Squel of Sweet lie

Summary :

Baekhyun ditakdirkan untuk kembali bertemu semua orang dimasa lalunya tanpa ingatan apapun tentang itu, termasuk cinta dimasa lampau

Age gape

Chanyeol 17 : Baekhyun 27

.

.

.

Hari itu, pertama kali ia mengajak Chanyeol ke rumahnya, dan apa yang Joonmyeon berikan sebagai reaksi adalah apa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya

Joonmyeon menangis dari awal Chanyeol tiba, itu membuatnya bingung

Baekhyun mengernyit "Ayah, kau ini kenapa?"

Yang tertua tidak menjawab pertanyaannya, kesulitan mengontrol emosi, ia hanya bisa menatap mereka dan menangis, menutup mulutnya untuk meredam isakan, memeluk Chanyeol, lalu kembali menangis, lalu memeluk Baekhyun dan menangis lagi

Chanyeol mencoba menenangkan dengan mengusap punggungnya "Apa kau merasa sakit atau sesuatu, Tuan?"

Joonmyeon menggeleng, kembali terisak karena mendengar suara Chanyeol

Baekhyun meringis, hanya membiarkan Ayahnya tenggelam dalam kesedihan

- : -

"Dulu, aku suka sekali pergi ke taman bersama orangtuaku, kira-kira usiaku baru lima tahun saat itu" Chanyeol menghentikan kalimatnya, berpikir tentang sesuatu "Atau mungkin baru empat tahun? Atau tiga tahun, ya?"

Joonmyeon terkekeh "Lalu dimana kau sekolah? Apa kau mendapat pendidikam dengan baik?"

Chanyeol mengangguk "Aku mulai dari taman kanak-kanak, saat sekolah dasar aku selalu mendapat juara tapi saat sekolah menengah pertama prestasiku sedikit menurun karena sesuatu dan sekarang aku setidaknya selalu berada diperingkat lima besar"

"Itu bagus" Joonmyeon mendekatkan bibirnya ke telinga Chanyeol, berbisik ketika Baekhyun berjalan dihadapan mereka "Anak itu dulu susah sekali di atur"

"Aku mendengarnya, Ayah" Baekhyun berkata sebal

Joonmyeon dan Chanyeol tertawa

Baekhyun cemberut "Sebenarnya apa yang kalian lakukan disana?"

Joonmyeon menunjukan adonan kue yang masih setengah jadi "Chanyeol mengajariku cara membuat kue kering"

"Kau bisa memasak?"

Chanyeol mengangguk "Aku mengambil kelas memasak sebagai pelajaran tambahan" ia terkekeh

Bibir Baekhyun membulat "Aku tidak pernah tahu itu"

Joonmyeon menarik baju belakangnya "Memasak bersama?"

Baekhyun tersenyum, mengangguk menyetujui

Membantu Joonmyeon mengaduk adonan sampai tercampur, mencetak itu diatas loyang dan mengolesnya dengan putih telur sebelum memanggangnya di oven

Chanyeol berjalan mendekat pada Baekhyun yang tengah mencuci tangan, tersenyum jahil sebelum berbisik; "Paman tampan"

Yang membuat Baekhyun membeku untuk beberapa waktu

- : : -

Baekhyun tidak ingat itu kapan, saat Joonmyeon datang ke kamarnya ditengah malam ketika ia masih terjaga setelah menyelesaikan beberapa tugas kantor

Memberikannya sebuah kotak berwarna biru, ia pikir itu replika pesawatnya lagi tapi ternyata bukan, mungkin, ia tidak tahu karena Joonmyeon melarangnya untuk membuka itu

"Ketika kau merasa semua menjadi sulit, ini akan sedikit membantumu" katanya, sebelum akhirnya ia keluar dari sana, meninggalkan Baekhyun dalam kebingungan

- : : -

Jongdae, sekertaris sekaligus sahabatnya yang selalu ia jadikan 'tempat sampah' di segala kondisi, jika di ibaratkan benda, Jongdae sangatlah serba guna

Baekhyun memilih Jongdae sebagai pelarian pertama disaat ia tengah bingung-bingungnya

Memendam perasaanmu adalah hal yang sangat sulit, percayalah, itu yang Baekhyun rasakan sekarang

"... Sebenarnya aku baik-baik saja saat tahu orientasi sex ku, sungguh, itu bukan masalah besar, Ayah tetap mendukungku, bagaimanapun aku" kira-kira sudah dua jam ia bercerita pada Jongdae yang dengan baik hati tetap setia mendengarkan, dan memberi saran jika ia bisa

Jongdae mengangguk "Lalu apa yang membuatmu menjadi sangat gelisah?"

