendengar alasan lama itu "Aku sudah melupakan kegagalanku dihari pertama mereka berkata kalau tinggiku kurang untuk menjadi seorang pilot, aku sudah baik-baik saja"
"Apapun itu, selamat ulangtahun" ia menarik tubuh putranya untuk ia peluk "Aku menyayangimu"
Baekhyun mengusap pundak Ayahnya beberapa kali "Aku juga, Ayah"
Namanya Kim Baekhyun, tahun ini usianya sudah menginjak 27 tahun, gagal menjadi seorang pilot karena tingginya tidak mencukupi. Seorang yatim piatu yang beruntung, teman-temannya yang memberikan julukan itu, karena saat berumur sepuluh tahun ia di angkat menjadi anak oleh pemilik K.Y.M company, perusahaan ternama yang berbasis dibidang teknologi, Kim Joonmyeon
Baekhyun tidak pernah menyangka kalau kehidupannya akan berubah secara total, tapi itu tidak membuat sikap baiknya berubah sedikitpun
Pernah tinggal di panti asuhan tidak menjadi penyesalannya, ia bahkan dengan bangga menceritakan hal itu pada rekan-rekan kerja Ayahnya, membuat mereka tidak lagi memandang remeh orang-orang yang berkasta rendah
"Jika kau memiliki waktu, aku akan mengadakan pesta makan malam bersama beberapa kolega bisnis juga sekaligus untuk merayakan ulang tahunmu"
Baekhyun melepaskan pelukannya "Aku akan datang" ia tersenyum
"Lalu besok, kita akan mengunjungi pemakaman saudaraku"
Baekhyun mengangguk "Aku sudah menyiapkan beberapa bunga"
"Terimakasih"
"Ayah" suara Baekhyun menahan langkah Joonmyeon "Aku kembali mendengar berita tentang kejadian dimasa lalu, mereka mengaitkan seseorang yang ada disana dengan aku lagi"
Pundak Joonmyeon sedikit menegang saat mendengar itu, tapi ia berhasil mengatasinya "Jangan pedulikan itu, hanya fokus dengan apa yang tengah kau kerjakan sekarang"
"Baik, Ayah"
- : -
Joonmyeon menatap fotonya dan Baekhyun yang terpajang tepat dihadapan meja tempat ia biasa menyelesaikan pekerjaannya yang tidak beres diperusahaan, kumpulan dokumen dan komputer yang menyala menemaninya, menjadi saksi akan kegundahan hatinya karena lagi-lagi Baekhyun mengatakan apa yang selama ini menjadi ketakutan terbesarnya
Lengannya ia ulurkan untuk menggapai ponsel yang tergeletak didekat jam digital, memainkan jari-jarinya diatas layar datar benda persegi itu, mencari nama seseorang yang bisa ia hubungi, yang bisa ia jadikan tempat sampah untuk semua masalahnya
"Halo, Yixing?" ia bersuara saat panggilannya diterima
Ia dengar kekehan disebrang sana "Halo, Ayah Joonmyeon"
Ia berdecih "Ini bukan saatnya untuk meledekku"
"Oh, maaf"
Helaan napas panjang ia keluarkan "Para wartawan itu kembali berulah"
Suara pintu terbuka terdengar, Joonmyeon yakin kalau Yixing tengah berada di kliniknya "Cari kelemahan mereka, aku 'kan sudah mengatakannya berkali-kali padamu"
"Aku sudah menyimpan beberapa file yang sekiranya bisa membuat mereka bungkam tapi aku tidak setega itu untuk melakukannya" ia memutar kursi yang sedang didudukinya untuk menghadap jendela, matahari terbenam menjadi pemandangan pertama yang tertangkap matanyab "Apa kau punya saran lain?"
"Apa? Bayar mereka lagi?" Yixing mendengus "Sudah berapa banyak uang yang kau habiskan?"
"Aku tidak punya pilihan lain, ini satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku dimasa lalu"
Joonmyeon tersenyum mendengar tawa pelan Yixing yang mengalun ditelinganya "Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Kau sudah bertemu dengannya?"
"Aku sudah mencari keseluruh Seoul tapi belum ada hasil, mungkin ia lahir dikota lain atau mungkin dinegara lain?"
"Aku akan membantumu, jika kau perlu"
"Terimakasih"
"Sebenarnya masih ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku"
"Apa itu?"
"Kenapa Baekhyun lahir lebih awal dari Chanyeol?"
"Karena tekat Baekhyun untuk bertemu Chanyeol lebih besar, mungkin?" ia terkekeh akan kalimatnya
"Jika kau tidak juga berhasil membuat mereka bertemu, aku siap menggantikan posisi Chanyeol"
"Posisi pantatmu!" ia berseru "Restuku tidak akan pernah sampai pada kalian!"
Yixing tertawa "Aku bisa menjaga Baekhyun lebih baik dari dirimu"
"Tidak!"
