The Contradiction

.

.

.

.

.

Summary: (Sequel dari Moving On Isn't Easy) "As time goes on you'll understand. What lasts, lasts; what doesn't, doesn't. Time solves most things. And what time can't solve, you have to solve yourself." – Anonymous.

Boys Love. B x B. Mingyu x Hoshi. MinSoon. SoonGyu. Moshi. GyuSoon. SEVENTEEN. AU. OOC

Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Pledis Ent, dan dirinya sendiri.

Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan dalam segi apapun. Bukan perbuatan yang disengaja

.

.

.

.

.

"Aku tak punya cara lain untuk bahagia, karena melupakanmu ternyata bukan jalannya." – belatibiru

.

.

.

.

.

Mansion milik keluarga Kim, 18 Maret 2019. 09:30 AM

Mingyu sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen perusahaan saat ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Kim Mingyu, Ini Appa. Bisa kita bicara?" Ucap seseorang yang berada di balik pintu dengan tulisan KIM MINGYU itu.

"Tunggu sebentar!" Balas Mingyu sembari merapikan kertas yang berada di atas meja.

"Ada apa, Appa?" Tanya Mingyu tanpa banyak basa-basi setelah mempersilahkan ayahnya masuk. Sebenarnya, ia agak heran. Karena tak biasanya sang ayah sengaja datang ke kamarnya hanya untuk berbicara.

Tn. Kim menyentil dahi sang putra karena gemas, "To the point sekali! Setidaknya biarkan Appa duduk dulu."

"A-ah iya. Maafkan aku," Mingyu mengusap tengkuknya sembari tersenyum kaku, "Silahkan duduk, Appa."

Tn. Kim mengangguk lalu duduk di kursi yang tadi Mingyu gunakan untuk memeriksa berkas-berkas penting.

"Jawab dengan jujur," Tn. Kim memutar kursi yang ia duduki supaya bisa berhadapan dengan sang putra, "Appa dengar sudah beberapa kali kau melewatkan rapat dengan kolega baru kita, apa itu benar?"

"Kolega yang mana?" dahi Mingyu berkerut. Ia bingung. Karena belakangan ini perusahaan mereka menjalin banyak kerja sama dengan perusahaan lain.

"Keluarga Kwon."

Mingyu terdiam sesaat, "A-ah itu," seketika panik memikirkan alasan yang akan ia keluarkan, "A-aku sibuk, ya! Aku sibuk, Appa."

"Sibuk apa?" Tn. Kim menatap sang putra penuh selidik.

"Y-ya sibuk. Beberapa hal tak terduga."

"Appa kira kau sudah tak memiliki kegiatan lain disamping mengurusi perusahaan?"

"A-aku punya kok, Appa."

"Apa?" Pria paruh baya itu kemudian berdiri dan menghampiri sang putra.

Mata Mingyu bergerak gelisah dan tanpa sadar dirinya mundur selangkah, "Itu-"

"Sudahlah. Jangan banyak alasan. Kau ini seperti anak gadis yang baru pertama kali jatuh cinta saja," Tn. Kim mengusak pelan rambut putranya, "Lebih baik kau datang ke rapat siang ini. Dan minta maaflah pada Tuan Muda Kwon."

"Minta maaf untuk apa? Karena tak menghadiri rapat?"

"Yakin hanya itu saja?" Lalu Tn. Kim tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit, "Coba tanya lagi hati kecilmu, Nak."

Setelah berkata demikian, kepala rumah tangga keluarga itu segera pergi meninggalkan kamar sang putra. Meninggalkan Mingyu dengan segala macam pertanyaan yang kini muncul di benaknya.

"Kalau bukan hanya karena tak hadir di rapat, lalu aku harus minta maaf untuk apa?"

Mingyu menggelengkan kepala lalu mengusap wajahnya kasar. Bermaksud untuk menyingkirkan ucapan sang ayah dan juga wajah Hoshi yang sejak kata 'Tuan Muda Kwon' terucap, mulai memenuhi pikirannya. Kemudian, putra sulung keluarga Kim itu segera bersiap untuk berangkat ke kantor.

Kali ini Mingyu memilih untuk menggunakan celana dan jas berwarna putih yang dipadukan dengan kemeja serta sepatu berwarna hitam. Tentunya tanpa dasi, karena satu-satunya anak laki-laki di keluarga Kim itu terlalu malas untuk membuat simpulnya.

Dan setelah merasa selesai dengan penampilannya, Mingyu menyempatkan diri untuk mematut diri di depan cermin. Untuk sekedar memastikan bahwa tak ada satupun yang kurang.

Hingga kemudian kata-kata sang ayah kembali terlintas di benaknya, " … minta maaflah pada Tuan Muda Kwon."

Mingyu tersenyum miris sembari memandangi bayangannya sendiri, "Mungkin aku harus minta maaf karena tak bisa melupakannya dan masih terus mencintainya selama 4 tahun ini."

.

.

.

.

.