Menghela napas "Pria yang mungkin aku sukai, itu masalahnya"

"Kenapa? Dia mengidap homophobic atau semacamnya?"

"Lebih buruk dari itu" Baekhyun cemberut "Perbedaan usia kami terlalu jauh"

Jongdae berdecih "Hanya karena itu, kau seri-"

"Sepuluh tahun, aku sepuluh tahun lebih tua darinya" kali ini ia yang berdecih, karena tarikan napas Jongdae yang sangat berisik "Terimakasih atas keterkejutanmu, aku senang"

"Tidak, maaf" Jongdae menggaruk ujung alisnya yang tiba-tiba terasa gatal "Terlalu jauh memang, tapi sepertinya itu bukan masalah besar"

"Bagiku tidak, tapi aku tidak tahu bagaimana menurutnya"

"Kau belum menyatakan perasaanmu?"

Baekhyun menggeleng "Aku tidak tahu harus melakukan apa, tiba-tiba aku menjadi sangat canggung jika sedang berdua dengannya, terlebih ia suka sekali menggodaku" ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menatap kepulan asap diatas cangkir kopinya

"Kau tidak akan tahu jika belum mencoba"

"Apa aku harus melakukannya?"

- : : -

Chanyeol menghubunginya di jam makan siang, membuat pengumuman tentang acara kenaikan kelasnya yang akan dilangsungkan ke esokan hari

"Aku tidak mau tahu, pokonya Paman harus datang" ia mengancam dari sebrang sana

Baekhyun mau tidak mau (padahal ia sangat senang) memenuhi udangannya, ia datang bersama Jongdae karena tidak tahan mendengar ocehannya yang memaksa untuk ikut

"Apa aku sudah terlihat bagus?" Baekhyun tersenyum paksa, menggenggam rangkaian bunga yang ia bawa kuat-kuat

Baekhyun gugup, demi Tuhan, rasanya ia ingin sekali muntah

Jongdae menepuk pundaknya beberapa kali "Santai, Baekhyun, wajahmu sampai pucat"

"Paman!"

Baekhyun berjengit saat suara Chanyeol menggema ditelinganya

"Aku sudah lama menunggumu, aku pikir kau tidak akan datang"

Baekhyun hendak menghampirinya tapi Jongdae sudah lebih dulu melakukan itu, ia menangis sangat keras sampai menarik perhatian beberapa siswa disana dan memeluk Chanyeol sangat erat sambil meracau

"Akhirnya aku bertemu denganmu, Chanyeol, idiot, kau bodoh dasar brengsek, tidak punya otak, kau pecundang-"

Sebenarnya ada apa? Pertama Joonmyeon dan sekarang Jongdae

Serius, tidak bisakah mereka membiarkannya hidup tanpa kebingungan?

Baekhyun lihat Chanyeol sangat ketakutan, jadi ia membantunya dengan menarik Jongdae menjauh lalu memukul kepala pria itu sangat kencang

"Berhenti membuatku malu!" Baekhyun berseru

Jongdae mengusap wajahnya yang basah "Maaf, aku hanya terbawa suasana"

Chanyeol tertawa kering "Tidak apa-apa Paman ke dua, sebenarnya aku ini suka sekali dipeluk, tapi tidak dengan makian tadi"

"Maafkan aku" Jongdae membungkuk

"Tidak apa-apa" Chanyeol ikut membungkuk

Jongdae kembali membungkuk lalu Chanyeol kembali menyusul

Baekhyun merotasi matanya "Terus saja lakukan itu, sampai acaranya selesai juga tidak masalah"

- : -

Tidak ada hal yang membuatnya merasa lebih bangga kecuali saat melihat Chanyeol berdiri didepan podium untuk memberikan pidato karena ia memegang rekor sebagai murid dengan nilai terbaik diseluruh kelas sepuluh

"Halo teman-teman" Chanyeol tersenyum sangat lebar "Aku disini hanya untuk mengucapkan terimakasih, pada kalian yang selalu mengejek telinga dan mataku sangat jelek" ucapannya mengundang tawa "Juga pada kalian yang selalu meninggalkanku dibelakang, sekarang kalian melihatku 'kan? Pasti, karena aku juga tengah memandang kalian"

Jongdae menyikut lengannya "Untuk ukuran murid kelas sepuluh, Chanyeol itu lumayang berani juga, ya?"