Hening sebentar menemani mereka sampai akhirnya Yixing berkata
"Aku merindukanmu" ia tersenyum "Mampirlah jika ada waktu"
"Aku akan mengusahakannya"
"Bawakan aku bekal, aku sudah lama tidak memakan masakanmu"
"Terakhir kali kau berkata kalau masakanku rasanya pahit" ia cemberut
"Itu karena kau terlalu lama menggorengnya, itu gosong, coba lihat buku resepnya dengan teliti"
Joonmyeon merotasi matanya "Baik, baik, baik, aku akan membaca buku resepnya dengan teliti kali ini"
Ia menoleh cepat saat suara ketukan terdengar dipintunya
"Itu Baekhyun, aku tutup teleponnya?"
"Baik, sampaikan salamku padanya"
"Baiklah"
Telepon terputus, ia melangkah dengan cepat untuk membuka pintunya, mendapati Baekhyun yang sudah rapih dengan setelan kemeja putih dan celana bahan hitam, pakaian has seorang pekerja kantoran
Baekhyun tersenyum "Apa aneh jika aku memakai pakaian seperti ini untuk acara makan malam?"
Joonmyeon menggeleng "Tidak sama sekali" ia merapihkan kain yang sedikit tertekuk dipundaknya "Aku bahkan belum mandi, bisa beri aku waktu beberapa menit?"
Baekhyun mengangguk dengan wajah sedikit malas "Sepertinya aku bisa menonton satu film dengan durasi satu setengah jam sambil menunggu Ayah merapihkan diri"
Joonmyeon terkekeh "Tidak akan lama" ia memutar tubuh Baekhyun, mendorongnya menjauh sampai ke ruang tv lalu meninggalkannya disana selagi ia menghabiskan waktu untuk menyiapkan diri
Setidaknya ia membutuhkan waktu tiga puluh menit sampai benar-benar siap, dengan setelan yang hampir mirip dengan anak angkatnya, sementara jas hitam dan dasi menjadi pelengkap penampilan
Mereka meninggalkan rumah dengan mobil mewah sebagai kendaraan, membelah jalanan Seoul yang lumayan ramai karena saat itu orang-orang baru kembali dari pekerjaan mereka, tepat jam delapan malam mereka sampai di restoran yang rekan bisnis Joonmyeon janjikan
Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah juga beberapa wartawan yang mungkin sengaja menunggu kedatangan mereka, lampu flash kamera sempat menganggu penglihatan Baekhyun sampai ia harus berpegangan pada ujung jas Joonnyeon agar ia tidak terjatuh
Baekhyun menghela napas lega saat akhirnya mereka bisa ke dalam dengan selamat
"Mereka sangat menyeremkan" ia mengeluh "Aku tidak suka pada mereka"
"Sebenarnya aku juga tidak suka"
Mereka berjalan dengan langkah setara untuk benar-benar sampai ke ruangan pesta di adakan, kata sambutan banyak terdengar saat mereka datang
"Selamat malam, tuan Kim"
"Selamat malam, sekertaris Oh"
Baekhyun ikut membungkuk saat seseorang yang ia tahu sebagai sekertaris pribadi Joonmyeon tersenyum padanya "Selamat malam, Paman Oh"
Sehun tersenyum kaku mendengar panggilan itu "Selamat ulangtahun, apa kau sudah menerima hadiahku?"
"Sudah!" ia berseru semangat "Itu cantik sekali, terimakasih"
"Tentu" ia tersenyum bangga, mempersilahkan dua orang itu untuk berjalan didepannya "Rasanya aneh mendengar Baekhyun memanggilku Paman, aku sampai merinding" ia berbisik tepat ditelinga Joonmyeon
Joonmyeon menyikut perutnya lumayan kencang "Diam kau Pak tua"
"Katakan itu pada seseorang yang jauh lebih tua dariku" ia berdecih, kembali mengerang saat Joonmyeon menyikut perutnya untuk yang ke dua kali
Sepanjang acara Baekhyun terlihat sangat menikmatinya bahkan saat acara makan malam itu berganti menjadi acara karaoke dadakan, semua orang bersenang-senang, beberapa ada yang memberikan hadiah padanya sebagai ucapan selamat dan menyanyikan lagu spesial untuknya
"Apa Baekhyun sudah memiliki kekasih atau semacamnya?" salah satu rekan bisnis Joonmyeon bertanya padanya
Baekhyun menggeleng lemah "Aku belum memikirkan hal seperti itu"
"Tapi usiamu sudah cukup matang untuk mulai berkencan"
Ia terkekeh "Aku tidak yakin apa akan ada wanita yang suka dengan seseorang yang selalu menghabiskan sisa harinya di kantor? Aku hawatir dengan perasaanya"
"Aku memiliki anak perempuan, jika kau mau-"
"Baekhyun, kau disana rupanya?" Joonmyeon menepuk pundak anaknya beberapa kali "Ayo kita pulang?"
"Ah, baik Ayah" Baekhyun membungkuk padanya juga rekan bisnisnya yang tadi mengajak ia berbicara
Sebelum Joonmyeon ikut pergi bersama Baekhyun, ia menyempatkan diri untuk berbicara "Anakku berkata kalau ia belum siap menikah, jadi nikahkan saja putrimu dengan pria lain!"
