Di akhir pekan, semua orang berkumpul dirumah mereka, segera memborbardir Baekhyun seputar kabar pernikahan yang hanya ada di dalam bayangan Joonmyeon

"Paman, aku tidak akan menikah dengan siapapun" ia sudah sangat lelah menghadapi sekumpulan pria kolot dihadapannya

Jongdae terkekeh "Kalian harus mendengarkannya kali ini, dasar sekumpulan Paman yang haus berita"

Kalimatnya berhasil membuat ia mendapat satu pukulan telak dari Kyungsoo

Sehun yang berada tepat dibelakangnya bergumam sangat halus "Seharusnya aku yang mengambil peran sebagai sekertaris Baekhyun, aku tidak suka dipanggil Paman"

"Memangnya kau pikir ada yang menyukai ini? Tidak ada!" Jongin menimpali

Joonmyeon datang dengan sebelah lengan yang menggenggam segelas kecil wine, ia meminta Yixing untuk ikut dengannya ke ruang kerja. Saat tiba di sana, raut tenang Joonmyeon langsung sirna, terganti dengan wajah panik bukan main

"Bagaaimana ini?!" ia menaruh gelasnya ke atas meja, hampir membanting

Yixing mengernyit "Ada apa?"

"Aku menceritakan semuanya pada Chanyeol!"

"Apa?"

"Aku pikir cara itu akan membuat mereka cepat bersatu, tapi nyatanya tidak, Chanyeol malah pergi" ia mendesah "Sudah satu minggu sejak hari itu dan Chanyeol belum kembali menemui Baekhyun"

Yixing menahan senyum "Aku 'kan sudah mengatakannya, aku siap menggantikan Chanyeol kapanpun" ia menepuk pundak Joonmyeon beberapa kali dan langsung di tepis si pemilik

"Gantikan pantatmu!" Joonmyeon berdecih "Aku tidak sedang main-main, Dokter Zhang"

Yixing tersenyum tipis, memajukan wajah untuk menghadiahi pipi bulat Joonmyeon sebuah kecupan singkat yang membuat matanya membola

"Sudah berapa kali aku mengatakannya, ya?" Yixing menggerakan jari-jarinya seperti seseorang yang tengah berhitung "Aku merindukanmu"

Joonmyeon masih terdiam, bingung karena dadanya yang bergemuruh, memalukan, di umurnya yang sekarang, itu sudah tidak pantas ia rasakan

Dan Yixing yang menatapnya penuh, tidak membantu sama sekali

"Aku juga merindukanmu" akhirnya ia membalas setelah beberapa detik terdiam

"Aku pikir akan baik-baik saja tidak ikut pindah bersamamu, tapi jarak yang membentang terasa sangat menyiksa" Yixing cemberut "Aku terlalu banyak merindukanmu"

Joonmyeon terkekeh, sebenarnya merasa senang karena Yixing secara tidak langsung mengungkapkan kalau ia tidak bisa jauh darinya

"Aku tahu itu, semua orang mudah merasa rindu jika itu aku"

Rasanya ingin sekali tertawa di hadapan wajahnya sambil berteriak; "Percaya diri sekali!" Tapi Yixing menahan hasratnya untuk itu, karena saat melihat senyum yang perlahan mengembang di bibir Joonmyeon membuat seluruh tubuhnya menghangat

"Jika waktu itu kau tidak menjadikan Baekhyun anakmu, mungkin kita sudah menikah sekarang" Yixing bergumam

Mata Joonmyeon membola "Obrolan kita sudah melenceng terlalu jauh"

Pipi bersemu Joonmyeon adalah kesukaannya setelah melihat Yilli yang selalu menyambutnya di depan pintu

- - : : - -

Itu adalah hari paling melelahkan untuk Baekhyun, hari dimana ia harus pulang terlambat untuk menyelesaikan tugas kantor. Baekhyun pikir ia bodoh karena lebih memilih jalan memutar agar bisa melewati sekolah Chanyeol yang sekarang sudah sepi, tidak ada siapapun di sana, sepertinya