Gedung Kwon K. K, 18 Maret 2019. 12:30 PM KST

Pemuda dengan nama lengkap Kwon Soonyoung itu menunduk sepanjang perjalanan menuju cafeteria. Untung saja dirinya tak bertabrakan dengan orang yang berjalan berlawanan arah. Saat ini ia sedang tak benar-benar fokus, karena otaknya penuh dengan berbagai macam pikiran tentang perusahaan dan juga suatu hal yang tak kalah pentingnya, yaitu Kim Mingyu.

Mantan kekasihnya itu sudah beberapa kali tak mengikuti rapat penting perusahaan. Dan saat Hoshi bertanya pada Minghao, sahabatnya sekaligus orang kepercayaan Mingyu, pemuda berkebangsaan Cina itu hanya menggeleng sembari tersenyum lemah.

"Sebenarnya ada apa dengannya?" ucap Hoshi pada dirinya sendiri kala itu. Sedikit banyak terselip rasa khawatir, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Mingyu.

Hoshi kira setelah 4 tahun berlalu, rasa itu akan hilang. Ia kira pelariannya akan berhasil. Tapi sepertinya tidak. Getaran itu masih ada, rasa khawatir itu masih tersisa. Dan parahnya, Hoshi masih peduli.

Memang benar Mingyu hadir di acara rapat hari ini, itu membuat Hoshi bisa sedikit bernapas lega. Tapi satu hal yang masih menjadi ganjalan di hati putra sulung keluarga Kwon itu, Mingyu seakan menjaga jarak dan menghindari segala bentuk kontak fisik dengannya. Bahkan melakukan kontak mata sekalipun, Mingyu seperti tak ingin. Itu semua membuat Hoshi berpikir, sebegitu bencinyakah Mingyu pada dirinya?

"Mau pesan apa, Tuan?" tanya gadis penjaga cafeteria menyadarkan Hoshi dari lamunannya.

"Ugh," Hoshi menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk menghilangkan berbagai macam pikiran anehnya, "Se-kotak bento dengan jus apel, Noona."

"Baiklah. Mohon tunggu sebentar, Tuan."

"Tentu."

Sambil menunggu pesanannya, Hoshi menatap sekeliling untuk mencari tempat duduk yang kosong. Dan matanya terhenti di meja paling ujung. Tidak benar-benar kosong memang, karena satu kursi lainnya sudah terisi.

"Bukankah itu Mingyu?" ucap Hoshi pada dirinya sendiri. Pandangannya tak lepas dari meja tadi.

"Pesanan Anda, Tuan," ucap gadis dengan baju hitam itu sembari menyodorkan nampan berisi bento dan jus apel pada Hoshi.

"A-ah, baiklah. Jadi berapa?"

"₩25,750."

Hoshi mengangguk lalu mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar sesuai dengan jumlah yang telah disebutkan. Lalu pemuda bermarga Kwon itu berjalan menuju meja tadi yang untungnya masih belum terisi.

"Boleh aku duduk di sini?" Hoshi mengusap tengkuknya sembari tersenyum canggung, "Meja lain sudah penuh, dan hanya tempat ini yang tersisa."

Merasa seseorang bicara padanya, pemuda yang ternyata memang Kim Mingyu itu menolehkan kepalanya.

Deg

"Astaga. Kenapa harus orang ini?" ucap pemuda bermarga Kim itu dalam hati. Jujur ia terkejut, karena ia pikir dengan memilih tempat paling ujung bisa membuatnya takkan bertemu dengan Hoshi. Namun ternyata ia salah.

Sekilas Mingyu mengedarkan pandangannya, memastikan apa benar tak ada lagi tempat yang tersisa. Dan ia hanya bisa berdecih pelan saat menyadari memang hanya kursi di hadapannyalah yang masih kosong.

"Duduk saja. Lagipula seingatku kau tak pernah meminta izin untuk melakukan sesuatu," ucap Mingyu tanpa mengalihkan perhatian dari makanan di piringnya.

"Uhm- Baiklah. Terima kasih," Hoshi mengangguk dan tersenyum tulus. Kemudian ia duduk dan mulai makan dengan tenang.

Sesekali Hoshi mencuri pandang ke arah pemuda yang duduk di hadapannya. Dalam hati ia berdecak kagum. Semua yang ada di diri Mingyu tampak begitu sempurna di matanya. Garis rahang yang semakin tegas setelah 4 tahun berlalu. Dan gigi taring yang menyembul lucu dari sudut bibir tipis kemerahan itu.

Merasa ada yang memperhatikan dirinya, Mingyu mengangkat kepala. Membuat matanya bertemu pandang dengan Hoshi yang nampaknya hampir lupa untuk berkedip, "Apa yang kau lihat?" tanya Mingyu dengan suara beratnya.

"Ada sisa makanan di bibirmu," Hoshi berkilah.

Sebelum Mingyu bisa mencerna kalimat yang baru saja didengarnya, Hoshi sudah bergerak untuk membersihkan noda itu. Lalu tanpa sadar menjilat jarinya sendiri yang baru saja ia gunakan untuk mengusap sudut bibir Mingyu. Dan kemudian putra sulung Keluarga Kwon itu kembali fokus pada makanannya seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya.