"Maafkan aku, tuan Kim"
Setelah itu barulah ia pergi menyusul Baekhyun yang sudah jauh didepannya
Diperjalanan kembali menuju rumah, Baekhyun, yang memegang setir, kembali memikirkan apa yang rekan bisnis Ayahnya katakan. Memang benar usianya sudah cukup matang untuk ukuran mencoba sebuah kencan, tapi entah kenapa rasanya sulit menemukan wanita yang cocok
Tidak ada yang membuatnya tertarik sejauh ini
Apa ada sesuatu yang salah pada dirinya?
Baekhyun lebih suka melihat wanita berotot disebelahnya saat ia melatih tubuh di gym, ia lebih suka dengan aroma perfume yang Paman Sehun gunakan ketimbang wewangian yang selalu wanita pakai, ia lebih tertarik dengan dada bidang pria daripada- uh jangan dipikirkan!
"Ayah?" ia dengan lembut memanggil "Apa menurutmu aku harus segera mencari pasangan?"
Joonmyeon terkekeh "Tentang itu jangan terlalu dipikirkan"
"Lalu, apa kau tidak ingin memiliki istri?" ia membelokan setir dipersimpangan jalan "Aku juga butuh seorang Ibu"
Joonmyeon kembali terkekeh tapi kali ini terdengar lebih canggung "Aku tidak memikirkan tentang itu lagi, umurku sudah terlalu dewasa untuk merancang sebuah kencan, lagipula aku lebih suka menghabiskan waktu seorang diri"
"Begitu, ya?" mobil mereka melambat karena sudah masuk kedalam kawasan perumahan tempat mereka tinggal "Sebenarnya aku juga tidak berpikir untuk memulai sebuah hubungan seperti itu, aku lebih suka berteman dengan semua orang"
"Aku mengerti, lakukan apapun yang sekiranya bisa membuatmu bahagia, aku tidak akan membatasi itu, kau sudah dewasa untuk sekedar membedakan mana itu soju dan vodka"
"Eeeyyyy" Baekhyun mengernyitkan hidungnya "Lelucon seperti itu lagi"
"Itu bukan lelucon"
"Terdengar seperti lelucon ditelingaku"
"Aku sedang memberi nasihat padamu, anak muda"
"Nasihatmu aku terima dengan baik, Pak tua"
"Yah!"
Tawa Baekhyun menjadi penutup perjalanan mereka sebelum akhirnya mereka menginjakan kaki dirumah keluarga Kim
- : : -
Baekhyun menata kembali penampilannya dicermin, menyisir helai rambut legamnya dengan jari sebelum akhirnya menyampirkan jas hitam dilengan kanan untuk ia pakai saat tiba dipemakaman
Rasanya ia selalu bersemangat saat hari dimana ia akan mengunjungi makam saudara Joonmyeon tiba, karena itu artinya ia akan libur dari pekerjaannya yang memusingkan dan seperti ada alasan lain yang membuatnya bersemangat tapi ia belum menemukannya
Baekhyun membawa satu rangakaian bunga mawar putih ditangan sebelum melangkah keluar kamar, menemui Joonmyeon diruang tengah yang sepertinya sudah siap sedari tadi
"Langitnya mendung, apa kita tunda saja?" Joonmyeon bertanya dengan mata yang tidak lepas dari jendela
Baekhyun menggeleng tidak setuju "Hujannya tidak akan segera turun, kita harus cepat"
Joonmyeon setuju saja karena Baekhyun selalu tidak suka jika sarannya di abaikan, mereka mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan tinggi, bukan Baekhyun yang menyetir, kali ini mereka membawa supir pribadi untuk menghemat waktu (Baekhyun masih payah dalam hal kebut-kebutan)
Ramalan Baekhyun tentang hujan benar juga, mereka tidak segera turun bahkan sampai ia selesai memanjatkan doa, bahkan sampai tiba giliran sang peramal cuaca yang sekarang tengah menaruh bunga setelah berdoa dengan sangat hikmad dan hampir menangis
Joonmyeon selalu penasaran, doa apa yang Baekhyun pinta untuk jasad Chanyeol yang mungkin saja sudah melebur dengan tanah
Mereka kembali ke tempat dimana mobil mereka diparkirkan setelah apa yang harus mereka lakukan selesai, saat mobil hampir melaju tiba-tiba Baekhyun menghentikannya
"Dompetku terjatuh" ia berkata dengan nada panik "Aku harus mencarinya"
"Perlu bantuan?"