Baekhyun mengangguk "Kill them with kindness, Chanyeol penganut kalimat itu, aku rasa"

"Terimakasih karena sudah meninggalkanku dibelakang, dengan itu, aku bisa menjadi lebih fokus untuk menggapai mimpiku" Chanyeol tersenyum, kali ini lebih hangat "Ibuku selalu berkata kalau hidup hanya tentang waktu, semua sudah diatur sedemikian rupa, hanya tinggal menunggu kapan skenario itu akan terjadi. Saat kau dilahirkan dan saat kau kembali pada sang Pencipta, pertemuan dan perpisahan, tangis dan tawa. Jangan takut dengan sepi yang kau lewati, karena akan selalu ada cahaya didalam kegelapan"

Pidato indahnya di akhiri dengan riuh tepuk tangan semua orang, Jongdae kembali menangis, entah karena apa

Setelah menerima piala dan sebuah piagam, Chanyeol turun dari podium dan langsung menghampiri Baekhyun yang menunggunya ditempat ia duduk

"Aku keren sekali 'kan Paman?" yah, Chanyeol dan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi

Baekhyun mengangguk "Lumayan" ia memeberikan rangkaian bunga yang ia bawa pada Chanyeol "Selamat" hanya itu yang bisa ia ucapkan

Jongdae terkekeh ditempatnya, melihat bagaimana telinga sahabatnya yang memerah

Chanyeol tersenyum sangat lebar saat menerima rangkaian bunga itu "Ternyata Paman bisa membaca pikiran seseorang, ya?"

Baekhyun berjengit "Aku tidak bisa"

"Lalu dari mana Paman tahu kalau aku menyukai mawar berwarna putih?"

"Hanya kebetulan" karna Baekhyun sungguh tidak tahu, Joonmyeon yang merekomendasikan mawar putih untuk ia bawa

Jongdae bangkit dari duduknya, berdehem "Sepertinya urusanku sudah selesai, aku pergi kalau begitu"

Sebelum Baekhyun bisa menahannya, Jongdae sudah berlalu setelah sekali lagi memeluk Chanyeol dan menepuk pudaknya

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal "Apa kau mau pergi ke suatu tempat?"

Chanyeol menggidikan bahunya "Aku ingin mengunjungi makam Ibuku"

"Baik, ayo pergi bersama" Baekhyun tersenyum sampai ke dua matanya menghilang

"Paman?"

"Ya?"

"Terimakasih"

- : -

Setelah membeli rangkaian bunga besar di toko langganan, mereka berkunjung ke makam Ibu Chanyeol, anak itu juga tidak lupa membawa pialanya

"Aku gugup sekali" Chanyeol membuka obrolan

Baekhyun menatapnya dari samping "Apa yang membuatmu gugup?"

Ia terkekeh pelan "Saat berdiri di podium tadi, mataku hanya tertuju pada Paman, aku pikir itu akan membantu tapi ternyata aku malah melupakan banyak kalimat yang sudah aku susun semalaman"

Baekhyun ikut terkekeh "Tadi itu bagus sekali, Jongdae saja sampai menangis"

"Tapi Paman tidak"

"Kau harus berusaha lebih keras untuk melihatku menangis"

Chanyeol tersenyum "Aku tidak akan melakukannya"

"Kenapa?"