Mingyu sendiri tak ingin bersusah payah untuk memikirkan hal tersebut. Terlepas dari jantungnya yang berdegup kencang, pemuda yang sebentar lagi akan berusia 22 tahun itu lebih memilih untuk mengalihkan pandangan ke jendela yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Siapa tahu dengan melihat lalu-lalang kendaraan bisa membuatnya lupa akan perbuatan sang mantan kekasih padanya.

5 menit

10 menit

15 menit

Baik Hoshi maupun Mingyu tak ada yang berniat untuk meninggalkan meja itu terlebih dahulu meskipun makanan di hadapan mereka sudah habis sejak tadi.

Dan akhirnya disinilah mereka, duduk berhadapan tanpa saling berbicara untuk waktu yang begitu lama.

Karena merasa tak nyaman dengan keheningan yang melingkupi mereka, Hoshi berinisiatif untuk membuka percakapan.

"Kemana saja?"

Mingyu menengok ke sumber suara, "Aku?" tanya pemuda itu sembari menunjuk dirinya sendiri.

Hoshi mengangguk.

"Ada kok," lalu kembali melihat ke arah jalanan.

"Tapi kenapa tak datang ke rapat perusahaan?"

Mingyu memainkan gelas kosong yang ada di tangannya, "Aku 'kan datang hari ini."

"Maksudnya, beberapa rapat sebelum ini," Hoshi terus memperhatikan Mingyu, berharap pemuda itu akan membalas tatapannya meskipun hanya sekejap.

"Aku sibuk."

"Sibuk apa?"

"Itu bukan urusanmu."

"Sibuk menghindariku ya?"

Mingyu tersenyum mengejek, "Kau belum berubah, rasa percaya dirimu masih saja tinggi."

"Tapi aku benar, 'kan?"

Mingyu diam dan hanya mengendikkan bahunya.

"Setelah hampir 4 tahun ini, masih berpikiran untuk menghindariku?"

"Begitulah."

Untuk sepersekian detik, napas Hoshi tertahan di ujung tenggorokannya, "Tapi kenapa?"

Mingyu menghela napas panjang sebelum memberanikan diri untuk menatap sang mantan kekasih tepat di kedua matanya, "Anggap saja aku sudah tak ingin mengenalmu lagi," lalu pemuda itu tersenyum miring, "Atau aku yang terlalu berlebihan karena tak bisa melupakanmu. Sudah puas?"

"Kim Mingyu, dengar," Hoshi mengusak rambutnya kasar, "Aku berusaha profesional disini. Aku tak ingin melibatkan perasaan sama sekali, tapi kalau kau terus seperti ini bagaimana aku harus menahannya?"

Dan untuk yang ke sekian kalinya di hari ini, Mingyu mengendikkan bahunya, "Jangan bertanya padaku. Aku tak tahu dan tak ingin tahu jawabannya."

Hoshi tertunduk, lalu dengan lirih ia berkata, "Apa itu artinya kau masih mencintaiku, Mingyu?"

"Tanpa perlu aku bicara pun, kau akan selalu tau jawaban untuk semua pertanyaanmu. Jadi, kumohon jangan tanyakan lagi." Yang diajak bicara kemudian tersenyum sendu lalu pergi menjauh dari Hoshi.

Dan semua terasa seperti sebuah film yang diputar ulang, karena setelah hampir 4 tahun berlalu, dan di usianya yang semakin dewasa, Hoshi tetap saja hanya bisa menatap Mingyu yang berjalan semakin menjauh.

"Jadi sebenarnya yang belum berubah itu aku atau dirimu? Selalu saja pergi tanpa menyelesaikan masalah," pemuda bermarga Kwon itu berdecak kesal.

Saat sedang sibuk memperhatikan punggung lebar yang sempat menjadi kesukaannya itu, ucapan Mingyu kembali terngiang di telinga Hoshi.

"Atau aku yang terlalu berlebihan karena tak bisa melupakanmu."

"Melupakanku? Kenapa dia harus melakukan itu?" tanya Hoshi pada dirinya sendiri, "Apakah Mingyu memang masih mencintaiku?"

Hoshi menggelengkan kepalanya pelan, "Namun, dilihat dari sikapnya selama ini, sepertinya mustahil."

Tepat saat kalimat tersebut selesai diucapkan, bayangan Mingyu menghilang di balik tikungan dekat pintu keluar cafeteria.

"Tapi, perbuatan tidak selalu menggambarkan perasaan yang sebenarnya, 'kan?"

Jadi, bolehkah Hoshi sedikit berharap?

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Akhirnya bisa update juga. Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca, juga buat yang meninggalkan review di chapter sebelumnya.

Nah, sekarang ketahuan kan perasaan mereka ke satu sama lain? Mungkin jadi terlalu cepat ya jalan ceritanya? Hm

Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kesalahan. Jangan lupa tinggalkan review ^^~

Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.

Sampai jumpa /o