Baekhyun menggeleng pada tawaran Joonmyeon "Tidak perlu"
Baekhyun sedikit berlari untuk kembali ke daerah pemakaman, mata tidak berhenti mencari kesegala arah disetiap kakinya melangkah, sampai kakinya benar-benar membawa ia kembali ke pemakaman Chanyeol yang sekarang disinggahi seseorang berseragam murid menengah atas
Ia menemukan dompet miliknya tergeletak tidak jauh dari kakinya berdiri, ia langsung mengambilnya, mengusap bagian yang kotor dengan lengan sebelum memasukannya ke dalam saku celana, ketika ia hendak berbalik hujan turun dengan derasnya, begitu saja
"Sial!" ia mengumpat, berlari ke pohon besar terdekat untuk berteduh
Ia lihat seseorang yang lain datang untuk ikut melindungi diri dari derasnya hujan, kalau ia tidak salah itu adalah orang yang sama yang ia lihat dimakam Chanyeol
"Maaf Paman, aku tidak menemukan tempat lain untuk berteduh" suara berat itu membuat ia terkejut dan jangan lupakan tinggi badannya yang jauh diatas Baekhyun
Membuatnya iri
"Oh, tidak apa-apa, lagipula, ini 'kan fasilitas umum" ia tersenyum tipis
"Terimakasih"
Keheningan sejenak mengisi mereka, hanya suara tetesan air hujan yang terdengar sampai akhirnya anak itu kembali bersuara
"Apa Paman kerabat dari almarhum Park Chanyeol? Aku beberapa kali melihatmu dimakamnya"
Baekhyun mengangguk "Ayah angkatku adalah saudaranya"
"Senang bertemu denganmu, kebetulan namaku juga Park Chanyeol"
"Benarkah?"
Chanyeol mengangguk cepat "Itulah kenapa aku selalu mengunjungi pemakamannya, sejak sepupu Ibuku meninggal"
"Terimakasih untuk itu" Baekhyun tersenyum "Pantas saja makam Paman Chanyeol selalu bersih saat kami berkunjung"
"Sama-sama, biasanya aku datang lebih awal tapi hari ini aku datang sedikit terlambat"
"Kau datang sendiri?"
Chanyeol mengangguk "Ayahku keluar kota dan Ibuku sedang tidak enak badan, jadi aku pergi sendiri saja"
"Eh?" Baekhyun baru sadar akan sesuatu "Bukankah seharusnya kau sekarang ada disekolah?"
"Tapi aku ada disini" ia meringis "Aku tidak suka berada disekolah"
"Jangan bicara seperti itu, suatu saat nanti kau akan menyesal karena sudah mengatakannya"
Chanyeol menggigit bibir bawahnya pelan, ia menggeleng beberapa kali "Ada sesuatu yang membuat aku tidak suka berada disana, kau tidak akan mengerti"
Mata sedih Chanyeol adalah hal yang terakhir kali ia lihat sebelum supirnya datang dengan satu payung untuk menghalangi hujan dari tubuhnya dan satu lagi yang ia bawa ditangannya
"Maaf karena membuatmu menunggu, tuan"
Baekhyun tersenyum "Tidak apa-apa"
Ia menerima payung yang supirnya berikan bukan untuk ia pakai, tapi untuk ia berikan pada Chanyeol
"Pakailah dan kembali ke sekolah, aku harus pergi"
Ia dengar Chanyeol bergumam "Terimakasih" sebanyak dua kali
"Dan namaku Kim Baekhyun, senang bertemu denganmu, Chanyeol"
- : : -
Entah sebuah kebetulan atau apa, sejak ia bertemu dengan Chanyeol, setiap malam didalam mimpinya anak itu selalu datang dalam sosok yang berbeda, terlihat lebih dewasa dari Chanyeol yang ia temui waktu itu
Didalam mimpinya, Chanyeol banyak mengucapkan kata terimakasih dan maaf
Sesuatu seperti ia yang telah menepati janjinya dan berhianat
Baekhyun tidak mengerti
Janji apa?
Hianat apa?
Ia tidak tahu apa arti dari semua mimpinya itu, yang ia tahu hanyalah dirinya yang selalu kena marah Joonmyeon karena terlalu banyak dokumen yang salah ia tanda tangani ke esokan harinya
- : : -
Jika Baekhyun tidak salah, itu adalah empat bulan setelah pertemuan pertama mereka
Dihari pertama musim semi, secara kebetulan mereka kembali bertemu di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari tempat Baekhyun bekerja
"Halo, Paman" Chanyeol menyapanya dengan ramah, seperti mereka sudah sangat mengenal sebelumnya "Kebetulan sekali, apa tempat kerjamu dekat dari sini?"
Baekhyun mengangguk "Tidak terlalu dekat, sebenarnya"
"Apa kau sedang istirahat atau sudah pulang?"
"Tidak keduanya" ia meringis "Terlalu banyak pekerjaan membuatku pusing, jadi aku putuskan untuk pergi sejenak"
"Jangan berkata seperti itu, suatu saat nanti Paman pasti menyesali apa yang Paman katakan hari ini"
Baekhyun terkekeh mendengarnya "Kau ini pandai sekali, memberi nasihat pada yang lebih tua, huh?"
Chanyeol tersenyum lebar, menarik kursi disamping Baekhyun lalu duduk disana tanpa diminta "Aku ini pandai memberi nasihat, jika Paman mau, kau boleh berbagi masalah denganku"
Baekhyun berdecih, meledek "Apa yang aku dapatkan jika membagi masalahku denganmu?"