Baekhyun pikir Chanyeol tidak ingin menemuinya karena marah, ia marah karena waktu itu Baekhyun bersikap kekanakan, pergi tanpa permisi dan menghilang se enaknya (jika Chanyeol yang melakukan itu, Baekhyun pasti tidak akan mau melihat wajahnya lagi, ia akan menikahi sembarang orang yang ia temui di jalanan)

Ia menghela napas, menginjak gas lebih dalam agar cepat-cepat sampai ke rumah dan mengistirahatkan tubuhnya yang kaku

Tapi ia terpaksa mengurungkan niat kala matanya melihat beberapa murid yang duduk di depan mini market, bukan mereka yang mencuri perhatiannya, tapi Chanyeol, ia ada disana dengan sebatang rokok yang menggantung di antara belah bibirnya

Ia terperangah, turun dari mobil dengan gegabah lalu menarik lengan Chanyeol agar menjauh dari teman-temannya yang lain

"Paman?" Chanyeol membuang rokoknya ke jalanan

Baekhyun menatapnya tajam "Kau gila?"

Chanyeol menepis lengan yang lebih kecil darinya itu "Kenapa Paman di sini?"

"Karena aku melihatmu, tentu saja, yang sedang berkumpul bersama berandalan di jam larut" yang lebih tua berdecih

"Aku selalu melakukannya"

"Kau pikir aku akan percaya?"

"Jangan temui aku lagi, Paman" kata itu menusuk tepat di dadanya

"Apa?" keningnya mengerut "Kenapa?"

"Aku tidak mau bersamamu, aku tidak mau menyukaimu lagi, kau orang yang buruk, aku membencimu!"

Kalimat yang Chanyeol ucapkan adalah hal yang paling menyakitkan, kalimat yang paling tidak ingin ia dengar dari apapun

Jika yang ia lakukan sungguh membuatnya sakit, Baekhyun tidak punya pilihan lain selain pergi, meski ia tidak ingin

Ia segera masuk ke dalam mobil saat Chanyeol pergi menjauhinya. Nekat membelah jalanan dengan mobil yang berkecepatan tinggi, terlalu naif untuk mengakui bagaiamana hancurnya ia sekarang, terlalu malu untuk menangis dan terlalu takut untuk peduli

Di benci oleh seseorang yang ia sukai adalah ketakutan terbesarnya

- - : : - -

Baekhyun terbangun di pagi hari dengan suhu tubuh tinggi, membuat Joonmyeon mengomel sepanjang jam sarapan sampai akhirnya berangkat ke kantor, tentu setelah menyiapkan teh herbal hangat untuk anaknya minum

Yah, setidaknya demam yang ia rasakan bisa membuatnya bolos bekerja hari ini

Saat tengah hari, ia bangun dari tempat tidur, meminum teh yang sudah hampir dingin itu dalam sekali tarikan napas. Matanya bergulir menatap cermin, memandang pantulan dirinya yang... Kacau, berantakan dan menyedihkan

Ia menghela napas, melangkah pelan untuk mengambil baju ganti, saat pintu lemari terbuka, sebuah kotak biru jatuh menimpa kaki, seingatnya itu kotak pemberian Joonmyeon

Kotak yang baru bisa ia buka saat merasa semua hal menjadi sulit

Ia meraih itu, kembali ke ranjang dengan langkah mundur, menjatuhkan bokongnya di sana sambil menatap benda persegi di tangannya lamat-lamat, tiba-tiba menjadi sangat penasaran

"Apa aku merasa sangat kesulitan sekarang?" ia bergumam pada dirinya sendiri

Membuat pembelaan agar bisa membuka kotaknya hari ini. Ini adalah hari terberat dalam dua puluh tujuh tahun ia bernapas (bohong), pekerjaan yang semakin menumpuk, Chanyeol yang membencinya dan sekarang ia terserang demam. Itu sudah cukup untuk membuatnya merasa sangat kesulitan

Jadi ia membukanya, melihat beberapa potongan surat kabar yang semuanya menceritakan tentang kejadian aneh di kota puluhan tahun lalu, tentang sembilan dewa yang menyelamatkan kota dari iblis. Ia mengernyit heran, untuk apa Joonmyeon mengumpulkan ini semua?