"Aku tidak akan membuang air mata dari seseorang yang sangat aku hargai"

Baekhyun tersenyum mendengarnya, ia tersentuh

Langkah mereka berhenti saat Chanyeol berkata mereka sudah sampai, makam Ibunya masih terlihat bersih, bahkan ada beberapa bunga yang masih segar tapi ia tetap membuang itu dan menggantinya dengan bunga yang ia bawa

Mereka berlutut dengan Chanyeol yang tepat berada disamping batu nisannya, ia mendaratkan sebuah ciuman disana

Ia berbisik dengan suara lembut "Ibu, aku pulang dengan membawa sebuah piala seperti apa yang Ibu harapkan dariku" ia tersenyum dengan air mata yang mulai berkumpul dikelopak matanya "Aku anak yang baik 'kan Ibu?"

Baekhyun rasa tenggorokannya tercekat, melihat Chanyeol yang seperti itu membuat hatinya sakit

Chanyeol mengusap matanya "Aku merindukanmu" ia terkekeh "Maaf, aku menangis" itu untuk Baekhyun

Baekhyun menggeleng "Tidak apa-apa"

"Ibu, aku membawa temanku, ia sangat baik dan sangat sangat baik, aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya, ia seperti malaikat"

Baekhyun terkekeh pelan

"Namanya Kim Baekhyun, aku biasa memanggilnya Paman, karena ia tidak keberatan dengan itu"

"Karena aku malas melayangkan protes"

"Paman memiliki Ayah dan sahabat yang baik, mereka suka sekali memelukku sambil menangis" Chanyeol tersenyum lebar "Aku rasa hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu, aku akan mampir lagi jika ada waktu"

Chanyeol berdiri setelah sekali lagi mencium batu nisan Ibunya dan Baekhyun menyusul setelah meletakan rangkaian bunga yang ia bawa

Kembali menyusuri jalanan sempit untuk sampai dimana mobil Baekhyun terparkir

- : -

"Paman merokok?" Chanyeol menatap sebungkus rokok yang isinya hampir habis ditangannya, ia menemukan itu setelah membongkar isi dashboard mobil meeah itu

Baekhyun mengambilnya, mengembalikan benda itu ditempat dimana Chanyeol menemukannya "Jangan mengacak-acak isi mobilku"

"Memarahi saat ketahuan melakukan salah, itu bukan apa yang dilakukan orang dewasa, Paman"

Mobil berhenti saat lampu penanda jalan berubah menjadi merah

Baekhyun menatapnya yang tengah terkekeh "Kau mulai lagi, menasihati seseorang yang lebih dewasa, itu bukan apa yang seharusnya anak berumur tujuh belas lakukan" mobilnya kembali melaju saat lampu berubah hijau

"Kenapa Paman melakukannya?"

"Aku tidak selalu melakukannya, jika pekerjaan menumpuk dan banyak orang mengeluh disekitarku, aku akan menghisap itu, menghilangkan stress" ia menggidikan bahunya "Dan kau tidak boleh menirunya anak muda!" itu terdengar mengancam

Chanyeol ikut menggidikan bahunya "Aku mungkin akan melakukannya suatu hari nanti, aku akan menjadi dewasa, bekerja, menghabiskan malam disebuah club untuk bersenang-senang, minum alkohol, melakukan ini dan itu"

"Apa hanya itu yang ingin kau lakukan?"

Chanyeol menggeleng "Tentu tidak, aku akan menikah"

Baekhyun merasa kalau ini waktu yang tepat untuk mengetahui bagaimana pandangan Chanyeol tentang perasaannya "Kau akan menikah?"

Mengangguk "Tentu, memangnya Paman tidak mau menikah?"

"Entahlah" ia menghela napas "Aku belum memikirkan hal seperti itu"

Yang lebih muda terkekeh

"Chanyeol?" Baekhyun berdehem pelan "Apa kau baik-baik saja dengan pasangan sesama jenis? Maksudku, itu sedang trend sekarang, apa kau-"

"Itu bukan masalah"

Mata dan bibirnya membulat "Benarkah?"

Chanyeol mengangguk "Iya"

Baekhyun menahan senyumnya agar tidak selebar telinga, itu adalah hal yang bagus, sungguh

- : -

"Selamat pagi, Ayah" Baekhyun menyapa dengan semangat

Joonmyeon tersenyum disela-sela kunyahan pada roti tawar yang ia oles selai cokelat "Pagi"

Baekhyun duduk di kursi disamping Joonmyeon, lalu menarik piring berisi setumpuk roti dan juga selai buah, senyum tidak pernah luntur dari wajahnya

Itu mungkin hal yang biasa melihat Baekhyun sangat ceria di pagi hari, tapi kali ini, senyumnya terlihat berbeda

Joonmyeon menelan rotinya dengan susah payah karena tenggorokannya mendadak kering "Kau ini kenapa?"