"Kau akan mendapat banyak!" ia berkata dengan semangat "Selain menjadi lebih dekat dengaku, Paman juga akan bisa menyelesaikan masalah dengan cepat"
Baekhyun tertawa mendengarnya, Chanyeol itu lucu sekali
"Maaf karena aku tidak membawa payungmu"
"Tidak apa-apa"
"Bukankah itu artinya kita harus bertemu lagi?"
Baekhyun bergumam sebelum menjawab "Kita akan bertemu lagi besok"
Mata Chanyeol membulat "Benarkah?"
Baekhyun mengangguk
"Dimana kita akan bertemu?"
"Lihat saja besok" ia terkekeh
Bersama Chanyeol membuatnya merasa seperti kembali ke usia belasan, ia rindu, sangat rindu pada masa itu, saat dimana Joonmyeon akan memarahinya karena terlambat bangun dan akhirnya dihukum karena lagi-lagi ia tertinggal pelajaran di jam pertama
Bukannya ia yang tidak mau menemui salah satu investor asing maupun menolak untuk menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan lain
Menjadi dewasa tidak menyenangkan
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Bukannya ini masih jam pelajaran?"
Chanyeol meringis "Aku 'kan sudah mengatakannya, aku tidak suka berada disekolah"
Baekhyun berdecih "Pikirkan masa depanmu, anak muda"
"Kau tidak mengerti, Paman"
"Kalau begitu buat aku mengerti"
Chanyeol tersenyum tipis, salah satu lengan terangkat untuk menyangga dagunya "Aku tidak memiliki teman, aku tidak memiliki siapapun untuk aku ajak bicara disana, mereka semua memandangku aneh, mereka bilang telinga dan mataku jelek sekali" ia terkekeh di akhir kalimat
Baekhyun menatapnya dengan binar mata yang berbeda, Chanyeol memang tertawa tapi itu tidak membuat raut sedihnya tertutup
"Mereka berlebihan, jangan dengarkan perkataan mereka!" ia berseru, berhenti sejenak sebelum akhirnya berkata "Kau... Tampan" pipinya tiba-tiba memanas
Chanyeol tertawa pelan "Aku tahu, aku memang tampan"
Mendengar itu membuat Baekhyun menyesali perkataannya barusan
"Aku sudah selesai" ia bangkit dari duduknya "Kau juga harus kembali ke sekolah, mau aku antar?"
Mata Chanyeol membulat "Bolehkah?"
"Tentu" ia menarik lengan Chanyeol keluar setelah menaruh beberapa lembar uang di atas meja "Kebetulan aku membawa kendaraan"
Chanyeol tidak bisa menutupi keterkejutannya saat tahu kalau mobil mewah yang sedari tadi terparkir didepan kedai adalah milik Baekhyun, ia terus berseru heboh bahkan saat mereka sudah duduk didalam sana
Ini pertama kalinya Chanyeol naik mobil mewah seperti itu, jadi mari kita maklumi segala kalimat kagum yang tidak henti-hentinya ia serukan
"Dimana sekolahmu?" Baekhyun bertanya setelah mobilnya melaju dijalanan
"Sekolah menengah Yeonhan"
Baekhyun menambah laju mobilnya saat melewati jalanan yang sepi, sekolah Yeonhan lumayan jauh dari sana, ia sendiri bingung kenapa Chanyeol bisa pergi sejauh itu
Saat mereka hampir sampai, Chanyeol memintanya untuk berhenti diluar pagar sekolah tapi ia malah memasukan mobilnya sampai ke tengah lapangan basket yang ramai, mungkin saat itu masih jam istirahat
"Paman, aku 'kan sudah bilang untuk berhenti diluar pagar saja" Chanyeol kewalahan saat mobil yang ia tumpangi menjadi pusat perhatian
"Aku harus memastikan kau benar-benar kembali ke sekolah, jika hanya sampai diluar, kau bisa saja pergi ke tempat lain saat aku meninggalkanmu" Baekhyun turun dari mobil, membuat seluruh atensi ter arah padanya
Chanyeol ikut keluar, berjalan mendekat pada Baekhyun dengan kepala tertunduk dalam untuk menghindari segala tatapan yang juga tertuju padanya
"Dimana orang-orang yang menghina telingamu?" matanya mengedar ke sekitar "Aku ingin bertemu dengan mereka"
Chanyeol menarik ujung kemeja pria dewasa itu "Jangan! Nanti mereka malah menghajarku" ia berbisik "Paman juga harus kembali ke tempat kerja 'kan?"
"Oh iya, aku hampir lupa" Baekhyun tersenyum saat mengatakannya, sedikit berjinjit untuk mengusak rambut ke coklatan anak itu "Sampai bertemu lagi"
Hari itu adalah yang pertama bagi Baekhyun merasakan getaran aneh didadanya, rasa hangat merambat sampai pipi dan berakhir ditelinganya
Baekhyun tidak ingin menebak apa penyebabnya, ia akhirnya menyalahkan semilir angin yang mendadak terasa sangat dingin
Ia kembali menyalahkan cuaca saat menemukan dirinya yang tidak tidur dengan lelap karena terus memikirkan Chanyeol dan segala kepolosannya, sangat lucu, pikirnya
"Wah, aku ini kenapa?!"