Tapi kebingungannya terbayar setelah melihat wajah-wajah tidak asing di salah satu kertas, itu mereka. Joonmyeon, Paman Yixing, Paman Minseok, Paman Sehun, Paman Jongin, Paman Kyungsoo, Jongdae dan Chanyeol

Mereka?

Sebuah surat menjadi dasar dari tumpukan potongan surat kabar, surat yang sepertinya ditulis dengan sangat terburu-buru

Kini Baekhyun mengerti

- : -

Baekhyun berlari di tengah ramainya kantor, tanpa alas kaki dan hanya memakai baju tidur untuk menutupi tubuhnya. Mengabaikan tatapan dan pertanyaan hawatir para pegawai tentangnya, ia hanya fokus pada tujuan awal, menemui Joonmyeon

"Hyung!" Baekhyun berseru "Hyung!" suaranya menggema ke seluruh sudut ruangan, sampai ke telinga Joonmyeon yang tadinya tengah membaca sesuatu di dalam map berwarna merah

Ia menghampiri meja Joonmyeon, melihat bagaimana ke dua bola bening itu menatapnya lembut

"Hyung" kali ini ia berbisik, tertahan dengan rasa sakit yang menjalar dari tenggorokan sampa ke dadanya

Joonmyeon tersenyum tipis saat mengerti maksud dari anak angkat sekaligus sahabatnya di masa lalu "Ya, Baek?"

Baekhyun menangis, ia kembali berbisik "Hyung"

"Ada apa, Baekhyun?"

Joonmyeon berdiri, menghampiri Baekhyun, memeluknya sangat erat, seperti saat pertama kali bertemu dengannya di panti asuhan tujuh belas tahun lalu

"Terimakasih karena menjadi seseorang yang terus menjagaku" Baekhyun berkata di tengah isakannya

Joonmyeon mengusak rambutnya beberapa kali "Itu sudah menjadi kewajibanku, Baekhyun"

- : -

Saat jam makan siang, Joonmyeon mengajaknya untuk makan di kafetaria, mereka memesan dua mangkuk sup ayam jahe dengan kimchi dan air mineral

"Jadi, Paman Chanyeol itu memang Chanyeol?" Baekhyun bertanya pelan, menarik udara dalam-dalam ke hidungnya saat merasa sesuatu akan mengalir dari sana

Maklum, ia 'kan habis menangis

Joonmyeon mengangguk meski terlihat ragu "Aku tidak menyangka kalian terlahir dengan wujud dan nama yang sama seperti dahulu"

"Aku merinding" Baekhyun bergidik

"Padahal aku ingin salah satu dari kalian lahir sebagai wanita, aku ingin cepat-cepat menimang cucu"

Baekhyun mendengus "Cucu apanya? Chanyeol bahkan berkata kalau ia membenciku"

"Aku tidak tahu kalau akan berakhir seperti ini, maaf"

"Kenapa Ayah meminta maaf?"

"Karena kekacauan ini aku yang membuatnya, aku berpikir kalau menceritakan semuanya pada Chanyeol akan cepat membuat kalian bersatu, tapi ternyata pemikiran ku dan Chanyeol berbeda"

Mata Baekhyun membola "Ayah menceritakannya?"

Joonmyeon mengangguk "Dan ia malah ketakutan"

"Chanyeol itu bodoh sekali, ya?"

"Bagaimana?"

Baekhyun menggidikan bahu "Aku tidak tahu, biarkan saja" ia tersenyum tipis "Bukankah Chanyeol yang memintaku?"