"Kenapa apanya?"

Pria paruh baya itu menunjuk wajah anaknya dengan dagu "Terlihat bahagia, ada sesuatu? Sekertaris Oh memberimu bonus akhir tahun?"

Baekhyun menggeleng sambil tertawa "Ini bahkan masih pertengahan bulan"

"Lalu kenapa?"

"Apa baik-baik saja jika aku bercerita tentang ini padamu, Ayah?"

"Cerita apa? Aku tidak akan tahu baik buruknya jika kau tidak memberitahuku"

Baekhyun meletakan rotinya di atas piring, mengabaikan itu untuk beberapa waktu ke depan "Aku sedang, eum, sesuatu seperti, aku sedang tertarik pada sesuatu, Ayah, bagaimana cara menjelaskannya ya? Aku merasa sesuatu sedang menarik perhatianku"

Ke dua alis Joonmyeon terangkat "Apa maksudmu sesuatu itu artinya seseorang?"

Baekhyun mengangguk kaku "Maybe, yes"

"Itu bagus, usiamu sudah cukup matang untuk memulai sebuah kencan, siapa dia?" harusnya itu terdengar bersemangat, tapi apa yang keluar adalah nada kehawatiran

Baekhyun bergumam panjang, hampir memakan waktu tiga puluh detik sampai ia kembali bersuara, berbisik sebenarnya "Chanyeol"

Joonmyeon bersorak, memukul meja makan dengan sangat kuat "Itu berita baik! Kapan kalian akan menikah?"

"Menikah apa? Aku bahkan belum menyatakan perasaanku"

"Aku harus memberitahu Yixing!"

"Apa?" Baekhyun berseru "Tidak, tidak, Ayah! Kenapa memberitahu Paman Yixing?"

Ia mengejar Joonmyeon yang setengah berlari menuju kamarnya tapi sayang ia terlambat, Joonmyeon sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya sehingga ia tidak bisa menerobos masuk

"Yixing! Baekhyun dan Chanyeol akan segera menikah!"

"AYAH!"

- : -

Chanyeol tengah menghabiskan waktu liburnya setelah kenaikan kelas, Baekhyun selalu menawarkan anak itu tiket untuk pergi atau merekomendasikan beberapa tempat wisata, tapi selalu ditolak

Menghabiskan waktu dirumah lebih menyenangkan, katanya

Dan Baekhyun tidak bisa memaksa, jadi ia selalu menghabiskan waktu dua jam setelah pulang kerja untuk mampir dirumah Chanyeol, seperti hari itu

"Bicara soal pertanyaan Paman kemarin, apa Paman juga tidak masalah dengan hubungan sesama jenis?"

Baekhyun hampir tersedak mendengarnya, tapi ia berhasil menenangkan diri "Itu bukan masalah"

"Benarkah?"

Mengangguk "Iya"

Chanyeol tersenyum "Lalu bagaimana jika aku ini seseorang yang seperti itu? Apa Paman tetap ingin menjadi temanku?"

"Tentu" ia membasahi tenggorokannya dengan jus apel yang Chanyeol sediakan

"Lalu bagaimana jika aku menaruh hati Paman atau semacamnya?" Chanyeol menatapnya sangat dalam

Baekhyun mengerjap, mengusap telinganya yang mendadak terasa gatal "Apa kau serius?" bodoh

Suara Chanyeol tidak lagi terdengar kala itu, hanya ada hembusan napasnya yang mengisi kekosongan, mata mereka yang saling memaku dan detak jantungnya yang terasa sampai ke perut

"Itu terdengar konyol 'kan? Aku tidak seharusnya mengatakan itu" Chanyeol meniup udara kosong dihadapannya "Jangan dipikirkan Paman, aku hanya bertanya"

Baekhyun memaksakan diri untuk tertawa "Bukan masalah"