- : : -
Dan besoknya mereka sungguh bertemu kembali dengan Baekhyun yang berdalih kalau ia salah berbelok dipersimpangan sehingga akhirnya tersesat sampai ke sekolah Yeonhan, Chanyeol sih percaya saja
"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi, Chanyeol?" Baekhyun bertanya ditengah keheningan yang mengisi mereka semenjak mobilnya melaju
Chanyeol menggeleng "Sepertinya untuk kali ini tidak ada, kalau Paman? Apa ada satu tempat yang ingin Paman kunjungi?"
"Sebenarnya aku juga tidak memiliki tujuan, bagaimana kalau kita berkeliling saja?"
"Terserah Paman saja" ia berkata antusias "Tapi jangan sampai terlalu larut, nanti Ibuku hawatir"
Baekhyun terkekeh "Baiklah"
Mereka berjalan menyusuri jalanan Seoul yang langitnya berhiaskan bintang-bintang, Chanyeol bilang kalau langit malam itu sangat indah, tidak seperti biasanya, saat Baekhyun bertanya kenapa bisa seperti itu, ia menjawab;
"Karena malam ini aku bersama Paman" sambil tersenyum lebar, mata bulatnya ikut menyipit karena tarikan berlebihan dibibirnya
Baekhyun ikut tertawa pelan meski tenggorokannya terasa sangat kering, entah karena gugup atau karena pendingin didalam mobilnya yang terlalu rendah
Sebelum jam delapan malam, Baekhyun sudah mengantarnya pulang setelah menghabiskan lebih dari satu jam untuk berkeliling
Rumah Chanyeol terletak dikawasan rumah susun dipinggir kota, nomor 56 dilantai tiga, jika Baekhyun tidak salah dengar
"Terimakasih sudah mengantarku, Paman" Chanyeol membungkuk untuk memberi salam terakhir malam itu pada Baekhyun yang masih duduk di kursi supir "Payungnya sudah aku letakan dikursi belakang"
Baekhyun mengangguk, senyuman tidak luntur sama sekali dari bibirnya "Bukan masalah"
Chanyeol melambaikan lengannya selagi Baekhyun memutar kemudi mobil untuk kembali masuk kejalanan
Disepanjang perjalanan, ia tidak hentinya memikirkan apapun yang singgah dikepalanya, Chanyeol lebih mendominasi
Hingga ia sampai dikediamannya dengan Joonmyeon yang menatapnya penuh curiga diruang tv
"Setahuku kau tidak punya jadwal lembur hari ini"
Baekhyun tersenyum manis dibuat-buat "Memang tidak ada, hehehe"
Joonmyeon tetap mempertahankan wajah kakunya "Lalu kenapa kau baru sampai?"
"Ada sesuatu yang mengharuskan aku pulang terlambat, Ayah" ia mendudukan dirinya disamping Joonmyeon "Kau terdengar seperti tengah mengomeli anak yang masih sekolah dasar"
"Aku hanya hawatir" ia bergumam hampir terdengar seperti bisikan
Baekhyun merasa tidak enak saat mendengar itu "Maafkan aku, ponselku kehabisan daya jadi aku tidak bisa menghubungimu"
"Untuk kali ini aku maafkan, tapi jika kau melakukannya lagi aku tidak akan membiarkanmu bepergian membawa mobil sendiri"
"Ayah" Baekhyun merengek "Aku sudah terlalu dewasa untuk kau hukum seperti itu"
"Tapi dimataku kau tetap Baekhyun yang masih remaja, sifatmu saja masih seperti itu" akhirnya ia terkekeh "Memangnya ada pria dewasa yang merengek?"
Baekhyun cemberut mendengarnya
"Karena besok hari libur, ayo berkunjung ke klinik Yixing?"
Mendengarnya, Baekhyun langsung kembali bersemangat, ia mengangguk dengan cepat "Sudah lama sekali kita tidak ke sana"
- : -
Seperti yang dijanjikan, Joonmyeon mengajaknya ke tempat Yixing ke esokan hari
"Selamat pagi Paman Zhang!" Baekhyun berseru saat Yixing menyambutnya, menghujani tubuh pria itu dengan pelukan
Yixing terkekeh, lengan mengusap pundak Baekhyun "Kenapa baru mampir? Aku sangat merindukanmu!"
Baekhyun melepaskan pelukannya "Ayah sangat sibuk belakangan ini"
"Itu karena kau yang selalu menolak tawaran investasi dari perusahaan lain" Joonmyeon perotes
Yixing mengenyit "Jangan bahas hal-hal yang berbau bisnis seperti itu, aku alergi"
Mereka terkekeh mendengarnya
Joonmyeon meletakan kotak bekal yang ia bawa diatas meja kerja Yixing "Nasi goreng kimchi dan sosis panggang"
"Ingin buku resep lagi?"