Joonmyeon menyendok supnya "Surat itu di tulis oleh Kyungsoo, Chanyeol yang menyuruhnya"

"Aku harus tahu semuanya, benar-benar semua" Baekhyun menatap Joonmyeon "Jadi, Ayah, kau juga harus absen dari kantor"

Joonmyeon meringis, menyetujui, meski pikirannya terpaku pada jadwal rapat yang seharusnya ia datangi setelah makan siang ini

- - : : - -

Bel tanda pelajaran berakhir menarik Chanyeol untuk segera berlari keluar kelas, tentu setelah gurunya pergi lebih dulu. Ia lihat langit mendung kini mulai menitikan air, membasahi jalan yang harus segera ia lewati, ada hal penting yang harus segera ia selesaikan di rumah dan tempatnya bekerja paruh waktu

Chanyeol mendengus kesal kala hujan turun semakin deras, terlalu deras untuk ia terobos, itu tidak apa-apa jika ia hanya melihat dirinya, tapi bukunya juga akan basah

Tapi ia tidak bisa menunggu, jadi ia berjalan pelan melewati pohon-pohon rindang yang daunnya bisa ia jadikan payung sampai ke gerbang depan. Ia berhenti, bukan karena hujan, tapi karena seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya, itu Baekhyun, lengan sebelah membawa sebuah payung besar berwarna hitam

Baekhyun menatapnya dengan senyum tipis, mengulurkan lengan sampai telapak tangannya menutupi dua kelopak mata Chanyeol yang otomatis tertutup

"Kau tidak akan tahu hal hebat apa yang sedang menunggumu jika kau merasa takut"

Chanyeol menjauhkan lengan itu dari matanya "Aku sudah mengatakannya, aku tidak mau bertemu dengan Paman lagi"

Baekhyun menggeleng "Kau hanya takut"

"Aku tidak"

"Kau iya!"

"Paman"

"Iya?"

"Aku tidak tahu"

"Katakan kalau kau tidak benar-benar membenciku, Chanyeol"

Chanyeol mengerjap, tidak tahu harus berkata apa, semua sudah ia susun sedemikian rupa untuk membuat Baekhyun menajuh darinya. Ia bahkan sudah memikirkan tentang pura-pura berkencan dengan pria lain atau menghabiskan malam di sebuah club, mengambil gambar lalu mengrimnya pada Baekhyun

Tapi saat Baekhyun berdiri di sana, di hadaoannya, segala pemikiran itu hilang, terganti dengan rasa rindu yang membuncah untuknya

Baekhyun tersenyum, menikmati Chanyeol yang kebingungan sebelum menarik lengan yang lebih muda untuk masuk ke dalam mobil

Chanyeol tidak protes, ia tidak melakukan apapun karena tidak ada alasan untuknya menolak

Mobil mereka melaju di tengah derasnya hujan, melewati jalanan kota sampai masuk ke pedesaan di atas bukit. Turun saat Baekhyun memintanya, berjalan sampai puncak tanpa payung

Kali ini Chanyeol tidak hawatir, ia meninggalkan tasnya di dalam mobil

"Kau akan menyukai ini"

Mereka berhenti di sebuah jembatan yang menghubungkan dua bukit, jembatan itu terbuat dari kayu. Chanyeol mendongak, menatap langit yang masih gelap, ia terkejut saat tiba-tiba sebuah kilat menyambar, di susul dengan air hujan yang berubah menjadi titik-titik salju, juga semilir angin yang membuat rambut mereka bergerak acak

Baekhyun menatapnya dalam "Apa aku sudah menepati janjiku, Chanyeol?"

Chanyeol menoleh, balas menatap "Apa Paman merasakan hal yang sama denganku?"

"Aku menemukanmu di kehidupan kedua ku, aku jatuh hati padamu dan sekarang-"

"Tidak" Chanyeol menyela "Kau tidak boleh menyukai ku, Paman, aku sudah terlalu banyak menyakitimu, aku tidak pantas untuk itu"

"Aku tidak peduli" Baekhyun tersenyum lebar "Aku mencintaimu, Chanyeol, aku benar-benar mencintaimu!"

Ia berjinjit, memeluk tubuh Chanyeol yang basah karena air hujan dengan erat "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi"

"Maaf untuk semua rasa sakit yang pernah Paman rasakan karena aku" Chanyeol balas memeluknya "Aku, perasaanku tidak berkurang sedikitpun dari awal aku memilikinya"

Baekhyun melepaskan pelukan mereka, menatap lawan bicara dengan serius "Chanyeol, apa kau mau menikah denganku?"