Dan hening

Baekhyun tidak biasanya kehabisan topik untuk melanjutkan obrolan, tapi kali ini ia melakukannya, kepala kosong, hanya terisi dengan kalimat yang terakhir kali Chanyeol ucapkan

"Aku rasa sudah waktunya untuk pulang, Chanyeol" Baekhyun tiba-tuba bangkit

Chanyeol menyusul, berdiri disampingnya "Hati-hati, Paman"

Baekhyun tersenyum tipis, berjalan cepat keluar, menuju mobilnya dilantai paling dasar rumah susun, dengan Chanyeol yang mengekor beberapa langkah dibelakang, ia sudah memintanya untuk pergi tapi anak itu tetap ada dibelakangnya

Baekhyun membuka pintu mobil sedikit kasar, begitu juga saat ia menutupnya, mengabaikan lambaian tangan Chanyeol padanya dengan menginjak pedal gas kuat-kuat

Membelah jalanan kota yang senggang

Ia membongkar isi dashboard dengan sebelah lengannya sedang yang lain masih bergantung pada kemudi, mencari rokok dan pematik, menyelipkan salah satu dari mereka di bibirnya setelah membakar ujungnya

Ia membuka jendela, membuang kepulan asap pada udara dingin yang memenuhi kota

Ini lebih parah rasanya dari melihat Joonmyeon yang mengamuk di kantor, karena ia tidak tahu kenapa rasa sakit tiba-tiba memenuhi dirinya

- : : -

Terhitung sudah seminggu sejak Baekhyun tidak mengunjunginya dan Chanyeol mulai merasa hawatir, terlebih sekarang pria itu tidak bisa dihubungi

Jadi disuatu sore, saat hujan turun dengan sangat deras, ia pergi ke rumahnya untuk memastikan kalau tidak ada sesuatu yang buruk terjadi

Joonmyeon menjadi orang pertama yang menyambutnya, membukakan pintu dan mempersilahkannya untuk duduk diruang tamu

"Baekhyun belum kembali dari kantor, sudah beberapa hari ini ia selalu mengambil jam tambahan kerja" Joonmyeon memberinya sedikit informasi, setelah menaruh segelas cokelat panas dan beberapa kue kering di atas meja

Chanyeol mengangguk mengerti "Paman Baekhyun akhir-akhir ini sulit dihubungi, aku sedikit hawatir"

Yang lebih tua tersenyum tipis "Ia terlalu sibuk"

"Memang, tapi tidak biasanya ia seperti itu"

"Apa kau memiliki satu perasaan husus padanya, Chanyeol?"

Chanyeol tertawa canggung "Kenapa Tuan tiba-tiba bertanya itu?"

Joonmyeon menggidikan bahunya "Aku hanya beertanya" ia kembali tersenyum, mengambil tempat untuk duduk disamping Chanyeol

"Aku merasa tidak pantas untuknya"

Ia memandang penuh Chanyeol, kembali memikirkan sesuatu yang sudah lama ada dikepalanya "Aku ingin kau mengetahuinya, ini mungkin terdengar tidak masuk akal tapi aku benar-benar ingin kau tahu lebih dari siapapun"

Chanyeol belum pernah merasa sangat gugup seperti sekarang

Joonmyeon mengusap surainya sebelum memulai kalimat

- : -

Baekhyun membanting pintu mobilnya, sedikit berlari untuk sampai ke depan pintu, ia tersentak saat pintu terbuka dengan Chanyeol yang berdiri disana, wajah pucat dan tatapan kosongnya membuat ia bingung

"Chanyeol?"

Chanyeol tidak menjawab, hanya berjalan melewatinya dan berlari saat sudah keluar dari pagar

"Baekhyun" suara Joonmyeon menyadarkannya

Baekhyun menoleh "Ya, Ayah?"

"Masuklah dan istirahat"

"Baik, Ayah"

.

.

.

[Tbc]

Hallo owner buat baju elyxion chanbaek name, nah berhungung kalo buat satu mahal banget jadi aku mau nawarin ke cbhs juga biar barengan. Kalo mau bisa chat ke carlinkusmayanti (line) /wa 085795199941

Terimakasih buat kalian yang masih terima tulisan aku dengan baik, yang terus kasih masukan dan komentar membangun semangat, love yaaaa