Joonmyeon mendengus "Tidak, terimakasih" lengannya ia lipat didepan dada "Dapurku penuh dengan buku resep kirimanmu"
Baekhyun mengabaikan argumen dua pria dewasa yang topiknya hanya seputar dapur, ia bingung, kenapa mereka mau repot-repot memikirkan hal seperti itu? Kenapa tidak mencari istri dan membiarkan ia menyelesaikan segalanya?
Gonggongan anjing kecil didekat kakinya mencuri seluruh atensi, ia membungkuk, mengusap bulu putihnya sampai ke ekor
Yixing membawa Joonmyeon sedikit menjauh dari Baekhyun yang tengah bermain bersama anjing peliharaannya "Kau sudah bertemu dengan Chanyeol?"
Joonmyeon mengangguk, terlihat sedikit ragu "Seseorang yang juga pernah aku lihat dipemakamannya, kupikir aku hanya salah lihat waktu itu, tapi ternyata itu memang Chanyeol"
"Lalu bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Apa rencanamu?"
Joonmyeon menggidikan bahu "Aku hanya akan melihat mereka dari kejauhan"
Yixing menghela napas "Sayang sekali, padahal aku sudah berniat untuk melamar Baekhyun minggu depan"
Dengan senang hati Joonmyeon mendaratkan satu pukulan didada pria berkaca mata itu "Dasar sinting!"
"Duh, hatiku sakit mendengarnya" ia mengusap dada sebelah kirinya beberapa kali dan jangan lewatkan raut wajah sedih dibuat-buatnya
"Apa sebaiknya aku segera memberikan surat itu pada Baekhyun?"
Yixing menggeleng "Sebaiknya jangan terburu-buru, mereka mungkin masih dalam tahap saling mengenal sekarang"
Joonmyeon mengangguk pelan "Sebenarnya aku berharap salah satu dari mereka dilahirkan kembali sebagai wanita, aku ingin segera menggendong cucu"
Yixing terkekeh mendengarnya
"Apa yang kalian bicarakan?"
Kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba mengagetkan mereka, beruntung karena ia datang setelah mereka selesai membicarakannya
Yixing menggeleng, mengusap rambut Baekhyun yang sampai menutupi mata "Masalah orang dewasa, kau tidak akan mengerti"
Baekhyun merotasi matanya "Aku juga sudah dewasa, jika kalian lupa"
Hari itu mereka habiskan dengan berbincang tentang banyak hal, menghabiskan bekal yang Joonmyeon bawa dan berakhir dengan memandikan yilli, anak anjing peliharaan Yixing yang lucu
Yilli mengingatkannya akan vivi, anak anjing peliharaan Paman Sehun, mereka sama-sama berbulu putih dengan ukuran tubuh yang pas untuk digendong
"Aku ingin memelihara yang seperti ini juga" ia bergumam yang langsung dijawab tidak oleh Joonmyeon
Mereka pulang sebelum matahari terbenam, dengan Baekhyun yang terus merengek ingin menginap saja bahkan sampai mereka sudah tiba dirumah
"Nanti kita akan menginap" Joonmyeon berkata pelan "Saat libur panjang"
Baekhyun masih cemberut meski Joonmyeon terus berusaha untuk menghiburnya, tempat Yixing sangat nyaman, di dekat kliniknya masih ada tempat yang ditumbuhi banyak pohon rindang, ada juga danau yang orang-orang yakini terbentuk karena amarah para dewa penyelamat
Tempat Yixing selalu memberi kesan seperti ia pernah lama tinggal disana
Baekhyun mendinginkan kepalanya dengan menghabiskan hampir tiga puluh menit di kamar mandi, membersihkan diri sambil bersenandung beberapa lagu kesukaannya
Keluar dalam keadaan lebih segar, Baekhyun mengambil sepasang piyama didalam lemari dan memakainya dengan cepat, membaringkan tubuh setelah selesai dengan segala urusannya
Di antara sisa kesadarannya, Chanyeol kembali mencuri seluruh atensi alam bawah sadarnya
- : : -
Baekhyun kembali ke sekolah Yeonhan di jam yang sama seperti pertama kali ia menjemput Chanyeol, menunggu hampir dua jam untuk tidak menemukan anak itu dimanapun
Dan besoknya dan besoknya dan baesoknya
Dihari ke lima barulah mereka bertemu
Baekhyun turun dari mobil, menunggu Chanyeol yang berjalan mendekat padanya tanpa ekspresi
"Paman" adalah kata pertama yang Chanyeol ucapkan sebelum ia menarik tubuhnya kedalam sebuah dekapan hangat
Baekhyun kewalahan saat sadar kalau banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, memandang mereka dengan tatapan aneh, ia ingin mendorong tubuh besar Chanyeol agar anak itu menjauh tapi isakan yang mengalun sampai ketelinganya menghentikan
"Kenapa?" Baekhyun bertanya pelan, mengusap pundak anak itu saat ia rasa kemeja bagian belakangnya diremas lumayan kuat "Apa orang-orang itu kembali mengatai telinga dan matamu?"