Chanyeol mengerjap "Paman, bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"

"Iyakah?"

Mengangguk "Tunggu empat sampai lima tahun lagi, aku akan melamarmu"

"Terlalu lama, umur ku sudah menginjak kepala tiga"

"Aku harus lulus sekolah lebih dulu, lalu kuliah dan mendapat pekerjaan tetap" ia cemberut "Memangnya Paman mau punya suami pengangguran?"

"Biarkan saja aku yang bekerja, kau yang mengurus rumah, kau yang memasak dan kau yang akan mengurus anak-anak" Baekhyun membuat tawaran "Kita akan mengadopsi tiga anak"

"Itu terdengar seperti neraka di telingaku"

Mereka tertawa bersama

"Sekarang kau yang harus berjanji padaku"

"Apa?"

Baekhyun berjinjit, mencuri sebuah ciuman di bibir Chanyeol "Jangan pergi lagi, apapun alasannya, jangan meninggalkanku"

Tanpa Baekhyun pinta pun, Chanyeol akan tetap melakukan itu

Memangnya siapa yang mau pergi dari seseorang yang berhasil mencuri hatimu sejak kau melihatnya untuk pertama kali?

- - : : - -

Mungkin kalian berpikir kalau ini tidak masuk akal, siapa yang akan percaya pada kisah mereka?

Apa yang akan mereka katakan pada anak cucu, jika suatu waktu mereka bertanya tentang bagaimana mereka bisa menikah?

Bagaimana mereka bisa bertemu dan apa yang membuat mereka jatuh cinta?

"AKU AKAN SEGERA MEMILIKI CUCU!"

.

.

.

"Namaku Park Chanyeol, kau Baekhyun 'kan?"

"Bukan"

"Berhenti melihat semua orang seperti mereka adalah musuhmu, kita keluarga, Baekhyun"

- : -

"Berhenti menatapku seperti itu"

"Seperti apa?"

"Kau hanya merasa kasihan, aku tidak butuh itu"

"Aku tidak seperti itu, aku peduli padamu, aku ingin kita menjadi teman"

- : -

"Berhenti merasa takut"

"Kenapa?"

"Kau tidak akan tahu hal hebat apa yang menunggu jika perasaan itu masih menguasaimu, Baekhyun"

- : -

"Terimakasih karena sudah mengulurkan lenganmu, Chanyeol, aku menghargai itu"

- : -

Park Chanyeol, ia yang pertama kali menghampiriku, bertanya tentang ini dan itu untuk berusaha menarik perhatian. Aku merasa terganggu, tentu saja, tapi perasaan itu berubah ketika ia berhasil menghentikan ketakutanku, aku senang bisa selalu berada di dekatnya

"Terimakasih karena mengizinkanku melakukan itu, Baekhyun"

- : -

Malam itu, saat aku bertanya tentang perasaanmu, aku sangat takut, aku takut kau benar-benar menyukaiku. Kau tidak boleh melakukannya, dulu, karena aku seseorang yang akan banyak membuatmu merasa sakit

Kau hanya boleh jatuh cinta padaku di kehidupan selanjutnya, tepati janjimu, cari aku, temui aku, jatuh cinta padaku lagi dan nyatakan perasaanmu. Aku menunggumu, Baekhyun

"Aku menemukanmu di kehidupan kedua ku, aku jatuh hati padamu dan aku tidak peduli! Aku mencintaimu!"

.

.

.

[END]

Happy ending gengs ヽ(´▽`)/

Seneng ih bisa selesai, walau cuma nambah tiga chapter tapi gatau kenapa seneng banget, terhura

Yuk tulis di kolom review, kesan kalian selama baca cerita Sweet lies dan pesan kalian untuk aku

Terimakasih buat semuanya, semua yang udah ikutin cerita ini dari awal sampai akhiiiirrrr