Chanyeol menggeleng "Ibu"
"Kenapa Ibumu?"
"Ibuku pergi meninggalkanku, Paman" ia terisak "Aku belum sempat mengatakan seberapa banyak aku mencintainya, tapi ia sudah lebih dulu pergi"
Pundak Baekhyun menegang saat mendengar itu "Aku turut berduka cita"
Mulai hari itu, Baekhyun berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Chanyeol dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, memberikan apapun selagi ia mampu, mencukupi anak itu dengan kasih sayang yang ia butuhkan
Baekhyun menjadikan Chanyeol prioritas kedua dalam hidupnya setelah Joonmyeon
- : -
"Nomor 55? Bukannya nomor 56?"
Chanyeol mengerjap "Sejak kapan aku tinggal dikamar 56?"
Baekhyun meringis "Berarti waktu itu aku salah dengar"
Chanyeol membuka pintu dihadapannya dengan tenang, meminta Baekhyun untuk masuk dan duduk dimanapun selama ia merasa nyaman
Baekhyun mengedarkan pandangannya, melihat sebuah meja yang dikelilingi puluhan tangkai bunga dengan sebuah foto yang bersandar diantara mereka, Ibu Chanyeol sangatlah cantik, ia menyesal karena tidak datang dihari duka, anak itu pasti merasa sangat sedih
Chanyeol duduk disampingnya setelah menaruh segelas jus jeruk dingin didekat kaki Baekhyun
"Terimakasih" ia tersenyum
"Aku selalu berpikir tentang dosa apa yang aku lakukan dimasa lalu sehingga bisa berakhir seperti ini" Chanyeol memulai pembicaraan "Hidupku selalu berakhir dengan pahit"
Baekhyun hanya mendengarkan, karena disaat seperti ini, ikut bicara bukanlah solusi yang tepat
Chanyeol kembali berbicara "Ayahku meninggalkan kami baru-baru ini, menikah dengan seorang jalang dan hidup dikota lain bersamanya" ia tengah berusaha menahan tangis "Ibuku harus bekerja padahal ia tengah sakit parah, aku harus membolos di jam sebelum dan sesudah istirahat untuk mengantar beberapa koran, membantu keuangan Ibu yang semakin memburuk, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi"
Baekhyun mengusap pundaknya yang kaku
"Aku tidak tahu, semua selalu berakhir dengan hal buruk dan aku membencinya" Chanyeol merendahkan kepalanya, menyandarkan itu pada pundak Baekhyun "Menurut Paman, apa yang harus aku lakukan?"
Baekhyun menarik tubuh besar Chanyeol untuk ia hujani pelukan, berharap itu akan membuatnya merasa sedikit lebih baik "Lanjutkan sekolahmu dan jangan membolos lagi"
"Baiklah" Chanyeol tersenyum "Terimakasih"
"Jangan pikirkan tentang hal lain"
Chanyeol mengangguk
"Paman baik sekali" ia melepaskan pelukannya "Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu"
"Aku juga senang bisa mengenalmu"
Mata mereka bertemu
"Apa Paman tidak pernah merasa curiga padaku?"
Mata Baekhyun sedikit membulat mendengar pertanyaan Chanyeol "Tentu tidak, kenapa aku harus curiga?"
"Hanya bertanya" Chanyeol menggidikan bahunya "Tidak ada yang tahu 'kan? Bisa saja kalau ternyata aku ini seorang penjahat yang mengincar hartamu" ia terkekeh dengan kalimatnya sendiri
"Siapa yang akan menyangka kalau kau itu seorang penjahat?" Baekhyun cemberut "Jika kau benar memang penjahat, aku mungkin akan mati sebelum kau membunuhku"
Chanyeol memeluk tubuhnya sendiri "Kata-katamu membuat aku merinding, Paman"
Jika Chanyeol memang seorang penjahat, sepertinya Baekhyun akan dengan senang hati menjadi tawanannya
Duh, apa yang baru saja ia pikirkan?
- : -
"Paman, aku tahu!" Chanyeol berseru, suatu hari disaat mereka kembali menghabiskan waktu bersama "Ternyata aku memang bukan seorang penjahat"
Baekhyun terkekeh, hanya mendengarkan dengan mulut yang penuh ice cream strawberry
"Aku tidak mengincar hartamu karena aku tidak tahu sebanyak apa kau memilikinya dan aku tidak peduli" ia melanjutkan
"Lalu apa?" Baekhyun pada akhirnya bertanya
"Aku tidak tahu" Chanyeol menggidikan bahunya, jari bergerak acak di atas meja "Wajah paman sangat manis, mungkin itu salah satu alasannya"
Baekhyun terkekeh mendengar itu, Chanyeol benar-benar lucu
.
.
.
[Tbc]
Chapternya ga bakal panjang-panjang, paling kalau ga dua ya tiga ihihihi
